Pada 2014, aset Perseroan tercatat sebesar Rp5.466.874 juta, meningkat 21,1% dibandingkan 2013 yaitu sebesar Rp4.512.656 juta. Nilai aset terdiri dari 14,4% aset lancar dan 85,6% aset tidak lancar. Peningkatan ini didukung sebagian besar berasal dari kenaikan pada aset tidak lancar yang mencapai Rp4.682.359 juta pada akhir tahun 2014 atau 24% lebih tinggi dari tahun 2013.
Aset Lancar / Current Assets
dalam jutaan rupiah / in million Rupiah
Aset Tidak Lancar / Non-Current Assets
dalam jutaan rupiah / in million Rupiah
2013
2013
2014
2014
22% 8% 4% 7% 4% 25% 26% 38% 10% 11% 31% Total: 728.336 Total: 3.784.320 Total: 784.515 Total: 4.682.360 51% 53% 37% 37% 36%Kas dan Bank /
Cash on hand and in banks
Uang Muka Plasma /
Advances for Plasma Plantations
Piutang Usaha / Receivables Tanaman / Plantation Assets Persediaan / Inventories Aset Tetap / Fixed Assets
Aset Lancar Lainnya /
Other Current Assets
Aset Tidak Lancar Lainnya /
Other Non-Current Assets
aset lancar
Pada 2014, total aset lancar Perseroan tercatat sebesar Rp784.515 juta meningkat 7,7% dibandingkan 2013 yaitu sebesar Rp728.336 juta. Peningkatan aset lancar terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah kas dan bank sebesar Rp194.635 juta pada 2014 atau lebih tinggi 20% dari tahun 2013.
kas dan bank – Pihak ketiga
Pada akhir tahun 2014, total kas dan bank Perseroan tercatat sebesar Rp194.635 juta, meningkat 19,6% dibandingkan 2013 yaitu sebesar Rp162.759 juta. Peningkatan kas dan bank terutama disebabkan
conSolidaTed STaTemenT of financial PoSiTion assets
In 2014, Company’s assets reached Rp5,466,874 million, increased by 21.1% compared to 2013 figure of Rp4,512,656 million. Assets of the Company consisted of 14.4% of current assets and 85.6% of non-current assets. The increase was mainly attributable to rising non-current assets that reached Rp4,682,359 million at the close of 2014, or 24% higher than 2013.
current assets
In 2014, total current assets of the Company amounted to Rp784,515 million, increased by 7.7% compared to Rp728,336 million in 2013. Current assets mainly rose due to more cash on hand and in banks that amounted to Rp194,635 million in 2014, or 20% higher than 2013.
cash on hand and in banks – Third Parties
The Company’s cash on hand and in banks as of the end of 2014 was recorded at Rp194,635 million, or an increase of 19.6% from
Piutang usaha
Piutang usaha terdiri dari total tagihan kepada pelanggan terhadap penjualan CPO dan Inti Sawit. Pada 2014, total piutang usaha Perseroan tercatat sebesar Rp207.537 juta, menurun 6,8% dibandingkan 2013 yaitu sebesar Rp222.705 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh harga jual dan volume penjualan yang lebih rendah menjelang akhir tahun 2014.
Persediaan
Nilai persediaan terdiri dari barang jadi seperti produk kelapa sawit (CPO dan inti sawit), kecambah, produk karet, dan sagu serta bahan pendukung lainnya yang digunakan sebagai bahan baku produksi. Pada 2014, total persediaan Perseroan meningkat 9,5% menjadi Rp297.600 juta dari sebesar Rp271.784 juta di 2013. Peningkatan persediaan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya bahan suku cadang dan perawatan.
aset Tidak lancar
Sebagian besar aset tidak lancar Perseroan terdiri dari tanaman perkebunan dan aset tetap. Pada 2014, total aset tidak lancar Perseron tercatat sebesar Rp4.682.359 juta, meningkat 23,7% dari Rp3.784.319 juta yang tercatat pada tahun 2013. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh aktivitas ekspansi dalam bentuk tanaman perkebunan senilai Rp1.706.165 juta pada 2014 atau 29% lebih tinggi dari tahun lalu.
uang muka Perkebunan Plasma
Uang muka perkebunan plasma merupakan biaya yang dialokasikan untuk pengembangan perkebunan plasma yang sementara masih didanai oleh Grup. Sumber pembiayaan ini berasal dari bank dalam bentuk pinjaman lunak yang ditandatangani petani plasma, berkoordinasi dengan Koperasi Unit Desa (KUD) tertentu dengan masing-masing bank di mana Grup bertindak sebagai avalist atas pengembalian pinjaman.
Pada akhir 2014, uang muka untuk perkebunan plasma mengalami peningkatan sebesar 27,3%, dari Rp149.126 juta pada 2013 menjadi Rp189.822 juta di 2014.
Tanaman Perkebunan
Komponen aset perkebunan memberikan kontribusi terbesar pada jumlah aset tidak lancar. Pada 2014, aset perkebunan mencatat peningkatan sebesar 28,7%, dari Rp1.925.598 juta pada 2013 menjadi Rp2.478.274 juta pada 2014. Tanaman perkebunan terdiri dari Tanaman Menghasilkan (TM) dan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan juga Hutan Tanaman Industri (HTI).
receivables
Company’s receivables comprised receivables from customers for sales of Crude Palm Oil (CPO) and Palm Kernel and plasma receivables. In 2014, total receivables of the Company was recorded at Rp207,537 million, decreased by 6.8% compared to the prior year of Rp222,705 million. This decrease was mainly due to lower selling price and sales volume towards end of 2014.
inventories
The Company’s inventories consisted of finished goods such as palm products (CPO and Palm Kernels), germinated seeds, rubber and sago products, as well as other material that supported production process. In 2014, total inventories of the Company grew by 9.5% to Rp297,600 million from Rp271,784 million in 2013. The increase was mainly the result of rising materials, spare part, and maintanance supllies.
non-current assets
Most of the non-current assets of the Company consisted of plantation assets and fixed assets. In 2014, total non-current assets of the Company was recorded at Rp4,682,359 million, showing an increase of 23.7% from Rp3,784,319 million recorded in 2013. The increase was primarily attributable to own expansion activities in the form of plantation assets that amounted to Rp1,706,165 million in 2014, or 29% higher than the previous year.
advances for Plasma Plantations
Advances for plasma plantations represent cost allocated for the development of plasma plantations which is temporarily funded by the Group. The sources of fund come from banks in the form of soft loans signed by plasma farmers in coordination with certain Koperasi Unit Desa (KUD). The loans are also signed by the respective bank with the Group acted as guarantor or avalist of the loan repayments.
As per end of 2014, advances for plasma plantations increased by 27.3% from Rp149,126 million in 2013 to Rp189,822 million in 2014.
Plantation assets
Plantation assets posting made up the largest portion of total non- current assets of the Company. In 2014, plantation assets recorded an increase of 28.7%, from Rp1,925,598 million in 2013 to Rp2,478,274 million in 2014. Plantation assets comprised of Matured Plantation, Immature Plantation, and Industrial Plantation Assets.
• Tanaman menghasilkan (Tm)
TM adalah tanaman perkebunan kelapa sawit yang mampu menghasilkan TBS. TM adalah reklasifikasi biaya yang sebelumnya tercatat pada TBM. Dalam hal ini, waktu menghasilkan bergantung pada tingkat pertumbuhan tanaman dan penilaian manajemen.
Pada 2014, area TM terhitung seluas 76.810 ha yang terletak di Sumatra dan 24.776 ha yang terletak di Kalimantan. Masing- masing area mengalami peningkatan masing-masing sebesar 4,8% dan 15,5% bila dibandingkan pada 2013, karena reklasifikasi dari tanaman belum menghasilkan.
• Tanaman belum menghasilkan (Tbm)
TBM merupakan tanaman perkebunan kelapa sawit yang ditanam namun belum mampu menghasilkan TBS. Biaya yang diakui dan dicatat pada TBM terdiri dari biaya pembukaan lahan, penanaman, pemupukan dan kegiatan pemeliharaan lain serta biaya tidak langsung lainnya, termasuk kapitalisasi biaya pinjaman yang terjadi sehubungan dengan pendanaan pengembangan TBM sampai dengan saat tanaman yang bersangkutan dinyatakan menghasilkan dan dapat di panen. Pada akhir 2014, area TBM di Sumatra tercatat seluas 10.591 ha dan area Kalimantan seluas 15.609 ha. Area TBM di Sumatera menurun sebesar 12,9% karena adanya reklasifikasi ke TM, sedangkan area TBM di Kalimantan meningkat sebesar 17,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh tingkat penanaman baru yang tinggi di daerah tersebut.
• hutan Tanaman industri
Hutan tanaman industri terdiri dari tanaman sagu dan karet serta diklasifikasikan sebagai hutan tanaman industri siap panen dan hutan tanaman industri dalam pengembangan.
- hutan tanaman industri siap panen
Hutan tanaman industri siap panen merupakan perkebunan sagu yang sudah menghasilkan. Biaya yang diakui merupakan reklasifikasi biaya pembangunan perkebunan sagu yang sebelumnya dicatat sebagai hutan tanaman industri dalam pengembangan.
Pada akhir 2014, hutan tanaman industri siap panen mengalami penurunan sebesar 19,8% dari saldo 2013. Penurunan ini disebabkan oleh reklasifikasi hutan tanaman industri dalam pengembangan.
• Matured Plantations
Matured Plantations represent oil palm plantation assets that are capable of bearing FFB. Matured Plantations are valued from the reclassification of cost previously recorded as Immature Assets. The time to maturity depends on the rate of vegetative growth and management evaluation.
In 2014, Matured Plantations covered an area of 76,810 ha located in Sumatra and 24,776 ha located in Kalimantan. Both areas expanded by 4.8% and 15.5% respectively relative to the condition in 2013 due to reclassification from immature plantations.
• Immature Plantations
Immature Plantations represent oil palm plantations assets that are not yet capable of bearing FFB. Costs that are recognized and recorded under Immature Plantations consist of the cost arising from land clearing, planting, fertilizing, and other maintenance activities, including capitalizated interest expenses incurred from borrowings related to immature plantations development until it is being declared as matured plantation and can be harvested.
As per end of 2014, Immature Plantations covered an area of 10,591 ha in Sumatra and 15,609 ha in Kalimantan. Immature Plantation area in Sumatra declined by 12.9% after being reclassified as Matured Plantations, while Kalimantan expanded 17.2% compared with the previous year as a result of high rate of new plantings within the region.
• Industrial Plantation Assets
Industrial Plantation Assets mainly comprise of sago and rubber crops and are classified into matured industrial timber and non-timber plantations, and industrial timber and non-timber plantations under development stage.
- matured industrial timber and non-timber plantations Matured industrial timber and non-timber plantations
represent matured sago plantation. The costs recognized are reclassified into the cost of developing sago plantations previously recorded as industrial timber and non-timber plantations under the development stage.
As per end of 2014, matured industrial timber and non- timber balance decreased by 19.8% from 2013 figure. The decrease was due to reclassification into industrial timber and non-timber plantations under development stage.
- hutan tanaman industri dalam pengembangan
Biaya dan beban yang terjadi untuk kegiatan pengembangan hutan tanaman industri (HTI), yang meliputi biaya perencanaan, penanaman, pemeliharaan, pembinaan, dan pengamanan HTI untuk setiap areal penanaman (lokasi) sampai dengan adanya pohon siap panen dikapitalisasi dan disajikan sebagai "Hutan Tanaman Industri dalam Pengambangan".
Pada akhir Desember 2014, hutan tanaman industri dalam pengembangan meningkat secara signifikan sebesar 71,5% dibandingkan dengan 2013. Peningkatan ini disebabkan oleh biaya pengembangan untuk penanaman karet dan sagu yang dilakukan selama 2014.
aset Tetap
Aset tetap meningkat sebesar 21,8% menjadi Rp1.706.165 juta pada akhir 2014. Peningkatan ini disebabkan oleh penambahan mesin dan peralatan baru untuk pabrik kelapa sawit di wilayah Kalimantan, serta alat penangkap gas metana di wilayah Sumatera.