• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prakiraan Perkembangan Ekonomi Triwulan I 2018

Dalam dokumen Periode Februari 2018 (Halaman 42-48)

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH

1.5 Prakiraan Perkembangan Ekonomi Triwulan I 2018

-10 -5 0 5 10 0 200 400 600 800 1,000 1,200 2013 2014 2015 2016* 2017** % yoy

Ribu Ton Perkebunan Swasta

Perkebunan Negara Perkebunan Rakyat

Pertumbuhan Total Produksi Perkebunan - skala kanan

Keterangan: *dan** angka perkiraan Sumber:Kementerian Pertanian, diolah

837 777 816 855 828 836 848 887 809 853 82 9 .7 3 821 812 925 700 750 800 850 900 950 Jan-A p ri l M e i-A g u s S e p t-D e s Jan -A p ri l M e i-A g u s S e p t-D e s Jan-A p ri l M e i-A g u s S e p t-D e s Jan-A p ri l M e i-A g u s S e p t-D e s Jan -A p ri l M e i-A g u s 2013 2014 2015 2016 2017 Ribu Ha

Sumber:Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan

Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Grafik 1.41. Produksi Kelapa Sawit di

Sumatera Barat Grafik 1.42. Produksi Padi Sawah di Sumatera Barat

1.5 Prakiraan Perkembangan Ekonomi Triwulan I 2018

Pertumbuhan perekonomian di triwulan I 2018 diperkirakan berada dalam rentang 5,1% - 5,5% (yoy). Kinerja konsumsi rumah tangga di awal tahun 2018 diprakirakan mengalami perlambatan seiring masih terbatasnya aktivitas swasta dan pemerintah di awal tahun. Di sisi perbankan, masih lemahnya ekspansi kredit perbankan juga berdampak pada masih melambatnya kredit konsumsi. Sementara itu, Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Barat pada 2018 yang ditetapkan sebesar Rp2.119.066 atau meningkat sebesar 8,71% dibandingkan dengan tahun sebelumnya diharapkan dapat menahan perlambatan pertumbuhan konsumsi swasta lebih jauh. Siklus masih rendahnya realisasi belanja modal pemerintah dan investasi sektor swasta di awal tahun berdampak pada tertahannya kinerja investasi. Mulai masuknya fase administrasi pengadaan barang menyebabkan realisasi belanja modal di semester I 2018 diperkirakan masih belum optimal. Mulai berangsur meningkatnya harga berbagai komoditas internasional seperti CPO diharapkan memberikan dampak lanjutan pada peningkatan kinerja ekspor dan industri pengolahan.

38 20 40 60 80 100 120 140

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2013 2014 2015 2016 2017

Indeks Indeks Keyakinan Konsumen Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini Indeks Ekspektasi Konsumen Baseline (Batas Positif)

Sumber: BI, diolah

*Triwulan IV merupakan posisi sampai dengan bulan Oktober 2017 -4 0 4 8 Realisasi Tw IV 2017 Prakiraan Tw I 2018

Pertanian PHR Industri Pengolahan Pengangkutan dan Komunikasi Bangunan Pertambangan Keuangan Jasa-jasa Listrik, Gas dan Air Bersih

%, saldo bersih tertimbang

Sumber: BI, diolah Grafik 1.43. Perkembangan Indeks Ekspektasi

Konsumen, Indeks Keyakinan Konsumen, dan Indeks Ekonomi Saat Ini (SK BI)

Grafik 1.44. Perkiraan Investasi (Hasil SKDU)

Investasi merupakan faktor penting dalam proses pembangunan ekonomi di Sumatera Barat. Meningkatnya investasi dalam perekonomian berarti juga merupakan akumulasi faktor produksi modal yang selanjutnya mendorong penciptaan lapangan pekerjaan. Sehingga investasi dapat mendukung dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memetakan dan mengidentifikasi kendala berkembangnya investasi dalam perekonomian Sumatera Barat, khususnya di sektor pariwisata serta menghasilkan rekomendasi dalam bentuk skema upaya terobosan untuk meningkatkan investasi di sektor tersebut.

Sebagai proses akumulasi modal, investasi yang seharusnya berkembang di Sumatera Barat adalah investasi yang dapat mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang. Dengan demikian investasi yang direalisasikan tidak hanya diharapkan sebagai sumber penciptaan lapangan pekerjaan tetapi juga seharusnya mendorong penciptaan lapangan usaha bagi masyarakat Sumatera Barat. Berlandaskan kerangka pemikiran tersebut investasi dalam pembangunan ekonomi harus mampu mendorong peningkatan lapangan usaha masyarakat lokal tersebut. Penelitian ini merupakan sebuah analisis kebijakan, sehingga metode yang

BOKS 1:

Analisis Kendala Investasi Dan Upaya Terobosan Dalam Meningkatkan Investasi Sektor Pariwisata Sumatera Barat

39

digunakan berdasarkan metode evidence based policy recommendation.3 Metode ini digunakan untuk memberikan rekomendasi kebijakan yang didasarkan atas bukti-bukti empiris yang diperoleh dari lapangan. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang diperoleh dari hasil publikasi resmi lembaga terkait. Data primer diperoleh dengan cara melakukan survei kepada wisatawan dengan menggunakan kuesioner, melakukan indepth interview dengan narasumber yang relevan dan melakukan FGD dengan pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Hasil pengumpulan data selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif terhadap kondisi saat ini dan kendala investasi di sektor pariwisata.

Skema upaya terobosan peningkatan investasi pariwisata di Sumatera Barat diperoleh berdasarkan hasil analisis proses transmisi keputusan investasi pada sektor pariwisata Sumatera Barat. Diawali dengan melakukan analisis terhadap kondisi saat ini pada sektor pariwisata, selanjutnya dari analisis tersebut diperoleh peta potensi pariwisata Sumatera Barat berdasarkan pendapat seluruh stakeholder sektor pariwisata yaitu pemerintah daerah, wisatawan, pelaku usaha pariwisata dan investor/calon investor lokal. Hasil analisis terhadap kondisi saat ini juga akan memberikan informasi terkait peluang investasi serta kendala-kendala yang muncul dalam upaya peningkatan investasi. Lebih jauh, transmisi investasi pariwisata di Sumatera Barat terlihat pada skema gambar 1 di bawah ini.

3 “Analisis Kendala Investasi Dan Upaya Terobosan Dalam Meningkatkan Investasi Sektor

Pariwisata Dan Perikanan Sumatera Barat” yang merupakan kerjasama antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat dengan Pusat Kajian Sosial Budaya dan Ekonomi (PKSBE) Universitas Negeri Padang pada tahun 2017.

40

Bagan Boks 1 Bagan Transmisi Investasi Pariwisata Sumatera Barat

Sumber: Hasil Analisis dan Evaluasi Temuan Penelitian

Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini dapat dipaparkan beberapa hal sebagai berikut:

Temuan pertama, yaitu terdapat permasalahan pada zonasi dan tata ruang. Namun permasalahan tersebut telah diselesaikan pada awal tahun 2018 dengan sudah disepakati dan disahkannya Perda yang terkait.

Temuan Kedua, permasalahan kepemilikan lahan oleh kaum atau tanah ulayat, sehingga investor sulit untuk memperoleh lahan yang “clear dan clean”.

Temuan Ketiga, permasalahan kapasitas fiskal pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur di kawasan pariwisata.

Temuan keempat, koordinasi antar pemerintah daerah dalam upaya untuk memperbaiki kondisi infrastruktur wilayah dan akses ke wilayahnya.

Temuan Kelima, investasi dalam skala kecil sudah masuk dan berkembang dengan cukup pesat di Sumatera Barat, namun belum terkelola oleh pihak terkait dan berpotensi (sebagian sudah) memberikan dampak negatif terhadap kesinambungan objek wisata di Sumatera Barat.

41

Temuan Keenam, teridentifikasi kerusakan lingkungan dan objek wisata sebagai akibat perkebangan mass tourism yang tidak terkelola dengan baik.

Berdasarkan hasil temuan tersebut, selanjutnya penelitian ini merekomendasikan arah pembangunan sektor pariwisata di Sumatera Barat sebagai berikut:

Rekomendasi arah pengembangan pembangunan di sektor pariwisata:

Rekomendasi studi ini adalah perlu dikembangkannya pariwisata alternatif di Sumatera Barat (alternative tourism). Konsep ini merupakan respon dari adanya dampak negatif jangka panjang dari pariwisata massal. Sehingga keberadaan pariwisata alternatif ini lebih memberikan dampak positif dan bersifat berkesinambungan bagi masyarakat lokal. Pariwisata alternatif lebih memperhatikan kelestarian lingkungan, mempertahankan nilai-nilai budaya dan memiliki unsur edukasi, sehingga dapat meminimalisir dampak negatif perkembangan sektor pariwisata. Kata kunci dari arah pengembangan ini adalah kesinambungan, keterlibatan masyarakat dan edukasi.

Berdasarkan rekomendasi arah pengembangan pembangunan sektor pariwisata di Sumatera Barat, maka rekomendasi yang dapat segera dilaksanakan oleh pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di sektor tersebut sebagai upaya terobosan dalam pengembangan investasi di sektor pariwisata adalah sebagai berikut:

1. Pembenahan Kondisi Internal dan Peningkatan Kualitas Pengelolaan Objek Wisata

a) Peningkatan koordinasi antara pemerintah provinsi bersama-sama dengan pemerintahan kabupaten dan kota untuk pembenahan dan perbaikan akses jalan menuju objek wisata yang melintasi beberapa wilayah kabupaten kota.

b) Penyediaan dan pembenahan infrastruktur/fasilitas di objek wisata yang sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM).

c) Pelaksanaan regulasi dan melakukan pengawasan (ketat) terhadap aktivitas-aktivitas/atraksi wisata yang berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan wilayah rawan bencana.

d) Pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor pariwisata.

2. Membangun Sistem Informasi Pariwisata Berbasis Digital Di Sumatera Barat Teknologi informasi dan media sosial memiliki pengaruh yang sangat luas dalam membentuk pasar, kondisi persaingan, promosi dan membangun opini, governance dan pengawasan termasuk di sektor pariwisata dewasa ini. Penggunaan aplikasi

42

yang dapat diakses dengan telepon pintar dapat menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh wisatawan terkait dengan pariwisata Sumatera Barat.

3. Program Sosialisasi dan Edukasi tentang Pemanfaatan Tanah Ulayat untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Melibatkan para pemangku kepentingan, khususnya Ninik Mamak tentang mekanisme kerjasama pemanfaatan tanah ulayat dengan investor. Selanjutnya memetakan wilayah objek wisata yang siap menerima investor untuk dikerjasamakan dengan berbagai alternatif skema kerjasama yang tersedia.

4. Pilot Project Desa Wisata Atau Kawasan Wisata Dengan Skema Public, Private and Community Partnership (PPCP)

Menggunakan konsep pariwisata alternatif yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, skema yang kami rekomendasikan adalah dengan menggunakan model investasi Public-Private Community Partnership (PPCP). Skema ini perlu diaplikasikan untuk menjadi show case bagi upaya pendukung pengembangan pariwisata alternatif sesuai dengan arah pembangunan sektor pariwisata.

Penelitian ini menggunakan metode yang berdasarkan bukti empiris di lapangan untuk memberikan rekomendasi (evidence based policy) yang bersifat dapat dilaksanakan secepatnya oleh pemerintah dan pihak yang terkait. Hasilnya menunjukan bahwa di sektor pariwisata permasalahan internal di Sumatera Barat menjadi hal yang paling mendesak untuk segera diatasi. Sehingga prioritas pertama rekomendasi yang dapat dilakukan adalah pembenahan infrastruktur di objek wisata, dan dalam jangka panjang yaitu menjalankan pilot project untuk arah pengembangan wisata yang berkesinambungan.

43

Dalam dokumen Periode Februari 2018 (Halaman 42-48)