3 Ideologi Gerakan Perempuan
A. Gerakan Feminisme di Barat
1. Feminis Liberal
Pemikiran dasar feminisme liberal adalah setiap laki-laki atau perempuan mempunyai hak yang sama untuk mengembangkan kemampuan rasionalitasnya secara optimal. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Alison Jagar dalam bukunya Feminist
Politics and Human Nature (1983) bahwa sifat dasar manusia adalah
kemampuan rasionalitasnya. Yang menjadi titik tekan argumentasi kaum feminis liberal adalah bahwa manusia yang berakal akan mengembangkan rasionalitasnya dalam bentuk moralitas dan kearifan. Sebaliknya, bila akal didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengerti prinsip-prinsip rasional tentang moralitas, maka nilai otonomi individual tidak dapat dielakkan. Dan juga sebaliknya, jika akal didefinisikan sebagai kemampuan untuk memilih cara yang
terbaik guna mendapatkan hasil yang diinginkan, maka pemenuhan diri (self-fullfilment) sangat ditekankan. Dalam teori masyarakat, liberalisme menekankan masyarakat yang adil, yang memungkinkan individu dapat mempraktikkan otonomi dirinya dan mengisi atau memenuhi tuntutan eksistensi dirinya. Hak bagi kaum liberal harus menjadi prioritas daripada kebaikan (Arivia, 2006).
Hasil terbaik untuk kebahagiaan setiap orang dapat dicapai dengan meniadakan hambatan dan rintangan bagi kebebasan individu, serta membiarkannya mengejar kepentingannya sendiri tanpa ada hambatan apa pun. Dengan demikian, kemajuan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Kekuasaan juga diperlukan karena manusia tidak sempurna. Kekuasaan itu harus terletak di tangan negara yang melindungi setiap individu, sehingga kebebasan mereka tidak terhambat oleh kekerasan atau tindakan anarkis (Laeyendecker, 1983). Akan tetapi, dalam hal intervensi negara, kaum liberalis sepakat bahwa intervensi yang minimal dari negara sangat baik untuk menjamin hak individu, baik dalam aspek kehidupan negara, organisasi, keluarga, sampai tempat tidur. Artinya, intervensi bagi kaum liberalis dibutuhkan agar individu dapat menjadi dirinya sendiri. Namun, perbedaan pendapat muncul dalam masalah intervensi negara di bidang publik. Hal ini kemudian melahirkan perbedaan antara liberalisme klasik dan liberalisme egalitarian. Feminis abad ke-19 pada awalnya lebih memihak pada liberalisme klasik, tetapi feminis abad ke-20 memihak pada liberalisme egalitarian.
Bagi feminis liberal egalitarian, intervensi negara berupa pelayanan hukum, jaminan pendidikan, pelayanan sosial untuk masyarakat miskin, perumahan, pelayanan kesehatan, kesejahteraan sosial, dan bantuan untuk keluarga dan anak-anak (Arivia, 2006). Begitupun dengan kondisi perempuan, feminis liberal egalitarian memandang bahwa negara harus mementingkan pelayanan kesejahteraan bagi perempuan, karena sedari awalnya perempuan tertinggal dengan laki-laki dalam mengakses pelayanan kesejahteraan tersebut. Laki-laki lebih dahulu menerima hak istimewa sebagai anggota masyarakat. Terkadang perbedaan kondisi ini sangat besar sehingga perempuan selalu tertinggal oleh laki-laki dalam menerima bantuan dari negara. Dengan memulai dari titik awal yang sama maka perempuan dapat mengimbangi laki-laki untuk bersama merekayasa negara yang sejahtera (welfare state).
Dalam pandangan feminisme liberal klasik, negara diharapkan dapat melindungi kebebasan sipil perempuan, misalnya hak kepemilikan, hak memilih, kebebasan berbicara, dan kebebasan untuk berorganisasi. Begitu juga dalam hal kompetisi di pasar bebas, setiap individu harus diberikan kesempatan yang sama dalam mengakumulasikan keuntungannya (Arivia, 2006). Feminis liberal klasik menekankan kebebasan sipil bagi perempuan untuk bersaing dengan laki-laki agar mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperjuangkan kesejahteraan hidupnya.
Fokus pemikiran feminis liberal pada abad ke-18 adalah kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam aspek pendidikan, karena posisi perempuan sangat subordinat dalam aspek tersebut. Mary Wolstonecraft menggambarkan kondisi perempuan saat itu seperti burung dalam sangkar, sehingga membuat mereka cenderung menampilkan dimensi sensualitas, seperti suka berdandan dan bercermin (Tong, 2018). Dalam pandangan Wollstonecraft, kodrat perempuan bukan tinggal di rumah menjaga anak-anaknya, menjaga suami, dan pelayan bagi anak dan suaminya, sebagaimana yang dikonstruk oleh budaya patriarkal, karena jika laki-laki ditempatkan dalam peran tradisional perempuan, maka mereka juga akan mempunyai karakter yang sama. Begitu juga ketika laki-laki tidak dapat mengembangkan dirinya atau tidak menggunakan kapasitas akalnya secara optimal, mereka pun akan menjadi emosional dan sensitif, seperti yang telah dituduhkan terhadap perempuan selama ini. Wollstonecraft sangat menghargai kemampuan rasio manusia. Ia membenci novel Rosseau yang menggambarkan bahwa perkembangan rasionalitas manusia merupakan tujuan utama pendidikan laki-laki dan bukan perempuan. Rosseau sering memakai kata-kata “laki-laki yang rasional” dan “perempuan yang emosional”. Atas dasar itu, kekuatan pikiran menjadi sangat penting bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuannya, dan itu bisa didapatkan dengan memberikan kesamaan hak dalam pendidikan.
John Stuart Mills dan Harriet Taylor merupakan pelopor feminisme liberal abad 19, yang menekankan pentingnya mengembangkan rasionalitas, seperti halnya Wollstonecraft. Mills menekankan pendidikan dan persamaan hak, sedangkan Taylor menekankan kemitraan ekonomi antara laki-laki dan perempuan. Keduanya berkeyakinan bahwa pendidikan merupakan media untuk
membebaskan perempuan dari ketertindasannya, serta mendukung perempuan untuk masuk pada bidang medis, hukum, dan teologi, dan dapat menjadi mitra dalam ekonomi dan industri yang produktif. Di samping itu, feminisme liberal abad 19 juga memperjuangkan persamaan hak dan kesempatan bagi perempuan dalam hukum, administrasi, pengadilan, dan kebijakan negara (Tong, 2018).
Feminis liberal abad ke-20 identik dengan Betty Freidan. Dalam bukunya The Feminine Mystique (1963), Freidan mengatakan bahwa perempuan yang tinggal di pinggir perkotaan (sub-urban) selalu memerankan diri sebagai isteri tradisional seperti memasak, mengasuh anak, membersihkan lantai, dan menjadi ibu rumah tangga. Kegiatan ini dilakukan secara rutin tanpa ada pengakuan sebagai pekerjaan yang produktif, serta dianggap sebagai kodrat perempuan. Adapun, pekerjaan yang produktif selalu dilakukan laki-laki. Peran isteri tradisional seperti itu, pada akhirnya membuat perempuan mengalami disorientasi. Melihat kenyataan di atas, Freidan menganjurkan perempuan untuk kembali ke bangku sekolah agar mendapatkan pendidikan yang tinggi dan wawasan yang luas. Untuk mendapatkan kesetaraan dan identitas diri, perempuan dapat melakukan pembebasan tanpa harus berhenti mencintai suami dan anak-anak. Freidan juga menyarankan agar perempuan melakukan pembebasan yang berorientasi pada terciptanya kesadaran perempuan bahwa keberadaannya tidak mutlak dalam peran domestik. Pembatasan tersebut diciptakan oleh masyarakat dan budaya untuk mengubah pola pikir masyarkat tersebut. Laki-laki juga harus mengubah kebiasaan mereka untuk peduli pada urusan keluarga dan terlibat dalam pekerjaan domestic (Tong, 2018).