• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta Administratif Kecamatan Lubuk Kilangan

BAB IV KONDISI EKSISTING

4.3 Kondisi Eksisting Sistem Pengelolaan Persampahan

4.3.7 Peta Administratif Kecamatan Lubuk Kilangan

Gambar 4.1 Peta eksisting pengelolaan sampah Kecamatan Lubuk Kilangan

83 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Evaluasi Sistem Pengelolaan di Kecamatan Lubuk Kilangan 5.1.1 Timbulan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

Kecamatan Lubuk Kilangan yang merupakan wilayah pinggiran kota padang memiliki luas wilayah ± 85.99 Km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 54.529 jiwa. Dalam melakukan pengevaluasian mengenai pengelolaan sampah di kecamatan Lubuk Kilangan ini, untuk data timbulan sampah domestik yang menjadi acuannya adalah timbulan sampah domestik Kota Padang berdasarkan lokasi wilayah yaitu timbulan sampah wilayah pinggiran kota sebesar 2,64 l/o/h atau sebesar 0,38 kg/o/hr. Sedangkan timbulan sampah non domestik yang menjadi acuan adalah timbulan sampah non domestik Kota Padang berdasarkan sumber sampah yaitu sampah institusi sebesar 1,37 l/o/h atau 0,11 kg/o/h, sampah komersil sebesar 3,11 l/o/h atau 0,43 kg/o/h dan sampah industri sebesar 6,57 l/o/h atau 5,06 kg/o/h. Dari data timbulan sampah kota tersebut didapatkan debit timbulan sampah domestik sebesar 143,96 m3/h sementara untuk timbulan sampah non domestik didapatkan sebesar 46,71 m3/h dengan total keseluruhan debit timbulan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan sebesar 158,50 m3/h, dimana total debit timbulan sampah paling banyak terdapat pada Kelurahan Bandar Buat dan yang paling sedikit terdapat pada Kelurahan Beringin seperti yang terlihat pada tabel 5.1 dibawah ini.

5.1 Tabel Timbulan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

No. Kelurahan Volume Sampah Domestik (m³/hr) 5.2.1 Tingkat dan Daerah Pelayanan

Tingkat pelayanan dalam pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan baru mencapai 60 %. Dimana pelayanan intensif hanya terdapat pada daerah yang mudah dijangkau yaitu wilayah protokol dan komersil seperti pada Kelurahan Indarung, Kelurahan Bandar Buat dan Kelurahan Padang Besi.

Sementara untuk wilayah dengan penanganan menengah ada pada Kelurahan Batu Gadang, meski pada daerah ini untuk tingkat pelayanan dalam pengangkutan sampah ke TPA tidak teratur namun dengan adanya Bank Sampah sangat membantu dalam pengelolaan sampah di kelurahan ini. Sementara untuk pelayanan rendah terdapat pada wilayah seperti Kelurahan Tarantang, Kelurahan Baringin dan Kelurahan Koto Lalang. Hal ini dapat dilihat dari tabel 5.1 dimana masih minimnya sarana prasarana yang tersedia seperti pada Kelurahan Koto Lalang yang masih belum memiliki TPS dikarenakan tidak adanya lahan yang diperbolehkan oleh masyarakat setempat. Selain itu wilayah yang masih minim dalam pelayanan sampah adalah Kelurahan Tarantang dan Beringin yang terletak

di wilayah pinggir kecamatan yang masih terbilang wilayah perkampungan, dimana jarak tempuh yang jauh serta kondisi jalan yang kurang bagus menjadi penyebab belum optimalnya penanganan di wilayah ini.

Hal ini juga diperburuk dengan minimnya ketersedian sarana prasarana seperti becak motor dan bak sampah yang disediakan 4 becak motor diwilayah Tarantang dan 2 becak motor di Kelurahan Beringin. Maka dari itu dengan adanya penambahan sarana prasarana seperti becak motor dan penambahan titik TPS di beberapa wilayah tersebut mampu meminimalisir timbulan sampah yang ada.

Sehingga sampah yang tadinya dibiarkan menumpuk dan dibirakan begitu saja tanpa ada penanganan lebih lanjut dapat terkelola dengan baik dan mengurangi adanya kerusakan lingkungan yang disebabkan penanganan sampah yang tidak tepat diwilayah tersebut. Selain itu wilayah seperti Kelurahan Bandar Buat yang sebelumnya sudah tersedia becak Motor dianggap juga belum dapt menangani sampah yang dihasilkan, dari data timbulan sampah yang ada becak motor yang sebelumnya hanya tersedia 6 unit dianggap masih belum mampu melakukan pengumpulan sampah dengan baik mengingat jarak antara sumber sampah ke TPS cukup jauh karena titik TPS yang sudah dipindahkan. Hal ini tentu akan menjadi persoalan baru dimana dapat mengakibatkan meningkatnya biaya operasional, sehingga perlu adanya penambahan becak motor sebanyak 17 unit.

5.2.2 Sistem Pewadahan

Pewadahan yang digunakan untuk pemukiman antara lain kantong plastik (volume 40 liter), karung plastik (volume 100 liter), bin plastik (volume 120

liter-240 liter), bak beton dan kontainer (kapasitas 6 m³) . Pada kawasan pemukiman wadah yang sudah berisi sampah diletakkan di depan rumah (pekarangan). Namun masih banyak dijumpai di sekitar pinggiran jalan sampah yang diletakkan di dekat trotoar bahkan di pinggiran drainase, hal ini sangat mengganggu pemakai jalan, dan merusak estetika. Selain itu kondisi wadah yang mudah dirusak oleh hewan seperti anjing atau kucing akan membuat sampah yang sudah terkumpul berserakan, dibasahi air hujan yang membuat kadar airnya bertambah sehingga hal ini akan mempercepat timbulnya kerusakan lingkungan dan menganggu kesehatan masyarakat disekitarnya. Untuk itu agar persoalan dalam pewadahan sampah ini dapat teratasi, maka dari itu hal utama yang paling dianjurkan bagi setiap penghasil sampah adalah untuk melakukan pemilahan sampah sebelum sampah tersebut dikumpulkan dan menggunakan wadah tertutup untuk lebih memudahkan petugas kebersihan dalam melakukan pemindahan sampah.

5.2.3 Sistem Pengumpulan

Sistem pengumpulan di Kecamatan Lubuk Kilangan untuk daerah domestik menggunakan pelayanan secara individual tidak langsung. Pengumpulan sampah dengan pelayanan door to door oleh petugas pengumpul sampah dan dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) berupa kontainer yang berada di beberapa titik penempatan di wilayah Kecamatan Lubuk Kilangan.

Pengumpulan dilakukan sebanyak 1 x dalam 2-3 hari dengan ritasi 2 kali pengumpulan mengunakan becak motor dengan volume 1 m3 . Selain itu sistem pengumpulan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan adalah secara komunal tidak langsung yaitu pengumpulan sampah dilakukan sendiri oleh masing-masing

penghasil sampah ketempat-tempat yang telah disediakan. Petugas kebersihan dengan gerobaknya mengambil sampah dari tempat-tempat pengumpulan komunal tersebut dan dibawa ke lokasi TPS sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir dengan truk sampah. Berikut ini adalah data ketersediaan becak motor serta jumlah becak yang harusnya tersedia di Kecamatan Lubuk Kilangan.

Tabel 5.2 Ketersedian Becak Motor dan Kebutuhan Becak Motor di Kecamatan Lubuk Kilangan

No. Kelurahan Jumlah Becak Motor (Spesifikasi 1 m³)

Dari hasil perhitungan timbulan sampah menggunakan data timbulan sampah kota padang untuk wilayah pinggiran kota didapatkan total debit timbulan sampah di Kecamtan Lubuk kilangan ini sebesar 158.50m3/h. Dari data timbulan sampah tersebut dapat diperkirakan banyaknya kebutuhan sarana dan prasarana yaitu sekitar 79 becak motor yang diperlukan untuk dapat mengangkut sampah yang ada di seluruh Kecamatan Lubuk Kilangan yang sebelumnya hanya tersedia 12 becak motor seperti yang. Dengan penambahan sarana tersebut diharapkan sampah-sampah yang dihsailkan di wilayah yang sebelumnya tidak memiliki

sarana prasarana becak motor seperti Kelurahan Beringin dan Kelurahan Tarantang dapat terkelola dengan baik serta dapat lebih memudahkan dalam pengangkutan sampah ke TPS, sehingga untuk wilayah-wilayah yang sulit terjangkau oleh mobil truck sampah tidak menjadi kendala lagi dalam hal pengumpulan sampah. Hal ini juga diharapkan agar masyarakat diwilayah ini tidak ada lagi membuang atau membakar sampah yang dihasilkan di sembarang tempat yang dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan itu sendiri.

5.2.4 Sistem Transfer (Pemindahan) dan Transport (Pengangkutan)

Sistem pemindahan sampah yang dilakukan di Kecamatn Lubuk Kilangan adalah menggunakan Sistem kontainer berpindah atau sistem HCS dimana pola HCS ini dilakukan dengan cara menukar kontainer yang sudah ada berisi sampah sebelumnya dengan kontainer baru yang dibawa oleh truk berjenis armroll truck bermuatan 6 m3. Berikut ini adalah tabel lokasi penempatan TPS dan jumlah kontainer yang disediakan.

Tabel 5.3 Lokasi Penempatan dan Jumlah Kontainer (Truk Arm roll) di Kecamatan Lubuk Kilangan

No. Kelurahan Jumlah Kontainer (Spesifikasi 6 m³)

Dari data tabel 5.1 dan 5.3 mengenai jumlah kontainer yang tersedia, perlu adanya penambahan kontainer dan penataan ulang penempatan disetiap titik yang ada di Kecamtan Lubuk Kilangan. Seperti kontainer pada Kelurahan Batu Gadang yaitu wilayah sako yang harus di lakukan penambahan kontainer dititik semula mengingat TPS yang ada di wilayah Silo letaknya terlalu jauh dengan kondisi jalan yang curam yang menyebabkan sampah yang di kontainer tersebut tidak dilakukan pengankutan setiap hari. Hal ini juga menjadi penyebab masih banyak masyarakat yang membuang sampah disekitar sungai di wilayah ini menginat pengumpulan sampah yang juga tidak dilakukan setiap hari. Sementara itu dari hasil wawancara dengan pihak kelurahan setempat mengatakan bahwa pengangkutan akan dilakukan jika sudah ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak Dinas Kebersihan.

Selain itu perlunya penambahan TPS di Kelurahan Koto Lalang, mengingat wilayah ini termasuk wilayah yang memiliki debit timbulan sampah cukup tinggi yaitu sebesar 23,27 m3/l/h. Meski dalam setiap perencanaan untuk pembuatan lahan TPS sudah mendapatkan protes dari masyarakat, namun diharapkan pihak terkait untuk dapat melakukan sosialisasi menyangkut perlunya TPS diwilayah ini, mengingat saat ini jarak pemindahan sampah dari sumber sampah ke TPS cukup jauh yang dapat mengakibatkan pada penambahan biaya operasional. Dari total debit timbulan sampah yang dihasilkan di Kecamatan Lubuk Kilangan yaitu sebesar 158,50 m3/h, perlu penambahan kontainer menjadi 26 unit kontainer dengan volume 6m3 yang sebelumnya hanya tersedia sebanyak 7 unit yang dapat digunakan hanya sebanyak 6 unit di beberapa kelurahan.

Mengingat masih ada beberapa kelurahan yang belum memiliki TPS serta memilki jarak tempuh yang cukup jauh untuk mengangkut sampah ke beberapa TPS yang akan berdampak kepada meningkatnya biaya operasional, maka diharapkan ada perencanaan penambahan TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) untuk dapat menampung sampah-sampah dari beberapa kelurahan yang masih belum memiliki TPS. Adanya TPST ini juga diharapkan dapat mengurangi jumlah timbulan sampah yang terangkut ke TPS maupun ke TPA, selain itu adanya pengelolaan sampah di TPST diharapkan dapat menjadikan tempat ini sebagai sumber informasi bagi masyarakat untuk dapat mengolah dan melakukan penanganan yang tepat pada sampah yang dihasilkan setiap hari.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah rangkuman evaluasi sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan secara kualitatif seperti yang terangkum pada tabel –tabel dibawah ini.

Tabel 5.4 Evaluasi Tingkat Pelayanan dan Daerah Pelayanan Pengelolaan Sampah Di Kecamatan Lubuk Kilangan Secara Kualitatif

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi

Tingkat pelayanan dan Daerah Pelayanan

1. Kemampuan terhadap pengelolaan kota untuk menyediakan

pelayanan kebersihan kepada masyarakat, baik secara kuantitaif maupun secara

adalah:

b. Persentase timbulan sampah yang dapat dikelola oleh pengelola sampah tingkat kota.

2. Berdasarkan penentuan skala kepentingan

adalah kawasan belum terjangkau oleh truk pengangkut

Tabel 5.5 Evaluasi Sistem Pengumpulan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi Pola

pengumpulan

Operasi pengumpulan dan pengangkutan sampah mulai dari sumber sampah hingga ke posisi pemrosesan akhir atau ke lokasi pembuangan akhir dapat dilakukan dengan

Pola pengumpulan

dua cara, yaitu secara langsung (door to door) atau secara tidak

Tabel 5.6 Evaluasi Sistem Pemindahan dan Pengangkutan Kecamatan Lubuk Kilangan

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi

Pengangkutan Metode pengangkutan sampah ada dua yaitu

Unit Teori Kondisi Eksisting Evaluasi

armroll truck Memenuhi

5.3 Aspek Non Teknis 5.3.1 Pengaturan/ Legalitas

Sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Padang Nomor 21 tahun 2012 yang mengatur tentang pengelolaan sampah menyebutkan jika ada yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan hukuman tindak pidana ringan berupa kurungan 3 bulan atau denda Rp 5.000.000,00 (Lima juta rupiah). Selain itu dengan instruksi Walikota Padang nomor 660/12.76/PK2L-BPDL/2015 yang dikeluarkan bahwa setiap Camat dan Lurah juga ikut bertanggung jawab dengan kebersihan di wilayahnya masing-masing. Maka dari itu Kecamatan Lubuk Kilangan sudah memberlakukan peraturan seperti ini namun hal ini belum cukup memberikan efek peringatan bagi masyarakat diwilayah ini. Namun sejauh ini peraturan tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya. Belum adanya pemilahan sampah di kawasan perumahan, kawasan komersil, kawasan industri, fasilitas umum, fasilitas sosial dan fasilitas lainnya juga menjadi penyebab sistem pengelolaan sampah belum dapat terkoordinir dengan baik.

5.3.2 Aspek Pembiayaan

Aspek pembiayaan yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan dalam pengelolaan sampah adalah berupa biaya retribusi yang dibayarkan oleh masyarakat sebanyak Rp. 20.000/bulan. Dengan adanya biaya retribusi inilah

segala macam bentuk biaya operasional seperti pemeliharaan, perbaikan dan perawatan dapat dilakukan.

5.3.3 Aspek Institusi

Bentuk institusi pengelolaan persampahan yang dilakukan di Kecamatan Lubuk Kilangan ini sudah dikoordinir dan menjadi tugas pokok Dinas Kebersihan dibantu pemerintah setempat serta masyarakat. Pengelolaan sampah selain dikoordinir oleh dinas kebersihan, juga dibantu pihak swasta yaitu adanya Bank Sampah yang juga sudah cukup membantu penanganan sampah-sampah plastik yang dihasilkan meskipun belum semua bank sampah yang ada di kelurahan ini aktif untuk melakukan penanganan sampah yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan.

Kegiatan pengumpulan dari rumah-rumah dan lokasi-lokasi sumber sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan pembuangan sampai ke TPA serta pembersihan jalan-jalan pun menjadi tanggung jawab dinas kebersihan dibantu oleh petugas kebersihan yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan

5.3.4 Aspek Peran Serta Masyarakat

Dalam hal penanganan sampah yang dilakukan di Kecamatan Lubuk Kilangan bentuk peran serta masyarakat di wilayah ini masih belum cukup aktif.

Hal ini dapat dilihat dari masih minimnya penanganan sampah disumber, dimana masyarakat masih belum melakukan pemilahan langsung serta melakukan pengolahan lebih lanjut dari sampah yang hasilkan. Selain itu membiarkan sampah yang sudah menumpuk bahkan ada yang sampai membakar serta membuang sampah ke sungai yang disebabkan penjemputan sampah yang masih

belum rutin dilakukan setiap hari serta keterbatasan sarana prasarana yang tersedia di beberapa kelurahan. Hal ini sudah cukup menjadi gambaran bahwa masih kurangnya peran serta masyarakat dalam mengelola sampah yang dihasilkan.

Penambahan sarana prasarana untuk dapat mengatasi persoalan dalam penanganan sampah di kecamatan ini tentu akan membutuhkan biaya yang cukup banyak dan bahkan akan butuh waktu yang lama untuk dapat mencukupi ketersedian sarana prasarana yang ada., oleh sebab itu pentingnya melakukan sosialisasi dalam penanganan sampah lebih lanjut skala rumah tangga untuk dapat menubuhkan peran aktif masyarakat dan memberikan pemahaman untuk dapat melakukan penagangan sampah mulai dari sumber seperti melakukan daur ulang sampah organik serta melakukan pengolahan kembali dari barang-barang bekas yang masih bisa diolah jadi barang yang bisa dimanfaatkan oleh pihak terkait yaitu Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup serta memanfaatkan keberadaan Bank Sampah yang ada di beberapa kelurahan. Mengingat total debit timbulan sampah yang dihasilkan di Kecamatan Lubuk Kilangan ini sebesar 158,50 m3/h, ada sekitar 143,96 m3/h sampah domestik yang berpotensi untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Bentuk lain pengolahan sampah organik yang dapat dilakukan adalah mengolah sampah organik menjadi pupuk cair, biogas serta menjadikan sampah organik tersebut menjadi pakan ternak sehingga dengan adanya penanganan ini diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah yang terangkut ke TPS maupun ke TPA, tidak hanya itu jika kegiatan ini aktif untuk dilakukan tentu akan menjadi investasi serta akan menjadi bernilai ekonomis bagi masyarakat individu sebagai penghasil sampah, bahkan kegiatan ini tentu akan

menjadi pendapatan bagi wilayah tersebut jika pihak terkait mampu mencarikan peluang sehingga hasil daur ulang tersebut bisa bernilai ekonomis. Selain bernilai ekonomis dan menjadi invsetasi, pupuk cair, pupuk kompos maupun biogas yang dihasilkan tersebut tentu akan mempermudah dalam penghijauan di wilayah Kecamatan Lubuk Kilangan itu sendiri.

Selain itu adanya aktifitas pemulung di TPS-TPS di wilayah ini merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat yang dimana dengan keberadaan pemulung tesebut sampah-sampah platik ataupun barang bekas yang masih berguna dapat mengurangi banyaknya timbulan sampah yang ada di TPS sehingga sampah yang ada juga tidak akan menimbulkan bau busuk akibat sampah yang todak terpilah serta dapat mempercepat terjadinya kerusakan pada kontainer akibat korosi. Selain itu kegiatan pemulung juga akan dapat mengurangi banyaknya sampah yang masuk ke TPA. Dengan harapan pemulung-pemulung yang melakukan pemilahan di sekitar TPS masih bisa menjaga kebersihan dan merapikan sampah yang berserakan di TPS yang jika dibiarkan tentu menimbulkan kerusakan dilingkungan tersebut.

98 BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari evaluasi pada sistem pengelolaan sampah di kecamatan Lubuk Kilangan dapat disimpulkan beberapa hal:

1) Sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan baru memiliki tingkat pelayanan 60% dikarenakan sarana dan prasarana yang masih minim serta sulitnya menjangkau wilayah-wilayah pinggiran. Dengan asumsi bahwa timbulan sampah dikecamatan ini sama dengan timbulan sampah domestik, komersil dan institusi Kota Padang berdasarkan wilayah pinggiran kota maka didapatkan total debit timbulan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan sebesar 158,50m3/h. Dan dari data tersebut didapatkan jumlah sarana prasana yang harus tersedia untuk dapat mengelola sampah yang dihasilkan di kecamatan ini yaitu sebanyak 79 unit becak motor volume 1m3 dengan jumlah sarana becak sebelumnya hanya 12 unit serta penambahan kontainer di beberapa TPS yang sebelumnya tersedia 6 unit kontainer yang dapat digunakan menjadi 26 unit kontainer. Adanya penambahan ketersediaan sarana prasarana ini diharapkan dapat melayani wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak mendapatkan pelayanan. Selain itu, perlu pengaturan ulang titik penempatan TPS serta pembentukan TPST di Kecamatan Lubuk Kilangan dengan harapan wilayah-wilayah yang masih minim ketersedian kontainer dapat mengelola sampah terlebih dahulu dengan melakukan pemilahan serta penanganan

lanjutan seperti pengomposan, pembuatan pupuk cair dan pakan ternak dari sampah rumah tangga, sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang terangkut ke TPS dan ke TPA.

2) Belum ada bentuk peran masyarakat yang secara aktif dapat meminimalisisr sampah yang dihasilkan setiap harinya. belum ada pemilahan sampah disumber serta penanganan lebih lanjut dari sampah yang ada. mengingat banyaknya biaya yang dibutuhkan untuk dapat memenuhi ketersediaan sarana prasarana yang harus di penuhi untuk dapat melayani semua wilayah di Kecamatan Lubuk Kilangan ini, maka salah satu untuk dapat menutupi keterbatasan tersebut dapat dilakukan penanganan sampah lebih lanjut skala rumah tangga seperti melakukan daur ulang sampah organik serta melakukan pengolahan kembali dari barang-barang bekas yang masih bisa diolah jadi barang yang bisa dimanfaatkan dimana kegiatan ini tidak lepas dari peran aktif oleh pihak terkait yaitu Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup serta memanfaatkan keberadaan Bank Sampah yang ada di beberapa kelurahan untuk melakukan sosialisai pada masyarakat akan pentingnya dan memberikan pemahaman pada masyarakat untuk dapat mengolah kembali sampah yang dihasilkan. Dengan harapan penanganan sampah ini tidak hanya dapat menutupi kekurangan dari ketersediaan saran dan prasarana saja namun diharapkan juga dapat menjadikan masyarakat untuk dapat mengubah pola pikir masyarakat yang menganggap sampah yang dihasikan itu kotor menjadi bernilai ekonomis.

6.2 Saran

1. Agar terwujudnya pelaksanaan sistem pengelolaan persampahan yang baik di suatu wilayah, diperlukan kerja sama dan peran serta antara masyarakat dengan pihak-pihak yang terkait dalam masalah ini, seperti Dinas Kebersihan Kota Padang dan Badan Lingkungan Hidup Kota Padang

2. Disamping menambah jumlah sarana dan prasarana pelayanan pengangkutan sampah ke TPA, perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara kontinu akan pentingnya peran sarta masyarakat dalam mengurangi dan mengelola timbulan sampah di sumber terutama di setiap rumah tangga sehingga masyarakat akan lebih memiliki kemauan dan motivasi dalam memanfaatkan sampah yang dihasilkan.

3. Berdasarkan kompisisi sampah yang didapat dari perhitungan komposisi sampah dengan acuan komposisi sampah kota padang diwilayah pinggiran kota didapatkan komposisi sampah organik sebesar 97,77 % dan anorganik sebesar 2,23% sehingga didapatkan Komposisi sampah makanan sebesar 69,96%, sampah plastik sebesar 11,84%, kertas sebesar 7,39%, sampah halaman 6,67%, sampah tekstil sebesar 0,62%, sampah kulit sebesar 0,15%, sampah karet sebesar 0,83%.. dimana dari hasil ini dapat dilihat bahwa sampah terbanyak yang dihasilkan untuk wilayah ini adalah sampah organik yang memiliki potensi untuk dilakukan daur ulang. Maka dari itu perlu dilakukan evaluasi lebih rinci dari komposisi sampah yang dihasilkan di Kecamatan Lubuk Kilangan untuk mengetahui bentuk tindakan dan

menajemen yang dilakukan untuk dapat memanfaatkan sampah organik yang dihasilkan.

Universitas Andalas

Anonymous: Developing Integrated Solid Waste Management Plant, Training Manual, Volume 1: Waste Characterization and Quantification with Projection for Future, Compiled by UNEP, Osaka/Shiga, Japan, 2009

Artiningsih, N. K. A. Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Studi Kasus di Sampangan dan Jomblang, Kota Semarang).[Tesis]. Program Magister Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro. 2008.

Badan Lingkungan Hidup. Buku Pedoman Implementasi 3R Skala Kota

Badan Pusat statistik. 2017. Kecamatan Lubuk Kilangan Dalam Angka 2017.

BPS. Kota Padang

Dinas Linglungan Hidup. 2017. Data Penyebaran Penempatan Container Sampah Kota Padang. Dinas Kebersihan bidang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan Kota Padang. 2017

E. Damanhuri, T. Padmi. 2010. Diktat Kuliah Pengelolaan Sampah, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB 2010/2011. Bandung

E. Damanhuri, W. Handoko, T. Padmi: Municipal Solid Waste Management in Indonesia, in Municipal Solid Waste Management in Asia and the Pacific Islands - Editors: Agamuthu P, Masaru Tanaka, Penerbit ITB, 2010

Isa, M. Sistem Pengelolaan Sampah di Kota Tilamuta Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo.[Tesis].Program Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota, Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro. 2010 Komala, P.S., R. Aziz, dan F. Ramadhani,2010. Evaluasi Karakteristik

Kendaraan Pengangkut Sampah Pada Sistem Transportasi Sampah Kota Padang, Jurnal Dampak, 7 (2)

Li, J-Q, D. Borensteinb, dan P.B. Mirchandani, Truck scheduling for solidwaste

Li, J-Q, D. Borensteinb, dan P.B. Mirchandani, Truck scheduling for solidwaste