BAB II. ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI
A. Askese dalam Vita consecrata
Paus Yohanes Paulus II dalam Vita Consecrata - Seruan apostolik tentang
pembaharuan hidup religius menghimbau agar kaum hidup bakti menggali
praktek-praktek askese yang khas bagi tradisi rohani Gereja dan bagi tarekat sendiri (art. 38 ).
Praktek-praktek askese ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya
disesuaikan keputusan bersama dalam tarekat masing-masing atau pun dalam
kebersamaan dengan umat dalam Gereja. Praktek askese yang terjadi misalnya saja
dalam masa prapaskah kita diajak untuk lebih meningkatkan pantang puasa serta amal
kita, dengan tujuan agar dapat membantu kita menuju kepada kehidupan yang lebih
baik. Di dalam menjalankan praktek askese ini diperlukan sebuah sikap batin yang
senantiasa sadar akan pentingnya pembaharuan hidup. Pembaharuan hidup terjadi
didalam pertobatan yang berlangsung terus-menerus. Sebagai kaum hidup bakti kita
dipanggil untuk senantiasa memperbaharui hidup dengan jalan pertobatan dan kita pun
diundang untuk senantiasa mempertahankan praktek askese. Askese bagi kaum hidup
bakti tetap menjadi sebuah keutamaan yang perlu dipertahankan, mengingat bahwa
yang mudah dikuasi oleh nafsu duniawi. Untuk zaman sekarang ini, perlulah dibangun
sikap untuk dapat mempertahankan askese sebagai sebuah keutamaan yang penting di
dalam mengembangkan kehidupan rohani kaum hidup bakti.
Dalam Vita Consecrata- seruan apostolik tentang pembaharuan hidup religius
(1996: art,35-38) dikatakan bahwa panggilan mereka yang ditakdiskan untuk
pertama-tama :
a. Hidup yang mengalami trasfigurasi : Mencari kerajaan Allah terutama melalui
seruan untuk bertobat sepenuhnya dan mengingkari diri, supaya dapat hidup
seutuhnya demi Tuhan sehingga Allah menjadi semuanya dalam segalanya
( art.35). Kaum hidup bakti dipanggil untuk senantiasa memandang wajah
Kristus yang mengalami Trasfigurasi, hal ini menunjuk bahwa sebagai kaum
yang membakti yang membaktikan hidup demi kerajaan Allah dipanggil untuk
selalu bertobat memperbaharui diri secara terus menerus setiap hari. Selain itu
berani untuk mengingkari diri dari segala macam kelekatan yang tidak teratur
entah itu barang maupun hal lainnya yang dapat merintangi dirinya untuk
membangun keintiman dengan Allah sebagai asal dan tujuan hidupnya. Melalui
pertobatan dan pengingkaran diri terhadap hal-hal duniawi dapat membuahkan
perubahan sikap hidup dan tingkah laku dan pola pikir yang mencerminkan diri
sebagai murid Kristus yang sejati.
b. Kesetiaan terhadap karisma : Dengan setapak demi setapak berusaha menyerupai
panca-indra dan dari segala sesautu yang menjauhkan manusia dari kebebasan
yang memungkinkannya ditangkap oleh Roh (art.36). Dengan membaktikan diri
untuk mengikuti Kristus secara khusus, kaum hidup bakti diminta untuk memiliki
hati yang tidak terbagi terhadap harta kekayaan, pangkat, kekuasaan, kehormatan
maupun kedudukan serta menghindari diri dari semua hal yang tidak mendidik
baik dari bacaan-bacaan, penggunaan televisei, internet atau VCD yang tidak
membantu dalam menopang kehidupan rohani mereka. Melainkan mereka
diminta untuk membiarkan Roh Allah menguasai semua keinginan mereka dan
menghantar mereka untuk mencapai kekudusan hidup.
c. Kesetiaan yang kreativ : Pedoman hidup dan konstitusi menyajikan peta bagi
seluruh perjalanan murid Kristus. Penghargaan lebih besar terhadap pedoman
hidup pasti akan memberi tolak ukur yang andal dalam usaha menemukan
bentuk kesaksian yang cocok dalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman
serta tabah didalam menempuh jalan kekudusan (art.37). Ini menunjuk kepada
ajakan untuk tetap berada didalam kesetiaan untuk mengejar kekudusan ditengah
dunia yang diwarnai oleh berbagai macam tawaran yang begitu mempersona.
Untuk itu kaum hidup bakti diminta untuk senantiasa kembali ke peraturan hidup
masing-masing tarekat sebagai pedoman yang dapat membantu para anggotanya
mampu setia terhadap panggilan mereka sebagai murid Kristus.
d. Doa dan askese : Askese sungguh perlu sekali bila para anggota hidup bakti ingin
jalan salib melalui doa, Ekaristi, latihan rohani dan keheningan (art.38). Ini
menunjuk kepada kesetiaan terhadap komitmen untuk mengikuti Kristus secara
radikal membutuhkan askese sebagai sarana menuju kepada kekudusan hidup.
Untuk sampai kepada kekudusan hidup dibutuhkan sebuah latihan untuk peka
mendengarkan Allah yang senantiasa hadir dan menyapa manusia. Bentuk dari
askese dapat ditemukan lewat doa, keheningan batin, rekoleksi, retret dan
Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak yang memberi kekuatan bagi kita
serta melatih kepekaan indra untuk menyelami kehendak Allah yang berbicara
dalam hati manusia.
Menghadapi tantangan zaman sekarang ini, askese menjadi bagian yang sangat
penting dan menjadi keutamaan yang relevan, apalagi untuk menghadapi sekularisme
yang telah menguasai manusia di mana manusia lebih mementingkan kesenangan
duniawi. Visi yang menjadi askese untuk zaman sekarang dapatlah kita jumpai dalam
diri orang modern saat ini . Askese orang Kristen modern saat ini tidak bedanya dengan
orang-orang Kristen segala zaman yakni peka, mendengarkan dan mau memperhatikan
Roh Tuhan (Darminta, 2007 : 46). Allah senantiasa berbicara dalam setiap hati
manusia.Yang diharapkan dari setiap manusia adalah kepekaan untuk membuka hati
dan mendengarkan bisikan Allah yang berbicara didalam kehidupan sehari-hari yang
ditandai dengan perkembangan zaman, yang mana menuntut setiap manusia untuk
Tak dapat dibendung juga bahwa godaan untuk memiliki barang-barang duniawi
melanda kehidupan kaum religius. Berbagai alasan dikemukakan untuk dapat memiliki
barang-barang tersebut misalnya saja godaan untuk memiliki hand phone, laptop dan
alat-alat teknologi lainnya. Selain itu tawaran untuk hidup dalam kenikmatan akan makanan
tanpa memikirkan mereka yang kelaparan.
Gaya hidup enak misalnya dalam hal makanan membuat orang sering kali memilih
membuang-buang waktu dengan duduk berlama-lama untuk makan sekedar memuaskan
keinginan untuk mencicipi cita rasa makanan yang enak dari pada duduk dan
merenungkan sabada Tuhan. Makan bukan karena merasa lapar melainkan asal kenyang
dan enak semuanya menjadi beres. Harus diakui bahwa orang yang kenyang dan
berlebihan dalam makanan mudah sekali terlena tidak menyadari lagi bahwa dirinya
memiliki kelaparan akan Allah, yakni makanan dari Tuhan (Darminta, 2006: 35).
Bertolak segar dalam Kristus merupakan dokumen ajaran Gereja yang memiliki
seruan sekaligus ajakan secara khusus bagi kaum hidup bakti untuk senantiasa
menghidupi askese. Bentuk askese dari kaum hidup bakti ini disesuaikan dengan zaman
dan caranya masing-masing. Sejarah hidup bakti telah mengungkapkan lukisan pada
Kristus dalam banyak bentuk askese yang telah dan tetap masih merupakan dukungan
kuat bagi kemajuan otentik dalam kekudusan. Askese sungguh perlu sekali bila kaum
hidup bakti ingin tetap setia terhadap panggilan mereka sendiri dan mengikuti Yesus pada
( BSDK.art 27). Mereka yang terpanggil untuk hidup bakti hendaknya berusaha untuk
menghidupi askese sebab, askese membantu para kaum hidup bakti membangun persatuan
dengan Allah dan membantu mereka mencapai kekudusan hidup. Bentuk dari askese ini
disesuaikan dengan zaman. Dengan menghidupi askese kaum hidup bakti ditantang juga
untuk sungguh-sungguh menyerahkan diri dan memilih hidup dalam bimbingan Tuhan
tanpa ada unsur keterpaksaan melainkan atas kehendak yang bebas. Dengan penyerahan
diri dan kehendak yang bebas didalam mengikuti Kristus kaum hidup bakti juga dipanggil
untuk berani ikut terlibat didalam jalan salib Kritus, dengan berani menanggalkan segala
keinginan duniawi. Salib menjadi jalan keselamatan dan kesempurnaan. Melalui jalan
salib Yesus membuat kita memahami bahwa solidaritas-Nya dengan umat manusia
demikian radikal hingga menembus, berbagai tembok dan masuk dalam tiap aspek negatif
sampai kematian, buah dari dosa (BSDK.art.27).
Paus Yohanes Paulus II dalam Vita Consecrate seruan apostolik tentang
pembaharuan hidup religius menghimbau “agar Perlu juga mengenali dan mengatasi godaan-godaan tertentu yang ada kalanya menyembunyikan diri dibalik tipu muslihat
setan, menyajikan diri dibalik samarak kebaikan”( art.38). Maka perlu diperangi: sikap putus asa, kecenderungan-kecenderungan kodrat manusiawi yakni nafsu untuk menguasi
berbagai harta atau benda. Kaum hidup bakti hendaknya senantiasa sadar bahwa harta
duniawi ini sifatnya hanya sementara maka mereka diarahkan untuk senantiasa
mengumpulkan harta surgawi yakni kebajikan-kebajikan ilahi yang dapat membantu
perasaan-perasaan dan kegembiraan hidupmu serta hanya mencari Allah dengan sikap
lepas bebas maka kamu akan menemukan kedamaian hati (Arnold, 2003:86). Dalam
kotbah di bukit, Yesus berkata : "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir
akan hidupmu (Mat 6:25).” Ia menghendaki kita untuk bersyukur dan hidup dengan bahagia, bebas dari rasa takut dan kekhawatiran yang berlebihan akan kenikmatan dan
kenyamanan yang membuat kita terkadang menilai hidup ini hanya kini dan di sini.
Kenikmatan itu bisa bermacam-macam bentuknya, gaya hidup, status sosial, kekayaan,
dan lain sebagainya. Hal-hal ini akhirnya membawa pada tertutupnya mata hati sehingga
tidak lagi mampu melihat pada hal-hal yang jauh ke depan. Lebih dari itu Yesus
mengajak kita untuk bersadar diri bahwa Tuhan adalah Tuhan yang turun tangan, yang
terlibat dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.