BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH
7 BAB VII PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
7.1 Prospek Ekonomi
7.1.1 Prospek Sisi Permintaan
Kinerja konsumsi rumah tangga di triwulan II 2018 diprakirakan mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Siklus musiman seperti perayaan Idul Fitri serta pemberian gaji ke-13 dan 14 menjadi faktor pendorong utama meningkatnya konsumsi. Mulai berjalannya berbagai proyek swasta dan pemerintah dapat meningkatkan
124
pendapatan masyarakat secara umum dan berpotensi meningkatkan konsumsi rumah tangga pada triwulan tersebut. Di sisi perbankan, mulai meningkatnya ekspansi kredit perbankan sebagai bentuk respon perbankan dalam menghadapi peningkatan konsumsi pada saat Ramadhan dan Idul Fitri juga berdampak pada penciptaan nilai tambah konsumsi Rumah Tangga. Pertumbuhan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) juga diperkirakan meningkat karena faktor dorongan dari pelaksanaan Pilkada di empat Kota di Sumbar yaitu Kota Pariaman, Kota Padang, Kota Padang Pajang dan Kota Sawahlunto. Perkiraan meningkatnya konsumsi rumah tangga di triwulan II 2018 tercermin dari indeks ekspektasi konsumen 6 bulan yang akan datang yang berada pada level 102,1 atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 101,9.
1.949.285 2.119.066 8,25 8,71 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Sumatera Barat Pert. (yoy) Rp % yoy 80 90 100 110 120 130 140
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2014 2015 2016 2017 Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Indeks Penghasilan Konsumen-6 bln yad Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja-6 bln yad Indeks Kegiatan Usaha-6 bln yad Baseline Positif
Indeks
Grafik 7.2. Perkembangan UMP Provinsi Sumbar Grafik 7.3. Indeks Ekspektasi Konsumen
Walaupun tumbuh positif, kinerja investasi di triwulan II 2018 diperkirakan cenderung melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perilaku wait and see para investor terkait situasi politik menjelang Pilkada di beberapa daerah di Sumbar serta perayaan keagamaan diperkirakan berpengaruh pada melambatnya aktivitas investasi di triwulan II 2018. Selain itu, peluang investasi yang telah ditawarkan dalam Forum Investasi Sumbar pada tanggal 8 Februari 2018 masih dalam tahap perencanaan dan memerlukan waktu implementasi. Dalam forum tersebut, peluang investasi di berbagai sektor seperti pariwisata dan energi ditawarkan ke berbagai investor. Forum Investasi Sumatra Barat 2018 berhasil memikat investor dari Singapura, Malaysia, dan Jepang untuk menandatangani Letter of Intent (LoI) terkait proyek pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Solok Selatan.
Kinerja investasi Sumbar menghadapi risiko alokasi belanja modal yang menurun di tahun 2018. Tingginya kebutuhan bidang pendidikan yang harus ditanggung Sumbar pasca pengalihan kewenangan SMA/SMK ke provinsi mengakibatkan porsi belanja modal di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018 merosot. Belanja modal di
125
APBD 2018 diperkirakan hanya berada di angka 16% atau 18% dari total APBD. Belanja modal Sumbar tersebut belum mampu memenuhi target rata-rata belanja modal nasional yang ditetapkan sekitar 21,11%.
Tren kenaikan harga internasional diperkirakan berimplikasi pada membaiknya kinerja ekspor. Proyeksi IMF menunjukkan harga beberapa komoditas internasional Sumbar seperti CPO dan karet menunjukkan arah peningkatan di triwulan II 2018. Kenaikan harga CPO lebih ditopang oleh aksi sejumlah pejabat dunia yang menentang diskriminasi pada CPO dan pelarangan impor biodiesel. Di samping itu, kenaikan harga minyak dunia di semester I 2018 akan memicu konsumsi biodiesel yang lebih besar yang pada gilirannya berdampak positif pada permintaan CPO. Sebelumnya, kampanye hitam di Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit berimbas penurunan ekspor CPO Indonesia yang signifikan ke negara kawasan Euro. Namun, peningkatan harga CPO ini diperkirakan tetap dapat dinikmati dampaknya seiring dengan kuatnya permintaan biodiesel sawit dari India yang berencana untuk mengembangkan mobil hemat polusi. Sejalan dengan CPO, karet juga menunjukkan pemulihan harga seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dan penurunan pasokan yang disepakati sebelumnya oleh tiga produsen utama (Thailand, Malaysia dan Indonesia). Di sisi permintaan, konsumsi karet di beberapa negara seperti China, Eropa, India, AS dan Jepang menunjukkan terjadinya peningkatan di triwulan I dan diperkirakan berlanjut di triwulan II 2018.
-20 -15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 35 0 100 200 300 400 500 600 700 800
Harga CPO ($/MT) Pert. (yoy)
Sumber: IMF, diolah
-40 -20 0 20 40 60 80 100 120 0 20 40 60 80 100 120 140
Harga Karet (cts/lb) Pert. (yoy)
Sumber: IMF, diolah
Grafik 7.4. Perkembangan dan Proyeksi Harga
Komoditas Internasional (Palm Oil)
Grafik 7.5. Perkembangan dan Proyeksi Harga Komoditas Internasional (Karet)
7.1.2 Prospek Sisi Penawaran
Kinerja lapangan usaha pertanian pada triwulan II 2018 diprakirakan meningkat seiring dengan masuknya siklus panen tanaman bahan makanan dan proyeksi kenaikan harga komoditas CPO dan karet. Program peningkatan produksi padi tahun 2018 masih difokuskan pada intensifikasi lahan termasuk pemanfaatan teknologi,
126
pembenihan, pengairan irigasi dan teknologi budidaya. Namun demikian, kinerja tabama masih menghadapi sejumlah kendala seperti tren peningkatan alih fungsi lahan, serta terbatasnya lahan baru untuk dilakukan program ekstensifikasi. Khusus subsektor perkebunan, contact liaison menginformasikan bahawa produksi CPO ke depan diprakirakan membaik seiring membaiknya iklim yang mendukung produksi dan dapat memengaruhi supply bahan baku ke perusahaan. Hal ini didukung dengan potensi membaiknya harga CPO ke depannya yang akan memengaruhi penjualan perusahaan. Perusahaan memprediksi produksi pada tahun 2018 dapat lebih baik dibandingkan tahun 2017. Selain CPO, peningkatan harga karet diperkirakan memberikan insentif bagi petani yang berdampak pada meningkatnya nilai tambah subsektor perkebunan.
Kinerja sektor perdagangan diprakirakan tumbuh cukup tinggi akibat adanya kegiatan perayaan keagamaan. Perayaan Idul Fitri pada triwulan II 2018 memicu peningkatan permintaan berbagai barang dan jasa. Korporasi swasta akan merespon peningkatan permintaan ini melalui peningkatan impor antar daerah maupun impor dari luar negeri. Demikian halnya dengan proyek pemerintah. Setelah melakukan proses perencanaan dan administrasi proses pengadaan barang dan jasa di triwulan awal 2018, pemerintah akan meningkatkan realisasi pembangunan fisik yang mulai dilakukan pada triwulan II 2018 yang pada gilirannya akan meningkatkan kinerja sektor perdagangan. Meningkatnya aktivitas industri swasta mendorong perbaikan industri pengolahan. Proyeksi meningkatnya harga CPO di triwulan II 2018 memberikan insentif bagi produsen dan industri pengolahan CPO di Sumbar untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Perayaan Idul Fitri pada akhir triwulan II 2018 secara historis akan memicu peningkatan berbagai kebutuhan makanan dan minuman. Para produsen dan pedagang akan meningkatkan produksi dan stok bahan makanan dan makanan jadi yang akan memberikan nilai tambah pada industri pengolahan. Siklus peningkatan aktivitas industri pada triwulan II terkonfirmasi dari konsumsi listrik yang cenderung meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
127 6,4 4,5 6,8 3,8 -3,5 1,5 -0,8 1,2 -2,4 -2,0 -1,7 -0,7 15,1 15,4 23,8 29,3 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 35 0 50 100 150 200 250 300
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2014 2015 2016 2017
Konsumsi Listrik (juta Kwh) Pertumbuhan (%, yoy) - sisi kanan
Juta Kwh %, yoy
Sumber: PLN
Grafik 7.6. Perkembangan Konsumsi Listrik Industri
Tradisi “pulang basamo” memberikan dampak langsung berupa peningkatan permintaan angkutan udara dan angkutan darat yang memicu peningkatan kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan. Berdasarkan data historis, peningkatan jumlah masyarakat minang yang mudik terkonfirmasi dari peningkatan drastis harga tiket angkutan udara sebelum dan pasca Lebaran. Dari hasil liaison diketahui bahwa tradisi ini juga memberikan dampak lanjutan berupa peningkatan paket kiriman dan lalu lintas barang antar daerah yang berdampak positif pada kinerja pergudangan. Di sisi lain rencana maskapai penerbangan Air Asia Indonesia untuk membuka rute internasional dari Singapura ke Kota Padang mulai 9 Februari 2018 serta rencana pengembangan Garuda Indonesia untuk rute baru Palembang-Padang-Pekanbaru per April 2018 diperkirakan turut memberikan dampak positif pada pertumbuhan lapangan usaha transportasi.
Dalam arahannya di akhir tahun 2017, pemerintah Provinsi Sumbar cenderung mengambil prinsip kebijakan ekonomi Sumatra Barat tahun 2018 yang tidak jauh berbeda dengan 2017. Sejumlah kebijakan penting tetap dilanjutkan seperti penarikan arus wisatawan ke Sumbar, dorongan insentif bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan menyedot laju investasi.
Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumbar di tahun 2018 diprakirakan berada pada kisaran 5,1% - 5,5% (yoy), cenderung stabil dibandingkan tahun 2017. Seperti halnya tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sumbar dominan bersumber dari konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh moderat sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kelas menengah. Di sisi lain, pelaksanaan Pilkada secara serentak khususnya di Kota Pariaman, Kota Padang, Padang Pajang dan Sawahlunto pada pertengahan tahun 2018 diperkirakan
128
mampu meningkatkan geliat LNPRT dan memberikan dampak lanjutan pada konsumsi rumah tangga. Sementara itu, peningkatan harga komoditas internasional diperkirakan berkontribusi dalam mengangkat kinerja ekspor Sumatera Barat.
Di tahun 2018, aktivitas investasi diprakirakan membaik seiring realisasi investasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri seperti proyek geothermal (Sijunjung), renovasi bandara dan pelabuhan (Padang) serta investasi untuk mendorong kinerja pariwisata di berbagai daerah. Di tahun 2018, pertumbuhan ekonomi menghadapi sejumlah risiko antara lain daya beli konsumen yang masih terbatas, khususnya segmen menengah ke bawah serta sejumlah regulasi pemerintah yang sering berubah pada sektor-sektor tertentu, termasuk regulasi pajak. Kondisi tersebut akan berdampak pada tertahannya ekspansi usaha oleh korporasi.
Tabel 7.1. Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara
2016 2017p 2018p 2016 2017p 2018p Dunia 3,2 3,5 3,6 3,2 3,6 3,7 Amerika Serikat 1,6 2,1 2,1 1,5 2,2 2,3 Kawasan Eropa 1,8 1,9 1,7 1,8 2,1 1,9 Kawasan Asia India 7,1 7,2 7,7 7,1 6,7 7,4 China 6,7 6,7 6,4 6,7 6,8 6,5 Jepang 1 1,3 0,6 1 1,5 0,7 Kawasan ASEAN* 4,9 5,1 5,2 4,9 5,2 5,2 Sumber : IMF
*) Terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam p) Proyeksi
Keterangan : Sama dengan perkiraan sebelumnya
Lebih rendah dari perkiraan sebelumnya Lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya
Pertumbuhan Ekonomi (%,yoy)
WEO (IMF) WEO (IMF) Jul 2017 Okt 2017
7.2 Prakiraan Inflasi
Perayaan keagamaan diperkirakan memberikan dampak signifikan pada tekanan inflasi triwulan II
2018. Laju inflasi secara umum (IHK)
diproyeksikan berada dalam rentang 3,5% - 3,9% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan I 2018. Tekanan inflasi pada triwulan II 2018 utamanya diperkirakan berasal dari kelompok volatile foods khususnya pada komoditas cabai merah dan kelompok administered price yang mayoritas bersumber dari kenaikan tiket angkutan udara.
129 8,63 6,166,00 11,58 6,28 8,17 6,25 1,08 6,62 3,24 5,104,89 3,82 5,00 2,33 2,03 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I* II* III* IV*
2014 2015 2016 2017 2018 %, yoy Tw II 2018* 3,5-3,9 80 100 120 140 160 180 200
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2013 2014 2015 2016 2017
Ekspektasi Harga Umum dalam 6 bulan yang akan datang Perubahan harga sec umum 3 bln mendatang dibandingkan saat ini
Indeks
Grafik 7.7. Proyeksi Inflasi Sumbar Tahun 2018 Grafik 7.8. Indeks Ekspektasi Harga ke Depan
Tekanan harga kelompok volatile foods diperkirakan berlanjut di triwulan II 2018 pada level yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Komoditas cabai merah diperkirakan kembali mengalami kenaikan harga akibat peningkatan konsumsi domestik Sumbar dalam mengadapi Ramadhan dan Lebaran. Tingginya permintaan cabai merah dari provinsi lain seperti Riau juga memberikan tekanan tambahan pada pasokan cabai merah di Sumbar.
Momen perayaan keagamaan dan kenaikan harga energi diperkirakan memberikan tekanan inflasi administered price di atas level normal. Tradisi pulang basamo diperkirakan akan memicu peningkatan permintaan tiket angkutan dari dan keluar Sumbar yang akan direspon oleh berbagai maskapai dengan kenaikan harga tiket angkutan udara. Besaran inflasi angkutan udara dapat menjadi lebih tinggi seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menaikkan batas bawah tarif angkutan udara. Sementara itu, berlanjutnya kenaikan harga batubara berpotensi berdampak pada penyesuaian tarif listrik. Lebih lanjut, tren kenaikan harga minyak dunia juga dapat berdampak pada kenaikan harga BBM nonsubsidi dan memberikan dampak lanjutan (tidak langsung) pada barang dan jasa lainnya.
130
Sumber : Financial Forecast Center
Grafik 7.9. Proyeksi Harga Emas (USD/Troy) Sumber : Financial Forecast CenterGrafik 7.10. Proyeksi Harga Minyak Mentah Dunia (USD/barrel)
Meningkatnya permintaan menjelang dan saat perayaan keagamaan berdampak pada peningkatan harga barang dan jasa kelompok inflasi inti dibandingkan kondisi normal. Karakter masyarakat yang cenderung melihat faktor historis (backward looking) menyebabkan pedagang di Sumbar cenderung menaikkan harga berbagai barang menjelang dan saat Lebaran walaupun pasokan relatif terjaga. Berdasarkan proyeksi World Bank dan informasi anekdotal lainnya, risiko inflasi juga bersumber dari proyeksi pergerakan harga emas internasional yang akan ditransmisikan ke harga emas domestik. Laju inflasi Sumbar tahun 2018 diproyeksikan pada kisaran 3,5% + 1% (yoy) atau meningkat dibandingkan tahun 2017. Dari sisi eksternal, faktor yang memengaruhi inflasi inti relatif terjaga berupa terjaganya volatilitas nilai tukar dan harga komoditas internasional. Dari sisi internal Sumbar, meningkatnya permintaan domestik diprakirakan masih dapat direspons oleh sisi penawaran tanpa menyebabkan tekanan terhadap inflasi yang signifikan. Tekanan inflasi di tahun 2018 diperkirakan dominan bersumber dari kelompok volatile foods. Sementara terkait dengan kelompok administered price, walaupun proyeksi dari beberapa lembaga internasional menunjukkan adanya potensi kenaikan harga internasional minyak mentah, adanya jaminan dari pemerintah pusat untuk tidak menaikkan harga barang/jasa yang diatur pemerintah seperti BBM subsidi dan LPG 3 kg menjadi faktor penting penahan inflasi di tahun 2018.
Inflasi pada kelompok volatile foods masih dibayangi risiko berupa gangguan hama, gangguan jalur distribusi bahan pokok, dan perubahan iklim. Di samping itu, fenomena sempat anjloknya harga cabai merah di tahun 2017 menjadi faktor risiko yang harus diantisipasi khususnya menghadapi keengganan petani untuk menanam kembali cabai merah dalam jumlah yang besar. Pemerintah bersama dengan TPID harus terus
131
mendorong berbagai upaya agar dapat menyerap hasil panen petani dan menjaga buffer stock pada saat paceklik.
Mencermati risiko inflasi yang lebih tinggi di tahun 2018 yang masih bersumber dari volatile food dan kelompok administered price, upaya pengendalian inflasi di 2018 akan dititikberatkan pada percepatan implementasi kerja sama antar daerah yang telah dijajaki pada tahun 2017. Di awal tahun 2018, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menjajaki kerja sama antar daerah dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di berbagai sektor termasuk pangan dan perdagangan. Menindaklanjuti upaya nyata kerja sama antar daerah baik di dalam maupun di luar Sumbar, TPID Provinsi Sumatera Barat akan membangun database yang berisi informasi mengenai jumlah produksi, stok dan konsumsi komoditas pangan strategis di Sumatera Barat yang nantinya akan dikembangkan dalam sebuah website. Sementara itu, beberapa program TPID lain yang berhasil di tahun 2017 seperti Pasar Tani, program sejuta polybag cabai, dan penguatan Satgas Pangan akan dilanjutkan di tahun 2018. Program perbaikan tata niaga seperti Minang Mart juga rencananya akan diperluas. Setelah diluncurkan pada tanggal 24 Mei 2016 hingga akhir 2017 lalu, Minang Mart terus bertambah hingga mencapai 36 gerai tersebar di kabupaten/kota di Sumatera Barat. Komoditas yang dijual di Minang Mart meliputi barang kebutuhan sehari-hari dan beberapa barang kebutuhan pokok seperti beras dan telur. Ke depannya, Minang Mart akan memasok komoditas pangan segar seperti cabai merah dan bawang merah sehingga diharapkan harga-harga komoditas tersebut lebih terjaga dan tercapai inflasi yang rendah dan stabil.
132
133
Bruto (PDRB) ADHB Menurut Lapangan Usaha (Dalam Miliar Rupiah)
Sumber: Badan Pusat Statistik
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHK Menurut Lapangan Usaha (Dalam Miliar Rupiah)
134
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHB Menurut Pengeluaran, (Dalam Miliar Rupiah)
Sumber: Badan Pusat Statistik
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHK Menurut Pengeluaran, (Dalam Miliar Rupiah)
Sumber: Badan Pusat Statistik
Indeks Harga Konsumsi (IHK) dan Laju Inflasi
Sumber: Badan Pusat Statistik
Indikator Perbankan
135
Data RTGS dan Perputaran Kliring
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
RTGS
Nominal (Rp Miliar) 20.759 30.358 24.910 29.078 28.443 30.372 24.075 32.568 33.849 41.136 32.279 22.271 3.358 1.831 2.233 2.775 2.294 2.763 2.243 3.267 Pert. Nominal (%,yoy) 17,4 24,7 3,8 37,2 37,0 0,0 -3,4 12,0 19,0 35,4 34,1 -31,6 -90,1 -95,5 -93,1 -87,5 -31,7 50,9 -19,2 -87,6 Volume 35.633 31.146 29.607 40.025 31.950 34.177 30.105 37.814 21.736 21.800 20.908 11.691 1.504 1.506 1.748 2.305 2.142 2.131 2.413 2.616 Pert. Volume (%,yoy) 3,8 -16,0 -25,5 -5,7 -10,3 9,7 1,7 -5,5 -32,0 -36,2 -30,5 -69,1 -93,1 -93,1 -91,6 -80,3 42,4 41,5 4,7 -92,3
Perputaran Kliring
Kliring Nominal (Rp Miliar) 4.203 4.124 4.383 4.251 4.041 4.095 4.249 4.255 3.953 3.418 4.113 4.364 3.881 3.838 3.854 3.836 3.522 2.527 3.004 2.756 Pert. Nominal (%,yoy) 5,5 2,5 7,7 1,9 -3,9 -0,7 -3,1 0,1 -2,2 -16,5 -3,2 2,6 -1,8 12,3 -6,3 -12,1 -9,3 -34,2 -22,1 -28,2 Volume (Lembar) 101.433 104.115 101.984 104.746 101.999 108.220 102.825 107.790 100.597 94.122 99.751 104.497 97.252 97.161 90.368 95.672 90.963 71.897 74.896 69.025 Pert. Volume (%,yoy) 1,5 3,1 11,4 4,6 0,6 3,9 0,8 2,9 -1,4 -13,0 -3,0 -3,1 -3,3 3,2 -9,4 -8,4 -6,5 -26,0 -17,1 -27,9
2017 2016
Keterangan 2013 2014 2015
136
Istilah Penjelasan
BI-rate Suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik
BI-RTGS Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) adalah proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Dana Pihak Ketiga (DPK) Dana yang diterima perbankan dari
masyarakat, yang berupa giro, tabungan atau deposito
Financing-to-Deposit Ratio (FDR) Rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Salah satu indikator ekonomi yang memberikan informasi mengenai harga barang dan jasa yang dibayar oleh konsumen. Perhitungan IHK dilakukan untuk merekam perubahan harga beli di tingkat konsumen (purchasing cost) dari sekelompok tetap barang dan jasa (fixed basket) yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia, merupakan rata-rata sederhana dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini mencakup keyakinan konsumen mengenai penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, ketepatan waktu saat ini untuk melakukan pembelian barang tahan lama dan jumlah
137
ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu.
Inflasi Persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Kliring Pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.
Kredit menurut Bank Pelapor/Kantor
Cabang Jumlah kredit yang disalurkan oleh kantor cabang bank yang memberikan persetujuan serta menyalurkan kredit.
Kredit menurut Lokasi Proyek Jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan berdasarkan lokasi proyek yang dibiayai kredit tersebut.
Kualitas Kredit Penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran bunga dan pokok. Pada Bank Umum, kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu Lancar, Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. Sedangkan pada BPR kredit digolongkan menjadi 4 kualitas, yaitu Lancar, Kurang Lancar, Diragukan dan Macet.
Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Rasio antara jumlah kredit yang disalurkan terhadap dana yang diterima (giro, tabungan dan deposito)
mtm Persentase perubahan bulanan (month-to-month)
Non-Perfoming Loan (NPL) Kredit yang termasuk dalam kualitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet, merupakan rasio kredit yang tergolong NPLs terhadap total kredit. Rasio ini juga sering disebut rasio NPLs gross. Semakin rendah rasio NPLs,
semakin baik kondisi bank yang
bersangkutan.
Non-Performing Financing (NPF) Rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional.
138
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. PDRB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi dalam suatu daerah.
qtq Persentase perubahan secara triwulanan (quarter to quarter/q-t-q) dari triwulan ke-n dihitung dengan metode point-to-point dengan dasar triwulan sebelumnya.
yoy Persentase perubahan secara tahunan (year on year/y-o-y) bulan/triwulan ke-n dihitung dengan metode point-to-point dengan dasar bulan/triwulan yang sama dengan tahun sebelumnya (t-1).
ytd Persentase perubahan menurut tahun kalender bulan ke-n dihitung dengan metode point-to-point dengan dasar bulan Desember tahun sebelumnya (t-1) (year to date change/y-t-d).
139