• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simbol-simbol yang terdapat pada Vihara Buddha Metta Arama

dimaksudkan untuk mengingatkan umat Buddha pada ajaran Sang Buddha, umat Buddha merenungkan Buddha dan ajarannya melalui simbol-simbol yang sesuai. Adapun simbol yang digunakan pada Vihara Buddha Metta Arama antara lain rupang, stupa, cakkha dan simbol-simbol yang terdapat pada altar. Arti simbol dalam Vihara Buddha Metta Arama ini akan diuraikan

sebagai berikut :66 1. Rupang

Banyak orang beranggapan bahwa penganut agama Buddha adalah penyembah berhala. Mereka berpikir bahwa di depan Buddharupang umat Buddha menyembah Buddharupang dan meminta-minta segala sesuatu yang

66

dikehendakinya. Hal ini tidaklah sesuai dengan apa yang sesungguhnya dilakukan oleh umat Buddha di hadapan Buddharupang. Dalam melakukan puja kepada Sang Buddha sesuai dengan ajarannya, Buddharupang adalah melambangkan kehadiran Sang Buddha. Buddharupang yang menjadi lambang perwujudan Sang Buddha bukan semata-mata berhala yang disembah begitu saja, namun umat Buddha menghormatinya karena Buddharupang memiliki makna filosofi yang dalam bagi mereka.67 Buddharupang sebagai lambang pemujaan tidak hanya dipuja sebagai sosok kepribadian Sang Buddha yang sangat mulia, melainkan juga karena perjuangan dan ajaran beliau yang dapat membebaskan manusia dari

penderitaan. Meskipun Buddharupang hanya terbuat dari kayu, batu, perunggu atau emas, umat Buddha tetap menghormatinya dengan cara merangkapkan kedua tangan di depan dada atau bersujud di hadapan Buddharupang. Rasa bakti yang dilakukan di hadapan Buddharupang didasarkan atas rasa terima kasih kepada guru junjungan yang juga merupakan awal atau pintu dalam memperoleh kebenaran atau paling tidak melakukan kamma baik. Atas jasa- jasa beliau manusia dapat bebas dari penderitaan, menuju kebahagiaan dan

kebebasan.68 Di sini tampak bahwa umat Buddha membutuhkan wajah sang Buddha Gautama di dalam bakti persembahan, bukan wajah Tuhan, kecuali jika Sang

Buddha Gautama dianggap Tuhan.

67

Dwiyanti, Fungsi Vihara bagi Umat Buddha, (Jakarta : Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, 1997), h. 19

68

Rupang biasanya diletakkan di setiap bangunan vihara. Hal ini berguna agar umat dapat mengetahui bahwa rupang merupakan simbol yang sering

digunakan dalam agama Buddha. 2. Stupa

Stupa adalah suatu monumen yang didirikan sebagai tempat untuk penempatan abu jenazah atau benda peninggalan dari orang suci atau raja sejagat. Stupa sebagai tempat penyimpanan abu jenazah atau benda peninggalan telah ada sejak pada masa Sang Buddha, dan stupa seperti ini

telah dijadikan sebagai obyek penghormatan.69 Puja bakti maupun penghormatan pada stupa adalah suatu sikap mental dengan tujuan merenungkan dan selalu ingat akan perbuatan atau prilaku baik yang telah dilakukan oleh pemilik peninggalan tersebut yang ada dalam stupa, agar umat Buddha dapat meneladaninya. Inilah makna dari penghormatan

pada stupa tersebut. Adapun stupa yang ada di Vihara Buddha Metta Arama adalah stupa dalam bentuk kecil dan diletakkan di altar. Arti simbol dari stupa ini adalah agar umat Buddha dapat menjadi contoh teladan bagi umat Buddha lain

khususnya, dan di luar umat Buddha pada umumnya. 3. Cakkha

Kata cakkha berasal dari baha Pali yang berarti roda. Setelah Sang Buddha mencapai penerangan sempurna, beliau menerangkan dhamma kepada lima orang pertapa. Penerangan dhamma yang pertama kali ini disebut

69

Coeneles Wowor, Pedoman Agama Buddha, (Jakarta : CV. Pelita Nursatama Lestari, 2003), h. 4 - 5

dhammacakkha pavattana sutta atau pemutaran roda dhamma. Sang Buddha mengumpamakan dhamma yang telah beliau terangkan sebagai roda. Dengan berputarnya roda dhamma dimaksudkan agar semua makhluk yang hendak berbuat dengan dhamma akan bebas dari penderitaan. Dari pemutaran roda dhamma tersebut, maka cakkha menjadi salah satu dari simbol yang ada dalam agama Buddha. Ada bermacam-macam cakkha yang digunakan dalam delapan jalan utama adalah dengan delapan jari-jari. Bagaikan sebuah roda dengan porosnya di tengahnya dari jari-jari saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga, jalan mulia berunsur delapan merupakan salah satu jalan yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Selain cakkha dengan delapan jari-jari yang digunakan dalam agama Buddha juga ada cakkha dengan dua belas jari-jari. Kebua belas jari- jari ini menunjukkan ciri pengetahuan yang terdapat dalam empat kenyataan

mulia.70 Simbol-simbol lainnya yang berhubungan dengan ajaran Buddha biasanya diletakkan di altar. Ada lima persembahkan di altar sebagai simbol- simbol seperti lampu penerangan, dupa, bunga dan air. Pada altar terdapat beberapa simbol yang dapat dijadikan sarana penghubung bagi ajaran Buddha.

Salah satu simbol tersebut adalah lampu penerangan.71 Dalam melaksanakan puja di depan altar, Sang Buddha sering menggunakan lampu penerangan. Lampu ini melambangkan cahaya yang

70

Dwiyanti, Fungsi Vihara Bagi Umat Buddha, h. 24 -25

71

memerangi kegelapan. Ruang yang semula gelap gulita, dapat menjadi terang dengan cahaya lampu. Demikian juga dhamma dapat memerangi batin yang gelap menuju penerangan sempurna. Pada saat ini lampu sering digunakan untuk penerangan. Demi menerangi kegelapan, lilin rela mengorbankan dirinya habis terbakar. Demikian juga dengan manusia, hendaknya ia berbuat baik membantu sesamanya tanpa mengharapkan imbalan. Kemudian simbol lainnya yang ada di altar adalah dupa. Jika memaki ruangan yang ada dupanya, maka akan mencium bau harum semberbak yang membuat terpukau untuk tinggal pada ruangan tersebut. Di dalam vihara biasanya ada bau harum dari dupa yang ditancapkan di tempat khusus di altar.

Demikian dengan Vihara Buddha Metta Arama Menteng Jakarta. Dupa dalam hal ini, melambangkan harumnya kebajikan yang dilakukan oleh siapa saja. Namun bau harumnya dupa tidak dapat melawan arah angin, dan bau harumnya kebajikan atau nama baik dapat melawan arah angin. Demikian seperti disebutkan dalam kitab dhammapada.72 Dengan adanya dupa ini melambangkan bahwa harum juga nama Sang Buddha, karena beliau penemu jalan kebenaran. Hal inilah yang patut direnungkan dengan obyek

dupa yang ada. Selanjutnya simbol lain yang tidak kalah pentingnya yang ada di altar adalah bunga. Bunga adalah lambang kelemahan dan bunga biasanya cepat layu. Pada saat dipetik dan dipersembahkan di altar Sang Buddha, bunga

72

tampak segar dan baunya harum membuat altar kelihatan indah dan agung. Setelah beberapa hari bunga tersebut akan menjadi layu dan berguguran. Seperti halnya bunga, manusia juga mengalami proses kehidupan yang terus

berubah tanpa henti yaitu lahir, anak, remaja, tua, sakit dan mati. Setelah manusia dilahirkan, ia akan tumbuh menjadi dewasa, kelihatan cantik atau tampan, namun lama kelamaan ia menjadi tua dan sakit-sakitan lalu akhirnya mati. Untuk itu, setiap manusia hendaknya berusaha menyadari bahwa semua yang ada pada dirinya selalu mengalami perubahan. Manusia selalu cengkram oleh proses yang terus menerus dalam kehidupan ini selama manusia tersebut masih memiliki kegelapan batin. Demikian seperti

disebutkan dalam kitab Paritta Suci Agama Buddha.73 Proses perubahan seperti inilah yang perlu direnungkan dengan

mengambil obyek bunga sebagai simbolnya. Seperti halnya bunga, demikianlah perubahan hidup yang terjadi pada manusia tidak akan kekal

selamanya. Simbol selanjutnya yang terdapat di altar adalah air. Air dalam agama Buddha melambangkan kerendahan hati, karena air memiliki sifat-sifat seperti dapat membersihkan noda-noda, dapat memberikan tenaga hidup kepada makhluk-makhluk, dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan, selalu mencari tempat yang rendah dan air kelihatannya lemah, akan tetapi suatu saat

air akan menjadi tenaga yang sangat besar.74

73

Paritta Suci, (Jakarta : Dhammadipa Arama, 1983), h. 37

74

Selain itu, air juga melambangkan kesucian. Oleh karena itu, manusia hendaknya memiliki sifat seperti air. Sifat air yang dapat membersihkan kotoran dan dapat memberikan arti tersendiri dalam kehidupan manusia. Bagaikan air, manusia juga dapat membersihkan dirinya sendiri dari segala

kotoran batin dengan cara melaksanakan meditasi menurut ajaran Buddha. Demikian makna dan arti simbol-simbol yang terdapat baik pada

bangunan maupun altar Vihara Buddha Metta Arama Menteng Jakarta. Dengan simbol-simbol tersebut, umat Buddha diharapkan dapat menjadikan simbol- simbol tersebut sebagai bahan pemikiran bagi mereka yang hendak mencapai derajat kesucian melalui ajaran Sang Buddha yang dikenal dengan istilah

BAB IV

PELAKSANAAN UPACARA KATHINA DI VIHARA

BUDDHA METTA ARAMA

Dokumen terkait