• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 GAMBARAN UMUM

5.1 Gambaran Umum Usaha Tani Empat

Kopi bondowoso terutama kopi arabika yang dihasilkan di lereng Gunung Raung, sebelum tahun 2010 memiliki permintaan yang sangat rendah bahkan cenderung tidak ada pembeli. Saat kopi robusta mulai dipanen, kopi arbika tersingkir dari pasaran. Pada tahun 2002 harga kopi arabika yang dihasilkan oleh pekebun kopi di lereng Gunung Raung Kabupaten Bondowoso hanya Rp 800 per kilogramnya. Selanjutnya pada tahun 2010 perkebunan kopi arabika di Bondowoso mulai mendapat dukungan dari investor. Pada tahun 2010 Bank Indonesia melihat potensi yang begitu besar di wilayah lereng Gunung Raung, Kabupaten Bondowoso. Potensi tersebut mendorong Bank Indonesia untuk merancang dan membangun cluster (kelompok) pekebun kopi di lereng Gunung Raun. Pada tahun 2011 lima kelompok pekebun kopi di lereng Gunung Raung tepatnya di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso mulai dibentuk. Pada tahun 2012 eskpor kopi pertama dilakukan oleh kelompok pekebun kopi di Kecamatan Sumberwringin. Kopi yang dihasilkan para pekebun tersebut diekspor menuju Swiss melalui mitra kerja mereka yaitu PT. Indokom Citra Persada.

Sejak eskpor dilakukan kopi dari Kabupaten Bondowoso terutama yang dihasilkan di wilayah lereng Gunung Raung mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pada tahun 2012 Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai memberi dukungan kepada pekebun kopi di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Berbagai bantuan diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso ke pekebun kopi di Kecamatan Sumberwringin, untuk meningkatkan produksi kopi arabika di wilayah tersebut. Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga membentuk 16 kelompok pekebun kopi baru. Kelompok pekebun kopi baru tersebut juga mendapatkan bantuan yang sama dengan lima kelompok pekebun kopi sebelumnya. Bantuan yang diberikan berupa pendirian unit pengolahan kopi meliputi bantuan pendirian bangunan unit pengolahan kopi dan bantuan mesin pengolah kopi. Selain mendapat dukungan

44

dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kelompok pekebun kopi di Kecamatan Sumberwringin juga mendapat dukungan dari tujuh lembaga antara lain: Bank Indonesia, Bank Jatim, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso, Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso, Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI), dan PT Indokom Citra Persada.

Kelompok pekebun kopi Usaha Tani Empat termasuk kedalam 16 kelompok pekebun kopi baru yang dibentuk oleh Pemerintah Provisnsi Jawa Timur pada tahun 2012. Sejak awal terbentuk hingga saat ini anggota kelompok pekebun kopi Usaha Tani Empat berjumlah sebanyak 25 pekebun kopi yang berasal dari Dusun Kluncing. Usaha Tani Empat bersama kelompok tani lainnya menggunakan lahan- lahan Hak Guna Usaha (HGU) hutan milik Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso untuk melakukan budidaya dan produksi buah kopi arabika gelondongan. Para pekebun kopi ini membayar 30% dari total produksi mereka kepada Dinas Perkebunan dan Kehutanan atas lahan yang mereka gunakan. Para pekebun kopi tersebut menggunakan teknik tumpangsari dengan tanaman hutan lainnya dalam membudidayakan tanaman kopi. Lahan yang diolah oleh anggota Usaha Tani Empat rata-rata seluas dua hektar dan tiap hektarnya mampu menghasilkan buah kopi arabika gelondongan sebanyak lima hingga delapan ton.

Selain memproduksi buah kopi arabika gelondongan, kelompok pekebun kopi Usaha Tani Empat melakukan usaha pengolahan kopi arabika dengan memanfaatkan bantuan yang telah diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Lokasi usaha pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat terletak di ketinggian 800 mdpl tepatnya di sebelah rumah ketua Usaha Tani Empat di Dusun Kluncing, Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Kegiatan pengolahan kopi arabika yang dilakukan Usaha Tani Empat sudah dimulai sejak tahun didirikannya unit pengolahan kopi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur yaitu pada tahun 2012. Hal ini disebabkan karena pendirian unit pengolahan kopi hanya membutuhkan waktu selama empat bulan yang dimulai diawal tahun 2012. Oleh sebab itu, pada bulai Mei 2012 saat panen kopi

45

berlangsung, kegiatan pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat sudah mulai dilakukan.

Usaha Tani Empat mampu memproduksi rata-rata 35 ton kopi arabika per tahun dalam bentuk biji kopi Hard Skin (HS) basah. Selain menjual kopi arabika dalam bentuk biji kopi HS basah, Usaha Tani Empat juga menjual kopi dalam bentuk biji kopi HS kering, green bean, dan bubuk kopi siap saji yang dikemas menggunakan plastik dengan takaran 200 gr. Namun Usaha Tani Empat lebih banyak memproduksi kopi arabika dalam bentuk biji kopi HS basah. Hal tersebut dilakukan karena waktu yang dibutuhkan untuk mengolah kopi menjadi biji kopi HS basah jauh lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan untuk mengolah kopi menjadi biji kopi HS kering, green bean, atau bubuk kopi siap saji. Selain itu, PT. Indokom Citra Persada selaku pembeli tunggal atas produk kopi arabika Usaha Tani Empat hanya menerima kopi dalam bentuk biji kopi HS basah.

Kegiatan pengolahan kopi arabika yang dilakukan oleh Usaha Tani Empat menghasikan limbah yang sangat besar jumlahnya. Limbah tersebut berupa limbah padat dan limbah cair yang berbau menyengat. Pada tahun 2013 unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat dipilih untuk menjadi lokasi penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Universitas Negeri Jember. Penelitian tersebut bertujuan untuk menanggulangi limbah cair kopi yang dihasilkan di unit pengolahan kopi dengan mengolahnya menjadi bahan bakar alternatif berupa bioetanol. Dengan demikian, kedepannya usaha pengolahan kopi bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi mereka dan limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kopi dapat ditangani. Pada tahun 2014 penelitian tersebut membuahkan hasil berupa alat pengolah limbah cair kopi menjadi bioetanol yang selanjutnya diberikan kepada Usaha Tani Empat. Dengan adanya alat tersebut, Usaha Tani Empat memiliki produk sampingan berupa bioetanol yang dihasilkan dari limbah cair kopi.

Usaha Tani Empat memiliki struktur organisasi dalam menjalankan usahanya yang bertujuan agar usaha yang dijalankan oleh kelompok pekebun kopi ini dapat berjalan secara efektif dan efisien. Struktur organisasi ini terdiri dari pengurus dan para anggota. Susunan kepengurusan Usaha Tani Empat dalam satu Period berlaku dalam kurun waktu yang tidak ditentukan (Gambar 5). Usaha Tani

46

Empat diketuai oleh Bapak Subaili dan dibantu oleh Bapak Supriyanto sebagai sekertaris dan Didit sebagai bendahara.

Sumber: Data primer

Gambar 5 Struktur organisasi kelompok pekebun kopi Usaha Tani Empat Selain itu, terdapat pula empat seksi di bawah ketua, yaitu seksi budidaya, pengolahan, pengendalian hama dan penyakit, dan seksi pemasaran. Keempat seksi tersebut bekerja langsung di bawah naungan ketua Usaha Tani Empat. Adapun kinerja dari keempat seksi tersebut adalah:

a. Seksi budidaya, bertugas dalam proses budidaya kopi yang meliputi penyiapan dan pemilihan bibit kopi, penyiapan lahan, penanaman bibit, dan pemeliharaan tanaman budidaya. Seksi budidaya juga bertugas dalam memberikan bimbingan dan bantuan teknis kepada para anggota selama proses budidaya berlangsung.

b. Seksi pengolahan, memiliki tugas dalam mengolah kopi yang telah dipanen hingga menjadi produk siap jual. Bagian ini memiliki kewenangan dalam mengatur dan mengawasi proses pengolahan, sehingga proses pengolahan yang berlangsung sesuai dengan Standar Operasioanal Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

Pembina

Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bondowoso Ketua Subaili Bendahara Didit Sekertaris Supriyanto Seksi Budidaya Dedi Seksi Pengolahan Nahrawi Seksi Pemasaran Holis Seksi Pengendalian

Hama dan Penyakit Fifin

47

c. Seksi pengendalian hama dan penyakit, seksi ini bertugas dalam mengatasi permasalahan tanaman kopi terutama mengenai hama dan penyakit yang menjangkit tanaman kopi budidaya. Seksi ini bertugas dalam memberikan bimbingan dan bantuan teknis kepada para anggota agar tidak terjadi kesalahan dalam memperlakukan tanaman yang terserang hama atau penyakit.

d. Seksi pemasaran, seksi pemasaran bertugas dalam memasarkan produk kopi yang dihasilkan baik melalui koperasi maupun konsumen secara langsung. Selain itu, seksi pemasaran juga bertugas dalam membuka peluang pemasaran di luar koperasi melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang tertarik dengan produk kopi dari unit pengolahan kopi arabika Usaha Tani Empat.

Dokumen terkait