• Tidak ada hasil yang ditemukan

III KERANGKA PEMIKIRAN

5. Aspek Lingkungan

Negara-negara di seluruh dunia sekarang semakin menyadari adanya pengaruh bagi lingkungan akibat pelaksanaan proyek dan para pengambil keputusan ingin memastikan bahwa pelaksana proyek telah mempertimbangkan masalah lingkungan yang setiap kerugian ekologinya sudah diusahakan sekecil-kecilnya. Menurut Umar (2005), pertumbuhan dan perkembangan perusahaan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan dapat berpengaruh positif maupun negatif pada suatu usaha, sehingga aspek ini juga perlu dianalisis.

31 3.1.2. Analisis Finansial

Analisis finansial merupakan suatu analisis yang membandingkan antara biaya (cost) dengan manfaat (benefit) untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Husnan dan Suwarsono, 2000). Tujuan analisis finansial dari suatu studi kelayakan bisnis adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan dalam jangka waktu tertentu (Umar, 2005).

Analisis finansial melihat manfaat proyek bagi proyek itu sendiri, sehingga dalam analisa finansial, untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai harus menyertakan definisi-definisi mengenai manfaat-manfaat dan biaya-biaya yang berkaitan dengan suatu proyek. Manfaat biasanya berupa nilai produksi total, pinjaman, dan nilai sewa. Sedangkan biaya biasanya berupa investasi, biaya operasional, dan biaya-biaya lainnnya.

Untuk menganalisa aspek finansial dari suatu proyek, dapat digunakan metode-metode atau kriteria-kriteria penilaian investasi. Kriteria investasi digunakan untuk mengukur manfaat yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan dari suatu proyek. Melalui metode-metode ini dapat diketahui apakah suatu proyek layak untuk dilaksanakan apabila dipandang dari aspek profitabilitas komersialnya (Husnan dan Suwarsono, 2000). Beberapa kriteria dalam menilai kelayakan suatu proyek yang paling umum digunakan adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit per Cost (Net B/C) dan

Discounted Payback Period. Setiap metode ini menggunakan nilai sekarang yang

telah di-discount dari arus manfaat dan arus biaya selama umur proyek. a. Teori Biaya dan Manfaat

Menurut Gittinger (1986), secara sederhana biaya (cost) adalah sesuatu yang mengurangi suatu tujuan. Biaya tersebut dikeluarkan sebelum binis tersebut dimulai dan akan terus ada selama bisnis tersebut berlangsung. Sedangkan manfaat (benefit) didefinisikan sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang menggunakan sejumlah biaya atau segala sesuatu yang menambah tujuan.

32 Menurut Kadariah (1999), manfaat dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu : 1. Manfaat langsung (direct benefit) yang diperoleh dari adanya kenaikan nilai

output, fisik, dan atau dari penurunan biaya.

2. Manfaat tidak langsung (indirect benefit) yang disebabkan adanya proyek tersebut dan biasanya dirasakan oleh orang tertentu dan masyarakat berupa adanya efek multiplier , skala ekonomi yang lebih besar dan adanya dinamic

secondary effect, misalnya perubahan dalam produktifitas tenaga kerja yang

disebabkan oleh keahlian.

3. Manfaat yang tidak dapat dilihat dan sulit dinilai dengan uang (intangible

effect), misalnya perbaikan lingkungan hidup, perbaikan distribusi pendapatan,

dan lainnya.

b. Konsep Nilai Waktu Uang (Time Value of Money)

Investasi suatu proyek berkaitan dengan usaha dalam jangka waktu yang panjang. Uang memiliki nilai waktu, yaitu uang dihargai secara berbeda dalam waktu yang berbeda. Konsep nilai waktu uang menyatakan bahwa uang yang diterima sekarang lebih berharga daripada uang yang diterima kemudian. Atau nilai sekarang adalah lebih baik daripada nilai yang sama pada masa yang akan datang (Gittinger, 1986).

Waktu mempengaruhi nilai uang, sehingga untuk membandingkan nilai uang yang berbeda waktu pengeluaran dan penerimaannya perlu dilakukan penyamaan nilai uang tersebut menggunakan tingkat diskonto (discount rate) yang bertujuan untuk melihat nilai uang di masa yang akan datang (future value) pada saat sekarang (present value). Metode analisis yang melibatkan nilai waktu uang adalah metode perhitungan berdiskonto atau metode tunai Terpotong (Discounted

Cash Flow Method).

Kriteria analisis finansial yang digunakan adalah discounting criteria. Kriteria ini merupakan suatu tekhnik yang menurunkan nilai manfaat dan biaya pada masa sekarang berdasarkan tingkat diskonto tertentu. Penggunaan metode ini didasarkan pada pertimbangan bahwa adanya inflasi, reinvestasi dan resiko mengakibatkan perbedaan nilai uang saat ini dengan nilai uang pada masa yang akan datang.

33 c. Umur Proyek

Untuk menentukan panjangnya umur suatu proyek, terdapat beberapa pedoman, antara lain (Kadariah et.al,1999) :

1. Sebagai ukuran umum dapat diambil suatu periode (jangka waktu) yang kira-kira sama dengan umur ekonomis suatu aset. Maksud dari umur ekonomis suatu aset ialah jumlah tahun selama pemakaian aset tersebut dan meminimumkan biaya tambahannya.

2. Untuk proyek-proyek yang memiliki modal yang sangat besar, umur proyek yang digunakan adalah umur teknis. Dalam hal ini, untuk proyek-proyek tertentu, umur teknis dari unsur-unsur pokok investasi adalah lama, tetapi umur ekonomisnya dapat jauh lebih pendek karena obsolescene (ketinggalan jaman karena penemuan teknologi baru yang lebih efisien).

d. Kriteria Kelayakan Investasi

Dalam mencari ukuran menyeluruh tentang baik tidaknya suatu proyek diperlukan pengukuran menggunakan beberapa kriteria. Kriteria ini tergantung dari kebutuhan akan keadaan masing-masing proyek. Setiap kriteria memiliki kebaikan serta kelemahan masing-masing, sehingga dalam penilaian kelayakan suatu proyek hendaknya digunakan beberapa metode sekaligus. Hal ini bertujuan untuk memberikan hasil yang lebih sempurna. Kriteria kelayakan investasi yang biasa digunakan antara lain :

1. Nilai Bersih Sekarang (Net Present Value)

Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang dari selisih antara

manfaat (benefit) dengan biaya (cost) pada tingkat suku bunga tertentu. NPV dari suatu proyek merupakan nilai bersih sekarang arus kas tahunan setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran awal.

Suatu proyek dikatakan layak atau bermanfaat untuk dilaksanakan jika NPV proyek tersebut lebih besar atau sama dengan nol (NPV > 0). Jika NPV sama dengan nol, berarti proyek tidak untung namun juga tidak rugi (manfaat hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan). Jika nilai NPV lebih kecil dar nol (NPV < 0), maka proyek tersebut tidak dapat menghasilkan senilai biaya yang digunakan, dengan kata lain proyek tersebut tidak layak untuk dijalankan. Oleh

34 karena itu, sumberdaya yang digunakan dalam proyek sebaiknya dialokasikan pada kegiatan atau proyek lain yang lebih menguntungkan.

2. Tingkat Pengembalian Investasi (Internal Rate of Return)

Internal Rate of Return (IRR) merupakan discount rate yang dapat membuat

arus penerimaan bersih sekarang dari suatu proyek (NPV) sama dengan nol. Tujuan perhitungan IRR adalah untuk mengetahui persentase keuntungan dari suatu proyek tiap tahunnya dan menunjukkan kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman.

Suatu proyek dikatakan layak jika nilai IRR yang diperoleh proyek tersebut lebih besar dari tingkat diskonto. Sedangkan jika nilai IRR yang diperoleh lebih kecil dari tingkat diskonto, maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. 3. Rasio Manfaat-Biaya Bersih (Net Benefit-Cost Ratio)

Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) merupakan angka perbandingan antara

jumlah net present value (NPV) yang positif dengan jumlah net present value (NPV) yang negatif. Perhitungan ini digunakan untuk melihat berapa kali lipat manfaat yang akan diperoleh dari biaya yang dikeluarkan.

Suatu proyek dinyatakan layak jika nilai Net B/C lebih besar atau sama dengan satu (Net B/C ≥ 1). Suatu proyek dikatakan tidak layak dilaksanakan apabila nilai nilai Net B/C lebih kecil dari satu (Net B/C < 1), karena manfaat yang akan diperoleh dari suatu proyek lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan proyek tersebut.

4. Pengembalian Investasi (Payback Period)

Payback Period (PBP) merupakan suatu periode yang diperlukan untuk

menutup kembali pengeluaran investasi yang didanai dengan aliran kas. Semakin cepat investasi modal dapat kembali, maka semakin baik suatu proyek diusahakan karena modal yang kembali dapat digunakan untuk membiayai kegiatan yang lainnya.

Apabila selama proyek dapat mengembalikan modal sebelum berakhirnya umur proyek, maka proyek tersebut masih dapat dilaksanakan. Akan tetapi, jika sampai saat proyek berakhir dan belum dapat mengembalikan modal yang digunakan, maka sebaiknya proyek tersebut tidak dilaksanakan.

35 3.1.3 Analisis Nilai Pengganti (Switching Value)

Untuk melaksanakan suatu proyek, semua biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh setiap tahun dihitung berdasarkan data yang ada. Sementara itu kondisi lingkungan yang selalu berubah akan mempengaruhi biaya serta manfaat yang akan diperoleh, sehingga terdapat kemungkinan terjadinya suatu kekeliruan atau ketidak tepatan biaya dan penerimaan akibat adanya perubahan-perubahan.

Analisis Switching Value (nilai pengganti) mencoba melihat kondisi kelayakan yang terjadi apabila dilakukan perubahan-perubahan dalam biaya dan manfaat. Switching Value dilakukan untuk melihat sampai sejauh mana perubahan yang terjadi dapat ditoleransi dan akhirnya membuat suatu usaha menjadi tidak layak dilaksanakan.

Pada analisis Switching Value dicari beberapa nilai pengganti pada komponen biaya dan manfaat yang dapat terjadi, yang masih memenuhi kriteria minimum kelayakan investasi atau masih mendapatkan keuntungan normal. Keuntungan normal terjadi apabila nilai NPV sama dengan nol, IRR sama dengan tingkat diskonto yang digunakan, dan nilai Net B/C sama dengan satu (ceteris

paribus).

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Peluang pengembangan usaha peternakan puyuh cukup prospektif. Besarnya permintaan masyarakat terhadap telur sebagai pemenuhan kebutuhan protein hewani menjadikan telur puyuh sebagai alternatif usaha peternakan yang perlu dikembangkan. Selain itu karena harga telur puyuh yang mampu bersaing dengan harga telur unggas lain, rasanya yang enak dan dapat dolah menjadi aneka masakan membuat telur puyuh digemari oleh masyarakat.

Namun, pengembangan usaha ini dihadapkan pada beberapa masalah yaitu masih sedikitnya peternak yang mengusahakan puyuh menyebabkan permintaan telur puyuh sendiri masih belum mampu terpenuhi. Hal utama yang menjadi alasan mendasar sulitnya mengembangkan usaha peternakan puyuh terutama untuk Peternakan Puyuh Bintang Tiga (PPBT), yaitu besarnya investasi yang harus dikeluarkan oleh peternak. Kendala lain yang dihadapi PPBT yaitu sulitnya pemerolehan DOQ yang bermutu. Pengiriman DOQ dari pemasok sering

36 mengalami penurunan bahkan terhenti sama sekali karena serangan penyakit. Ketidakpastian pasokan DOQ akan berimbas pada penurunan produksi telur dan mengurangi laba perusahaan. Untuk mengatasi ketidakpastian tersebut sebaiknya peternak tidak hanya memanfaatkan puyuhnya untuk menghasilkan telur namun juga harus membibitkan puyuhnya sendiri.

Usaha ini sangat berprospek mengingat DOQ hasil pembibitan tersebut dapat digunakan sendiri untuk dijadikan puyuh petelur maupun menjual DOQ kepada peternak puyuh lain. Untuk itu perlu dilakukan penilaian kelayakan usaha terhadap usaha puyuh petelur PPBT, usaha puyuh petelur digabung dengan usaha pembibitan sendiri, serta rencana usaha pengembangan puyuh petelur dengan pembibitan sendiri. Uji kelayakan tersebut digunakan untuk mengetahui kelayakan masing-masing usaha serta mengetahui usaha mana yang lebih mendatangkan keuntungan terbesar untuk PPBT. Kriteria kelayakan dapat dilihat dari aspek non finansial dan aspek finansial.

Aspek non finansial meliputi: 1) aspek pasar yang meliputi penawaran dan permintaan serta strategi pemasaran yang dilakukan; 2) aspek teknis meliputi lokasi usaha, skala usaha, lay out, pengadaan input serta proses produksi; 3) aspek manajemen yaitu struktur organisasi dan kebutuhan tenaga kerja; 4) aspek sosial meliputi dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan dari usaha; 5) aspek hukum meliputi bentuk badan usaha serta izin usaha.

Aspek finansial meliputi analisis finansial serta analisis kepekaan. Analisis finansial akan mengukur kelayakan investasi usaha puyuh PPBT berdasarkan beberapa kriteria, yaitu Net Present Value (NPV) yang merupakan selisih antara nilai sekarang dari manfaat dan biaya usaha puyuh PPBT pada tingkat suku bunga tertentu, Internal Rate of Return (IRR) sebagai persentase tingkat pengembalian investasi usaha puyuh PPBT yang diperoleh selama umur proyek, Net

Benefit/Cost (Net B/C) yang merupakan besarnya tingkat tambahan manfaat dari

setiap biaya sebesar satu rupiah, serta Payback Period yaitu lamanya periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas.

Analisis kepekaan (switching value) diperlukan untuk menghitung sampai sejauh mana pengaruh perubahan seperti perubahan jumlah produksi telur serta

37 harga pakan terhadap kelayakan finansial tersebut. Perubahan jumlah produksi telur sebagai akibat dari penurunan produktivitas puyuh, baik karena karakteristik puyuh yang mudah terserang penyakit maupun faktor lainnya, sedangkan perubahan harga pakan diakibatkan karena kenaikan harga input pakan, sehingga biaya pemerolehan input pakan semakin besar. Khusus pada rencana usaha pengembangan puyuh petelur dan pembibit PPBT, perlu dilakukan analisis

switching value terhadap kemungkinan kenaikan biaya total usaha. Bertambah

besarnya skala usaha PPBT, maka biaya yang diperlukan untuk pelaksanaannya juga lebih banyak. Kenaikan biaya keseluruhan usaha yang tidak terkendali, dengan pemasukan yang konstan akan mengakibatkan kerugian yang besar bagi perusahaan, sehingga perlu diketahui batas maksimal kenaikan biaya total pada pola usaha pengembangan PPBT agar usaha tersebut tetap menguntungkan. Kerangka pemikiran konseptual yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 1.

38 Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Operasional

Pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat masih rendah

Adanya permintaan yang cukup besar terhadap telur puyuh

Produksi telur puyuh untuk memenuhi permintaan di Bogor masih rendah

Investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha peternakan puyuh besar

Ketidakpastian dalam pemerolehan DOQ

Usaha Peternakan Puyuh Bintang Tiga

Pola Usaha I (Usaha puyuh untuk

petelur)

Pola Usaha II

(Usaha puyuh petelur dan pembibit)

Pola Usaha III (Pengembangan usaha puyuh

petelur dan pembibit)

Analisis Kelayakan Non Finansial Analisis Kelayakan Finansial

Analisis Finansial  NPV  IRR  PBP  Net B/C  Aspek pasar  Aspek teknis  Aspek manajemen

 Aspek sosial dan lingkungan  Aspek hukum

Analisis Switching Value  Penurunan produksi telur  Kenaikan harga pakan  Kenaikan Total Biaya

(pada Pola Usaha III)

Tidak layak

Reinvestasi usaha Realokasi sumberdaya Reevaluasi manajemen, pasar,

dan teknik budidaya Layak

Usaha dapat terus dilanjutkan dan dapat menjadi masukan untuk PPBT dalam pengembangan peternakan puyuhnya

39

Dokumen terkait