(Terjemahan bebas oleh Umbu P. Woha)
Di selatan Sumba Timur, terdapat tiga buah pulau kecil. Pulau-pulau itu adalah Halura yang terbesar, Koatak yang paling kecil dan pulau Manggudu.
Dahulu kala, kepulauan tersebut dihuni oleh orang Sumba yang baru datang ke Sumba, yang sebelumnya masih bermukin di pulau Sabu.
Pada suatu jaman, hiduplah seorang pandai emas dari kabihu Kanjanga Luku, bernama Umbu Lombu Andu Maramba. Ia dan saudaranya sangat berbakat sebagai tukang emas. Merekalah yang bisa membuat mamuli wua ridi, yang membuat kanatar (lulu amahu rara), laku lulungu, dan bentuk-bentuk benda adat lainnya, sehingga buah tangan mereka sudah terkenal di mana-mana sehingga ada ungkapan “mamuli ndai, patuku lombu”. Merekalah yang merancang dan membuat mamuli “kaka mbelu, buti wilaku” (mamuli yang hiasannya berbentuk kakatua mengangguk, atau pun bentuk kera yang berpaling) dan lain sebagainya. Maka datang juga kabihu-kabihu lain dari berbagai tempat untuk memesan bentuk apa saja yang mereka inginkan.
Maka berita tentang tukang emas di pulau Halura pun sampai di telinga Umbu Landu Manunu di pulau Manggudu. Ia menyuruh hambanya yang bernama Padangu Payili, untuk pergi kepada Umbu Lombu di pulau Halura (Salura), agar dia tolong membuatkan baginya sebuah mamuli
“kaka mbelu, buti wilaku” dengan cepat. “Tidak boleh sampai matahari terbenam,” katanya. Maka utusan itu pun berangkat dan menyampaikan pesan itu kepada Umbu Lombu di pulau Salura itu.
Lalu Umbu Lombu menjawab:“Saya belum pernah melihat, belum pernah mendengar orang yang dapat bekerja secepat itu. Kami membuatnya dalam empat hari empat malam. Bahkan kuhabiskan bulan, kuhabiskan tahun, untuk mengerjakan “kaka mbelu, buti wilaku” sejak saya memegang alat-alat tukang emas ini. Karena itu, pulang saja dulu” katanya kepada utusan itu.
Padangu Payili pun pulang dan menyampaikan pesan U. Lombu di Halura kepada U. Landu di Manggudu. Setelah lewat empat hari empat malam, Umbu Landu menyuruh lagi hambanya Padangu Payili untuk pergi mengambil pesannya kepada U. Lombu. Mendengar apa yang disampaikan oleh Padangu Payili suruhan U. Landu di Manggudu, marahlah Umbu Lombu.“Itulah sebabnya saya sudah beritahu lebih dahulu agar saya jangan diberikan waktu yang singkat. Sehingga saya sudah katakan jangan berikan saya empat hari empat malam, karena saya menghabiskan bulan, bahkan menghabiskan tahun untuk mengerjakan “kaka mbewa buti wilaku” katanya kepada Padangu Payili. Mendengar itu, maka Padangu Payili pun menjadi sedih dan kecewa serta merasa sangat bersalah. Lalu Umbu Lombu membujuknya supaya dia pulang saja untuk menyampaikan hal yang sebenarnya kepada tuannya, U. Landu di Manggudu.
Dongeng-dongeng & Cerita Rakyat Asli Sumba
112
Padangu Payili pun pulang dengan air mata, dia mengingat bagaimana capainya dia mondar mandir dan betapa sulitnya dia memesan barang kepada pandai emas itu. Melihat hambanya yang pulang dengan penuh air mata itu, maka U. Landu pun sangat marah, lalu ia mengumpulkan semua tetangganya dan bermufakat untuk menyerang U. Lombu di Halura dan membakar kampungnya, karena dia sudah mempermainkan hambanya, Padangu Payila.
Rombongan U. Landu yang akan menyerang pulau Halura sangat banyak sehingga bukit menjadi merah dan tempat penyeberangan menjadi hitam. Melihat itu Umbu Lombu menyuruh orang untuk menanyakan apa yang menjadi sebab sehingga mereka datang untuk menyerangnya. U.
Landu menjawab bahwa bukan karena apa-apa, hanya karena hambanya itu selalu dipersalahkan.
Maka Salura pun diserang dan dibakar. Umbu Lombu terbunuh, kudanya ditombak dan lambang di kepalanya dipatahkan. Mereka menjarah harta bendanya dan menawan banyak hamba, kemudian mereka pulang dengan tempik sorak ke kampungnya di Manggudu.
Setelah peristiwa ini didengar oleh kabihu-kabihu yang berfamili dengan Umbu Lombu orang kabihu Kanjanga Luku itu yaitu: Hau - Hari Kundu, Kawatangu - Duku Watu, juga orang di Sabu, dan juga raja Flores (Tonggi - Mari, Endi - Amba Rai) yang mempunyai hubungan darah dan pertalian kekeluargaan dengan Haloi - Ana Ju, Kabundungu - Kanjanga Luku, maka mereka semua mendatangi pulau Manggudu, lalu menyerang dan membakar kampung serta membunuh Umbu Landu Mananu di Manggudu. Mereka menggantung kepalanya di tugu (andungu) sama seperti perlakuan mereka kepada Umbu Lombu Andu Maramba.
Menurut penuturan yang agak rahasia, yang membuat gara-gara sehingga penduduk pulau Manggudu menyerang pulau Halura adalah karena ulah dari hamba Umbu Landu, yaitu si Pádangu Mayila itu. Ketika dia diutus ke pulau Halura, ia berzinah dengan isteri Umbu Lombu. Karena tertangkap basah, maka Umbu Lombu menangkapnya dan mengebirinya.
Maka ia pun berusaha memancing kemarahan tuannya sehingga bangkit menyerang pulau Halura.
Karena negeri di Halura sudah dhancurkan, maka kabihu-kabihu Haloi - Ana Ju, Kabundungu - Kanjanga Luku bermufakat untuk berpindah dari Halura dan mencari tempat lain. Mereka menyumpahi tempat itu dengan mengatakan “biarkanlah tempat ini ditumbuhi alang-alang, biarlah dia dililit oleh sarang laba-laba, supaya tidak ada lagi babi yang berteriak, tidak ada lagi ayam yang berkokok”. Maka mereka pun menaikkan tiang layar dari perahu-perahu mereka, lalu berlayar mencari rumput hijau, mencari air jernih. Sampai di Hongga - Hili Mata, Wula - Wai Jilu, mereka melihat
airnya kotor, rumputnya layu. Lalu mereka meneruskan pelayarannya sampai di Woba - Wai Rara, Benda - Puru Mahi, Kanaka - Puru Kurungu, lalu berlabuh serta menurunkan layar di tempat ini.
Mereka turun tepat di tempat berdiaman kabihu Maru Watubulu, Matolang Wanggirara, yang adalah tuan tanah di negeri itu. Mereka pun ditahan untuk menjadi penduduk di tempat itu, yaitu di Mangili.