• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.3 Analisis Infrensial

4.1.3.2 Asumsi Klasik Substruktur II

Uji normalitas data dapat dilakukan secara grafik maupun statistik sehingga dapat diketahui secara pasti bagaimana distribusi data yang diperoleh.

Data yang tidak berdistribusi secara normal dalam persamaan regresi maka akan memberikan hasil yang bias. Metode grafik yang handal untuk menguji normalitas data adalah dengan melihat normal probability plot, histogram dan pengujian Kolmogrov-Smirnov. Dengan memakai program SPSS versi 21, maka hasil grafik

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Gambar 4.4. Grafik Normal Probability Substruktur II

Gambar 4.4 di atas memperlihatkan bahwa sebaran data berada di sekitar garis diagonal sehingga asumsi normalitas dapat dipenuhi. Selain berdasarkan grafik normal probability plot, normalitas data dapat dilakukan dengan melihat grafik histogram dari penyebaran/frekuensi data (Suliyanto, 2011). Bentuk histogram seperti bentuk lonceng (bell shaped curve) mengindikasikan bahwa data berdistribusi normal. Gambar histogram dapat dilihat pada Gambar 4.5.

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Gambar 4.5. Grafik Histogram Substruktur II

Uji normalitas data secara statistik dapat dilakukan secara dengan menggunakan Kolmogrov-Smirnov. Nilai residual terstandarisasi berdistibusi normal jika nilai signifikansi > alpha (Suliyanto, 2011).

Pada Tabel 4.13 dapat diketahui bahwa signifikan 0,979 > 0,05, sehingga nilai residual terstandarisasi berdistribusi normal. Dengan demikian secara keseluruhan melalui penggunaan metode grafik normal probability plot, histogram, dan pengujian Kolmogrov-Smirnov dapat dinyatakan bahwa asumsi normalitas untuk persamaan substruktur 2 dipenuhi dalam penelitian ini.

Tabel 4.13. Kolmogrov-Smirnov Substruktur II

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Standardized Residual

N 40

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation .93369956

Most Extreme Differences Absolute .075

Positive .075

Negative -.068

Kolmogorov-Smirnov Z .472

Asymp. Sig. (2-tailed) .979

a. Test distribution is Normal.

Sumber : Lampiran 5, 2015.

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikoliniearitas bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang sempurna atau sangat tinggi antar variabel independen dalam model regresi.

Konsekuensi dari adanya hubungan (korelasi) yang sempurna atau sangat tinggi antar variabel independen adalah koefisien regresi dan simpangan baku (standard deviation) variabel independen menjadi sensitif terhadap perubahan data serta tidak memungkinkan untuk mengisolir pengaruh individual variable independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005). Selanjutnya, nilai VIF (Variance

Inflation Factor) dan tolerance merupakan uji yang sering digunakan untuk melihat ada tidaknya multikolinearitas dalam model regresi. Nilai tolerance (1 – R2) menunjukkan variasi variabel independen dijelaskan oleh variable independen lainnya dalam model regresi dengan mengabaikan variable dependen. Sedangkan nilai VIF merupakan kebalikan dari nilai tolerance karena VIF = 1/tolerance. Jadi semakin tinggi korelasi antar variabel independen maka semakin rendah nilai tolerance (mendekati 0) dan semakin tinggi nilai VIF. Pedoman umum (rule of thumb) untuk batasan nilai VIF dan tolerance agar model regresi terbebas dari persoalan multikolinearitas adalah dibawah 10 untuk VIF dan diatas 10 % untuk tolerance (Ghozali, 2005). Angka 10 dan 10 % merupakan cut off yang telah ditetapkan untuk melihat nilai VIF dan tolerance. Hasil pengolahan data berkenaan nilai VIF dan tolerance dapat dilihat pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14. Multikolinieritas Substruktur II

Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF

1 (Constant) .763

Kompetensi Pedagogik .147 -.229

Kompetensi Kepribadian .209 .608

Kompetensi Sosial .128 -.340

Kompetensi Profesional .112 .190

Supervisi Kepala Sekolah .191 .008

a. Dependent Variable: Kinerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Tabel 4.14 menjelaskan bahwa model regresi dalam penelitian ini terbebas dari persoalan multikolinearitas karena nilai VIF berada dibawah 10 dan nilai tolerance diatas 0,1.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas bukan heteroskedastisitas (Ghozali, 2005). Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat digunakan metode grafik dan uji statistik dengan pengujian Glejser

Metode grafik dengan menghubungkan nilai variable dependen yang diprediksi dengan residualnya dimana sumbu X adalah nilai variabel dependen yang diprediksi dan sumbu Y adalah residualnya. Apabila titik dalam grafik membentuk pola menyebar lalu menyempit atau sebaliknya disekitar garis diagonal maka bisa dikatakan terjadi heteroskedastisitas. Jika titik-titik menyebar dengan tidak membentuk pola tertentu di bawah dan di atas angka 0 pada sumbu Y maka dikatakan terjadi homoskedastisitas (Ghozali, 2005). Berdasarkan hasil komputasi dengan menggunakan bantuan SPSS versi 21 maka hubungan antara nilai variabel yang diprediksi dengan residualnya pada Gambar 4.6.

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Pada Gambar 4.6, terlihat titik-titik terpencar dengan tidak membentuk pola di sekitar garis diagonal, di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y sehingga dinyatakan pada model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. Metode statistik yang mudah dan dapat diaplikasikan dengan SPSS untuk menguji suatu model terbebas dari masalah heterokedastisitas adalah Uji Glejser. Tabel 4.15 menunjukkan hasil bahwa tidak ada nilai t-statistik dari variabel bebas yang signifikan secara statistik, sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini tidak mengalami masalah heterokedastisitas (nilai sig.> 0.05).

Tabel 4.15. Uji Glejser Substruktur II

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) .455 .419 1.084 .286

Kompetensi Pedagogik .037 .081 .099 .458 .650

Kompetensi Kepribadian -.116 .115 -.238 -1.010 .320

Kompetensi Sosial .100 .070 .246 1.420 .165

Kompetensi Profesional -.078 .062 -.233 -1.257 .217

Supervisi Kepala Sekolah -.020 .050 -.063 -.389 .700 a. Dependent Variable: AbsRes_2

Sumber : Lampiran 6, 2015.

4.1.3.3. Pengujian Hipotesis

4.1.3.3.1. Analisis Jalur Persamaan I Substruktur I

Persamaan I substruktur I dalam model penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menguji pengaruh kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi professional, dan supervisi kepala sekolah secara simultan dan parsial terhadap kepuasan kerja guru. Berikut gambar analisis jalur persamaan I substruktur I.

Sumber : Data primer diolah, 2015.

Gambar 4.7. Jalur Persamaan I Substruktur I Persamaan I Substruktur I :

Y2= 0,310X1+ 0,411X2– 0,204X3+ 0,241X4– 0,283X5+ e1

Dimana;

Y2= Kepuasan Kerja Guru X4= Kompetensi Profesional X1= Kompetensi Pedagogik X5= Supervisi Kepala Sekolah X2= Kompetensi Kepribadian e1= error

X3= Kompetensi Sosial

1. Uji Parsial

Pada tabel berikut digunakan untuk mengetahui pengujian secara parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.16. Pengujian Hipotesis Secara Parsial Persamaan I Substruktur I

Coefficientsa

1 (Constant) 1.923 .450 4.271 .000

Kompetensi Pedagogik .220 .087 .310 2.536 .016

Kompetensi Kepribadian .379 .123 .411 3.070 .004

Kompetensi Sosial -.156 .075 -.204 -2.070 .046

Kompetensi Profesional .152 .066 .241 2.294 .028

Supervisi Kepala Sekolah -.166 .054 -.283 -3.093 .004 a. Dependent Variable: Kepuasan Kerja Guru

X1

a. Pengaruh Kompetensi Pedagogik Terhadap Kepuasan Kerja Guru

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.16 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,016 < 0,05 dan thitung2,536 > ttabel2,021, serta nilai thitung menunjukkan arah positif. Dengan demikian menolak H0dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar 0,310 atau 31%. Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan positif kompetensi pedagogik terhadap kepuasan kerja guru.

b. Pengaruh Kompetensi Kepribadian Terhadap Kepuasan Kerja Guru Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.16 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,004 < 0,05 dan thitung3,070 > ttabel2,021, serta nilai thitung menunjukkan arah positif. Dengan demikian menolak H0dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar 0,411 atau 41,1%. Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan positif kompetensi kepribadian terhadap kepuasan kerja guru.

c. Pengaruh Kompetensi Sosial Terhadap Kepuasan Kerja Guru

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.16 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,046 < 0,05 dan thitung-2,070 > ttabel2,021, serta nilai thitungmenunjukkan arah negatif. Dengan demikian menolak H0dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar -0,204 atau

20,4%. Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan negatif kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja guru.

d. Pengaruh Kompetensi Profesional Terhadap Kepuasan Kerja Guru

Hasil perhitungan SPSS Tabel 4.16 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,028 < 0,05 dan thitung 2,294 > ttabel 2,021, serta nilai thitung menunjukkan arah positif. Dengan demikian menolak H0 dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi profesional terhadap kepuasan kerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar 0,241 atau 24,1%. Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan positif kompetensi profesional terhadap kepuasan kerja guru.

e. Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan Kerja Guru Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.16 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,004 < 0,05 dan thitung-3,093 > ttabel2,021, serta nilai thitungmenunjukkan arah negatif. Dengan demikian menolak H0dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar -0,283 atau 28,3%. Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan negatif supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru.

2. Uji Simultan

Pada tabel berikut digunakan untuk mengetahui pengujian secara simultan variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.17. Pengujian Hipotesis Secara Simultan Persamaan I Substruktur I

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 6.254 5 1.251 19.779 .000a

Residual 2.150 34 .063

Total 8.405 39

a. Predictors: (Constant), Supervisi Kepala Sekolah, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, Kompetensi Pedagogik

b. Dependent Variable: Kepuasan Kerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Hasil pengujian simultan pada tabel anova menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai Fhitungsebesar 19,779 > Ftabelsebesar 2,494. Dengan demikian menolak H0 dan menerima Ha. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi professional, dan supervisi kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru secara signifikan dan simultan.

3. Koefisien Determinasi

Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen mempengaruhi variabel dependen serta seberapa besar kontribusi variabel X dalam mempengaruhi variabel Y maka akan dilihat R Square pada tabel Model Summary.

Tabel 4.18. Koefisien Determinasi Persamaan I Substruktur I

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .863a .744 .707 .2514824 2.265

a. Predictors: (Constant), Supervisi Kepala Sekolah, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, Kompetensi Pedagogik

b. Dependent Variable: Kepuasan Kerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Berdasarkan Tabel 4.18 nilai R Square diperoleh sebesar 0,744 atau 74,4%. Hal ini berarti kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi professional, dan supervisi kepala sekolah dapat dijelaskan oleh kepuasan kerja guru sebesar 74,4%. Sedangkan sisanya 0,256 atau 25,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.

4.1.3.3.2. Analisis Jalur Persamaan II Substruktur I

Persamaan II substruktur I dalam model penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menguji pengaruh kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru.

Berikut gambar analisis jalur persamaan II substruktur I.

Sumber : Data primer diolah, 2015.

Gambar 4.8. Jalur Persamaan II Substruktur I Persamaan II Substruktur I :

Y1= 0,387Y2+ e2

Dimana;

Y1= Kinerja Guru

Y2= Kepuasan Kerja Guru e2= error

1. Uji Parsial

Pada tabel berikut digunakan untuk mengetahui pengujian secara parsial variabel independen terhadap variabel dependen.

ρ12= 0,387

e2

e2= 0,851

Y2 Y1

Tabel 4.19. Pengujian Hipotesis Secara Parsial Persamaan II Substruktur I

1 (Constant) 1.752 .535 3.277 .002

Kepuasan Kerja Guru .441 .171 .387 2.584 .014

a. Dependent Variable: Kinerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.19 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,014 < 0,05 dan thitung2,584 > ttabel2,021, serta nilai thitung menunjukkan arah positif. Dengan demikian menolak H0dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar 0,387 atau 38,7%.

Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan positif kepuasan kerja guru terhadap kinerja guru.

2. Koefisien Determinasi

Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen mempengaruhi variabel dependen serta seberapa besar kontribusi variabel X dalam mempengaruhi variabel Y maka akan dilihat R Square pada tabel Model Summary.

Tabel 4.20. Koefisien Determinasi Persamaan II Substruktur I

Model Summaryb

1 .387a .149 .127 .4947478 .930

a. Predictors: (Constant), Kepuasan Kerja Guru b. Dependent Variable: Kinerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Berdasarkan Tabel 4.20 nilai R Square diperoleh sebesar 0,149 atau 14,9%. Hal ini berarti kepuasan kerja guru dapat dijelaskan oleh kinerja guru sebesar 14,9%. Sedangkan sisanya 0,851 atau 85,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.

4.1.3.3.3. Analisis Jalur Persamaan I Substruktur II

Persamaan I substruktur II dalam model penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menguji pengaruh kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi professional, dan supervisi kepala sekolah secara simultan dan parsial terhadap kinerja guru. Berikut gambar analisis jalur persamaan I substruktur II.

Sumber : Data primer diolah, 2015.

Gambar 4.9. Jalur Persamaan I Substruktur II Persamaan I Substruktur II :

Y1= - 0,229X1+ 0,608X2– 0,340X3+ 0,190X4+ 0,008X5+ e3

Dimana;

Y1= Kinerja Guru X4= Kompetensi Profesional X1= Kompetensi Pedagogik X5= Supervisi Kepala Sekolah X2= Kompetensi Kepribadian e3= error

X3= Kompetensi Sosial X1

X2

X3

X4

X5

Y1

ρ21= - 0,229 ρ22= 0,608 ρ23= - 0,340 ρ24= 0,190

ρ25= 0,008

e3

e3= 0,565

1. Uji Parsial

Pada tabel berikut digunakan untuk mengetahui pengujian secara parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.21. Pengujian Hipotesis Secara Parsial Persamaan I Substruktur II

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 2.661 .763 3.485 .001

Kompetensi Pedagogik -.186 .147 -.229 -1.261 .216

Kompetensi Kepribadian .641 .209 .608 3.059 .004

Kompetensi Sosial -.297 .128 -.340 -2.325 .026

Kompetensi Profesional .136 .112 .190 1.214 .233

Supervisi Kepala Sekolah .005 .091 .008 .059 .953

a. Dependent Variable: Kinerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

a. Pengaruh Kompetensi Pedagogik Terhadap Kinerja Guru

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.21 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,216 > 0,05 dan thitung-1,261 < ttabel2,021, serta nilai thitungmenunjukkan arah negatif. Dengan demikian menerima H0dan menolak Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi pedagogik terhadap kinerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar -0,229 atau -22,9%.

Hal ini berarti, bahwa tidak terdapat pengaruh kompetensi pedagogik terhadap kinerja guru.

b. Pengaruh Kompetensi Kepribadian Terhadap Kinerja Guru

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.21 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,004 < 0,05 dan thitung3,059 > ttabel2,021, serta nilai thitung menunjukkan arah positif. Dengan demikian menolak H0dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi kepribadian terhadap kinerja guru dapat diketahui dari nilai

Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan positif kompetensi kepribadian terhadap kinerja guru.

c. Pengaruh Kompetensi Sosial Terhadap Kinerja Guru

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.21 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,026 < 0,05 dan thitung-2,325 > ttabel2,021, serta nilai thitungmenunjukkan arah negatif. Dengan demikian menolak H0dan menerima Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi sosial terhadap kinerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar -0,340 atau 34%.

Hal ini berarti, bahwa terdapat pengaruh langsung dan negatif kompetensi sosial terhadap kinerja guru.

d. Pengaruh Kompetensi Profesional Terhadap Kinerja Guru

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.21 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,233 > 0,05 dan thitung1,214 < ttabel2,021, serta nilai thitung menunjukkan arah positif. Dengan demikian menerima H0dan menolak Ha. Besarnya pengaruh langsung kompetensi profesional terhadap kinerja guru dapat diketahui dari nilai koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar 0,190 atau 19%.

Hal ini berarti, bahwa tidak terdapat pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru.

e. Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru

Hasil perhitungan SPSS pada Tabel 4.21 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,953 > 0,05 dan thitung0,059 < ttabel2,021, serta nilai thitung menunjukkan arah positif. Dengan demikian menerima H0dan menolak Ha. Besarnya pengaruh

koefisien Beta (kolom Standardized Coefficient Beta) sebesar 0,008 atau 0,8%.

Hal ini berarti, bahwa tidak terdapat pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru.

2. Uji Simultan

Pada tabel berikut digunakan untuk mengetahui pengujian secara simultan variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.22. Pengujian Hipotesis Secara Simultan Persamaan I Substruktur II

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 4.753 5 .951 5.228 .001a

Residual 6.182 34 .182

Total 10.936 39

a. Predictors: (Constant), Supervisi Kepala Sekolah, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, Kompetensi Pedagogik

b. Dependent Variable: Kinerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Hasil pengujian simultan pada tabel anova menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05 dan nilai Fhitungsebesar 5,228 > Ftabelsebesar 2,494. Dengan demikian menolak H0 dan menerima Ha. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi professional, dan supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru secara signifikan dan simultan.

3. Koefisien Determinasi

Mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen mempengaruhi variabel dependen serta seberapa besar kontribusi variabel X mempengaruhi variabel Y maka akan dilihat R Square di tabel Model Summary.

Tabel 4.23. Koefisien Determinasi Persamaan I Substruktur II

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .659a .435 .352 .4264244 1.294

a. Predictors: (Constant), Supervisi Kepala Sekolah, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, Kompetensi Pedagogik

b. Dependent Variable: Kinerja Guru

Sumber : Lampiran 7, 2015.

Berdasarkan Tabel 4.23 nilai R Square diperoleh sebesar 0,435 atau 43,5%. Hal ini berarti kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, professional, dan supervisi kepala sekolah dapat dijelaskan oleh kinerja guru sebesar 43,5%.

Sedangkan sisanya 0,565 atau 56,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.