DAFTAR LAMPIRAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5 Majalengka 2,74 Positif 18 Bogor 0,31 Positif
5.5. Arahan Pengembangan Subsektor Tanaman Bahan Makanan
Arahan pengembangan subsektor tanaman bahan makanan dalam rangka pengembangan wilayah di Kabupaten Majalengka disusun berdasarkan hasil analisis kondisi dan potensi subsektor tanaman bahan makanan yang diperoleh dari analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA), analisis peran subsektor tanaman bahan makanan yang dilakukan dengan menggunakan analisis input-output, analisis penentuan komoditas unggulan serta analisis prioritas pembangunan subsektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Majalengka dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Selanjutnya hasil
Pembangunan Subsektor Tanaman Bahan Makanan Padi (0,324) Jagung (0,250) Kedelai (0,122) Mangga (0,180) Pisang (0,071) Melinjo (0,052) Subsistem Agribisnis Hulu (0,275) Subsistem Usahatani (0,287) Subsistem Agribisnis Hilir (0,273) Subsistem Jasa Layanan Pendukung (0,166) Sumberdaya Manusia (0,448) Sarana Prasarana (0,303) Kelembagan (0,249)
analisis tersebut dipadukan dengan analisis kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk tiga komoditas unggulan terpilih sehingga diperoleh lokasi arahan untuk pengembangan komoditas tersebut.
Pembangunan subsektor tanaman bahan makanan perlu diarahkan dalam upaya mengoptimalkan pembangunan subsektor ini agar dapat menjadi sektor unggulan yang mampu menjadi motor penggerak perekonomian wilayah dengan berbasis potensi lokal dan berdimensi kerakyatan. Pembangunan subsektor tanaman bahan makanan yang ada selama ini masih berlangsung secara parsial sehingga hasil yang dicapai belum optimal. Oleh karena itu, dalam melaksanakan pembangunan subsektor ini lebih lanjut memerlukan dukungan dari berbagai pihak secara konsisten dan terintegrasi baik dari berbagai instansi pemerintah yang terlibat maupun dari masyarakat.
Berdasarkan hasil analisis potensi dan kondisi subsektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Majalengka dapat diketahui bahwa subsektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Majalengka merupakan sektor basis dengan memiliki beberapa komoditas yang unggul dari aspek luas tanam, luas panen maupun produksi. Namun dari komoditas-komoditas yang ada tidak selalu unggul dari ketiga aspek tersebut sehingga arahan yang disarankan untuk peningkatan nilai keunggulan komoditas-komoditas subsektor tanaman bahan makanan adalah dengan melakukan peningkatan kinerja subsektor tanaman bahan makanan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatan kinerja subsektor ini adalah :
1) Peningkatan teknologi budidaya untuk mendorong peningkatan produksi dan produktivitas serta menghasilkan produk yang berkualitas.
2) Peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang bergerak di subsektor tanaman bahan makanan baik petani maupun petugas, antara lain melalui pendidikan pelatihan dan penyuluhan yang kontinyu.
3) Pengelolaan sumberdaya lahan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan secara bijak dengan memperhatikan asas kelestarian lingkungan.
4) Pengembangan ketersediaan sarana produksi seperti pupuk, dan benih yang bermutu sehingga dapat menjamin keberlangsungan usahatani.
5) Pengembangan sarana prasarana pendukung kegiatan usahatani seperti pembuatan dan perbaikan saluran irigasi yang dapat menjamin ketersediaan air untuk pertanaman, perbaikan jalan usaha tani dan pembangunan jalan desa untuk memudahkan mobilitas sarana produksi dan hasil panen serta penyediaan alat mesin pertanian baik alat mesin untuk kegiatan budidaya maupun alat mesin untuk kegiatan panen, pasca panen dan pengolahan.
6) Pengembangan kelembagaan diantaranya dilakukan melalui peningkatan
manajamen kelembagaan petani, maupun kemudahan untuk mengakses lembaga-lembaga permodalan dan lembaga pemasaran.
Kajian terhadap peran beberapa komoditas subsektor tanaman bahan
makanan di Kabupaten Majalengka melalui analisis tabel input-output
menunjukkan bahwa keterkaitan antar sektor serta nilai multiplier effect yang dimiliki oleh beberapa komoditas subsektor tanaman bahan makanan masih rendah. Hasil analisis terhadap struktur output juga menunjukkan bahwa jumlah permintaan antara lebih kecil (26,99%) dibandingkan dengan jumlah permintaan akhir (73,01%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar produk dikonsumsi dan diekspor dalam bentuk segar. Arahan peningkatan peran subsektor tanaman bahan makanan dalam meningkatkan perekonomian wilayah adalah dengan meningkatkan keterkaitan subsektor tanaman bahan makanan dengan sektor- sektor lainnya baik yang memiliki keterkaitan ke depan maupun ke belakang
sehingga mampu mengurangi terjadinya kebocoran wilayah.Adapun sektor-sektor
yang memiliki potensi untuk didorong peningkatan keterkaitannya adalah sektor industri pengolahan, peternakan, perikanan, restoran, hotel, hiburan dan rekreasi karena sektor-sektor tersebut memiliki keterkaiatan ke depan maupun ke belakang dengan komoditas-komoditas subsektor tanaman bahan makanan.
Dengan memperhatikan segala keterbatasan yang dimiliki oleh setiap daerah serta untuk melaksanakan pembangunan subsektor tanaman bahan makanan yang efektif dan efisien maka pembangunan subsektor ini diupayakan fokus pada komoditas unggulan. Berdasarkan hasil analisis secara makro, meso dan mikro maka pembangunan subsektor tanaman bahan makanan diarahkan untuk fokus pada komoditas padi, jagung, kedelai, mangga, pisang dan melinjo.
Pembangunan subsektor tanaman bahan makanan yang bijaksana dan mengikuti azas partisipatif perlu dilaksanakan dengan melibatkan stakeholders dalam menentukan aspek-aspek yang perlu diprioritaskan. Tiga komoditas unggulan yang mendapat prioritas dari stakeholders adalah padi, jagung dan mangga dengan subsistem agribisnis yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah subsistem usahatani, dan aspek sumberdaya manusia menjadi prioritas pertama yang diperlukan dalam pengembangan subsistem agribisnis tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka arahan dalam pembangunan subsektor tanaman bahan makanan adalah peningkatan teknologi budidaya komoditas unggulan dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia sebagai pelaku usahatani.
Arahan untuk lokasi pengembangan tiga komoditas unggulan terpilih yang menjadi prioritas dari stakeholders disajikan pada Gambar 38, 39 dan 40. Arahan untuk lokasi pengembangan tiga komoditas unggulan tersebut didasarkan pada aspek kesesuaian dan ketersediaan lahan dari masing-masing komoditas. Aspek kesesuaian lahan dipilih menjadi faktor yang digunakan untuk menentukan arahan lokasi pengembangan komoditas karena pengembangan komoditas pada lahan yang sesuai diharapkan akan mampu meningkatkan produksi dan produktivitas dari komoditas tersebut. Aspek ketersediaan lahan digunakan dalam menentukan lokasi arahan karena pengembangan komoditas tersebut perlu disesuaikan dengan penggunaan lahan yang ada serta arahan tata ruang wilayah Kabupaten Majalengka.
Pada penelitian ini dilakukan evaluasi kesesuaian lahan pada tingkat ordo yang mengacu pada kerangka evaluasi lahan FAO Tahun 1976 dalam Sitorus (2004). Menurut konsep dasar kerangka evaluasi lahan (FAO, 1976) sesuai dengan tujuannya kesesuaian lahan dibedakan atas kesesuaian lahan secara fisik (kualitatif) dan kesesuaian lahan secara ekonomik (kuantitatif). Dalam penelitian ini evaluasi lahan hanya secara fisik (kualitatif).
Kriteria atau persyaratan tumbuh tanaman yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan ini mengacu pada dokumen yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian (Djaenudin et al., 2003) yang secara rinci tersaji pada Lampiran 15, 16 dan 17. Namun, dalam penelitian ini tidak menggunakan semua kriteria yang
dipersyaratkan tersebut hal ini disebabkan karena keterbatasan data. Evaluasi lahan yang dilakukan pada penelitian ini hanya didasarkan pada kriteria fisik lahan tidak mempertimbangkan kriteria kimia lahan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa sifat fisik lahan merupakan sifat yang relatif tidak akan berubah dalam jangka waktu yang lama sedangkan sifat kimia dan kondisi alamiah lainnya relatif lebih mudah berubah dalam jangka waktu yang pendek sehingga tidak bisa dijadikan acuan kesesuaian lahan untuk jangka panjang
Evaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan komoditas padi, jagung dan mangga didasarkan atas kriteria kepekaan erosi, lereng, tekstur, singkapan batuan dan drainase. Evaluasi ketersediaan lahan dilakukan dengan proses tumpang susun peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan lahan dan peta RTRW Kabupaten Majalengka. Dari hasil evaluasi tersebut akan diperoleh lokasi lahan yang memiliki kriteria sesuai dan tersedia, yaitu lahan yang berdasarkan sifat fisiknya memiliki kriteria sesuai untuk pengembangan komoditas yang dimaksud serta tersedia karena lahan tersebut belum dialokasikan untuk penggunaan lahan yang lain berdasarkan data penggunaan lahan (landuse) serta telah sesuai dengan arahan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Majalengka.
Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk komoditas padi maka arahan untuk menjadi lokasi pengembangan padi adalah Kecamatan Ligung, Jatitujuh, Jatiwangi, Dawuan, Kertajati, Kadipaten, Palasah, Sumberjaya dan sebagian kecil kecamatan Kasokandel, Panyingkiran, Sukahaji, Talaga, Cikijing dan Cingambul (Gambar 38). Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa lahan yang sesuai dan tersedia untuk budidaya padi adalah sebesar 12,08% dari total luas wilayah Kabupaten Majalengka.
Hasil evaluasi kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk komoditas jagung menunjukkan bahwa lahan yang sesuai dan tersedia untuk pengembangan komoditas jagung adalah sebesar 29,03% dari total luas wilayah Kabupaten Majalengka. Berdasarkan Gambar 39, maka arahan pengembangan komoditas jagung adalah wilayah Kabupaten Majalengka bagian utara yang meliputi Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, Palasah, Jatiwangi, Dawuan, Kadipaten, Kasokandel, Panyingkiran, Cigasong, Sukahaji dan Kabupaten
Majalengka bagian selatan yang meliputi Kecamatan Talaga, Banjaran, Cikijing dan Cingambul.
Berdasarkan Gambar 40 dapat diketahui bahwa lahan yang sesuai dan tersedia untuk pengembangan komoditas mangga sebesar 29,03% dari total luas wilayah Kabupaten Majalengka. Dari hasil evaluasi kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk komoditas mangga tersebut maka arahan untuk lokasi pengembangan komoditas mangga adalah Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Jatiwangi, Panyingkiran dan Majalengka.