I
SURAT P CATATAN
CIPTAAN
Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 2g Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:
Nomor dan tanggal permohonan Penclpta
Nama
MANUSIA
: EC0020'1983801, 25 November 2019
: Dr. Klnkln Yullaty Subarsa Putrl, S.Sos, M.Sl., CpR
a.n. MENTEBI HUKUM DAN HAK ASAST MANUSTA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL
,f
Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS.
NlP. 19661 1 181994031 001
Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.
000166453 Kewarganegaraan
Pemegang Hak Clpta Nama
Alamat
Kewarganegaraan Jenis Ciptaan Judul Ciptaan
Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di wilayah lndonesia atau di luar wilayah lndonesia
Jangka waktu pelindungan
: Dr. Kinkin Yuliaty &lbarsa R tri, S.Sos, il.Si., CpR
: Jl. MT Haryono t(av. 14, Komp. Pelayaran Adiguna, Tebet Barat, Jakarta Selatan, Dki Jakafta, 12810
: lndonesia : Poster
: Perconal Branding iielalui iledla Soeial
: 25 November 201 9, di Jakarta
Nomor pencatatan
adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh pemohon.
Surat Penoatalan Hak Gipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Gipta.
TEORI
KOMUNIKASI
ii
KATA PENGANTAR
Terdapat bukti bahwa kekeliruan dalam menerjemahkan pesan yang dikirimkan pemerintah Jepang menjelang akhir Perang Dunia II boleh jadi telah memicu pengeboman Hiroshima. Kta makusatsu yang digunakan Jepang dalam merespons ultimatum AS untuk menyerah diterjemahkan oleh Domei sebagai
―mwngabaikan‖, alih-alih maknanya yang benar, ―Jangan memberi komentar sampai keputusan diambil.‖ Versi lain mengatakan, Jenderal MacArthur memerintah stafnya untuk mencari makna kata itu. Semua kamus bahasa Jepang- bahasa Inggris diperiksa yang memberi padanan kata no comment. MacArthur kemudian melapor kepada Presiden Truman yang memutuskan untuk menjatuhkan bom atom. Padahal, makna kata mokusatsu adalah ―Kami akan menaati ultimatum Tuan tanpa komentar.‖
Gara-gara membalas yel-yel pendukung Persib dengan mengacungkan jari kelingkingnya, Deny (19) –sebut saja begitu— dikeroyok para suporter. Peristiwa terjadi Minggu (7/11) sore, beberapa saat setelah Persib dipecundangi 0-1 oleh Persikota Kodya Tangerang. Kejadian itu bermula ketika para bobotoh (suporter) Persib meledek wasit Muslihat (Bekasi) yang dianggap berat sebelah ke tim tamu.
Lalu dengan berombongan mereka keluar stadion mengiringi mobil yang ditumpangi wasit. ―Wasit goblok ! Wasit goblok !‖ begitu sorak-sorai mereka Deny remaja asal Jakarta yang sedang menikmati bakso di Jaklan Aceh mengacungkan jari kelingkingnya tinggi-tinggi. Sontak, anak yang menjejali gerbang masuk stadion mengaligkan amarahnya ke Deny. Deny berupawa berdalih bahwa maksud acungan jari kelingking sebetulnya dimaksud kepada wasit yang tidak becus. ―Jadi saya ini sependapat dengan anda.‖ Katanya.
***
Cerita-cerita di atas menunjukkan bahwa ternyata komunikasi tidak semudah yang kita duga. Kegagalan memahami pesan verbal dalam ilustrasi pertama bahkan mengakibatkan bencana. Memang banyak orang menganggap komunikasi itu mudah dilakukan, semudah bernapas, karena kita biasa
iii melakukannya sejak lahir. Karena ada kesan enteng itu, tidak mengherankan bila sebagian orang enggan memperlajari bidang ini. Benarkah komunikais itu mudah?
Beberapa kekeliruan tentang komunikasi adalah sebagai berikut ini:
1. Tidak ada yang sukar dalam komunikasi. Komunikasi adalah kemampuan alamiah; setiap orang mengetahui apa komunikasi itu dan mampu melakukannya.
2. Keterampilan berkomunikasi adalah bakat, sifat bawaan, bukan diperoleh karena usaha atau pendidikan.
3. Saya berbicara, karena itu dengan sendirinya saya berkomunikasi.
(Mengatakan sesuatu baru langkah pertama berkomunikasi yang ditafsirkan orang berdasarkan pengalaman orang tersebut)
4. Komunikasi terjadi hanya jika saya menghendakinya.
5. Komunikasi adalah proses verbal. (Padahal komunikasi juga proses nonverbal yang mempengaruhi orang lain.)
6. Makna terdapat pada kata-kata. (Padahal oranglah yang memberi makna.) 7. Komunikasi adalah panasea universal. (Komunikasi bukan obat ajaib untuk
mengatasi semua persoalan masyarakat. Komunikasi sekedar alat untuk mencapai tujuan mulia ataupun tujuan jahat.)
Menurut Porter dan Samovar, memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, akibat-akibat apa yang terjadi dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi dan memaksimumkan hasil dari kejadian tersebut.
Dimanapun kita tinggal dan apapun pekerjaan kita, kita seolalu membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Jadi bukan hanya dosen, politikus, pengacara, penjual atau pendakwah yang harus terampil berkomunikasi, namun hampir semua jabatan. Banyak orang gagal karena mereka tidak terampil berkomunikasi. Sebagian pengamat politik menilai bahwa kegagalan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi presiden RI adalah karena ia kurang
iv mengkomunikasikan gagasan-gagasannya, meskipun PDI-Perjuangan meraih jumlah suara tertinggi dari rakyat pemilih dalam pemilu 1999. Sebaliknya, Amien Rais tampil sebagai ketua MPR karena keterampilannya berkomunikasi, meskipun perolehan suara partainya (PAN) kecil. Dalam pemilu 2004, karena masalah serupa, Megawati gagal terpilih kembali sebagai presiden RI setelah ia menggantikan Gus Dur yang dilengserkan DPR di tengah jalan.
Dalam kehidupan sehari-hari pun banyak kegagalan dalam pekerjaan yang disebabkan karena gagal berkomunikasi. Misalnya, wakil rakyat gagal dipilih kembali karena ia gagal berkomunikasi dengan konsistennya. Seorang diplomat gagal menyakinkan negeri tempat ia ditugaskan karena ia bukan hanya tidak persuasif tetapi bahkan tidak menguasai bahasa setempat secara optimal. Ada kalanya orang gagal berkomunikasi dengan sesama anggota keluarga. Ibu yang tidak dapat berkomunikasi dengan anak-anak nya, atau anak-anak tidak dapat berkomunikasi dengan ayahnya. Bahkan dalam dunia lawak pun, para pelawak yang gagal berkomunikasi memiliki resiko ditinggalkan penonton, dicemooh untuk kemudian dilupakan. Dalam konteks inilah kita harus menegaskan kembali persepsi bahwa komunikasi itu bukan hanya sesuatu yang mudah. Karena itu, berbagai upaya terus menerus harus kita lakukan untuk meningkatkan pengetahuan komunikasi dan keterampilan dalam berkomunikasi. Mestonya tidak ada kata berhenti dalam belajar, karena pengetahuan dan keterampilan yang kita butuhkan harus selalu diasah, agar senantiasa up-to-date dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan wacana mereka.
***
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR Ii
DAFTAR ISI V
BAB I ILMU DAN TEORI KOMUNIKASI 1
1. Mendefinisikan Komunikasi 2
2. Penelitian Akademis Tentang Komunikasi 4
3. Proses Penelitian Dalam Komunikasi 10
BAB II HAKIKAT, DEFINISI DAN KONTEKS KOMUNIKASI 15 1. Keragaman Dan Kontrovensi Definisi Komunikasi 17
2. Tiga Konseptuan Komunikasi 26
3. Konteks-Konteks Komunikasi 37
BAB III MODEL-MODEL KOMUNIKASI 47
1. Fungsi dan Manfaat Model 49
2. Tipologi Model 51
3. Model-Model Komunikasi Suatu Perkenalan 56
BAB IV GAGASAN TEORI 83
1. Dimensi-Dimensi Teori 85
2. Teori Nomotetik 95
3. Gambar 96
4. Menilai Teori Komunikasi 109
BAB V TRADISI-TRADISI TEORI KOMUNIKASI 114
vi
1. Menyusun Teori Komunikasi 114
2. Tradisi Semiotik 116
3. Tradisi Fenomenologis 121
4. Tradisi Sibernetika 126
5. Tradisi Sosiopsikologis 130
6. Tradisi Sosiokultural 134
7. Tradisi Kritik 138
8. Tradisi Retorika 146
BAB VI PELAKU KOMUNIKASI 160
1. Tradisi Sosiopsikologis 162
2. Teori Sifat 162
3. Kognisi dan Pengolahan Informasi 167
4. Tradisi Sibernetika 182
5. Tradisi Penggabungan Informasi 182
6. Teori Konsistensi 188
7. Tradisi Sosiokultural 196
8. Interaksi Simbolis dan Pengembangan Diri 197 9. Gagasan Harre Mengenai Seseorang dan Diri Sendiri 200
10. Pembentukan Sosial Mengenai Emosi 203
11. Pembawaan Diri 207
12. Teori Komunikasi Tentang Identitas 211
13. Teori Negosiasi Identitas 214
vii
14. Tradisi Kritik 217
15. Teori Sudut Pandang 219
16. Identitas Yang Dibentuk dan Ditampilkan 221
17. Teori Queer 221
18. Pesan 224
19. Percakapan 299
20. Hubungan 376
21. Kelompok 422
22. Organisasi 462
23. Media 514
24. Budaya dan Masyarakat 560
DAFTAR PUSTAKA 623
1
BAB I
ILMU DAN TEORI KOMUNIKASI
Selama orang-orang masih bertanya tentang dunia, mereka telah ditipu oleh misteri-misteri sifat kemanusiaan. Kegiatan yang paling biasa dalam kehidupan kita bisa sangat membingungkan ketika kita mencoba memahaminya secara sistematis. Komunikasi adalah salah satu dari kegiatan sehari-hari yang benar- benar terhubung dengan semua kehidupan kemanusiaan, sehingga terkadang kita mengabaikan penyebaran, kepentingan dan kerumitannya. Dalam buku ini, kita memperlakukan komunikasi sebagai pusat kehidupan kemanusiaan. Setiap aspek kehidupan dipengaruhi oleh komunikasi dengan orang lain, seperti pesan dari orang yang tidak kita kenal. Buku ini disusun untuk membantu anda memahami komunikasi dalam segala aspeknya dengan lebih baik.
Kita bisa melanjutkan penjelasan dalam buku ini dalam beberapa cara. Kita dapat menyusun serangkaian metode untuk meningkatkan komunikasi, tetapi pendekatan seperti itu akan mengabaikan kerumitan dan ambiguitas proses komunikasi. Kita dapat menggunakan beberapa model dasar, tetapi hal ini juga memberikan pandangan tentang komunikasi yang terbatas. Sebagai gantinya, kita akan berfokus pada teori-teori komunikasi karena teori memberikan penjelasan yang membantu kita untuk memahami fenomena yang disebut komunikasi.
Pertanyaan pemandu kita adalah bagaimana para akademisi dari beragam tradisi menggambarkan dan menjelaskan pengalaman kemanusiaan yang paling universal ini. Dengan mengembangkan sebuah pemahaman mengenai keragaman teori-teori komunikasi. Anda akan lebih dapat membuat perbedaan dalam interpretasi mengenai komunikasi, bisa mendapatkan alat bantu untuk meningkatkan komunikasi dan bisa memahami ilmu komunikasi dengan lebih baik.
Mempelajari teori komunikasi akan membantu untuk melihat hal-hal yang belum pernah anda lihat sebelumnya, melihat yang tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Pelebaran persepsi ini akan memungkinkan untuk keluar dari cara
2 berpikir yang biasa serta dapat menyesuaikan diri, fleksibel dan canggih dalam pendekatan anda terhadap komunikasi. Filsuf Thomas Kuhn menjelaskan cara yang berbeda dalam melihat sebuah pengetahuan dalam suatu bidang yang memberikan: ―Melihat pada peta kontur, akademisi melihat garis-garis pada kertas, pembuat peta menggambarkan sebuah tanah lapang. Melihat pada foto ruangan gelembung, akdemisi melihat garis-garis yang membingungkan dan patah, ahli fisika mencatat kejadian subnuklir yang biasa‖. Oleh karena itu teori- teori memberikan seperangkat alat-alat bantu yang berguna untuk melihat proses dan pengalaman sehari-hari dari komunikasi melalui lensa-lensa yang baru.
1. MENDEFINISIKAN KOMUNIKASI
Untuk memulai pembelajaran tentang teori komunikasi, kita beralih sejenak untuk mendefinisikan komunikasi. Theodore Clevenger mencatat bahwa masalah yang selalu ada dalam mendefinisikan komunikasi untuk tujuan penelitian atau ilmiah berasal dari fakta bahwa kata kerja ‗berkomunikasi‘ memiliki posisi yang kuat dalam kosakata umum dan karenanya tidak mudah mendefinisikan untuk tujuan ilmiah. Sebenarnya, kata kerja ini merupakan salah satu istilah dalam bahasa Inggris yang sering digunakan. Para akademisi telah mencoba segala usaha untuk mendefinisikan komunikasi, tetapi menentukan sebuah definisi tunggal telah terbukti tidak mungkin dilakukan dan tidak akan berhasil.
Frank Dance mengambil sebuah langkah besar dalam mengklarifikasi konsep kasar dengan menggarisbawahi sejumlah elemen yang digunakan untuk membedakan komunikasi. Ia mendapat tiga poin dari ―perbedaan konseptual yang penting‖ yang membentuk dimensi dasar komunikasi. Dimensi yang pertama adalah tingkat pengamatan atau keringkasan. Beberapa definisi termasuk luas dan bebas; yang lainnya terbatas. Sebagai contoh definisi komunikasi sebagai ―proses yang meghubungkan semua bagian-bagian yang terputus‖ merupakan definisi yang umum. Definisi lain, komunikasi sebagai ‖sebuah sistem untuk menyampaikan informasi dan perintah‖, bersifat membatasi.
3 Perbedaan kedua adalah tujuan. Beberapa definisi hanya memasukkan pengiriman dan penerimaan pesan dengan maksud tertentu; yang lainnya tidak memaksakan pembatasan ini. Berikut adalah sebuah contoh definisi yang menyebutkan maksud: ―situasi-situasi tersebut merupakan sebuah sumber yang mengirimkan sebuah pesan kepada penerima dengan tujuan tertentu untuk memengaruhi perilaku penerima. Sebuah definisi yang tidak memerlukan tujuan adalah sebagai berikut: ―Komunikasi merupakan sebuah proses menyamakan dua atau beberapa hal mengenai kekuasaan terhadap seseorang atau beberapa orang.‖
Dimensi ketiga yang digunakan untuk membedakan difinisi komunikasi adalah penilaian normatif. Beberapa definisi meyertakan pernyataan tentang keberhasilan, keefektifan atau ketepatan; definisi yang lain tidak berisi penilaian yang lengkap seperti itu. Sebagai contoh, definisi berikut menganggap bahwa komunikasi dikatakan berhasil jika: ―Komunikasi merupakan pertukaran sebuah pemikiran atau gagasan‖. Asumsi dalam definisi ini adalah bahwa sebuah pemirian atau gagasan berhasil ditukarkan. Di sisi lain, sebuah definisi yang tidak menilai apakah hasilnya berhasil atau tidak: ―Komunikasi [adalah] penyampaian informasi.‖ Disini, informasi disampaikan, tetapi tidak penting apakah informasi tersebut diterima dan dipahami atau tidak.
Perdebatan mengenai komunikasi dan dimensi yang membentuknya pasti akan terus berlanjut. Kesimpulan Dance menjadi tepat bahwa: ―Kita mencoba untuk menentukan konsep tentang ‗komunikasi‘ yang mencakup banyak hal.‖ Ia lebih memilih sekumpulan konsep daripada teori atau gagasan tunggal, yang mendefinisikan komunikasi secara kolektif. Masalah definisi ini penting seperti yang coba diingatkan oleh Peter Andersen: ―Selama tidak ada pandangan yang benar atau salah, pilihan-pilihan mengenai [definisi-definisi] hanyalah masalah sepele. Pandangan-pandangan ini mendorong para akademisi untuk masuk ke dalam lintasan teoretikal yang berbeda, memengaruhi mereka untuk memberikan pertanyaan yang berbeda dan mendorong mereka untuk melakukan berbagai macan penelitian komunikasi yang berbeda-beda.‖ Definisi yang berbeda
4 memiliki fungsi yang berbeda dan memungkinkan para ahli teori untuk melakukan hal-hal yang berbeda pula.
Sebuah definisi haruslah dinilai berdasarkan seberapa baik definisi tersebut membantu akademisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sedang mereka hadapi. Jenis penelitian yang berbeda-beda memelukan definisi komunikasi yang terpisah, bahkan bertentangan. Jadi, pendefinisian merupakan alat yang harus digunakan secara fleksibel. Dalam buku ini, kami tidak memberikan definisi tunggal tentang komunikasi, tetapi kami melihat pada cakupan teori-teori yang mendefinisikan komunikasi dengan cara yang berbeda.
Kami berharap cakupan definisi ini akan membantu anda untuk menentukan arti komunikasi saat anda mulai menjelajahi area-area dalam teori komunikasi.
2. PENELITIAN AKADEMIS TENTANG KOMUNIKASI
Komunikasi telah diteliti secara sistematis sejak zaman dahulu. Tetapi hal ini menjadi sebuah topik yang sangat penting pada abad ke-20, W. Barnett Pearce menggambarkan perkembangan ini sebagai sebuah ―penemuan revolusioner.‖
Yang sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya teknologi- teknologi komunikasi (seperti radio, televisi, telepon, satelit dan jaringan komputer), yang sejalan dengan meningkatnya industrialisasi, bisnis besar dan politik global.
Sangat jelas bahwa komunikasi telah mengambil posisi penting dalam kehidupan kita.
Ketertarikan yang kuat dalam penelitian akademis tentang komunikasi dimulai setelah Perang Dunia I ketika kemajuan dalam teknologi dan karya tulis menjadikan komunikasi sebuah topik yang selalu dibicarakan. Subjek ini selanjutnya diangkat oleh filosofi populer abad ke-20 tentang kemajuan dan pragmatisme yang merangsang keinginan untuk memajukan masyarakat melalui perubahan sosial yang luas. Kecenderungan ini penting karena mendasari komunikasi dengan kuat dalam sejarah intelektual Amerika Serikat selama abad ke-20. Selama periode ini, Amerika sedang ―bergerak‖, dalam artian berusaha
5 untuk memajukan teknologi, masyarakat, memerangi tirani dan mengembangkan penyebaran kapitalisme. Komunikasi digambarkan secara mencolok dalam pergerakan ini dan menjadi pusat perhatian bagi propaganda dan opini publik;
serta peranan media dalam hal komersial, pemasaran dan periklanan.
Setelah Perang Dunia II ilmu pengetahuan sosial semakin dikenal sebagai ilmu yag sah, serta minat terhadap proses-proses psikologis dan sosial menjadi semakin kuat. Persuasi dan pengambilan keputusan dalam kelompok merupakan perhatian utama, bukan hanya di antara para peneliti, tetapi dalam masyarakat secara umum karena penggunaan propaganda yang luas selama masa perang untuk menyebarkan ideologi rezim-rezim yang menindas. Penelitian komunikasi berkembang dengan pesat pada pertengahan kedua abad ke-20 karena minat pragmatis dalam apa yang dapat diraih oleh komunikasi dan hasil yang diperlihatkannya.
Awalnya, mata kuliah yang berhubungan dengan komunikasi terdapat banyak jurusan. Sebenarnya, komunikasi masih diteliti dalam kurikulum universitas, sebagai contoh, para psikolog meneliti komunikasi sebagai jenis perilaku tertentu yang didorong oleh proses-proses psikologi yang berbeda. Para sosiolog memfokuskan pada masyarakat dan proses sosial serta melihat pula komuniksai sebagai salah satu faktor sosial yang penting dalam masyarakat.
Namun, secara perlahan-lahan jurusan dengan kemampuan berbicara, komunikasi bahasa, komunikasi dan komunikasi massa secara terpisah mulai berkembang. Saat ini, sebagian besar menyebutkan jurusan komunikasi atau pendidikan komunikasi tetapi apapun labelnya semua memfokuskan pada komunikasi sebagai pusat pengalaman kemanusiaan. Sebaliknya, bagi para peneliti yang bergerak di bidang-bidang lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi atau bisnis cenderung memandang komunikasi sebagai sebuah proses sekunder sedangkan para akademisi ilmu komunikasi memandang komunikasi sebagai elemen yang menyusun kehidupan kemanusiaan.
6 Ketika komunikasi menjadi sebuah ilmu tersendiri, organisasi seperti National Communication Association dan International Communication Association seperti juga halnya dengan banyak asosiasi regional dan khusus berkembang untuk membantu dalam mengartikulasikan sifat-sifat ilmu pengetahuan. Jurnal-jurnal yang mempublikasikan karya tulis para akademisi juga memberikan banyak hasil dan juga membantu mendefinisikan apa yang sebenarnya bidang komunikasi itu. Di samping asal mula interdisipliner dan ciri interdisiplinernya yang terus berlanjut, komunikasi menghasilkan teori-teorinya sendiri serta tidak bergantung pada cabang ilmu sebagai titik awal teoritikal seperti pada awal bidang ini dimulai. Sebenarnya, perkembangan buku ini memberikan bukti pergeseran dari ketergantungan pada ilmu-ilmu pengetahuan lain untuk otonomi disipiner.
Perkembangan ilmu komunikasi mengambil bentuk-bentuk dan arahan yang berbeda di belahan dunia yang berbeda-beda. Sebagai contoh, teori komunikasi memeiliki sejarah yang berbeda di Eropa, Asia dan Afrika daripada di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, para peneliti memulai dengan meneliti komunikasi secara kuantitatif dan mencoba untuk menetapkan komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial. Walaupun para peneliti ini tidak pernah benar-benar menyetujui sasaran idealnya, metode kuantitatif merupakan metode standar yang digunakan selama bertahun-tahun. Sebaliknya, penelitian komunikasi Eropa lebih dipengaruhi oleh sudut pandang marxis dan bergantung pada metode kritikan atau kultural. Namun, dalam ilmu komunikasi kontemporer ada cukup interaksi dalam kedua cara tersebut yaitu dengan mengembangkan acuan prosedur ilmiah di Eropa serta sudut pandang kritikal dan kualitatif lainnya yang berkembang di Amerika Utara.
Teori-teori Timur cenderung berfokus pada keutuhan dan persatuan sedangkan pandangan Barat kadang-kadang mengukur bagian tanpa harus memperhatikan integrasi dasar atau penggabungan bagian-bagian tersebut.
Disamping itu, banyak teori Barat yang didominasi oleh pandangan individualisme; semua orang dianggap berhati-hati dan aktif untuk mencapai
7 tujuan-tujuan pribadi. Sebaliknya, sebagian besar teori Timur cenderung memandang komunikasi sebagai hasil rangkaian kejadian yag tidak direncanakan dan terjadi secara alami. Bahkan, banyak teori barat yang menyebabkan kecenderungan orang Asia pada kejadian yang bersifat individualistis dan sangat kognitif, sedangkan sebagian besar tradisi Timur menekankan pemusatan emosional dan spiritual sebagai hasil-hasil komunikasi.
Beberapa akademisi mencoba untuk mengembangkan teori-teori yang lebih besar yang khusus untuk budaya atau agama tertentu. Sebagai contoh, karya Molenti Asante pada Afrocentricity dan usaha Yoshitaka Miike untuk menjelaskan teori komunikasi Asiacenrtric. Dengan menggarisbawahi konsep dan susunan teoritisnya, bahan penelitian, serta metodologi dari sudut pandang tersebut.
Namun, seperti layaknya semua perbedaan, perbedaan kultural, rasial, atau regional di antara teori-teori komunikasi harus benar-benar diperhatikan.
Walaupun perbedaan yang umum dapat dicatat, yang penting untuk diingat adalah kesamaanm yang melimpah. Kita dapat mengambil setiap karakteristik yang telah disebutkan sebelumnya dari pola pemikiran Timur dan menunjukkan bagaimana setiap karakteristik muncul dalam pola pemikiran Barat dan sebaliknya.
Komunikasi sangatlah luas, sehingga tidak dapat diikat atau dibatasi dalam sebuah paradigma tunggal.
Dalam buku ini kami memfokuskan pada teori-teori komunikasi yang ketika muncul dalam ilmu barat, disebut komunikasi atau ilmu komunikasi. Kami tertarik untuk menghadirkan (1) teori-teori yang berkembang dalam ilmu; dan (2) perkembangan perkembangan sementara dari teori tersebut. Kami tidak bermasuk mengatakan bahwa pendangan yang berkembang di wilayah lain tidak penting;
kami hanya tidak mampu untuk mencakup semua tradisi dalam buku.
Dalam sebuah artikel panduan, Robert T. Craig mengemukakan sebuah visi teori komunikasi yang mengambil sebuah langkah maju yang besar untuk mempersatukan bidang yang agak sedikit berbeda ini dan menunjukkan
8 kerumitannya. Craig menyatakan bahwa komunikasi tidak akan pernah menyatu dengan sebuah teori tunggal atau kelompok teori. Teori-teori akan selalu mencerminkan perbedaan gagasan praktis mengenai komunikasi dalam kehidupan yang umum, sehingga kita akan selalu dihadapkan pada keragaman pilihan.
Tujuan kita tidak tercapai dan bukan untuk mencari sebuah model standar yang berlaku secara universal bagi situasi komunikasi apapun. Jika topik yang tidak mungkin ini terjadi, maka komunikasi akan menjadi ―sebuah bidang statis, sebuah bidang yang mati‖
Sebaliknya, Craig menyatakan bahwa kita harus mencari jenis hubungan yang berbeda berdasarkan pada (1) pemahaman umum mengenai kesamaan dan perbedaan, atau titik-titik tekanan di antara teori-teori; dan (2) sebuah komitmen untuk mengatur tekanan-tekanan ini melalui dialog. Craig menulis, ―Tujuannya bukanlah sebuah keadaan ketika kita tidak memiliki sesuatu untuk dibahas, tetapi suatu keadaan saat kita memahami dengan lebih baik bahwa kita semua memiliki sesuatu yang sangat penting untuk dibahas.‖
Menurut Craig, persyaratan pertama untuk bidang ini adalah sebuah pemahaman umum tentang kesamaan dan perbedaan teori-teori. Bukan sekedar sederet kesamaan dan perbedaan biasa, kita memiliki gagasan umum tentang di mana serta bagaimana teori bersatu dan bertentangan. Kita memerlukan sebuah metamodel. Istilah meta berarti ―lebih tinggi‖ atau ―di atas‖ sehingga sebuah metamodel adalah sebuah ―model dari semua model.‖ Persyaratan yang kedua untuk hubungan dalam bidang ini adalah sebuah definisi teori. Teori harus dipandang sebagai sebuah pendekatannya daripada hanya melihatnya sebagai sebuah penjelasan dari sebuah proses. Dengan kata lain, teori-teori merupakan sebuah bentuk dari wacana. Lebih tepatnya, teori-teori merupakan wacana tentang wacana atau metawacana.
Sebagai seorang siswa teori komunikasi, anda akan mengetahui bahwa konsep kembar ini berguna dalam menentukan apa sebenarnya usaha pembuatan teori ini. Jika anda dapat menemukan sebuah metamodel yang berguna, maka anda akan dapat menentukan hubungan antara teori dan jika anda memandang
9 teori komunikasi sebagai metawacana, anda akan mulai memahami pandangan- pandangan yang beragam di bidang ini. Dengan kata lain, teori komunikasi akan terlihat seperti sekumpulan batu yang diletakkan di atas meja dalam sebuah laboratorium geologi dan lebih terlihat seperti sebuah model komputer dinamis dari cara bumi terbentuk.
Sebagai sebuah pemikiran dasar untuk sebuah metamodel, Craig mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses utama dimana kehidupan manusia dijalani; komunikasi mendasari kenyataan. Craig menggambarkan pentingnya pemikiran ini terhadap komunikasi sebagai sebuah bidang:
―Komunikasi . . . bukanlah fenomena sekunder yang dapat dijelaskan oleh faktor- faktor psikologis, sosiologis, kultural atau ekonomi; tetapi komunikasi itu sendiri merupakan proses sosial yang utama dan mendasar yang menjelaskan semua faktor lain.‖
Craig menyatakan bahwa kita menggerakan prinsip yang sama ke tingkat yang lain. Teori-teori merupakan bentuk khusus komunikasi, sehingga teori mendasari atau menyusun pengalaman komunikasi. Teori-teori mengomunikasikan komunikasi, yang dimaksud oleh Craig dengan metawacana.
Teori-teori yang berbeda merupakan cara yang berbeda dari ―membicarakan‖
komunikasi, yang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Kita harus mengakui kekuatan yang mendasari teori-teori dan menemukan sebuah cara yang sama untuk memahami apa yang mereka coba sampaikan serta bagaimana mereka berbeda dalam cara penyampaiannya. Karena setiap teori komunikasi pada dasarnya merupakan sebuah respons terhadap aspek komunikasi yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, dialog dalam bidang ini memfokuskan pada apa dan bagaimana teori yang berbeda menyebut dunia sosial tempat tinggal kita.
Craig menjelaskan tujuh dasar tradisional yang memberikan cara-cara yang berbeda dalam membicarakan komunikasi: (1) retorika; (2) semiotika; (3) fenomenologis; (4) sibernetika; (5) sosiopsikologi; (6) sosiokultural; dan (7) kritikal.
10 3. PROSES PENELITIAN DALAM KOMUNIKASI
A. Sebuah Model Dasar Penelitian
Sebuah titik awal untuk memahami komunikasi sebagai sebuah bidang dan teori-teorinya, merupakan proses dasar dalam penelitian itu sendiri. Penelitian adalah penyelidikan sistematis dari pengalaman yang merujuk pada pemahaman, pengetahuan, dam teori. Orang terlibat dalam penelitian ketika mereka mencoba untuk mengetahui sesuatu dengan cara yang sistematis menggunakan tiga tahapan.
Tahapan pertama adalah menanyakan pertanyaan. Gerard Miller dan Henry Nicholson percaya bahwa penelitian adalah ―tidak lebih . . . daripada proses mengajukan pertanyaan-pertanyaan signifikan yang menarik . . . serta memberikan jawaban-jawaban yang sistematik dan rapi bagi mereka.‖
Pertanyaan-pertanyaannya pun dapat beragam. Pertanyaan-pertanyaannya tentang definisi membutuhkan pengertian sebagai jawabannya, mencoba untuk menjelaskan apa yang diamati atau disimpulkan: Apakah ini? Kita akan menyebutkan apa? Apa yang terkandung di dalamnya? Bagaimana hal ini berhubungan dengan hal-hal yang lainnya? Pertanyaan-pertanyaan tentang nilai menggali estetika, pragmatis dan kualitas etis dari yang diamati: Apakah ini indah? Apakah ini efektif? Apakah ini baik?
Tahapan kedua dalam penelitian adalah pengamatan. Di sini, akademisi mencari jawaban dengam mengamati fenomena. Metode-metode penelitian berbeda-beda dari satu tradisi ke tradisi yang lain. Beberapa akademisi mengamatinya dengan memeriksa catatan dan artefak, yang lainnya dengan keterlibatan pribadi, yang lainnya menggunakan alat-alat bantu dan percobaan yang teratur, serta yang lainnya lagi dengan mewawancarai orang-orang. Apapun metode yang digunakan, penyelidik menggunakan beberapa metode yang telah direncanakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tenyang komunikasi.
Tahapan ketiga dalam penelitian adalah menyusun jawaban. Pada tahap ini, kaum akademisi mencoba untuk mendefinisikan, menggambarkan dan
11 menjelaskan. Tahap ini biasanya dikenal dengan teori dan tahap ini merupakan fokus pembahasan dalam buku ini.
Orang-orang sering berpikir tentang tahapan-tahapan penelitian sebagai sesuatu yang lurus, hanya ada satu langkah pada setiap tahapan. Akan tetapi penelitian tidak memperoleh hasil dengan cara seperti ini. Setiap tahapan memengaruhi dan dipengaruhi oleh tahapan-tahapan yang lain. Pengamatan sering kali menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru dan teori-teori ditantang, baik oleh pengamatan maupn oleh pertanyaan baru dan sebagian pengamatan ditentukan oleh teori-teori menghasilkan pertanyaan baru dan sebagian pengamatan ditentukan oleh teori-teori. Jadi, penelitian lebih seperti memutari sebuah lingkaran dan berputar- putar antara poin-poin yang berbeda di dalamnya dan bukan menjalani sebuah garis lurus. Gambar 1.1 menggambarkan interaksi di antara tahapan-tahapan penelitian.
B. Jenis-jenis Ilmu Pengetahuan
Bagian yang terdahulu menggarisbawahi elemen-elemen dasar penelitian, tetapi mengabaikan perbedaan-perbedaan yang penting. Jenis penelitian yang berbeda mengajukan pertanyaan yang berbeda, menggunakan metode pengamatan yang berbeda dan menghasilkan jenis teori yang berbeda
Gambar 1.1 Tahapan Penyelidikan Pertanyaan
Teori Pengamatan
12 metode-metode penelitian dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk ilmu pengetahuan yang luas. Walaupun bentuk-bentuk ilmu pengetahuan ini berbagi elemen yang sama yang dibicarakan dalam bagian sebelumnya, bentuk ilmu pengetahuan ini juga memiliki perbedaan-perbedaan yang pentin.
Ilmu Pengetahuan Ilmiah. Ilmu pengetahuan sering kali dihubungkan dengan objektivitas, standarisasi dan generalisasi. Para ilmuan mencoba untuk melihat dunia dengan cara yang sama seperti pengamat-pengamat lain, berlatih dengan cara yang sama, sehingga akan melihat hal yang sama pula. Replikasi sebuah penelitian akan memberikan hasil yang identik. Standarisasi dan replikasi hal yang penting dalam ilmu pengetahuan karena para ilmuan menganggap bahwa dunia memiliki bentuk yang dapat diamati dan gambaran tugas mereka adalah ketika menemukan keadaan dunia seperti saat ini. Dunia menunggu penemuan dan tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk mengamati serta menjelaskan dunia seakurat mungkin.
Karena tidak ada cara yang mutlak untuk mengetahui seberapa akurat pengamatan tersebut, para ilmuan harus bergantung pada persetujuan diantara para pengamat. Jika semua pengamat yang terlatih menggunakan metode yang sama dan memberikan hasil yang sama, maka objeknya dianggap telah benar- benar diamati. Karena tekanan pada penemuan dunia yang dapat dikenal, metode- metode ilmiah biasanya sangat susuai dengan masalah-masalah keadaan alam.
Dalam fokusnya pada standarisasi dan objektivitas, ilmu pengetahuan kadang terlihat bebas dari nilai. Namun, apa yang terlihat ini dapat saja menipu realitas karena ilmu pengetahuan didasarkan pada banyak nilai-nilai implisit. Ilmu humanis merupakan sebuah tradisi yang mengakui posisi nilai-nilai dalam penelitian dengan lebih bebas.
Ilmu Pengetahuan Humanis, Ilmu pengetahuan dihubungkan dengan objektivitas, sebaliknya kemanusiaan dihubungkan dengan subjekivitas. Ilmu pengetahuan bertujuan untuk membuah standarisasi pengamatan; kemanusiaan mencari interpretasi kreatif. Jika tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk
13 mengurangi perbedaan-perbedaan kemanusiaan terhadap apa yang diamati, maka kemanusiaan memiliki tujuan untuk memahami respons subjektif individu.
Sebagian besar penganut paham humanisme lebih tertarik pada kasus-kasus individu daripada teori-teori yang dihasilkan.
Ilmu pengetahuan berfokus pada dunia yang telah ditamukan, sedangkan kemanusiaan berfokus dalam menemukan seseorang. Ilmu pengetahuan mencari persetujuan umum, sedangkan kemanusiaan mencari interpretasi-interpretasi pengganti. Penganut paham humanisme sering kali curiga pada pernyataan bahwa ada dunia yang abadi yang harus ditemukan, mereka cenderung tidak memisahkan seseorang dari pengetahuannya. Posisi humanis yang klasikal adalah bahwa apa yang dilihat seseorang itu. Oleh karena tekanannya pada respons subjektif, ilmu pengetahuan humanis lebih sesuai untuk masalah-masalah seni, pengalaman pribadi dan nilai-nilai.
Ilmu pengetahuan dan kemanusiaan tidak terpisah jauh, sehingga keduanya tidak pernah seiring sejalan, sehingga keduanya tidak pernah seiring sejalan.
Hampir semua program penelitian dan pembentukan teori menyertakan beberapa aspek ilmu pengetahuan dan ilmu humanis. Kadang-kadang, seorang ilmuwan adalah seorang humanis yang menggunakan intuisi, kreativitas, interpretasi dan pemahaman untuk memahami data yang dikumpulkan atau melakukan penelitian dengan arah yang benar-benar baru. Banyak penemuan besar ilmu pengetahuan yang sebenarnya merupakan hasil dari pemahaman kreatif. Archimedes menemukan bagaimaa menukur volume benda cair menggunakan pemindahan ketika ia masuk ke dalam bak mandinya; Alexander Fleming menggunakan cetakan dalam piring Petri daripada membuangnya. Ironisnya, ilmuwan harus subjektif dalam menciptakan metode-metode yang akhirnya akan menghasilkan pengamatan objektid dan membuat rancangan penelitian menjadi sebuah proses penciptaan. Sebaliknya, terkadang humanis harus ilmiah, mencari fakta-fakta yang memungkinkan adanya pemahaman terhadap pengalaman. Seperti yang akan kita lihat pada bagian selanjutnya, poin ketika ilmu pengetahuan menjadi maju dan titik awal kemanusiaan tidak selalu jelas.
14 Ilmu Pengetahuan Ilmiah-Sosial. Sepertiga dari ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan sosial. Walaupun banyak ilmuwan sosial yang melihat penelitian ini sebagai sebuah perluasan ilmu pengetahuan alam dalam penggunaan metode-metode yang dipinjam dari ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan sosial sebenarnya sebuah penelitian yang sangat berbeda. Secara bertentangan, hal ini memasukkan elemen-elemen ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, tetapi berbeda dari keduanya.
Dalam mengamati dan mengartikan pola-pola prilaku manusia, para akademisi ilmu pengetahuan sosial menjadikan manusia sebagai objek penelitian.
Sebenarnya, jika pola perilaku manusia benar-benar ada, maka pengamatan harus seobjektif mungkin. Dengan kata lain, ilmuwan sosial seperti ilmuwan alam harus menentukan persetujuan dengan dasar apa yang diamati. Ketika fenomena behavioral diamati dengan seksama, mereka harus dijelaskan atau diinterpretasikan. Kegiatan menginterpretasikan itu cukup rumit karena fakta bahwa objek pengamatan merupakan objek yang aktif dan seperti diketahui, tidak seperti objek-objek lain di dunia. Pertanyaannyam bisakah penjelasan ―ilmiah‖
tentang prilaku manusia menjadi tanpa perimbangan tentang pengetahuan
―humasnis‖ dari orang yang diamati? Pertanyaan ini merupakan masalah filosofi yang penting dari ilmu pengetahuan dan telah memicu perhatian yang besar serta dalam debat-debat antardisiplin ilmu. Di masa lalu, para ilmuwan sosial percaya bahwa metode-metode ilmiah sendiri akan cukup untuk mengungkap misteri- misteri pengalaman manusia, tetapi saai ini banyak yang menyadari bahwa diperlukan juga sebuah elemen humanis yang kuat.
Komunikasi melibatkan pemahaman tentang bagaimana orang-orang bersikap dalam menciptakank, menukar dan mengartikan pesan-pesan. Oleh karena itu, penelitian komunikasi menggunakan cakupan-cakupan metode ilmiah hingga humanis. Teori-teori yang tercakup dalam buku ini sangar berada menurut tingkatan penggunaan elemen-elemen ilmiah, ilmu pengetahuan sosial dan humanis. (Stephen Littlejohn, 2011:3-13)
15
BAB II
HAKIKAT DEFINISI DAN KONTEKS KOMUNIKASI
Apakah yang Anda pkirkan bila mendengar kata komunikasi? Jawaban atas pertanyaan ini amat beraneka ragam, mulai dari berdoa (yang merupakan komunikasi dengan Tuhan), bersenda gurau, berpidato, hingga menggunakan alat- alat elektronik yang canggih. Komunikasi adalah topik yang amat sering diperbincangkan, bukan hanya dikalangan ilmuwan komunikasi, melainkanjuga dikalangan awam, sehingga kata komunikasi itu sendiri memiliki terlalu banyak arti yang berlainan. Dalam wacana publik, kita sering mendengar kalimat atau frase yang mengandung kata komunikasi atau turunannya, seperti ―Hewan pun berkomunikasi dengan cara mereka masing-masing,‖ ―Kita harus mengkomunikasikan masalah ini kepada mahasiswa pada saat kuliah nanti,‖
―Komputer adalah sarana komunikasi tercanggih‖ ―Kami belum menerima komunikasi dari perusahaan itu,‖ ―Orangnya tidak komunikatif,‖ dan sebagainya.
Pendeknya, istilah komunikasi sedemikian lazim di kalangan kita semua, meskipun masing-masing orang mengartikan istilah itu secara berlainan. Oleh karena itu, kesepakatan dalam mendefinisikan istilah komunikasi merupakan langkah awal untuk memperbaiki pemahaman atas fenomena yang rumit ini.
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti ―sama,‖ communico, communicatio, atau communicare yang berarti ―membuat sama‖ (to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi kontemporer menyaraankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagai hal tersebut, seperti dalam kalimat ―Kita berbagi pikiran,‖ ―Kita mendiskusikan makna,‖ dan ―Kita mengirimkan pesan.‖
16 Kata lain yang mirip komunikasi adalah komunitas (community) yang juga menekankan kesamaan atau kebersamaan. Komunitas adalah sekelompok orang yang berkumpul atau hidup bersama untuk mencapai tujuan tertentu , dan mereka berbagi makna dan sikap. Tanpa komunikasi tidak akan ada komunitas.
Komunitas bergantung pada pengalaman dan emosi bersama, dan komunikasi berperan dan menjelaskan kebersamaan itu. Oleh karena itu, komunitas juga berbagi bentuk-bentuk komunikasi yang berkaitan dengan seni, agama dan bahasa, dan masing-masing bentuk tersebut mengandung dan menyampaikan gagasan, sikap, perspektif, pandangan yang mengakar kuat dalam sejarah komunitas tersebut.
Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun yang salah. Seperti juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya
―Komuikasi adalah penyampaian pesan melalui media elektronik,‖ atau terlalu luas, misalnya ―Komunikasi adalah interaksi antara dua makluk hidup atau lebih,‖
sehingga para peserta komunikasi ini mungkin termasuk hewan, tanaman, dan bahkan jin.
Komunikai didefinisikan secara luas sebagai ―berbagai pengalaman.‖
Sampai batas tertentu, setiap makluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagi pengalaman. Namundalam buku ini yang dimaksud komunikasi adalah komunikasi manusia yang dalam bahasa inggrisnya adalah human communication. Sebelum kita membahas komunikasi manusia lebih jauh, terlebih dahulu kita akan membahas ―komunikasi‖ hewan, dan selintas membandingkannya dengan komunikasi manusia.
Sebagian manusia biasa yang bukan Nabi konon dapat berkomunikasi dengan jin. Buku Dialog dan Jin Muslim karangan Muhammad Isa Dawud merupakan contoh terbaik mengenai kemampuan dan intensitas komunikasi manusia dengan makluk halus ini, meskipun kebenaran buku ini diragukan sebagian orang. Inilah antara lain petikan dialog antara penulis buku tersebut
17 dengan Jin Muslim sahabatnya yang tidak dia lihat dalam sosoknya yang sejati melainkan menyusup ke dalam diri sesosok manusia.
+ ―Apakah kalian punya kelamin?‖
-―Persis seperti manusia. Hanya saja terbilang kecil bila dibandingkan dengan yang ada pada kalian, dan dalam bandingannya dengan tubuh kami. Kaum laki- laki kami seperti kaum laki-laki kalian. Mereka punya dorongan birahi dan kemampuan untuk bersenggama, dan mengeluarkan sperma. Wanitanya pun seperti kaum wanita kalian. Mereka punya selaput dara yang pecah ketika terjadi hubungan seksual. Suatu bentuk kehidupan yang, wahai saudaraku, betul-betul kehidupan biasa. ―Wallahu a’lam.‖ (Deddy Mulyana, 2010:45-46)
1. KERAGAMAN DAN KONTROVERSI DEFINISI KOMUNIKASI Pernahkah Anda terlibat dalam percakapan ala mahasiswa berikut ini?
+ ―Wah, aku menyaksikan komunikasi yang efektif hari ini! Kemaren Pak Deddy mengenakan dasi ketika memberi kuliah. Hari ini ketiga asistenya juga mengenakan dasi. Itulah yang namanya persuasi.‖
-―Mungkin persuasi, mungkin juga bukan. Yang pasti itu bukan komunikasi.‖
+ ―Apa maksudmu, bukan komunikasi? Dasi yang dikenakan Pak Deddy itu mengkomunikasikan sesuatu kepada para asistennya dan menimbulkan perubahan yang jelas pada cara mereka berpakaian hari ini.‖
-―Aku ragu apakah Pak Deddy sengaja membujuk asisten-asistennya untuk mengenakan dasi. Kamu tidak mendengar Pak Deddy meminta mereka mengenakan dasi, kan?‖
+ ―Tidak, sih. Tetapi aku rasa hal ini tidak relevan. Orang dapat ‗berkomunikasi‘
tanpa sengaja, dan mereka pun tidak perlu menggunakan kata-kata.‖
18 _‖Konsep kamu ngawur tentang komunikasi. Aku membaca buku Miller dan Steinberg tempo hari. Mereka bilang ‗komunikasi adalah suatu proses sengaja, transaksional, simbolik.‖‘
+ ―Mereka keliru! Waltzlawick, Beavin, dan Jackson, yang lebih memahami komunikasi daripada Miller dan Steinberg, mengatakan ‗You cannot not communicate,‘ yang artinya ‗Anda tidak dapat tidak berkomunikasi.‘‖
-―Omong kosong! Masak, sih...‖
Lewat komunikasi orang berusaha mendefinisikan sesuatu, termasuk istilah komunikasi itu sendiri. Apakah komunikasi itu suatu tindakan sesaat, suatu peristiwa, atau suatu proses yang terus berkesinambungan? Tidak ada suatu definisi pun yang dapat menggambarkan fonomena ini secara utuh? Apakah komunikaasi berlangsung hanya bila kita menyengajanya? Dapatkah komunikasi berlangsung tanpa disengaja? Lalu, apakah kesengajaan itu? Hingga kini, terdapat ratusan defenisi komunikasi yang telah dikemukakan para ahli. Sering kali suatu defenisi lainnya. Tahun 1976 saja Frank Dance dan Carl Larson telah mengumpulkan 126 defenisi komunikasi yang berlainan. Sekarang jumlah defenisi yang telah dikemukakan para ahli tentu jauh lebih banyak lagi. Akan tetapi, bukan tempatnya di sini untuk mendiskusikan defenisi itu satu persatu dan secara rinci.
Dance menemukan tiga dimensi konseptual penting yang mendasari definisi-defenisi komunikasi. Dimensi pertama adalah tingkat observasi (level of observation), atau derajat keabstrakannya. Misalnya, defenisi komunikasi sebagai
―proses yang menghubungkan satu sama lain bagian-bagian terpisah dunia kehidupan‖ adalah terlalu umum, sementara komunikasi sebagai ―alat untuk mengirim pesan militer, perintah, dan sebagainya lewat telepon, telegraf, radio, kurir, dan sebagainya‖ terlalu sempit.
Dimensi kedua adalah kesengajaan (intentionality). Sebagian defenisi mencakup hanya pengiriman dan penerimaan pesan yang disengaja, sedangkan
19 sebagian defenisi lainnya tidak menuntut syarat ini. Contoh defenisi yang mensyaratkan kesengajaan ini dikemukakan Gerald R. Miller, yakni komunikasi sebagai ―situasi-situasi yang memungkinkan suatu sumber mentransmisikan suatu pesan kepada seseorang penerima dengan disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima. ―Sedangkan defenisi komunikasi yang mengabaikan kesengajaan adalah definisi yang dinyatakan Alex Gode, yakni ―suatu proses yang membuat sama bagi dua orang atau lebih apa yang tadinya merupakan monopoli seseorang atau sejumlah orang.‖
Dimensi ketiga adalah penilaian normatif. Sebagian definisi, meskipun secara implisit, menyertakan keberhasilan atau kecermatan; sebagian lainnya tidak seperti itu. Defenisi komunikasi dari John B. Hoben, misalnya mengasumsikan bahwa komunikasi itu (harus) berhasil: ―Komunikasi adalah pertukaran verbal pikiran atau gagasan.‖ Asumsi dibalik definsi tersebut adalah bahwa suatu pikiran atau gagasan secara berhasil dipertukarkan. Sebagian definsi lainnya tidak otomatis mensyaratkan keberhasilan ini, seperti defenisi komunikasi dari Bernard Berelson dan Gary Steiner: ―Komunikasi adalah transmisi informasi. ―Jadi defenisi tersebut tidak mensyaratkan bahwa informasi harus diterima atau dimengerti.
Seperti dikemukakan Littlejohn, perdebatan mengenai definisi komunikasi pada awal tahun 1990-an diantara beberapa teoretikus komunikasi, telah menyarankan beberapa kemungkinan untuk mendefenisikan komunikasi.
Perdebatan tersebut menyoroti sembilan jenis perilaku yang dapat dianggap komunikasi. Kesembilan jenis perilaku ini ditentukan oleh sumber dan persepsi penerima. Pertanyaan-pertanyaan kuncinya adalah : Pertama, apakah komunikasi harus disengaja? Kedua, apakah komunikasi harus diterima? Kolom-kolom dalam Figur 2.1 terdiri dari perilaku sumber yang disengaja dan perilaku sumber yang tidak disengaja, sedangkan lajur-lajurnya berkaitan dengan apakah perilaku sumber diterima atau tidak.
20 PERILAKU
PENERIMA
PERILAKU SUMBER Perilaku tidak
disengaja Perilaku disengaja
Simtom Nonverbal Verbal
Tidak diterima
1A Perilaku
simtomatik tidak dipersepsi
2A Pesan
nonverbal tidak dioerseosi
3A Pesan verbal
tidak dipersepsi
Diterima secara insidental
1B Simtom
dipersepsi secara insidental
2B Pesan Nonverbal insidental
3B Pesan Verbal insidental
Diperhatikan
1C Simtom diperhatikan
2C
Pesan nonverbal diperhatikan
3C
Pesan verbal diperhatikan Figur 2.1 Perilaku-perilaku yang berhubungan dengan komunikasi.
Sumber : Stephen W. Littlejohn. Theories of Human Communication, Edisi ke-5 Belmont: Wadsworth, 1996, hal.6.
Dalam Figur 2.1, kolom pertama terdiri dari perilaku-perilaku sumber yang tidak disengaja. Perilaku-perilaku ini simtomatik karena dapat ditafsirkan sebagai suatu keadaan sumber seperti kelelahan, kegugupan, atau kemarahan.
Kolom kedua terdiri dari perilaku-perilaku nonverbal yang secara sengaja dikirimkan kepada orang lain, seperti melambaikan tangan kepada seseorang kawan atau mengangkat bahu bila Anda tidak mengetahui jawaban atas suatu pertanyaan. Kolom ketiga meliputi tindakan verbal, atau berorientasi-bahasa, seperti menulis surat, bercakap-cakap, atau menyampaikan pidato.
Ketiga lajur dalam Figur 2.1 merepresentasikan tiga keadaan penerima yang berbeda. Lajur Pertama ―tidak diterima,‖ artinya tidak seorang pun memperhatikan tindakan sumber atau mendengar perkataan Anda. Lajur kedua
21 adalah ―penerimaan insidental,‖ yang menyarankan bahwa seseorang menangkap suatu pesan, namun tidak disadarinya. Anda boleh jadi berkata,‖ Saya lelah,‖
kepada seorang kawan, dan kawan Anda kemudian menyadari bahwa Anda tampak lelah, meskipun ia tidak memperhatikan hal itu tadil Lajur ketiga adalah perhatian penuh atau sadar kepada perilaku sumber.
Jadi, meminjam pandangan Little John, sekarang kita mempunyai sembilan jenis perilaku yang mungkin dianggap komunikasi.
1A. Perilaku simtomatik yang tidak dipersepsi-Anda menguap, namun tak seorang pun melihat hal itu. (Kebanyakan orang setuju itu bukan komunikasi antarpribadi, namun sebagian orang menyebutnya komunikasi intrapribadi).
1B. Simtom yang dipersepsi secara insidental-Anda menguap, namun kawan anda menyadari kemudian bahwa Anda lelah meskipun ia tidak memperhatikan tadi.
1C. Simtom yang diperhatikan-Anda menguap, dan kawan Anda berkata,
―Apakah saya begitu membosankan?‖
2A. Pesan nonverbal yang tidak diterima-Anda melambaikan tangan, namun ia tidak melihat anda.
2B. Pesan nonverbal insidental-Kawan Anda kemudian berkata, ―Maafkan saya tidak membalas lambaian tangan Anda, tetapi saya sedang memikirkan hal lain dan tidak menyadari bahwa Anda melambaikan tangan sampai saya berbelok.‖
2C. Pesan nonverbal yang diperhatikan-Anda melambaikan tangan kepada seorang kawan, dan ia membalas lambaian tangan Anda.
3A. Pesan verbal yang tidak diterima-Anda mengirimkan sepucuk surat kepada seorang kawan, namun surat itu hilang dalam perjalanan.
3B. Pesan verbal insidental-Anda mengoceh kepada putri Anda karena kamarnya berantakan, dan meskipun ia tahu Anda sedang berbicara kepadanya, ia tidak begitu memperhatikan Anda.
22 3C. Pesan verbal yang diperhatikan-Anda menyampaikan pidato kepada sekelompok orang yang sedang mendengarkan apa yang Anda katakan.
Manakah dari perilaku-perilaku di atas yang termasuk komunikasi, dan mana yang bukan? Littlejohn menyebutkan, setidaknya terdapat 3 pandangan yang dapat dipertahankan. Pertama, komunikasi harus terbatas pada pesan yang secara sengaja diarahkan kepada orang lain dan diterima oleh mereka. Kedua, komunikasi harus mencakup semua perilaku yang bermakna bagi penerima, apakah disengaja ataupun tidak. Ketiga, komunikasi harus mencakup pesan-pesan yang dikirimkan secara sengaja, namun sengaja ini sulit ditentukan.
Buku yang anda baca ini menganut kedua dan ketiga sekaligus. Semua pakar komunikasi sepakat bahwa komunikasi mencakup perilaku sengaja yang diterima, namun mereka tidak sepakat perilaku lainnya yang dianggap sebagai komunikasi. Dalam kenyataan, sebenarnya kesembilan perilaku yang dirinci Littlejohn dalam daftar tersebut sulit dipisahkan. Yang pasti pandangan seseorang mengenai perilaku apa yang dapat disebut komunikasi atau bukan mempunyai implikasi serius terhadap jenis-jenis pertanyaan yang dikemukakan untuk meneliti fenomena komunikasi, juga untuk memilih metode dan teknik penelitian yang akan digunakan untuk meneliti fenomena komunikasi tersebut.
Banyak definisi komunikasi bersifat khas, mencerminkan paradigma atau perspektif yang digunakan ahli-ahli komunikasi tersebut dalam mendekati fenomena komunikasi. Paradigma ilmiah (objektif, mekanistik, positivistik) yang penelaahannya berorientasi pada efek komunikasi tampak dominan, mengasumsikan komunikasi sebagai suatu proses linier atau proses sebab akibat, yang mencerminkan pengirim pesan atau yang biasa disrbut komuikator/sumber/pengirim/enkoder (yang aktif) untuk mengubah pengetahuan, sikap atau perilaku komunikate/penerima pesan/sasaran/khalayak/dekoder (atau yang dalam wacana komunikasi di Indonesia sering disebut komunikan) yang pasif.
23 Kontras dengan definisi-definisi dan model-model komunikasi bersifat linier atau mekanistik, dalam pendekatan terhadap komunikasi yang transaksional atau lebih humanistik, definisi-definisi dan model-model komunikasinya pun berbeda. Bila dalam pendekatan saintifik orang-orang yang terlibat dalam komunikasi dikategorikan sebagai pengirim pesan(sumber,komunikator) dan penerima pesan(saran, Komunikate), dalam pendekatan yang lebih humanistik, mereka disebut peserta-peserta komunikasi(commucation participants) atau keduanya disebut komunikator(communicator) atau istilah-istilah lain yang setara, misalnya dalam karya Donald Byker dan Loren J. Anderson, Saundra Hybels dan Richard L. Weaver II, Cassandra L. Book, Willian Gudykunst, dan Young Yun Kim, dan Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. Beberapa ahli menggunakan istilah komunikasi(communicant) untuk menurujuk pada pihak-pihak yang berkomunikasi atau peserta komunikasi, jadi identik dengan komunikator, bukan sebagai penerima pesan. Dalam Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary, salah satu arti communicant adalah one that communicates (seseorang yang berkomunikasi).
Tubbs dan Moss mendefinisikan komunikasi sebagai ―proses penciptaan makna antara dua orang (komunikator 1 dan komunikator 2) atau lebih,‖
sedangkan Guddykunst dan Kim mendefinisikan komunikasi (antar budaya) sebagai ―proses transaksional, simbolik yang melibatkan pemberian makna antara orang-orang (dari budaya yang berbeda).‖ Dalam mempelajari komunikasi antar budaya khususnya, kita lebih baik mendekatinya secara lebih humanistik, tanpa harus mempertentangkannya dengan pendekatan mekanistik. Dengan kata lain, kita harus menganggap orang-orang berbeda budaya yang terlibat dalam komunikasi dengan kita sebagai orang-orang yang aktif, punya jiwa, nilai, perasaan, harapan, minat, kebutuhan, dan lain-lain, seperti juga diri kita. Seperti diisyaratkan oleh istilah komunikasi antar budaya (antara budaya-budaya yang berbeda), kita harus menerapkan asas berbedaan dibandingkan asas persamaan.
Dalam berkomunikasi dengan orang-orang berbeda budaya, kita harus selalu melakukan penundaan penilaian atau keputusan. Apa yang kita anggap baik,
24 sopan, indah, atau etis dalam budaya kita, belum tentu berarti demikian dalam budaya lain. Jadi bukan tanpa alasan bila Gudykunst dan Kim menggunakan istilah Orang A (Person A) dan Orang B (Person B) dalam model komunikasi antar budaya, mencerminkan dua posisi yang setara dan sama-sama aktif (komunikasi sebagai transaksi), ketimbang dua posisi yang berbeda: satu aktif dan lainnya pasif. Meskipun komunikasi menyangkut perilaku manusiia, tidak semua perilaku manusia itu komunikasi. Menurut Pace dan Faules, perbedaaan tersebut sederhana, namun rumit. Sebagai contoh, apakah bernyanyi sendiri di kamar mandi merupakan komunikasi? Apakah memancing ikan di kolam, memasukan sepucuk surat ke kotak surat, mengetik makalah seminar di layar komputer, atau menulis memo merupakan bentuk komunikasi? Jawaban atas pertanyaan- pertanyaan tersebut bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan komunikasi.
Suatu definisi yang cermat, misalnya, dikemukakan oleh Pace dan Faules, yang selaras dengan definisi Tubbs dan Moss tadi. Menurut mereka, terdapat dua bentuk umum tindakan yang dilakukan orang yang terlibat dalam komunikasi, yaitu penciptaan pesan dan penafsiran pesan. Pesan di sini tidak harus berupa kata-kata, namun bisa juga merupakan pertunjukan (display), termaksud pakaian, perhiasan, dan hiasan wajah (make up atau jenggot), atau yang lazimnya disebut pesan nonverbal.
Menggunakan definisi Tubbs dan Moss, atau definisi Pace dan Faules, jelas bahwa tindakan-tindakan di atas bukanlah komunikasi. Komunikasi terjadi bila ada orang lain yang mendengarkan orang yang bernyanyi di kamar mandi.
Secara tidak sengaja, wanita yang menyanyikan lagu--lagu gembira misalnya—di kamar mandi tersebut menyampaikan pesan bahwa ia sedang gembira. Mengetik makalah saja bukanlah komunikasi. Komunikasi terjadi bila terdapat orang lain yang membaca makalah tersebut, baik ketika masih ada di layar, ataupun setelah dicetak dan dibagikan kepada orang lain. Jadi inti dari komunikasi adalah penafsiran (interpretasi) atas pesan tersebut, baik disengaja ataupun tidak disengaja.
25 Ada sebuah teka-teki lama yang berbunyi, ―Nila sebuah pohon tumbang di hutan yang terpencil, apakah suaranya terdengar?‖
Dengan kata lain, bila tidak ada seorang pun di sekitar tempat itu yang mendengar peristiwa tersebut, bolehkah kita berasumsi bahwa suara pohon yang tumbang tersebut tidak ada sama sekali?‖ Tidak akan ada komunikasi, baik verbal ataupun nonverbal, bila tidak ada orang yang menerima sinyal komunikasi.
Anda mungkin berkilah, bernyanyi di kamar mandi atau mengetik makalah itu adalah komunikasi, yakni komunikasi dengan diri sendiri. Anda benar! Akan tetapi, ingat bahwa komunikasi yang dibahas oleh para pakar adalah komunikasi manusia, yang melibatkan setidaknya dua orang, seperti yagn diperlihatkan definisi-definisi atau model-model komunikasi yang dikemukakan para pakar, meskipun kedua orang pakar itu tidak bertatap-muka atau bahkan tidak sezaman.
Dengan demikian ketika anda sedang membaca buku berjudul Sarinah atau Di Bawah Bendera Revolusi yang ditulis oleh Soekarno misalnya, komunikasi telah terjadi Soekarno adalah pengirim pesannya, sedangkan Anda adalah penerima dan penafsir pesan Soekarno tersebut. Jadi komunikatornya tidak perluhadir, atau bahkan masih hidup. Para pengarang dan artis yang sudah mati juga berkomunikasi, lewat karya-karya mereka yagng mereka tinggalkan untuk orang- orang yang masih hidup.
Komunikasi dengan diri-sendiri (biasanya disebut komunikasi intrapribadi) memang dikenal juga, tetapi hal itu tidak dibahas luas dalam ilmu komunikasi, dan lebih dikenal dalam disiplin psikologi dengan istilah konsep-diri.
Komunikasi intrapribadi ini sering juga diklasifikasikan sebagai salah satu tingkat komunikasi dari beberapa tingkat komunikasi yang dikemukakan para ahli, seperti yang akan kita bahas nanti. Dalam praktiknya komunikasi intrapribadi takkan pernah terjadi bila manusia tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain.
Konsep-diri seseorang khususnya hanya akan tumbuh lewat komunikasi dengan orang lain, seperti telah kita bahas dalam bab pertama buku ini.
26 2. TIGA KONSEPTUALISASI KOMUNIKASI
Sebagaimana dikemukakan John R. Wenburg dan William W. Wilmot juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken, setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu-arah, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi.
A. Komunikasi Sebagai Tindakan Satu-Arah
Suatu pemahaman populer mengenai komunikasi manusia adalah komunikasi yang mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari seseorang (atau suatu lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Misalnya, seseorang itu mempunyai informasi mengenai suatu masalah, lalu ia menyampaikan kepada orang lain, orang lain mendengarkan, dan mungkin berperilaku sebagai hasil mendengarkan pesan tersebut, lalu komunikasi dianggap telah terjadi. Jadi, komunikasi dianggap suatu proses linier yang dimulai dengan sumber atau pengirim dan berakhir pada penerima, sasaran atau tujuannya.
Pemahaman komunikasi sebagai proses searah sebenarnya kurang sesuai bila diterapkan pada komunikasi tatap-muka, namun mungkin tidak terlalu keliru bila diterapkan pada komunikasi publik (pidato) yang tidak melibatkan tanya- jawab dan komunikasi massa (cetak dan elektronik). Akan tetapi, komunikasi massa melalui radio dan televisi pun sekarang ini juga cenderung dua-arah (interaktif). Suatu acara di radio, ataupun televisi, sering mengadakan acara yang melibatkan jawab secara langsung dengan pendengar atau pemirsa.
Pemahaman komunikasi sebagai proses searah ini oleh Michael Burgoon disebut ―desinisi berorientasi-sumber‖ (source-oriented dedinition). Definisi ini menginyaratkan komunikasi sebagai semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respons orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap tindakan yang
27 sengaja (intentional act) untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu kepada orang lain atau membujuknya untuk melakukan sesuatu. Definisi-definisi komunikasi demikian mengabaikan komuniksi yang tidakdisengaja, seperti pesan tidak direncanakan yang terkandung dalam nada suara atau ekspresi wajah, atau isyarat lain yang spontan. Definisi- definisi berorientasi-sumber ini juga mengabaikan sifat pprosessual interaksi- memberi dan menerima-yang menimbulkan pengaruh timbal balik antara pembicara dan pendengar. Pendek kata, konseptualisasikomunikasi sebagi tindakan satu-arah menyoroti penyampaian pesan yang efektif dan mengisyaratkan bahwa semua kegiatan komunikasi bersifat instrumental dan persuasif. Beberapa definisi yang sesuai dengan konsep ini adalah sebagai berikut.
Bernald Berelson dan Gary A. Steiner
―Komunikasi: transmisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol−kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebaginya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.‖
Theodore M. Newcomb:
―Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi, terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima.‖
Carl I. Hovland:
―Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate).‖
Gerald R. Miller:
28
―Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima denagn niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima.‖
Everett M. Rogers:
―Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.‖
Raymond S. Ross:
―komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyetir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.‖
Mary B. Cassara dan Malefi K. Asante:
―(Komunikasi adalah) transmisi informasi dengan tujuan mempengaruhi khalayak.‖
Harold Lasswell:
―(Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?‖ Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?
Berdasarkan definisi Lasswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu: Pertama, sumber (source), sering disebut juga oengirim (sender), penyandi (encoder), komunikator (communicator), pembicara (speaker) atau originator. Sumber adalah pihak yang
29 berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan suatu negara.
Kebutuhannya bervariasi, mulai dari sekedar mengucapkan ‖selamat pagi‖ untuk memelihara hubungan yang sudah dibangun, menyampaikan informasi, mneghibur, hingga kebutuhan untuk mengubah ideologi, keyakinan agama dan perilaku pihak lain. Untuk menyampaikan apa yang ada dalam hatinya (perasaan) atau dalam kepalanya (pikiran), sumber harus mengubah perasaan atau pikiran tersebut idealnya dipahami oleh penerima pesan. Proses inilah yang disebut penyandian(encoding). Pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola piokir, dan operasaan sumber mempengaruhi sumber dalam merumuskan pesan. Setiap orang dapat saja merasa bahwa ia mencintai seseorang, namun komunikasi tidak terjadi hingga orang yang Anda cintai itu menafsirkan rasa cinta Anda berdasarkan perilaku verbal dan atau nonverbal Anda.
Kedua, pesan, yaitu apa yang dikomunikasikan ileh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi. Pesan mempunyai tiga komponen: makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisasi pesan. Simbol terpenting adalah kata-kata (bahasa), yang dapat merepresentasikan objek (benda), gagasan, dan perasaan, baik ucapan (percakapan, wawancara, diskusi, ceramah) ataupun tulisan (surat, esai, artikel, novel, puisi, famflet). Kata-kata memungkinkan kita berbagi pikiran dengan orang lain. Pesan juga dapat dirumuskan secara nonverbal, seperti melalui tindakan atu isyarat anggota tubuh (acungan jempol, anggukan kepala, senyuman, tatapan mata, dan sebagainya), juga melalui musik, lukisan, patung, tarian, dan sebagainya.
Ketiga, saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.saluiran boleh jadi merujuk pada bentuk pesan yang disampaikan kepada penerima, apakah saluran verbal atau saluran nonverbal. Pada dasarnya komunikasi manusia menggunakan dua saluran, yakni cahaya dan suara, meskipun kita juga menggunakan kelima