NOMOR 24 TAHUN 1997
C. Asal-usul dan Bentuk Harta Warisan Menurut Hukum Waris Adat Nias
Masyarakat Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal, patokan garis keturunan mengafiliasikan seseorang kepada satu kelompok keluarga yang berhubungan dengan melalui laki-laki30. Dalam penelitian pemisahan dan pembagian harta warisan ini lebih terfokus pada harta warisan atas tanah yang di miliki oleh masyarakat Nias yang memiliki hak individu. Sebagaimana tanah adat yang ada di masyarakat Nias yang mana pembagian warisan hanya di berikan kepada anak laki-laki saja.Adapun asal usul tanah adat yang ada di masyarakat Nias adalah sebagai berikut:
30
Bambowo La’ ia, Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa Di Nias
“Masyarakat adat Nias mengenal istilah”tano moama”, tanah ini di beri nama menurut pemilik asalnya , jadi apabila pemilik asal bernama “Kamoro” maka tanah miliknya dinamai “tano moama kamoro”.Dalam hal ini terdapat
persamaan dengan tanah ulayat di Minangkabau yang juga dinamai menurut nama pemilik”Tambilang Basi”nya. Apabila nama pemilik asal tanah ulayat bernama “Silenggang Bumi” maka tanah ulayat yang diwariskan pun akan disebut tanah “Ulayat Datuk Silenggang Bumi”.Ahli waris penggantinya pun
akan di beri gelar adat sebagai pemilik tanah ulayat dengan nama “Datuk Silenggang Bumi”, sehingga pewaris baru yang bernama diri ahmad misalnya, akan di panggil “Ahmad gelar Datuk Silenggang Bumi”.Gelar adat pemilik tanah ulayat itu selamanya harus tetap disandingkan pada nama diri setiap pewaris penggantinya.Jadi pemilik tanah ulayat bersifat abadi.
Adapun tanah “Tano Moama” itu dikuasai dan diatur oleh persatuan dua persekutuan keluarga dalam masyarakat hukum desa. Persekutuan dua
keluarga itu terdiri atas klan teritorial yang disebut Mado (marga) dan Klan geneologis yang disebut gana,sedangkan persekutuan masyarakat hukum adatnya yaitu desa disebut banua(desa). Kedua persekutuan keluarga itu
maupun desa masing-masing memiliki tanah, klan territorial menguasai dan memiliki tanah sebagai pendiri desa sedangkan klan geneologis memilikinya berdasarkan pembagian warisan dari kepala rumah tangga
kepada anak-anaknya. Disamping itu, ada pula tanah yang dimiliki oleh persekutuan hukum desa yang di sebut dengan “tano banua” seluruh aturan adat yang mengatur dan memelihara hubungan hukum tanah”tano moama” itu diatur oleh hukum adat Nias yang di sebut “huku hada” atau
sering juga disebut “hukum masyarakat desa” maka dikatakan “huku banua”. Keunikan yang mebedakan anatara “tanah ulayat” dengan “tano moama”adalah bahwa “tano moama” dapat di jual lepas kepada orang luar dan orang asing. Selain itu, setelah “tano moama” di bagi wariskan maka otomatis tanah menjadi tanah milik perorangan dengan hak individual. Tanah itu
kemudian akan menjadi tanah keluarga lagi, setelah rumah tangga memiliki anak keturunan sehingga tanah kembali menjadi harta bersama (harato savhono) warisan keluarga.
Jadi sifat komunalistik “tano moama” adalah pada ikatan-ikatan batin keluarga dalam persekutuan klan. Sebab setelah tanah itu di bagi wariskan kepada anak keturunan maka tanah itu berubah menjadi tanah individual dengan hak individual dari kepala keluarga, untuk kemudian menjadi tanah komunal lagi setelah kepala keluarga mempunyai keturunan. Maka dapat di katakan bahwa sifat tanah komunal di Nias adalah “komunal yang beralih-alih”. Sedangkan “tano banua” di peruntukkan untuk di gunakan semua warga sehingga di
nyatakan menjadi tanah “milik umum” (khozato) atau menjadi “publik domain”.31
Dalam hukum waris adat menurut Soerjono Soekanto mengenal adanya tiga sistem kewarisan, yaitu:
1. Sistem kewarisan individual yang merupakan sistem kewarisan dimana ahli waris mewarisi secara perorangan, (Batak, Jawa, Sulawesi dan lain-lain)
2. Sistem kewarisan kolektif, dimana para ahli waris secara kolektif (Bersama-sama) mewarisi harta peninggalanyang tidak dapat di bagi-bagi pemilikannya kepada masing-masing ahli waris (minangkabau).
3. Sistem kewarisan mayorat:
a. mayorat laki-laki, yaitu apabila anak laki-laki sulung (keturunan laki-laki) merupakan ahli waris tunggal, seperti lampung.
b. mayorat perempuan, yaitu apabila anak perempuan tertua pada saat mewaris meninggal, adalah ahli waris tunggal, misalnya, pada masyarakat di tanah semendo.32
Untuk memudahkan memahami tentang sistem pembagian dan pemisahan warisan atas harta peninggalan dari si pewaris yang berlaku pada kalangan masyarakat Nias itu alangkah baiknya perlu kita ketahui asal usul dari harta warisan tersebut, adapun asal usul harta warisan tersebut dapat kita rinci sebagai berikut:
1. Harta bawaan suami-istri
Dilihat dari peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat diketahui bahwa harta bawaan meliputi semua harta benda yang dibawa oleh suami istri ke dalam perkawinan, termasuk harta benda yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan dan juga harta benda yang diperoleh dari hasil pencaharian atau jerih payah sendiri, baik sebelum perkawinan maupun selama dalam perkawinan,
31
Herman Soesangobeng, Menuju Penguatan Jaminan Kepastian Hukum Atas Pemilikan,
Penguasaan, Dan Penggunaan Tanah, (Makalah Workshop KKPN-BAPPENAS-6/11/2006), Hlm
23-24.
32
Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1983, Hlm. 260
sebagaimana disebutkan pada Pasal 35 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.
Harta bawaan dalam hukum waris adat Nias adalah harta benda yang diperoleh suami karena warisan dari orang tuanya sebelum atau selama perkawinan disebut dengan okhota moroi kho zatua (harta yang berasal dari orangtua) atau harato zatua (harta orangtua). Sedangkan harta bawaan istri yang diperoleh dari orangtuanya sebelum atau selama perkawinan disebut dengan masi-masi zatua (pemberian orangtua) atau masi-masi zatua kho nononia artinya pemberian orangtua kepada anak perempuannya sebagai tanda kasih sayang bukan warisan. “Harta bawaan masing-masing suami istri ke dalam perkawinan yang diperoleh dari hasil pencaharian atau jerih payahnya sendiri baik sebelum maupun selama dalam perkawinan disebut dengan lua-lua halowonia (hasil usahanya) atau sinondrania ba wohalowonia (pendapatannya dari hasil kerjanya), menjadi harta bersama dalam perkawinan dan menjadi harta warisan bagi anak-anak mereka”.33
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menurut hukum waris adat Nias, harta bawaan yang berasal dari warisan atau pemberian yang diperoleh sebelum atau sesudah perkawinan dan hasil usaha sendiri yang diperoleh dalam perkawinan merupakan harta bersama.
2. Harta bersama dalam perkawinan
Harta bersama atau harta kekayaan suami istri dalam perkawinan menurut hukum adat pada masyarakat Nias yaitu harta benda yang diperoleh selama
33
Wawancara dengan Saroli Giawa, Tokoh Masyarakat Nias, Kabupaten Nias, Gunungsitoli, Tanggal 18 Maret 2008.
perkawinan. Asal dari mana harta ini diperoleh tidak dipersoalkan, artinya harta bersama tersebut merupakan hak milik yang diperoleh melalui usaha yang dilakukan suami istri secara bersama-sama.
“Mengenai harta bersama dari perkawinan menjelaskan bahwa harta yang di peroleh selama perkawinan antara suami istri yang masih hidup adalah menjadi harta bersama, Oleh sebab itu maka masing-masing antara suami dan istri dapat melakukan perbuatan hukum atas harta yang dimiliki mereka itu dengan syarat adanya persetujuan diantara mereka berdua baik itu persetujuan secara autentik maupun persetujuan lisan ataupun di bawah tangan”. 34
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa asal-usul harta warisan di dalam hukum waris adat Nias adalah seluruh harta kekayaan yang diperoleh suami dan istri baik sebelum perkawinan maupun setelah perkawinan dan baik harta yang diperoleh karena warisan maupun karena hasil usaha sendiri yang kemudian dibawa ke dalam perkawinan. Di dalam hukum waris adat Nias tidak ada istilah pemisahan harta benda antara suami istri karena dalam melangsungkan perkawinan tidak pernah dibuat perjanjian kawin.
“Pada masyarakat Nias, harta suami atau istri yang ada sebelum perkawinan tanpa mempersoalkan dari mana asal usul dan bagaimana cara memperoleh harta tersebut, sejak berlangsungnya perkawinan antara suami dan istri secara otomatis segala harta benda yang di peroleh oleh masing-masing
34
Wawancara Masadikari Zega, Tokoh masyarakat dan mantan anggota DPRD Kabupaten Nias. Gunungsitoli, Tanggal 17 Maret 2008
suami dan isteri menjadi harta bersama dan penggunaannya harus berdasarkan kesepakatan bersama”.35
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa yang menjadi harta warisan dalam hukum adat Nias adalah seluruh harta benda yang dibawa oleh para pihak kedalam perkawinan di tambah dengan harta benda dalam perkawinan tanpa mempersoalkan darimana dan bagaimana serta kapan di perolehnya harta benda tersebut.
Di dalam hukum waris adat Nias jika dilihat dari bentuknya dapat dikatakan bahwa bentuk harta warisan pada masyarakat Nias ada yang berwujud dan ada yang tidak berwujud. Harta warisan yang berwujud seperti harta dalam bentuk benda bergerak dan harta tidak bergerak, sedangkan harta yang tidak berwujud seperti kedudukan dalam hukum adat atau status sosial orang tuanya.
Sehubungan dengan itu A. A. Laia mengatakan bahwa harta warisan yang dikenal menurut hukum adat pada masyarakat Nias adalah:
1. Rumah; 2. Pertapakan;
3. Alat-alat rumah tangga; 4. Emas;
5. Kebun;
6. Tanah kosong, artinya tanah yang tidak ada tanaman; 7. Kedudukan dalam hukum adat;
8. Hutang piutang.36
35
Wawancara Baziduhu Zandroto,Tokoh Adat Masyarakat Nias,Gunungsitoli Kabupaten Nias,Tanggal 23 Maret 2008.
36
A. A. La’ia, Sejarah Hukum Nias dan Adat Istiadat, Untuk kalangan sendiri, Gunungsitoli, 1973, hal.22