BAB II. ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI
C. Askese menurut wejangan pendiri St. Magdalena dari Canossa
1. Sejarah singkat St Magdalena dari Canossa.
Magdalena Gabriella lahir di Verona Italy pada tanggal 1 Maret 1774. Ia lahir
sebagai putri bangsawan dari pasangan Marquis Oktovianus Canossa dan Teresa
Szluha. Pada tanggal 2 Maret 1774. Ia dibaptis di paroki St. Laurensius oleh Giovanni
Zanetti yang merupakan pastor kepala paroki St. Laurensius. Kelahirannya sama sekali
tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya, sebab kedua orang tuanya mengharapkan
seorang putera yang akan menjadi ahli waris dan penerus tahta kerajaan Canossa.
Dalam buku Wanita dan Rasul mengatakan : Bayi yang baru lahir tidak disambut
dengan kegembiraan yang meriah. Dia diterima dengan kekecewaan yang tak
tersembunyikan. Tiada senyum disekelilingnya
( Serafini, 1941: 12).
Tahun 1776 kegembiraan kembali menyelimuti istana Canossa karena seorang putra
yang diharapkan oleh kedua orang tua Magdalena lahir. Ia dibaptis dan diberi nama
Boniface yang merupakan ahli waris kerajaan. Kebahagiaan menyelimuti istana
Canossa. Walaupun terlahir sebagai anak yang tidak diharapkan namun Magdalena
dalam doa dan dalam usia 5 tahun ia sudah merasakan panggilan untuk mengikuti
Kristus secara lebih dekat melalui pembaktian hidup ( Serafini, 1941: 13).
Pada bulan oktober tepatnya pada tahun 1791 Magdalena memutuskan untuk masuk
dalam biara carmelit. Magdalena tinggal di sana selama 8 bulan. Ia menyukai segala
peraturan yang ada di dalam biara tersebut. Namun kungkungan dalam biara tersebut
malah membuatnya tertekan, karena ia tidak dapat berhubungan secara langsung
kehidupan gereja di luar (Giacon, 1974 :30). Meski pun Magdalena kembali ke istana
Canossa dan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya namun niat untuk
menyerahkan diri kepada Tuhan tetap tertanam dalam hati Magdalena. Dalam bulan
Maret 1796, tentara prancis dibawah pimpinan Napoleon Bonaparte menyeberang ke
Italia dan hendak menyerang Venesia dan Verona, seluruh keluarga Canossa
mengungsi. Ditempat pengusian ia dan beberapa gadis yang dijumpainya melayani
anak-anak dan orang dewasa yang membutuhkan kebutuhan material dan spiritual.
Setelah perang berakhir, pada tahun 1801-1802 Magdalena pergi mencari suatu tempat
dimana dia bisa menampung anak-anak pertama yang dihimpunya dijalan-jalan dan
para guru yang terpanggil untuk berbagai cita-cita cinta kasih dan karya amal kasih
bagi kaum miskin yang nantinya merupakan tua baginya ( Serafini, 1941: 22).
Magdalena merasa semakin jelas akan kehendak Allah baginya untuk
mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada Kristus yang tersalib serta berkarya
hanya untuk kemuliaan-Nya. Pada bulan Mei 1808, Magdalena bersama
miskin (Serafini, 1941: 23). Di Verona Magdalena bersama rekan-rekannya melayani
kaum miskin yang datang ke biara. Anak-anak dengan baju compang-camping,
gadis-gadis yang tidak berpendidikan baik wanita yang kasar maupun yang bodoh mendapat
bantuan materil, pelajaran agama, sekolah cuma-cuma, penghiburan dan juga
pengobatan yang gratis. Berkat kesabaran dan kepercayaannya kepada kehendak Allah
pada tanggal 3 Desember 1828 kongregasi Canossian mendapat pengesahan konstitusi
secara sah oleh Paus Leo XII (Konst. art. 2). Magdalena bersama rekan-rekannya
bekerja dengan sabar dan bahagia. Dalam buku Wanita dan Rasul mengatakan :
Magdalena memperingatkan kepada rekan-rekannya bahwa di mana saja seseorang
bekerja untuk kemuliaan Allah, batu-batu sandungan akan selalu dijumpai
(Serafini, 1941: 26). Magdalena meminta kepada rekan-rekannya kegembiraan tanpa
kesedihan, ketulusan dalam melayani, keikhlasan dalam menderita, memikul salibnya
dan menyangkal diri
sendiri dengan berani. Magdalena percaya bahwa barangsiapa yang mengasihi
mampu mengurbankan dirinya sendiri bagi Dia yang dikasihi. Ungkapan-ungkapan
semacam ini kemudian hari dapat dijumpai dalam wejangan dan tulisan-tulisan lainnya.
Magdalena dari Canossa meninggal pada tanggal 10 April 1835, dinyatakan bahagia
oleh Paus Pius XII pada 7 Desember 1941 dan dinyatakan Santa oleh Paus Yohanes
3. Askese Menurut St. Magdalena dari Canossa
a) Melalui penyangkalan diri untuk menyenangkan hati Tuhan.
Segala bentuk Askese yang dilakukan adalah semata-mata untuk menyenangkan
hati Tuhan. Bagi seorang suster FdCC hal ini menjadi penting karena melatih
penghayatan sebagai seorang kristiani yang menyerupai Yesus yang menyangkalkan
diri-Nya kepada Allah kecuali cinta-Nya. Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati
Tuhan merupakan juga sebuah penyangkalan diri yang memiliki nilai yang mulia.
Dalam terjemahan asli dari naskah Peraturan hidup bagian keutamaan matiraga, St
Magdalena mengatakan bahwa:
Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati Tuhan merupakan penyangkalan diri yang terluhur, yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri melainkan kehendak Tuhan semata. Penyangkalan diri sebagai seorang suster FdCC memiliki tujuan yang utama yakni meneladan Tuhan Yesus yang Tersalib (UR, 1981: 2).
Para suster FdCC hendaknya mengingat bahwa, segala bentuk penyangkalan diri yang
mereka lakukan semata-mata bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri, melainkan
semata-mata untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Melaksanakan kehendak Tuhan
berarti berani untuk memalingkan jiwa dari sagala kecenderungan kodrati, mau
mengesampingkan diri dan tidak memikirkan diri sendiri sehingga mampu
mengalahkan godaan. Kristus Yesus sebagai sang teladan utama telah lebih dahulu
melakukan segala pengorbanan-Nya, dengan menyerahkan segala kehendak-Nya
secara total kepada Bapa, tanpa memperhatikan kepentingan sendiri melainkan
kepentingan orang banyak.”Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki melainkan
agar mereka dapat belajar untuk senantiasa mempersembahkan diri, kesukaan -
kesukaan, keinginan - keinginan mereka secara bebas kepada Allah dengan penuh
kesadaran dan kegembiraan serta dengan penuh pengharapan, sebab siapa yang paling
berani berharap dialah yang paling memperoleh (Wejangan St.Magdalena, 2001:15)
Kesadaran untuk mempersembahkan segala yang merintangi diri dapat membantu para
suster FdCC untuk semakin menghayati dan mencintai panggilan hidup mereka serta
dapat melayani sesama dengan cinta yang bebas. Penyangkalan diri sebagai seorang
suster FdCC sangatlah penting hal ini dapat dilihat dalam dua aspek yang akan
diuraikan sebagai berikut :
a. Aspek Eksternal
Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa yang karena dosa mengambil jalan yang tidak
sesuai dengan tujuan hidupnya. Dosa telah membangkitkan dalam jiwa manusia segala
bentuk hawa nafsu. Hawa nafsu tersebut memberontak dalam jiwa manusia dan
mengarahkan tubuhnya kepada dosa. Untuk meluruskan semua keinginan yang tidak
teratur dan membawa segala hawa nafsu pada salib maka diperlukan aspek eksternal dari
sebuah askese.
Para suster FdCC menjalankan aspek eksternal ini melalui karya kerasulan, dan
melalui izin dari pimpinan komunitas. Mengingat bahwa tidak semua suster dapat
menanggung segala pengorbanan yang melampaui jerih payah dalam karya kerasulan
mereka serta membantu mereka mengurangi kesombongan mereka dari pada kekuatan.
eksternal ini apa bila ia melihat bahwa itu baik dan dapat mengizinkannya sesuai yang ia
nilai baik bagi suster tersebut dan bagi institut. Dalam hal ini terjemahan asli dari naskah
Peraturan hidup”unabridged Rule” bagian Virtue of Mortification (Keutamaan Matiraga)
dikatakan bahwa: “Karena karya kerasulan sudah menjadi penyangkalan diri secara
eksternal dan para suster membutuhkan kesehatan dan kekuatan fisik untuk bekerja maka
tidak ada ketetapan peraturan hidup mengenai ini. Pimpinan komunitas dapat
mengizinkan sedikit atau banyak sesuai yang ia nilai baik” (UR, 1981: 3). Kemudian dalam wejangan Pendiri St.Magdalena dari Canossa dikatakan bahwa: “Matiraga lahir
tidak berguna kalau tidak dijiwai oleh matiraga batin yang lebih tinggi dan sempurna (
2001: 31)”.
b. Aspek Internal
Aspek internal ini dapat dicapai dengan mengatur semua keinginan hawa nafsu
sehingga sampai pada suatu hidup yang mulia dan sempurna, sebab jiwa lebih berharga
dari pada tubuh. Aspek internal dari penyangkalan diri ini lebih mulia dari pada aspek
eksternal sebab didalam aspek internal ini terdapat kematian dan penaklukkan sampai
pada tindakan yang salah serta segala bentuk hawa nafsu sampai ke akarnya, sehingga
semua keinginan hanya terarah kepada Allah. setiap suster FdCC berusaha untuk
menyatukan semua keinginan, cinta diri dan kehendak sehingga hanya memikirkan Tuhan
saja. Dalam wejangan Pendiri St.Magdalena dari Canossa dikatakan bahwa: “ lebih
nyaman hidup lepas dari segalanya dan hidup dengan Dio Solo (2001:29)”. Sedangkan dalam hal ini terjemahan asli dari naskah Peraturan hidup”unabridged Rule” bagian
Virtue of mortification (Keutamaan matiraga) mengatakan bahwa : “Setiap orang
berusaha untuk mematikkan semua keinginan,cinta dan kehendak sehingga hanya
memikirkan Tuhan saja (UR,1981: 3)”. Setiap suster FdCC hendaknya senantiasa ingat
bahwa keinginan dan hawa nafsu yang perlu dicabut adalah kemarahan, kesombongan dan
bentuk afeksi yang tidak teratur. Kesombongan merupakan jalan yang merintangi curahan
hati Allah. Karena itu para suster FdCC diharapkan untuk dapat menderita dengan sabar
ketika orang lain mengetahui diri mereka tidak sempurna, tidak mampu, bodoh, miskin
dan lemah dan hendaklah mereka menerima semua itu baik dari pimpinan, para suster
di sekolah, di rumah sakit maupun dalam pengajaran katekese. Mengenai kemarahan
hendaknya para suster FdCC tidak menuruti pikiran, kebiasaan dan ide mereka apa bila
mereka berada bersama dengan orang hal. Hal ini dapat membantu menolong hidup
rohani mereka karena orang-orang ini membutuhkan perhatian bagi jiwa sama seperti
mereka merawat tubuh. Para suster FdCC hendaknya melatih diri untuk berperang
melawan hawa nafsu dan segala keinginan yang tidak teratur untuk dapat masuk dalam
kerajaan surga. Dalam wejangan Pendiri St.Magdalena dari Canossa dikatakan bahwa:
“kita tidak mengecewakan Tuhan kalau kita menikmati kesenangan yang Ia sediakan sendiri bagi kita (2001:32)”
b) . Pengorbanan
Menjadi murid Kristus berarti orang siap untuk berkorban atau siap untuk
mengorbankan segala sesuatu yang dimiliki entah itu kekayaan, kekuasaan dan jabatan.
diri dan mengambil rupa sebagai seorang hamba dan taat sampai mati bahkan mati disalib
sebagai bentuk pengorbanan yang mulia. Pengorbanan-Nya merupakan pengorbanan satu
kali untuk selama-Nya melalui kematian di kayu salib. Surat Paulus kepada Jemaat
di Roma ( Rm 6 :10) mengatakan : “ Sebab kematian-Nya merupakan kematian terhadap dosa satu kali untuk selamanya”. Kata-kata Paulus ini menjadi nasehat bagi jemaat di Roma agar senantiasa menjauhkan diri dari dosa dan menanggalkan segala bentuk hawa
nafsu dan keinginan yang merintangi mereka untuk membangun hidup baru dalam
Kristus. Menjadi manusia baru dalam kristus yakni dengan membiarkan diri dipimpin
oleh Allah dengan bantuan Roh Kudus-Nya. Para suster FdCC hendaknya berani dan siap
sedia berkorban terhadap segala sesuatu yang mereka miliki entah itu
tenaga, pikiran, perasaan ataupun segala bentuk kenyamanan yang membuat mereka tidak
bebas dalam pelayanan terhadap sesama. Belajar dari St Magdalena sebagai ibu pendiri
para suster FdCC diajak untuk menghayati pengorbanan-pengorbanan kecil yang
disediakan oleh Tuhan setiap hari, karena semangat pengorbanan dan salib merupakan
semangat pengikut Kristus (wejangan St. Magdalena, 2001: art,29 alinea 2).
Kenyataannya bahwa dalam mempraktekkan askese terkadang begitu sulit maka
diperlukan latihan setiap hari dengan memohon bantuan Roh Kudus untuk dapat
membantu, membimbing seluruh sikap hati dan batin kepada pengorbanan yang radikal.
Dengan bantuan Roh Kudus para suster FdCC meresapi setiap bentuk pengorbanan yang
Diperlukan sebuah pelepasan total untuk dapat menggunakakan waktu, perhatian dan
pikiran bagi kemuliaan Allah”(2001: art,29: alinea 4).
Mengikuti Kristus menurut Magdalena yakni haruslah melepaskan secara total dan
mematikan keinginan akan hal-hal duniawi untuk dapat mempergunakan segalanya demi
kemuliaan Allah. Maka sebagai pengikuti St.Magdalena dari Canossa para suster FdCC
diminta untuk dapat menyadari bahwa pengorbanan yang mereka lakukan merupakan
bentuk ikut ambil bagian dalam pengorbanan kristus. Dan hendaknya pengorbanan
tersebut dilaksanakan dengan kesadaran dan ketulusan hati.
C) Salib
Salib merupakan lambang keselamatan bagi kita umat manusia, sebab Kristus
Yesus mengurbankan diri-Nya dengan kematian pada kayu salib. Salib merupakan jalan
ketaatan-Nya terhadap kehendak Bapa (Flp 2: 8). Ia memilih jalan penderitaan agar
manusia selamat. Keselamatan tersebut tidak hanya diperuntukkan kepada mereka yang
percaya kepada-Nya melainkan kepada semua manusia di muka bumi.
Para suster FdCC senantiasa diminta untuk dapat memandang kepada Kristus yang
Tersalib sebagai teladan hidup sekaligus sebagai pusat dari spiritualitas suster
FdCC. Dengan memandang kepada Kristus Tersalib seorang suster FdCC diharapkan
dapat menimba kekuatan, semangat untuk dapat menghayati panggilannya dan sekaligus
untuk dapat berani menanggalkan segala bentuk ketidak teraturan dan
keinginan-keinginan duniawi yang menghalanginya untuk dapat melayani dan untuk dapat
mengatakan bahwa: “Kehadiran salib selalu merupakan sebuah tanda baik ( 2001: art, 30
alinea 6 )”. Para suster FdCC dalam menjalankan askese hendaknya belajar untuk melihat salib-salib yang dihadapi setiap hari sebagai tanda yang baik yang membantu mereka
untuk semakin setia dalam mengikuti Kristus. Sebab konsekuensi dari seorang pengikut
Kristus adalah berani memikul salibnya sendiri. Dengan menyadari kehadiran salib
sebagai jalan untuk mendewasakan iman mereka dan dengan kehadiran salib dapatlah
membantu seorang suster FdCC untuk mematikan kehendaknya sendiri dan
menyadarkannya bahwa cinta Allah kepadanya begitu besar dan tidak akan perna
meninggalkannya dalam keadaan apa pun. Dalam wejangannya Pendiri St. Magdalena
dari Canossa mengatakan bahwa: “Tuhan sewaktu-waktu mengunjungi kita dengan salib-Nya. Itu adalah tanda bahwa Ia mencintai kita, hal mana seharusnya menghibur kita”
(2001: art;31 alinea 1).
Ditengah tantangan dunia yang semakin menjanjikan ini kehadiran salib entah
berupa penyakit, permasalahan maupun penderitaan lainnya sering kali merupakan hal
buruk yang mana membuat orang lari dan tak mau menerima kenyataan tersebut
St. Magdalena meminta agar para suster FdCC untuk tetap menghadapi dan menerima
salib-salib tersebut sebagai tanda cinta Allah kepada mereka karena hanya dengan
demikian mereka dapat memberi kesaksian kepada semua orang akan kehadiran mereka
sebagai orang-orang yang terpanggil untuk membuat Yesus semakin dikenal dan dicintai.
3. Usaha Dalam mempraktekkan Askese bagi para suster FdCC
Askese akan tetap menjadi salah satu keutamaan yang penting apabila dipraktekkan
sehari-hari. Ini bisa dilihat pada diri St. Magdalena sebagai ibu pendiri kongregasi suster
FdCC. Magdalena mempunyai sikap taat kepada Allah melalui pelepasan total terhadap
segala kecenderungan manusiawi dan matiraga yang dialaminya. Bagi Magdalena praktek
askese itu terletak pada sikap lepas bebas dan hanya menggantungkan hidup sepenuhnya
kepada kerahiman Allah yang merupakan kekayaan kita (wejangan St.Magdalena 2001:
2). Usaha dalam mempraktekkan askese bagi para suster FdCC melalui :
a. Doa
Doa merupakan kekuatan utama dalam pembangunan hidup rohani seorang
religius. Doa merupakan juga dasar dimana seorang religius membangun keintimannya
dengan Tuhan. Doa menjadi kesempatan untuk membangun relasi kasih dengan Bapa.
Dalam kesibukan karya pelayanan-Nya Yesus selalu mencari waktu untuk berdoa” dan
setelah orang banyak itu disuruhnya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa
seorang diri ( Mat 14:23)”. Melalui doa Yesus mau menunjukkan relasi kasih antara Ia
dan Bapa-Nya. Sebagai seorang beriman doa hendaknya menjadi kebutuhan hidup setiap
hari seperti layaknya makanan. Dalam konstitusi kongregasi FdCC ( 1828: no. 11)
mengatakan sebagai berikut :
Doa adalah suatu anugerah Allah, suatu pengalaman hadirat-Nya dalam Kristus Yesus yang melalui kuasa Roh-Nya, mewahyukan kepada kita misteri Allah sebagai kasih dan menjadikannnya penyembah-penyembah Bapa yang sejati.
Doa membantu seorang suster FdCC untuk senantiasa mengalami persatuan yang
mesra dengan Allah. Persatuan ini dapat pula menghantar manusia untuk dapat mengatasi
kemurnian hidup. Doa sebagai sebuah relasi personal yang menuntun orang untuk
senantiasa rindu akan kemuliaan Allah, dan suatu usaha untuk senantiasa mencari
kehendak Allah. Dengan doa dapat membantu kita untuk menjalankan askese dalam
kehidupan yang ditandai dengan berbagai macam tawaran hidup untuk mendengar
kehendak Allah dan membuat pilihan-pilihan terhadap tawaran-tawaran tersebut. Dalam
wejangannya St. Magdalena dari Canossa mengatakan bahwa:
“Sikap doa merupakan sebauah latihan rohani dimana jiwa belajar mendekati dan mengenal Tuhan, sehingga menjadi semakin rela dan berhasrat mencintai Tuhan
( 2001: 4)”.
Dengan membangun sebuah latihan rohani yang ditempuh dengan doa seseorang dihantar
pada pengenalan akan Allah dan hasrat untuk mencintai Dia setiap saat. Dengan rasa cinta
kepada-Nya setiap saat membantu kita juga untuk tidak mudah jatuh kedalam godaan dan
nafsu jasmani. Yesus Kristus sendiri sebagai soko guru dan teladan hidup Kristiani
senantiasa membangun relasi dengan Bapa-Nya melalui doa. Ia pun mengajarkan kepada
para murid-Nya bagaimana mereka harus berdoa.Ketika menghadapi berbagai godaan dan
tantangan dalam pewartaaan-Nya Dia senantiasa mencari kesempatan untuk berdoa
bahkan ketika tergantung di kayu salib pun Ia masih berdoa „ Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ( Luk 23:34) sebuah doa seruan kepada
Bapa-Nya untuk memberikan pengampunan bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya.
Doa adalah disiplin mendengarkan suara kasih. Seperti Yesus dalam kehidupan kita
setiap hari kita di tuntut untuk dapat berdoa membangun sebuah relasi kasih dengan Allah
agar suasana batin kita dapat terpelihara dengan baik. (Darminta,1998: 41). Karena doa
merupakan kekuatan yang dapat menghantar kita pada kehidupan yang lebih baik maka
para suster FdCC senantiasa di minta untuk dapat mencari waktu-waktu tertentu agar
dapat membina hubungan yang akrab dengan Allah melalui doa baik secara pribadi
maupun bersama-sama dalam komunitas. Bagi St Magdalena sebagai pendiri kongregasi
FdCC doa merupakan sebuah kekuatan sekaligus penghiburan baginya dalam seluruh
kehidupan entah itu dalam hidup berkomunitas maupun dalam hidup karya, sebab doa itu
Mahakuasa (Wejangan Magdalena Canossa 2001:5). Karena doa itu Maha kuasa, maka
para suster FdCC harus memberi waktu yang cukup untuk berdoa dalam membina relasi
dengan Allah. Setiap suster FdCC harus sungguh-sungguh memperhatikan hidup
doanya, baik doa pribadi maupun doa bersama. Cara-cara doa pribadi diatur
masing-masing. Tanpa doa, maka segala sesuatu yang kita lakukan termasuk didalamnya segala
bentuk praktek askese tidak akan berguna. Urusan- urusan kita sungguh pun berjalan
lancar,selalu membutuhkan banyak doa (Wejangan St. Magdalena, 2001:6, alinea 4).
Segala yang kita kerjakan akan berguna dan berkenan pada Allah apabila di awali dengan
doa. “Berdoalah agar Tuhan berkenan memberkati seluruh jerih payah yang kecil ini dan
ikut bekerja sama dengan Rahmat-Nya supaya jerih payah kita
b. Amal
Dalam penghayatan terhadap askese diperlukan juga hidup amal. Ini dimaksudkan
agar membantu seseorang untuk dapat berbagi dengan orang lain apa yang menjadi
kelebihan dirinya dalam hal materi. Amal di sini dimaksudkan juga adalah untuk
membantu seseorang bersolider dengan orang lain terlebih mereka yang miskin. Dalam
sabda di bukit Yesus menegaskan kepada kita bahwa : “Berbahagialah mereka yang
miskin karena merekalah yang empunya kerajaan Allah” ( Luk 6: 20). Mengingat bahwa
orang miskin senantiasa ada disekitar kita. Sebagai salah satu bentuk pengendalian
terhadap keinginan-keinginan jasmani maka adalah sebagai sebuah kewajiban bagi kita
umat manusia untuk membangun sikap beramal sebagai salah satu bentuk askese.
Beramal sesungguhnya merupakan berbagi berkat bersama dengan orang lain berupa apa
saja yang dapat membantu mereka untuk bertumbuh dalam kehidupan. St Magdalena
sebagai pendiri kongregasi FdCC menghendaki agar para suster FdCC memiliki sikap hati
yang senantiasa memperhatikan orang lain dengan berbagi berkat terutama kepada mereka
yang miskin dan yang berkekurangan sebab orang miskin merupakan tuan bagi kita
(Wejangannya St.Magdalena 2001: 28). Para suster FdCC hendaknya selalu mengingat
bahwa orang miskin juga merupakan sesama yang perlu dilayani dan perlu mendapat
bantuan. Dalam pelayanan kepada mereka yang miskin hendaknya para suster FdCC tidak
cepat mengeluh mengenai keadaan apa pun yang dialami bersama dengan mereka, tidak
menertawakan kekurangan mereka serta tidak menunjukkan sikap yang membuat mereka
bahwa: Dengan seluruh kekuatanku, aku mohon perhatikanlah kaum miskinku yang
tercinta (2001: 27). Para suster FdCC hendaknya mengingat bahwa adalah perlu untuk
menyisihkan kebutuhan mereka bagi kaum miskin yang mereka jumpai atau yang mereka
layani baik itu anak-anak maupun orang dewasa yang sangat membutuhkan perhatian atau
pun uluran tangan dari mereka baik material maupun rohani.
c. Matiraga
Matiraga berati mati atas kehendak, kesukaan-kesukaan, ide dan
kemauan-kemauan untuk mengkritik orang lain sehingga hanya mencari yang terbaik demi