ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
OLEH :
FRANSISKA YOSEFINA NUFA
NIM: 091124034
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
PERSEMBAHAN
Dengan rasa syukur yang tiada terkira, skripsi ini kupersembahkan kepada
Para Suster Kongregasi Putri-Putri cinta kasih Canossian Provinci Devine Mercy
Indonesia. Bagi keluargaku, bagi Para Suster dan adik-adik postulan dalam
Komunitas Yogyakarta yang telah mendukung dan memberi semangat melalui doa,
v
MOTTO
“Those Who Hope More Will Obtain More”
(Siapa yang Paling Berani Berharap Dialah Yang Akan Paling Banyak Menerima)
(St. Magdalena dari Canossa)
“Sebab kepada-Mu Ya Tuhan, aku berharap Engkaulah yang akan
menjawab,Ya Tuhan Allahku”
( Mzm. 38 : 16 )
“Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman”
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan
dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 7 Juli 2014
Penulis,
vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Fransiska Yosefina Nufa
NIM : 091124034
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC. Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata
Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,
mengelolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas,
dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan
akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada saya,
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian penyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta, 7 Juli 2014
Yang menyatakan,
viii
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI
ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER
KONGREGASI FDCC”. Judul Skripsi ini dipilih berdasarkan Fakta akan
pentingnya Askese bagi para suster FdCC sebagai warisan dari ibu pendiri St.Magdalena Dari Canossa sebagaimana tersirat dalam wejangannya. Para suster FdCC telah menghidupi askese itu sendiri baik secara pribadi,bersama dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan dengan meneladani sang teladan utama yakni Kristus Tersalib dan dengan meneladani semangat askese yang dijalankan oleh pendiri St Magdalena dari Canossa. Namun kenyataannya askese yang dijalankan oleh para suster FdCC zaman sekarang pelan-pelan mulai memudar. Ini disebabkan karena para suster FdCC kurang menyadari akan pentingnya nilai dari sebuah askese. Askese yang dilakukan hanya semata agar dilihat dan dipuji oleh pimpinan atau pun anggota komunitas lainnya.
Askese jika disadari dengan sungguh-sungguh akan membantu para suster FdCC untuk mengendalikan kecenderungan duniawi yang menjadi unsur kodrat manusia serta dapat membantu meluruskan semua keinginan para suster FdCC yang tidak teratur dengan ikut ambil bagian menyatukan pengorbanan yang dijalankan dengan pengorbanan Kristus yang Tersalib. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi membuat praktek askese menjadi tidak mudah untuk dilaksanakan mengingat berbagai tawaran menarik yang menuntut banyak anggota FdCC untuk berani memilih. Oleh karena itu berbagai cara dan usaha di lakukan agar askese tetap menjadi keutamaan tetap relevan sebagai warisan ibu pendiri. Salah satunya melalui usaha mempertahankan dengan tetap mempraktekannya secara terus menerus secara pribadi baik dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan yang ditopang dengan doa,amal ,pengorbanan dan matiraga.
Usaha ini pada intinya merupakan proses perkembangan dan pertumbuhan bagi para suster Fdcc didalam mempertahankan keutamaan askese sebagai warisan ibu pendiri sebagaiaman tesirat dalam wejangannya. Untuk membantu para suster FdCC mempertahankan keutamaan askese sebagai warisan pendiri penulis mengusulkan program pembinaaan melalui katekese model SCP ( Share Christian Praxis) model ini merupakan salah satu model katekese yang cocok
sebab di dalamnya para suster FdCC
dapat saling berbagi pengalaman bersama, berefleksi, berdialog, saling menden garkan
ix personal and community in their ministry. They took the spirit of Jesus Christ who was crucified and follow the ascetic spirit of St Magdalen. But, in fact nowadays the ascetic spirit for the sister is going down. It is because of the sister do not aware so much about the importance of ascetic life in their journey as sister and do not live it out in their daily life. They just practice or do it as the formality and just to follow the rule.
If the sister really aware about the meaning of ascetic life, it may help them to control the personal desire as human being. It may help them to have self-discipline and participate or united their self-sacrifice with self-sacrifice of Jesus Christ on the cross. The development of technology in our world today challenges the sister to have strong motivation and commitment to live out the ascetic spirit. The changes of our world today influence the sister to see that ascetic life is no longer interested for them to choose. So that, the writer found that it is important to take some way to make the ascetic life become alive for the sister in our global world. It is the invitation to see and reflect on the spirit of our founder, how she lived out the ascetic life in her daily life as the sister. In spite of learning from the founder, as the member of FDCC, everybody should have the strong commitment to live it out both personal or in the community. They may do it by their ministry, prayer, fast and ascetic.
The work of ascetic life is the process of development and growing toward the maturity in self-sacrifice for the FDCC sister to live out the virtue of
ascetic as the heritage of the founder trough her “wejangan”. In order to help
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah Bapa yang Maha kuasa atas berkat dan Rahmat
kasih-Nya yang besar yang senantiasa menyertai dan membimbing penulis
sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC.
Penulis berharap semoga skripsi ini memberikan sumbangan yang baik bagi
para suster FdCC di dalam mempertahankan keutamaan askese sebagai
keutamaan yang diwariskan oleh St. Magdalena dari Canossa sebagai ibu pendiri
sebagaimana tertulis dalam wejangannya bagi hidup panggilan dan karya
perutusan.
Penulisan skripsi ini sangat dibantu dan didukung oleh banyak pihak baik
secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu dari kedalaman hati
yang tulus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. J. Darminta,SJ selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan
waktu dalam membimbing penulis dan memberikan masukan serta kritikan
sebagai motivasi bagi penulis dalam menuangkan gagasan-gagasan untuk
penulisan skripsi ini dengan penuh kesabaran.
2. Dr.C.B.Putranta, SJ selaku dosen penguji ke II dan juga sebagai dosen
pembimbing akademik yang telah memberikan perhatian dan mendukung
xi
3. Bapak Y. H Bintang Nusantara, SFK, M. Hum Selaku dosen penguji III yang
telahmendamping dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan penulisan
skripsi ini.
4. Segenap Staf Dosen dan karyawan Prodi IPPAK yang telah
mendidik, membimbing dan membekali penulis dengan berbagai pengetahuan
dan ketrampilan bagi penulis selama studi hingga selesainya skripsi ini.
5. Pimpinan Provincial berserta Dewan kongregasi suster FdCC, yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk studi di IPPAK-Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta serta atas dukungan melalui doa, dan cinta kasih
yang tulus kepada penulis.
6. Pimpinan komunitas beserta dewan lokal, teman-teman suster dan adik-adik
postulan komunitas Yogyakarta yang telah mendukung penulis dengan
doa, cinta dan perhatian sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan
lancar.
7. Teman-teman Mahasiswa khususnya angkatan 2009 yang turut berperan
dalam memberi perhatian dan semangat, sehingga penulisan skripsi ini dapat
diselesaikan dengan baik.
8. Segenap anggota keluargaku mama, saudara-saudariku serta para kerabat
keluarga lainnya yang senantiasa mendukung dan memotivasi penulis dalam
menjalani panggilan hidup sebagai suster Canossian dan dalam melaksanakan
xii
dengan cinta dan perhatian sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan
dengan baik.
9. Kedua sahabat baikku Frater Ferdinandus Supandri, Sx dan Frater Gordianus
Afri, Sx yang telah memotivasi dan membantuku sehingga penulisan skripsi
ini dapat terselesaikan .
10.Saudaraku para Frater Kongregasi SS.cc yang dengan ketulusan hati telah
membantuku sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
11. Semua pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, yang
selama ini telah memberikan dukungan, sehingga penulisan skripsi ini dapat
berjalan dengan lancar.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini
dikarenakan berbagai keterbatasan. Oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati
penulis mengharapkan kritik, saran serta masukkan yang membangun dari semua
pihak demi perbaikkan lebih lanjut. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini
dapat membantu dan sekaligus memberikan manfaat bagi semua pihak khususnya
bagi para suster FdCC.
Yogyakarta, 7 juli 2014
Penulis,
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xviii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 11
C. TUJUAN PENULISAN ... 11
D. MANFAAT PENULISAN ... 12
E. METODE PENULISAN ... 12
F. SISTEMATIKA PENULISAN ... 12
BAB II. ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI ... 15
A. Pengertian Askese secara umum ... 18
1. Askese sebagai latihan ... 18
2. Mortification/matiraga ... 23
xiv
4. Mengenakan keutamaan dan Mengalahkan cacat cela ... 30
B. Askese Sebagai Jalan ... 33
1. Kemuridan ... 33
a. Pengertian kemuridtan secara umum ... 33
b Syarat-Syarat kemuridtan ... 34
c. Pelepasan dari Kelekatan tak teratur ... 43
C.Askese menurut wejangan pendiri St. Magdalena dari Canossa ... 45
1. Sejarah singkat St. Magdalena Dari Canossa ... 45
2. Askese menurut St. Magdalena dari Canossa ... 48
a.Untuk menyenangkan hati Tuhan dalam dua aspek ... 49
1. Aspek Eksternal ... 49
2. Aspek Internal ... 50
b. Pengorbanan ... 51
c. Salib ... 53
3. Usaha dalam mempraktekan Askese bagi para suster FdCC ... 54
xv
1. Keheningan ... 70
2. Pertobatan ... 72
3. Relevansi keutamaan askese menurut ibu pendiri StMagdalena untuk zaman sekarang bagi para suster FdCC ... 75
a. Kaul ketaatan ... 76
b. Kaul kemiskinan ... 76
c. Kaul kemurnian ... 77
C. Askese dalam abad 21 ... 78
D. Askese jalan hidup Mistik dan Profetik ... 82
1. Hidup Profetik ... 82
2. Hidup Mistik sesuai dengan keinginan St. Magdalena ... 85
BAB IV. Katekese sebagai Salah Satu Upaya Membantu Mempertahankan Keutamaan Askese ... 89
A. Gambaran Umum Katekese ... 89
1. Arti Katekese ... 90
2. Tujuan katekese ... 93
3. Tugas katekese ... 95
B. Peranan Katekese dalam upaya mempertahankan keutamaan Askese ... 96
1 Membantu menghayati keutamaan Askese sebagai warisan dari ibu pendiri ... 96
2 Menyadarkan kembali akan pentingnya mempertahankan Keutamaan Askese dalam panggilan hidup sebagai religius Canossian….97 3. Membantu untuk berani mengungkapkan pengalaman mempertahankan keutamaan askese dalam kehidupan kongkret sehari-hari ... 98
4 Memperbaharui hidup didalam pertobatan yang terus-menerus kepada Allah... 98
C. Beberapa kemungkinan pelaksanaan katekese dalam mempertahankan Keutamaan Askese ... 99
a. Pembinaan terus menerus ... 99
xvi
D. SCP (SHARED CHRISTIAN PRAXIS ) Model Katekese yang sesuai
untuk membantu mempertahankan Keutamaan Askese ... 101
1. Pengertian Shared Christian Praxis (SCP) dan Kekhasan SCP ... 101
a. Pengertian SCP ... 101
1. Shared ... 102
2. Christian ... 103
3. Praxis ... 104
b. Kekhasan SCP ... 105
2. Langkah-Langkah Shared Christian Praxis (SCP) ... 106
a. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual (Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta) ... 106
b. Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Peserta (Mendalami Pengalaman Hidup Peserta) ... 107
c. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani) ... 107
d. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis Antara Tradisi dan Visi ... 108
e. Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan ... 109
E. Usulan Program Katekese Untuk Membantu Mempertahankan .. Keutamaan Askese ... 110
1. Pengertian Program ... 110
2. Tujuan program ... 111
3. Latar belakang penyusunan Program ... 111
xvii
2. Bagi para suster FdCC ... 141
DAFTAR PUSTAKA ... 142
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lagu “ Ambilah Ya Tuhan ... 145
Lampiran 2 : Lembaran cerita “pengorbanan diri sejati ” ... 146
xviii
DAFTAR SINGKATAN A.KITAB SUCI
Seluruh Singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini, mengikuti Kitab Suci
Perjanjian Baru lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta : 2006.
B. DOKUMEN RESMI GEREJA
BSDK : Bertolak Segar dalam Kristus. Instruksi kongregasi untuk tarekat
hidup Bakti dan serikat hidup Apostolik, Roma, tanggal 19 Mei
2002, pada perayaan Pentakosta. Disetujui oleh Paus Yohanes
Paulus II tanggal 16 Mei 2002.
CT : Catechesi Tradendae. ( Penyelenggaraan Katekese). Anjuran
apostolikPaus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan
segenap umat beriman tentang Katekese masa kini, 16 oktober
1979.
EN : Evangelii Nuntiandi (Mewartakan Injil). Himbauan Apostolik
Bapa Suci Paulus VI tentang karya pewartaan dalam zaman modern ,
8 Desember 1975.
KGK : Katekismus Gereja Katolik. Teks acuan untuk katekese yang
bersumber pada hidup iman, diserahkan oleh Paus Yohanes Paulus II
kepada umat beriman dari seluruh penjuru dunia, 11 Oktober 1992.
KHK : Kitab Hukum Kanonik ( Codec Iuris Canonici). Diundangkan oleh
Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 25
Januari 1983.
PC : Perfectae caritatis. Dekrit tentang pembaharuan dan
penyesuaian hidup Religius. Diresmikan oleh Paus Paulus VI pada
xix
VC : Vita consecrata. Seruan apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang
pembaharuan hidup religius, 25 Maret 1996.
C.SINGKATAN LAIN
Art : Artikel
Bdk : Bandingkan
Hal : Halaman
FdCC : Figlia della Carita’Canossiana ( Putri-Putri Cinta Kasih
Canossian)
IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Konst : Konstitusi
PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia
SCP : Shared Christian Praxis
USD : Universitas Sanata Dharma
UR : Unabrigde Rule ( The Rule of congregation of the daughter
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
Hidup religius merupakan suatu cara hidup yang dibaktikan kepada Allah. Allah
memanggil manusia dan manusia menjawab. Jawaban yang diberikan oleh manusia
terhadap tawaran Allah ini bermacam- macam. Salah satunya yakni dengan memasuki
cara hidup bakti. Hidup yang dibaktikan ini merupakan suatu hidup yang berjuang untuk
mengejar kesempurnaan dalam Tuhan ( KHK 573) . Dalam mengejar Kesempurnaan itu
berbagai hal haruslah mendukung. Salah satunya adalah melalui jalan askese. Askese
merupakan salah satu sarana yang penting untuk melatih seseorang dalam menghadapi
berbagai tawaran serta godaan. Dalam dunia yang semakin berkembang ini, yang ditandai
oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, askese sungguh merupakan sebuah nilai
yang perlu diperjuangkan setiap religius dalam menjalankan hidup panggilan dan
perutusan mereka ditengah dunia ini
Paus Yohanes Paulus ke II menghimbau kepada para religius untuk tetap menggali
praktek-praktek askese yang khas bagi tradisi Gereja dan bagi tarekat sendiri. Melalui
himbauan ini para religius diingatkan kembali akan semangat dan tujuan hidup bakti itu
sendiri. Karena itu dalam Vita Consecrata menguraikan bahwa “askese sungguh perlu
sekali, bila para anggota hidup bakti ingin tetap setia terhadap panggilan mereka sendiri
dan mengikuti Yesus pada jalan salib” ( art. 38). Menanggapi hal diatas maka adalah
tersebut melalui anjuran dari pendiri masing- masing mengingat bahwa para religius
sekarang ini hidup dalam dunia modern yang makin hari ikut serta mempengaruhi
perkembangan hidup serta membuat mereka mudah jatuh dalam berbagai hal entah itu
materi, kemakmuran, kenyamanan dan kesenangan duniawi. Sebagai orang - orang yang
terpanggil untuk membaktikan hidup demi kemuliaan Allah. Askese menjadi salah satu
sarana yang dapat membantu para religius untuk mencapai kesempurnaan hidup. Lebih
dari itu askese merupakan sarana bagi setiap pribadi untuk dapat mencapai kekudusan
hidup.
Para suster FdCC merupakan salah satu kongregasi religius yang mendapat karunia
yang khas untuk turut menghidupkan dan mempertahankan keutamaan askese. Melihat
perkembangan zaman sekarang yang semakin maju maka para pimpinan kongregasi
FdCC berusaha dengan mencari berbagai cara agar praktek askese tetap dipertahankan
sebagai sebuah nilai yang relevan bagi para suster kongregasi FdCC dalam menjalani
panggilan hidup mereka,secara khusus dalam menghadapi tawaran dunia yang semakin
hari semakin menantang sesuai dengan wejangan ibu pendiri St. Magdalena dari Canossa.
Sejak awal pendiri Kongregasi para suster FdCC sangat menekankan askese dan
menghimbau kepada para anggotanya untuk dapat mempraktekkan askese dalam
kehidupan harian sebagai orang-orang yang membaktikan diri bagi kemuliaan Allah dan
kebaikan sesama. Askese menjadi bagian penting juga bagi seorang suster FdCC yang
telah merangkul institut mengingat bahwa tujuan utama institut suster- suster FdCC
para suster FdCC ikut ambil bagian dalam menghidupkan askese dengan menyesuaikan
diri mereka dengan sang teladan utama yakni Yesus yang Tersalib, yang melakukan
segala pengorbanan-Nya tanpa memperhatikan diri sendiri. Dalam hal ini terjemahan The
Rules Of Congregation FdCC (1981 : 260 ) mengatakan : “Sungguh tidak tepat apabila
melihat seorang suster FdCC yang suka mencari kesenangan, disamping kepala Yesus
yang bermahkota duri.
Dengan semangat askese yang telah dihidupi oleh ibu pendiri St.Magdalena dari
Canossa ini maka para suster FdCC diajak untuk mempertahankan keutamaan askese ini
dengan mempraktekkan keutamaan askese ini setiap hari dengan kesungguhan hati serta
dengan niat yang tulus dengan tidak selalu mencari keenakkan dan kenyamanan baik
dalam hidup berkomunitas maupun dalam hidup karya. Praktek askese ini begitu penting
sebagai bentuk mengendalikan kecenderungan duniawi yang menjadi unsur kodrat
manusia. Mengingat bahwa para suster FdCC hidup dan berkarya saat ini dalam dunia
yang berkembang yang mana menuntut setiap suster FdCC untuk dapat berani
mengorbankan dan mematikan keinginan-keinginan mereka yang tidak teratur, seperti
cinta diri, kekayaan, kenyamanan dan kehendak mereka sehingga hanya memikirkan
kemuliaan Tuhan saja. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St Magdalena dari Canossa
(2001: 29) mengatakan : “Perlu diterapkan suatu pelepasan total untuk dapat
mempergunakan seluruh waktu, perhatian dan pikiran bagi kemuliaan Allah”.
Di dalam hidup sehari-hari, Para suster FdCC di minta mempersembahkan diri
hanya untuk kemuliaan Allah saja, dengan membiarkan diri mereka dibentuk oleh Allah
yang berkehendak untuk menjadi satu-satunya kekuatan mereka. Semua ini dapat
dijalankan melalui praktek askese. Praktek askese ini sangat penting karena semata-mata
untuk menyenangkan hati Tuhan dan bukan untuk dipuji atau dilihat orang bahwa sebagai
orang yang membaktikan hidup hanya untuk Tuhan para suster
FdCC sungguh - sungguh kudus, tetapi untuk mencapai jalan pengudusan yakni dapat
dicapai melalui askese. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St. Magdalena dari Canossa
(2001: 9 alinea: 3 ) mengatakan : “Jalan pengudusan diri dibangun melalui pengorban
an-pengorbanan kecil hari demi hari yang disediakan oleh Tuhan setiap saat”. Oleh karena itu
para suster FdCC bertanggung jawab untuk senantiasa mengusahakan kekudusan pribadi
mereka melalui setiap peristiwa hidup sehari-hari.
Adalah tidak mudah bagi para suster FdCC untuk melaksanakan keutamaan askese
dalam hidup sehari-hari baik secara pribadi, bersama dalam komunitas serta dalam hidup
karya kerasulan. Dalam melaksanakan keutamaan askese ini para suster FdCC kurang
melaksanakannya dengan kesunguhan hati. Keutamaan askese yang dilakukan oleh para
suster FdCC karena tuntutan dan keterpaksaan atau pun hanya ingin dilihat dan dinilai
baik oleh pimpinan atau sesama suster FdCC dalam komunitas atau pun orang lain yang
dijumpai dalam karya kerasulan. Karena itu yang terjadi bahwa dapat dijumpai seorang
suster FdCC mudah untuk mengeluh, tidak mau untuk berkorban, serta mudah untuk
menggerutu terhadap segala bentuk askese. Akibatnya praktek askese yang dilaksanakan
sesungguhnya yang mengarah kepada Allah. Praktek askese jika disadari dengan
sungguh-sungguh akan dapat membantu para suster FdCC untuk mampu menghadapi
godaan-godaan yang menggiurkan dalam panggilan hidup mereka sebagai seorang
Canossian yang baik. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St Magdalena dari Canossa
(2001: 29 alinea: 5 ) mengatakan :
“Lebih nyaman hidup lepas dari segalanya dan hidup dengan Dio Solo”. Melalui anjuran
dari ibu pendiri ini, para suster FdCC diminta untuk melakukan praktek askese dengan
baik yakni hendaknya para suster FdCC tidak mengeluh mengenai kesempatan
penderitaan meskipun kecil yang mereka temukan dalam rumah maupun
karya kerasulan melainkan mempersembahkan segala yang mereka alami hanya untuk
Tuhan saja.Tuhalah kekutan yang senantiasa membantu dan menuntun mereka.
Praktek askese jika diabaikan dapat menghambat kekudusan hidup. Disatu pihak
praktek askese dapat berhasil namun kurang menampakkan nilai-nilai dan buah-buah
rohani yang sesuai dengan wejangan dari pendiri yang perlu dihayati, dihidupi dan
dipertahankan. Keutamaan askese yang dijalankan oleh para suster FdCC perlulah
dilandasi oleh sikap kesadaran dan kebebasan dalam diri dan bukan karena sebuah
keterpaksaan untuk dilihat oleh orang lain. Dengan demikian askese yang dilakukan oleh
para suster FdCC tidak membawa mereka pada ketergantungan akan hal-hal duniawi yang
dapat mengaburkan nilai-nilai rohani yang terkandung dalam wejangan pendiri. Hal-hal
duniawi yang dapat mengaburkan nilai-nilai rohani yang terkadung dalam wejangan
berperang melawan hawa nafsu. Dalam wejangan ibu pendiri St Magdalena dari Canossa
(2001:30,alinea:2) mengatakan : “Mari kita berusaha untuk lahir kembali secara rohani
dengan melepaskan segala hawa nafsu dan kelemahan-kelemahan sambil berusaha untuk
meraih kesempurnaan sejati”.
Magdalena sebagai ibu pendiri para suster FdCC meminta kepada para pengikutnya
agar berani lahir kembali secara rohani dengan menanggalkan segala
kelemahan-kelemahan untuk dipuji dihormati serta keinginan untuk memiliki harta duniawi yang
dapat mengaburkan tujuan hidup yang mereka kejar yakni kesempurnaan sejati bersama
Kristus. Kesempurnaan dalam Kristus dibangun melalui kepercayaan dan keterbukaan
hati untuk selalu mengandalkan Allah dalam seluruh kehidupan, sebab sangat
membahagiakan memiliki hanya Allah sebagai satu-satunya tumpuan dan pengiburan
(wejangan St. Magdalena dari Canossa., 2001:13, alinea:2)
Inilah yang merupakan suatu hal yang memprihatinkan yang dirasakan oleh tarekat,
mengingat bahwa para suster FdCC hidup dalam dunia modern yang penuh dengan
tantangan. Berbagai tantangan hidup yang dihadapi setiap hari menantang mereka untuk
dapat berani dan terus mempertahankan keutamaan askese sebagai sebuah sarana yang
dapat membantu mereka mengejar kesempurnaan dan kekudusan hidup dengan senantiasa
mengendalikan diri terhadap tawaran-tawaran duniawi yang sifatnya hanya sementara.
Setiap saat para suster FdCC dihadapkan pada tawaran itu.
Dalam terjemahan The Rules of Congregation FdCC (1981: 2) mengatakan bahwa:
bentuk hawa nafsu pada salib”. Ini merupakan sebuah ajakan yang membantu para suster
FdCC untuk senantiasa dapat menjalankan askese dengan baik didalam mengejar
kekudusan dan kesempurnaan hidup bersama Kristus sebagai model dan teladan utama
dalam hidup. Kristus tersalib merupakan sumber kedamaian kekal, sebab dalam diri
Kristus tersalib tercermin segala keutamaan
Kristus Tersalib adalah pusat identitas dan sumber spiritualitas para suster FdCC.
Dialah yang merupakan teladan yang harus direnungkan terus menerus oleh para suster
FdCC guna membentuk hidup mereka sendiri menurut teladan Kristus yang Tersalib yang
menanggalkan segala-galanya kecuali cinta kasih-Nya. Di atas salib Kristus juga
mewahyukan wajah Bapa dan takaran cinta tanpa ukuran. Seperti Kristus tersalib para
suster FdCC dipanggil untuk ikut serta dalam penderitaan Kristus dengan berusaha
menanggalkan segala keinginan akan barang-barang material dan kebutuhan-kebutuhan
yang tidak teratur yang mana dapat merintangi para suster FdCC untuk mengikuti Kristus.
Para suster FdCC diharapkan juga agar mampu mengosongkan diri mereka dan
bergantung hanya kepada Allah saja sebab hanya Dia sajalah yang dapat membantu
mereka didalam mengejar kemuliaan Allah.
Didalam mengejar kemuliaan Allah para suster FdCC diminta untuk senantiasa
memiliki sikap hati yang bebas terhadap mereka semua yang dilayani dengan tidak
mencari kenikmatan-kenikmatan tertentu. Dalam wejangannya St Magdalena dari
Canossa ( 2001: 26) mengatakan ”Kita terpanggil bukan untuk mencari kenikmatan tetapi
menopang Magdalena ibu pendiri untuk dapat membantu para pengikutnya mencari
kemuliaan Allah diatas segalanya melalui pengorbanan-pengorbanan kecil setiap hari
sehingga dengan demikian mereka dapat juga membantu orang lain untuk mencegah
mereka dari dosa. Selain itu para suster FdCC diharapkan dapat meneladani
keutamaan-keutaman selain askese seperti yang telah diwariskan oleh ibu pendiri dengan tetap belajar
dari teladan utama Yesus Kristus Tersalib yang menanggalkan segala-galanya kecuali
cinta-Nya. Cinta tanpa syarat yang mempersembahkan diri-Nya untuk tebusan bagi umat
manusia.
Dalam hal ini Konstitusi Kongregasisuster FdCC mengatakan:
“INSPICE ET FAC SECUNDUM EXEMPLAR” yang artinya pandanglah dan
turutilah teladan-Nya adalah norma hidup yang tak bisa diubah lagi dalam pelaksanaan cinta kasih. Memperhatikan cinta kasih yang terpancar dari kristus tersalib, kita belajar mengasihi dengan cara Tuhan Yesus mengasihi yaitu : dalam kerendahan hati dan ketidakterikatan radikal. Kita berusaha bersatu dengan Dia dan membiarkan setiap kegiatan kita dijiwai oleh Roh-Nya, Roh cinta kasih,
kelemah-lembutan dan kerendahan hati”.
( Kons.1928: 8)
INSPICE ET FAC SECUNDUM EXEMPLAR mengajak para suster FdCC untuk
selalu mengarahkan hidup kepada cinta Kristus Tersalib dan belajar untuk
mempersembahkan diri seutuh-Nya kepada Kristus dengan senantiasa melepaskan
diri dari bentuk-bentuk ketergantungan dimana lebih mementingkan materi,
kemak-muran, kenyamanan, dan kesenangan duniawi melalui praktek askese setiap hari. Dalam
melakukan askese para suster FdCC haruslah dijiwai oleh semangat dan tujuan yang benar
dari askese itu sendiri yaitu membawa segala bentuk hawa nafsu manusia kepada salib,
dengan ikut ambil bagian menyatukan pengorbanan yang di jalankan dengan pengorbanan
Kristus yang tersalib. DalamWejangan St. Magdalena (2001; 30, alinea 4) dikatakan:
Semangat pengorbanan dan salib merupakan semangat pengikut Kristus. Sebagai murid
Kristus para suster FdCC diminta untuk senantiasa mengikuti teladan ibu pendiri
didalam melaksanakan keutamaan askese, yakni dengan rela untuk berkorban sambil
mengarahkan pandangan kepada salib yang memberi kekuatan. Di salib Yesus
mengosongkan diri-Nya untuk menjadi sama dengan manusia (Flp 2:7) yang tak terikat
dengan segala kelemahan dan kerapuhan-Nya. Dalam kelemahan dan kerapuhan-Nya Ia
masuk dalam sejarah umat manusia. Ia secara nyata menyertai manusia dalam kerapuhan
manusia setiap harinya. Sebagai putra Allah, Ia pun belajar untuk tidak terikat terhadap
apa pun yang dapat merintangi diri-Nya melaksanakan perutusan yang dipercayakan oleh
Bapa-Nya. Sebagai putra Allah Ia pun belajar taat sampai mati bahkan sampai mati di
kayu salib (Flp 2:8).
Para suster FdCC juga diharapkan agar dalam menjalani askese hendaknya
senantiasa dijiwai oleh kebajikan Kristus yang Tersalib yang merupakan ungkapan
cinta-Nya yang besar kepada Bapa-cinta-Nya dan kepada manusia. Ungkapan cinta yang
dilambangkan dengan Penyerahan diri-Nya melalui kematian dikayu salib mengajak Para
suster FdCC untuk tidak takut terhadap apa pun, sebab Ia senantiasa menyertai mereka
seperti sabdanya “Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (
Mat 28 : 20 ). Dalam memandang Yesus Kristus yang Tersalib para suster FdCC tidak
sampai wafat disalib. Dalam Wejangan St.Magdalena dari Canossa (2001:16) dikatakan :
“Disalib Yesus tanggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya”. Semangat serta teladan
Kristus yang meninggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya ini, merupakan daya gerak
yang membantu para suster FdCC untuk senantiasa mempraktekan keutamaan askese ini.
Dengan belajar bercermin pada diri Kristus yang Tersalib para suster FdCC
diharapkan untuk berani melepaskan diri mereka dari bentuk-bentuk kenyamanan yang
tidak teratur yang dapat merugikan panggilan mereka sebagai wanita-wanita yang
disucikan. Karena hanya dengan demikian para suster FdCC dapat memusatkan perhatian
mereka kepada cinta akan Allah dan sesama, baik dalam hidup berkomunitas maupun
dalam karya kerasulan yang dipercayakan kepada mereka. Dalam keseharian hidup inilah
para suster FdCC dapat menjalankan praktek askese mereka secara sederhana yaitu
melalui doa pengorbanan dan juga beramal dengan kesungguhan dan ketulusan hati yang
bebas serta dengan sikap yang dijiwai oleh Roh Yesus. Dalam Wejangan St.Magdalena
dariCanossa (2001:1) dikatakan:“Hendaknyakita jiwai setiap perbuatan dan karya dengan
Roh Yesus sendiri yakni Roh yang sangat lembah lembut, sangat pemurah dan sangat
sabar”. Praktek askese jika dijalankan dengan baik akan dapat membantu para suster
FdCC untuk semakin serupa dengan Kristus Tersalib sehingga askese yang mereka
praktekan dapat membawa dampak yang positif pada orang lain baik dalam komunitas
maupun bagi mereka yang dijumpai dalam karya kerasulan yakni semangat untuk
mencintai dan murah hati dalam pengorbanan. Para suster FdCC telah menghidupi
dan dengan meneladani semangat askese yang dijalankan oleh pendiri St Magdalena dari
Canossa, namun bagaimana agar praktek askese ini dapat dipertahankan dan dihidupi
dengan penuh kesadaran dan kebebasan hati sehingga askese itu tetap menjadi sebuah
keutamaan yang memiliki nilai yang tinggi?.
Dengan demikian dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil judul “ASKESE
DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC”.
B.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan
beberapa permasalahan antara lain:
1. Apa saja yang dikatakan tentang askese dalam tradisi Kristiani?
2. Apakah gambaran umum askese menurut wejangan pendiri St Magdalena dari
Canossa?
3. Bagaimana kenyataan askese masa sekarang?
C . TUJUAN PENULISAN
1. Menggali lebih mendalam askese menurut wejangan pendiri St Magdalena dari
Canossa yang menjadi salah satu keutamaan bagi para suster FdCC
2. Menyadarkan para suster FdCC akan pentingnya praktek askese dalam kehidupan
membiara khususnya sebagai seorang suster FdCC baik di dalam komunitas maupun
3. Memberi sumbangan bagaimana agar para suster FdCC tetap setia dalam
mempertahankan,menghidupi dan mempraktekan askese ini sebagai sebuah
Keutamaan telah diwariskan oleh ibu pendiri St.Magdalena dari Canossa.
D. MANFAAT PENULISAN
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Bagi penulis untuk semakin memahami askese menurut wejangan pendiri
St Magdalena dari Canossa.
2. Bagi para suster FdCC agar semakin sadar akan pentingnya praktek askese dalam
kehidupan baik dalam komunitas maupun karya.
3. Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk mengenal askese menurut wejangan
St Magdalena dari Canossa pendiri kongregasi suster FdCC.
E. METODE PENULISAN
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode deskritif analisis yang
memanfaatkan studi pustaka. Studi pustaka penting, karena melalui metode ini, penulis
berusaha menggambarkan secara factual keadaan praktek askese para suster dalam
kongregasi FdCC melalui wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Judul skripsi ini adalah: ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI
ST. MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI
Penulisan skripsi ini akan diuraikan dalam lima bab. Gambarannya adalah sebagai
berikut:
Bab I Pendahuluan. Bab ini meliputi: Latar belakang penulisan, rumusan
masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika
penu-lisan.
Bab II Pada bab II ini penulis akan membahas tentang askese dalam tradisi Kristiani yang meliputi: pengertian Askese secara umum yang meliputi:
askese sebagai latihan, mortification/matiraga, menuju ke hidup Mistik, Mengena-kan
keutamaan dan Mengalahkan cacat cela. Selanjutnya tentang askese sebagai jalan,
yaitu: Jalan kemuridtan, misteri salib dan kekudusan. Selanjutnya mengenai Askese
menurut wejangan pendiri St.Magdalena dari Canossa penulis
akan menguraikan tentang bagaimana askese menurut wejangan pendiri
St.Magdalena dari Canossa yang meliputi: Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati
Tuhan,Semangat Pengorbanan, Salib, serta Usaha dalam mempraktekkan askese.
Bab III ini membahas mengenai : Visi Askese masa sekarang yang meliputi Askese dalam Vita Consecrata, askese dalam konstitusi FdCC, askese dalam abad 21
dan askese jalan hidup Mistik dan Profetik.
Bab IV menguraikan tentang Katekese sebagai salah satu Upaya membantu
mempertahankan praktek askese para suster FdCC dalam wejangan pendiri
St Magdalena dari Canossa melalui katekekese dengan Model Shared Christian Praxis
Peranan Katekese dalam upaya mempertahankan keutamaan askese dan usulan
program bagi usaha mempertahankan praktek askese para suster FdCC dalam
wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa
Bab V Merupakan penutup meliputi kesimpulan dan saran yang dapat membantu
para suster FdCC dalam mempertahankan keutamaan askese baik dalam hidup
Bab II
ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI
“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikuti Aku (Luk 9: 23)”. Inilah yang menjadi dasar Askese dalam tradisi
Kristiani. Menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus merupakan tiga sifat
yang utama yang kiranya dimiliki oleh setiap pengikut Kristus. Yesus sendiri telah
memberi contoh terlebih dahulu kepada kita ketika berkarya hingga akhir
pengorbanan-Nya di salib sebagai bukti kasih-pengorbanan-Nya yang paling besar kepada umat manusia. Dokumen
Konsili Vatikan II tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup religius dalam
Perfectae caritatismenguraikan: “Tujuan hidup religius pertama-tama yakni supaya para
anggotanya mengikuti Kristus dan dipersatukan dengan Allah melalui ingkar diri dan
memanggul salib” ( art. 2). Dengan pola hidup semacam ini kaum hidup bakti dipanggil
untuk dapat meninggalkan banyak hal dan kemudian menyangkal diri dan memanggul
salib. Kaum hidup bakti pun diminta untuk dapat menghidupi ketiga sifat utama ini.
Hidup bakti adalah hidup yang dibaktikan, pada Allah semata. Allah dipandang
sebagai pusat dari seluruh hidup. Dialah yang penting yang melebihi segala harta dan
kenikmatan duniawi. Tujuan dari hidup bakti itu sendiri adalah mengejar kesempurnaan
dengan mengikuti Kristus sebagai sang pemanggil.
Dalam dokumen Gereja: Bertolak segar dalam Kristus art.13, dikatakan : Hidup bakti
tidak mencari pujian dan penghargaan manusia, itu dibayar kembali oleh kegembiraan
tumbuh secara rahasia,tanpa mengharap ganjaran apa pun selain apa yang bakal diberikan
Tuhan pada saat akhir (bdk Mat 6: 6). Setiap umat manusia dipanggil untuk berani
mewartakan kasih Kristus yang besar ini melalui berbagai cara hidup yang diembannya.
Tugas untuk mewartakan kasih Kristus ini merupakan tugas yang utama. Untuk sampai
kepada pewartaan akan kasih Kristus ini sangat dibutuhkan juga semangat pengorbanan
atau askese mengingat bahwa kita hidup dalam dunia moderen yang menawarkan
berbagai jaminan hidup yang penuh arti yakni materi, pujian, kehormatan, kekuasaan dan
penghargaan.
Mengikuti Yesus dengan, menyangkal diri dan memanggul salib terangkum dalam
komitmen untuk hidup murni, miskin dan taat. Melalui kaul kemurniaan kaum hidup
bakti dipanggil untuk mempersembahkan diri secara utuh kepada Yesus dengan hati yang
tak terbagi dan mempersembahkan segala sesuatu hanya kepada-Nya. Kemiskinan
meminta dari kaum hidup bakti untuk mempersembahkan secara bebas apa yang menjadi
kepunyaannya yang melekat pada dirinya. Kaum hidup bakti demi kaul
kemiskinan melepaskan kepemilikan pribadi atas harta benda, menjadikannya milik
bersama. dan kaul ketaatan menuntut adanya sikap kerendahan hati, dimana kaum hidup
bakti tidak lagi dengan bebas melakukan apa yang menurutnya baik dan menyenangkan
untuk dirinya sendiri tetapi melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Allah dengan
mencontoh ketaatan Kristus pada Bapa-Nya.
Dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup
hendaknya mengingat, bahwa mereka pertama-tama telah menanggapi panggilan Allah
dengan mengikrarkan ketiga nasehat Injili, sehingga mereka tidak hanya mati bagi
dosa, melainkan dengan mengingkari dunia hidup untuk mengabdi kepada-Nya” ( art.5).
Panggilan kepada pembaktian hidup menuntut juga sebuah persembahan diri dan
pengikaran diri terhadap hidup dunia dan menjadikan Allah sebagai pusat hidup dan siapa
pun yang menerima anugrah ini diminta untuk menanggapi dengan sepenuh hati.
Anugerah Allah menjadi benar-benar berarti dan menjadi persembahan diri yang
sempurna kalau ditanggapi dan dilaksanakan secara baik dan benar. Oleh karena itu
diperlukan sebuah pelepasan dari berbagai kelekatan terhadap apa saja yang dapat
menghalangi dan merintangi pembaktian hidup kepada Allah. Dalam buku Mistik, devosi
dan Hidup Rohani, Darminta ( 1995: 30) mengatakan: “Hidup yang dibaktikan kepada
Allah itu tergantung dari rasa bakti yang dianugerahkan dan ditanamkan oleh Allah
didalam hati manusia. Rasa bakti kepada Allah itu tumbuh, sejauh hati itu tetap terbuka
terhadap sapaan dan sentuhan Allah.”
Setiap pribadi yang telah dianugerahi panggilan khusus untuk menjadi
imam, biarawan dan biarawati dipanggil untuk hidup menurut kehendak Tuhan dan
menyerahkan hidup kepada-Nya dan dengan demikian disatukan dengan Tuhan sendiri.
Allah memanggil setiap orang secara pribadi oleh karena itu panggilan merupakan juga
tanggung jawab dari setiap pribadi.
Mereka yang telah membaktikan hidup secara khusus ini dituntut untuk
melalui devosi misalnya saja devosi kepada hati kudus Yesus, Bunda Maria atau kepada
Santo dan Santa pelindung masing-masing. Melalui devosi diharapkan dapat membantu
seorang religius untuk menghayati panggilan hidupnya dan membangun persatuan
dengan mencintai orang lain dengan cinta yang murni.
Cinta yang murni kepada sesama hendaknya dibuktikan dengan tindakan kongkret
bukan dengan perkataan belaka. Tindakan kongkret yang dimaksud disini adalah dengan
saling berbagi dalam suka, dan duka, saling tolong menolong serta siap sedia untuk
berkorban bagi sesama tanpa memperhitungkan balasannya. “Tidak ada kasih yang lebih
besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya”
(Yoh 15:13). Yesus telah memberikan teladan kepada kita. Sebagai murid-Nya kita
diminta untuk dapat memberikan diri, waktu, tenaga dan pikiran yang kita miliki kepada
sesama yang membutuhkan dengan penuh cinta dan ketulusan hati tanpa
memperhitungkan untung ruginya bagi diri sendiri.
PENGERTIAN ASKESE SECARA UMUM 1. Askese sebagai latihan
Kata „Askese’ sudah sejak awal dipakai terutama oleh para pertapa ditepi gurun
pasir di wilayah Mesir. Para religius abad pertengahan pun menghargai praktek askese
untuk menunjang karya apostolik. Kata askese dalam kamus Filsafat berasal dari
bahasa Yunani “ Asketikos” dari kata kerja” askein” yang berarti seseorang yang
menjalankan berolah tubuh, disiplin. Secara Etimologis istilah ini juga berarti usaha
Teologi kata askese diartikan sebagai jalan dan cara yang ditempuh dan dipakai oleh
orang Kristiani dibawah bimbingan Roh kudus untuk memurnikan diri dari dosa dan
menghilangkan halangan dijalan mengikuti Kristus dengan bebas (O‟Collins dan
Farrugia,1991:34). Askese yang baik dan benar akan melahirkan kedewasan rohani
yang baik dan kematangan pribadi yang kokoh.
Dicker dalam bukunya yang berjudul Bertobat dan Askesis (1972:
34) mengungkapkan Askese merupakan tindakan atau perbuatan matang dari orang
dewasa yang karena alasan-alasan religius menyangkal dorongan-dorongan serta
keinginan-keinginan pribadinya. Askese menjadi simbol dari manusia yang semakin
mencari penyempurnaan rohaninya atau yang mencari dan mengejar keutamaan. Tidak
dapat dipungkiri lagi bahwa, pada zaman sekarang ini para religius pun yang memiliki
keteraturan dalam hal hidup rohani dan hidup bersama selalu saja mengalami kekoson
gan, kejenuhan dan kebosanan dalam hidup membiara. Bukan tidak mungkin hal ini
terjadi. Salah satu yang menjadi penyebab terjadinya hal semacam ini adalah
kurangnya praktek askese. Askese hanya dipandang sebagai sebuah kesempatan yang
dilakukan pada masa prapaskah untuk dapat menghayati sengsara Tuhan Yesus Kritus
dan tidak lagi dilihat sebagai sebuah latihan dalam membangun relasi yang intim
dengan Allah, sekaligus sebagai sebuah latihan yang dapat membantu kemajuan dalam
hidup rohani (Sardi, 03,2013:8).
Relasi yang intim dengan Allah dapat dibangun melalui doa, meditasi dan
sehari-hari. Laku asketis memiliki pengaruh penting bagi kehidupan doa. Pengaruhnya tidak
hanya bagi kemajuan dan perkembangan serta kelancaran dalam doa tetapi berdampak
pada perubahan hidup dari kebiasaan berdoa (Sardi, 03,2013: 9). Doa menjadi ruang
gerak tersendiri untuk dapat membangun sebuah persatuan batin yang kuat sekaligus
menimbah kekuatan dari Allah untuk dapat melaksanakan praktek askese. Kesempatan
untuk melakukan praktek askese dapat ditemukan tidak hanya dalam latihan rohani
tetapi juga kesempatan untuk beraskese dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
melalui pengorbanan-pengorbanan kecil.
Askese juga menyediakan ruang untuk dapat melatih tubuh dari segala bentuk
keinginan yang tidak teratur. Zaman digital menyediakan segala sesuatu dengan serba
instan. Ditengah situasi semacam ini pula keinginan untuk mengkonsumsi berbagai
jenis makanan menjadi semakin tidak menentu. Sebut saja mengatur pola makan.
Askese menyediakan ruang tersendiri untuk dapat mengatur keinginan tubuh
khususnya dalam mengatur pola makan. Dalam buku pertobatan melalui padang
gurun dan malam gelap, Darminta ( 2006 : 25 ) mengatakan:
Bujukan selalu menawarkan hal-hal yang baik dan menyembunyikan hal-hal yang jelek. Nyatanya setan tidak mengatakan akibat dari makan buah larangan dan hanya menyampaikan keunggulannnya bahwa Adam dan Hawa akan serupa dengan Allah,tahu yang baik dan jahat.Tidakkah seperti itu pula bujukan yang disampaikan oleh supermi orang dibujuk dengan kata-kata yang memikat.
Bujukan selalu menawarkan segala sesuatu yang instan dan membuat orang
manja. Layaknya mie instan tinggal disedu dengan air panas dan siap untuk dinikmati
askese, dengan benar yakni kalau dia menyadari serta memiliki tujuan yang jelas yakni
jika dia tahu kapan harus makan, dimana dia harus makan atau menyadari bahwa mana
makanan yang baik yang dapat membantu dalam menunjang karyanya dan mana yang
perlu dikurangi sebagai bentuk kepedulian terhadap yang lain. Seorang atlet
melaksanakan askese dengan benar jika ia tahu pola makanan yang sehat dan bukan
makan secara sembarangan yang mana dapat membantunya untuk dapat mencapai
garis finish dengan baik dalam perlombaan olahraga. Dengan melakukan praktek
askese semacam ini diharapkan dapat melatih kedewasaan diri dan juga sebagai salah
satu bentuk latihan rohani untuk dapat membangun disposisi batin dengan Allah,
sebab Perubahan datang dari Allah dan bukan dari manusia (Arnold, 2003: 1).
Banyak kesempatan untuk melakukan askese,yang dibutuhkan hanyalah
kemauan, kesadaran dan pengorbanan diri serta motivasi yang jelas dalam melakukan
askese tersebut. Dalam melaksanakan askese tersebut setiap kita dituntut untuk
melepaskan diri dari kehendak sendiri dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah
karena kita adalah anak-anak-Nya. “Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah
anak-anak Allah” (Rm 8 : 14) rasul Paulus melukiskan ini untuk mengajak kita agar
senantiasa membiarkan diri dipimpin oleh Allah dengan berani menyerahkan diri dan
keinginan secara bebas. Penyerahan diri dan keinginan ini tidak memusnahkan atau
mengacaukan panggilan religius seseorang melainkan membuatnya menemukan
yang dilakukan dengan melepaskan diri dari kehendak dan keinginan sendiri
memberikan kekuatan dalam perjalanan panggilan hidup religius.
Tantangan dalam hidup berkomunitas dimana terdapat perbedaan pendapat dan
juga usia menjadi tempat tersendiri untuk melatih praktek askese. Ketika bel
berbunyi di pagi hari seorang religius memilih untuk bangun dari pada tetap tidur.
Seorang religius yang muda dalam usia melakukan askese jika ia berani meminta
maaf terlebih dahulu kepada sesama temannya dalam komunitas ketika berbuat
kesalahan. Seorang religius yang sedang studi melakukan askese dengan benar jika
jam rekreasi berada bersama dengan teman-teman komunitas di ruang rekreasi dan
bukan sebaliknya melakukan pekerjaan yang menyenangkan dirinya.
Dengan melatih diri melalui askese dalam hal-hal sederhana ini mengajak seorang
religius untuk terus-menerus meyakini jati diri dan kehidupan rohaninya dengan
Tuhan. J.Nouwen dalam bukunya yang berjudul Memasuki ruang Batin (1998: 37)
mengungkapkan “Hidup rohani mengajak kita untuk terus menerus meyakini jati diri
kita”. Kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi oleh Allah sendiri. Sebagai anak kita
diajak untuk dapat membangun relasi kasih dengan-Nya dalam setiap dimensi
kehidupan ini, dengan membiarkan diri dicintai oleh Allah dan mematikan segala
bentuk keinginan yang tidak teratur agar persatuan kita dengan Allah menjadi semakin
erat. Persatuan yang erat dengan Allah melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik
yang mengarah kepada kemuliaan Allah dari kepentingan dari setiap pribadi manusia
2. Mortification/matiraga
Lowery Daniel dalam bukunya yang berjudul Bertumbuh dalam keutamaan
Kristiani ( 2003: 77) mengungkapkan mortification Dalam Bahasa Inggris berasal dari
kata bahasa latin “mors”, yang berarti “mati”/ kematian. Dalam bahasa Inggris
mortification kadang kala mengacu kepada suatu penghinaan atau keadaan yang
memalukan. Dalam arti yang lebih mendalam mortification mengacu kepada
keutamaan Kristen yaitu menyangkal diri dengan secara sadar menolak nafsu dan
keinginan yang tidak teratur. Matiraga juga berarti mati terhadap dosa dan hidup untuk
Allah. Hal ini paling jelas dikatakan dalam surat Paulus kepada jemaat di Rm 6:11
“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi
dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”. Setiap kita dipanggil
sekaligus juga ditantang untuk berani mematikan keinginan-keinginan yang tidak
teratur yang bertentangan dengan kehendak Allah sendiri seperti keinginan untuk
mempertahankan sesuatu seperti cinta diri, harta benda dan kepemilikan berlebihan,
keinginan untuk memiliki dan dimiliki oleh orang tertentu seta memiliki jabatan
tertentu.
Seseorang yang melakukan praktek matiraga dengan baik dalam kehidupan
bersama dengan orang lain tidak akan membiarkan diri untuk ikut-ikutan dalam
membicarakan kelemahan sesamanya, sebab dengan membicarakan kelemahan orang
lain sama sekali tidak ada manfaat atupun maknanya. Jika kita boleh berbicara dan ada
(Thomas,1997:17). Dengan kata lain bahwa pembicaraan yang kita lakukan antara satu
dengan yang lain senantiasa mengarah kepada hal-hal yang baik, saling membantu dan
saling membangun serta memberi motivasi agar satu dengan yang lain dapat
bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang dalam iman bukan sebaliknya untuk
saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Kesadaran semacam ini pada akhirnya
akan membantu seseorang untuk mengadakan pembicaraan secara sehat yang mana
membuat satu dengan yang lain saling mengenal dan kemudian pada akhirnya dapat
saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Di sisi lain matiraga menuntut seseorang untuk melepaskan diri dari keinginan
untuk memiliki banyak barang, melihat atau menonton film-film atau pun majalah
yang tidak membantu, mengkonsumsi makanan secara berlebihan hanya untuk
memuaskan rasa dan bukan mengkonsumsi makanan karena kebutuhan, hal ini dapat
menyebabkan hati manusia menjadi tidak tenteram karena selalu saja merasa kurang
dalam segala hal. Berulang kali hati kita menjadi tidak tentram apabila kita
menginginkan sesuatu secara tidak teratur (Thomas,1997: 11). Agar dapat memiliki
hati yang tenteram maka diperlukanlah sebuah sikap yang senantiasa mengatakan
cukup untuk segala kebutuhan-kebutuhan serta keinginan yang berlebihan. Dengan
bebas melepaskan serta menolak segala bentuk keinginan yang tidak teratur agar hati
kita senantiasa terarah kepada Allah yang menyelenggarakan segala sesuatu dalam
Dalam melaksanakan matiraga tentunya setiap kita ditantang dengan ambisi pribadi
maupun keinginan-keinginan yang bertentangan dengan hal-hal yang baik. Namun
yang perlu diingat adalah dalam melaksanakan matiraga diperlukan juga motivasi
yang jelas yang mana menghantar seorang religius untuk dapat mengalami
pengalaman kasih bersama dengan Allah. Pengalaman akan Allah dapat membantu
seseorang untuk menyatukan segala keinginan yang tidak teratur dengan keinginan
Allah sendiri. Dengan demikian membuat dia untuk senantiasa bersyukur atas Rahmat
Allah yang diterima bagaimana pun kecilnya supaya dapat pula menerima yang lebih
besar (Thomas,1997: 88). Santo Paulus dengan hidup rohani dan pelayanan yang
sedemikian mengagumkan menghimbau kepada jemaatnya di Efesus untuk senantiasa
mengucap syukur atas segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah
dan kepada Bapa. Allahlah yang menyelenggarakan segala sesuatu bagi kita melalui
perantaraan putra-Nya Yesus kristus ( Ef 5 : 20). Segala pemberian yang kita terima
apa pun bentuknya hendaknya senantiasa membantu kita kepada kesadaran untuk
menggantungkan diri kepada Allah. menggantungkan diri kepada berarti orang juga
siap untuk melepaskan segala sesuatu yang merintangi dirinya secara bebas dan
membiarkan Allah untuk meraja dalam hidupnya.
Matiraga juga banyak diungkapkan dalam kitab suci Perjanjian Baru. Yesus
sendiri mengatakan bahwa “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan
rumahnya saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya,
yang kekal”(Mat 19: 29). Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita bahwa untuk
memperoleh hidup yang kekal kita perlu untuk lepas bebas dan tidak terikat pada
keluarga atau benda yang dimiliki, melainkan kita diajak menyerahkan diri
kepada-Nya, karena hanya dengan demikianlah kita dapat melayani orang lain dengan bebas.
Janganlah kita bersandar atas diri sendiri, melainkan taruhlah harapan kita hanya
kepada Allah (Thomas,1997: 12). Allah menjadi harapan hidup kita semata. Allah
menjadi sandaran utama dan sekaligus menjadi kekuatan yang menopang kita disaat
hati kita mulai goyang akibat pilihan hidup yang menawarkan seribu satu kenikmatan.
Yang diperlukan adalah iman yang kuat yang senatiasa percaya dan mengandalkan
Allah sebagai satu-satunya penolong yang dapat membantu kita untuk menghadapi
segala kesulitan yang hadir dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Dalam
menghadapi kesulitan tersebut kita pun diajak untuk bersyukur terhadap setiap hal
yang terjadi dalam hidup kita. Kepada jemaatnya diTesalonika Paulus menasehati
mereka agar mereka senantiasa bersyukur terhadap segala hal, sebab itulah yang
dikehendaki oleh Allah bagi kamu (1Tes 5:18).
3. Menuju ke hidup Mistik
Hidup kasih yang berdimensi kontemplatif dan apostolik itu sedemikian kaya dan
luas, karena merupakan hidup Allah sendiri yang tak terselami dan tak terangkum
dalam hidup manusia (Darminta,1995: 17). Allah adalah kasih dan Ia memanggil
manusia karena kasih-Nya yang besar kepada manusia. Untuk menanggapi kasih Allah
membantunya mengarahkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Ada berbagai cara dan
jalan menuju kepada persatuan dengan Allah yang adalah sumber dari kesempurnaan
cinta kasih tersebut. Dalam keadaan apa pun setiap manusia Kristiani dipanggil untuk
mengarahkan hidup kepada Allah, bersatu dengan Allah dan tinggal di dalam
hadirat-Nya, sebagai sang pemberi kehidupan.
Tinggal di dalam kasih Allah berarti Allah ada dalam diri setiap pribadi yang
dipanggil. Ia hadir menyapa dan meneguhkan dalam situasi hidup. Karena Allah di
dalam kita maka kita pun diharapkan pula untuk tinggal di dalam-Nya (1Yoh 4 : 16 b).
Inilah hidup mistik. Hidup ini dapat kita hayati di dunia lewat pengabdian kita
(Darminta,1995: 18). Kesatuan hidup dengan Allah didunia ini pada hakekatnya ialah
tinggal dalam kasih-Nya, karena Allah sendiri adalah kasih. Untuk menghayati
kesatuan dengan Allah itu, Allah berkenan mengutus putra-Nya yang menjadi manusia
dan tinggal diantara kita (Yoh 1: 14). Jika Allah tinggal diantara kita, maka tidak ada
lagi alasan untuk bermegah diri dalam segala kelemahan dan juga tidak alasan lagi
untuk senantiasa mengejar keinginan-keinginan yang dapat menghalangi persatuan
dengan Allah. Semakin seseorang menjalankan praktek askese ia semakin masuk
dalam pengalaman mistik tersebut. Dalam pengalaman mistik tersebut sisi negatif
untuk dapat mengejar nafsu duniawi, rasa sakit dan tidak nyaman seolah-olah tidak
ada lagi yang ada hanyalah keinginan atau hasrat untuk senantiasa bersatu dan
mempersatukan diri dengan Allah. Oleh karena itu dalam kehidupan bersama setiap
penaklukan dorongan yang dapat menghalangi manusia itu sendiri menuju kepada
persatuan yang mesra dengan Allah.
Pengalaman mistik Paulus selalu terarah kepada Kristus yakni kepada wafat dan
kebangkitan-Nya. Hal itu paling jelas dikatakan secara dalam Flp 3:10 “Yang
kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekuatuan dalam
penderitaan-Nya”. Segala-galanya dilepas dan ditinggalkan, supaya memperoleh
Kristus dan berada dalam Dia (Flp 3:8-9). Seluruh pengalaman mistik Paulus
senantiasa terfokus kepada Kritus yang disalibkan karena kelemahan, namun hidup
karena kuasa Allah 2Kor 13:4 (Harjawiyata,1987: 37). Santo Paulus dalam suratnya
kepada umat di Galatia menulis, “ Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah
menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”
( Gal 5:24), maka untuk menjadi pengikut Kristus orang diharapkan untuk mampu
mematikan bahkan menyalibkan segala kelemahan diri yang mengikatnya untuk
menjadi pengikut Kristus. Dalam hal ini kedengarannya tidak masuk akal tetapi
maksud utamanya amatlah sangat penting yaitu memupuk kehidupan rohani yang
mana menghantar seseorang kepada pembaharuan kodratnya sebagai manusia agar
menjadi serupa dengan Kristus dan semakin menyatukan kehidupan dengan-Nya.
Persatuan itu juga dapat dicapai dengan saling menaruh pikiran dan perasaan yang
terdapat dalam Kristus Yesus (Flp 2:5). Dengan mengenakan hidup Yesus dan
melakukan yang diperbuat oleh Yesus inilah jalan menuju kesatuan dengan Allah
Kesatuan dengan Allah ini memanggil kita juga untuk membangun kesatuan kasih
dalam persaudaraan satu sama lain. Kesatuan kasih persaudaraan ini memanggil kita
juga untuk mengikuti-Nya, membangun komunitas bersama dengan penuh kesatuan
kasih yang menghantar kita kepada kesatuan dengan-Nya sehingga dunia mengakui
bahwa kita ini adalah murid-murid-Nya, seperti yang diungkapkan oleh Yesus sendiri
dalam doa-Nya “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau Ya Bapa
ada dalam Aku dan Aku dalam Engkau, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang
mengutus Aku (Yoh 17: 21). Untuk dapat menghayati perutusan kita sebagai
murid-murid Kristus dan membangun kesatuan dengan-Nya membutuhkan perjuangan dan
siap untuk menderita. Kedua sikap ini dibutuhkan agar semakin eratlah kesatuan kita
dengan Allah. Jika kesatuan diantara kita kuat, hal ini akan bersinar dalam dunia
(Arnold, 2003: 256). Membangun kesatuan kasih membutuhkan kepercayaan bahwa
Allah beserta kita dan tinggal diantara kita. Ia senantiasa hadir dan menyapa kita lewat
setiap peristiwa hidup kita, yang dibutuhkan adalah keterbukaan hati untuk
mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Nya.
Untuk menghayati kesatuan dengan Allah itu juga, maka ia berkenan mengutus
putra-Nya menjadi manusia dan tinggal diantara kita (Yoh 1: 14 ). Dia adalah
terang dunia (1Yoh 1: 5), dalam terang itu ada kebenaran dan hidup (Yoh 14: 6 ).
Karena Allah adalah kebenaran dan hidup maka Ia senantiasa memanggil kita untuk
tinggal dalam kebenaran dan melakukan perbuatan-perbuatan yang
mengandung kasih, pengorbanan, kerendahan hati, kesederhanaan dan ketulusan hati.
Semua ini dapat dicapai apabila kita senantiasa tinggal dalam Yesus. Jika kita tinggal
dalam Yesus, kita akan menemukan keaslian dalam bentuknya yang paling jelas
(Arnold, 2003: 109).
Kesatuan akan Kristus juga mendorong kita untuk dapat menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat dalam kristus (Flp 2:5). Menaruh pikiran dan perasaan menurut
Filipi ini menegaskan bahwa kesatuan dengan Allah membutuhkan kesatuan dalam
pemikiran dan memiliki satu perasaan yakni melaksanakan kehendak Allah.
Mengenakan hidup Yesus dan melakukan yang dikehendaki-Nya merupakan jalan
persatuan dengan Dia sendiri, jalan mistik kita (Darminta,1995: 21). Kehidupan Yesus
merupakan bukti nyata kesatuannya dengan Allah. Ia senantiasa menekankan kepada
kita untuk membangun kesatuan yang terus-menerus. Dan kesatuan yang pertama
yang diinginkan-Nya agar kita membangun kesatuan dengan Allah sendiri, seperti
kesatuan antara Ia dan Bapa-Nya. Kemudian kita diajak pula untuk membangun
kesatuan dengan sesama. Kesatuan sangat penting diusahakan, sebab kita tidak dapat
memisahkan pengabdian kepada Yesus dari pengabdian kepada saudara-saudara kita
(Arnold, 2003: 155).
4. Mengenakan keutamaan dan mengalahkan cacat cela
Usaha untuk mengenakan keutamaan dan mengalahkan cacat cela merupakan
kerinduan setiap manusia di dalam mengusahakan kekudusan hidup. Kekudusan tidak
dalam pertobatan (seri Gedono 11: 50). Hal ini dimaksudkan untuk menyadarkan
kepada kita bahwa setiap saat kita dipanggil kepada pertobatan. Pertobatan merupakan
karya Allah. Melalui pertobatan Allah membalikkan hati kita kepada-Nya (
KGK, 1998 : 363). Pertobatan juga berarti mempersembahkan diri sendiri kepada
Allah yang memberi pengampunan dan pembebasan dari dosa (Arnold, 2003: 36).
Dengan kata lain orang yang memiliki keterbukaan hati akan senantiasa memandang
kepada Allah yang adalah asal dan tujuan hidup. Karena Allah merupakan asal dan
tujuan hidup maka kita diundang ke dalam pesatuan dengan-Nya. Untuk dapat
membangun persatuan dengan Allah diperlukan suatu sikap hati yang berani
mengakui kesalahan dihadapan Allah dan bertobat. Allah menghendaki agar kita
tinggal di dalam kasih-Nya. Tinggal didalam kasih Allah berarti siap untuk diubah dan
berubah menuju kepada kehidupan yang lebih baik bersama dengan Yesus Kristus
sebagai sang juruselamat kita.
Yesus sendiri menyerukan supaya bertobat “Bertobatlah sebab kerajaan Allah
sudah dekat” (Mat 4:17). Ajakan untuk bertobat ini merupakan ajakan membaharui
diri, melepaskan diri dari keinginan yang membelenggu hidup manusia serta
senantiasa sadar akan setiap perbuatan maupun keinginan diri yang berlebihan dan
mau kembali kepada Allah mengakui kelemahan diri dihadapan-Nya. Pertobatan tidak
berarti menyiksa diri sendiri ,di adili oleh orang lain melainkan menjauhkan diri dari
korupsi, kekayaan,nafsu duniawi dan membiarkan hati digerakkan oleh suasana