BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.6 Sistem Pengelolaan Sampah
2.1.6.1 Aspek Teknis Operasional
2.1.6.1.3 Sistem Transfer dan Transportasi
Transfer dan transport merupakan fasilitas yang digunakan untuk memindahkan sampah dari satu lokasi ke lokasi lain. Hal ini dilakukan jika jarak
angkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) cukup jauh. Operasi transfer harus cocok untuk semua jenis kendaraan pengumpul dan sistem konveyor.
Pengangkutan sampah adalah sub-sistem yang bersasaran membawa sampah dari lokasi pemindahan atau dari sumber secara langsung menuju Tempat Pemprosesan Akhir (TPA).
Pengangkutan sampah merupakan salah satu komponen penting dan membutuhkan perhitungan yang cukup teliti, dengan sasaran mengoptimalisasikan waktu angkutan yang diperlukan dalam sistem tersebut (Damanhuri, 2004).
Faktor-faktor yang menyebabkan diperlukan operasi transfer:
a) Menghindari terjadinya pembuangan sampah illegal;
b) Lokasi TPA yang jauh dari tempat pengumpulan, lebih dari 10 mil;
c) Kapasitas kendaraan pengumpulan yang kecil d) Daerah pelayanan kecil;
e) Menggunakan sistem HCS dengan kontainer kecil;
f) Menggunakan sistem pengumpulan secara hidrolis.
Transfer station dibedakan atas:
a. Direct Load
Pada jenis ini sampah langsung di masukkan ke trailer/kendaraan angkut dipadatkan dan dibawa ke TPA.
b. Storage Load
Sampah dimasukkan ke wadah penampungan dengan kapasitas penyimpanan 1-3 hari, baru dibawa ke TPA.
c. Kombinasi Direct Load dan Storage Load Transfer station ini biasanya digunakan pada fasilitas multipurpose.
Untuk mendesain stasiun transfer perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Jenis operasi transfer yang digunakan;
b. Penyimpanan dan kapasitas yang diperlukan;
c. Perlengkapan yang dibutuhkan;
d. Pertimbangan sanitasi lingkungan;
e. Lokasi stasiun transfer harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Berada di tengah daerah pelayaran;
Mudah dicapai;
Penduduknya jarang dan tidak ada efek lingkungan yang ditimbulkan;
Konstruksi dan operasinya ekonomis.
Kendaraan yang digunakan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a) Biaya yang minimal;
b) Sampah harus ditutup selama pengangkutan;
c) Kendaraan didesain untuk lalu lintas jalan raya;
d) Kapasitas kendaraan sesuai dengan yang dibolehkan;
e) Metodenya sederhana.
Kendaraan-kendaraan yang biasa digunakan dalam sistem ini adalah:
a) Truk terbuka, volume 6 m3, 8 m3, 10 m3; b) Dump truk, volume 6m3, 8 m3,10 m3;
TPS TPA
Pool Kendaraan
c) Arm roll truk atau truk kontainer pengangkut muatan (load haul container truck);
d) Compactor truk, volume 6 m3, 8 m3, 10 m3.
Sistem pengangkutan (transport) sampah dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini:
a) Non kontainer
Untuk pengumpulan sampah yang dilakukan dengan menggunakan LPS non kontainer, sistem yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:
Kendaraan pengangkut yang keluar dari pool lokasi kendaraan langsung menuju ke LPS untuk mengangkut sampah menuju LPA;
Setelah sampah dibuang, kendaraan kembali menuju ke LPS yang sama atau yang lain untuk kembali mengangkut sampah pada ritase berikutnya.
Gambar 2.3 Pengangkutan Sampah Non Container Sumber: Tchobagnolous, 1993
b) Sistem Kontainer
Ada dua jenis sistem pengangkutan sampah dengan menggunakan container antara lain: HCS (Hauled Container System) yaitu kontainer yang berfungsi sebagai pengumpul sampah diangkut menuju LPA dan LPS (Stationary Container Sistem) yaitu dengan kondisi kontainer tetap berada ditempatnya.
Keduanya memiliki cara persamaan tersendiri dalam menentukan jumlah sampah terangkut dan ritasi yang dapat diperoleh.
Untuk pengumpulan sampah dengan sistem kontainer, terdapat beberapa pola pengangkutan sebagai berikut:
a. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara 1:
Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke TPA;
Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula;
Menuju ke kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke TPA;
Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula;
Demikian seterusnya sampai rute terakhir.
Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 1 dapat dilihat pada gambar berikut
Gambar 2.4 Pola Pengangkutan dengan Sistem
Pengosongan Kontainer Cara 1 (Sumber: Tchobagnolous, 1993)
TPA
b. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara 2
Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke pemerosesan atau TPA;
Kemudian kendaraan dengan kontainer kosong menuju ke lokasi kedua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa kontainer isi untuk diangkut ke TPA;
Demikian seterusnya sampai terakhir;
Pada rute terakhir, kontainer kosong dari TPA menuju ke lokasi kontainer pertama;
Sistem ini diberlakukan pada kondisi tertentu misal untuk pengambilan pada jam tertentu atau mengurangi kemacetan lalu lintas.
Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 2 dapat dilihat pada gambar berikut
Gambar 2.5 Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer cara 2 (Sumber: Tchobagnolous, 1993)
TPA
isi A
kosong
A B B C
pool
1 2 3 4
5 kontainer
Ke lokasi kontainer 6
7
b. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara 3
Kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kosong menuju lokasi kontainer isi untuk mengganti dan langsung membawanya ke TPA;
Kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju ke kontainer isi berikutnya, Demikian seterusnya sampai rute terakhir.
Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 3 dapat dilihat pada gambar berikut
Gambar 2.6 Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer cara 3 (Sumber: Tchobagnolous, 1993)
c. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara 4 (Gambar 2.6)
Kendaraan dari pool menuju kontainer pertama, sampah dituangkan kedalam truk kompaktor dan meletakkan kembali kontainer kosong;
Kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truk penuh, kemudian langsung ke TPA;
Demikian seterusnya sampai rute terakhir.
TPA
isi kosong
pool
1 2 3 4 5
kontainer
6
7 Ke pool
Pola pengangkutan dengan sistem kontainer tetap dapat dilihat pada gambar 2.7.
Gambar 2.7 Pola Pengangkutan dengan Sistem Kontainer Tetap Sumber: Tchobagnolous, 1993
Tabel berikut adalah Tipikal Peralatan Subsistem Pengangkutan dapat dilihat pada tabel 2.8
Tabel 2.8 Peralatan Subsistem Pengangkutan Jenis
Peralatan
Konstruksi/Bahan Kelebihan Kelemahan Catatan Truk Biasa
Jenis Peralatan
Konstruksi/Bahan Kelebihan Kelemahan Catatan Truck With
Bila mengacu pada sistem di negara maju, maka pengangkutan sampah dapat dilakukan dengan dua metode (Damanhuri, 2004):
a) Hauled Container System (HCS)
Adalah sistem pengumpulan sampah yang wadah pengumpulannya dapat dipindah-pindahkan dan ikut dibawa ke tempat pembuangan akhir. HCS merupakan sistem wadah angkut untuk daerah komersil (kontainer dibawa ke tempat pengumpulan, dikosongkan dan dikembalikan ke lokasi semula).
Hauled Container System dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Konvensional
Wadah sampah yang telah berisi penuh akan diangkut ke tempat pembongkaran, kemudian setelah dikosongkan wadah sampah tersebut dikembalikan ke tempat semula.
Exchange container
Wadah sampah yang telah berisi penuh akan diangkut dan tempatnya akan langsung diganti oleh wadah kosong yang telah dibawa.
b) Stationary Container System (SCS)
Sistem pengumpulan sampah yang wadah pengumpulannya tidak dibawa berpindah-pindah (tetap). Wadah pengumpulan ini dapat berupa wadah yang dapat diangkat atau yang tidak dapat diangkat. SCS merupakan sistem wadah tinggal yang ditujukan untuk melayani daerah pemukiman (kontainer tetap di tempat semula, sampah dipindahkan ke kontainer kosong yang dibawa sebelumnya).