ANALISIS KELAYAKAN ASPEK NON FINANSIAL
B. Manajemen Air
5. Tahap pemeliharaan larva
Tahap pemeliharaan larva mengalami survival rate hingga menjadi benih ikan patin siam ukuran 3/4 inci selama 21 hari sebesar 50 persen saat musim kemarau dan 45 persen saat musim hujan.
Layout
Pasirgaok Fish Farm dibangun di lahan seluas 7 680 m2. Kondisi aktual usaha pembenihan ikan patin siam menempati lahan seluas 1 360 m2 dan sisa lahan digunakan untuk budidaya ikan gurami dan ikan patin albino sebagai hobi.
62
Pasirgaok Fish Farm menentukan bentuk dan penempatan fasilitas bangunan untuk mempermudah proses pergerakan pegawai melakukan pengusahaan ikan patin siam, sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat dan mudah dilakukan.
Layout unit pembenihan ikan patin siam yang telah dilengkapi meliputi: bangunan kolam pemeliharaan induk, saluran irigasi, sumur bor, sumur gali, tandon air, kolam treatment air, hatchery, mess pegawai, wadah penyimpanan cacing, tempat penetasan Artemia, tempat penyimpanan obat, tempat penyimpanan pakan, tempat pembuangan limbah, tempat peralatan mesin, serta area stripping dan pengepakan. Pengaturan tata letak bangunan diurutkan berdasarkan pada proses produksi. Layout usaha pembenihan ikan patin siam kondisi aktual Pasirgaok Fish Farm terdapat dalam Lampiran 3.
Skenario II membutuhkan perluasan lahan menjadi 1 435 m2 untuk penambahan unit penetasan telur seluas 74.8 m2 ≈ 75 m2. Layout unit penetasan telur berada di antara bangunan hatchery ke-1 dan hatchery ke-2 untuk mempermudah proses pengangkutan larva dan menjaga kondisi larva tetap berada pada suhu ruangan. Layout usaha pembenihan ikan patin siam skenario II pada Pasirgaok Fish Farm terdapat dalam Lampiran 3, sedangkan layout unit penetasan telur terdapat dalam Lampiran 4.
Skenario III membutuhkan perluasan lahan menjadi 6 484 m2 untuk penambahan 4 unit hatchery berserta fasilitas bangunan unit pembenihan lainnya. Kondisi fisik unit pembenihan yang baru seperti kondisi aktual unit pembenihan yang lama karena kapasitas produksi tidak berubah. Setiap 2 unit hatchery
ditangani oleh 3 orang pegawai. Luas kolam induk ditingkatkan 3 kali lipat dari kondisi aktual menjadi 1 332 m2 akibat peningkatan jumlah induk 3 kali lipat dari kondisi aktual. Layout usaha pembenihan ikan patin siam skenario III pada Pasirgaok Fish Farm terdapat dalam Lampiran 5.
Skenario IV membutuhkan perluasan lahan menjadi 5 830 m2 untuk penambahan 2 unit hatchery berserta fasilitas bangunan unit pembenihan lainnya. Kondisi fisik unit pembenihan yang baru seperti kondisi aktual unit pembenihan yang lama karena kapasitas produksi tidak berubah. Setiap 2 unit hatchery
ditangani oleh 3 orang pegawai. Luas kolam induk ditingkatkan 2.5 kali lipat dari kondisi aktual menjadi 1 076 m2 akibat peningkatan jumlah induk 2 kali lipat dari kondisi aktual. Layout usaha pembenihan ikan patin siam skenario IV pada Pasirgaok Fish Farm terdapat dalam Lampiran 6.
Pemilihan Jenis Teknologi
Teknologi yang diterapkan kondisi aktual Pasirgaok Fish Farm adalah pemijahan buatan, pembuahan buatan sistem kering, penggunaan treatment air, dan teknik inkubasi telur dalam air menggenang di akuarium. Teknik pemijahan buatan menggunakan hormon perangsang buatan dengan merek dagang Ovaprim dan Chorulon. Metode pembuahan menggunakan sistem kering, yaitu induk betina diurut untuk mengeluarkan telur dan induk jantan diurut untuk mengeluarkan cairan sperma yang langsung dicampur ke dalam kumpulan telur tersebut. Rekayasa kualitas air sumur bor dan sumur gali di dalam kolam
treatment. Rekayasa air melalui proses antara lain: pengendapan, aerasi air selama 24 jam, psebaneningkatkan pH air dengan kapur, dan proses filtrasi dengan water purifier. Penerapan teknologi pembenihan ikan patin siam melalui intensifikasi
63 adalah teknik inkubasi telur dengan sistem corong resirkulasi dan metode pembuahan sistem basah.
Hasil penilaian kriteria kelayakan aspek teknis usaha pembenihan ikan patin siam pada Pasirgaok Fish Farm layak dijalankan. Hasil analisis aspek teknis terdapat dalam Lampiran 7.
Aspek Manajemen Fungsi Perencanaan
Pendekatan membuat perencanaan yang dilakukan adalah pendekatan campuran. Investor memberikan petunjuk perencanaan perusahaan secara garis besar, sementara perencanaan terperinci dirancang oleh manajer produksi menyesuaikan aturan yang ada. Semisal pemimpin perusahaan memerintahkan siklus produksi sebanyak 2 kali per bulan, maka waktu pelaksanaannya diatur oleh manajer produksi. Perencanaan dari segi jangka waktu menerapkan perencanaan jangka pendek, yakni perencanaan produksi setiap 2 siklus selama 1 bulan. Perencanaan dari segi tingkatan manajemen menerapkan perencanaan operasional, yakni merinci kegiatan produksi sehari-hari sesuai jadwal. Jadwal kegiatan produksi setiap siklus selama 1 bulan merupakan alat koordinasi. Proses pembenihan ikan patin siam setiap siklus telah dijadwalkan per bulan terdapat dalam Lampiran 8.
Manajer produksi merencanakan jadwal kegiatan produksi sesuai dengan teknik pembenihan ikan patin siam menggunakan sistem corong resirkulasi, sehingga fungsi perencanaan berubah dalam skenario II. Jadwal kegiatan produksi benih ikan patin siam dengan sistem corong resirkulasi terdapat dalam Lampiran 8.
Skenario III mengakibatkan jumlah siklus produksi setiap bulan menjadi 6 siklus per bulan. Persiapan pemijahan dilakukan mulai hari ke-1 di hatchery ke-1 dan dilakukan secara berturut-turut hingga hari ke-6 di hatchery ke-6. Jadwal kegiatan produksi benih ikan patin siam skenario III terdapat dalam Lampiran 9.
Skenario IV mengalami sebanyak 4 siklus per bulan. Persiapan pemijahan
hatchery ke-1 dimulai pada hari ke-1 dan hatchery ke-2 dimulai pada hari ke-2, sedangkan persiapan pemijahan hatchery ke-3 dimulai pada hari ke-5 dan
hatchery ke-4 dimulai pada hari ke-6. Jadwal kegiatan produksi benih ikan patin siam skenario IV terdapat dalam Lampiran 10.
Fungsi Pengorganisasian
Gambar 27 Struktur organisasi Pasirgaok Fish Farm
Bagan struktur organisasi Pasirgaok Fish Farm ditunjukkan pada Gambar 27. Struktur organisasi sederhana Pasirgaok Fish Farm terdiri atas: investor pasif, manajer produksi, dan pegawai bagian produksi. Investor pasif adalah Bapak Sahban yang menanamkan modal investasi dan membiayai kegiatan operasional,
Investor pasif Manajer produksi
64
akan tetapi Bapak Sahban tidak berada di lokasi dan tidak mengelola perusahaan secara langsung. Manajer produksi menerima rencana secara garis besar dari investor pasif untuk menjalankan aktivitas bisnis di Pasirgaok Fish Farm dan merencanakan rencana tersebut secara terperinci. Terdapat 3 orang pegawai tetap bagian produksi yang akan menerima arahan serta tugas langsung dari manajer produksi dan menerima arahan secara tidak langsung dari investor pasif.
Rincian pekerjaan dan pembagian kerja menyesuaikan jabatan dalam struktur organisasi dan keahlian individu sesuai aktivitas yang dikerjakan. Investor bertugas menyediakan biaya investasi, biaya reinvestasi, biaya operasional, kebutuhan bahan baku yang sulit dijangkau di lokasi usaha (Ovaprim,
Chorulon, Artemia), dan mengembangkan usaha.
Manajer produksi berpengalaman melakukan pembenihan ikan patin sejak 10 tahun dan melakukan pelatihan dengan pembudidaya pembenihan ikan patin di daerah Ciseeng. Manajer produksi bertugas menentukan waktu siklus produksi, menentukan target produksi setiap siklus, melakukan proses pembenihan yang membutuhkan keahlian khusus (seleksi induk, penyuntikan, stripping, penebaran telur, sortasi, pengobatan), mendistribusikan benih, menentukan persediaan bahan baku, menetapkan harga, promosi, dan mengatur keuangan setiap siklus.
Tugas pegawai bagian produksi antara lain: manajemen induk, sterilisasi
hatchery dan peralatan pemijahan, proses seleksi induk (menangkap induk, menimbang, mengangkut induk), penyuntikan hormon, stripping, memanen larva, pemeliharaan larva (manajemen pakan dan manajemen air), memanen benih, menyortir, dan membungkus kantong benih. Pengorganisasian pegawai bagian produksi dalam skenario III adalah membagi 2 unit hatchery kepada 3 pegawai, sehingga total pegawai bagian produksi sebanyak 9 orang.
Skenario II membagi kerja 3 pegawai bagian produksi lama dan 1 pegawai baru. Pegawai bagian produksi memiliki tugas baru, yakni pemberian pakan induk sebanyak 26 kg per hari secara rutin, penjemuran dan pencucian bahan filter, sterilisasi unit penetasan telur, penimbangan induk betina dan jantan, penimbangan telur, dan pencucian telur dengan tanah liat. Manajer produksi memiliki tugas baru, yakni menerapkan teknik penyuntikan sesuai BPPI (2013b) maupun Iswanto dan Tahapari (2010), serta menerapkan teknik pembuahan basah sesuai Mahyuddin (2010), BPPI (2013b), maupun Iswanto dan Tahapari (2010). Pegawai baru bertugas mengoperasikan unit penetasan telur dan mengerjakan seluruh tugas proses pembenihan ikan patin siam. Skenario IV membutuhkan 8 pegawai bagian produksi dengan menerapkan 2 unit penetasan telur.
Mekanisme koordinasi pekerjaan adalah manajer menentukan jadwal siklus produksi dimulai. Informasi tersebut disampaikan kepada para pegawai bagian produksi maupun investor pasif. Investor mengirimkan dana, sementara pegawai bagian produksi menjalankan tugas sesuai keahlian. Langkah-langkah meningkatkan efektivitas pekerjaan dilakukan dengan cara menyesuaikan tugas individu sesuai keahlian, menyusun layout fasilitas bangunan sesuai urutan produksi, mereinvestasi peralatan yang telah habis masa umur pakainya, dan menerapkan teknologi tepat guna.
Fungsi Pelaksanaan
Investor pasif menetapkan sistem gaji pegawai bagian produksi berdasarkan pada hasil produksi benih per siklus. Gaji manajer menerapkan sistem komisi
65 sebesar 40 persen dari total penerimaan dikurangi biaya variabel dan biaya tetap kecuali biaya promosi internet dan pajak yang menjadi beban investor. Sistem komisi dan sistem gaji berdasarkan pada hasil produksi benih memacu manajer dan pegawai bagian produksi untuk bekerja lebih baik, setia terhadap tugas, pemimpin, maupun perusahaan. Praktik teknik pembenihan ikan patin siam dengan metode pembuahan basah dan cara kerja unit penetasan telur dapat diaplikasikan oleh pegawai dan manajer produksi karena seluruh pegawai dan manajer melakukan pelatihan di BPBAT Cijengkol Subang serta penambahan tenaga kerja yang mengoperasikan unit penetasan telur.
Fungsi Pengawasan
Fungsi pengawasan dilaksanakan oleh manajer kepada pegawai produksi secara langsung di lapang. Pegawai saling mengawasi dan memberikan arahan antarpegawai. Investor mengawasi secara tidak langsung menggunakan kamera CCTV kepada manajer dan pegawai, apabila terjadi penyalahgunaan wewenang yang telah diberikan. Wewenang manajer adalah pelaksanaan kegiatan produksi di Pasirgaok Fish Farm dan mengatur biaya operasional setiap siklus, sedangkan wewenang pegawai bagian produksi adalah menggunakan fasilitas perusahaan untuk meningkatkan produksi.
Analisis penilaian kriteria kelayakan aspek manajemen terhadap usaha pembenihan ikan patin siam di Pasirgaok Fish Farm layak dijalankan dan hasil analisis tersebut ditunjukkan pada Tabel 15.
Tabel 15 Hasil analisis kelayakan aspek manajemen usaha pembenihan ikan patin siam pada Pasirgaok Fish Farm
Kriteria kelayakan Indikator kelayakan Keterangan
Fungsi perencanaan
Pendekatan campuran. Perencanaan jangka pendek. Perencanaan operasional.
Layak
Fungsi
pengorganisasian
Struktur organisasi sederhana.
Rincian pekerjaan dan pembagian kerja sesuai keahlian dan urutan proses produksi. Mekanisme koordinasi pekerjaan terstruktur. Upaya meningkatkan efektivitas pekerjaan
sesuai keahlian, layout lokasi, reinvestasi, dan penerapan teknologi tepat guna.
Layak
Fungsi pelaksanaan
Penerapan sistem gaji komisi 40 persen dari laba bersih bagi manajer dan sistem gaji berdasarkan pada hasil produksi benih bagi pegawai bagian produksi.
Layak
Fungsi pengawasan
Manajer dan pegawai saling mengawasi di lapang, sementara investor mengawasi melalui rekaman kamera CCTV.
66
Aspek Hukum
Pasirgaok Fish Farm merupakan perusahaan perorangan karena modal berasal dari 1 orang investor pasif. Alasan pemilik usaha memilih bentuk usaha perusahaan perorangan karena pendirian mudah, pajak ringan, dan struktur organisasi sederhana. Pasirgaok Fish Farm belum memiliki Izin Usaha Perikanan. Padahal menurut Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2003 Tentang Izin Usaha Peternakan dan Perikanan mengategorikan Pasirgaok Fish Farm ke dalam skala pemilikan wajib izin usaha budidaya ikan di kolam air tenang karena produksi benih ikan patin di atas 500 000 ekor per bulan. Hak pemegang Izin Usaha Perikanan adalah mendapatkan pembinaan dan perlindungan dari pemerintah daerah atas kegiatan usahanya, serta memanfaatkan sumberdaya setempat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Analisis penilaian kriteria kelayakan aspek hukum terhadap usaha pembenihan ikan patin siam di Pasirgaok Fish Farm belum layak dijalankan dan hasil analisis tersebut ditunjukkan pada Tabel 16. Syarat Izin Usaha Perikanan yang perlu dilengkapi sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 8 Tahun 2003 antara lain: pengisian formulir permohonan izin, fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), lampiran izin lokasi, lampiran Izin Mendirikan Bangunan (IMB), lampiran Surat Izin Tempat Usaha (SITU), dan salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Tabel 16 Hasil analisis kelayakan aspek hukum usaha pembenihan ikan patin siam pada Pasirgaok Fish Farm
Kriteria kelayakan Indikator kelayakan Keterangan Sumber Bentuk perusahaan Perusahaan perorangan Layak
Kelengkapan surat
KTP pemilik usaha PBB tanah dan bangunan
rumah
BPKB Mitsubishi L300 dan Honda Supra X 125 D
Layak Belum Izin Usaha Perikanan
Belum memiliki NPWP Belum memiliki Izin lokasi Belum memiliki IMB Belum memiliki SITU
Tidak layak Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 8 Tahun 2003 Aspek Sosial dan Aspek Lingkungan
Aspek Sosial
Keberadaan Pasirgaok Fish Farm memberikan pekerjaan bagi warga Desa Pasirgaok dan warga Kabupaten Bogor di kecamatan lain, serta membuka lapangan pekerjaan bagi warga Subang yang memiliki keahlian menggunakan sistem corong resirkulasi. Pasirgaok Fish Farm melatih dan meningkatkan skill
para pegawai maupun manajer produksi menggunakan teknologi pembenihan ikan patin siam. Pasirgaok Fish Farm bersedia berbagi ilmu kepada petani ikan lain karena banyak pembenih ikan patin berkunjung. Aktivitas ekonomi meningkatkan
67 mutu hidup pegawai menjadi lebih baik dibandingkan dengan mengganggur dan memberikan pengaruh positif bagi masyarakat di sekitar lokasi.
Aspek Lingkungan
Limbah berdasarkan bentuk fisik yang timbul akibat proses pembenihan ikan patin siam adalah limbah padat dan limbah cair. Limbah padat bekas sisa kemasan antara lain: kaleng Artemia, bungkus pelet, botol dan kemasan plastik obat-obatan, jarum suntik, serta peralatan mesin yang mengalami reinvestasi. Penanganan limbah padat adalah dijual kepada pedagang pengepul barang bekas terkecuali jarum suntik dibakar untuk mengantisipasi penyalahgunaan jarum suntik oleh oknum tertentu.
Limbah cair berupa air buangan dari kolam pemeliharaan induk dan bekas pemeliharaan larva belum ditangani oleh Pasirgaok Fish Farm. Usaha pembenihan ikan patin siam tidak memiliki kewajiban melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sesuai Peraturan Menteri Negara dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2012 Tentang Jenis Rencana Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup karena jenis kegiatan usaha budidaya perikanan yang wajib melakukan AMDAL adalah budidaya tambak udang atau ikan dan budidaya perikanan terapung di air tawar atau air laut. Limbah cair dibuang ke sungai di sekitar lokasi usaha dan tidak membahayakan karena masyarakat Desa Pasirgaok menggunakan sumur bor dan sumur gali sebagai sumber air bersih.
Jenis limbah berdasarkan zat pembentuk adalah limbah organik yang mudah terurai. Limbah organik tersebut adalah sisa makanan pegawai, sisa pakan Artemia dan cacing sutera yang membusuk, maupun larva atau benih ikan patin siam yang mati akibat penyakit. Larva atau benih ikan patin siam yang mati akibat penyakit akan disisihkan, dikumpulkan, dan dibakar.
Usaha pembenihan ikan patin siam di Pasirgaok Fish Farm layak dijalankan berdasarkan pada aspek sosial dan aspek lingkungan. Hasil analisis penilaian kriteria kelayakan ditunjukkan pada Tabel 17.
Tabel 17 Hasil analisis kelayakan aspek sosial dan lingkungan usaha pembenihan ikan patin siam pada Pasirgaok Fish Farm
Kriteria kelayakan Indikator kelayakan Keterangan
Aspek sosial
Lapangan kerja masyarakat Desa Pasirgaok, Kabupaten Bogor, dan Subang.
Meningkatkan keahlianteknologi pembenihan ikan patin siam
Berbagi ilmu dengan petani ikan patin lain Aktivitas ekonomi berdampak positif bagi
masyarakat
Layak
Aspek lingkungan
Limbah cair tidak berbahaya dan tidak wajib AMDAL sesuai Peraturan Menteri Negara dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2012
Limbah padat dijual ke pengepul barang bekas Limbah organik dibakar
68