SUBKULTUR SOSIAL DENGAN SUBKULTUR LAINNYA
2. Apa artinya kembali ke dalam masyarakat?
Bagi banyak orang, pensiun diterima dengan ucapan syukur purnawira, purnakarya. Selama menjabat mungkin ia sudah menyiapkan “lahan” lain untuk berkarya: menjadi Widyaiswara, mendirikan yayasan pendidikan, dan sebagainya. Beberapa orang mengalami post power syndrom (PPS), jatuh sakit, menjadi bukan siapa-siapa. Kendatipun uang pensiun kecil, yang lain menerima masa pascajabatan itu sebagai kesempatan untuk istrahat, menikmati sisa hidup apa adanya. Dari perspektif Kybernologi “kembali ke dalam masyarakat” itu bervisi lain. “Kembalinya mantan pejabat ke dalam masyarakat” harus berarti “bertemu” dengan pemimpin formal baru yang terpilih atau diangkat menggantikannya menjadi kepala buat lima tahun berikut. Jika kepemimpinan sang mantan sudah habis, ia jatuh dalam pelukan PPS. Tetapi bilamana ia masih memiliki
kepemimpinan informal, ia tetap berharga dan sisa hidupnya tetap
berguna. Supaya tatkala kembali ke dalam masyarakat, sang mantan tidak mengalami PPS tersebut, melainkan tetap “terbilang,” (tetap eksis, tetap “ada,” tetap berperan aktif), semasih dan semasa menjabat ia harus tetap menjalankan dan mengembangkan
kepemimpinan informal di samping kepemimpinan formal, sehingga ketika masajabatan kepemimpinan formal berakhir, ia masih
sanggup dan berkesempatan menjalankan kepemimpinan informal itu. Ia kembali menjadi pemimpin masyarakat sampai akhir
hayatnya, dan mewariskan kepemimpinannya itu kepada generasi berikutnya dalam bentuk contoh, teladan, dan ajaran. Bukan hanya itu. Dalam governance yang baik dan sehat, kepemimpinan informal itu berfungsi sebagai referensi dan tempat bertanya bagi kepemimpinan formal dalam arti yang seluas-luasnya, ibarat hubungan abadi antara senior dengan yunior di dalam masyarakat akademik dan komunitas prajurit.
3. Proses kepemimpinan seperti itulah yang terjadi di Amerika sejak ratusan tahun yang lewat. Partai Republik memang berbeda dengan partai
Demokrat. Jika yang satu memimpin (kepemimpinan formal), yang lain memerani loyal opposition (kepemimpinan informal). Pada saat calon partai Demokrat (Obama) terpilih November 2008, partai Republik
(McCain) berjanji mendukung. Sebaliknya, partai Demokrat memosisikan partai Republik sebagai referensi. Mengapa? Karena selama empat tahun berikut, dalam menjalankan oposisi loyalnya mendukung partai Demokrat, partai Republik mempelajari sepak-terjang partai Demokrat, melakukan envisioning baru, mengoreksi dan membangun dirinya menjadi yang terbaik lagi bukan semata-mata agar kadernya bisa terpilih pada tahun 2012, melainkan untuk memimpin Amerika lebih baik lagi di masa depan.
Gambar 46 menunjukkan bahwa agar seorang mantan bisa berfungsi sebagai referensi positif bagi pejabat yang menggantikannya, dan dapat pula menjalankan kepemimpinan informalnya, selama dan semasih menjabat ia harus mewariskan kinerja yang kelak dalam sejarah tercatat dengan tinta emas.
tokoh berkepe-
berkepe- PEMIMPIN terpilih mimpinan MASA JA-
-->MASYARAKAT--->INFORMAL--->KEPALA--->BATAN---
| mimpinan tersaring formal & BERAKHIR |
| informal informal |
| |
| |
| PEMIM- tidak terpilih (lagi), mantan |
| ---PIN IN- <--- |
| | FORMAL kembali ke dalam masyarakat | |
| | | | |
| | | | | ---| referensi |--- | |
| | | PEMIM- rezim lain yang terpilih | | PIN<--- ---FORMAL naik ke singgasana kekuasaan
Gambar 46 Proses Kepemimpinan (Lihat Tanda Panah)
Melalui proses itu, sang mantan jika kesempatan terbuka, come back? Mengapa tidak?
Nasionalisme budaya, apa pula itu? Paragraf ini tentang budaya. Beberapa waktu yang lalu (260909) saya buka ruang budaya dalam internet, terlihat beberapa topik yang dikategorikan sebagai peristiwa budaya. Antara lain “Doa Budaya” (240909),
“PNS Bolos Karena Faktor Budaya” (240909), “Budaya Mudik” (250909), dan
“Boediono Dianugerahi Gelar Adat Tertinggi Banda” (260909). Budaya dalam empat peristiwa itu berturut-turut berfungsi sebagai media untuk berdoa, motif perilaku bolos, sejenis bentuk budaya, dan sebagai komoditi politik. Ahmad Nyarwi (AN) (Kompas 070909) menulis tentang “‘Mutilasi’ Budaya” dan (DAY. Kompas 080909) melaporkan peristiwa budaya tentang “Batik Jadi Warisan Budaya Dunia.”
Sehubungan dengan itu, presiden meminta seluruh masyarakat Indonesia mengenakan batik pada tgl 2 Oktober 2009. Demikianlah para politisi, pejabat,
ilmuwan dan birokrat memakai batik berdesain indah dan mewah, sementara menurut berita, PNS seDIY diwajibkan mengenakan pakaian dari bahan batik pada tgl 1, 2, dan 3 Oktober 2009, untuk mendukung dan menghormati pengakuan dunia terhadap budaya Indonesia. Dua tulisan itu sama berbicara tentang budaya, tetapi dapat dilihat dari dua sudut yang berbeda. Bila ditengok ke belakang, dahulu kebudayaan
dijadikan bagian Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PPK), yang kemudian berubah menjadi Departemen (atau Kementerian?) Pendidikan dan
Kebudayaan (P & K), kalau tidak salah. Tetapi sejak beberapa tahun yang lalu nama dan tentu saja isi departemen itu berubah menjadi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Kebudayaannya ke mana? Apakah untuk memberi tekanan “nasional”
pada pendidikan, kebudayaan di-“mutilasi” dari ruang pendidikan dan kebudayaan?
Budaya: Nilai (Roh) dan Raganya. Untuk bisa hidup berkelanjutan, manusia bekerja menggali, mengolah atau mencipta sumber-sumber. Manusia bekerja untuk mendapat sesuatu yang berguna atau bermanfaat mendukung kehidupannya. Sesuatu itu disebut bernilai. Sesuatuitu bernilai artinya ada sesuatu dengan nilai di dalamnya.
Sesuatu dikurangi dengan isinya itulah raga (kendara). Raga dengan nilai (di
SUMBER- SESUATU HIDUP BER- --->SUMBER--->KERJA--->YANG BERNILAI--->KELANJUTAN---
| | | |
| | | |
| NILAI RAGA |
| | | |
| | | |
| -BUDAYA-- |
| | ---FEEDBACK/FEEDFORWARD---
Gambar 47 Nilai dan Raga (Kendara)-nya Lihat juga Gambar 20
dalamnya) disebut budaya. Manusia bekerja (proses) untuk menemukan, menambah, atau membentuk sesuatu yang bernilai, yaitu budaya. Proses tidak dapat dipisahkan dari hasilnya, karena setiap titik pada proses merupakan hasil jika proses terhenti pada titik itu. Jadi modelnya seperti Gambar 47. Perbedaan dan hubungan antara nilai dengan raganya terlihat pada AN dan DAY di atas. Pada pikiran AN, sesuatu itu adalah Putra Jaya, “kota yang masih sepi” sebagai raga, bernilai “ibukota negara dan disiapkan untuk tigaratus tahun ke depan” Nilai itu tetap kokoh sebagai fondasi hidup berkelanjutan, dengan bagian-bagiannya yang bisa sakit dan perlu dirawat, berubah, maju dan berkembang. Pada laporan DAY, sesuatu itu adalah batik, dengan raganya yaitu “pakaian yang dikenakan atas permintaan presiden,” dan bila semua orang memakai batik, tentu saja batik menjadi komoditi bisnis sejagat yang luarbiasa dahsyatnya. Batik pada suatu masa bisa menjadi komoditi politik, bila demi disiplin semua PNS diwajibkan memakai batik, dan pelanggarannya terancam “PP 30.”
Apakah yang diwariskan kepada dunia hanya sekedar raga yaitu kain dengan lukisan-lukisan yang berwarna indah namun bisa dibikin oleh siapa saja, seperti Tari Pendet yang bisa dilakoni oleh siapa saja, atau nilai yang tersembunyi di belakang atau di dalamnya, yang hanya terlihat oleh matahati Indonesia, tidak oleh matadagang atau matapejabat, dan layak dipelajari oleh seisi dunia? (Ref.
Taliziduhu Ndraha, Teori Budaya Organisasi, 2005).
Culture dan Civilization. Abu Hanifah dalam Rintisan Filsafat I (1950) menarik perbedaan antara kultur dengan peradaban. Menurut Abu Hanifah, “Sampai abad ke-19 umumnya yang disebut kultur oleh ahli pikir, ialah tindakan manusia
mengerjakan dan memelihara kekuatan yang ada pada ilmupengetahuan, kesenian, moral (seni kemanusiaan) dan agama, buat keselamatan manusia itu. Dengan sendirinya dianggap bahwa agama, ilmupengetahuan (filsafat), kesenian, dan
perikemanusiaan, sebagai bagian-bagian kultur.” “Kalau kita pikir lebih dalam lagi,”
demikian Abu Hanifah lebih lanjut, “pengertian kultur Barat belum ada di Timur
KEBUDAYAAN 1
|
--- | | KULTUR PERADABAN
2 3 | |
| --- | | |
---PERADABAN BATIN--- PERADABAN LAHIR 4 5
Gambar 48 Kultur dan Peradaban
sebelum masuk pikiran Barat.” “Tetapi di Barat ada pengertian peradaban
(civilisation) yang ada juga pada kita. Peradaban itu di Barat akibat kultur, yakni:
Kultur ialah peradaban batin dan civilisation ialah peradaban lahir.” Akhirnya Abu Hanifah berpendapat bahwa kebudayaan adalah sintesis antara kultur dengan peradaban (Gambar 48).
Perlu diketahui bahwa di Inggeris dan Perancis civilisation berarti peradaban pada umumnya, seperti yang ditunjukkan angka 3 pada Gambar 48, jadi meliputi culture.
Di Jerman, Zivilisation berarti peradaban lahir, sedangkan Kultur peradaban batin (kehalusan budi, keluhuran ilmu, keindahan seni, dan sebagainya). Dalam bukunya berjudul Der Untergang des Abendlandes (1923), Oswald Spengler berkesimpulan antara lain bahwa Zivilisation adalah bekuan hasil perkembangan suatu Kultur, yang telah melampaui puncak kegemilangannya. Suatu pola perilaku yang hanya
mementingkan hal-hal yang bersifat lahiriah, tampilan yang kelihatan, dan
kenikmatan sementara. Lain di mulut (raga) lain di hati (jiwa, nilai). Ia berteori lebih lanjut bahwa Zivilisation merupakan akhir perkembangan Kultur organik yang lahir dari jiwa suatu bangsa, berbentuk teknologi, bangunan kota raksasa, dan bangunan kekuatan politik yang lama-lama membosankan. Segala Zivilisation ditakdirkan untuk musnah pada suatu saat, karena atau bila ia kehilangan dukungan
lingkungannya. Untuk tetap hidup berkelanjutan, suatu bangsa tidak boleh kehilangan nilai hidup (elan vital), yaitu roh yang menggerakkan (Kultur), dan raganya harus terus berubah tanpa pernah membeku. Dengan kekuatan itulah bangsa-bangsa Eropah dan Jepang yang kendaranya hancurlebur saat PD II, dalam tempo lima tahun
Marshall Plan bangkit kembali oleh nilai hidup yang terus menggelora (ref.
Taliziduhu Ndraha, Konsep Administrasi dan Administrasi Di Indonesia, 1989).
Budaya dan Kebudayaan. Bahasa Inggris culture diterjemahkan dalam bahasa Indonesia budaya atau kebudayaan. Kata culture berkaitan dengan kata cult.
Sementara cult berkaitan dengan Latin colere yang berarti cultivate. Akarkata budaya dan kebudayaan memang sama, yaitu dari bahasa Sanskerta buddhayah. Tetapi
pengertian dua kata itu berbeda. Menurut kamus, culture adalah “the quality in a person or society that arises from an interest in and acquaintance with what is generally regarded as excellence in. . . .” Di bawah kondisi tertentu, nilai dengan
raganya membentuk budaya, ibarat jiwa dengan badan. Berpisah berarti mati. Tetapi tatkala orang lebih memperhatikan dan mengejar raga ketimbang nilai yang berada di dalam atau di belakangnya, seperti pada laporan DAY di atas, atau seperti yang terjadi tatkala “kebudayaan” dikeluarkan dari “pendidikan dan kebudayaan,” maka bagian budaya berupa raga terpisah dari nilai, terjebak di luar semakin jauh
meninggalkan nilai yang kehilangan raganya. Dalam kondisi itu, budaya adalah nilai tanpa raga, tanpa kendara, sementara raganya yang semula, berubah menjadi
komoditi bisnis yang disebut “kebudayaan” dan ditempel pada Departemen (?) Kebudayaan dan Pariwisata.
Budaya adalah konsep, kebudayaan yaitu kata bentukan dari budaya dengan awalan ke- dan akhiran –an, adalah kualitasnya. Budaya itu berada di dalam diri,
“kebudayaan” (di dalam tanda kutip) adalah suatu tampilannya atau kenampakannya yang dapat diamati, diukur, dan dijual, entah itu berasal dari dalam (dari nilai hidup, dari budaya), entah bersumber dari nilai lain, atau sama sekali tampilan yang kemilau tetapi tanpa isi, alias pepesan kosong. Apakah, nilai seorang tokoh politik yang oleh elit masyarakat tertentu dalam sebuah upacara dianugerahi gelar budaya dengan (pe)raga(an), ritual, dan segala kelengkapannya, tib-tiba berubah setara dengan nilai yang terkandung di belakang atau di dalam gelar budaya yang dipakaikan kepadanya, yang dibangun selama ratusan tahun oleh para pendiri nilai yang disandangkan?
Raga yang terlepas dari nilainya, badan yang terlepas dari jiwanya, itulah yang
dimaksud oleh Spengler sebagai raga yang membeku, dan jika nilainya tidak segera beroleh raga baru, bangsa yang bersangkutan musnah, hilang dari peta, atau raga yang sama berubah menjadi sampah, sampah sejarah. Hubungan antara jiwa (nilai) dengan raga ditunjukkan melalui Gambar 49
--- | RAGA | |---|
| LAMA(TETAP) | BARU(BERUBAH) | HILANG(DITINGG)|
---|---|---|---|
| | | 1| 2| 3|
| | LAMA (TETAP) | tertinggal | konservatif | kenangan |
| |---|---|---|---|
| NILAI | | 4| 5| 6|
| JIWA | BARU (BERUBAH) | kreatif | kemajuan | angan-angan |
| |---|---|---|---|
| | | 7| 8| 9|
| | HILANG(DITINGG)* | sampah | tiruan | musnah | ---
*ditingg, ditinggal, tertinggal
hilang, belum ada, semakin jauh dari nilai awal
Gambar 49 Hubungan Tentatif
Antara Nilai dengan Raganya (Perubahan Budaya)
Contoh yang termasuk dalam sel 7 Gambar 49 adalah budaya Fahombosa di Nias, yaitu sebuah ritual melompati bangunan batu berbentuk piramidal segi empat setinggi lebih kurang dua meter. Muhombo artinya terbang, fahombo artinya melompati
sesuatu yang besar. Fahombosa yang berarti perlompatan sesuatu yang besar, adalah raga budaya Fahombosa. Jadi budaya itu diberi nama menurut raganya. Nilainya adalah ritual “menjadi pria sejati.” Ketika bisnis pariwisata memasuki Nias, dan fahombosa sebagai raga berharga 10.000 rupiah sekali melompat, setiap orang mencari uang dengan fahombo. Semua lelaki bisa menjadi atlit bahkan artis
fahombosa, lepas dari motifnya demi menjadi pria sejati, atau sekedar lelaki pekerja fahombosa demi uang sepuluh ribuan. Nilai “demi menjadi pria sejati”
lama-kelamaan dilupakan orang, sementara raganya menjadi komoditi bisnis fahombosa.
“Menjadi pria sejati” diambil oleh perusahaan rokok atas izin negara dan dijadikan credo anak-anak muda agar gencar “membakar uang” dan siap meracuni orang lain dengan asap rokok, sebelum dengan senang hati membunuh dirinya sendiri.
Dari uraian sederhana di atas dapat dirumuskan sebuah catatan, bahwa budaya itu sedemikian luhurnya sehingga budaya tidak layak untuk dijualbeli, bukan untuk dikomersialisasikan. Juga bukan untuk dijadikan komoditi politik! Inilah inti nasionalisme budaya!
Raga Budaya Yang Terbekukan. Salah satu contoh raga yang bukan hanya membeku tetapi terbekukan adalah raga penegakan HAM, yang membeku atau terbekukan di dalam Departemen Hukum dan HAM (Gambar 50). Tiap tahun ada ritual ratapan bagi para korban pelanggaran HAM (dan kejahatan kemanusiaan) di Trisakti, Jembatan Semanggi, dan lain-lain, yang penyelesaiannya belum kunjung tuntas. Semula HAM berada pada manusia di dalam masyarakat, dinyatakan dan
diakui pada tgl 10 Desember 1948. Pengurusan HAM oleh masyarakat dilakukan oleh Komnas HAM. Komisi ini melihat namanya, setara dengan KPK dan lembaga
komisioner lainnya. Tetapi melihat penampilannya, komisi itu bukanlah superbody.
Kemudian HAM dipindahkan ke dalam lingkungan hukum positif, yaitu Departmen Hukum sehingga nama departemen itu berubah menjadi Kementerian Hukham.
Gambar 51 menunjukkan bahwa yang memikul kewajiban (pelayanan civil) untuk melindungi dan memenuhi HAM (ruang 3) adalah negara (ruang 1). Sementara itu warga masyarakat (ruang 2) berkewajiban untuk menaati peraturan-peraturan yang disepakati dan ditetapkan bersama oleh pemerintah dengan masyarakat sebagai dasar pelayanan publik. Indonesia terkesan bukan negara hukum tetapi negara peraturan.
Kesan itu diperoleh dari pengalaman sehari-hari, misalnya dalam pemilu (pileg dan
pilpres), pilkada dan pilkades yang lalu. Perbuatan yang melanggar kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat, walau diakui sendiri oleh pelakunya, dan terang benderang di mata publik, tidak dianggap pelanggaran atau kejahatan, karena tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Lebih-lebih jika masyarakat permisif terhadap sikap “tujuan menghalalkan segala cara” yang dipertontonkan oleh rezim yang
berkuasa. Preseden seperti itu yang terjadi berulang-ulang dan di mana saja, kemudian menjadi kebiasaan dan pola prilaku yang mengeras seperti batu. Itulah yang oleh Spengler disebut hasil --- lebih tepat disebut
NEGARA
pemikul kewajiban 1
RUANG KEKUASAAN
rumah tangga negara pelayanan publik 1--->2
kewenangan negara RUANG PUBLIK
2
KEBIJAKAN PUBLIK pelayanan civil 1--->3 interface negara kewajiban negara
dgn masyarakat
pelayanan rumah
1--->1 3 tangga negara
HAK ASASI MANUSIA (HAM)
RUANG CIVIL MASYA- RAKAT
Gambar 50 Interface Antara Konsep Negara Dengan Manusia
sampah --- kultur yang membeku, yang dalam jangka pendek menguntungkan satu fihak dan merugikan fihak yang lain, tetapi dalam jangka panjang menghancurkan semuanya.
Kewajiban masyarakat untuk menaati aturan perundang-undangan sebagai dasar kewenangan pemerintahan, semakin hari semakin luas, rumit, dan tak terkendali sehingga ada yang menjulukinya hukum rimba. Sebaliknya, aturan perundang-undangan tentang kewajiban negara untuk mengakui, melindungi dan memenuhi HAM, seolah membeku sulit bergerak, enggan berkembang, konon pula
implementasinya. Hal ini dapat difahami, karena yang berkewajiban mengakui, melindungi dan memenuhi HAM adalah negara itu sendiri, dan oleh sebab itu, jika terjadi pelanggaran, maka pelanggarnya adalah negara. Tentu saja supaya negara sesedikit mungkin dituduh melanggar, maka aturan perundang-undangan tentang HAM-pun harus pula sesedikit-sedikitnya, dan kalaupun ada, selonggar-longgarnya.
Lagi pula, karena HAM itu terletak di ruang negara, maka dengan mudah isu maupun perkara HAM bisa dipindah-pindahkan dengan mudah, ke ruang hukum jika
pelanggarnya masyarakat, dan ke ruang politik jika pelanggarnya negara (politisi, pejabat, aparat, birokrat, teknokrat). Kalaupun ada pelanggaran yang terjadi, masih bisa ditimbang-timbang, apakah berat, sedang, atau ringan sehingga bisa dimainkan.
Gampang kan?
Lantas bagaimana mencairkan kebekuan itu? Satu-satunya kekuatan yang mampu menghangatkan suasana adalah statemanship rezim yang berkuasa, yaitu
mengutamakan nilai masadepan ketimbang kepentingan limatahunan masajabatan.
Statesmanship itu mutlak, guna menempatkan HAM di atas dan di luar setiap konflik kepentingan di dalam tubuh bangsa. Kewajiban negara untuk mengakui, melindungi, dan memenuhi HAM tersebut harus diatur sejauh mungkin secara otonom, agar rezim-rezim berikut bersama masyarakat memiliki pegangan yang kuat. Dalam hubungan itu, masyarakat dan lembaga-lembaganya dengan Komnas HAM sebagai koordinatornya, diberdayakan sekuat mungkin sehingga bargaining powernya setara dengan negara.
Salah satu persepsi sosial yang menghambat integrasi sosial adalah pemahaman yang keliru tentang budaya. Adakah masyarakat yang tidak berbudaya? Seperti
dikemukakan di atas, budaya itu adalah sebuah konsep berisi nilai (jiwa) dan raga.
Konsep itu abstrak. Abstrak karena nilai itu abstrak, raganya yang terlihat. Raga berkualitas. Dengan mengamati, meneliti, atau menimbang-nimbang raga menurut kualitasnya, nilai di dalam atau di belakang (beyond)-nya ditemukan oleh si
pengamat, peneliti, atau penimbang. Nilai yang ditemukan melalui cara ini disebut nilai ekstrinsik, sedangkan nilai yang melekat pada keberadaan raga (eksistensial), disebut nilai intrinsik. Tidak ada budaya yang tak bernilai. Sebaliknya, dengan metodologi yang sama, pengamatan, penelitian atau penimbangan setiap raga, pasti menemukan nilai di dalam atau di belakangnya, minimal nilai intrinsiknya sebagai matarantai proses alam. Dilihat dari sudut ini, tidak ada orang yang tak
berbudaya, setiap masyarakat berbudaya, budaya sebagaimana adanya.
Sebagaimana adanya, tidak ada budaya baik tidak ada budaya buruk, tidak ada budaya tinggi tidak ada budaya rendah.
Tetapi suatu nilai yang dianggap bermanfaat oleh seseorang, misalnya nikotin, oleh orang lain dianggap racun. Oleh sebab itu terjadi konflik nilai dan selanjutnya konflik budaya. Konflik bisa diselesaikan dengan menggunakan asas “merokok itu pilihan bebas, menyadari dan bertanggungjawab sendiri atas akibat-akibatnya,” melalui kesepakatan yang mengikat, misalnya “merokok di tempat khusus yang tersedia.”
Dalam hubungan itu, konflik nilai diselesaikan dengan membentuk norma.
Selanjutnya konstruksi sejumlah norma disebut ideologi, dan ideologi yang
perilaku ditimbang disepakati
-->ENTITAS--->KUALITAS--->NILAI--->NORMA | raga diamati bisa terpaksakan (N) | | | | | dipatuhi disakral- direkon- | |---- ? <---DOGMA<---BON*<---1-|
| mutlak isasi struksi | | | | | | feed- KETE- N<H monev oleh ditegakkan | |---PATAN <---N=H<---HASIL---2-|
| back N>H pelanggan (H) | | | | | | dibenarkan monev oleh “ditegakkan” | ---- ? <--- ? <---“HASIL”<---3- pembenaran penguasa** dipermainkan
Gambar 51 Fungsi Norma Menurut Teori Nilai:
Tiga Opsi, Opsi 1, Opsi 2, dan Opsi 3
(*BON = Body-Of-Norms, Ideologi; **Monev Direkayasa)
disakralisasi menjadi dogma. Dengan nilai yang normatif (disepakati bersama) dibentuk budaya yang normatif berupa sebuah system yang core atau intinya adalah Pancasila (ibarat api) dengan Bhinneka Tunggal Ika (ibarat panasnya).
Budaya normatif, budaya yang ideal, merupakan konsep alternatif. Para penulis Budaya Organisasi umumnya sepakat bahwa nilai budaya kuat bervariasi.
Dogmatisasi nilai melahirkan indispensablility, tidak adaptable, dan pada gilirannya indispensability melahirkan resistance terhadap perubahan, bukan resilience. variabel budaya normatif adalah budaya kuat atau budaya lunak, Maka dalam wacana terakhir ditawarkan konsep budaya serbacuaca untuk Indonesia (ref. Bab I Kybernologi dan Pengharapan, 2009). Sasaran pembangunan budaya adalah budaya normatif ini, budaya bersama. Nation Building, berbeda dengan national development. Dari budaya sebagaimana adanya yang bhinneka, melalui “melting pot” negara
Indonesia (pot = Negara), dibentuk dan terbentuk tunggal ika, kesebangsaan, kesebudayaan yang dinamik dan maju. Pembentukan budaya normatif itu melalui satu-satunya jalan: reposisi budaya ke dalam ruang pendidikan.
Pendidikan dan Budaya. Hubungan pendidikan dengan budaya terlihat melalui pertanyaan K. Bertens (Atma nan Jaya, April 1992, 25): “Do we transmit values in teaching ethics?” Pertanyaan itu menunjukkan bahwa pendidikan merupakan medium penanaman nilai ke dalam diri manusia, dan dengan demikian pendidikan berfungsi sebagai raga, kendara, program, alat pembangunan budaya. Variabel nilai dan raga pada Gambar 50, dapat diganti dengan variabel budaya dan pendidikan.
Kebijakan pemerintah untuk mengeluarkan “kebudayaan” dari “pendidikan dan kebudayaan” mulai digugat, misalnya suara yang diberitakan Kompas tgl 240909 agar pendidikan dan kebudayaan disatukan kembali, apapun nama
departemennya. Suara seperti itu sebaiknya didengar oleh rezim yang berkuasa, tidak hanya konsumsi untuk reformasi birokrasi jangka pendek 2011, tetapi sebagai
langkah awal reformasi politik yang sampai saat ini belum diwacanakan.
Budaya Normatif dan Perubahan Sosial. Apa hubungan antara Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai sentral normatif bangsa dengan perubahan sosial pada suatu aspek kehidupan? Margaret Mead dalam Cultural Patterns and Technical Change (1955, 1957) menjawab:
a change in any one part of the culture will be accompanied by changes in other parts, and that only by relating any planned detail of change to the central values of the culture is it possible to provide for the repercussions which will occur in other aspects of life. This is what we mean by “cultural relativity” that practices and beliefs can and must be avaluated in context, in relation to the culture whole
Jadi sebelum seorang pejabat yang memerintahkan Satpolpp untuk mengusir pedagang kakilima yang dianggap melanggar Perda K3, sehingga pedagang yang bersangkutan kehilangan pekerjaan dan anak-anaknya jadi terlantar, harus bertanya pada hatinuraninya, apakah ia tidak melanggar Pasal 27 (2) dan Pasal 34 UUD1945?
Jadi sebelum seorang pejabat yang memerintahkan Satpolpp untuk mengusir pedagang kakilima yang dianggap melanggar Perda K3, sehingga pedagang yang bersangkutan kehilangan pekerjaan dan anak-anaknya jadi terlantar, harus bertanya pada hatinuraninya, apakah ia tidak melanggar Pasal 27 (2) dan Pasal 34 UUD1945?