1. Penambahan dan Penguatan Infrastruktur Kantor Distribusi Pemasaran
Guna mendukung penyempuranaan serta penguatan fondasi bisnis BMS menuju bank retail, diperlukan jaringan kantor distribusi pemasaran yang memiliki infrastruktur lengkap serta mudah diakses oleh nasabah. Oleh karena itu BMS melakukan penambahan, penguatan dan perbaikan infrastruktur jaringan kantor cabang melalui: a. Pembukaan Kantor Kas guna memberikan
kemudahan transaksi bagi nasabah. b. Relokasi beberapa kantor ke lokasi yang
lebih strategis, serta memiliki potensi bisnis yang sesuai dengan model bisnis baru BMS. c. Perbaikan infrastruktur kantor cabang,
dengan melakukan renovasi interior
maupun eksterior gedung kantor cabang, agar dapat melayani kebutuhan nasabah untuk layanan perbankan serta transaksi keuangan dengan lebih nyaman dan aman. Jaringan kantor BMS hingga akhir tahun 2016 adalah 73 kantor cabang yang tersebar di wilayah strategis Indonesia. Rinciannya sebagai berikut:
2. Penambahan Jaringan ATM
Melengkapi beberapa kantor cabang dengan mesin ATM, agar BMS dapat lebih optimal dalam memberikan alternatif layanan serta kemudahan kepada nasabah untuk melakukan transaksi keuangan. Selain itu juga dilakukan penambahan ATM di luar kantor cabang.
3. Promosi
a. BrandImage, menciptakan image di
masyarakat sesuai visi, misi dan nilai-nilai
perusahaan.
b. Melakukan kegiatan promosi produk/ layanan Bank melalui media cetak, media elektronik maupun melalui tatap muka dengan Nasabah, calon Nasabah maupun masyarakat umum.
c. Mendukung kegiatan perluasan dan/ atau optimalisasi jaringan kantor dengan melakukan promosi.
d. Berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan
perbankan/perkenomian syariah di seluruh
wilayah Indonesia.
e. Bersinergi khususnya dengan perusahaan dalam grup usaha CT Corpora melakukan join-promosi, sehingga dapat meningkatkan
brand awareness masyarakat terhadap BMS.
• Pembiayaan Tanpa Agunan (PTA) Berkah iB kepada pegawai dilingkungan group usaha CT Corp dan pegawai dilingkungan perusahaan yang telah menjadi nasabah. • Linkage chanelling/executing kepada
Koperasi Karyawan (KopKar) melalui proses assessment yang selektif c. Melalui pemberian fasilitas pembiayaan
joint financing kepada perusahaan finance otomotif baik roda 2 maupun roda 4 dan perusahaan multifinance.
Kantor Jumlah
Kantor Cabang 31
Kantor Cabang Pembantu 31
Kantor Fungsional 10
Kantor Kas 1
Pangsa Pasar
1. Aset
Tabel Pangsa Pasar Aset BMS terhadap Aset Bank Umum Syariah
Tabel Pangsa Pasar DPK BMS terhadap DPK Bank Umum Syariah
Aset 2016
(dalam miliar rupiah)
2015
(dalam miliar rupiah) Pertumbuhan Pangsa Pasar 2016
BMS 6.135 5.560 10,35% 2,41% Non BMS 248.049 207.863 19,33% 97,59% Total BUS 254.184 213.423 19,10% 100,00% Aset 2016 Non BMS: 97,59 % Non BMS: 97,39 % BMS: 2,41 % BMS: 2,61 % Aset 2015 DPK 2016
(dalam miliar rupiah)
2015
(dalam miliar rupiah) Pertumbuhan Pangsa Pasar 2016
BMS 4.973 4.355 14,21% 2,41% Non BMS 201.434 170.540 18,11% 97,59% Total BUS 206.407 174.895 18,02% 100,00% DPK 2016 Non BMS: 97,59 % Non BMS: 97,51 % BMS: 2,41 % BMS: 2,49 % DPK 2015
2. Dana Pihak Ketiga
Tabel Pangsa Pasar Aset BMS terhadap Aset Bank Umum Syariah
3. Pembiayaan
Kebijakan Dividen Dan Pembagiannya
Pembagian Dividen tahun 2016 sebagai berikut:
Pemegang Saham menetapkan penggunaan Laba Bersih sebagian untuk Dana Cadangan Wajib guna memenuhi ketentuan pasal 70 Undang- Undang No. 40 Tahun 2007, sebagian dibukukan
sebagai Laba Ditahan, atau dikonversikan dari
Laba Ditahan ke Modal Disetor. Kontribusi Terhadap Negara
Tahun 2016, Bank memberikan kontribusi terhadap negara dalam bentuk pembayaran
Pembiayaan 2016
(dalam miliar rupiah)
2015
(dalam miliar rupiah) Pertumbuhan Pangsa Pasar 2016
BMS 4.715 4.211 11,95% 2,65% Non BMS 173.328 150.315 15,31% 97,35% Total BUS 178.043 154.527 15,22% 100,00% Pembiayaan 2016 BMS: 2,65 % BMS: 2,73 % Pembiayaan 2015 Non BMS: 97,35 % Non BMS: 97,27 %
No. Jenis Pajak 2015
(dalam miliar rupiah)
2016
(dalam miliar rupiah)
Pertumbuhan
Nominal %
1 PPh Pasal 21 / 26 Non Karyawan 490,88 415,25 75,63 18,21%
2 PPh Pasal 23 / 26 745,47 946,47 (200,98) -21,24%
3 PPh Final 4 ayat 2 2.979,41 1.812,53 1.166,87 64,38%
4 Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 749,39 316,36 433,03 136,88%
Total 4.965,15 3.490,61 1.474,54 42,24%
Dividen Jumlah
Dividen kas yang dibagikan nihil Dividen per lembar saham nihil
Rasio pembagian Dividen nihil
Tanggal pengumuman nihil
pajak sebagai berikut (dalam miliar rupiah): Total pajak yang dibayarkan kepada negara pada tahun 2016 sebesar Rp. 4,97 miliar, tumbuh sebesar Rp. 1,47 miliar atau 42,24% dibandingkan pembayaran pajak pada tahun 2015 sebesar Rp. 3,49 miliar. Kontribusi terbesar dari pembayaran PPH Final 4 ayat 2 sebesar Rp. 2,98 miliar (60,01%).
Program Kepemilikan Saham oleh Karyawan dan/
atau Manajemen (ESOP/MSOP)
Tahun 2016, BMS tidak melakukan program
kepemilikan saham oleh karyawan dan/atau manajemen (ESOP/MSOP) sehingga data
jumlah saham ESOP/MSOP dan realisasinya, jangka waktu, persyaratan karyawan dan/atau
manajemen yang berhak, dan harga exercice tidak tersedia.
Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum
Tahun 2016, BMS tidak melakukan penerbitan saham, hutang atau obligasi, sehingga tidak terdapat informasi mengenai perolehan dana hasil penawaran umum melalui penerbitan saham, surat hutang atau obligasi.
Informasi Transaksi Material yang Mengandung
Benturan Kepentingan dan/atau Transaksi dengan
No. Pihak Yang Berelasi Sifat Hubungan Sifat Transaksi
1 PT Mega Auto Finance Affiliasi Musyarakah
2 PT Trans Coffee Affiliasi Murabahah
3 PT Marlanco Affiliasi Bank Garansi
4 Trans Fashion Indonesia Affiliasi Murabahah
5 PT Mega Central Finance Affiliasi Musyarakah
6 PT Mega Finance Affiliasi Musyarakah
7 Ali Gunawan Executive Murabahah
8 PT Bank Mega Executive Giro
9 Ratih Prabandari Executive Murabahah 10 Prof Dr Ir H Mohammad Nuh Dea Executive Musyarakah 11 Herry Darwis Executive Murabahah
12 Trans Retail Indonesia Affiliasi Murabahah
13 Indry Marlina Sari Executive Murabahah 14 PT Mega Capital Indonesia Affiliasi Murabahah
15 Ruby Arrazy Syarief Executive Murabahah 16 Ir Marjana Executive Murabahah 17 Astika Dewi Executive Murabahah 18 Muhammad Nur Jatmiko Executive Murabahah
Pihak Afiliasi/Pihak Berelasi Kewajaran Transaksi
Transaksi dengan pihak berelasi untuk tahun 2016 dan 2015 masih dalam kewajaran bisnis perbankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pada tanggal 31 Desember 2016 dan 2015 persentase transaksi Bank kepada pihak berelasi terhadap Batas Maksimum Pemberian Pembiayaan (BMPP) adalah 88,91% dan 88,44%.
Alasan Transaksi
Transaksi dilakukan sebagaimana perbankan umumnya dalam rangka menjalankan fungsi intermediasi untuk memenuhi kebutuhan usaha maupun yang bersifat konsumtif melalui skim- skim pembiayaan syariah yang ada dan telah disetujui oleh regulator antara lain Piutang Murabahah, Pembiayaan Musyarakah, Bank Garansi dan Giro antar Bank.
Realisasi Transaksi Tahun 2016
Pada tanggal 31 Desember 2016 dan 2015 transaksi Bank kepada pihak berelasi Rp. 93,74 miliar dan Rp. 76,66 miliar. Posisi BPMP yang diperkenankan Bank Indonesia pada pihak berelasi pada 31 Desember 2016 dan 2015 masing-masing sebesar Rp. 105,42 miliar dan Rp. 86,68 miliar.
Kebijakan Perusahaan Terkait Mekanisme Review Transaksi
1. Bank telah memiliki kebijakan pemberian pembiayaan kepada pihak terkait yang mengatur mengenai :
a. Batas Maksimal Pemberian Pembiayaan yang ditetapkan paling tinggi 10% dari Modal Bank.
b. Adanya pedoman kebijakan dan prosedur tertulis tentang pembiayaan kepada pihak terkait, Pembiayaan besar (largeexposures)
dan / atau Pembiayaan kepada pihak lain
yang memiliki kepentingan terhadap Bank. c. Pemantauan Exposure pembiayaan kepada
pihak terkait maupun pihak tidak terkait melalui kebijakan AccountMaintenance. d. Panduan Penyelesaian Jika terjadi
pelanggaran / Pelampauan BMPP.
e. Pengecualian ketentuan BMPP
2. Bank Juga memiliki kebijakan Benturan Kepentingan yang bertujuan melindungi Kepentingan ekonomis Bank dari kepentingan ekonomis pribadi karyawan Bank, pejabat eksekutif Bank, Direksi, Dewan Komisaris, Pemegang Saham Pengendali yang dapat merugikan Bank
3. Selain itu secara Aktif Manajemen serta BOD dan BOC melakukan meeting Mingguan maupun bulanan membahas mengenai perkembangan kualitas pembiayaan kepada pihak terkait maupun tidak terkait.
Pemenuhan Peraturan dan Ketentuan Terkait
Dalam rangka penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG), Bank selalu menjaga
penyaluran piutang maupun pembiayaan kepada
pihak berelasi agar tidak melampaui / melanggar
BMPP sebesar 10,00% dari Modal Bank.
Informasi Material Mengenai Investasi, Ekspansi, Divestasi, Penggabungan Usaha, Akuisisi, dan/ atau Restrukturisasi Utang/Modal
Tahun 2016 BMS telah melakukan investasi
berupa pembelian Surat Berharga Sukuk Negara (SBSN) tersedia untuk dijual dengan nominal Rp. 50.000.000.000.
Pada tahun 2016 BMS tidak melakukan kegiatan
ekspansi, divestasi, penggabungan usaha, akuisisi, dan/atau restrukturisasi utang/modal
yang berdampak terhadap struktur BMS, sehingga tidak terdapat informasi terkait dengan hal tersebut.
Informasi Keuangan Yang Mengandung Kejadian Yang Bersifat Luar Biasa Dan Jarang Terjadi Tahun 2016, BMS tidak memiliki informasi keuangan yang mengandung kejadian yang bersifat luar biasa dan jarang terjadi.
Perubahan Peraturan Perundang-Undangan Yang
Berpengaruh Signifikan Terhadap Perusahaan Pada tanggal 15 April telah diterbitkan Undang- undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan, yang berkaitan langsung dengan industri perbankan sebagai bagian dari sistem keuangan nasional.
Didalam undang-undang tersebut diatur
pembentukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan, berikut peran dan tata cara pengambilan
keputusan, dalam hal negara dinyatakan dalam krisis keuangan, termasuk penetapan bank sistemik, dan penetapan restrukturisasi bank bermasalah.
Bank Mega Syariah sesuai dengan laporan yang telah disampaikan dan disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan, berada dalam kategori Sehat sesuai dengan peringkat pada Risk Based Bank
Rating sampai periode Desember 2016.
Disamping itu secara volume, Bank Mega Syariah
bukan dalam kategori bank sistemik, dan secara keuangan Bank Mega Syariah sangat jauh dari kemungkinan direstrukturisasi, sehingga penerapan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2016 tidak berpengaruh sama sekali terhadap perusahaan, khususnya untuk jangka pendek satu sampai tiga tahun kedepan.
Perubahan Kebijakan Akuntansi
Efektif tanggal 1 Januari 2016, cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang
murabahah yang dinilai secara kolektif dihitung berdasarkan PSAK 55 ”Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”. Untuk tujuan
evaluasi penurunan nilai secara kolektif,
aset keuangan dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit seperti mempertimbangkan segmentasi kredit dan status tunggakan. Karakteristik yang dipilih
adalah relevan dengan estimasi arus kas masa
datang dari kelompok aset tersebut yang mengindikasikan kemampuan debitur atau rekanan untuk membayar seluruh liabilitas yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak
dari aset yang dievaluasi. Arus kas masa datang
dari kelompok aset keuangan yang penurunan
nilainya dievaluasi secara kolektif, diestimasi
berdasarkan kerugian historis yang pernah dialami atas aset-aset yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dengan karakteristik risiko kredit kelompok tersebut di dalam Bank. Kerugian historis yang pernah dialami kemudian disesuaikan berdasarkan data terkini yang
dapat diobservasi untuk mencerminkan kondisi
saat ini yang tidak berpengaruh pada periode terjadinya kerugian historis tersebut, dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang ada pada periode historis namun sudah tidak ada lagi saat ini. Bank menggunakan statistical model analysis
method, yaitu migration analysis method untuk penilaian penurunan nilai aset keuangan secara kolektif dengan menggunakan data historis tiga tahun.
Pada tanggal 31 Desember 2015 Bank melakukan perubahan kebijakan akuntansi atas tanah dan bangunan untuk tujuan akuntansi dan perpajakan dari sebelumnya menggunakan model biaya
menjadi model revaluasi. Penilaian kembali tanah
dan bangunan pada tahun 2015 dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai (KJPP) Ruky. Syafrudin dan Rekan, penilai independen dengan asumsi nilai pasar. Penilaian kembali tanah dan bangunan telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak.
Efektif 1 Januari 2016, Bank menerapkan Amandemen PSAK No. 16 (2015) “Aset Tetap tentang Klarifikasi Metode yang Diterima untuk Penyusutan dan Amortisasi”. Penerapan Amandemen PSAK No. 16 (2015) tidak memiliki dampak pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan.
Efektif 1 Januari 2016, Bank menerapkan Amandemen PSAK No. 24 (2015), “Imbalan Kerja tentang Program Imbalan Pasti: Iuran Pekerja”. PSAK No. 24 meminta entitas untuk mempertimbangkan iuran dari pekerja atau pihak ketiga ketika memperhitungkan program
manfaat pasti. Ketika iuran tersebut sehubungan dengan jasa, iuran tersebut harus diatribusikan pada periode jasa sebagai imbalan negatif. Amandemen ini mengklarifikasi bahwa, jika jumlah iuran tidak bergantung pada jumlah tahun jasa, entitas diperbolehkan untuk mengakui iuran tersebut sebagai pengurang dari biaya jasa dalam periode ketika jasa terkait diberikan, daripada mengalokasikan iuran tersebut pada periode jasa. Penerapan PSAK No. 24 (Amandemen 2015) tidak memiliki dampak signifikan terhadap laporan keuangan. Penerapan Amandemen PSAK No. 24 (2015) telah diterapkan secara retrospektif.
Bank menerapkan penyesuaian-penyesuaian tahun 2015, berlaku efektif 1 Januari 2016 sebagai berikut:
1. PSAK 7 (Penyesuaian 2015) - “Pengungkapan Pihak-Pihak Berelasi”
Penyesuaian ini mengklarifikasi bahwa entitas manajemen (entitas yang menyediakan jasa personil manajemen kunci) adalah pihak berelasi yang dikenakan pengungkapan pihak berelasi. Di samping itu, entitas yang memakai entitas manajemen mengungkapkan biaya yang terjadi untuk jasa manajemennya. 2. PSAK 16 (Penyesuaian 2015) - “Aset Tetap”
Penyesuaian ini mengklarifikasi bahwa
dalam PSAK 16 aset dapat direvaluasi
dengan mengacu pada data pasar yang
dapat diobservasi terhadap jumlah tercatat
bruto ataupun neto. Sebagai tambahan, akumulasi penyusutan adalah perbedaan antara jumlah tercatat bruto dan jumlah tercatat aset tersebut. Jumlah tercatat aset tersebut disajikan kembali pada jumlah
revaluasiannya.
3. PSAK 25 (Penyesuaian 2015) - “Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan”
Penyesuaian ini memberikan koreksi editorial pada PSAK No. 25 paragraf 27.
4. PSAK 68 (Penyesuaian 2015) - “Pengukuran Nilai Wajar”
Penyesuaian ini mengklarifikasi bahwa pengecualian portofolio dalam PSAK No. 68 dapat diterapkan tidak hanya pada kelompok aset keuangan dan liabilitas keuangan, tetapi juga diterapkan pada kontrak lain dalam ruang lingkup PSAK No. 55.
Penerapan dari penyesuaian-penyesuaian tahunan 2015 tidak memiliki dampak signifikan terhadap laporan keuangan
Informasi Kelangsungan Usaha
Hal-Hal yang Berpotensi Berpengaruh Signifikan terhadap Kelangsungan Usaha
Sampai dengan tahun 2016, BMS tidak memiliki hal-hal yang berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha. Informasi penting untuk mendukung kondisi tersebut sebagai berikut: 1. Berdasarkan perhitungan manajemen pada
tanggal 31 Desember 2016 dan 2015, Bank memiliki rasio Kecukupan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) masing-masing sebesar 5,49% dan 10,40%.
2. Pada tanggal 31 Desember 2016 dan 2015, Bank memiliki rasio asset produktif bermasalah terhadap jumlah aset produktif masing-masing sebesar 2,99% dan 3,93%. 3. Pada tanggal 31 Desember 2016 dan 2015,
Bank memiliki rasio piutang, pinjaman qardh dan pembiayaan yang non-performing (gross) terhadap jumlah piutang, pinjaman qardh dan pembiayaan adalah masing-masing 3,30% dan 4,26%. Sedangkan rasio piutang, pinjaman qardh dan pembiayaan yang non- performing (net) terhadap jumlah piutang, pinjaman qardh dan pembiayaan adalah masing-masing sebesar 2.81% dan 3.16%.
4. Dalam laporan Batas Maksimum Penyediaan Dana (BMPD) yang disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) posisi tanggal 31 Desember 2016 dan 2015 tidak terdapat piutang dan pembiayaan yang melampaui atau melanggar ketentuan BMPD baik kepada Pihak Terkait maupun Tidak Terkait.
5. Pada tanggal 31 Desember 2016 dan 2015, Bank memiliki rasio profitabilitas yang tercermin dari rasio Return On Asset (ROA) masing-masing 2,63% dan 0,30%, serta rasio Return On Equity (ROE) masing-masing 11,97% dan 1,61%.
Asumsi Dasar Kelangsungan Usaha
Kelangsungan usaha BMS berlandaskan pada posisi BMS dilihat dari analisis kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (threath).
1. Kekuatan BMS
a. Bank Mega Syariah merupakan bank ketiga yang beroperasi penuh secara syariah di Indonesia dengan pencapaian aset diatas Rp 5 triliun.
b. Didukung oleh kelompok usaha yang kuat dan memiliki komitmen untuk mengembangkan perbankan syariah serta bisnis konsumer.
c. Memiliki positioning dan brand awareness
yang dikenal sebagai bank syariah untuk semua kalangan.
d. Mengoperasikan teknologi infomasi yang memadai serta memenuhi regulasi untuk mengakomodir pengembangan produk, layanan informasi dan layanan Nasabah. e. Memiliki jaringan sebanyak 78 kantor terdiri
dari kantor cabang dan kantor cabang
pembantu yang tersebar di 25 provinsi di
seluruh Indonesia.
f. Sumber Daya Insani yang kompeten dan sudah berpengalaman dalam industri perbankan syariah.
2. Peluang BMS
a. Komitmen pemerintah untuk
menumbuhkan semangat perekonomian syariah kepada masyarakat.
b. Tumbuhnya Lembaga-Lembaga Keuangan Syariah Non-Bank yang menghidupkan industri perbankan syariah.
c. Potensi pasar segmen retail dan komersil yang masih luas dan terus berkembang khususnya untuk masyarakat dengan pendapatan menengah dan menengah ke atas.
d. Tumbuhnya basis konsumen emotional (emotional costumer) untuk produk atau jasa syariah dalam 3 (tiga) tahun terakhir.