• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL

6.1. Pola Usaha Peternakan Puyuh Bintang Tiga

7.1.2. Arus Pengeluaran (Outflow)

Tabel 16. Nilai Sisa Biaya Investasi Proyek Pola I

No Uraian Nilai (Rp) Umur Ekonomis (tahun) Penyusutan Per Tahun Nilai Sisa Umur Ekonomis 10 Tahun (Rp) Nilai Sisa Umur Proyek 7 Tahun (Rp) 1. Generator 1.300.000 10 91.000 390.000 663.000 2. Timbangan Besar 1.200.000 10 60.000 600.000 780.000 3. Mesin Giling Jagung 6.500.000 10 455.000 1.950.000 3.315.000 4. Mobil 40.000.000 10 2.800.000 12.000.000 20.400.000 Total 25.158.000

7.1.2. Arus Pengeluaran (Outflow)

Arus pengeluaran pada pola I terdiri dari pengeluaran untuk biaya investasi, serta biaya operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

a. Biaya Investasi

Biaya investasi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan pada tahun pertama proyek yang terdiri dari :

1. Kandang grower dan layer yang digunakan untuk tempat produksi puyuh-puyuh yang siap bertelur sampai menjelang umur afkir.

2. Kandang starter yang digunakan untuk menempatkan puyuh yang baru dibeli untuk dibesarkan dahulu sampai umur sebulan sebelum dipindahkan ke kandang grower dan layer.

3. Kurung, terbuat dari kayu dan kawat yang telah dilengkapi dengan tempat pakan serta tempat minum. Satu kurung terdiri dari 5 tingkat. Untuk kurung puyuh grower dan layer, masing-masing tingkat mampu menampung 40 ekor puyuh. Kurung untuk puyuh starter, masing-masing tingkat berkapasitas 100 ekor puyuh.

4. Tandon air, digunakan untuk menampung air dari sumur pompa yang dialirkan ke keran di depan masing-masing kandang. Keran air ini berfungsi untuk memberi minum puyuh maupun tempat membersihkan peralatan pakan dan minum puyuh.

5. Pompa air, berfungsi sebagai alat memompa air dari sumber air (sumur). 6. Pipa, digunakan untuk mengalirkan air dari pompa air ke tandon serta dari

80 7. Generator, digunakan pada penggunaan mesin giling jagung serta penerangan

kandang puyuh jika terjadi pemadaman listrik.

8. Instalasi listrik, sebagai sumber listrik yang sangat diperlukan pada penerangan kandang puyuh, terutama kandang starter serta pada produksi pakan.

9. Alat penyemprot, digunakan untuk menyemprot kurung dan kandang maupun lingkungan sekitar kandang dengan menggunakan desinfektan.

10. Ember plastik, berfungsi untuk menampung air di keran air yang digunakan saat mencuci peralatan pakan serta minum, juga untuk tempat persiapan minum puyuh.

11. Nampan panen, terbuat dari kayu dengan bantalan busa. Digunakan untuk memanen telur puyuh setiap pagi.

12. Alas pakan, terbuat dari kotak papan yang besar untuk tempat persiapan pakan. Alas pakan berada di dalam masing-masing kandang grower dan

layer.

13. Timbangan besar, digunakan untuk menimbang bahan-bahan pakan seperti jagung dan menimbang hasil produksi pakan yang akan dijual.

14. Bangunan pengolahan pakan, terbuat dari bangunan semi permanen tanpa dinding dengan atap seng.

15. Mesin jahit, digunakan untuk menjahit karung berisi hasil pakan yang akan dijual.

16. Sekop, digunakan untuk mencampur masing-masing bahan pakan menjadi adonan pakan.

17. Mesin giling, berfungsi untuk menggiling jagung menjadi tepung jagung yang halus. Tepung jagung ini merupakan bahan dasar pakan puyuh.

18. Kendaraan mobil, berupa mobil pick up dan digunakan untuk mengantarkan telur ke pasar, mengangkut pakan yang akan dijual, serta untuk kebutuhan transportasi yang lainnya.

19. Terpal penutup, berfungsi untuk menutup telur-telur puyuh dalam kemasan peti maupun dus yang telah ditempatkan di mobil pada saat perjalanan dibawa ke pasar.

81 Rincian biaya investasi pada pola usaha I terdapat pada Tabel 17.

Tabel 17. Biaya Investasi pada Pola I

No Uraian Satuan Jumlah Umur

Ekonomis Nilai per Unit Nilai Total (Thn) (Rp) (Rp) 1 Kandang grower dan layer Unit 3 7 7.500.000 22.500.000

2 Kandang starter Unit 1 7 5.000.000 5.000.000 3 Kurung+( tempat

pakan dan minum)

Unit 82 5 350.000 28.700.000

4 Tandon air Buah 2 7 450.000 900.000

5 Pompa air Unit 1 7 450.000 450.000

6 Pipa Batang 50 7 30.000 1.500.000

7 Penggalian sumur - - - - 1.650.000

8 Generator Unit 1 10 1.300.000 1.300.000

9 Instalasi listrik Unit 1 7 1.200.000 1.200.000

10 Alat penyemprot Unit 1 3 82.500 82.500

11 Ember plastik Buah 7 2 18.000 126.000

12 Nampan panen Buah 30 2 10.000 300.000

13 Alas pakan Buah 3 5 200.000 600.000

14 Timbangan besar Unit 1 10 1.200.000 1.200.000 15 Bangunan

pengolahan pakan

Unit 1 7 5.000.000 5.000.000

16 Mesin jahit Unit 1 5 450.000 450.000

17 Sekop Buah 2 2 32.500 65.000

18 Mesin giling Unit 1 10 6.500.000 6.500.000 19 Kendaraan Unit 1 10 40.000.000 40.000.000 20 Terpal penutup Lembar 2 2 400.000 800.000

Total 118.323.500

Selain biaya investasi juga terdapat biaya reinvestasi yang dikeluarkan oleh perusahaan apabila biaya investasi yang dikeluarkan telah habis umur ekonomisnya. Tidak semua biaya barang investasi mengalami reinvestasi, hanya beberapa biaya saja yang umur ekonomisnya tidak selama umur proyek. Biaya

reinvestasi yang dikeluarkan PPBT dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Biaya Reinvestasi pada Pola Usaha I

No Uraian Satuan Jumlah Umur

Ekonomis Nilai per Unit Nilai Total (Thn) (Rp) (Rp) 1 Kurung+(tempat pakan &minum) Unit 82 5 350.000 28.700.000

2 Alat penyemprot Unit 1 3 82.500 82.500

3 Ember plastik Buah 7 2 18.000 126.000

4 Nampan panen Buah 30 2 10.000 300.000

5 Alas pakan Buah 3 5 200.000 600.000

6 Mesin jahit Unit 1 5 450.000 450.000

7 Sekop Buah 2 2 32.500 65.000

82

b. Biaya Operasional

Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan secara berkala selama proyek berjalan. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya tetap yaitu biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan dan nilainya sama setiap tahun. Biaya tetap yang dikeluarkan PPBT tiap tahun yaitu gaji karyawan, perawatan mobil, listrik dan air, biaya sewa lahan, BBM, sapu lidi, perawatan kandang dan mesin pakan, pajak kendaraan, konsumsi pekerja, biaya komunikasi, THR karyawan, serta biaya tidak terduga yang dianggarkan sebesar 5 persen dari total biaya tetap. Perawatan kandang yang dimaksud yaitu memperbaiki kawat kandang maupun kurung-kurung yang rusak. Rincian biaya tetap PPBT dapat dilihat di Tabel 19.

Tabel 19. Biaya Tetap per Tahun pada Pola Usaha I

No Uraian Jumlah Nilai (Rp)

1. Gaji karyawan 9 orang 58.200.000

2. Perawatan Kendaraan 1.800.000

3. Listrik dan air 2000 watt 9.600.000

4. Sewa lahan 2000 m2 2.000.000

5 BBM 21.000.000

6 Sapu lidi 12 buah 30.000

7 Pemeliharaan kandang 150.000

8 Perawatan mesin pakan 840.000

9 Pajak kendaraan 550.000

10 Keperluan dapur 21.000.000

11 Pulsa 600.000

12 THR karyawan 4.850.000

13 Biaya tidak terduga (5%) 6.793.521

Total 127.413.521

Biaya variabel adalah biaya yang besarnya dipengaruhi oleh jumlah produk dalam produksi puyuh di PPBT. Biaya variabel pada pola usaha I ini terdiri atas : 1) bibit puyuh ( masa starter); 2) bahan pakan puyuh seperti jagung, dedak padi, konsentrat, serta bahan tambahan: 3) vitamin; 4) vaksin; 5) obat-obatan puyuh; 6) desinfektan seperti formalin dan biodes; 7) peti kemas; 8) dus kemas; 9) sekam padi; 10) karung pengemas; dan 11) benang jahit.

Pembelian bibit puyuh dilakukan setiap tahun sebanyak 12.000 ekor dengan harga beli Rp 2.750,- per ekor. Pakan puyuh diproduksi setiap 2 hari sekali. Pakan yang dihasilkan PPBT selama satu bulan yaitu 11,7 ton dengan

83 proporsi input jagung sebesar 42.5 persen, konsentrat 42,5 persen, dedak padi 14,5 persen, serta bahan tambahan pakan 0,5 persen. Vitamin diberikan kepada puyuh setiap minggu (3 hari berturut-turut) sebanyak 375 gram untuk keseluruhan puyuh. Obat-obatan diberikan jika ada puyuh yang sakit atau bermasalah. Untuk vaksin dilakukan setiap 2 bulan sekali dengan pemakaian sebanyak 1 liter. Penyemprotan desinfektan dilakukan setiap dua hari sekali dengan menggunakan formalin untuk di luar kandang serta biodes untuk di dalam kandang. Penggunaan desinfektan yaitu sebanyak 5 liter per dua bulan. Untuk jumlah peti kemasan, dus kemasan serta sekam pada tahun ke-1 dan tahun ke-2 terdapat perbedaan. Pada tahun ke-1 kebutuhan peti kemas dan dus kemas masing-masing 88 buah. Untuk kebutuhan dus kemas per enam bulan yaitu 44 buah, sehingga dalam setahun PPBT melakukan pembelian dus kemas sebanyak dua kali. Peti kemas lebih tahan lama, sehingga dalam setahun PPBT hanya melakukan pembelian peti kemas sebanyak satu kali. Peti kemas dan dus kemas dipakai berulang, artinya setiap mengantar telur, peti dan dus dibawa pulang kembali oleh PPBT. Biaya variabel pada pola usaha I tahun pertama dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Biaya Variabel Pola Usaha I pada Tahun ke-1

Uraian Satuan Jumlah Harga

Satuan (Rp) Nilai (Rp)

Bibit puyuh Ekor 12.000 2.750 33.000.000

Pakan puyuh

Jagung Kilogram 120.000 2.200 264.000.000

Dedak padi Kilogram 24.000 1.300 31.200.000 Konsentrat Kilogram 108.000 5.200 561.600.000 Bahan tambahan Kilogram 1.200 10.000 12.000.000

Vitamin Gram 18.000 175 3.150.000 Vaksin Liter 6 35.000 210.000 Obat-obatan Liter 1 375.000 375.000 Desinfektan Formalin Liter 30 10.000 300.000 Biodes Liter 30 35.000 1.050.000

Peti kemasan Buah 88 6.500 572.000

Dus kemasan Buah 88 6.000 528.000

Sekam Karung 60 2500 150.000

Karung pengemas pakan Lembar 2.000 750 1.500.000

Benang jahit Rol 12 20.000 240.000

Total 909.875.000

Pada tahun pertama penggunaan sekam sebagai bantalan telur dalam peti membutuhkan 60 karung atau sama dengan 3.000 kilogram. Pada tahun ke-2 hingga tahun ke-7, kebutuhan peti kemas dan dus kemas masing-masing adalah

84 110 buah, sedangkan kebutuhan sekam yaitu 75 karung atau setara dengan 3.750 kilogram. Perbedaan kebutuhan peti, dus, serta sekam ini disesuaikan dengan jumlah produksi telur puyuh antara tahun pertama dan tahun-tahun selanjutnya. Untuk pakan, dijual setiap satu minggu sekali. Setiap minggu, karung pengemas yang dibutuhkan sekitar 40 karung. Setiap bulan, benang jahit yang diperlukan untuk karung pakan yaitu 1 rol. Secara ringkas, biaya variabel pola usaha I pada tahun ke-2 hingga tahun ke-7 dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Biaya Variabel Pola Usaha I pada Tahun ke-2 sampai Tahun ke-7

Uraian Satuan Jumlah Harga

Satuan (Rp) Nilai (Rp)

Bibit puyuh Ekor 12.000 2.750 33.000.000

Pakan puyuh

Jagung Kilogram 120.000 2.200 264.000.000

Dedak padi Kilogram 24.000 1.300 31.200.000 Konsentrat Kilogram 108.000 5.200 561.600.000 Bahan tambahan Kilogram 1.200 10.000 12.000.000

Vitamin Gram 18.000 175 3.150.000 Vaksin Liter 6 35.000 210.000 Obat-obatan Liter 1 375.000 375.000 Desinfektan Formalin Liter 30 10.000 300.000 Biodes Liter 30 35.000 1.050.000

Peti kemasan Buah 110 6.500 715.000

Dus kemasan Buah 110 6.000 660.00

Sekam Karung 75 2500 187.500

Karung pengemas pakan Lembar 2.000 750 1.500.000

Benang jahit Rol 12 20.000 240.000

Total 910.187.500

7.1.3. Analisis Kelayakan Finansial

Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C, IRR, dan Payback Periode. Pada pola usaha I, diperoleh hasil analisis finansial yang disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22. Hasil Analisis Finansial Pola Usaha I

Kriteria Hasil

Net Present Value (rupiah) 145.175.809

Net Benefit and Cost Ratio 1,77

Internal Rate Return (persen) 32

Payback Periode (tahun) 3,93

Berdasarkan analisis finansial di atas dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya puyuh untuk petelur di PPBT (tanpa usaha pembibitan sendiri) ini

85 memperoleh NPV > 0 yaitu sebesar Rp 145.175.809,- yang artinya bahwa usaha puyuh untuk petelur ini layak untuk dijalankan. Nilai NPV yang sama dengan Rp 145.175.809,- juga menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha puyuh untuk petelur selama umur proyek terhadap tingkat diskon (discount rate) yang berlaku. Kriteria lain yang dianalisis adalah Net B/C, pada pola usaha I ini diperoleh Net B/C > 1 yaitu sebesar 1,77 yang menyatakan bahwa usaha puyuh untuk petelur layak dijalankan. Nilai Net B/C sama dengan 1,77 artinya setiap Rp 1,- yang dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan Rp 1,77,- satuan manfaat bersih. IRR yang diperoleh dari analisis finansial pola usaha I adalah 32 persen dimana IRR tersebut lebih besar dari discount factor yang berlaku yaitu 9 persen. Nilai IRR tersebut menunjukkan tingkat pengembalian internal proyek sebesar 32 persen dan karena IRR > 9 persen, maka usaha ini layak dan menguntungkan untuk dijalankan. Pola usaha puyuh untuk petelur ini memiliki periode pengembalian biaya investasi selama 3,93 tahun atau 3 tahun 11 bulan 5 hari. 7.1.4. Analisis Nilai Pengganti (Switching Value)

Analisis nilai pengganti (switching value) digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan maksimal pada harga output dan harga input variabel yang dapat ditolerir sehingga usaha yang dilakukan masih layak dilaksanakan.

Switching value atau nilai pengganti ditentukan dengan uji coba sampai dapat

menghasilkan nilai NPV yang mendekati nol, IRR mendekati discount rate, dan nilai Net B/C sama dengan 1. Hasil switching value pada pola usaha I disajikan pada Tabel 23.

Tabel 23. Hasil Analisis Switching Value Pola Usaha I Perubahan Persentase (persen) NPV (rupiah) Net B/C IRR (persen) Payback Periode (tahun)

Penurunan Jumlah Produksi Telur 3,9894449 0 1,00 9 7,00

Kenaikan Harga Pakan 5,551397 0 1,00 9 7,00

Dari hasil analisis switching value di atas dapat dilihat bahwa batas maksimal perubahan terhadap penurunan jumlah produksi serta kenaikan harga pakan masing-masing adalah 3,9894449 persen dan 5,551397 persen. Apabila perubahan yang terjadi melebihi batas tersebut, maka usaha puyuh untuk petelur di PPBT ini menjadi tidak layak atau tidak menguntungkan. Besarnya penurunan

86 jumlah produksi telur puyuh sebesar 3,9894449 persen, menunjukkan bahwa usaha puyuh untuk petelur masih layak apabila penurunan yang terjadi terhadap jumlah produksi telur puyuh tidak lebih besar dari 3,9894449 persen. Sementara itu, besarnya kenaikan harga pakan yang masih mendatangkan keuntungan bagi usaha puyuh petelur PPBT adalah 5,551397 persen. Ini berarti kenaikan harga pakan memiliki pengaruh yang lebih kecil dibandingkan dengan penurunan jumlah produksi telur puyuh.

Berdasarkan hasil analisis switching value terhadap pola usaha I dapat disimpulkan bahwa jumlah produksi telur dan harga pakan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap kelayakan usaha puyuh PPBT. Namun tingkat produksi telur puyuh memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kelayakan usaha dibandingkan dengan pengaruh harga pakan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya persentase perubahan yang dapat mengubah tingkat kelayakan usaha puyuh untuk petelur di PPBT.

Menurut pengalaman PPBT, pada jenis pola usaha I pernah terjadi penurunan produksi telur puyuh sampai sebesar 10 persen, sehingga dapat dikatakan bahwa kelayakan usaha PPBT sangat peka terhadap perubahan. Penurunan produksi tersebut terjadi pada saat pasokan bibit puyuh dari peternak lain mulai tersendat karena serangan penyakit. Puyuh-puyuh PPBT yang mati akibat stress maupun sakit tidak dapat secara langsung diganti dengan puyuh yang baru, sehingga jumlah produksi telur PPBT mengalami penurunan. Untuk kenaikan pakan yang terjadi tidak terlalu signifikan, karena pemasok bahan cukup banyak dan mudah diperoleh. Selain itu, PPBT juga mengusahakan pakan secara mandiri sehingga dapat mengurangi biaya pengadaan pakan.

7.2. Analisis Kelayakan Finansial Pola II (Budidaya Puyuh Petelur dan

Dokumen terkait