BAB II LANDASAN TERORI
A. Stres Kerja
2. Aspek-aspek stres
Greenberg (2004) menyatakan bahwa stres kerja adalah kombinasi dari sumber tekanan di tempat kerja, karakteristik individu dan sumber stres organisasi lainnya. Berdasarkan definisi tersebut maka secara sederhana streskeja dapat diartikan sebagai stres di tempat kerja. Pada dasarnya stres kerja merupakan stresyang umumnya dirasakan oleh seseorang hanya saja disebabkan oleh faktor-faktor yang ada di lingkungan pekerjaan, sehingga aspek-aspek stres kerja pun pada dasarnya sama dengan aspek-aspek stres. Stres kerja dapat dilihat dalam beberapa aspek. Sarafino (1994) membagi aspek stres ke dalam dua kategori yaitu :
a. Aspek Biologis
Aspek ini dapat dilihat dari reaksi fisik tubuh pada saat seseorang mengalami stres. Stres seringkali menimbulkan masalah kesehatan yang merupakan hasil dari pelemahan fungsi kekebalan tubuh, seperti borok, tekanan darah tinggi dan asma. Jika kondisi stres berlangsung terus, maka penyakit dan kerusakan secara fisik akan meningkat dan kematian dapat saja terjadi.
Sejalan dengan Sarafino, Anoraga (1992) menambahkan bahwa gejala biologis pada saat seseorang mengalami stres adalah sakit kepala (pusing, migrain, vertigo), sakit maag, mudah kaget (berdebar-debar), banyak keluar keringat dingin, gangguan pola tidur, lesu letih, kaku leher belakang sampai punggung, dada rasa panas atau nyeri, rasa tersumbat di kerongkongan, gangguan psikoseksual, mafsu makan menurun, mual, muntah, gejala kulit, bermacam-macam gangguan menstruasi, keputihan, kejang-kejang, penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi dan serangan jantung.
b. Aspek Psikososial
Pada saat seseorang mengalami stres maka aspek psikososial juga memainkan peran di dalamnya. Aspek psikososial sendiri dapat dibagi lagi menjadi tiga aspek yaitu :
1) Aspek Kognisi
Aspek ini dapat dilihat dari dampaknya pada kognisi seseorang. Cohen,dkk (Sarafino, 1994) mengatakan bahwa tingkat stres yang tinggi dapat merusak memori seseorang dan perhatiannya selama aktivitas kognitif. Dampak stres dalam hal kognisi ini berupa pengabaian ataupun kesalahan dalam memahami informasi penting dan kesulitan mengingat.
2) Aspek Emosi
Aspek emosi ini dapat dilihat dari reaksi emosi yang muncul pada saat seseorang stres yaitu takut, kecemasan, perasaan sedih, depresi dan kemarahan. Anoraga (1992) menambahkan gejala emosional dapat dilihat dari keadaan pelupa, sukar konsentrasi, sukar mengambil keputusan, cemas, was-was, kuatir, mimpi-mimpi buruk, murung, mudah marah atau jengkel, mudah menangis, pikiran bunuh diri, gelisah dan pandangan putus asa.
3) Aspek Perilaku Sosial
Stres dapat mengubah perilaku seseorang kepada orang lain. Pada saat seseorang mengalami kondisi penuh stres tertentu seseorang dapat membangun hubungan yang kooperatif dan perilaku menolong. Namun pada situasi stres yang lainnya seseorang dapat menjadi kurang suka bergaul, kurang dapat memberikan perhatian, lebih meninjukkan sikap bermusuhan dan menjadi kurang sensitif terhadap orang lain.
Gejala sosial yang dapat diamati adalah makin banyak merokok atau meminum minuman keras atau makan, sering mengontrol pintu dan jendela, menarik diri dari pergaulan sosial, mudah bertengkar sampai membunuh (Anoraga, 1992).
Berbeda dengan penjelasan di atas, Everly dan Girdani (dalam Munandar, 2001) membagi tanda-tanda adanya disstres sebagai berikut:
a. Tanda-tanda Suasana Hati (Mood)
Tanda-tanda kehadiran disstres yang berkaitan dengan suasana hati dapat berupa menjadi overexcited, cemas, merasa tidak pasti, sulit tidur pada malam hari (somnabulisme), menjadi mudah bingung dan lupa, menjadi sangat tidak nyaman dan gelisah serta menjadi gugup.
b. Tanda-tanda Otot Kerangka (Musculoskeletal)
Tanda-tanda otot kerangka yang dapat diamati adalah jari-jari dan tangan gemetar, tidak dapat duduk diam dan berdiri di tempat, mengembangakan tic, kepala mulai sakit, merasa otot menjadi tegang atau kaku, menggagap jika berbicara dan leher menjadi kaku.
c. Tanda-tanda Organ-organ dalam Badan (Visceral)
Tanda-tanda organ-organ dalam badan yang dapat dialami seperti perut terganggu, merasa jantung berdebar, banyak berkeringat, tangan berkeringat, merasa kepala ringan atau akan pingsan, mengalami kedinginan, wajah menjadi panas, mulut menjadi kering, mendengar bunyi berdenging di dalam kuping dan mengalami sinking feeling di dalam perut.
George and Jones (2005) menjelaskan aspek stres kerja dari dampak yang ditimbulkan stres kerja, dimana dampak tersebut dapat dibagi sebgai berikut :
a. Dampak Fisik
Dampak fisik stres meliputi susah tidur, telapak tangan berkeringat, merasa bergejolak, gemetar, hati terasa seperti dipukul-pukul, kenaikan tekanan darah, sakit kepala, pusing, kemuakan, sakit perut, sakit punggung, pembengkakan hati dan kerusakan pada sistem daya tahan tubuh. Dampak fisik stres yang paling buruk dapat terjadi jika stres dirasakan dalam jangka waktu panjang, seperti sakit jantung, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular serta penyakit hati.
b. Dampak Psikologis
Dampak stres dalam hal psikologis yang paling umum adalah mengalami perasaan penuh stres dan emosi mulai dari suasana hati yang buruk, kecemasan, khawatir dan kesedihan sampai kepada perasaan marah, rasa penghinaan, perasaan tidak enak/kepahitan dan perasaan bermusuhan. Seseorang cenderung memiliki sikap yang negatif pada saat ia mengalami stres. Karyawan yang mengalami stres cenderung memandang negatif beberapa aspek dalam pekerjan dan organisasinya serta cenderung memiliki kepuasan kerja dan komitmen organisasi yang rendah. Karyawan yang stres juga dapat merasa tidak dihargai, merasa kurangnya kontrol dan merasakan bahwa pekerjaan mereka mencampuri urusan pribadi mereka. Stres kerja yang berkepanjangan dapat juga menimbulkan burnout.
c. Dampak Perilaku
Stres juga memberikan dampak pada perilaku seseorang. Stres pada kadar tertentu akan meningkatkan unjuk kerja karyawan sampai pada batas tertentu. Namun jika batas tersebut terlewati maka unjuk kerja terebut kembali menurun. Selain mengurangi unjuk kerja karyawan, dampak stres pada perilaku meliputi ketegangan dalam hubungan interpersonal, ketidakhadiran dan pindah kerja (turnover). Pada saat karyawan mengalami stres pada tingkat yang tinggi maka sulit bagi mereka untuk dapat memeberikan perhatian dan memahami orang lain baik rekan kerja, bawahan, atasan maupun pelanggan seperti biasanya. Karyawan yang biasanya mudah setuju dapat tiba-tiba menjadi marah juga dapat terjadi pada saat ia mengalami stres. Selain itu karyawan yang stres juga memiliki hubungan yang tegang dengan pasangan dan keluarga.
Berdasarkan penjelasan di atas maka aspek stres kerja yang akan digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada pendapat Sarafino (1994) dan Anoraga (1992) yang dilengkapi oleh pendapat Everly dan Girdani (Munanadar, 2001) serta George dan Jones (2005) yang dapat dibedakan menjadi aspek bilogis/fisik, aspek emosi, aspek kognisi dan aspek perilaku.