BAB 6 HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1.3 Aspek Institusional-organisasi-manajerial
Aspek institusional-organisasi-manajerial mengkaji mengenai bentuk badan usaha, jumlah pekerja, pemilik usaha, susunan organisasi, pembagian tugas masing-masing pekerja, hingga keterlibatan institusi pemerintah dalam mengembangkan perkebunan kopi arabika di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso.
Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat merupakan salah satu usaha pengolahan kopi yang dimiliki oleh kelompok pekebun kopi yang terdapat di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Kelompok pekebun kopi Usaha Tani Empat dibentuk berdasarkan grand design ekspor kopi Bank Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor kopi arabika di lereng Gunung Raung Bondowoso. Usaha Tani Empat merupakan kelompok pekebun kopi yang berada di bawah naungan Koperasi Rejo Tani sebagai anggota dari koperasi tersebut. Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat belum memiliki badan hukum resmi dari pemerintah setempat karena usaha tersebut merupakan suatu usaha yang dijalankan oleh suatu kelompok pekebun kopi. Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat juga belum memiliki bentuk badan usaha yang resmi, sehingga masih berjalan dengan sangat sederhana seperti usaha pengolahan miliki kelompok pekebun lainnya.
Proses perekrutan pekerja dari non keluarga dilakukan secara sederhana, dengan membuka lowongan kerja bagi masyarakat sekitar yang membutuhkan
76
pekerjaan. Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat membutuhkan empat pekerja pada saat kegiatan pengolahan kopi dan bioetanol berlangsung. Usaha Tani Empat merekrut masyarakat sekitar yang memiliki waktu lebih untuk bekerja di unit pengolahan kopi arabika milik Usaha Tani Empat sebagai operator mesin-mesin pengolah kopi dan bioetanol. Tenaga kerja yang dipilih minimal memiliki pengalaman mengenai cara mengoperasikan mesin-mesin pengolah kopi dan bioetanol. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat yang tidak berpengalaman untuk menjadi tenaga kerja pada unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat. Mereka akan mendapatkan bimbingan dari seksi pengolahan yang dimiki oleh Usaha Tani Empat. Selain itu, Usaha Tani Empat juga menggunakan dua tenaga kerja lainnya untuk proses sortasi biji kopi arabika HS basah yang telah dijemur selama satu hingga dua hari untuk selanjutnya dikemas dalam karung 80 kg.
Tenaga kerja yang bekerja di unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat untuk kegiatan pengolahan kopi adalah pria. Hal ini disebabkan karena kaum pria lebih banyak memiliki pengalaman dalam mengoperasikan mesin- mesin pengolah kopi daripada kaum wanita. Sedangkan untuk kegiatan sortasi biji kopi arabika HS basah yang telah di jemur, Usaha Tani Empat menggunakan tenaga kerja ibu-ibu rumah tangga yang berada di sekitar lokasi unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat. Hal ini dikarenakan Usaha Tani Empat ingin memanfaatkan waktu luang ibu-ibu di sore hari.
Jenis pekerjaan yang dilakukan dalam mengolah buah kopi hingga menjadi biji kopi arabika HS basah antara lain: mengangkut kopi dari alat transportasi ke unit pengolahan kopi arabika, memasukkan buah kopi arabika gelondongan ke dalam mesin pengolah, mengoperasikan mesin-mesin pengolah kopi, memindahkan kopi hasil olahan suatu mesin ke mesin lainnya, mencuci biji kopi setelah biji kopi difermentasi hingga menjadi biji kopi arabika HS basah, mengatur air yang digunakan selama proses pencucian, menjemur biji kopi arabika HS basah hasil fermentasi, menimbang biji kopi arabika HS basah dalam karung, dan menjualnya ke Koperasi Rejo Tani. Jenis pekerjaan yang dilakukan dalam proses sortasi biji kopi arabika HS basah antara lain: memisahkan biji kopi
77
arabika HS basah dengan biji kopi yang rusak serta kotoran lainnya dan melakukan pengemasan biji kopi arabika HS basah menggunakan karung 80 kg.
Pembagian tenaga kerja dilakukan dengan membagi antara tenaga kerja untuk proses mengolah buah kopi arabika gelondongan hingga menjadi biji kopi arabika HS basah dan tenaga kerja untuk proses sortasi biji kopi arabika HS basah yang telah dijemur. Tidak ada pembagian kerja yang lebih spesifik dari tiap tenaga kerja dalam menjalankan kedua proses tersebut. Tenaga kerja hanya bekerja sesuai dengan kebutuhan selama proses pengolahan berlangsung. Misalnya, satu pekerja mengurus kopi untuk diolah di mesin pengupas kopi (pulper) lalu pekerja lainnya yang belum menjalankan proses pengolahan dapat membantu untuk memindahkan kopi hasil kupasan ke mesin lainnya. Proses pengolahan dilakukan oleh para pekerja secara bersama-sama, sehingga pekerja terus bekerja dan tidak ada yang menunggu selama proses pengolahan berlangsung. Sedangkan untuk mengolah bioetanol, Usaha Tani Empat menggunakan salah satu pekerja yang bekerja pada pengolahan kopi. Kegiatan pengolahan bioetanol dilakukan saat pekerjaan pengolahan kopi selesai. Hal tersebut dilakukan agar penggunaan mesin pengolah kopi dapat berjalan secara efisien karena terus digunakan selama proses yang tidak terputus.
Rata-rata jam kerja untuk mengolah kopi di usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat berkisar antara empat hingga enam jam yang dilakukan mulai pukul tiga sore hingga pukul tujuh atau sembilan malam. Proses pengolahan dimulai saat buah kopi arabika glodongan tiba di unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat. Setelah buah kopi tiba, para pekerja langsung memprosesnya hingga menjadi biji kopi arabika HS basah yang siap difermentasi. Kemudian, biji kopi arabika HS basah difermentasi selama satu hingga dua hari di dalam bak persegi kapasitas 750 liter. Setelah proses fermentasi selesai para pekerja melanjutkan pekerjaan mereka hingga biji kopi arabika HS basah dihasilkan.
Pada proses pengolahan buah kopi, pekerja menampung limbah cair cucian pertama biji kopi hasil fermentasi kedalam tong plastik kapasitas 150 liter. Jumlah upah yang diberikan untuk tiap tenaga kerja dihitung berdasarkan hari yang besarnya Rp 35 000 per harinya. Sedangkan untuk proses sortasi biji kopi arabika
78
HS basah yang telah dijemur, upah diberikan berdasarkan banyaknya biji kopi arabika HS basah yang disortir. Upah untuk proses ini adalah Rp 20 000 tiap kwintalnya. Rata-rata tiap pekerja mampu menyortir sebanyak dua kwintal tiap harinya.
Pengolahan bioetanol mulai dilakukan setelah kegiatan pengolahan kopi selesai. Proses fermentasi limbah cair kopi arabika untuk menghasilkan bioetanol mentah dilakukan sendiri oleh pengelola usaha pengolahan kopi arabika dan bioetnaol Usaha Tani Empat yaitu ketua Usaha Tani Empat. Sedangkan untuk mengolah bioetanol mentah hingga menjadi full grade bioetanol menggunakan destilator bertingkat, Usaha Tani Empat menggunakan empat tenaga kerja pengolah kopi secara bergantian satu orang untuk tiap harinya. Untuk mengolah bioetanol, rata-rata dibutuhkan waktu kurang lebih selama tiga jam tiap harinya. Namun, pekerjaan yang dilakukan jauh lebih mudah dan ringan jika dibandingkan dengan pekerjaan mengolah kopi. Pekerja akan mendapat tambahan upah sebesar Rp 20 000 per harinya untuk mengolah bioetanol. Kegiatan pengolahan bioetanol dilakukan setiap hari dalam satu bulan selama tiga bulan masa panen.
Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat tidak memiliki struktur organisasi yang baku. Usaha tersebut dikelola langsung oleh ketua Usaha Tani Empat. Struktur organisasi dari usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat terdiri dari pengelola selaku pemilik usaha serta pekerja lainnya yang berasal dari non keluarga (masyarakat sekitar) (Gambar 14).
Sumber: Data primer
Gambar 14 Struktur organisasi usaha pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat merupakan usaha yang dijalankan oleh kelompok pekebun kopi Usaha Tani Empat yang didirikan atas gagasan dari Bank Indonesia untuk membangun industri kopi dari hulu ke hilir. Bank Indonesia melakukan kajian terhadap pembentukan kluster
Pemilik Usaha Tani Empat
Tenaga kerja non keluarga Tenaga kerja non keluarga Tenaga kerja non keluarga Tenaga kerja non keluarga
79
kopi di wilayah lereng Gunung Raung tepatnya di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat mendapat dukungan secara resmi dari tujuh lembaga antara lain: Bank Indonesia, Bank Jatim, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso, Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso, Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI), dan PT. Indokom Citra Persada.
Bank Indonesia memberikan bantuan dalam bentuk pelatihan terhadap para pekebun kopi di Kecamatan Sumberwringin termasuk juga para anggota dan pengurus Usaha Tani Empat. Bank Jatim memberikan bantuan kepada para pekebun kopi di Kecamatan Sumberwringin yang membutuhkan dana dalam bentuk pinjaman. Namun, usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat belum pernah mengajukan bantuan kepada Bank Jatim. Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso bersama Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso memberikan bantuan berupa Hak Guna Usaha (HGU) terhadap lahan hutan untuk dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya kopi arabika milik anggota Usaha Tani Empat. Selain itu, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso juga menjadi jembatan atas bantuan pembangunan unit pengolahan kopi yang diberikan oleh Dinas Perkebunan dan Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia dan Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) memberikan bantuan berupa bibit kopi dan juga berbagai pembinaan mengenai budidaya tanaman kopi dan kegiatan pengolahan kopi. Sedangkan PT. Indokom Citra Persada berperan sebagai pihak pengekspor kopi arabika yang dihasilkan oleh Usaha Tani Empat dan seluruh kelompok pekebun kopi yang merupakan anggota dari Koperasi Rejo Tani.
Banyaknya dukungan dari berbagai pihak menjadikan usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat sangat menguntungkan. Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat mendapatkan kepastian pasar karena seluruh produk kopi arabika yang dihasilkan akan diserap oleh PT. Indokom Citra Persada melalui Koperasi Rejo Tani. Oleh karena itu, usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat tidak perlu merasakan kesulitan dalam memasarkan produk mereka. Selain itu Usaha Tani Empat juga
80
mendapat bantuan dari Bank Indonesia, sehingga sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kopi arabika dapat diajukan langsung kepada Bank Indonesia.
Usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat juga dapat mengajukan pinjaman ke Bank Jatim untuk mendanai kebutuhan mereka jika dibutuhkan. Selain itu, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso juga bersedia memberikan ijin perluasan lahan untuk budidaya kopi arabika, sehingga produksinya dapat terus ditingkatkan. Apabila unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat membutuhkan bantuan teknis mengenai proses pengolahan kopi, pengelola unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat dapat mencari informasi melalui Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia atau Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI).
Pada aspek institusional-organisasi-manajerial, usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat tidak memiliki struktur organisasi yang baku serta tidak memiliki badan hukum yang resmi namun usaha tersebut mampu berjalan dengan sangat baik dan tidak ada pekerjaan yang menyimpang dari masing-masing pekerjanya. Selain itu, dengan menjadi anggota dari Koperasi Rejo Tani, usaha pengolahan kopi arabika dan bioetanol Usaha Tani Empat mendapat jaminan pasar untuk seluruh produk kopi arabika yang dihasilkan, sehingga peningkatan produksi dapat terus dilakukan.