BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.6 Sistem Pengelolaan Sampah
2.1.6.2 Aspek Non Teknis
Operasi suatu sistem pengelolaan persampahan sangat ditentukan oleh peraturan-peraturan yang mendukungnya. Peraturan-peraturan tersebut melibatkan wewenang dan tanggung jawab badan pengelola serta partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan kebersihan dan pembayaran retribusi.
Keberhasilan pengelolaan persampahan bukan hanya tergantung aspek teknis semata, tetapi mencakup juga aspek non teknis, seperti bagaimna mengeatur system agar dapat berfungsi, bagaimana lembaga atau organisasi yang sebaiknya mengelola, bagaimana membiayai sisem tersebut dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana melibatkan masyarakat penghasil smpah dalam aktivitas penanganan sampah. Departemen Pekerjaan Umum sejak tahun 1980-an menggariskan bahwa kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia merupakan sebuah sistem yang terdiri dari 5 komponen sub sistem, yaitu:
a) Peraturan/hukum;
b) Kelembagaan dan organisasi;
c) Teknik operasional;
d) Pembiayaan;
e) Peran serta masyarakat.
2.1.6.2.1 Pengaturan/ Legalitas
Aspek pengaturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum yang berlaku. Manajemen persampahan kota di Indonesia membutuhkan kekuatan dan
dasar hukum. Peraturan yang diperlukan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah di perkotaan antara lain adalah yang mengatur tentang:
a) Keterlibatan umum yang terkait dengan penanganan sampah;
b) Rencana induk pengelolaan sampah kota;
c) Bentuk lembaga dan organisasi pengelola;
d) Tata cara penyelenggaraan pengelolaan;
e) Besaran tarif jasa pelayanan atau restribusi.
Pengelolaan persampahan ini diatur dengan peraturan-peraturan yang berlaku yang disertai dengan pembinaan, pengawasan dan sanksi-sanksi untuk menegakkan hukum. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa setiap sendi-sendi kehidupan di negara Indonesia berpijak pada hukum. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan persampahan, setiap kawasan perumahan, kawasan komersil, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya diwajibkan memiliki instalasi pemilahan sampah. Pemerintah akan memberikan sanksi yang keras baik berupa sanksi administratif maupun pidana bagi yang melanggar.
Semua peraturan ini tidak saja melibatkan pihak pengelolanya saja, melainkan harus didukung oleh peran serta masyarakatnya dalam hal pengumpulan, pemeliharaan kebersihan serta kedisiplinan dalam pembayaran iuran retribusi sampah (Artiningsih, N. K. A, 2008).
2.1.6.2.2 Aspek Pembiayaan
Struktur pembiayaan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu (Damanhuri, 2004):
a) Biaya investasi
Merupakan biaya yang diperlukan untuk pengadaan perangkat keras (peralatan dan sasaran) dan pengadaan lunak seperti studi/perencanaan induk program persampahan, penyusunan sistem prosedur, pendidikan dan latihan awal serta biaya insidentil penerapan sistem baru;
b) Biaya operasional, seperti:
Gaji dan upah;
Transportasi, seperti bahan bakar;
Perawatan dan perbaikan;
Pendidikan dan latihan;
Administrasi kantor dan lapangan.
Aspek pembiayaan merupakan sumber daya penggerak agar roda system pengelolaan persampahan di kota tersebut dapat bergerak dengan lancar.
Diharapkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia akan menuju pada pembiayaan sendiri, termasuk disini dengan pembentukan perusahaan daerah (Damanhuri, 2004).
2.1.6.2.3 Aspek Institusi
Aspek institusi merupakan suatu kegiatan yang multi disiplin yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspek-aspek ekonomi, sosial, budaya dan kondisi fisik wilayah kota dan memperhatikan pihak yang dilayani yaitu masyarakat kota, perancangan dan pemilihan bentuk organisasi disesuaikan dengan:
a) Peraturan pemerintah yang membinanya;
b) Pola sistem operasional yang diterapkan;
c) Kapasitas kerja sistem;
d) Lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani.
Kebijakan yang diterapkan di Indonesia dalam mengelola sampah kota secara formal adalah seperti yang diarahkan oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah sebagai departemen teknis yang membina pengelola persampahan perkotaan di Indonesia. Bentuk institusi pengelolaan persampahan kota yang dianut di Indonesia:
a) Seksi Kebersihan dibawah satu dinas, misalnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) terutama apabila masalah kebersihan kota masih bisa ditanggulangi oleh suatu seksi di bawah dinas tersebut;
b) Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) dibawah suatu dinas, Dinas PU terutama apabila dalam struktur organisasi belum ada seksi khusus dibawah dinas yang mengelola;
c) Kebersihan, sehingga lebih memberikan tekanan pada masalah operasi dan lebih mempunyai otonom daripada seksi;
d) Dinas Kebersihan akan memberikan percepatan dan pelayanan pada masyarakat dan bersifat laba. Dinas ini perlu dibentuk karena aktivitas dan volume pekerjaan yang sudah meningkat;
e) Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan, merupakan organisasi pengelola yang dibentuk bila permasalahan di kota tersebut sudah cukup luas dan kompleks.
Pada prinsipnya perusahaan daerah ini tidak lagi disubsidi oleh pemerintah
daerah (Pemda), sehingga efektivitas penarikan restribusi akan lebih menentukan. Bentuk ini sesuai untuk kota metropolitan.
2.1.6.2.4 Aspek Peran Serta Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih dan pada akhirnya dapat menumbuhkan dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam bidang kebersihan. Perubahan bentuk perilaku masyarakat dapat terwujud apabila ada usaha membangkitkan masyarakat dengan mengubah kebiasaan sikap dan perilaku terhadp kebersihan/sampah tidak lagi didasarkan kepada keharusan atau kewajibannya, tetapi lebih didasarkan kepada nilai kebutuhan. (Neolaka,Amus.2010)
Menurut Syafrudin (2004), salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah melaksanakan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, seperti minimasi limbah dan melaksanakan 5 R (Reuse, Recycling, Recovery, Replacing dan Refilling). Kedua program tersebut bisa dimulai dari sumber timbulan sampah
hingga kelokasi TPA. Seluruh sub sistem didalam sistem harus dipandang sebagai suatu sistem yang memerlukan keterpaduan didalam pelaksanaannya.
Sistem pengelolaan sampah terpadu ( Integrated Solid Waste management) didefinisikan sebagai pemilihan dan penerapan program teknologi dan manajemen untuk mencapai sistem yang tinggi, dengan hirarki sebagai berikut (Tchobanoglous, 1993 dalam Syafrudin, 2004 ).
1. Source Reduction, yaitu proses minimalis sampah di sumber dalam hal kuantitas timbulan dan kualitas timbulan sampah, terutama reduksi sampah berbahaya.
2. Recyclling, yaitu proses daur ulang yang berfungsi untuk mereduksi kebutuhan sumberdaya dan reduksi kuantitas sampah ke TPA.
3. Waste Transformation, yaitu proses perubahan fisik, kimia dan biologis perubahan sampah. Dimana ketiga komponen itu akan menentukan :
a) perubahan tingkat efesiensi yang diperlukan didlam sistem pengelolaan.
b) Perlunya proses reduce, reuse, dan recycle sampah.
c) Proses yang dapat menghasilkan barang lain yang bermanfaat seperti pengomposan.
d) Landfillimg, sebagai akhir dari suatu pengelolaan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Pemilihan dan penerapan teknologi dalam kontek ini tentunya dilakukan sehingga terpilih teknologi tepat guna. Di dalam operasional sistem pengelolaan sampah, pendekatan yang tepat adalah pendekatan sistem pemanfaatan terpadu (Integrated Material Recovery-IMR ). Pada masyarakat yang masih mengandalkan
TPA sebagai akhir pengelolaan limbahnya, strategi pendekatan IMR ini tepat untuk diterapkan. Kesadaran masyarakat untuk menerapkan konsep ini akan memicu tumbuhnya pengelolaan sampah berbasis masyarakat disamping kegiatan yang berusaha untuk meminimasi sampah. Mengingat konsep IMR pada dasarnya adalah memanfaatkan kembali sampah yang masih berpotensi untuk didaur ulang,
disetiap langkah operasi yaitu mulai dari pewadahan, pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir. Sistem IMR akan meningkatkan perolehan berbagai bahan yang bernilai ekonomi dan dapat dipasarkan, bukan menghambat kemampuan yang ada .
Peningkatan peran serta masyarakat relatif akan berhasil bila memperhatikan aspek-aspek berikut:
a) Komunikasi yang menumbuhkan pengertian yang berhasil;
b) Perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku yang diakibatkan oleh pengertian yang menumbuhkan kesadaran;
c) Kesadaran yang didasarkan kepada perhitungan dan pertimbangan d) Antusiasme, yang menumbuhkan spontanitas;
e) Adanya rasa tanggung jawab, terhadap kepentingan bersama.
Permasalahan yang terjadi berkaitan dengan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan, yaitu antaranya:
a) Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata;
b) Belum melembagakan keinginan dalam masyarakat untuk menjaga lingkungan;
c) Belum ada pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan pedoman pelaksanaan;
d) Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan penyuluhan dalam programnya;
e) Kekhawatiran pengelola bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai dengan konsep Pengelolaan yang ada.