• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAERAH YANG BUMI DI BAWAH KAKINYA KEBETULAN

Daftar Isi

10. DAERAH YANG BUMI DI BAWAH KAKINYA KEBETULAN

MENGANDUNG SUMBER LAM (SA) MENDAPAT REZEKI NOMPLOK TANPA BERSUSAH PAYAH, DAERAH YANG TIDAK MENGANDUNG SA HANYA MENGELUS DADA DAN MENARIK NAFAS

PANJANG, SEDANGKAN DAERAH YANG DI BAWAH KAKI DAN DI SAMPING GUBUGNYA TERDAPAT PATAHAN TSUNAMI DAN EPISENTER GEMPA, TINGGAL MENUNGGU AJAL. Ada daerah yang berhasil menggunakan keberadaan SA di bawah kakinya itu sebagai bargaining power terhadap pusat dalam menuntut porsi yang semakin besar atas hasil eksploitasi SA, tetapi ada juga daerah yang tidak

11. Fragmentasi daerah itu dilihat dari segala segi, sangat mahal. Sebagai contoh, ratio antara biaya birokrasi (jumlah, eselon, distribusi, belanja pegawai, belanja barang, fasilitas perumahan pegawai, transportasi, dsb) dengan jumlah

penduduk yang dilayani, di Jawa jauh lebih kecil dibanding

dengan di di Luar Jawa, di Indonesia Barat jauh lebih kecil kecil dibanding Indonesia Timur

12. Sistem politik tidak serasi dengan sistem pemerintahan. Yang satu sentralistik, yang lain desentralistik. Sistem kepartaian yang sentralistik,

misalnya, tidak mendukung kebijakan desentralisasi. Orientasi pengurus parpol di daerah jauh lebih vertikal (ke pusat) ketimbang horizontal (masyarakat).

Fakta inilah yang memicu wacana tentang pentingnya parpol lokal

13. Tiadanya persiapan matang peluncuran otda diperparah dengan lemahnya bimbingan pusat terhadap daerah, baik yang lama maupun yang baru. Berbagai produk kebijakan misalnya peraturan daerah (perda) sarat dengan cek kosong atau cacad hukum. Para pejabat lebih suka meniru ketimbang berpikir, lebih senang dipuji daripada diberi saran, sementara sumber-sumber yang cerdas tidak digunakan bahkan disingkirkan

14. Berbagai arahan dari atas menunjukkan bahwa pusat memberi kesempatan kepada daerah untuk berlomba menunjukkan prestasi, bersaing untuk memperebutkan suatu peluang, dan berkompetisi untuk dinilai terbaik, di samping ajakan untuk bekerjasama. Hal ini adil dan efektif jika peserta lomba berada dalam kondisi yang relatif sama, tetapi siksaan bagi daerah yang tidak memiliki sumber apapun

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai solusi, otda masih amat lemah, sementara untuk berfungsi sebagai sarana pembelajaran, diperlukan sikap dan

kemauan belajar dari semua fihak. Jika dibiarkan berjalan seperti kecenderungannya sekarang, otda bahkan semakin menjauhkan Indonesia dari kesebangsaan. Pertanyaan yang aktual sekarang ialah, kekuatan apa lagi yang dianggap membawa harapan baru untuk MEMPERCEPAT terwujudnya “suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” agar kesebangsaan menjadi kenyataan? PEMERINTAH YANG KUAT MUTLAK DIPERLUKAN. Untuk menerangkan arti “cepat” sebaiknya digunakan ungkapan yang merupakan favorit rezim SBY sebagaimana diinfokomkan oleh Sofyan A. Djalil: “Short term pain for long term gain.” Sepintas lalu kalimat itu sedap didengar, masuk akal, dan menumbuhkan semangat, sesuai dengan peribahasa Melayu: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Hanya saja perlu diingat: yang bersakit-sakit siapa, dan yang bersenang-senang siapa? Apakah orang yang sama? Jawaban “bukan,” menjadi dasar pemikiran Kybernologi tentang kualitas manusia sebagai KORBAN dan MANGSA. Bisa saja persentase rakyat miskin merosot tajam, bukan karena taraf hidup mereka meningkat, tetapi karena mereka keburu mati kelaparan. “Survival of the fittest,” “Yang sisa yang berjaya. Yang kuat yang bergaya” Keadilan Sosial jadi hampa.

Bagaimana halnya dengan konsep pemerintah yang kuat? Pemerintah di sini adalah pelaku pemerintahan dan pemerintahan adalah proses pencapaian tujuan negara.

Pemerintah bukan rejim lima tahunan, tetapi pemerintah yang konsisten melakukan pemerintahan sampai tujuan tercapai, mungkin oleh beberapa rezim dengan strategi yang berbeda-beda. Pencapaian tujuan harus cepat. Sifat “kuat” berkaitan dengan kecepatan itu. Lemah, lambat; cepat, kuat. Supaya terarah, digunakan definisi dalam arti sempit: PEMERINTAH YANG KUAT ADALAH PEMERINTAH YANG KONSISTEN BERTEKAD MENGURANGI KESENJANGAN VERTIKAL ANTAR LAPISAN MASYARAKAT, DAN KESENJANGAN SOSIAL-EKONOMI ANTAR DAERAH DALAM WAKTU YANG TIDAK TERLALU LAMA, MELALUI IMPLEMENTASI PASAL 33 UUD 1945 DALAM RANGKA MENCAPAI TUJUAN NEGARA, DEMI TERWUJUDNYA KESEBANGSAAN INDONESIA. Pasal 33 UUD 1945 itulah dasar penyelenggaraan Nasionalisme Ekonomi (di) Indonesia.

Nasionalisme Ekonomi: Sebuah Jawaban. Panta rei! Semua berubah. Masalah bergeser dan berkembang. Dewa yang diharapkan menjadi penyelamat, silih berganti.

Dewa bernama Pembangunan, gagal, karena hanya menghasilkan korupsi perilaku, korupsi struktural, dan korupsi negara, dewi bernama OtonomiDaerah juga bangkrut karena dilahirkan prematur. Dewa bernama Kapitalisme lagi dipuja di sejumlah Negara, tapi dihujat di belahan dunia lainnya. Nasionalisme Ekonomi, yang sedang sekarat terkena pukulan bertubi-tubi dari dewi-dewa lain yang menguasai waroeng

domestik dan pasar global, kini menggeliat. Konsep Nasionalisme Ekonomi di Indonesia baru sebatas wacana akademik, sedangkan sebagai kebijakan sulit

diimplementasikan. Gebrakannya hanya sekali, yaitu nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia pada bagian akhir tahun 50an sampai awal tahun 60an. Sejak globalisasi marak dan memuncak pada deklarasi pasar bebas, api Nasionalisme Ekonomi

padamlah sudah. Memang di dalam dirinya terkandung kontradiksi. Bila

Nasionalismenya diutamakan, nilai Ekonominya jatuh, sebaliknya jika Ekonominya yang dominan, makna Nasionalismenya susut. Sekarang ia sedang dibangunkan dari pingsannya oleh sementara kalangan arus pinggiran yang menyoal pengelolaan ketiga sumber hakiki Indonesia: Sumber Alam (SA), Sumber Manusia (SM), dan Sumber Buatan (SB). Para penyoal terheran-heran, kok SA Indonesia dikuasai asing.

TKI sebagai komponen SM baik yang diekspor maupun yang bekerja dalam negeri (buruh) selalu saja bermasalah. Mengapa terjadi perdagangan dan eksploitasi

manusia? Demikian juga SB yang selalu saja merugi, padahal bersifat monopolistik dan “menguasai hajat hidup orang banyak,” sementara kerugiannya dibebankan kepada rakyat. Oleh sebab itu konsep akademik dan kebijakan penerapan

Nasionalisme Ekonomi, khususnya di rute hulu (sumber daya) di masa sekarang memerlukan reinterpretasi dan rekonstruksi.

Rekonstruksi Nasionalisme Ekonomi untuk Indonesia dilakukan dengan tiga referensi, yaitu (1) tafsiran akademik seperti dikemukakan oleh Andre Hardjana (empat tafsiran) dan opini para pengamat tentang isu yang sama, (2) tafsiran konstitusional pasal 33 UUD 1945, dan (3) fakta-fakta yang menunjukkan kecenderungan yang sedang terjadi dewasa ini di dalam masyarakat, khususnya empatbelas macam dari implementasi kebijakan otda. Sekurang-kurangnya ada delapan komponen yang secara konseptual berhubungan kausal (Gambar 3), mulai dari variabel Kesebangsaan.

KESEBANGSAAN jauh lebih utama ketimbang kebangsaan. Mengapa? “Tunggal Ika” dalam “Bhinneka Tunggal Ika” adalah puncak budaya sebuah bangsa. Pada level mikro dan sehari-hari nilai itu disebut kebersamaan, sedangkan pada tingkat makro dan konseptual disebut kesebangsaan. Pembentukan kesebangsaan itu berat.

Diperlukan kekuatan baru untuk membentuknya.

Penghalang utama upaya membentuk Kesebangsaan itu adalah Kesenjangan Antar Daerah (KAD). Yang dimaksud dengan KAD di sini adalah KAD sebagai output dan outcome, bukan sebagai input. KAD sebagai input itu given, natural, tidak bisa diubah dan relatif tidak berubah. Faktor-faktor KAD itu misalnya (1) posisi geografik, (2) sejarah, (3) jenis kelamin, (4) kondisi SDA, (5) genealogi, dan sebagainya. KAD sebagai output dan outcome adalah KAD yang terjadi sebagai

akibat dari berbagai kebijakan, tindakan atau perbuatan yang tidak adil yang dilakukan fihak yang satu terhadap yang lain.

Kekuatan utama yang dianggap mampu mengurangi KAD --- kalau bukan kekuatan satu-satunya --- adalah Keadilan Sosial, yaitu bagian kalimat terakhir alinea keempat Pembukaan UUD 1945: “. . . serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.” Dalam hubungan itu, justice adalah

the quality of conforming to principle of reason, to generally accepted standard of right and wrong, and to the stated terms of laws, rules, agreements, etc, in matters affecting persons who could be wronged or unduly favored.

Keadilan Sosial tidak dikaitkan dengan keberadaan (eksistensi) yang given di atas, tetapi pada usaha pengurangan atau perbaikan dampak negatif faktor-faktor yang given melalui konstitusi negara atau kebijakan publik dalam proses bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Fihak yang paling potensial untuk bersikap dan bertindak tidak adil adalah pemegang kekuasaan. “Power tends to corrupt.” Sistem kekuasaan memperlihatkan genealogi nilai yang semakin koruptif: authority, force, coercion, violence, dan “the right to sentence someone to death.” Nilai-nilai itulah yang menunjukkan kualitas kekuasaan. Salahkah singa sang raja semak menerkam bison yang menyeberang padang? “Homo homini lupus,” kata Thomas Hobbes.

Kekuasaan tidak dapat disalahkan 100% atas terjadinya korupsi, karena memang itu hobi dan kecenderungannya. Sang bantenglah yang perlu dipertanyakan: Dari sudut jumlah mereka mayoritas, sosok lebih gagah, dilengkapi tanduk yang kokoh dan tajam, tapi mengapa tidak melawan? Apakah memang fihak yang diperintah ditakdirkan menjadi korban dan mangsa?

Mengapa Keadilan Sosial masih di atas kertas? “Most reforms in government fail,”

demikian Charles Polidano dalam “Why Civil Service Reforms Fail,” (Paper 16, March 2001, IDPM, Univ. of Manchester).

They do not fail because, once implemented, they yield

unsatisfactory outcomes. They fail because they never get past the implementation stage at all. They are blocked outright or put into effect only in tokenistic, half-hearted fashion

Ketidakadilan itu terjadi pada implementasi kebijakan. Implementasi harus

“conform” dengan “principles,” “standards,” dan “laws,” yang telah ditetapkan.

Supaya “conformity” atau “conformance” itu tercapai, proses implementasi kebijakan

harus dikontrol. Siapa yang mengontrol? KEKUASAAN TIDAK MUNGKIN DIKONTROL OLEH DIRINYA SENDIRI. “Masa jeruk makan jeruk?” demikian bunyi iklan. Harus oleh fihak lain. Produser tidak dikontrol oleh produser tetapi oleh konsumer, korban dan mangsa. Setiap produk mempunyai konsumernya. Masyarakat konsumer itulah yang mengontrol “conforming process” dengan menggunakan kekuatan konsumeristik (dari consumerism, bukan konsumtif). Supaya beroleh kekuatan itu, masyarakat konsumer harus menempatkan diri (ditempatkan) pada posisi CIVIL COMMUNITY atau yang populer disebut masyarakat madani sebagai SDM baru. Prediksi dan harapan Habibie, Alfian, Moerdiono, dan lain-lain seperti telah dikemukakan di atas, berkaitan dengan golongan menengah (intelektual dan pengusaha) Indonesia ternyata meleset. Golongan menengah Indonesia, kalaupun ada, tidak berfungsi sebagai institusi kontrol terhadap kekuasaan, malahan sebaliknya, mereka berlomba-lomba menjadi kekuasaan itu sendiri. Mungkin berlebihan, tetapi sampai saat ini harapan masa depan Indonesia tergantung pada civil communities tersebut.

Kybernologi membahas civil community sebagai satu di antara tiga subkultur masyarakat, yaitu subkultur sosial (SKS, konsumer). Civil communities sebagai SDM baru harus (mampu) membentuk diri sendiri. Civil community tidak mungkin dibentuk oleh kekuasaan, karena hal itu membahayakan dirinya! Pembentukan civil communities sebagai SDM baru harus difahami dalam hubungannya dengan sumber daya lain (SDA dan SDB, dan oleh sebab itu, pengembangan ketiga macam sumber daya itu harus dikemas dalam satu paket Kebijakan Sumberdaya.

1 2 3 4 5 6 7 8 HUB KE- IMP KE- KESENJ KESE- NAS---->DEM---->ANTAR---->BIJ---->KEB---->AD---->ANTAR---->BANG- EK EK SD SD SD SOS DAERAH SAAN

NASEK Nasionalisme Ekonomi; DEMEK Demokrasi Ekonomi; HUB Hubungan; SD Sumber Daya; KEBIJ Kebijakan; IMP Ilmplementasi; KEADSOS Keadilan Sosial KESENJ Kesenjangan

Gambar 3 Model Rekonstruksi Nasionalisme Ekonomi Menuju Kesebangsaan

Sedikit tentang sumber daya. Padanan kata sumber daya dalam bahasa Inggeris adalah resource. Kata itu berasal dari akar kata Latin re + sourdre, surgere, to rise up. Resource berarti “a source of supply, support, or aid, esp. one held in reserve;”

“the collective wealth of a country or its means of producing wealth.” Beberapa kata kunci di atas dapat digunakan untuk membuat definisi sumber daya untuk sementara:

sumber daya adalah kekayaan suatu bangsa yang menjadi modal bagi kejayaan masa depan.

Kalau sumber daya dinyatakan sebagai milik negara, maka dengan mudah institusi negara yang mewakili negara ke dalam dan keluar mengklaim bahwa sumber daya berada di bawah kekuasaannya. Oleh sebab itu sumber daya sebaiknya dinyatakan tidak sebagai milik negara tetapi milik bangsa. Sumber daya dapat dikelompokkan menurut berbagai kriteria. Misalnya menurut sifat, distribusi, dan nilai. Menurut sifat, ada yang dapat dipulihkan (berdaurulang, renewable, misalnya hutan) dan ada yang tidak (misalnya batu bara, minyak bumi). Menurut distribusi, ada SDA yang sedikit banyak terdapat di semua daerah (lahan, flora, fauna), dan ada yang terdapat hanya di beberapa daerah (misalnya mineral, bangunan alam, pantai). Menurut nilai, ada yang bernilai (volume dan mutu) tinggi dan ada yang bernilai rendah. Lihat Gambar 4. Ada empat sel. SEL MANA YANG BERISI SUMBER DAYA YANG BERFUNGSI SEBAGAI PENGIKAT ATAU PEMBENTUK POLA PERILAKU MASYARAKAT MENJADI SE-BANGSA? Setiap sel menunjukkan kualitas yang merupakan dasar ba-

--- S I F A T

--- RENEWABLE NONRENEWABLE --- 1 2 TERDAPAT DI

DIS- SEMUA DAERAH

TRI- --- BUSI TIDAK TERDA- 3 4 PAT DI SEMUA

DAERAH

---

Gambar 4 Matriks Sumber Daya

gi pembuatan kebijakan dan implementasinya. Kebijakan Sumber Daya disusun berdasarkan analisis objektif tentang hubungan antar sumber daya. Kebijakan bergantung pada sumber-sumber ekonomi. Sumber daya harus diberdayakan menjadi sumber bargaining power terhadap dunia internasional, dan meninjau kembali kebijakan sumber daya. Bukan hanya itu.

SDA ADALAH ANUGERAH ALLAH BAGI MANUSIA SEBAGAI SUMBER ENERJI. SDA ITU SUCI ADANYA. Jika SDA itu terbatas, atau hanya terdapat di beberapa kawasan, negara atau daerah, itu tidak berarti Allah tidak adil.

MANUSIALAH YANG ALLAH TUGASKAN UNTUK MENGELOLA SDA ITU UNTUK KESEJAHTERAAN SELURUH UMAT MANUSIA, rakyat, atau warga daerah. Oleh sebab itu, bilamana Pasal 33 Ayat 3 UUD 45 diimplementasikan menurut semangat yang terkandung dalam uraian di atas, maka SDA tidak boleh dianggap sebagai harta karun atau rampasan pemenang pemilu untuk dikuasai dan dikelola dengan sewenang-wenang oleh rezim yang berkuasa.

Hubungan antar sumber daya terbentuk berdasarkan kondisi dan sifat setiap sumber daya. Kehidupan negara atau daerah yang terbelakang misalnya sangat bergantung pada kegiatan ekstraktif SDA. Potensi SDA itu sendiri semakin terbatas, ambang batasnya semakin dekat, dan daya dukungnya semakin merosot. Sementara itu pencemaran dan pengrusak-annya oleh ulah manusia semakin meningkat. SDA negara maju meng-alami konservasi dan proteksi terhadap pencemaran lingkungan.

Negara maju mengekspor pencemaran ke negara lain melalui foreign investment yang sangat menguntungkan (tenaga kerja murah, dekat dengan pa-

sar, dan jauh dari pencemaran). Kualitas SDM juga amat bervariasi. SDM bangsa maju relatif tidak lagi bergantung pada sumber daya alam lahan pertanian (peasantry), sedangkan SDM negara terbelakang sebaliknya. Daya dukung SDA itu sendiri pada suatu saat mendekati nol. Kelemahan SDM berpengaruh terhadap SDB. Misalnya teknologi sebagai bagian SDB. Sebuah teknologi yang memerlukan ketepatan waktu merupakan pemborosan bila digunakan dengan budaya waktu karet, Hubungan antar sumber daya tersebut seperti Gambar 5a dan 5b.

Masalah yang muncul dari model di atas adalah: (1) Upaya apakah yang perlu ditempuh agar sebelum daya dukung SDA pada negara berkembang (Gambar 5a) mendekati nol, kualitas SDMnya mendekati kualitas SDM negara maju (Gambar 5b) sehingga mereka mampu beralih kerja ke bidang industri dan jasa? (2) Upaya apa yang harus dilakukan agar Human Resorce Development Index lebih tinggi daripada Natural Resource Decreasing Index?

Berbagai cabang ilmu pengetahuan dapat memberikan jawaban yang berbeda-beda;

salah satu di antaranya dari Teori Budaya. Dari hasil penelitiannya, Margaret Mead (dalam Cultural Paterns and Technical Change, 1957, 13) berpendapat:

. . . a change in any one part of the culture will be accompanied by changes in other parts, and that only by relating any planned detail of change to the central values of the culture is it possible to provide for the repercussions which will occur in other aspects of life. This is what we mean by “cultural relativity”

Pada negara berkembang, perubahan aspek yang satu tidak diikuti dengan perubahan pada aspek lainnya, yang satu selalu lag behind yang lain, karena nilai aspek yang satu tidak mengacu pada nilai sentral yang juga merupakan sumber nilai aspek lainnya. Dengan perkataan lain, satu-satunya cara untuk menjawab kedua pertanyaan di atas adalah transformasi budaya berdasarkan Teori Cultural Relativity di atas.

Kebijakan sumber daya harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip Demokrasi Ekonomi. Indonesia telah mengalami (baca: mencoba) beberapa fase konstruksi ekonomi yang digerakkan berdasarkan prinsip tertentu yang dipilih dari sejumlah alternatif di antara dua kutub di masa itu: ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis.

Pada bagian pertama dasawarsa 60-an muncul konsep Ekonomi Terpimpin, yaitu susunan ekonomi nasional yang diharapkan bersih dari sisa-sisa feodalisme dan penghisapan manusia oleh sesama manusia, menuju ekonomi sosialis Indonesia.

Dalam pergerakannya, Ekonomi Terpimpin itu oleh banyak kalangan dianggap menjurus ke etatisme.

Konsep Demokrasi Ekonomi yang merupakan wacana akademik dan dikumandangkan sejak tahun 70-an semula merupakan reaksi terhadap sistem ekonomi peninggalan zaman Belanda: secara struktural sebagai koreksi terhadap sistem ekonomi dualistik di masa lalu (sampai sekarang?), dan operasional sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat berdasarkan asas kesamarataan dan kesamarasaan ekonomi. Namun kemudian wacana itu diarahkan untuk mengoreksi Ekonomi Terpimpin, dan meletakkan dasar ideologi pembangunan ekonomi selama hampir tiga dasawarsa kemudian. Dalam GBHN, Demokrasi Ekonomi didefinisikan sebagai sistem ekonomi yang di dalamnya masyarakat memegang peranan aktif dalam kegiatan pembangunan, sementara pemerintah memberikan arahan dan bimbingan. Definisi tersebut mengacu pada pasal 33 ayat 1 UUD. Konsep “usaha bersama” dalam ayat itu diartikan sebagai “collective effort,” dan “kekeluargaan”

ditafsirkan “brotherhood,” sehingga lembaga yang dianggap tepat untuk “collective effort” dengan semangat “brotherhood” itu adalah persekutuan orang (manusia) bukan persekutuan modal (uang). Koperasi.

Pada awal perkembangannya, misi Koperasi bersifat protektif terhadap praktik jahat yang dilakukan oleh lembaga feodal dan lintah darat. Koperasi diletakkan pada fondasi yang disebut solidaritas sosial. Solidaritas merupakan karakter khas masyarakat perdesaan, agraris, atau kelompok minoritas. Koperasi yang gerakannya didasarkan pada solidaritas sosial didefinisikan sebagai lembaga sosial berperilaku ekonomi. Koperasi tidak mengejar laba sendiri, melainkan “laba” dalam arti terpeliharanya kesejahteraan bersama. Di sini nilai Demokrasi yang dominan.

Berbeda halnya masyarakat perkotaan atau masyarakat industri dan jasa. Di sini diperlukan watak kompetitif berdasarkan kualitas dan prestasi kerja. Untuk bisa bersaing dan berkembang, orang mengejar laba. Maka tatkala Koperasi dirasuk oleh semangat kompetisi dan kapitalistik, definisinyapun berubah menjadi lembaga ekonomi yang (diharapkan) berperilaku sosial. Jika “berperilaku sosial” dianggap identik dengan “melayani konsumer,” apa bedanya dengan lembaga ekonomi lainnya? Koperasi memang berhasil di Rochdale, berhasuil di Skandinavia, dan di negara lain yang civil community based. Di tingkat mikro di pedesaan atau daerah terpencil di Indonesia mungkin berhasil, tetapi TIDAK PADA TINGKAT MAKRO.

Itulah sebabnya sejak Koperasi kehilangan pamornya sebagai penyelamat, muncul berbagai gagasan tentang sistem ekonomi nasional. Ada yang menyebutnya Ekonomi Pancasila, dan ada yang menyebutnya Ekonomi Kerakyatan.

Ternyata bahwa Demokrasi SDM melalui Koperasi sebagai persekutuan orang saja tidak cukup. Demokrasi harus diperluas menjadi Demokrasi SDA (pasal 33 ayat 3 UUD) dan Demokrasi SDB (pasal 33 ayat 2 UUD). Dengan demokrasi SDA, maka SDA yang tidak terdapat di semua daerah (sel 4 Gambar 4) dinyatakan sebagai MILIK BANGSA (BUKAN MILIK DAERAH terkait) dan dikelola menurut ajaran good governance (bukan ajaran pasar bebas) untuk kesejahteraan seluruh rakyat (konsumer, korban dan mangsa) Indonesia, dan untuk membiayai rehabilitasi lingkungan yang rusak akibat eksploitasi SDA yang ber-sangkutan, sedemikian rupa, sehingga PADA SUATU SAAT YANG TIDAK TERLALU LAMA, KESENJANGAN SOSIAL-EKONOMI ANTAR DAERAH BERKURANG SAMPAI PADA TINGKAT YANG TOLERABLE DAN PROSES KESEBANGSAANPUN BERJALAN.

0304060755

--- PENGETAHUAN (dari Gambar 13) MODEL

---

monev SKK ---di hulu<---SKS

| & tengah |

17 SKS memonev perilaku dan kinerja SKK di hulu hasil monev

(kebijakan) dan di tengah (implementasi, re- | distribusi nilai melalui pelaayanan pemerin- | pertang- tahan --->SKK---gungja- ----

waban | 18 SKK mempertanggungjawabkan perilaku dan kinerjanya |

kepada SKS menurut formula TJT SKS | 19 Sikap SKS terhadap negara pada siklus politik ber- | ikutnya bergantung pada TJT, dipercaya atau tidak dipercaya |

---atau <--- 20 Sikap itu menjadi feedback buat rezim berikutnya, | tidak

sehingga terjaga kesinambungan politik dan keber- |

lanjutan pelayanan pemerintahan | sikap --->thd rezim berikutnya

---

Gambar 14 Subkultur Sosial (SKS) dengan Subkultur Kekuasaan (SKK) Lihat Gambar 4

Perilaku SKS

Civil disobedience dsb

Perilaku SKS menbangun SKS dengan SKE

redistribusi pembangunan ---pelestarian --- | dan pembaruan | | sumber-sumber | | | | | -->SUMBER kebijakan | | | | | | --- | |

| SKE SKK -->MASYARAKAT<-- SKK<--?

| | | | | | | menggali | | | | | | mengolah | | | | | | mengelola--->KERJA | | | | | menggunakan | | | | | | mengambil | | | | | | | | | redis- | | pertanggung | -->NILAI-- --busi-- ---

nilai jawaban

Gambar 26 Rekonstruksi SKE dengan SKK Perhatikan Arah Panah

SKE--->SKS

11 SKK meredistribusi nilai kepada SKS SKK----redistribusi nilai--->SKS |

15 a Inti SKK adalah power, dan power tends to -->SKK----redistribusi--->SKS-- corrupt | | | | b Redistribusi nilai oleh SKK kepada SKS selaku | | pertanggungjawaban | | terjanji di tengah harus terkontrol (dimonev) | --hasil monev kpd SKS- | c Monev tsb dilakukan oleh terjanji (penagih) | | d Dituntut pertanggungjawaban SKK di hilir kepada | | masyarakat (SKS) selaku pelanggan ---monev thp kinerja SKK<----

kontrol ---di hulu<--

| | | | 16 Pertanggungjawaban SKK di hilir menentukan sikap SKK SKS SKS selaku konstituen dalam mengontrol SKK di | hulu melalui proses politik, misalnya pemilu | pertang-

--gungja- <---SKK

waban

---

Gambar 13 Subkultur Kekuasaan (SKK) dengan Subkultur Sosial (SKS) Lihat Gambar 4

Gambar 12 menunjukkan dua arah peran SKK. Di hulu ia diharapkan mengontrol, membangun dan melestarikan sumber-sumber melalui dan berdasarkan Pasal 33 UUD1945, di tengah ia diharapkan mewujudkan keadilan sosial melalui reditribusi nilai kepada warga masyarakat (SKS) berdasarkan ketentuan perundang-undangan

Gambar 12 menunjukkan dua arah peran SKK. Di hulu ia diharapkan mengontrol, membangun dan melestarikan sumber-sumber melalui dan berdasarkan Pasal 33 UUD1945, di tengah ia diharapkan mewujudkan keadilan sosial melalui reditribusi nilai kepada warga masyarakat (SKS) berdasarkan ketentuan perundang-undangan

Dokumen terkait