• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC SKRIPSI"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

(1)

ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

OLEH :

FRANSISKA YOSEFINA NUFA

NIM: 091124034

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Dengan rasa syukur yang tiada terkira, skripsi ini kupersembahkan kepada

Para Suster Kongregasi Putri-Putri cinta kasih Canossian Provinci Devine Mercy

Indonesia. Bagi keluargaku, bagi Para Suster dan adik-adik postulan dalam

Komunitas Yogyakarta yang telah mendukung dan memberi semangat melalui doa,

(5)

v

MOTTO

“Those Who Hope More Will Obtain More”

(Siapa yang Paling Berani Berharap Dialah Yang Akan Paling Banyak Menerima)

(St. Magdalena dari Canossa)

“Sebab kepada-Mu Ya Tuhan, aku berharap Engkaulah yang akan

menjawab,Ya Tuhan Allahku”

( Mzm. 38 : 16 )

“Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman”

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 7 Juli 2014

Penulis,

(7)

vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Fransiska Yosefina Nufa

NIM : 091124034

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC. Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata

Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,

mengelolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas,

dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan

akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada saya,

selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian penyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta, 7 Juli 2014

Yang menyatakan,

(8)

viii

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI

ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER

KONGREGASI FDCC”. Judul Skripsi ini dipilih berdasarkan Fakta akan

pentingnya Askese bagi para suster FdCC sebagai warisan dari ibu pendiri St.Magdalena Dari Canossa sebagaimana tersirat dalam wejangannya. Para suster FdCC telah menghidupi askese itu sendiri baik secara pribadi,bersama dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan dengan meneladani sang teladan utama yakni Kristus Tersalib dan dengan meneladani semangat askese yang dijalankan oleh pendiri St Magdalena dari Canossa. Namun kenyataannya askese yang dijalankan oleh para suster FdCC zaman sekarang pelan-pelan mulai memudar. Ini disebabkan karena para suster FdCC kurang menyadari akan pentingnya nilai dari sebuah askese. Askese yang dilakukan hanya semata agar dilihat dan dipuji oleh pimpinan atau pun anggota komunitas lainnya.

Askese jika disadari dengan sungguh-sungguh akan membantu para suster FdCC untuk mengendalikan kecenderungan duniawi yang menjadi unsur kodrat manusia serta dapat membantu meluruskan semua keinginan para suster FdCC yang tidak teratur dengan ikut ambil bagian menyatukan pengorbanan yang dijalankan dengan pengorbanan Kristus yang Tersalib. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi membuat praktek askese menjadi tidak mudah untuk dilaksanakan mengingat berbagai tawaran menarik yang menuntut banyak anggota FdCC untuk berani memilih. Oleh karena itu berbagai cara dan usaha di lakukan agar askese tetap menjadi keutamaan tetap relevan sebagai warisan ibu pendiri. Salah satunya melalui usaha mempertahankan dengan tetap mempraktekannya secara terus menerus secara pribadi baik dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan yang ditopang dengan doa,amal ,pengorbanan dan matiraga.

Usaha ini pada intinya merupakan proses perkembangan dan pertumbuhan bagi para suster Fdcc didalam mempertahankan keutamaan askese sebagai warisan ibu pendiri sebagaiaman tesirat dalam wejangannya. Untuk membantu para suster FdCC mempertahankan keutamaan askese sebagai warisan pendiri penulis mengusulkan program pembinaaan melalui katekese model SCP ( Share Christian Praxis) model ini merupakan salah satu model katekese yang cocok

sebab di dalamnya para suster FdCC

dapat saling berbagi pengalaman bersama, berefleksi, berdialog, saling menden garkan

(9)

ix personal and community in their ministry. They took the spirit of Jesus Christ who was crucified and follow the ascetic spirit of St Magdalen. But, in fact nowadays the ascetic spirit for the sister is going down. It is because of the sister do not aware so much about the importance of ascetic life in their journey as sister and do not live it out in their daily life. They just practice or do it as the formality and just to follow the rule.

If the sister really aware about the meaning of ascetic life, it may help them to control the personal desire as human being. It may help them to have self-discipline and participate or united their self-sacrifice with self-sacrifice of Jesus Christ on the cross. The development of technology in our world today challenges the sister to have strong motivation and commitment to live out the ascetic spirit. The changes of our world today influence the sister to see that ascetic life is no longer interested for them to choose. So that, the writer found that it is important to take some way to make the ascetic life become alive for the sister in our global world. It is the invitation to see and reflect on the spirit of our founder, how she lived out the ascetic life in her daily life as the sister. In spite of learning from the founder, as the member of FDCC, everybody should have the strong commitment to live it out both personal or in the community. They may do it by their ministry, prayer, fast and ascetic.

The work of ascetic life is the process of development and growing toward the maturity in self-sacrifice for the FDCC sister to live out the virtue of

ascetic as the heritage of the founder trough her “wejangan”. In order to help

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah Bapa yang Maha kuasa atas berkat dan Rahmat

kasih-Nya yang besar yang senantiasa menyertai dan membimbing penulis

sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC.

Penulis berharap semoga skripsi ini memberikan sumbangan yang baik bagi

para suster FdCC di dalam mempertahankan keutamaan askese sebagai

keutamaan yang diwariskan oleh St. Magdalena dari Canossa sebagai ibu pendiri

sebagaimana tertulis dalam wejangannya bagi hidup panggilan dan karya

perutusan.

Penulisan skripsi ini sangat dibantu dan didukung oleh banyak pihak baik

secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu dari kedalaman hati

yang tulus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. J. Darminta,SJ selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan

waktu dalam membimbing penulis dan memberikan masukan serta kritikan

sebagai motivasi bagi penulis dalam menuangkan gagasan-gagasan untuk

penulisan skripsi ini dengan penuh kesabaran.

2. Dr.C.B.Putranta, SJ selaku dosen penguji ke II dan juga sebagai dosen

pembimbing akademik yang telah memberikan perhatian dan mendukung

(11)

xi

3. Bapak Y. H Bintang Nusantara, SFK, M. Hum Selaku dosen penguji III yang

telahmendamping dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan penulisan

skripsi ini.

4. Segenap Staf Dosen dan karyawan Prodi IPPAK yang telah

mendidik, membimbing dan membekali penulis dengan berbagai pengetahuan

dan ketrampilan bagi penulis selama studi hingga selesainya skripsi ini.

5. Pimpinan Provincial berserta Dewan kongregasi suster FdCC, yang telah

memberikan kesempatan kepada penulis untuk studi di IPPAK-Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta serta atas dukungan melalui doa, dan cinta kasih

yang tulus kepada penulis.

6. Pimpinan komunitas beserta dewan lokal, teman-teman suster dan adik-adik

postulan komunitas Yogyakarta yang telah mendukung penulis dengan

doa, cinta dan perhatian sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan

lancar.

7. Teman-teman Mahasiswa khususnya angkatan 2009 yang turut berperan

dalam memberi perhatian dan semangat, sehingga penulisan skripsi ini dapat

diselesaikan dengan baik.

8. Segenap anggota keluargaku mama, saudara-saudariku serta para kerabat

keluarga lainnya yang senantiasa mendukung dan memotivasi penulis dalam

menjalani panggilan hidup sebagai suster Canossian dan dalam melaksanakan

(12)

xii

dengan cinta dan perhatian sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan

dengan baik.

9. Kedua sahabat baikku Frater Ferdinandus Supandri, Sx dan Frater Gordianus

Afri, Sx yang telah memotivasi dan membantuku sehingga penulisan skripsi

ini dapat terselesaikan .

10.Saudaraku para Frater Kongregasi SS.cc yang dengan ketulusan hati telah

membantuku sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

11. Semua pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, yang

selama ini telah memberikan dukungan, sehingga penulisan skripsi ini dapat

berjalan dengan lancar.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini

dikarenakan berbagai keterbatasan. Oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati

penulis mengharapkan kritik, saran serta masukkan yang membangun dari semua

pihak demi perbaikkan lebih lanjut. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini

dapat membantu dan sekaligus memberikan manfaat bagi semua pihak khususnya

bagi para suster FdCC.

Yogyakarta, 7 juli 2014

Penulis,

(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xviii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG ... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 11

C. TUJUAN PENULISAN ... 11

D. MANFAAT PENULISAN ... 12

E. METODE PENULISAN ... 12

F. SISTEMATIKA PENULISAN ... 12

BAB II. ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI ... 15

A. Pengertian Askese secara umum ... 18

1. Askese sebagai latihan ... 18

2. Mortification/matiraga ... 23

(14)

xiv

4. Mengenakan keutamaan dan Mengalahkan cacat cela ... 30

B. Askese Sebagai Jalan ... 33

1. Kemuridan ... 33

a. Pengertian kemuridtan secara umum ... 33

b Syarat-Syarat kemuridtan ... 34

c. Pelepasan dari Kelekatan tak teratur ... 43

C.Askese menurut wejangan pendiri St. Magdalena dari Canossa ... 45

1. Sejarah singkat St. Magdalena Dari Canossa ... 45

2. Askese menurut St. Magdalena dari Canossa ... 48

a.Untuk menyenangkan hati Tuhan dalam dua aspek ... 49

1. Aspek Eksternal ... 49

2. Aspek Internal ... 50

b. Pengorbanan ... 51

c. Salib ... 53

3. Usaha dalam mempraktekan Askese bagi para suster FdCC ... 54

(15)

xv

1. Keheningan ... 70

2. Pertobatan ... 72

3. Relevansi keutamaan askese menurut ibu pendiri StMagdalena untuk zaman sekarang bagi para suster FdCC ... 75

a. Kaul ketaatan ... 76

b. Kaul kemiskinan ... 76

c. Kaul kemurnian ... 77

C. Askese dalam abad 21 ... 78

D. Askese jalan hidup Mistik dan Profetik ... 82

1. Hidup Profetik ... 82

2. Hidup Mistik sesuai dengan keinginan St. Magdalena ... 85

BAB IV. Katekese sebagai Salah Satu Upaya Membantu Mempertahankan Keutamaan Askese ... 89

A. Gambaran Umum Katekese ... 89

1. Arti Katekese ... 90

2. Tujuan katekese ... 93

3. Tugas katekese ... 95

B. Peranan Katekese dalam upaya mempertahankan keutamaan Askese ... 96

1 Membantu menghayati keutamaan Askese sebagai warisan dari ibu pendiri ... 96

2 Menyadarkan kembali akan pentingnya mempertahankan Keutamaan Askese dalam panggilan hidup sebagai religius Canossian….97 3. Membantu untuk berani mengungkapkan pengalaman mempertahankan keutamaan askese dalam kehidupan kongkret sehari-hari ... 98

4 Memperbaharui hidup didalam pertobatan yang terus-menerus kepada Allah... 98

C. Beberapa kemungkinan pelaksanaan katekese dalam mempertahankan Keutamaan Askese ... 99

a. Pembinaan terus menerus ... 99

(16)

xvi

D. SCP (SHARED CHRISTIAN PRAXIS ) Model Katekese yang sesuai

untuk membantu mempertahankan Keutamaan Askese ... 101

1. Pengertian Shared Christian Praxis (SCP) dan Kekhasan SCP ... 101

a. Pengertian SCP ... 101

1. Shared ... 102

2. Christian ... 103

3. Praxis ... 104

b. Kekhasan SCP ... 105

2. Langkah-Langkah Shared Christian Praxis (SCP) ... 106

a. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual (Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta) ... 106

b. Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Peserta (Mendalami Pengalaman Hidup Peserta) ... 107

c. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani) ... 107

d. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis Antara Tradisi dan Visi ... 108

e. Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan ... 109

E. Usulan Program Katekese Untuk Membantu Mempertahankan .. Keutamaan Askese ... 110

1. Pengertian Program ... 110

2. Tujuan program ... 111

3. Latar belakang penyusunan Program ... 111

(17)

xvii

2. Bagi para suster FdCC ... 141

DAFTAR PUSTAKA ... 142

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lagu “ Ambilah Ya Tuhan ... 145

Lampiran 2 : Lembaran cerita “pengorbanan diri sejati ” ... 146

(18)

xviii

DAFTAR SINGKATAN A.KITAB SUCI

Seluruh Singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini, mengikuti Kitab Suci

Perjanjian Baru lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta : 2006.

B. DOKUMEN RESMI GEREJA

BSDK : Bertolak Segar dalam Kristus. Instruksi kongregasi untuk tarekat

hidup Bakti dan serikat hidup Apostolik, Roma, tanggal 19 Mei

2002, pada perayaan Pentakosta. Disetujui oleh Paus Yohanes

Paulus II tanggal 16 Mei 2002.

CT : Catechesi Tradendae. ( Penyelenggaraan Katekese). Anjuran

apostolikPaus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan

segenap umat beriman tentang Katekese masa kini, 16 oktober

1979.

EN : Evangelii Nuntiandi (Mewartakan Injil). Himbauan Apostolik

Bapa Suci Paulus VI tentang karya pewartaan dalam zaman modern ,

8 Desember 1975.

KGK : Katekismus Gereja Katolik. Teks acuan untuk katekese yang

bersumber pada hidup iman, diserahkan oleh Paus Yohanes Paulus II

kepada umat beriman dari seluruh penjuru dunia, 11 Oktober 1992.

KHK : Kitab Hukum Kanonik ( Codec Iuris Canonici). Diundangkan oleh

Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 25

Januari 1983.

PC : Perfectae caritatis. Dekrit tentang pembaharuan dan

penyesuaian hidup Religius. Diresmikan oleh Paus Paulus VI pada

(19)

xix

VC : Vita consecrata. Seruan apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang

pembaharuan hidup religius, 25 Maret 1996.

C.SINGKATAN LAIN

Art : Artikel

Bdk : Bandingkan

Hal : Halaman

FdCC : Figlia della Carita’Canossiana ( Putri-Putri Cinta Kasih

Canossian)

IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Konst : Konstitusi

PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia

SCP : Shared Christian Praxis

USD : Universitas Sanata Dharma

UR : Unabrigde Rule ( The Rule of congregation of the daughter

(20)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Hidup religius merupakan suatu cara hidup yang dibaktikan kepada Allah. Allah

memanggil manusia dan manusia menjawab. Jawaban yang diberikan oleh manusia

terhadap tawaran Allah ini bermacam- macam. Salah satunya yakni dengan memasuki

cara hidup bakti. Hidup yang dibaktikan ini merupakan suatu hidup yang berjuang untuk

mengejar kesempurnaan dalam Tuhan ( KHK 573) . Dalam mengejar Kesempurnaan itu

berbagai hal haruslah mendukung. Salah satunya adalah melalui jalan askese. Askese

merupakan salah satu sarana yang penting untuk melatih seseorang dalam menghadapi

berbagai tawaran serta godaan. Dalam dunia yang semakin berkembang ini, yang ditandai

oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, askese sungguh merupakan sebuah nilai

yang perlu diperjuangkan setiap religius dalam menjalankan hidup panggilan dan

perutusan mereka ditengah dunia ini

Paus Yohanes Paulus ke II menghimbau kepada para religius untuk tetap menggali

praktek-praktek askese yang khas bagi tradisi Gereja dan bagi tarekat sendiri. Melalui

himbauan ini para religius diingatkan kembali akan semangat dan tujuan hidup bakti itu

sendiri. Karena itu dalam Vita Consecrata menguraikan bahwa “askese sungguh perlu

sekali, bila para anggota hidup bakti ingin tetap setia terhadap panggilan mereka sendiri

dan mengikuti Yesus pada jalan salib” ( art. 38). Menanggapi hal diatas maka adalah

(21)

tersebut melalui anjuran dari pendiri masing- masing mengingat bahwa para religius

sekarang ini hidup dalam dunia modern yang makin hari ikut serta mempengaruhi

perkembangan hidup serta membuat mereka mudah jatuh dalam berbagai hal entah itu

materi, kemakmuran, kenyamanan dan kesenangan duniawi. Sebagai orang - orang yang

terpanggil untuk membaktikan hidup demi kemuliaan Allah. Askese menjadi salah satu

sarana yang dapat membantu para religius untuk mencapai kesempurnaan hidup. Lebih

dari itu askese merupakan sarana bagi setiap pribadi untuk dapat mencapai kekudusan

hidup.

Para suster FdCC merupakan salah satu kongregasi religius yang mendapat karunia

yang khas untuk turut menghidupkan dan mempertahankan keutamaan askese. Melihat

perkembangan zaman sekarang yang semakin maju maka para pimpinan kongregasi

FdCC berusaha dengan mencari berbagai cara agar praktek askese tetap dipertahankan

sebagai sebuah nilai yang relevan bagi para suster kongregasi FdCC dalam menjalani

panggilan hidup mereka,secara khusus dalam menghadapi tawaran dunia yang semakin

hari semakin menantang sesuai dengan wejangan ibu pendiri St. Magdalena dari Canossa.

Sejak awal pendiri Kongregasi para suster FdCC sangat menekankan askese dan

menghimbau kepada para anggotanya untuk dapat mempraktekkan askese dalam

kehidupan harian sebagai orang-orang yang membaktikan diri bagi kemuliaan Allah dan

kebaikan sesama. Askese menjadi bagian penting juga bagi seorang suster FdCC yang

telah merangkul institut mengingat bahwa tujuan utama institut suster- suster FdCC

(22)

para suster FdCC ikut ambil bagian dalam menghidupkan askese dengan menyesuaikan

diri mereka dengan sang teladan utama yakni Yesus yang Tersalib, yang melakukan

segala pengorbanan-Nya tanpa memperhatikan diri sendiri. Dalam hal ini terjemahan The

Rules Of Congregation FdCC (1981 : 260 ) mengatakan : “Sungguh tidak tepat apabila

melihat seorang suster FdCC yang suka mencari kesenangan, disamping kepala Yesus

yang bermahkota duri.

Dengan semangat askese yang telah dihidupi oleh ibu pendiri St.Magdalena dari

Canossa ini maka para suster FdCC diajak untuk mempertahankan keutamaan askese ini

dengan mempraktekkan keutamaan askese ini setiap hari dengan kesungguhan hati serta

dengan niat yang tulus dengan tidak selalu mencari keenakkan dan kenyamanan baik

dalam hidup berkomunitas maupun dalam hidup karya. Praktek askese ini begitu penting

sebagai bentuk mengendalikan kecenderungan duniawi yang menjadi unsur kodrat

manusia. Mengingat bahwa para suster FdCC hidup dan berkarya saat ini dalam dunia

yang berkembang yang mana menuntut setiap suster FdCC untuk dapat berani

mengorbankan dan mematikan keinginan-keinginan mereka yang tidak teratur, seperti

cinta diri, kekayaan, kenyamanan dan kehendak mereka sehingga hanya memikirkan

kemuliaan Tuhan saja. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St Magdalena dari Canossa

(2001: 29) mengatakan : “Perlu diterapkan suatu pelepasan total untuk dapat

mempergunakan seluruh waktu, perhatian dan pikiran bagi kemuliaan Allah”.

Di dalam hidup sehari-hari, Para suster FdCC di minta mempersembahkan diri

(23)

hanya untuk kemuliaan Allah saja, dengan membiarkan diri mereka dibentuk oleh Allah

yang berkehendak untuk menjadi satu-satunya kekuatan mereka. Semua ini dapat

dijalankan melalui praktek askese. Praktek askese ini sangat penting karena semata-mata

untuk menyenangkan hati Tuhan dan bukan untuk dipuji atau dilihat orang bahwa sebagai

orang yang membaktikan hidup hanya untuk Tuhan para suster

FdCC sungguh - sungguh kudus, tetapi untuk mencapai jalan pengudusan yakni dapat

dicapai melalui askese. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St. Magdalena dari Canossa

(2001: 9 alinea: 3 ) mengatakan : “Jalan pengudusan diri dibangun melalui pengorban

an-pengorbanan kecil hari demi hari yang disediakan oleh Tuhan setiap saat”. Oleh karena itu

para suster FdCC bertanggung jawab untuk senantiasa mengusahakan kekudusan pribadi

mereka melalui setiap peristiwa hidup sehari-hari.

Adalah tidak mudah bagi para suster FdCC untuk melaksanakan keutamaan askese

dalam hidup sehari-hari baik secara pribadi, bersama dalam komunitas serta dalam hidup

karya kerasulan. Dalam melaksanakan keutamaan askese ini para suster FdCC kurang

melaksanakannya dengan kesunguhan hati. Keutamaan askese yang dilakukan oleh para

suster FdCC karena tuntutan dan keterpaksaan atau pun hanya ingin dilihat dan dinilai

baik oleh pimpinan atau sesama suster FdCC dalam komunitas atau pun orang lain yang

dijumpai dalam karya kerasulan. Karena itu yang terjadi bahwa dapat dijumpai seorang

suster FdCC mudah untuk mengeluh, tidak mau untuk berkorban, serta mudah untuk

menggerutu terhadap segala bentuk askese. Akibatnya praktek askese yang dilaksanakan

(24)

sesungguhnya yang mengarah kepada Allah. Praktek askese jika disadari dengan

sungguh-sungguh akan dapat membantu para suster FdCC untuk mampu menghadapi

godaan-godaan yang menggiurkan dalam panggilan hidup mereka sebagai seorang

Canossian yang baik. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St Magdalena dari Canossa

(2001: 29 alinea: 5 ) mengatakan :

“Lebih nyaman hidup lepas dari segalanya dan hidup dengan Dio Solo”. Melalui anjuran

dari ibu pendiri ini, para suster FdCC diminta untuk melakukan praktek askese dengan

baik yakni hendaknya para suster FdCC tidak mengeluh mengenai kesempatan

penderitaan meskipun kecil yang mereka temukan dalam rumah maupun

karya kerasulan melainkan mempersembahkan segala yang mereka alami hanya untuk

Tuhan saja.Tuhalah kekutan yang senantiasa membantu dan menuntun mereka.

Praktek askese jika diabaikan dapat menghambat kekudusan hidup. Disatu pihak

praktek askese dapat berhasil namun kurang menampakkan nilai-nilai dan buah-buah

rohani yang sesuai dengan wejangan dari pendiri yang perlu dihayati, dihidupi dan

dipertahankan. Keutamaan askese yang dijalankan oleh para suster FdCC perlulah

dilandasi oleh sikap kesadaran dan kebebasan dalam diri dan bukan karena sebuah

keterpaksaan untuk dilihat oleh orang lain. Dengan demikian askese yang dilakukan oleh

para suster FdCC tidak membawa mereka pada ketergantungan akan hal-hal duniawi yang

dapat mengaburkan nilai-nilai rohani yang terkandung dalam wejangan pendiri. Hal-hal

duniawi yang dapat mengaburkan nilai-nilai rohani yang terkadung dalam wejangan

(25)

berperang melawan hawa nafsu. Dalam wejangan ibu pendiri St Magdalena dari Canossa

(2001:30,alinea:2) mengatakan : “Mari kita berusaha untuk lahir kembali secara rohani

dengan melepaskan segala hawa nafsu dan kelemahan-kelemahan sambil berusaha untuk

meraih kesempurnaan sejati”.

Magdalena sebagai ibu pendiri para suster FdCC meminta kepada para pengikutnya

agar berani lahir kembali secara rohani dengan menanggalkan segala

kelemahan-kelemahan untuk dipuji dihormati serta keinginan untuk memiliki harta duniawi yang

dapat mengaburkan tujuan hidup yang mereka kejar yakni kesempurnaan sejati bersama

Kristus. Kesempurnaan dalam Kristus dibangun melalui kepercayaan dan keterbukaan

hati untuk selalu mengandalkan Allah dalam seluruh kehidupan, sebab sangat

membahagiakan memiliki hanya Allah sebagai satu-satunya tumpuan dan pengiburan

(wejangan St. Magdalena dari Canossa., 2001:13, alinea:2)

Inilah yang merupakan suatu hal yang memprihatinkan yang dirasakan oleh tarekat,

mengingat bahwa para suster FdCC hidup dalam dunia modern yang penuh dengan

tantangan. Berbagai tantangan hidup yang dihadapi setiap hari menantang mereka untuk

dapat berani dan terus mempertahankan keutamaan askese sebagai sebuah sarana yang

dapat membantu mereka mengejar kesempurnaan dan kekudusan hidup dengan senantiasa

mengendalikan diri terhadap tawaran-tawaran duniawi yang sifatnya hanya sementara.

Setiap saat para suster FdCC dihadapkan pada tawaran itu.

Dalam terjemahan The Rules of Congregation FdCC (1981: 2) mengatakan bahwa:

(26)

bentuk hawa nafsu pada salib”. Ini merupakan sebuah ajakan yang membantu para suster

FdCC untuk senantiasa dapat menjalankan askese dengan baik didalam mengejar

kekudusan dan kesempurnaan hidup bersama Kristus sebagai model dan teladan utama

dalam hidup. Kristus tersalib merupakan sumber kedamaian kekal, sebab dalam diri

Kristus tersalib tercermin segala keutamaan

Kristus Tersalib adalah pusat identitas dan sumber spiritualitas para suster FdCC.

Dialah yang merupakan teladan yang harus direnungkan terus menerus oleh para suster

FdCC guna membentuk hidup mereka sendiri menurut teladan Kristus yang Tersalib yang

menanggalkan segala-galanya kecuali cinta kasih-Nya. Di atas salib Kristus juga

mewahyukan wajah Bapa dan takaran cinta tanpa ukuran. Seperti Kristus tersalib para

suster FdCC dipanggil untuk ikut serta dalam penderitaan Kristus dengan berusaha

menanggalkan segala keinginan akan barang-barang material dan kebutuhan-kebutuhan

yang tidak teratur yang mana dapat merintangi para suster FdCC untuk mengikuti Kristus.

Para suster FdCC diharapkan juga agar mampu mengosongkan diri mereka dan

bergantung hanya kepada Allah saja sebab hanya Dia sajalah yang dapat membantu

mereka didalam mengejar kemuliaan Allah.

Didalam mengejar kemuliaan Allah para suster FdCC diminta untuk senantiasa

memiliki sikap hati yang bebas terhadap mereka semua yang dilayani dengan tidak

mencari kenikmatan-kenikmatan tertentu. Dalam wejangannya St Magdalena dari

Canossa ( 2001: 26) mengatakan ”Kita terpanggil bukan untuk mencari kenikmatan tetapi

(27)

menopang Magdalena ibu pendiri untuk dapat membantu para pengikutnya mencari

kemuliaan Allah diatas segalanya melalui pengorbanan-pengorbanan kecil setiap hari

sehingga dengan demikian mereka dapat juga membantu orang lain untuk mencegah

mereka dari dosa. Selain itu para suster FdCC diharapkan dapat meneladani

keutamaan-keutaman selain askese seperti yang telah diwariskan oleh ibu pendiri dengan tetap belajar

dari teladan utama Yesus Kristus Tersalib yang menanggalkan segala-galanya kecuali

cinta-Nya. Cinta tanpa syarat yang mempersembahkan diri-Nya untuk tebusan bagi umat

manusia.

Dalam hal ini Konstitusi Kongregasisuster FdCC mengatakan:

“INSPICE ET FAC SECUNDUM EXEMPLAR” yang artinya pandanglah dan

turutilah teladan-Nya adalah norma hidup yang tak bisa diubah lagi dalam pelaksanaan cinta kasih. Memperhatikan cinta kasih yang terpancar dari kristus tersalib, kita belajar mengasihi dengan cara Tuhan Yesus mengasihi yaitu : dalam kerendahan hati dan ketidakterikatan radikal. Kita berusaha bersatu dengan Dia dan membiarkan setiap kegiatan kita dijiwai oleh Roh-Nya, Roh cinta kasih,

kelemah-lembutan dan kerendahan hati”.

( Kons.1928: 8)

INSPICE ET FAC SECUNDUM EXEMPLAR mengajak para suster FdCC untuk

selalu mengarahkan hidup kepada cinta Kristus Tersalib dan belajar untuk

mempersembahkan diri seutuh-Nya kepada Kristus dengan senantiasa melepaskan

diri dari bentuk-bentuk ketergantungan dimana lebih mementingkan materi,

kemak-muran, kenyamanan, dan kesenangan duniawi melalui praktek askese setiap hari. Dalam

melakukan askese para suster FdCC haruslah dijiwai oleh semangat dan tujuan yang benar

dari askese itu sendiri yaitu membawa segala bentuk hawa nafsu manusia kepada salib,

(28)

dengan ikut ambil bagian menyatukan pengorbanan yang di jalankan dengan pengorbanan

Kristus yang tersalib. DalamWejangan St. Magdalena (2001; 30, alinea 4) dikatakan:

Semangat pengorbanan dan salib merupakan semangat pengikut Kristus. Sebagai murid

Kristus para suster FdCC diminta untuk senantiasa mengikuti teladan ibu pendiri

didalam melaksanakan keutamaan askese, yakni dengan rela untuk berkorban sambil

mengarahkan pandangan kepada salib yang memberi kekuatan. Di salib Yesus

mengosongkan diri-Nya untuk menjadi sama dengan manusia (Flp 2:7) yang tak terikat

dengan segala kelemahan dan kerapuhan-Nya. Dalam kelemahan dan kerapuhan-Nya Ia

masuk dalam sejarah umat manusia. Ia secara nyata menyertai manusia dalam kerapuhan

manusia setiap harinya. Sebagai putra Allah, Ia pun belajar untuk tidak terikat terhadap

apa pun yang dapat merintangi diri-Nya melaksanakan perutusan yang dipercayakan oleh

Bapa-Nya. Sebagai putra Allah Ia pun belajar taat sampai mati bahkan sampai mati di

kayu salib (Flp 2:8).

Para suster FdCC juga diharapkan agar dalam menjalani askese hendaknya

senantiasa dijiwai oleh kebajikan Kristus yang Tersalib yang merupakan ungkapan

cinta-Nya yang besar kepada Bapa-cinta-Nya dan kepada manusia. Ungkapan cinta yang

dilambangkan dengan Penyerahan diri-Nya melalui kematian dikayu salib mengajak Para

suster FdCC untuk tidak takut terhadap apa pun, sebab Ia senantiasa menyertai mereka

seperti sabdanya “Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (

Mat 28 : 20 ). Dalam memandang Yesus Kristus yang Tersalib para suster FdCC tidak

(29)

sampai wafat disalib. Dalam Wejangan St.Magdalena dari Canossa (2001:16) dikatakan :

“Disalib Yesus tanggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya”. Semangat serta teladan

Kristus yang meninggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya ini, merupakan daya gerak

yang membantu para suster FdCC untuk senantiasa mempraktekan keutamaan askese ini.

Dengan belajar bercermin pada diri Kristus yang Tersalib para suster FdCC

diharapkan untuk berani melepaskan diri mereka dari bentuk-bentuk kenyamanan yang

tidak teratur yang dapat merugikan panggilan mereka sebagai wanita-wanita yang

disucikan. Karena hanya dengan demikian para suster FdCC dapat memusatkan perhatian

mereka kepada cinta akan Allah dan sesama, baik dalam hidup berkomunitas maupun

dalam karya kerasulan yang dipercayakan kepada mereka. Dalam keseharian hidup inilah

para suster FdCC dapat menjalankan praktek askese mereka secara sederhana yaitu

melalui doa pengorbanan dan juga beramal dengan kesungguhan dan ketulusan hati yang

bebas serta dengan sikap yang dijiwai oleh Roh Yesus. Dalam Wejangan St.Magdalena

dariCanossa (2001:1) dikatakan:“Hendaknyakita jiwai setiap perbuatan dan karya dengan

Roh Yesus sendiri yakni Roh yang sangat lembah lembut, sangat pemurah dan sangat

sabar”. Praktek askese jika dijalankan dengan baik akan dapat membantu para suster

FdCC untuk semakin serupa dengan Kristus Tersalib sehingga askese yang mereka

praktekan dapat membawa dampak yang positif pada orang lain baik dalam komunitas

maupun bagi mereka yang dijumpai dalam karya kerasulan yakni semangat untuk

mencintai dan murah hati dalam pengorbanan. Para suster FdCC telah menghidupi

(30)

dan dengan meneladani semangat askese yang dijalankan oleh pendiri St Magdalena dari

Canossa, namun bagaimana agar praktek askese ini dapat dipertahankan dan dihidupi

dengan penuh kesadaran dan kebebasan hati sehingga askese itu tetap menjadi sebuah

keutamaan yang memiliki nilai yang tinggi?.

Dengan demikian dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil judul “ASKESE

DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC”.

B.RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan

beberapa permasalahan antara lain:

1. Apa saja yang dikatakan tentang askese dalam tradisi Kristiani?

2. Apakah gambaran umum askese menurut wejangan pendiri St Magdalena dari

Canossa?

3. Bagaimana kenyataan askese masa sekarang?

C . TUJUAN PENULISAN

1. Menggali lebih mendalam askese menurut wejangan pendiri St Magdalena dari

Canossa yang menjadi salah satu keutamaan bagi para suster FdCC

2. Menyadarkan para suster FdCC akan pentingnya praktek askese dalam kehidupan

membiara khususnya sebagai seorang suster FdCC baik di dalam komunitas maupun

(31)

3. Memberi sumbangan bagaimana agar para suster FdCC tetap setia dalam

mempertahankan,menghidupi dan mempraktekan askese ini sebagai sebuah

Keutamaan telah diwariskan oleh ibu pendiri St.Magdalena dari Canossa.

D. MANFAAT PENULISAN

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Bagi penulis untuk semakin memahami askese menurut wejangan pendiri

St Magdalena dari Canossa.

2. Bagi para suster FdCC agar semakin sadar akan pentingnya praktek askese dalam

kehidupan baik dalam komunitas maupun karya.

3. Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk mengenal askese menurut wejangan

St Magdalena dari Canossa pendiri kongregasi suster FdCC.

E. METODE PENULISAN

Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode deskritif analisis yang

memanfaatkan studi pustaka. Studi pustaka penting, karena melalui metode ini, penulis

berusaha menggambarkan secara factual keadaan praktek askese para suster dalam

kongregasi FdCC melalui wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa.

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Judul skripsi ini adalah: ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI

ST. MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI

(32)

Penulisan skripsi ini akan diuraikan dalam lima bab. Gambarannya adalah sebagai

berikut:

Bab I Pendahuluan. Bab ini meliputi: Latar belakang penulisan, rumusan

masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika

penu-lisan.

Bab II Pada bab II ini penulis akan membahas tentang askese dalam tradisi Kristiani yang meliputi: pengertian Askese secara umum yang meliputi:

askese sebagai latihan, mortification/matiraga, menuju ke hidup Mistik, Mengena-kan

keutamaan dan Mengalahkan cacat cela. Selanjutnya tentang askese sebagai jalan,

yaitu: Jalan kemuridtan, misteri salib dan kekudusan. Selanjutnya mengenai Askese

menurut wejangan pendiri St.Magdalena dari Canossa penulis

akan menguraikan tentang bagaimana askese menurut wejangan pendiri

St.Magdalena dari Canossa yang meliputi: Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati

Tuhan,Semangat Pengorbanan, Salib, serta Usaha dalam mempraktekkan askese.

Bab III ini membahas mengenai : Visi Askese masa sekarang yang meliputi Askese dalam Vita Consecrata, askese dalam konstitusi FdCC, askese dalam abad 21

dan askese jalan hidup Mistik dan Profetik.

Bab IV menguraikan tentang Katekese sebagai salah satu Upaya membantu

mempertahankan praktek askese para suster FdCC dalam wejangan pendiri

St Magdalena dari Canossa melalui katekekese dengan Model Shared Christian Praxis

(33)

Peranan Katekese dalam upaya mempertahankan keutamaan askese dan usulan

program bagi usaha mempertahankan praktek askese para suster FdCC dalam

wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa

Bab V Merupakan penutup meliputi kesimpulan dan saran yang dapat membantu

para suster FdCC dalam mempertahankan keutamaan askese baik dalam hidup

(34)

Bab II

ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI

“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul

salibnya dan mengikuti Aku (Luk 9: 23)”. Inilah yang menjadi dasar Askese dalam tradisi

Kristiani. Menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus merupakan tiga sifat

yang utama yang kiranya dimiliki oleh setiap pengikut Kristus. Yesus sendiri telah

memberi contoh terlebih dahulu kepada kita ketika berkarya hingga akhir

pengorbanan-Nya di salib sebagai bukti kasih-pengorbanan-Nya yang paling besar kepada umat manusia. Dokumen

Konsili Vatikan II tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup religius dalam

Perfectae caritatismenguraikan: “Tujuan hidup religius pertama-tama yakni supaya para

anggotanya mengikuti Kristus dan dipersatukan dengan Allah melalui ingkar diri dan

memanggul salib” ( art. 2). Dengan pola hidup semacam ini kaum hidup bakti dipanggil

untuk dapat meninggalkan banyak hal dan kemudian menyangkal diri dan memanggul

salib. Kaum hidup bakti pun diminta untuk dapat menghidupi ketiga sifat utama ini.

Hidup bakti adalah hidup yang dibaktikan, pada Allah semata. Allah dipandang

sebagai pusat dari seluruh hidup. Dialah yang penting yang melebihi segala harta dan

kenikmatan duniawi. Tujuan dari hidup bakti itu sendiri adalah mengejar kesempurnaan

dengan mengikuti Kristus sebagai sang pemanggil.

Dalam dokumen Gereja: Bertolak segar dalam Kristus art.13, dikatakan : Hidup bakti

tidak mencari pujian dan penghargaan manusia, itu dibayar kembali oleh kegembiraan

(35)

tumbuh secara rahasia,tanpa mengharap ganjaran apa pun selain apa yang bakal diberikan

Tuhan pada saat akhir (bdk Mat 6: 6). Setiap umat manusia dipanggil untuk berani

mewartakan kasih Kristus yang besar ini melalui berbagai cara hidup yang diembannya.

Tugas untuk mewartakan kasih Kristus ini merupakan tugas yang utama. Untuk sampai

kepada pewartaan akan kasih Kristus ini sangat dibutuhkan juga semangat pengorbanan

atau askese mengingat bahwa kita hidup dalam dunia moderen yang menawarkan

berbagai jaminan hidup yang penuh arti yakni materi, pujian, kehormatan, kekuasaan dan

penghargaan.

Mengikuti Yesus dengan, menyangkal diri dan memanggul salib terangkum dalam

komitmen untuk hidup murni, miskin dan taat. Melalui kaul kemurniaan kaum hidup

bakti dipanggil untuk mempersembahkan diri secara utuh kepada Yesus dengan hati yang

tak terbagi dan mempersembahkan segala sesuatu hanya kepada-Nya. Kemiskinan

meminta dari kaum hidup bakti untuk mempersembahkan secara bebas apa yang menjadi

kepunyaannya yang melekat pada dirinya. Kaum hidup bakti demi kaul

kemiskinan melepaskan kepemilikan pribadi atas harta benda, menjadikannya milik

bersama. dan kaul ketaatan menuntut adanya sikap kerendahan hati, dimana kaum hidup

bakti tidak lagi dengan bebas melakukan apa yang menurutnya baik dan menyenangkan

untuk dirinya sendiri tetapi melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Allah dengan

mencontoh ketaatan Kristus pada Bapa-Nya.

Dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup

(36)

hendaknya mengingat, bahwa mereka pertama-tama telah menanggapi panggilan Allah

dengan mengikrarkan ketiga nasehat Injili, sehingga mereka tidak hanya mati bagi

dosa, melainkan dengan mengingkari dunia hidup untuk mengabdi kepada-Nya” ( art.5).

Panggilan kepada pembaktian hidup menuntut juga sebuah persembahan diri dan

pengikaran diri terhadap hidup dunia dan menjadikan Allah sebagai pusat hidup dan siapa

pun yang menerima anugrah ini diminta untuk menanggapi dengan sepenuh hati.

Anugerah Allah menjadi benar-benar berarti dan menjadi persembahan diri yang

sempurna kalau ditanggapi dan dilaksanakan secara baik dan benar. Oleh karena itu

diperlukan sebuah pelepasan dari berbagai kelekatan terhadap apa saja yang dapat

menghalangi dan merintangi pembaktian hidup kepada Allah. Dalam buku Mistik, devosi

dan Hidup Rohani, Darminta ( 1995: 30) mengatakan: “Hidup yang dibaktikan kepada

Allah itu tergantung dari rasa bakti yang dianugerahkan dan ditanamkan oleh Allah

didalam hati manusia. Rasa bakti kepada Allah itu tumbuh, sejauh hati itu tetap terbuka

terhadap sapaan dan sentuhan Allah.”

Setiap pribadi yang telah dianugerahi panggilan khusus untuk menjadi

imam, biarawan dan biarawati dipanggil untuk hidup menurut kehendak Tuhan dan

menyerahkan hidup kepada-Nya dan dengan demikian disatukan dengan Tuhan sendiri.

Allah memanggil setiap orang secara pribadi oleh karena itu panggilan merupakan juga

tanggung jawab dari setiap pribadi.

Mereka yang telah membaktikan hidup secara khusus ini dituntut untuk

(37)

melalui devosi misalnya saja devosi kepada hati kudus Yesus, Bunda Maria atau kepada

Santo dan Santa pelindung masing-masing. Melalui devosi diharapkan dapat membantu

seorang religius untuk menghayati panggilan hidupnya dan membangun persatuan

dengan mencintai orang lain dengan cinta yang murni.

Cinta yang murni kepada sesama hendaknya dibuktikan dengan tindakan kongkret

bukan dengan perkataan belaka. Tindakan kongkret yang dimaksud disini adalah dengan

saling berbagi dalam suka, dan duka, saling tolong menolong serta siap sedia untuk

berkorban bagi sesama tanpa memperhitungkan balasannya. “Tidak ada kasih yang lebih

besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya”

(Yoh 15:13). Yesus telah memberikan teladan kepada kita. Sebagai murid-Nya kita

diminta untuk dapat memberikan diri, waktu, tenaga dan pikiran yang kita miliki kepada

sesama yang membutuhkan dengan penuh cinta dan ketulusan hati tanpa

memperhitungkan untung ruginya bagi diri sendiri.

PENGERTIAN ASKESE SECARA UMUM 1. Askese sebagai latihan

Kata „Askese’ sudah sejak awal dipakai terutama oleh para pertapa ditepi gurun

pasir di wilayah Mesir. Para religius abad pertengahan pun menghargai praktek askese

untuk menunjang karya apostolik. Kata askese dalam kamus Filsafat berasal dari

bahasa Yunani “ Asketikos” dari kata kerja” askein” yang berarti seseorang yang

menjalankan berolah tubuh, disiplin. Secara Etimologis istilah ini juga berarti usaha

(38)

Teologi kata askese diartikan sebagai jalan dan cara yang ditempuh dan dipakai oleh

orang Kristiani dibawah bimbingan Roh kudus untuk memurnikan diri dari dosa dan

menghilangkan halangan dijalan mengikuti Kristus dengan bebas (O‟Collins dan

Farrugia,1991:34). Askese yang baik dan benar akan melahirkan kedewasan rohani

yang baik dan kematangan pribadi yang kokoh.

Dicker dalam bukunya yang berjudul Bertobat dan Askesis (1972:

34) mengungkapkan Askese merupakan tindakan atau perbuatan matang dari orang

dewasa yang karena alasan-alasan religius menyangkal dorongan-dorongan serta

keinginan-keinginan pribadinya. Askese menjadi simbol dari manusia yang semakin

mencari penyempurnaan rohaninya atau yang mencari dan mengejar keutamaan. Tidak

dapat dipungkiri lagi bahwa, pada zaman sekarang ini para religius pun yang memiliki

keteraturan dalam hal hidup rohani dan hidup bersama selalu saja mengalami kekoson

gan, kejenuhan dan kebosanan dalam hidup membiara. Bukan tidak mungkin hal ini

terjadi. Salah satu yang menjadi penyebab terjadinya hal semacam ini adalah

kurangnya praktek askese. Askese hanya dipandang sebagai sebuah kesempatan yang

dilakukan pada masa prapaskah untuk dapat menghayati sengsara Tuhan Yesus Kritus

dan tidak lagi dilihat sebagai sebuah latihan dalam membangun relasi yang intim

dengan Allah, sekaligus sebagai sebuah latihan yang dapat membantu kemajuan dalam

hidup rohani (Sardi, 03,2013:8).

Relasi yang intim dengan Allah dapat dibangun melalui doa, meditasi dan

(39)

sehari-hari. Laku asketis memiliki pengaruh penting bagi kehidupan doa. Pengaruhnya tidak

hanya bagi kemajuan dan perkembangan serta kelancaran dalam doa tetapi berdampak

pada perubahan hidup dari kebiasaan berdoa (Sardi, 03,2013: 9). Doa menjadi ruang

gerak tersendiri untuk dapat membangun sebuah persatuan batin yang kuat sekaligus

menimbah kekuatan dari Allah untuk dapat melaksanakan praktek askese. Kesempatan

untuk melakukan praktek askese dapat ditemukan tidak hanya dalam latihan rohani

tetapi juga kesempatan untuk beraskese dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari

melalui pengorbanan-pengorbanan kecil.

Askese juga menyediakan ruang untuk dapat melatih tubuh dari segala bentuk

keinginan yang tidak teratur. Zaman digital menyediakan segala sesuatu dengan serba

instan. Ditengah situasi semacam ini pula keinginan untuk mengkonsumsi berbagai

jenis makanan menjadi semakin tidak menentu. Sebut saja mengatur pola makan.

Askese menyediakan ruang tersendiri untuk dapat mengatur keinginan tubuh

khususnya dalam mengatur pola makan. Dalam buku pertobatan melalui padang

gurun dan malam gelap, Darminta ( 2006 : 25 ) mengatakan:

Bujukan selalu menawarkan hal-hal yang baik dan menyembunyikan hal-hal yang jelek. Nyatanya setan tidak mengatakan akibat dari makan buah larangan dan hanya menyampaikan keunggulannnya bahwa Adam dan Hawa akan serupa dengan Allah,tahu yang baik dan jahat.Tidakkah seperti itu pula bujukan yang disampaikan oleh supermi orang dibujuk dengan kata-kata yang memikat.

Bujukan selalu menawarkan segala sesuatu yang instan dan membuat orang

manja. Layaknya mie instan tinggal disedu dengan air panas dan siap untuk dinikmati

(40)

askese, dengan benar yakni kalau dia menyadari serta memiliki tujuan yang jelas yakni

jika dia tahu kapan harus makan, dimana dia harus makan atau menyadari bahwa mana

makanan yang baik yang dapat membantu dalam menunjang karyanya dan mana yang

perlu dikurangi sebagai bentuk kepedulian terhadap yang lain. Seorang atlet

melaksanakan askese dengan benar jika ia tahu pola makanan yang sehat dan bukan

makan secara sembarangan yang mana dapat membantunya untuk dapat mencapai

garis finish dengan baik dalam perlombaan olahraga. Dengan melakukan praktek

askese semacam ini diharapkan dapat melatih kedewasaan diri dan juga sebagai salah

satu bentuk latihan rohani untuk dapat membangun disposisi batin dengan Allah,

sebab Perubahan datang dari Allah dan bukan dari manusia (Arnold, 2003: 1).

Banyak kesempatan untuk melakukan askese,yang dibutuhkan hanyalah

kemauan, kesadaran dan pengorbanan diri serta motivasi yang jelas dalam melakukan

askese tersebut. Dalam melaksanakan askese tersebut setiap kita dituntut untuk

melepaskan diri dari kehendak sendiri dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah

karena kita adalah anak-anak-Nya. “Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah

anak-anak Allah” (Rm 8 : 14) rasul Paulus melukiskan ini untuk mengajak kita agar

senantiasa membiarkan diri dipimpin oleh Allah dengan berani menyerahkan diri dan

keinginan secara bebas. Penyerahan diri dan keinginan ini tidak memusnahkan atau

mengacaukan panggilan religius seseorang melainkan membuatnya menemukan

(41)

yang dilakukan dengan melepaskan diri dari kehendak dan keinginan sendiri

memberikan kekuatan dalam perjalanan panggilan hidup religius.

Tantangan dalam hidup berkomunitas dimana terdapat perbedaan pendapat dan

juga usia menjadi tempat tersendiri untuk melatih praktek askese. Ketika bel

berbunyi di pagi hari seorang religius memilih untuk bangun dari pada tetap tidur.

Seorang religius yang muda dalam usia melakukan askese jika ia berani meminta

maaf terlebih dahulu kepada sesama temannya dalam komunitas ketika berbuat

kesalahan. Seorang religius yang sedang studi melakukan askese dengan benar jika

jam rekreasi berada bersama dengan teman-teman komunitas di ruang rekreasi dan

bukan sebaliknya melakukan pekerjaan yang menyenangkan dirinya.

Dengan melatih diri melalui askese dalam hal-hal sederhana ini mengajak seorang

religius untuk terus-menerus meyakini jati diri dan kehidupan rohaninya dengan

Tuhan. J.Nouwen dalam bukunya yang berjudul Memasuki ruang Batin (1998: 37)

mengungkapkan “Hidup rohani mengajak kita untuk terus menerus meyakini jati diri

kita”. Kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi oleh Allah sendiri. Sebagai anak kita

diajak untuk dapat membangun relasi kasih dengan-Nya dalam setiap dimensi

kehidupan ini, dengan membiarkan diri dicintai oleh Allah dan mematikan segala

bentuk keinginan yang tidak teratur agar persatuan kita dengan Allah menjadi semakin

erat. Persatuan yang erat dengan Allah melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik

yang mengarah kepada kemuliaan Allah dari kepentingan dari setiap pribadi manusia

(42)

2. Mortification/matiraga

Lowery Daniel dalam bukunya yang berjudul Bertumbuh dalam keutamaan

Kristiani ( 2003: 77) mengungkapkan mortification Dalam Bahasa Inggris berasal dari

kata bahasa latin “mors”, yang berarti “mati”/ kematian. Dalam bahasa Inggris

mortification kadang kala mengacu kepada suatu penghinaan atau keadaan yang

memalukan. Dalam arti yang lebih mendalam mortification mengacu kepada

keutamaan Kristen yaitu menyangkal diri dengan secara sadar menolak nafsu dan

keinginan yang tidak teratur. Matiraga juga berarti mati terhadap dosa dan hidup untuk

Allah. Hal ini paling jelas dikatakan dalam surat Paulus kepada jemaat di Rm 6:11

“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi

dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”. Setiap kita dipanggil

sekaligus juga ditantang untuk berani mematikan keinginan-keinginan yang tidak

teratur yang bertentangan dengan kehendak Allah sendiri seperti keinginan untuk

mempertahankan sesuatu seperti cinta diri, harta benda dan kepemilikan berlebihan,

keinginan untuk memiliki dan dimiliki oleh orang tertentu seta memiliki jabatan

tertentu.

Seseorang yang melakukan praktek matiraga dengan baik dalam kehidupan

bersama dengan orang lain tidak akan membiarkan diri untuk ikut-ikutan dalam

membicarakan kelemahan sesamanya, sebab dengan membicarakan kelemahan orang

lain sama sekali tidak ada manfaat atupun maknanya. Jika kita boleh berbicara dan ada

(43)

(Thomas,1997:17). Dengan kata lain bahwa pembicaraan yang kita lakukan antara satu

dengan yang lain senantiasa mengarah kepada hal-hal yang baik, saling membantu dan

saling membangun serta memberi motivasi agar satu dengan yang lain dapat

bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang dalam iman bukan sebaliknya untuk

saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Kesadaran semacam ini pada akhirnya

akan membantu seseorang untuk mengadakan pembicaraan secara sehat yang mana

membuat satu dengan yang lain saling mengenal dan kemudian pada akhirnya dapat

saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Di sisi lain matiraga menuntut seseorang untuk melepaskan diri dari keinginan

untuk memiliki banyak barang, melihat atau menonton film-film atau pun majalah

yang tidak membantu, mengkonsumsi makanan secara berlebihan hanya untuk

memuaskan rasa dan bukan mengkonsumsi makanan karena kebutuhan, hal ini dapat

menyebabkan hati manusia menjadi tidak tenteram karena selalu saja merasa kurang

dalam segala hal. Berulang kali hati kita menjadi tidak tentram apabila kita

menginginkan sesuatu secara tidak teratur (Thomas,1997: 11). Agar dapat memiliki

hati yang tenteram maka diperlukanlah sebuah sikap yang senantiasa mengatakan

cukup untuk segala kebutuhan-kebutuhan serta keinginan yang berlebihan. Dengan

bebas melepaskan serta menolak segala bentuk keinginan yang tidak teratur agar hati

kita senantiasa terarah kepada Allah yang menyelenggarakan segala sesuatu dalam

(44)

Dalam melaksanakan matiraga tentunya setiap kita ditantang dengan ambisi pribadi

maupun keinginan-keinginan yang bertentangan dengan hal-hal yang baik. Namun

yang perlu diingat adalah dalam melaksanakan matiraga diperlukan juga motivasi

yang jelas yang mana menghantar seorang religius untuk dapat mengalami

pengalaman kasih bersama dengan Allah. Pengalaman akan Allah dapat membantu

seseorang untuk menyatukan segala keinginan yang tidak teratur dengan keinginan

Allah sendiri. Dengan demikian membuat dia untuk senantiasa bersyukur atas Rahmat

Allah yang diterima bagaimana pun kecilnya supaya dapat pula menerima yang lebih

besar (Thomas,1997: 88). Santo Paulus dengan hidup rohani dan pelayanan yang

sedemikian mengagumkan menghimbau kepada jemaatnya di Efesus untuk senantiasa

mengucap syukur atas segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah

dan kepada Bapa. Allahlah yang menyelenggarakan segala sesuatu bagi kita melalui

perantaraan putra-Nya Yesus kristus ( Ef 5 : 20). Segala pemberian yang kita terima

apa pun bentuknya hendaknya senantiasa membantu kita kepada kesadaran untuk

menggantungkan diri kepada Allah. menggantungkan diri kepada berarti orang juga

siap untuk melepaskan segala sesuatu yang merintangi dirinya secara bebas dan

membiarkan Allah untuk meraja dalam hidupnya.

Matiraga juga banyak diungkapkan dalam kitab suci Perjanjian Baru. Yesus

sendiri mengatakan bahwa “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan

rumahnya saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya,

(45)

yang kekal”(Mat 19: 29). Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita bahwa untuk

memperoleh hidup yang kekal kita perlu untuk lepas bebas dan tidak terikat pada

keluarga atau benda yang dimiliki, melainkan kita diajak menyerahkan diri

kepada-Nya, karena hanya dengan demikianlah kita dapat melayani orang lain dengan bebas.

Janganlah kita bersandar atas diri sendiri, melainkan taruhlah harapan kita hanya

kepada Allah (Thomas,1997: 12). Allah menjadi harapan hidup kita semata. Allah

menjadi sandaran utama dan sekaligus menjadi kekuatan yang menopang kita disaat

hati kita mulai goyang akibat pilihan hidup yang menawarkan seribu satu kenikmatan.

Yang diperlukan adalah iman yang kuat yang senatiasa percaya dan mengandalkan

Allah sebagai satu-satunya penolong yang dapat membantu kita untuk menghadapi

segala kesulitan yang hadir dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Dalam

menghadapi kesulitan tersebut kita pun diajak untuk bersyukur terhadap setiap hal

yang terjadi dalam hidup kita. Kepada jemaatnya diTesalonika Paulus menasehati

mereka agar mereka senantiasa bersyukur terhadap segala hal, sebab itulah yang

dikehendaki oleh Allah bagi kamu (1Tes 5:18).

3. Menuju ke hidup Mistik

Hidup kasih yang berdimensi kontemplatif dan apostolik itu sedemikian kaya dan

luas, karena merupakan hidup Allah sendiri yang tak terselami dan tak terangkum

dalam hidup manusia (Darminta,1995: 17). Allah adalah kasih dan Ia memanggil

manusia karena kasih-Nya yang besar kepada manusia. Untuk menanggapi kasih Allah

(46)

membantunya mengarahkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Ada berbagai cara dan

jalan menuju kepada persatuan dengan Allah yang adalah sumber dari kesempurnaan

cinta kasih tersebut. Dalam keadaan apa pun setiap manusia Kristiani dipanggil untuk

mengarahkan hidup kepada Allah, bersatu dengan Allah dan tinggal di dalam

hadirat-Nya, sebagai sang pemberi kehidupan.

Tinggal di dalam kasih Allah berarti Allah ada dalam diri setiap pribadi yang

dipanggil. Ia hadir menyapa dan meneguhkan dalam situasi hidup. Karena Allah di

dalam kita maka kita pun diharapkan pula untuk tinggal di dalam-Nya (1Yoh 4 : 16 b).

Inilah hidup mistik. Hidup ini dapat kita hayati di dunia lewat pengabdian kita

(Darminta,1995: 18). Kesatuan hidup dengan Allah didunia ini pada hakekatnya ialah

tinggal dalam kasih-Nya, karena Allah sendiri adalah kasih. Untuk menghayati

kesatuan dengan Allah itu, Allah berkenan mengutus putra-Nya yang menjadi manusia

dan tinggal diantara kita (Yoh 1: 14). Jika Allah tinggal diantara kita, maka tidak ada

lagi alasan untuk bermegah diri dalam segala kelemahan dan juga tidak alasan lagi

untuk senantiasa mengejar keinginan-keinginan yang dapat menghalangi persatuan

dengan Allah. Semakin seseorang menjalankan praktek askese ia semakin masuk

dalam pengalaman mistik tersebut. Dalam pengalaman mistik tersebut sisi negatif

untuk dapat mengejar nafsu duniawi, rasa sakit dan tidak nyaman seolah-olah tidak

ada lagi yang ada hanyalah keinginan atau hasrat untuk senantiasa bersatu dan

mempersatukan diri dengan Allah. Oleh karena itu dalam kehidupan bersama setiap

(47)

penaklukan dorongan yang dapat menghalangi manusia itu sendiri menuju kepada

persatuan yang mesra dengan Allah.

Pengalaman mistik Paulus selalu terarah kepada Kristus yakni kepada wafat dan

kebangkitan-Nya. Hal itu paling jelas dikatakan secara dalam Flp 3:10 “Yang

kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekuatuan dalam

penderitaan-Nya”. Segala-galanya dilepas dan ditinggalkan, supaya memperoleh

Kristus dan berada dalam Dia (Flp 3:8-9). Seluruh pengalaman mistik Paulus

senantiasa terfokus kepada Kritus yang disalibkan karena kelemahan, namun hidup

karena kuasa Allah 2Kor 13:4 (Harjawiyata,1987: 37). Santo Paulus dalam suratnya

kepada umat di Galatia menulis, “ Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah

menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya

( Gal 5:24), maka untuk menjadi pengikut Kristus orang diharapkan untuk mampu

mematikan bahkan menyalibkan segala kelemahan diri yang mengikatnya untuk

menjadi pengikut Kristus. Dalam hal ini kedengarannya tidak masuk akal tetapi

maksud utamanya amatlah sangat penting yaitu memupuk kehidupan rohani yang

mana menghantar seseorang kepada pembaharuan kodratnya sebagai manusia agar

menjadi serupa dengan Kristus dan semakin menyatukan kehidupan dengan-Nya.

Persatuan itu juga dapat dicapai dengan saling menaruh pikiran dan perasaan yang

terdapat dalam Kristus Yesus (Flp 2:5). Dengan mengenakan hidup Yesus dan

melakukan yang diperbuat oleh Yesus inilah jalan menuju kesatuan dengan Allah

(48)

Kesatuan dengan Allah ini memanggil kita juga untuk membangun kesatuan kasih

dalam persaudaraan satu sama lain. Kesatuan kasih persaudaraan ini memanggil kita

juga untuk mengikuti-Nya, membangun komunitas bersama dengan penuh kesatuan

kasih yang menghantar kita kepada kesatuan dengan-Nya sehingga dunia mengakui

bahwa kita ini adalah murid-murid-Nya, seperti yang diungkapkan oleh Yesus sendiri

dalam doa-Nya “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau Ya Bapa

ada dalam Aku dan Aku dalam Engkau, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang

mengutus Aku (Yoh 17: 21). Untuk dapat menghayati perutusan kita sebagai

murid-murid Kristus dan membangun kesatuan dengan-Nya membutuhkan perjuangan dan

siap untuk menderita. Kedua sikap ini dibutuhkan agar semakin eratlah kesatuan kita

dengan Allah. Jika kesatuan diantara kita kuat, hal ini akan bersinar dalam dunia

(Arnold, 2003: 256). Membangun kesatuan kasih membutuhkan kepercayaan bahwa

Allah beserta kita dan tinggal diantara kita. Ia senantiasa hadir dan menyapa kita lewat

setiap peristiwa hidup kita, yang dibutuhkan adalah keterbukaan hati untuk

mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Nya.

Untuk menghayati kesatuan dengan Allah itu juga, maka ia berkenan mengutus

putra-Nya menjadi manusia dan tinggal diantara kita (Yoh 1: 14 ). Dia adalah

terang dunia (1Yoh 1: 5), dalam terang itu ada kebenaran dan hidup (Yoh 14: 6 ).

Karena Allah adalah kebenaran dan hidup maka Ia senantiasa memanggil kita untuk

tinggal dalam kebenaran dan melakukan perbuatan-perbuatan yang

(49)

mengandung kasih, pengorbanan, kerendahan hati, kesederhanaan dan ketulusan hati.

Semua ini dapat dicapai apabila kita senantiasa tinggal dalam Yesus. Jika kita tinggal

dalam Yesus, kita akan menemukan keaslian dalam bentuknya yang paling jelas

(Arnold, 2003: 109).

Kesatuan akan Kristus juga mendorong kita untuk dapat menaruh pikiran dan

perasaan yang terdapat dalam kristus (Flp 2:5). Menaruh pikiran dan perasaan menurut

Filipi ini menegaskan bahwa kesatuan dengan Allah membutuhkan kesatuan dalam

pemikiran dan memiliki satu perasaan yakni melaksanakan kehendak Allah.

Mengenakan hidup Yesus dan melakukan yang dikehendaki-Nya merupakan jalan

persatuan dengan Dia sendiri, jalan mistik kita (Darminta,1995: 21). Kehidupan Yesus

merupakan bukti nyata kesatuannya dengan Allah. Ia senantiasa menekankan kepada

kita untuk membangun kesatuan yang terus-menerus. Dan kesatuan yang pertama

yang diinginkan-Nya agar kita membangun kesatuan dengan Allah sendiri, seperti

kesatuan antara Ia dan Bapa-Nya. Kemudian kita diajak pula untuk membangun

kesatuan dengan sesama. Kesatuan sangat penting diusahakan, sebab kita tidak dapat

memisahkan pengabdian kepada Yesus dari pengabdian kepada saudara-saudara kita

(Arnold, 2003: 155).

4. Mengenakan keutamaan dan mengalahkan cacat cela

Usaha untuk mengenakan keutamaan dan mengalahkan cacat cela merupakan

kerinduan setiap manusia di dalam mengusahakan kekudusan hidup. Kekudusan tidak

(50)

dalam pertobatan (seri Gedono 11: 50). Hal ini dimaksudkan untuk menyadarkan

kepada kita bahwa setiap saat kita dipanggil kepada pertobatan. Pertobatan merupakan

karya Allah. Melalui pertobatan Allah membalikkan hati kita kepada-Nya (

KGK, 1998 : 363). Pertobatan juga berarti mempersembahkan diri sendiri kepada

Allah yang memberi pengampunan dan pembebasan dari dosa (Arnold, 2003: 36).

Dengan kata lain orang yang memiliki keterbukaan hati akan senantiasa memandang

kepada Allah yang adalah asal dan tujuan hidup. Karena Allah merupakan asal dan

tujuan hidup maka kita diundang ke dalam pesatuan dengan-Nya. Untuk dapat

membangun persatuan dengan Allah diperlukan suatu sikap hati yang berani

mengakui kesalahan dihadapan Allah dan bertobat. Allah menghendaki agar kita

tinggal di dalam kasih-Nya. Tinggal didalam kasih Allah berarti siap untuk diubah dan

berubah menuju kepada kehidupan yang lebih baik bersama dengan Yesus Kristus

sebagai sang juruselamat kita.

Yesus sendiri menyerukan supaya bertobat “Bertobatlah sebab kerajaan Allah

sudah dekat” (Mat 4:17). Ajakan untuk bertobat ini merupakan ajakan membaharui

diri, melepaskan diri dari keinginan yang membelenggu hidup manusia serta

senantiasa sadar akan setiap perbuatan maupun keinginan diri yang berlebihan dan

mau kembali kepada Allah mengakui kelemahan diri dihadapan-Nya. Pertobatan tidak

berarti menyiksa diri sendiri ,di adili oleh orang lain melainkan menjauhkan diri dari

korupsi, kekayaan,nafsu duniawi dan membiarkan hati digerakkan oleh suasana

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengusulkan program katekese model Shared Christian Praxis (SCP) bagi para guru PDp sebagai salah satu bentuk usaha untuk

Judul Skripsi : Kedudukan Mediasi Bagi Para Pihak Dalam Penyelesaian Sengketa Pertanahan Untuk Menjamin Kepastian Hukum Ditinjau Dari Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1