• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asumsi Filosofis

Dalam dokumen CATATAN SURAT P (Halaman 95-102)

BAB IV GAGASAN TEORI

A. Asumsi Filosofis

Titik awal semua teori adalah asumsi-asumsi yang mendasarinya. Asumsi-asumsi yang dipakai seorang ahli teori menentukan bagaimana sebuah teori akan digunakan. Oleh karena itu, dengan mengetahui asumsi-asumsi dibalik sebuah teori merupakan langkah pertama untuk memahami teori tersebuh. Asumsi-asumsi filosofis sering dibagi menjadi tiga jenis utama: asumsi mengenai epistemology

86 atau pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan; asumsi mengenai ontology atau pertanyaan tentang keberadaan; dan asumsi tentang akiologi atau pertanyaan tentang nilai. Setiap teori , baik secara eksplisit maupun implisit memasukkan asumsi-asumsi mengenai sifat pengetahuan dan bagaimana hal tersebut diperoleh, apa yang mendasari keberadaan dan apa yang berharga. Melihat asumsi ini, memberikan sebuah dasar untuk memahami bagaimana sebuah teori menempatkan diri dalam hubungannya dengan teori lain.

Epistemologi. Merupakan cabang filosofi yang mempelajari pengetahuan atau bagaimana orang –orang mengetahui apa yang mereka ketahui. Setiap diskusi tentang teori pasti akan kembali ke isu-isu epistemology. Pertanyaan berikut merupakan pertanyaan paling umum mengenai epistemologis yang berhubungan dengan akademisi komunikasi.

Pada tingkatan apa pengetahuan dapat muncul sebelum pengalaman?

Banyak yang percaya bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman. Kita mengamati dunia sehingga kita mengetahui tentang dunia. Akan tetapi, mungkin masih ada sesuatu dalam sifat dasar yang memberikan sejenis pengetahuan, bahkan sebelum kita mengalaminya. Kemampuan untuk berfikir dan merasakan, sering kali disebut sebagai bukti untuk mekanisme yang melekat tersebut. Sebagai contoh, ada bukti yang kuat bahwa anak-anak tidak belajar bagasa sepennuhnya dari apa yang didengarkannya. Akan tetapi, mereka mendapatkan bahasa dengan menggunakan contoh-contoh bawahan untuk menguji apa yang mereka dengar.

Dengan kata lain, sebuah kapasitas atau struktur untuk bahasa ada dalam otak apriori, bahkan sebelum seorang anak mulai mengtahui dunia dengan mengalaminya.

Pada tingkatan apa pengetahuan dapat menjadi sesuatu yang pasti?

Apakah pengetahuan ada di dunia sebagai sesuatu yang mutlak, sehingga dapat diambill oleh siapa saja yang mengemukakannya? Perdebatan mengenai masalah ini terjadi di antara para filsuf selama ratusan tahun dan ahli-ahli teori komunikasi menempatkan dirinya dalam tempat-tempat yang berbeda pada rangkaian kesatuan ini juga. Mereka yang mengambil sebuah peendirian universal –yang

87 percaya bahwa mereka mencari pengetahuan yang mutlak dan tidak berubah – akan mengalami kesalahan dalam teori-teorinya, tetapi mereka percaya bahwa kesalahan ini hanyalah sebuah hasil dari belum ditemukannya kebenaran yang utuh. Para penganut paham relativitas percaya bahwa pengetahuan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang mutlak karena kenyataan yang universal tidak pernah ada. Bahkan, apa yang dapat kita ketahui disaring melalui pengalaman dan persepsi kita serta berdasarkan hal ini, teori-teiru yang dibangun juga berkembang dan berubah.

Dengan proses apa pengetahuan muncul? Pertanyaan ini merupakan jantung epistemologi karena jenis proses yang dipilih untuk menemukan pengetahuan menentukan penis pengtahuan yang dapat berkembang dari proses tersebut. Setidaknya ada empat posisi pada masalah ini. Rasionalisme menyatakan bahwa pengetahuan muncul dari kekuatan pikiran manusia yang curam untuk mengtahui kebenarannya. Posi ini menmpatkan kepercayaan yang mendasar dalam pemikiran manusia untuk mengetahui kebenaran. Empirisme menyatakan bahwa pengetahuan muncul dalam persepsi. Kita mengalami dunia dan secara harfiah ‖melihat‖ apa yang terjadi. Konstruktivisme percaya bahwa orang yang menciptakan pengetahuan agar dapat berjalan secara pragmatis di dunia dan bahwa pengetahuan adalah apa yang telah dihasilkan oleh seseorang dari dunia.

Akhirnya membawa konstruktivisme selangkah lebih auh, konstuktivisme sosial mengajarkan bahwa pengetahuan merupakan produk interaksi simbolis dalam kelompok sosial. Dengan kata lain, kenyataan terbentuk secara sosial, sebuah hasil kehidupan kultural dan kelompok.

Apakah pengetahuan sebaiknya dipahami sebagian atau keseluruhan?

Mereka yang mengambil pendekatan holistik percaya bahwa fenomena sangat berhubungan dan bekerja sebagai sebuah sistem. Dengan kata lain, pengetahuan yang benar tidak dapat dibagi menjadi bagian-bagian, tetapi terdiri atas pemahaman yang umum, tidak dapat dibagi dan gestalt. Sebaliknya, para analis percaya bahwa pengetahuan terdiri atas pemahaman tentang bagaimana bagian-bagian tersebut bekerja secara terpisah. Mereka tertarik dalam memisahkan,

88 mengategorikan, dan menganalisa komponen-komponen yang berbeda yang bersama-sama membentuk apa yang disebut pengetahuan.

Pada tingkatan apa pengetahuan menjadi eksplisit? Banyak filsuf dan akademisi yang percaya bahwa Anda tidak dapat mengetahui sesuatu kecuali Anda dapat menetapkannya. Dalam pAndangan ini, pengetahuan adalah sesuatu yang dapat diartikulasikan dengan eksplisit. PAndangan lain menyatakan bahwa banyak pengetahuan yang tersembunyi—bahwa orang-orang berkerja berdasarkan perasaan yang tidak sadar dan mungkin tidak dapat mereka ungkapkan.

Pengetahuan tersebut disebut pengetahuan bawah sadar (tacit).

Cara akademisi melakukan penelitian dan penyusunan teori-teori sangat bergantung pada asumsi-asumsi epistemologis mereka karena apa yang mereka pikirkan tentang pengetahuan dan bagaimana mereka memikirkan pengetahuan itu didapatkan, menentukan apa yang mereka temukan. Hal yang sama berlaku untuk jenis filosofi selanjutnya—asumsi ontologi.

Ontologi. Ontologi merupakan sebuah filosofi yang berhadapan dengan sifat makluk hidup. Epistemologi dan ontologi berjalan beriringan karena gagasan-gagasan kita tenang pengetahuan sebagian besar bergantung pada pemikiran kita mengenai siapa mengetahui. Dalam ilmu sosial, ontologi sebagian besar berhadapan dengan sifat keberadaan manusia; dalam komunikasi, ontologi berpusat pada sifat interaksi sosial manusia karena cara seorang ahli teori mengonseptualisasi interaksi sebagian besar bergantung pada bagaimana penghubung tersebut dipAndang. Sedikitnya ada empat masalah yang penting.

Pertama, pada tingkatan apa manusia bembuat pilihan-pilihan yang nyata?

Walaupun semua penelitian nampaknya setuju bahwa orang-orang merasakan pilihan, ada perdebatan filosofis yang telah berlangsung lama tentang apakah ada pilihan yang nyata. Pada salah satu sisi dari masalah tersebut berdiri kaum determinis yang menyatakan bahwa perilaku disebabkan oleh banyak kondisi sebelumnya yang sebagian besar menentukan perilaku manusia. Menurut pAndangan ini, manusia pada dasarnya bersifat reaktif dan pasif. Pada sisi lain

89 perdebatan, berdiri kaum pragmatis yang menyatakan bahwa manusia merencanakan perilaku untuk mencaoai tujuan masa depan. Kelompok ini memandang manusia sebagai makluk yang aktif dan dapat mengambil keputusan yang dapat memengaruhi nasib mereka sendiri. Ada juga yang berdiri di posisi tengah, yang menyatakan bahwa orang-orang membuat pilihan dalam jangkauan yang terbatas atau bahwa beberapa perilaku telah ditentukan, sedangkan perilaku yang lain dilakukan dengan bebas.

Masalah otologis yang kedua adalah apakah perilaku manusia sebaiknya dipahami dalam bentuk keadaan atau sifat. Pertanyaan ini berhubungan dengan apakah ada dimensi yang cukup stabil—sifat-sifat—atau kondisi-kondisi sementara yang lebuh memengaruhi manusia, yang disebut dengan keadaan.

PAndangan keadaan menyatakan bahwa manusia bersifat dinamis dan mengalami banyak keadaan dalam satu hari, satu tahun, dan seumur hidup. PAndangan sifat menyatakan bahwa manusia sebagian besar dapat diperkirakan karena mereka menunjukkan karakteristik yang kurang lebih konsisten sepanjang waktu. Oleh karena itu, sifat-sifat tidak berubah dengan mudah dan menurut pAndangan ini, manusia pada dasarnya dipAndang statis. Tentunya, ada posisi tengah-tengah dan banyak ahli teori yang percaya bahwa baik sifat maupun keadaan dapat mengarakterisasi perilaku manusia.

Apakah pengalaman manusia semata-mata individual atau sosial?

Pertanyaan otologis ini berhubungan dengan apakah individu atau kelompok membawa banyak beban untuk menentukan tindakan manusia. Akademisi-akademisi yang memberi perhatian pada individu memahami perilaku mereka dalam istilah individualistis dan satuan analisis mereka adalah jiwa manusia sebadai individu. Namun, ilmuan sosial yang lain lebih memfokuskan pada kehidupan sosial sebagai satuan analisis utama. Para akademis ini percaya bahwa manusia tidak dapat dipahami secara terpisah dari hubungannya dengan orang lain dalam kelompok dan kebudayaan. Pertanyaan ontologis ini sangat penting bagi akademisi komunikasi karena fokus merekapada interaksi.

90 Pada tingkatan apakah komunikasi menjadi konstekstual? Fokus pertanyaan ini adalah apakah perilaku diatur oleh prinsip-prinsip universal atau apakah hal ini bergantung pada faktor-faktor situasional. Beberapa filsuf percaya bahwa kehidupan dan tindakan manusia sebaiknya dipahami dengan melihat pada faktor-faktor universal; yang lainnnya percaya bahwa perilaku bersifat kontekstual dan tidak dapat dihasilkan di luar situasi yang ada. Dalam komunikasi, lebih banyak orang yang mendukung posisi tengah dengan para akademisi yang percaya bahwa perilaku dipengaruhi baik oleh faktor-faktor umum maupun situasional.

Aksiologi. Aksiologi merupakan cabang filosofi yang berhubungan dengan penilaian tentang nilai-nilai. Nilai-nilai apa yang memandu penelitian dan apa implikasi nilai-nilai tersebut bagi hasil proses penelitian? Bagi akademisi komunikasi, masalah-masalah aksiologi ini sangat penting.

Bisakah teori bebas dari nilai? Ilmu pengetahuan klasik menjawab kegelisahan ini dengan jawaban setuju—bahwa teori dan penelitian bebas dari nilai, bahwa ilmu bersifat netral, dan apa yang coba dilakukan oleh akademisi adalah untuk mengungkapkan fakta sebagaimana adanya. Menurut pAndangan ini, ketika nilai-nilai ilmuwan menimpa karya mereka, maka hasilnya adalah ilmu pengetahuan yang buruk. Akan tetapi, ada posisi yang berbeda dalam masalah ini:

bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas dari nilai karena penelitian selalu dipandu oleh pilihan apa yang diteliti, bagaimana melakukan penelitian, dan sebagainya.

Selanjutnya, pilihan-pilihan ilmuwan dipengaruhi oleh pribadi sebagai nilai-nilai institusional. Nilai-nilai pemerintahan dan perusahaan swasta menentukan penelitian apa yang akan didanai; ideologi-ideologi politik dan ekonomi sama-sama memberikan serta diberikan dengan cara tertentu untuk memAndang dunia, diwujudkan oleh bentuk-bentuk teori dan penelitian yang berbeda. Oleh karena itu, dari posisi ini, setiap pAndangan kebutuhan atau warna yang dilihat, membuat penelitian bebas dari nilai menjadi sesuatu yang tidak mungkin.

Masalah nilai yang kedua berfokus pada pertanyaan apakah akademisi mengganggu, sehingga memengaruhi proses yang sedang dipelajari. Sengan kata lain, pada tingkatan apa proses penelitian itu sendiri memengaruhi apa yang

91 sedang diamati? Pada tingkatan apakah peneliti menjadi bagian dari sistem yang sedang diteliti dan juga memengaruhi sistemnya? Sudut pAndang ilmiah tradisional adalah pada apa-apa yang harus diamati baik-baik oleh para ilmuwan tanpa adanya campur tangan, sehingga dapat diperoleh keakurasian. Banyak kritik yang meragukan kemungkinan ini, percaya bahwa tidak ada metode pengamatan yang benar-benar bebas atau distorsi. Bahkan, ketika Anda melihat planet-planet melalui teleskop, Anda secara otomatis membelokan jaraknya karena sifa-sifat lensanya. Ketika seorang dokter meletakkan sebuah teleskop di dada Anda, sistem syaraf Anda bekerja, dan kadang-kadang denyut jantung Anda juga terpengaruh.

Jika Anda membawa seorang partisipan ke dalam sebuah laboratorium untuk berbicara sebagai bagian percobaan,−karena para peneliti komunikasi sering melakukannya−maka mereka tidak merespons dengan cara yang benar-benar sama dengan ketika mereka berada di luar laboratorium.

Bukan hanya penelitian yang memengaruhi apa yang diamati, tetapi hal tersebut juga dapat memengaruhi kehidupan di luar penelitian itu sendiri. Hal ini mengindikasikan bahwa peneliti dengan sifat karya ilmiah, menjadi seorang agen perubahan karena meneliti kehidupan manusia mengubah kehidupan tersebut.

Sebagai contoh, jika Anda mewawancarai sepasang suami istri tentang hubungan mereka, maka wawancara itu sendiri akan memengaruhi beberapa aspek hubungan tersebut. Hal ini merupakan sebuah peranan yang harus dipahami dan dipertimbangkan dengan aktif oleh para peneliti, setidaknya mempertimbangkan masalah-masalah etis yang dihasilkan oleh penelitian mereka.

Masalah ketiga dalam aksiologi berhubungan dengan akhir penelitian yang dolakukan. Haruskah penelitian dirancang untuk mencapai perubahan atau apakah fungsinya hanya untuk menghasilkan pengetahuan? Para ilmuwan tradisional menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab terhadap cara-cara penggunaan pengetahuan ilmiah−dapat digunakan untuk hal yang baik atau buruk. Penemuan pembelahan nuklir merupakan sebuah penemuan ilmiah yang penting; bahwa hal tersebut digunakan untuk membuat bom atom bukanlah tanggung jawab ilmuwan. Banyak kritik yang mengatakan bahwa pengetahuan

92 ilmiah sangat bersifat instrumentalis. Pengetahuan ini dapat dikendalikan dan menguatkan penyusun kekuatan tertentu di masyarakat. Oleh karena itu, para akademisi memiliki sebuah tanggung jawab untuk melakukan usaha-usaha yang membantu masyarakat berubah dalam cara yang positif.

Oleh karena itu, secara keseluruhan, ada dua posisi yang terletak dalam masalah-masalah aksiologi ini. Pada satu sisi, beberapa akademisi mencari objektivitas dan pengetahuan yang mereka percaya sangat bebas-nilai. Di sisi yang lain adalah ilmu yang sadar-nilai, di mana para peneliti mengenali pentingnya nilai-nilai bagi para peneliti dan teori, berhati-hati untuk menghargai pendirian mereka, serta menjadikan usaha yang dilakukan untuk mengarahkan nilai-nilai tersebut dalam cara yang positif.

Dalam dokumen CATATAN SURAT P (Halaman 95-102)