BAB II. ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI
B. Askese Sebagai Jalan
1. KEMURIDAN
a. Pengertian kemuridan secara umum
Murid berarti orang-orang yang dipanggil-Nya untuk menyertai Yesus dalam
kegiatannya mewartakan kerajaan Allah kepada segala bangsa.Yesus memanggil
mereka dengan cara yang berbeda. Ada yang dipanggil pada saat bekerja dan ada
pula bergabung menjadi murid-Nya karena diperkenalkan oleh orang lain. Namun
semua yang dipanggil demi sebuah tugas yang mulia. Seperti yang terjadi dengan
panggilan Simon yang dikisahkan dalam Luk 5:1-11( Darmawijaya, 2003: 11).
Simon menanggapi panggilan Yesus dengan segera. Ia meninggalkan pekerjaan
karena tertarik pada sabda Yesus yang mampu menjadikan segala sesuatu yang tidak
ada menjadi ada. Simon juga tertarik pada pribadi Yesus yang dengan sabda-Nya
membuat jala mereka penuh dengan ikan. Mereka mengikuti Yesus terkesan oleh
Menjadi murid juga berarti menjadi bagian dari hidup Yesus (Kriswanta, 2009:49).
Menjadi bagian dari hidup Yesus berarti tinggal bersama dengan-Nya, menyertai Dia
kemana pun pergi dan melaksanakan apa yang diajarkan-Nya. Yesus memanggil para
murid-Nya untuk tinggal bersama-Nya, bersatu dengan-Nya dan kemudian
diutus-Nya mewartakan kerajaan Allah.
Kemuridtan juga diartikan sebagai persembahan utuh (Arnold, 2003: 39).
Persembahan utuh yang dimaksud adalah seluruh yang dimiliki hati, pikiran, akal
budi, kehendak, perasaan, tenaga dan seluruh hidup baik waktu maupun tenaga yang kita
miliki. Persembahan semacam ini timbul dari pengalaman kesatuan dengan Yesus Kristus
sebagai satu-satunya pusat hidup kita.Keputusan untuk mempersembahkan seluruh yang
dimiliki hendaknya menjadi sebuah keputusan dari kedalaman hati yang bebas yang
menyadari bahwa Allah senantiasa tinggal dalam hati manusia. Ia mencari orang-orang
yang mau mempersembahkan diirinya kepada Allah seutuhnya dan menggantungkan
hidup-Nya hanya kepada Allah. Yang paling penting bahwa untuk menjadi murid Yesus
orang perlu untuk menyangkal diri, memikul salib dan kemudian mengikuti Yesus
(Kriswanta, 2009: 49).
b . Syarat kemuridtan
Ada tiga komponen yang digariskan sebagai syarat kemuridtan (pengikut)
1. Menyangkal diri
Menyangkal diri berarti tidak mengikuti kecenderungan naluriah untuk
menyelamatkan diri sendiri dengan segala macam cara (Kriswanta, 2009: 59). Hal ini
berarti tidak mengandalkan diri dalam segala hal. Mengakui bahwa kita tidak
memiliki hak atas hidup kita, mengakui bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber
keselamatan, pertolongan dan pemeliharaan. Bukan gagah perkasa kita tetapi oleh karena
Tuhan yang membuat kita kuat. Penyangkalan diri ini juga berarti menyediakan diri untuk
mengikuti Yesus. Ini bukan suatu hal yang negatif melainkan sebuah tindakan yang postif
yang membantu para murid Kristus untuk menjadi murid yang sejati. Menjadi murid yang
sejati membutuhkan pengorbanan.
Menyangkal diri juga berarti sebuah sikap jiwa yang sama sekali tidak hidup bagi
diri sendiri (Liagre,1993: 42). Sikap hidup yang dituntut dalam penyangkalan diri ini
adalah sikap hidup yang menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup dengan belajar untuk
mengosongkan diri dan membiarkan Allah untuk berkarya. Dalam suratnya kepada umat
di Filipi Paulus menegaskan bahwa “yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap
kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah
mengosongkan diri-Nya mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan
manusia (Flp 2: 6-7). Kutipan tersebut memberikan gambaran akan pengosongan diri
Yesus yang tidak lain merupakan wujud sikap menanggalkan hidup (Purnomo, 2001: 34).
Menanggalkan hidup ini yakni seperti yang dihimbau oleh paulus kepada jemaat di Filipi
keagungan dan masuk dalam kehinaan Kristus. Dengan demikian menyangkal diri tidak
dapat dipisahkan dari penyerahan diri, pelepasan terhadap segala keterikatan, mentaati
dan mencintai Yesus sepenuh hati (Kriswanta, 2009: 60).
Dalam hal ini buku seri Gedono no.9, Prinsip dasar hidup monastic mengatakan : yang
terpenting bukan seberapa banyak kita dapat menyangkal nafsu daging, tetapi sejauh
mana hidup baru berkembang dalam diri kita sepadan dengan pengosongan diri kita
sendiri. Kristus Yesus telah memberi teladan, yang mana Ia menanggalkan segala yang
melekat pada diri-Nya, dengan jalan mengosongkan diri mengambil rupa seorang hamba
dan menjadi sama dengan manusia. Dengan demikian Yesus mengajarkan kepada kita
untuk hidup dalam kerendahan hati.
Dengan menanggalkan diri seorang murid juga belajar untuk rendah hati.
Kerendahan hati dapat dipelajari dalam sikap Yesus yang merendahkan diri dan taat
sampai mati bahkan sampai mati di salib (Flp 2 : 8). Kerendahan hati Yesus inilah yang
telah menumbuhkan keselamatan bagi umat manusia.
2. Memikul salib
Syarat lain untuk menjadi murid adalah mau memikul salib (Mrk 8: 34). Salib
merupakan jalan terakhir untuk meyelesaikan tugas Bapa bagi manusia. Namun salib
bukanlah sebuah penderitaan, melainkan melalui salib Yesus Kristus menebus kita dari
dosa-dosa dan mengangkat kita kedalam persatuan dengan Bapa. Salib sering kali
dipandang sebagai sebuah penderitaan,namun karena kematian kristus disalib kita
pada kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13)
Memikul salib berarti berani menanggung apa saja yang yang dialami dalam kehidupan
setiap hari sebagai pengikut Kristus. Memikul salib berarti menerima kemungkinan akan
kehilangan nyawa sendiri demi Yesus dan Injil (Purnomo, 2001: 61). Dengan kata lain
bukan berarti menciptakan masalah bagi diri sendiri atau pun mencari-cari masalah bagi
diri melainkan menjalankan dengan penuh tanggung jawab tugas sebagai sorang murid
dengan segala konsekuensi hidup. Konsekuensi hidup yang dimaksud adalah juga
menyangkut memikul salib.
Memikul salib membutuhkan kerelaan hati dan kesiap sedian dari setiap murid. Apa
pun bentuknya dari salib yang akan dihadapi oleh para murid, mereka hendaknya siap
sedia berjuang untuk dapat memikulnya (Purnomo, 2001:62). Dengan kata lain dalam
menjalankan tugas untuk mewartakan kabar gembira, mereka hendaknya siap untuk
menghadapi berbagai tantangan yang ada baik suka maupun duka. Dengan memikul
salib para murid dihantar pada pemahaman akan kemuliaan Yesus Kristus sendiri sebab
salib merupakan jalan yang menghantar kita menuju kepada keselamatan dan salib juga
merupakan jalan yang membantu kita menuju kepada kemuliaan bersama dengan
Kristus.
Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia Paulus berkata “ tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal 6:14) rasul
Paulus mengajak kita sebagai murid Kristus untuk bangga terhadap salib Kristus, sebab
Kristus terkandung dan terpancar misteri cinta Allah kepada manusia
(Darminta, 2006: 36). Cinta Allah kepada kita umat-Nya sungguh menghidupkan karena
itu Allah meembebaskan kita dan menebus kita dari dosa dengan mengutus putra-Nya
sampai mengurbankan diri-Nya dikayu salib. Dengan mengurbankan diri-Nya di kayu
salib Kristus memilih jalan derita menuju kepada kemuliaan untuk menebus dunia
(Darminta, 2005: 1). Seperti halnya Yesus mencapai kemuliaan-Nya melalui
penderitaan-Nya demikian pun para murid diajak untuk belajar siap sedia memikul salib
mereka menuju kepada kemuliaan bersama dengan Kristus Yesus. Salib merupak pusat
alam semesta (Arnol, 2003: 281).
3. Mengikuti Aku.
Inisiatif untuk mengikuti Yesus merupakan keputusan dari para murid. Karena
keputusan untuk mengikuti Yesus merupakan keputusan pribadi maka, Yesus mulai
masuk dalam hidup mereka untuk kebaikkan mereka (Galilea,1996: 8). Ketika Yesus
memanggil murid-murid yang pertama, Yesus mengatakan “ikutlah Aku” lalu mereka
mengikut Yesus dan meninggalkan jala, perahu, ayah mereka untuk mengikut Yesus
(Mat 4:18-22). Meski pun para murid sudah mempunyai pekerjaan namun mereka
terpukau oleh penampilan Yesus dan memutuskan untuk mengikuti-Nya
(Darmawijaya, 2003: 10).Yesus tidak meminta para murid untuk meninggalkan
pekerjaan mereka dan bekerja dengannya demi kerajaan Allah, sebab pada masa
Mengikuti aku juga berarti terlibat secara penuh dalam pewartaan kerajaan
Allah (Darmawijaya, 2003: 30). Terlibat secara penuh dalam hidup dan karya bersama
dengan Yesus didalam mewartakan kerajaan Allah yang menjadi tujuan
utama. Mengikuti berarti berjalan di belakang yang diikuti (Purnomo, 2001: 50). Dengan
memutuskan untuk mengikuti Yesus para murid ikut serta bersama dengan Yesus.,
berjalan dibelakang Yesus. Berjalan dibelakang Yesus tidak berarti bahwa para murid
hanya menjiplak apa yang dilakukan oleh Yesus tetapi para murid diminta untuk ikut
terlibat didalam seluruh kehidupan bersama dengan Yesus.
2. MISTERI SALIB
Misteri salib merupakan puncak pewahyuan Allah yang menebus dosa manusia.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengatakan “Kita telah memperoleh
penebusan berkat darah Kristus, yaitu pengampunan dosa” (Ef 1: 7). Melalui Yesus setiap orang beroleh kembali jalan menuju Allah, berdamai dengan-Nya dan
memperoleh pengampunan. Salib merupakan satu-satunya tempat dimana kita mendapat
pemurnian (Arnold, 2003: 282). Puncak dari pemurnian dan perdamaian terlaksana
secara nyata diatas kayu salib.
Allah mengadakan pendamaian oleh darah Salib Kristus (Kol 1:20). Karena kita
telah didamaikan oleh Kristus dengan kematiannya pada kayu
salib, maka tidak ada alasan bagi orang beriman untuk merasakan kesedihan, ketakutan,
keputuasaan didalam menghadapi salib kehidupan. Dan tidak ada alasan juga untuk
senantiasa membantu kita di dalam peziarahan hidup ini untuk dapat menerima dan
memikul salib kita. Salib membawa sukacita, kasih sayang, penyembuhan atas
dosa-dosa kita, yang olehnya kita mampu membina persahabatan dengan Tuhan dan sesama
(Martasudjita, 2004: 19).
Dalam misteri salib, Kristus menunjukkan sikap kasih dan bela rasa yang radikal
kepada manusia. Dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus Paulus mengatakan : “Ia
yang oleh karena kamu menjadi miskin sekali pun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya
oleh kemiskinan-Nya” (2Kor 8: 9). Melalui suratnya ini Paulus mengajak kita menyadari bahwa Kristus Yesus dalam kekayaan akan kasih rela menjadi miskin agar
kita sebagai pengikut-Nya menjadi kaya dalam segala hal. Ia menanggalkan
segala-galanya demi cinta kepada manusia. Hal ini tampak dalam pengosongan diri dan
penyerahan diri-Nya yang total di kayu salib. Tidaklah mudah memahami dan
merenungkan misteri salib, sebab misteri Salib tidak hanya berita melainkan peristiwa
(Martasudjita, 2004: 31). Misteri salib hanya dapat dipahami apa bila kita mau ikut di
dalam penderitaan Kristus dengan mau dekat dan menatap sendiri Yesus di salib
melalui keterbukaan dan doa (Martasudjita, 2004: 90). Sebab dari salib Kristus kita
dapat menimba kekuatan dan kekayaan iman yang memampukan kita untuk berani
melaksanakan kehendak Allah. Untuk sampai pada pengertian akan misteri salib ini
memanglah sangat sulit, namun Roh dapat membantu kita untuk dapat memahami ini
2. KEKUDUSAN
Askese sebagai jalan kekudusan membantu kita mengakrabkan diri dengan Yesus.
Berikut akan dibahas lebih lanjut mengenai mengakrabkan diri dengan Yesus sebagai
jalan menuju kepada kekudusan melalui:
a. Pilihan doa
Doa merupakan dasar dalam kehidupan beriman karena melalui doa kita dapat
menimbah kekuatan dan juga membina relasi dengan Allah dan sesama. Dalam doa
kita dilatih untuk berserah kepada Allah. Ada berbagai macam cara dan pilihan untuk
berdoa yang terpenting kita berdoa tidak untuk apa yang kita inginkan, melainkan
mohon kekuatan untuk melaksanakan kehendak Allah sendiri ( Arnol, 2003 : 29).
Doa adalah disiplin mendengarkan suara kasih (Nouwen, 1998: 41). Dalam dan
melalui doa kita belajar untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah yang
berbicara dalam hati kita. Dengan melatih diri dalam doa kita dimampukkan untuk
dapat membuat pilihan terhadap hidup, terhadap keinginan yang bertentangan dengan
diri kita, kita dihantar kepada perjuangan untuk melawan godaan. Tanpa relasi pribadi
dengan Tuhan yang mendalam hidup kita akan menjadi kering (Suparno 2007: 177).
Sebab Tuhan adalah sumber air yang tak perna kering. Kita senantiasa diharapkan
datang kepada-Nya untuk menimbah kekuatan agar kita tidak kehausan.
Yesus pun dalam kehidupa-Nya di depan publik senantiasa mencari waktu untuk
menimbah kekuatan dan membangun hubungan dengan Bapa-Nya melalui doa (Yoh
hidup didalam Allah agar hidup dalam kuasa-Nya, yaitu dibimbing oleh Roh
(Darminta, 2001:15). Yesus pun mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk berdoa
agar mereka jangan jatuh kedalam pencobaan (Mat 26:41). Sebab para murid
hidup, tinggal dan berkarya di tengah dunia. Agar mereka tidak mudah jatuh ke dalam
berbagai godaan mereka diminta untuk membangun relasi kasih dengan Allah melalui
doa agar membantu mereka di dalam perjuangan melawan godaan. Dengan doa para
murid dibantu untuk setia mengikuti Kristus dan melalui doa para murid juga dibantu
untuk memperoleh kekuatan mengatasi segala tantangan dan godaan “Berjaga-jagalah
senantiasa sambil berdoa” ( Luk 21:36 ). Kepada para murid-Nya dan kepada kita juga Yesus mengajarkan doa Bapa kami ( Mat 6: 9-13) sebagai sebuah doa sederhana
namun memiliki makna yang mendalam.
b. Pilihan Nilai
Orang yang mampu melaksanakan nilai adalah orang yang mampu memberi nilai
dalam setiap perbuatan dan perkataannya yang diwujudkan dalam kehidupan setiap
hari dan juga akan menghantar kita untuk semakin berkembang dan memaknai hidup
dengan penuh tanggung jawab. Pilihan untuk melaksanakan sebuah nilai dapat
menghantar kita kepada kemerdekaan. Dalam hal ini tentunya kemerdekaan untuk
mengadakan pilihan-pilihan.
Kemerdekaan adalah bagaikan pencarían sepanjang hidup, suatu pergulatan dalam
diri kita sebagai manusia untuk mengadakan pilihan-pilihan secara bertanggung jawab
pembentukkan ke arah peningkatan hidup. Contohnya saja dalam menentukan pilihan
untuk melepaskan diri dari berbagai godaan duniawi dan bertumbuh dalam keutamaan
menuju kepada persatuan dengan Kristus. Persatuan dengan Kristus akan terjadi apa
bila kita juga rela untuk berbagi dengan sesama yang berkekurangan. Dengan berbagi
kita melepaskan diri dari keinginan-keinginan untuk mengumpulkan berbagai benda
materil entah itu barang, uang, orang atau pun kedudukan yang dapat merintangi kita
dalam menjalani panggilan hidup ini yang penuh dengan tantangan.
Karena setiap saat kita dihadapkan pada berbagai pilihan maka kreativitas sangatlah
dibutuhkan dalam menjalankan askese. Kreativitas dalam askese merupakan sebuah
cara untuk dapat menemukan pilihan-pilihan asketis yang tepat (Sardi,o3, 2013: 11).
Pilihan tersebut ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang mahasiswa religius
yang sedang study ditengah-tengah kesibukan study rela membagi waktu doa, berbagi
pengalaman, makan bersama dan rekreasi di komunitas. Dengan merelakan
waktu, tenaga, pikiran dan seluruh diri kita untuk berada bersama dengan orang lain
secara tidak langsung kita telah menemukan pilihan kreativitas untuk dapat melakukan
askese.
c. Pelepasan dari kelekatan tak teratur.
Dengan menyerahkan diri kepada Kristus kita dipanggil juga untuk melepaskan diri
dari berbagai kelekatan yang tidak teratur dan tak terarah untuk meraih tujuan hidup
kita. Pelepasan dari kelekatan yang tidak teratur dimaksud disini yakni: Lepas bebas
nafsu duniawi. Melepaskan diri dari kelekatan yang tidak teratur mengandaikan bahwa
kita senantiasa berharap akan penyelenggaraan Ilahi dengan membebaskan diri dari
berbagai kekhawtiran akan hal-hal kecil yang kadang kala menghalangi langkah kita
untuk bersatu dengan-Nya, sebab Ia tidak menghendaki ini melainkan Ia akan
menunjukkan hal-hal besar kepada kita (Nouwen, 2003: 49).
Yesus sendiri menegaskan” karena itu Aku berkata kepadamu, janganlah kamu khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum dan
janganlah khawatir pula akan tubuhmu. Bukankah hidup itu lebih dari makanan dan
tubuh itu lebih dari pakaian?” (Mat 6:25). Sebagai murid-murid Kristus kita diajak untuk tidak terlalu menaruh kekuatiran yang berlebihan akan hal-hal
material, mengesampingkan segala yang masih melekat di dalam diri dan
mempercayakan segala yang di butuhkan kepada Allah sambil tetap bekerja bagi
kemuliaan nama-Nya.
Pelepasan dari kelekatan tak teratur meminta kita untuk dapat mempersembahkan
cinta secara total kepada Allah, seperti janda miskin yang memberi dari
kekurangannya (Mat 21:4). Dengan memberikan dua keping uang perak sang janda
memepersembahkan seluruh yang ada padanya kepada Allah. Ia memberi dengan
penuh kebebasan. Memberikan segalanya berarti menempatkan atau mempertaruhkan
hidup pada pada resiko yang berbahaya (Zuidberg dan Bruggeman,1995: 45). Untuk
dapat memberikan segalanya kita diminta untuk memiliki sikap lepas bebas dan tidak
menerus yang pada akhirnya menghantar kita kepada tujuan akhir dari kehidupan itu
sendiri yakni: kebahagiaan untuk bersatu dengan Allah sendiri sebagai satu-satunya
tujuan hidup kita yang utama.
C. ASKESE MENURUT WEJANGAN PENDIRI ST. MAGDALENA DARI