• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA PEMIKIRAN

2. Aspek Finansial

Aspek non finansial mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan aliran kas, sumber dana, dan proyeksi keuangan.

a) Teori Biaya dan Manfaat

Segala sesuatu yang mengurangi manfaat disebut sebagai biaya, sedangkan segala sesuatu yang membantu tujuan disebut sebagai manfaat. Menurut Nurmalina et al. (2009), studi kelayakan bisnis sebagai suatu upaya membandingkan arus komponen-komponen biaya dan manfaat yang tidak terjadi pada waktu yang sama selama umur bisnis. Perbedaan pengukuran biaya dan manfaat saat perhitungan analisis studi kelayakan dapat dianalisis menggunakan laporan keuangan. Perbedaan pengukuran biaya dan manfaat saat perhitungan analisis studi kelayakan dapat dianalisis menggunakan laporan keuangan.

Komponen biaya nyata (tangible cost) adalah barang-barang fisik, tenaga kerja, tanah, biaya tak terduga, pajak, jasa pinjaman, biaya-biaya tak diperhitungkan (sunk cost). Komponen manfaat nyata (tangible benefit) adalah peningkatan produksi, perbaikan kualitas produk, perubahan waktu dan lokasi penjualan, serta perubahan bentuk produk (Nurmalina et al. 2009).

b) Konsep Nilai Waktu dari Uang

Setiap nilai uang sekarang (present value) lebih berharga dibandingkan dengan nilai mata uang yang sama pada masa yang akan datang (future value) disebut sebagai time preference. Perbedaan waktu antara pengeluaran biaya investasi dan manfaat yang diterima tidak dapat dibandingkan, sehingga perhitungan nilai uang terhadap waktu perlu diperhatikan (Nurmalina et al. 2009).

20

Menurut Nurmalina et al. (2009), perubahan nilai uang akibat perubahan waktu disebabkan oleh beberapa perubahan tingkat inflasi, konsumsi, dan produktivitas. Besarnya perbedaan bergantung pada biaya yang timbul pada saat menentukan pilihan investasi dan meninggalkan kesempatan investasi lain.

Opportunity Cost of Capital (OCC) atau biaya imbangan dari modal yang akan diinvestasikan merupakan dasar penentuan tingkat bunga (discount rate).

Perhitungan konversi antara nilai sekarang (present value) dan nilai yang akan datang (discount factor) digambarkan dengan berbagi factor yang terdapat dalam tabel compounding and discounting. Discount factor (P/F) digunakan untuk menghitung nilai sekarang (P) saat diketahui sejumlah nilai tertentu di masa yang akan datang (F) dengan memperhatikan periode tertentu (n). Compounding factor

untuk menghitung nilai di waktu yang akan datang (F) saat diketahui sejumlah uang sekarang (P) untuk periode waktu tertentu (n) (Nurmalina et al. (2009).

c) Analisis Kriteria Investasi

Laporan laba rugi mencerminkan total penerimaan dan pengeluaran yang diperoleh selama satu tahun produksi (Nurmalina et al. 2009). Perhitungan laporan laba rugi digunakan untuk menghitung besar pajak penghasilan yang akan dimasukkan ke dalam cash flow. Tujuannya adalah menggambarkan besarnya pendapatan yang diperoleh selama periode tertentu (Kasmir dan Jakfar 2003).

Menurut Kasmir dan Jakfar (2003), estimasi pendapatan dari jenis-jenis pemasukan uang yang masuk (cash in) dan estimasi biaya dari jenis-jenis pengeluaran (cash out) harus dirinci secara teliti dengan asumsi-asumsi tertentu melalui pembuatan aliran kas (cashflow) selama periode usaha. Menurut Ibrahim (1997) cashflow sebagai alat kontrol pengendalian biaya untuk memudahkan pencapaian tujuan usaha dan menurut Nurmalina et al . (2009) sebagai bukti yang menunjukkan alasan perubahan kas dari sumber-sumber kas serta penggunaannya.

Cash flow digunakan untuk menganalisis kriteria investasi kelayakan bisnis. Tujuan perhitungan kriteria investasi adalah untuk mengetahui seberapa besar suatu usaha mampu memberikan manfaat berupa financial benefit maupun

social benefit. Hasil perhitungan kriteria investasi menjadi pedoman pengambilan keputusan diterima atau ditolak suatu gagasan usaha (Ibrahim 1997). Perhitungan kriteria investasi antara lain:

1. Net Present Value (NPV)

NPV adalah selisih antara total present value manfaat dengan total present value biaya dari manfaat bersih tambahan selama umur bisnis (Nurmalina

et al. 2009). Perhitungan net benefit telah didiskonto dengan menggunakan

Social Opportunity Cost of Capital (SOCC) sebagai Discount Factor (DF) (Ibrahim 1997).

2. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net B/C merupakan rasio antara net benefit yang telah di-discount positif dan net benefit yang telah di-discount negatif.

3. Internal Rate of Return (IRR)

IRR sebagai uji seberapa besar pengembalian bisnis terhadap investasi yang ditanamkan (Nurmalina et al. 2009). IRR berada pada kondisi

Discount Factor (DF) menghasilkan NPV sama dengan nol. IRR tersebut memperlihatkan bahwa present value (PV) benefit akan sama dengan

present value (PV) cost. DF merupakan Opportunity Cost of Capital

21 4. Payback Period (PP)

Perhitungan PP berfungsi untuk mengukur seberapa cepat investasi dapat kembali. Semakin cepat suatu usaha dapat mengembalikan biaya investasi, maka semakin baik perputaran modal untuk usaha tersebut (Nurmalina et al. 2009).

d) Analisis Sensitivitas

Tujuan analisis sensitivitas adalah menilai kondisi kelayakan suatu kegiatan investasi ketika terjadi perubahan perhitungan biaya dan manfaat. Analisis sensitivitas dilakukan dengan cara mengubah variabel yang penting secara terpisah atau kombinasi dengan persentase tertentu yang diketahui. Besarnya sensitivitas perubahan variabel tersebut berdampak pada hasil kelayakan (NPV,IRR,Net B/C). Analisis sensitivitas dilakukan setelah analisis pascakriteria investasi untuk menganalisis bisnis saat terjadi perubahan atau ketidaktepatan perhitungan biaya dan manfaat (Nurmalina et al. 2009).

Variasi analisis sensitivitas adalah analisis nilai pengganti (switching value). Analisis sensitivitas dengan switching value merupakan perhitungan untuk mengukur perubahan maksimum dari komponen inflow (perubahan harga, penurunan produksi) atau perubahan komponen outflow (peningkatan harga input) yang dapat ditoleransi agar bisnis tetap layak. Apabila perubahan melebihi nilai pengganti tersebut, maka bisnis tidak layak dijalankan (Nurmalina et al. 2009).

Kerangka Pemikiran Operasional

Ikan patin termasuk komoditas unggulan karena bernilai ekonomis tinggi, teknologi budidaya dapat diterapkan dan tersedia, permintaan pasar tinggi, serta dapat dibudidayakan dan dikembangkan secara massal. Pemerintah mengembangkan ikan patin dengan kegiatan percepatan industrialisasi patin dan pelarangan impor fillet ikan patin. Upaya peningkatan produksi ikan patin untuk kebutuhan lokal dan ekspor akan meningkatkan permintaan benih ikan patin.

Kabupaten Bogor cocok untuk pembenihan ikan patin. Wilayah pemasaran benih ikan patin dari Kabupaten Bogor tersebar di wilayah Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Wilayah pemasaran yang cukup luas tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha pembenihan ikan patin memenuhi permintaan benih ikan patin. Pasirgaok Fish Farm merupakan unit pembenihan ikan patin siam di Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Usaha dimulai sejak bulan Oktober 2012 menggunakan 2 unit hatchery. Sistem pemeliharaan larva dilakukan secara intensif dengan padat penebaran larva antara 63 ekor per liter dan 88 ekor per liter, sehingga potensi produksi benih ikan patin siam per siklus sangat tinggi.

Pasirgaok Fish Farm mengalami kelebihan permintaan benih ikan patin siam sebanyak 33 978 000 ekor per tahun dari wilayah Bogor, Lampung, Palembang, Riau, Jambi, Banten, Purwakarta, dan Tulungagung. Pasirgaok Fish Farm mengalami kendala meningkatkan produksi benih ikan patin siam untuk memenuhi kelebihan permintaan tersebut. Salah satu kendala adalah penerapan teknik inkubasi telur dalam air menggenang di akuarium. Penerapan teknologi sederhana tersebut memudahkan pertumbuhan jamur selama proses inkubasi telur dan diduga menyebabkan derajat penetasan telur rendah sebesar 48 persen, sedangkan hasil derajat penetasan telur sebesar 81 persen dengan sistem corong resirkulasi.

22

Rencana Pasirgaok Fish Farm adalah melakukan intensifikasi penerapan sistem corong resirkulasi untuk proses inkubasi telur (skenario II). Pertumbuhan jamur dengan teknik inkubasi telur dalam air menggenang akan menurunkan derajat penetasan telur dan menimbulkan risiko produksi, sehingga sistem corong resirkulasi digunakan untuk mengurangi pertumbuhan jamur, meningkatkan derajat penetasan telur, dan memaksimumkan padat penebaran larva. Upaya meningkatkan produksi benih ikan patin siam juga dilakukan dengan cara ekstensifikasi untuk memenuhi kelebihan permintaan dan memanfaatkan lahan seluas 5 124 m2. Upaya ekstensifikasi merupakan skenario III melalui penambahan hatchery sebanyak 4 unit dan bertujuan meningkatkan produksi benih ikan patin siam 3 kali lipat dari kondisi aktual Pasirgaok Fish Farm atau skenario I. Kombinasi upaya ekstensifikasi dan intensifikasi produksi benih ikan patin siam merupakan skenario IV untuk meningkatkan produksi benih ikan patin siam 2 kali lipat dari kondisi intensifikasi Pasirgaok Fish Farm atau skenario II. Caranya dilakukan dengan menambah 2 unit hatchery yang menerapkan sistem corong resirkulasi.

Risiko produksi benih ikan patin siam sebesar 61 persen dialami oleh Pasirgaok Fish Farm pada tahun 2013. Terjadinya risiko produksi disebabkan oleh pengaruh musim dan rendahnya derajat penetasan telur dengan teknik inkubasi telur dalam air menggenang. Oleh sebab itu, analisis sensitivitas penurunan produksi sebesar 61 persen perlu dilakukan untuk menilai dampaknya terhadap hasil kelayakan kondisi aktual Pasirgaok Fish Farm (skenario I). Di samping itu, Pasirgaok Fish Farm perlu memperhatikan kemungkinan perubahan komponen

input (penurunan produksi benih) dan output (kenaikan harga pakan benih) agar rencana pengembangan usaha dapat diprediksi keberlanjutannya. Harga pakan benih berupa cacing sutera meningkat sebesar 58 persen saat terjadi kelangkaan dan pengaruhnya perlu dianalisis terhadap hasil kelayakan setiap skenario. Selain itu, besarnya perubahan maksimum penurunan produksi benih yang dapat ditoleransi oleh Pasirgaok Fish Farm perlu diperhitungkan dan dianalisis pengaruhnya terhadap hasil kelayakan setiap skenario agar tetap layak dijalankan.

Analisis kelayakan pengembangan usaha pembenihan ikan patin siam dilakukan dengan menilai kelayakan aspek non finansial dan aspek finansial. Kelayakan aspek non finansial mempengaruhi penilaian kelayakan berdasarkan aspek finansial karena kedua aspek tersebut berjalan secara bersamaan selama kegiatan bisnis beroperasi. Analisis aspek non finansial antara lain: aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum, aspek sosial, dan aspek hukum.

Analisis aspek finansial menggunakan analisis kriteria investasi (NPV, Net

B/C, IRR, PP) untuk menilai apakah sejumlah investasi yang ditanamkan layak atau tidak dijalankan. Penilaian kelayakan aspek finansial merupakan gambaran penilaian terhadap keuangan perusahaan secara keseluruhan dan menjadi bahan pertimbangan bagi investor mengambil keputusan skenario pengembangan bisnis yang akan dijalankan. Aspek yang dinilai layak menjadi saran bagi Pasirgaok Fish Farm, sedangkan aspek yang tidak layak diperbaiki hingga mencapai kelayakan. Analisis sensitivitas penurunan produksi dan kenaikan harga pakan benih ikan patin siam dilakukan setelah bisnis layak dijalankan. Untuk lebih jelasnya, kerangka pemikiran penelitian secara skematis dapat dilihat pada Gambar 1.

23

Gambar 1 Kerangka pemikiran operasional Potensi :

1. Pengembangan produksi ikan patin di Indonesia melalui industrialisasi patin dan pembatasan kuota impor produk olahan ikan patin.

2. Jumlah kebutuhan benih ikan patin sangat tinggi.

3. Bogor sebagai sentra pembenihan ikan patin di Jawa Barat.

4. Pasirgaok Fish Farm mengalami kelebihan permintaan benih ikan patin siam sebanyak 33 978 000 ekor per tahun.

5. Potensi meningkatkan produksi benih ikan patin siam dengan sistem pemeliharaan larva secara intensif.

6. Tersedia lahan seluas 5 124 m2 yang belum termanfaatkan. Kendala:

Penerapan teknik inkubasi telur dalam air menggenang di akuarium berisiko menumbuhkan jamur dan menurunkan derajat penetasan telur

Aspek Non Finansial Aspek pasar, Aspek teknis, Aspek manajemen, Aspek hukum, Aspek

sosial, dan Aspek lingkungan

Aspek Finansial NPV, Net B/C, IRR, Payback

Period

Layak Tidak layak

Analisis sensitivitas

Penurunan produksi dan kenaikan pakan benih ikan patin siam

Rekomendasi pengembangan usaha Skenario I

Penerapan teknik inkubasi

telur dalam air menggenang (kondisi aktual)

Usaha Pembenihan Ikan Patin Siam di Pasirgaok Fish Farm

Saran perbaikan kriteria kelayakan Skenario II Penerapan teknik inkubasi telur dengan sistem corong resirkulasi (intensifikasi) Skenario III Penambahan 4 unit hatchery (ekstensifikasi dari skenario I) Skenario IV Penambahan 2 unit

hatchery dan penerapan sistem corong resirkulasi

(ekstensifikasi dan intensifikasi dari

24

Dokumen terkait