dalam Ranah Publik di Indonesia
3. Aras Makro
Pemberdayaan politik perempuan merupakan salah satu trategi dalam aras Makro. Strategi ini juga dilakukan oleh Aisyiyah. Misalnya Pimpinan Pusat Aisyiyah menyelenggarakan program pendidikan pemilih di Yogyakarta dengan cara penyusunan dan pengisian daftar pertanyaaan untuk calon kandidat (calon kepala daerah), pembuatan dan penyebarluasan poster pendidikan pemilih, debat calon, kampanye untuk meningkatkan pengetahuan publik tentang pilkada yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Suharto bahwa aras makro merupakan strategi pemberdayaan dengan pendekatan yang dilakukan kepada sistem yang lebih luas seperti perumusan kebijakan, lobbying, pengorganisasian masyarakat dan kampanye (Kurnia, 2011).
Sejak Aisyiyah didirikan ketiga aras strategi pemberdayaan ini terlihat dalam berbagai program dan kegiatan. Sebagai pembaharuan gerakan perempuan di ruang publik, Aisyiyah telah terbukti banyak mengukir prestasi dan keberhasilan dalam meningkatkan peran perempuan. Dalam kurun waktu dua tahun dari berdirinya saja (1917), Aisyiyah telah mampu mendirikan Taman Kanak-Kanak pertama di Indonesia bernama Frobel dan sekarang menjadi Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Busthanul Atfhal. Tahun 1923 organisasi ini melakukan gerakan pemberantasan buta huruf Arab dan Latin, yang kemudian dikembangkan menjadi Sekolah Maghribi atau Maghribis Scholl (AMS) (S. R. Dzuhayatin, 2009).
Gerakan Aisyiyah tidak hanya di bidang pendidikan saja namun juga mencakup bidang-bidang yang lain. Organisasi Aisyiyah berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Namun agar tidak kehilangan informasi dalam isu-isu nasional dan strategis, sebagai bentuk responsivitas, salah satunya isu politik perempuan tetap menjadi kajian meski bukan konsentrasi utama. Hal ini dikarenakan Aisyiyah adalah organisasi masyarakat yang tidak berkonsentrasi dalam kegiatan politik, sama seperti induknya, Muhammadiyah. Maka tujuan Aisyiyah sama dengan tujuan Muhammadiyah, yaitu ”Tegaknya agama Islam dan terwujudnya
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” (Abas, 2018).
Adapun dalam mencapai tujuannya tersebut, Aisyiyah menyusun beberapa program antara lain: (1) Pembinaan Keluarga
Sakinah, menyampaikan dakwah yang ditekankan pada konsep
keluarga sejahtera berdasarkan Islam (2) Qoryah Thoyyibah, yakni suatu model pengembangan masyarakat dengan pendekatan mengerahkan seluruh sumber daya fisik dan insani dari desa yang diberdayakan, (3)
Pembinaan Muallaf dan Dhuafa, yakni pembinaan pada orangorang atau
masyarakat yang lemah iman dan lemah ekonomi, (4) Kesejahteraan
Sosial, pembinaan dengan cara memberikan santunan kepada
anak-anak yatim, pembinaan anak-anak asuh, pemberian bantuan pendidikan dsb, (5) Bimbingan Calon Haji, yakni memberikan bimbingan pada umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji, (6) Mendirikan Taman
Kanak-Kanak „Aisyiyah Busthanul Atfhal, saat ini „Aisyiyah telah
memiliki 3350 sekolah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air, (7)
Mendirikan Badan Kesehatan, seperti mendirikan Balai Kesehatan Ibu
dan Anak (BKIA) dan Sekolah Bidan atau Akademi Keperawatan untuk mencukupi tenaga kesehatannya, (8) Peningkatan taraf hidup dan
pendapatan keluarga, dalam kegiatan ini Aisyiyah mendirikan Badan
Usaha Ekonomi Keluarga atau biasa disebut BUEKA, (9) Pengkaderan¸ seperti umumnya setiap organisasi diperlukan generasi penerus dalam melanjutkan perjuangannya. Aisyiyah menggantung kaderisasi organisasinya dengan munculnya kader dari Nasyiatul Aisyiyah dan Muallimat Muhammadiyah (Abas, 2018).
Bila dicermati, hal-hal yang dilakukan oleh Aisyiyah pada masa-masa awal sampai saat ini merupakan suatu yang luar biasa dan begitu fantastis. Tantangan begitu berat karena dahulu berhadapan dengan politik penjajah dan kultur Jawa yang sangat patriarki. Namun bisa bertahan dan terus bergerak sampai saat ini. Hal ini tentunya tidak terlepas dari pemikiran keagamaan yang dipahami oleh founding father, sehingga dalam kerangka gerakan feminis di dunia Islam. Aisyiyah dapat dikategorikan sebagai jenis gerakan yang memperjuangkan kesetaraan peran dalam ruang publik.
F.
Relasi Sosial Berkemajuan AisyiyahKiprah Aisyiyah yang sudah mendekati satu abad, mampu bertahan dalam pemberdayaan perempuan di tanah air sehingga sadar akan perannya di ranah publik. Strategi ketiga pemberdayaan yang digunakan oleh Aisyiyah merupakan salah satu faktor organisasi dalam organisasi
Muhammadiyah telah diterima di masyarakat dan terus eksis hingga saat ini. Aisyiyah telah mengambil peran dalam pemberdayaan politik perempuan baik secara struktural maupun kultural. Organisasi Aisyiyah bukanlah organisasi politik sehingga kegiatan pemberdayaannya telah dilakukan oleh Aisyiyah. Sejak Orde Baru hingga era Reformasi tidak langsung mengarah ke sana, misalnya pengurus, anggota dan masyarakat diberikan pelatihan khusus untuk menjadi anggota dewan atau kepala negara, tetapi dalam rangka memberikan pendidikan politik. kepada publik. Sebagaimana dinyatakan dalam keputusan Kongres ke-45 Aisyiyah bahwa:
“Aisyiyah bukanlah organisasi partai politik atau organisasi sosial politik, tetapi tanggap terhadap perkembangan politik dengan berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.” (Fachruddin, 2006)
Atas putusan tersebut, Pimpinan Pusat Aisyiyah mengeluarkan SK Nomor 144 / SK-PPA / VI / 2008 tentang sikap Aisyiyah dalam
berpolitik. Maksud dan tujuan kebijakan tersebut adalah untuk menjamin kepastian dan kemurnian organisasi Aisyiyah dari kepentingan politik praktis.
Munculnya pengurus Aisyiyah yang sudah menjadi anggota legislatif, pengalamannya sebagai anggota Aisyiyah. Organisasi Aisyiyah yang mengurusi seluruh aspek masyarakat, menggerakkan (memberdayakan, pen) masyarakat telah memberikan pengalaman kepada pengurus Aisyiyah yang terbiasa tampil di ruang publik, berfikir sistematis dan strategis. Demikian diceritakan oleh Ibu Latifah Iskandar, mantan anggota DPR periode 2004-2009 sejak berusia 14 tahun dan aktif di Organisasi Nasyiatul Aisyiyah kemudian berlanjut hingga tahun 1990 diberi gelar amanah menjadi pengurus Pengurus Pusat Aisyiyah.
Jika bertumpu pada tujuan perempuan berperan dalam politik, yaitu agar perempuan berperan aktif dalam proses pengambilan kebijakan. Sehingga hasil yang diharapkan adalah perempuan tidak melakukan diskriminasi dalam pembangunan. Mengenai peran aktif yang dimaksud, salah satunya adalah partisipasi perempuan dalam menjadi anggota legislatif. Kegiatan atau program yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat Aisyiyah tidak memiliki tujuan tersebut di atas, yaitu masyarakat bahkan anggota dan pengurus Aisyiyah yang diberikan pendidikan dan pelatihan sehingga menjadi anggota pengurus. Namun, program pemberdayaan politik yang diselenggarakan oleh Aisyiyah diperuntukkan bagi perempuan yang mampu berpikir kritis dan berdaya terhadap politik (Aisyiyah, 2010).
Lantas bagaimana model perencanaan program yang digunakan Pimpinan Pusat Aisyiyah dalam memberikan pendidikan politik kepada masyarakat khususnya perempuan? berdasarkan analisis laporan kegiatan dan wawancara yang telah dilakukan. Program pemberdayaan politik perempuan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Aisyiyah jelas menggunakan model incremental planning yaitu model perencanaan tambahan. Pendidikan dan pelatihan kepemimpinan bagi keluarga sakinah serta pengajian merupakan program atau kegiatan organisasi Aisyiyah yang sudah berlangsung sejak era baru. Setelah reformasi, program atau kegiatan diformat dengan menambahkan dan menekankan pada aspek pendidikan politik. Misalnya, dalam kegiatan pengajian, pimpinan pusat Aisyiyah menerbitkan buku Pedoman Pemilu 2004 Mubalighat Aisyiyah (Suplemen, 2004).
G.
Program-program PemberdayaanMenurut Talcott Parson, pemberdayaan adalah proses dimana individu mengembangkan kapasitas untuk mengontrol dan mempengaruhi semua peristiwa dan institusi yang mempengaruhi kehidupan mereka. Pemberdayaan melengkapi seseorang dengan keterampilan, pengetahuan, dan otoritas yang diperlukan untuk memengaruhi hidupnya sendiri dan kehidupan orang-orang yang berarti baginya (Suharto, 2005). Seperti yang dilakukan Pimpinan Pusat Aisyiyah pada tahun 2009, dengan menyelenggarakan kegiatan dan forum pelatihan Pemilu, serta dengan mendirikan posko Pemilu 2009. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas partisipasi dalam upaya penguatan masyarakat sipil dan memperkuat peran kontrol sosial (Suharto, 2005).
Kegiatan Pimpinan Pusat Aisyiyah dalam hal membekali perempuan dengan ketrampilan, pengetahuan, dan kekuatan untuk mempengaruhi dan mempengaruhi semua peristiwa dan lembaga yang mempengaruhi mereka mencakup berbagai bentuk, antara lain formasi, pembinaan, pelatihan, studi, lokakarya, seminar, buku publikasi, pendidikan, dan kampanye. Berikut rincian kegiatan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Aisyiyah selama satu dekade terakhir: