BAB IV GAGASAN TEORI
D. Prinsip
3. TEORI PRAKTIS
102 menguranginya hingga menjadi sebuah susunan kategori yang akurat. Ahli-ahli teori tidak boleh menambahkan konsep-konsep yang baru dan tidak perlu.
Selanjutnya, ahli-ahli teori harus menggunakan penjelasan kausal dan mencoba menangkap hubungan kausal yang sah antar variabel di dunia nyata,. Akhirnya, ahli-ahli teori harus memasukkan arti dari rehabilitas dan percaya bahwa pembaca akan cukup memahami istilah-istilahnya agar terjadi komunikasi yang akurat.
Seperti yang akan kita lihat pada bagian berikut, para akademisi dalam tradisi yang lain sering kali menolak pendekatan ini daripada yang lain, yang mereka percaya akan menghasilkan jenis-jenis penyusun teori yang lebih bernilai.
Bagi peneliti dan teori, pendekatan ini tertanam dengan kuat dalam tradisi ilmiah dari ―pengetahuan sebagai penemuan,‖ tetapi para akademisi dari tradisi lain sering menolak metode ini dan lebih memilih bentuk penyusunan teori yang lainnya.
103 sembarang dan hubungan dinyatakan dengan sah dalam cara yang berbeda:
tindakan diambil dengan sengaja untuk menghasilkan kesenangan.
Robyn Penman telah menggarisbawahi lima prinsip pendekatan tindakan praktis yang menyatakan betapa berbedanya penyusunan teori tersebut dari ilmu pengetahuan tradisional. Pertama, tindakan bersifat sukarela. Manusia sebagaian besar memotivasi dirinya sendiri dan memperkirakan perilaku berdasarkan pada faktor-faktor eksternal adalah suatu yang tidak mungkin. Jiak hal ini benar, maka akan sulit, dalam kaitannya dengan penelitian Anda, untuk memperkirakan bagaimana orang akan berperilaku berdasarkan kesenangan. Sebagi contoh, beberapa orang lebih suka menonton film daripada belajar, tetapi mereka tetap akan belajar karena bermanfaat akan akibat jangka panjangnya. Oleh karena itu, Anda tidak pernah dapat memisahkan sebuah motivator universal tunggal yang akan berguna bagi semua individu.
Kedua, menurut Penman dan tradisi tindakan praktis, pengetahuan dihasilkan secara sosial. Hal ini berarti bahwa teori-teori komunikasi itu sendiri diciptakan oleh proses komunikasi atau interaksi—proses yang mereka susun sendiri untuk mereka jelaskan. Tidak ada hubungan satu per satu antara gagasan-gagasan dalam sebuah teori dan kenyataan objektif. Jadi, hipotesis hakikat-penghargaan Anda merupakan sebuah hasil ciptaan ahli teori; hal ini merupakan salah satu dari banyak cara untuk memahami perilaku, bukan sebuah cermin dari alasan ―nyata‖ atau ―benar‖ orang-orang melakukan sesuatu.
Ketiga, semua teori berhubungan dengan sejarah. Mereka mencerminkan keadaan serta waktu ketika mereka diciptakan dan ketika waktu berubah, demikian juga dengan teori-teori. Stanley Deetz menulis:
Semua teori yang ada saat ini akan berlalu seiring waktu. Ini bukanlah seolah-olah mereka mengalami kesalahan, setidaknya ada beberapa yang demikian daripada yang ada pada masa lalu. Mereka sangat berguna dalam menangani berbagai masalah manusia, masalah-masalah yang mungkin kita temukan dalam bentuk yang buruk dan bahkan bodoh, seperti orang lain juga. Apa yang tersisa adalah percobaan manusia untuk menghasilkan teori-teori yang berguna dalam
104 menanggapi masalah kita sendiri. Kita berjuang untuk menemukan cara-cara berfikir yang menarik dan berguna serta membicarakan keadaan kita sekarang dan menolong kita memangun masa depan yang kita inginkan.
Jadi, ketika sebuah hipotesis hakikat-penghargaan mungkin terlihat logis bagi Anda saat ini, pada masa atau dalam kebudayaan yang lain, gagasan tersebut bahkan tidak akan terlihat sebagai sebuah penjelasan yang masuk akal dari sebuah perilaku.
Elemen keempat yang diidentifikasi sebagai bagian paradigma teoritis tindakan-praktis adalah bahwa teori-teori memengaruhi kenyataan yang mereka tutupi. Ahli-ahli teori tidak terpisah dari dunia-dunia yang mereka ciptakan, tetapi merupakan bagian dari dunia-dunia tersebut. Jika hipotesis hakikat-penghargaan Anda dipercaya, maka orang-orang akan mulai memperlakukan orang lain karena digerakan oleh kesenangan. Mereka akan menawarkan kesenangan ketika mereka menginginkan sesuatu untuk dilakukan dan menahannya ketika mereka tidak mau melakukannya, nanti, orang-orang akan bekerja dalam sebuah lingkungan yang diciptakan oleh gagasan-gagasan ahli teori, dan akan ada ramalan tentang pemenuhan-diri.
Akhirnya, teori-teori dibebani dengan nilai, tidak pernah netral dari titik teoritis yang menguntungkan ini. Menurut pendirian ini, hipotesis Anda penuh dengan nilai-nilai yang harus dinyatakan dalam penelitian Anda. Anda memilih untuk melihat pada kesenangan karena perhatian Anda ditarik kepada faktor ini lebih dari yang lain—mungkin karena beberapa pengalaman yang Anda miliki dengan kesenangan. Anda memilih untuk melihat pada perilaku individual karena Anda menghargai nilai manusia daripada satuan analisis lainnya seperti kelompok atau kebudayaan. Prioritas ini tidak sepenuhnya buruk, tetapi mereka menunjukkan seberapa banyak penelitian Anda bergantung pada nilai-nilai. Para peneliti dalam paradigma praktis mengingingkan agar nilai-nilai yang menjadi dasar diakui.
105
A. Asumsi Filosofis
Dalam epistemologi, teori-teori praktis cenderung menganggap bahwa manusia mengambil sebuah peran aktif dalam menciptakan pengetahuan. Sebuah dunia yang berisi banyak hal bisa ada di luar orang tersebut, tetapi para pengamat dapat mengonseptualisasikan hal ini dalam beragam cara yang berguna. Oleh karena itu, pengetahuan muncul bukan dari penemuan, tetapi dari interaksi antara siapa dan pengetahuannya. Untuk alasan ini, proses-proses perseptual dan interpretif individu penting dalam metode peneliti. Selanjutnya, teori-teori ini tidak mencoba untuk mencari hukum pelindung atau universal, tetapi bertujuan untuk menggambarkan kekayaan konteks saat individu bekerja.
Dalam ontologi, teori-teori praktis cenderung beranggapan bahwa individu-individu merupakan agen-agen yang diarahkan oleh tujuan yang menciptakan pengertian, memiliki maksud, membuat pilihan-pilihan yangnyata, dan bertindak dalam berbagai situasi dengan cara-cara yang disengaja. Ahli-ahli teori ini enggan mencari hukum universal karena mereka beranggapan bahwa perilaku individu tidak sepenuhnya diatur oleh kejadian-kejadian sebelumnya.
Malahan, mereka beranggapan bahwa orang-orang berperilaku berbeda dalam situasi yang berbeda karena perubahan aturan dan tujuan.
Secara aksiologi, sebagian besar teori-teori praktis cenderung sadar akan nilai, walaupun disinilah titik pembagi diantara mereka. Banyak dari teori ini yang cenderung deskriptif, yaitu menunjukkan bagaimana orang-orang mengartikan dan bertindak berdasarkan pengalaman mereka dalam berbagai situasi sosial dan kultural, sedangkan yang lainnya lebih evaluatif, yaitu membuat penilaian yang keras tentang pemahaman dan tindakan kultural yang umum. Umumnya, teori yang menentang atau mengkritik bentuk kehidupan normal disebut teori-teori kritikal.
106 B. Konsep
Konsep-konsep dalam sebagian besar pendekatan praktis terhadap teori, cenderung tidak disajikan secara universal. Malahan, teori-teori tersebut mengetahui bahwa orang-orang merespon dengan cara yang berbeda dalam situasi yang berbeda dan bahwa kata-kata serta tindakan yang digunakan untuk mengungkap pemahamannya akan berubah seiring jalannya waktu. Jadi, konsep-konsep yang penting tidak bisa diukur secara operasional. Oleh karena itu, konsep-konsep teoretis digunakan sebagai sebuah kerangka pengatur untuk mengelompokkan penafsiran-penafsiran dan tindakan dinamis manusia dalam situasi yang sebenarnya.