• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pemindahan (Transfer) dan Pengangkutan

BAB IV KONDISI EKSISTING

4.3 Kondisi Eksisting Sistem Pengelolaan Persampahan

4.3.1 Umum

4.3.3.5 Sistem Pemindahan (Transfer) dan Pengangkutan

Dalam pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan, petugas Dinas Kebersihan kota padang bekerjasama dengan petugas Kebersihan dari kelurahan yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan. Sampah yang sudah terkumpul diangkut menggunakan becak motor dan dibawa ke TPS terdekat kemudian diangkut menuju TPA untuk dilakukan pengolahan sampah lebih lanjut. Untuk rute perjalanan pengangkutan sampah adalah melalui jalan lintas indarung menuju

TPA menggunakan mobil sampah dengan ritasi pengangkutan 1 kali dalam sehari yang waktu pengangkutannya lebih sering pada sore atau malam hari.

Berdasarkan data yang diberikan oleh Dinas Kebersihan Kota Padang ada sekitar lima titik penempatan TPS di Kecamatan Lubuk Kilangan. Pada tabel 4.10 dapat dilihat lokasi penempatan dan jumlah unit kontainer yang disediakan di Kecamatan Lubuk Kilangan.

Tabel 4.10 Lokasi Penempatan dan Jumlah Kontainer (Jenis Armroll) di Kecamatan Lubuk Kilangan

No. Lokasi Jumlah Kontainer (Unit)

1 Belakang Kantor Camat Lubuk Kilangan 1

2 Lemdadika Padang Besi 1

3 Perumahan Indarung 1

5 Batu Gadang/Silo 1

6 Batu Gadang/Sako 1

7 Atap Genteng Indarung 2

*Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Bidang Pengelolaan dan Kebersihan Kota Padang Tahun 2017

Namun untuk kontainer yang diletakkan di wilayah Batu Gadang Sako sudah tidak ada dilokasi penempatan disebabkan kondisi kontainer yang sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi, tapi pihak Dinas Kebersihan sampai saat ini masih belum melakukan pergantian kontainer diwilayah tersebut. Sedangkan untuk di wilayah Silo Kelurahan Batu Gadang penempatannya terlalu cukup jauh mengingat struktur jalan diwilayah ini tidak bagus, maka untuk pengangkutan sampah pada kontainer ini tidak dilakukan setiap hari.. Selain itu untuk penempatan kontainer yang ada di belakang Kantor Camat yaitu di wilayah Bandar Buat juga sudah tidak lagi berada dilokasi tersebut. Hal ini disebabkan masyarakat sekitar yang merasa terganggu dengan keberadaan TPS yang dekat

dengan pemukiman penduduk, sehingga pada saat ini kontainer tersebut sudah dipindahkan ke daerah Gadut didekat SMPN 21 Padang.

4.3.4 Aspek Non Teknis

4.3.4.1 Aspek Pengaturan/ Legalitas

Dalam pengelolaan sampah yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan, pemerintah Kota Padang telah menetapkan peraturan terkait pengelolaan tersebut yakni Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 04 tahun 2007 yang merupakan revisi dari Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat. Dalam peraturan ini terdapat sanksi pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000 dan Peraturan Daerah Nomor 03 tahun 2007 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan yang merupakan revisi dari Perda Nomor 5 Tahun 2002.

4.3.4.2 Aspek Pembiayaan

Biaya operasional seperti Gaji dan upah, transportasi seperti bahan bakar;

perawatan dan perbaikan untuk becak motor diambil dari retribusi yang dibayarkan oleh masyarakat. Sedangkan untuk biaya operasional mobil pengangkut amroll truck berasal dari pemerintah. Untuk biaya pelayanan yang dikenakan pada masyarakat yaitu sebesar Rp. 20.000/bulan. dan sampai saat ini masyarakat masih aktif dalam membayar kewajiban tersebut.

4.3.4.3 Aspek Institusi

Permasalahan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan masih merupakan tugas pokok bagian Dinas Kebersihan Kota dibawah naungan Dinas Lingkungan Hidup dibantu masyarakat. Kegiatan pengumpulan dari rumah-rumah dan

lokasi-lokasi sumber ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) serta pembersihan jalan-jalan kota pun menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan Kota Padang.

4.3.4.4 Aspek Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat di Kecamatan Lubuk Kilangan dapat dikatakan sudah cukup aktif dimana masyarakat telah terbiasa mengumpulkan sampah-sampahnya. Namun untuk melakukan pemilahan sampah masih sangat kurang dilakukan karena kebiasaan masyarakat yang langsung mencampur sampah baik menggunakan wadah kantong plastik, bin plastik maupun tong sampah sebagai tempat sampah mereka. Setiap harinya masyarakat meletakkan kantong plastik tersebut di depan rumah maupun di gantungan sampah yang disediakan untuk kemudian diangkut oleh petugas kebersihan untuk dibawa ke kontainer di TPS.

Seperti yang kita ketahui hal seperti inilah yang menyebabkan cepatnya pembusukan dan pencemaran lingkungan akibat sampah yang ada baik di sekitar rumah maupun sampah yang sudah menumpuk di TPS. Belum ada pengolahan sampah lebih lanjut oleh masyarakat karena masih minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengolah sampah yang dihasilkan.

4 . 3 . 5 Timbulan Sampah Domestik Kota Padang

Penelitian tentang satuan timbulan sampah domestik Kota Padang telah dilakukan oleh Efriani (2004) dan Alhusna (2009). Penelitian terhadap sampah domestik berdasarkan tingkat pendapatan, yaitu: masyarakat pendapatan tinggi atau High Income (HI), pendapatan sedang atau Medium Income (MI), pendapatan rendah atau Low Income (LI) dan penelitian berdarkan lokasi, yaitu pusat dan pinggir kota. Berikut tabel mengenai satuan timbulan sampah

domestik Kota Padang tahun 2004 dan 2009 berdasarkan tingkat pendapatan dan lokasi dapat dilihat pada tabel 4.11

Tabel 4.11 Satuan Timbulan Sampah Domestik Kota Padang Tahun 2004 dan 2009

Kategori

Satuan Timbulan tahun 2004*) Satuan Timbulan tahun 2009**) Volume (l/o/h) Berat (Kg/o/h) Volume (l/o/h) Berat (Kg/o/h) Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Berdasarkan Tabel 4.11 diperoleh satuan timbulan sampah domestik Kota Padang berdasarkan tingkat pendapatan pada tahun 2004 sebesar 2,36 l/o/h untuk HI, 2,18 l/o/h untuk MI dan 1,87 l/o/h untuk LI, sedangkan pada tahun 2009 sebesar 3,38 l/o/h untuk HI, 2,69 l/o/h untuk MI dan 2,37 l/o/h untuk LI. (Hafizh, M 2017). Pada tabel 4.1 berikut juga perolehan satuan timbulan dan berta jenis

sampah berdasarkan sumber di Kota Padang

Tabel 4.12 Timbulan dan Berat Jenis Sampah Berdasarkan Sumber sampah Kota Padang

Sumber Sampah Timbulan Berat Jenis f)

(kg/liter)

Sumber : Pasimura, 2008; Desnifa, 2009; Veronika, 2008

4.3.6 Komposisi Sampah Kota Padang

Penelitian tentang komposisi sampah domestik telah dilakukan oleh Efriani (2004) dan Alhusna (2009). Berikut tabel mengenai komposisi sampah domestik berdasarkan tingkat pendapatan pada Tabel 4.13 dan berdasarkan lokasi pada Tabel 4.14

Tabel 4.13 Komposisi Sampah Domestik Kota Padang Berdasarkan Tingkat Pendapatan Pada Tahun 2004 dan 2009

Jenis Sampah

Komposisi Sampah (%)

Kota Padang Tahun Kota Padang Tahun

HI MI LI HI MI LI

Total Keseluruhan 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: *)Efriani, 2004. **) Alhusna,2009

Tabel 4.14 Komposisi Sampah Domestik Kota Lokasi Pada Tahun 2004 dan 2009

Jenis Sampah

Komposisi Sampah (%)

Kota Padang Tahun 2004*) Kota Padang Tahun 2009**) Pusat Kota Pinggir Kota Pusat Kota Pinggir Kota

Organ

Kayu 0,52 0,31 0 0

Total 95,15 93,33 92,59 97,77

An 0rganik

Logam 1,47 1,35 0,87 0,56

Kaca 1,91 1,62 3,68 0,55

Dan Lain-lain 1,47 3,7 2,86 1,12

Total 4,85 6,67 7,41 2,23

Total Keseluruhan 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: *)Efriani, 2004. **) Alhusna,2009,

Pada penelitian tentang komposisi sampah domestik yang dilihat dari lokasi Berdasarkan Tabel 4 .12 diperoleh persen komposisi sampah organik pada tahun 2004 sebesar 93,85% untuk HI, 94% untuk MI dan 94,94% untuk LI sedangkan pada tahun 2009 sebesar 95,03% untuk HI, 96,9% untuk MI dan 93,58% untuk LI. Untuk komposisi anorganik di tahun 2004 sebesar 6,15% untuk HI, 6% untuk MI dan 5,06% untuk LI sedangkan pada tahun 2009 sebesar 4,97%

untuk HI, 3,1% untuk MI dan 6,42% untuk LI. Persen nilai komposisi sampah organik mengalami peningkatan dari tahun 2004 ke 2009 untuk tingkat pendapatan HI dan MI, sedangkan untuk pendapatan LI mengalami penurunan sebesar 1,36%. Persen nilai komposisi sampah anorganik mengalami peningkatan dari tahun 2004 ke tahun 2009 untuk tingkat LI sebesar 1,36%

sedangkan untuk pendapatan HI dan MI mengalami penurunan sebesar 1,18%

untuk HI dan 2,9% untuk MI. (Hafiszh, M 2017)

Dari data timbulan sampah serta komposisi sampah Kota Padang di diatas, digunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi sistem pengelolaan sampah yang dilakukan di Kecamatan Lubuk Kilangan. Data timbulan sampah yang digunakan ini adalah timbulan sampah kota padang berdasarkan lokasi wilayah yaitu

pinggiran kota, Mengingat Kecamatan Lubuk Kilangan ini terletak di pinggir bagian timur Kota Padang.

4.3.7 Peta Administratif Kecamatan Lubuk Kilangan

Gambar 4.1 Peta eksisting pengelolaan sampah Kecamatan Lubuk Kilangan

83 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Evaluasi Sistem Pengelolaan di Kecamatan Lubuk Kilangan 5.1.1 Timbulan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

Kecamatan Lubuk Kilangan yang merupakan wilayah pinggiran kota padang memiliki luas wilayah ± 85.99 Km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 54.529 jiwa. Dalam melakukan pengevaluasian mengenai pengelolaan sampah di kecamatan Lubuk Kilangan ini, untuk data timbulan sampah domestik yang menjadi acuannya adalah timbulan sampah domestik Kota Padang berdasarkan lokasi wilayah yaitu timbulan sampah wilayah pinggiran kota sebesar 2,64 l/o/h atau sebesar 0,38 kg/o/hr. Sedangkan timbulan sampah non domestik yang menjadi acuan adalah timbulan sampah non domestik Kota Padang berdasarkan sumber sampah yaitu sampah institusi sebesar 1,37 l/o/h atau 0,11 kg/o/h, sampah komersil sebesar 3,11 l/o/h atau 0,43 kg/o/h dan sampah industri sebesar 6,57 l/o/h atau 5,06 kg/o/h. Dari data timbulan sampah kota tersebut didapatkan debit timbulan sampah domestik sebesar 143,96 m3/h sementara untuk timbulan sampah non domestik didapatkan sebesar 46,71 m3/h dengan total keseluruhan debit timbulan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan sebesar 158,50 m3/h, dimana total debit timbulan sampah paling banyak terdapat pada Kelurahan Bandar Buat dan yang paling sedikit terdapat pada Kelurahan Beringin seperti yang terlihat pada tabel 5.1 dibawah ini.

5.1 Tabel Timbulan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

No. Kelurahan Volume Sampah Domestik (m³/hr) 5.2.1 Tingkat dan Daerah Pelayanan

Tingkat pelayanan dalam pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan baru mencapai 60 %. Dimana pelayanan intensif hanya terdapat pada daerah yang mudah dijangkau yaitu wilayah protokol dan komersil seperti pada Kelurahan Indarung, Kelurahan Bandar Buat dan Kelurahan Padang Besi.

Sementara untuk wilayah dengan penanganan menengah ada pada Kelurahan Batu Gadang, meski pada daerah ini untuk tingkat pelayanan dalam pengangkutan sampah ke TPA tidak teratur namun dengan adanya Bank Sampah sangat membantu dalam pengelolaan sampah di kelurahan ini. Sementara untuk pelayanan rendah terdapat pada wilayah seperti Kelurahan Tarantang, Kelurahan Baringin dan Kelurahan Koto Lalang. Hal ini dapat dilihat dari tabel 5.1 dimana masih minimnya sarana prasarana yang tersedia seperti pada Kelurahan Koto Lalang yang masih belum memiliki TPS dikarenakan tidak adanya lahan yang diperbolehkan oleh masyarakat setempat. Selain itu wilayah yang masih minim dalam pelayanan sampah adalah Kelurahan Tarantang dan Beringin yang terletak

di wilayah pinggir kecamatan yang masih terbilang wilayah perkampungan, dimana jarak tempuh yang jauh serta kondisi jalan yang kurang bagus menjadi penyebab belum optimalnya penanganan di wilayah ini.

Hal ini juga diperburuk dengan minimnya ketersedian sarana prasarana seperti becak motor dan bak sampah yang disediakan 4 becak motor diwilayah Tarantang dan 2 becak motor di Kelurahan Beringin. Maka dari itu dengan adanya penambahan sarana prasarana seperti becak motor dan penambahan titik TPS di beberapa wilayah tersebut mampu meminimalisir timbulan sampah yang ada.

Sehingga sampah yang tadinya dibiarkan menumpuk dan dibirakan begitu saja tanpa ada penanganan lebih lanjut dapat terkelola dengan baik dan mengurangi adanya kerusakan lingkungan yang disebabkan penanganan sampah yang tidak tepat diwilayah tersebut. Selain itu wilayah seperti Kelurahan Bandar Buat yang sebelumnya sudah tersedia becak Motor dianggap juga belum dapt menangani sampah yang dihasilkan, dari data timbulan sampah yang ada becak motor yang sebelumnya hanya tersedia 6 unit dianggap masih belum mampu melakukan pengumpulan sampah dengan baik mengingat jarak antara sumber sampah ke TPS cukup jauh karena titik TPS yang sudah dipindahkan. Hal ini tentu akan menjadi persoalan baru dimana dapat mengakibatkan meningkatnya biaya operasional, sehingga perlu adanya penambahan becak motor sebanyak 17 unit.

5.2.2 Sistem Pewadahan

Pewadahan yang digunakan untuk pemukiman antara lain kantong plastik (volume 40 liter), karung plastik (volume 100 liter), bin plastik (volume 120

liter-240 liter), bak beton dan kontainer (kapasitas 6 m³) . Pada kawasan pemukiman wadah yang sudah berisi sampah diletakkan di depan rumah (pekarangan). Namun masih banyak dijumpai di sekitar pinggiran jalan sampah yang diletakkan di dekat trotoar bahkan di pinggiran drainase, hal ini sangat mengganggu pemakai jalan, dan merusak estetika. Selain itu kondisi wadah yang mudah dirusak oleh hewan seperti anjing atau kucing akan membuat sampah yang sudah terkumpul berserakan, dibasahi air hujan yang membuat kadar airnya bertambah sehingga hal ini akan mempercepat timbulnya kerusakan lingkungan dan menganggu kesehatan masyarakat disekitarnya. Untuk itu agar persoalan dalam pewadahan sampah ini dapat teratasi, maka dari itu hal utama yang paling dianjurkan bagi setiap penghasil sampah adalah untuk melakukan pemilahan sampah sebelum sampah tersebut dikumpulkan dan menggunakan wadah tertutup untuk lebih memudahkan petugas kebersihan dalam melakukan pemindahan sampah.

5.2.3 Sistem Pengumpulan

Sistem pengumpulan di Kecamatan Lubuk Kilangan untuk daerah domestik menggunakan pelayanan secara individual tidak langsung. Pengumpulan sampah dengan pelayanan door to door oleh petugas pengumpul sampah dan dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) berupa kontainer yang berada di beberapa titik penempatan di wilayah Kecamatan Lubuk Kilangan.

Pengumpulan dilakukan sebanyak 1 x dalam 2-3 hari dengan ritasi 2 kali pengumpulan mengunakan becak motor dengan volume 1 m3 . Selain itu sistem pengumpulan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan adalah secara komunal tidak langsung yaitu pengumpulan sampah dilakukan sendiri oleh masing-masing

penghasil sampah ketempat-tempat yang telah disediakan. Petugas kebersihan dengan gerobaknya mengambil sampah dari tempat-tempat pengumpulan komunal tersebut dan dibawa ke lokasi TPS sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir dengan truk sampah. Berikut ini adalah data ketersediaan becak motor serta jumlah becak yang harusnya tersedia di Kecamatan Lubuk Kilangan.

Tabel 5.2 Ketersedian Becak Motor dan Kebutuhan Becak Motor di Kecamatan Lubuk Kilangan

No. Kelurahan Jumlah Becak Motor (Spesifikasi 1 m³)

Dari hasil perhitungan timbulan sampah menggunakan data timbulan sampah kota padang untuk wilayah pinggiran kota didapatkan total debit timbulan sampah di Kecamtan Lubuk kilangan ini sebesar 158.50m3/h. Dari data timbulan sampah tersebut dapat diperkirakan banyaknya kebutuhan sarana dan prasarana yaitu sekitar 79 becak motor yang diperlukan untuk dapat mengangkut sampah yang ada di seluruh Kecamatan Lubuk Kilangan yang sebelumnya hanya tersedia 12 becak motor seperti yang. Dengan penambahan sarana tersebut diharapkan sampah-sampah yang dihsailkan di wilayah yang sebelumnya tidak memiliki

sarana prasarana becak motor seperti Kelurahan Beringin dan Kelurahan Tarantang dapat terkelola dengan baik serta dapat lebih memudahkan dalam pengangkutan sampah ke TPS, sehingga untuk wilayah-wilayah yang sulit terjangkau oleh mobil truck sampah tidak menjadi kendala lagi dalam hal pengumpulan sampah. Hal ini juga diharapkan agar masyarakat diwilayah ini tidak ada lagi membuang atau membakar sampah yang dihasilkan di sembarang tempat yang dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan itu sendiri.

5.2.4 Sistem Transfer (Pemindahan) dan Transport (Pengangkutan)

Sistem pemindahan sampah yang dilakukan di Kecamatn Lubuk Kilangan adalah menggunakan Sistem kontainer berpindah atau sistem HCS dimana pola HCS ini dilakukan dengan cara menukar kontainer yang sudah ada berisi sampah sebelumnya dengan kontainer baru yang dibawa oleh truk berjenis armroll truck bermuatan 6 m3. Berikut ini adalah tabel lokasi penempatan TPS dan jumlah kontainer yang disediakan.

Tabel 5.3 Lokasi Penempatan dan Jumlah Kontainer (Truk Arm roll) di Kecamatan Lubuk Kilangan

No. Kelurahan Jumlah Kontainer (Spesifikasi 6 m³)

Dari data tabel 5.1 dan 5.3 mengenai jumlah kontainer yang tersedia, perlu adanya penambahan kontainer dan penataan ulang penempatan disetiap titik yang ada di Kecamtan Lubuk Kilangan. Seperti kontainer pada Kelurahan Batu Gadang yaitu wilayah sako yang harus di lakukan penambahan kontainer dititik semula mengingat TPS yang ada di wilayah Silo letaknya terlalu jauh dengan kondisi jalan yang curam yang menyebabkan sampah yang di kontainer tersebut tidak dilakukan pengankutan setiap hari. Hal ini juga menjadi penyebab masih banyak masyarakat yang membuang sampah disekitar sungai di wilayah ini menginat pengumpulan sampah yang juga tidak dilakukan setiap hari. Sementara itu dari hasil wawancara dengan pihak kelurahan setempat mengatakan bahwa pengangkutan akan dilakukan jika sudah ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak Dinas Kebersihan.

Selain itu perlunya penambahan TPS di Kelurahan Koto Lalang, mengingat wilayah ini termasuk wilayah yang memiliki debit timbulan sampah cukup tinggi yaitu sebesar 23,27 m3/l/h. Meski dalam setiap perencanaan untuk pembuatan lahan TPS sudah mendapatkan protes dari masyarakat, namun diharapkan pihak terkait untuk dapat melakukan sosialisasi menyangkut perlunya TPS diwilayah ini, mengingat saat ini jarak pemindahan sampah dari sumber sampah ke TPS cukup jauh yang dapat mengakibatkan pada penambahan biaya operasional. Dari total debit timbulan sampah yang dihasilkan di Kecamatan Lubuk Kilangan yaitu sebesar 158,50 m3/h, perlu penambahan kontainer menjadi 26 unit kontainer dengan volume 6m3 yang sebelumnya hanya tersedia sebanyak 7 unit yang dapat digunakan hanya sebanyak 6 unit di beberapa kelurahan.

Mengingat masih ada beberapa kelurahan yang belum memiliki TPS serta memilki jarak tempuh yang cukup jauh untuk mengangkut sampah ke beberapa TPS yang akan berdampak kepada meningkatnya biaya operasional, maka diharapkan ada perencanaan penambahan TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) untuk dapat menampung sampah-sampah dari beberapa kelurahan yang masih belum memiliki TPS. Adanya TPST ini juga diharapkan dapat mengurangi jumlah timbulan sampah yang terangkut ke TPS maupun ke TPA, selain itu adanya pengelolaan sampah di TPST diharapkan dapat menjadikan tempat ini sebagai sumber informasi bagi masyarakat untuk dapat mengolah dan melakukan penanganan yang tepat pada sampah yang dihasilkan setiap hari.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah rangkuman evaluasi sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan secara kualitatif seperti yang terangkum pada tabel –tabel dibawah ini.

Tabel 5.4 Evaluasi Tingkat Pelayanan dan Daerah Pelayanan Pengelolaan Sampah Di Kecamatan Lubuk Kilangan Secara Kualitatif

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi

Tingkat pelayanan dan Daerah Pelayanan

1. Kemampuan terhadap pengelolaan kota untuk menyediakan

pelayanan kebersihan kepada masyarakat, baik secara kuantitaif maupun secara

adalah:

b. Persentase timbulan sampah yang dapat dikelola oleh pengelola sampah tingkat kota.

2. Berdasarkan penentuan skala kepentingan

adalah kawasan belum terjangkau oleh truk pengangkut

Tabel 5.5 Evaluasi Sistem Pengumpulan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi Pola

pengumpulan

Operasi pengumpulan dan pengangkutan sampah mulai dari sumber sampah hingga ke posisi pemrosesan akhir atau ke lokasi pembuangan akhir dapat dilakukan dengan

Pola pengumpulan

dua cara, yaitu secara langsung (door to door) atau secara tidak

Tabel 5.6 Evaluasi Sistem Pemindahan dan Pengangkutan Kecamatan Lubuk Kilangan

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi

Pengangkutan Metode pengangkutan sampah ada dua yaitu

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi

armroll truck Memenuhi

5.3 Aspek Non Teknis 5.3.1 Pengaturan/ Legalitas

Sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Padang Nomor 21 tahun 2012 yang mengatur tentang pengelolaan sampah menyebutkan jika ada yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan hukuman tindak pidana ringan berupa kurungan 3 bulan atau denda Rp 5.000.000,00 (Lima juta rupiah). Selain itu dengan instruksi Walikota Padang nomor 660/12.76/PK2L-BPDL/2015 yang dikeluarkan bahwa setiap Camat dan Lurah juga ikut bertanggung jawab dengan kebersihan di wilayahnya masing-masing. Maka dari itu Kecamatan Lubuk Kilangan sudah memberlakukan peraturan seperti ini namun hal ini belum cukup memberikan efek peringatan bagi masyarakat diwilayah ini. Namun sejauh ini peraturan tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya. Belum adanya pemilahan sampah di kawasan perumahan, kawasan komersil, kawasan industri, fasilitas umum, fasilitas sosial dan fasilitas lainnya juga menjadi penyebab sistem pengelolaan sampah belum dapat terkoordinir dengan baik.

5.3.2 Aspek Pembiayaan

Aspek pembiayaan yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan dalam pengelolaan sampah adalah berupa biaya retribusi yang dibayarkan oleh masyarakat sebanyak Rp. 20.000/bulan. Dengan adanya biaya retribusi inilah

segala macam bentuk biaya operasional seperti pemeliharaan, perbaikan dan perawatan dapat dilakukan.

5.3.3 Aspek Institusi

Bentuk institusi pengelolaan persampahan yang dilakukan di Kecamatan Lubuk Kilangan ini sudah dikoordinir dan menjadi tugas pokok Dinas Kebersihan dibantu pemerintah setempat serta masyarakat. Pengelolaan sampah selain dikoordinir oleh dinas kebersihan, juga dibantu pihak swasta yaitu adanya Bank Sampah yang juga sudah cukup membantu penanganan sampah-sampah plastik yang dihasilkan meskipun belum semua bank sampah yang ada di kelurahan ini aktif untuk melakukan penanganan sampah yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan.

Kegiatan pengumpulan dari rumah-rumah dan lokasi-lokasi sumber sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan pembuangan sampai ke TPA serta pembersihan jalan-jalan pun menjadi tanggung jawab dinas kebersihan dibantu oleh petugas kebersihan yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan

5.3.4 Aspek Peran Serta Masyarakat

Dalam hal penanganan sampah yang dilakukan di Kecamatan Lubuk Kilangan bentuk peran serta masyarakat di wilayah ini masih belum cukup aktif.

Hal ini dapat dilihat dari masih minimnya penanganan sampah disumber, dimana masyarakat masih belum melakukan pemilahan langsung serta melakukan pengolahan lebih lanjut dari sampah yang hasilkan. Selain itu membiarkan sampah yang sudah menumpuk bahkan ada yang sampai membakar serta membuang sampah ke sungai yang disebabkan penjemputan sampah yang masih

belum rutin dilakukan setiap hari serta keterbatasan sarana prasarana yang tersedia di beberapa kelurahan. Hal ini sudah cukup menjadi gambaran bahwa masih kurangnya peran serta masyarakat dalam mengelola sampah yang dihasilkan.

Penambahan sarana prasarana untuk dapat mengatasi persoalan dalam penanganan sampah di kecamatan ini tentu akan membutuhkan biaya yang cukup banyak dan bahkan akan butuh waktu yang lama untuk dapat mencukupi ketersedian sarana prasarana yang ada., oleh sebab itu pentingnya melakukan sosialisasi dalam penanganan sampah lebih lanjut skala rumah tangga untuk dapat menubuhkan peran aktif masyarakat dan memberikan pemahaman untuk dapat melakukan penagangan sampah mulai dari sumber seperti melakukan daur ulang sampah

Penambahan sarana prasarana untuk dapat mengatasi persoalan dalam penanganan sampah di kecamatan ini tentu akan membutuhkan biaya yang cukup banyak dan bahkan akan butuh waktu yang lama untuk dapat mencukupi ketersedian sarana prasarana yang ada., oleh sebab itu pentingnya melakukan sosialisasi dalam penanganan sampah lebih lanjut skala rumah tangga untuk dapat menubuhkan peran aktif masyarakat dan memberikan pemahaman untuk dapat melakukan penagangan sampah mulai dari sumber seperti melakukan daur ulang sampah