• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : FENOMENA PERUBAHAN TRADISI

A. Bentuk Perubahan Tradisi Zikiran Sultan

1. Bacaan Zikiran

Sebagaimana hasil wawancara dengan Yadi Ahyadi Sejarawan Lokal Banten, Zikiran Sultan Banten ini menurutnya telah mengalami beberapa perubahan tergantung perkembangan dari masa Sultan ke masa sultan lainnya, karena zikiran ini telah menjadi trensenter tersendiri pada masa itu.2

Ada beberapa lafadz yang terdengar atau tertulis terjadi perubahan pada lafal berbahasa arab yang bila disebutkan akan menyalahi kaidah ilmu nahwu atau bahkan maknanya. Maka dari sini salah satu ustad setempat seperti Mang Haji Slamet enggan mengamalkannya disamping tidak hafal juga dikarenakan dari segi pelafalan rumit diucapkan dan akan menyalahi maknanya.3

Beberapa bentuk perubahan teks-teks atau alunan dalam tradisi Zikiran Sultan Banten di Kampung Selatip ini, di antaranya; Teks zikiran itu diawali dengan membaca salam, hal itu berbeda dalam

2 Wawancara dengan Yadi Ahyadi, Serang, 05 Oktober 2017.

3 Wawancara dengan Haji Slamet, Tangerang, 20 Agustus 2017.

95 teks ini yang tidak ada pembacaan salam, Yadi menjelaskan bahwa ada rangkaian teks yang hilang, seperti pembukaan zikiran yang semestinya diawali dengan uluk salam, seperti teks di bawah ini;

Shallallahu Ala Muhammad Ya Robbi Sholli Alaihi Wa Salim Shallallahu Ala Muhammad Fi Yaumil Qiyamah Yasyfa’u Ya Dzal Jalali Wal Ikram Mitna Ala Diinil Islam

Shollu Ala Nuril Fatimah ... Allah...Rasul... Alal Mustofa Allahu ya robbana allahu ya robbana taqobal du’aana Allahu robul alamin istajib du’aana allahu robbul alamin

Pada bait atau teks ini tertulis Abdul Qodir Masakina, hal ini mungkin maksudnya adalah masya’ikhina yang berarti guru kami.

Hei.. Ya Robbana Allahu Ya Robbana Abdul Qodir Masakina (pen-masyakhina) Allahu Roobu Alamin Al Auliya Al Anbiya Ajma’ina Allahu Robbul Alamin

Dalam bait ini terdengar atau tertulis ya arhamar mu’minin, padahal selazimnya sesuai kaidah isim tafdzil lafadz selanjutnya adalah yang sama yakni rahimin.

Ya sayyida maulana ya sayida maulana

hu ya rasul hu rasul khotamin nur buat nurbuat shollu ya robbana ala muhammad, muhammad laelatul itsnaen hu ya allah hu ya allah ya arhamar mu’minin (pen-rahimin)

Wa Shollallahu Ya Robbana Ala Nuril Mubin Ahmad Ya Mustofa Sayyidinal Mursalin Wa Ala Alihi Wa Sohbihi Ajmain

Dalam bait tertulis dan terdengar ya rasulika, mungkin lebih tepatnya ya rasulallah.

Allah Allahumma Sholli Ala Muhammad Ya Muhammad Ya Rasulika (pen-Rasulillah)

Allahu Ya Sayyiduna Ya Maulana Habiballah

Allahu Rabbi Shallallahu Tsabit Qolbii Khaerullah Allahu Robbi Laa Usyriku Bihi Syaian

96

Allahu Robbi Tsabitna Bil Amal Allahu Robbi Tsabitna Bil Iman Allahu Robbi Tsabitna Bil Islam. Amin Amin Amin Ya Robal Alamin

Sultan Habiballah Sayyidina Allahu Sultan Banten Sultan Habiballah Sayyidina Allahu Sultan Banten

Hei.. Hei.. Sultan Habibaballah Sayyidina Allahu Sultan Banten.

Pada kata panceniki, masyarakat di situ menyebutnya dengan panceniki. semestinya pancaniti yang berarti menunjukkan kata tempat dan menurut Yadi Ahyadi seharusnya kata itu lebih tepatnya pancalinci yang berarti menunjukkan lima perintah sholat, juga pada kata bale bandung yang sepantasnya adalah bale agung. Teks yang semestinya ada sultan banten wayah mulih ing asale (atau ing tanare), teks penuturan yang semestinya ada sebuah penuturan perintah sholat lima waktu dan baca al-Qur’an. Karena memang sesungguhnya menurut abah Yadi bahwa zikiran itu bentuknya adalah pitutur-pitutur sultan.

Mios Pancaniti2x (pen-pancalinci) Alun Alun Sabakinking Bale Agung Ka Masigit Panceniki (pen-pancaniti) Pedaleman

Allahu Alllahumma Sholli Ala Muhammad 2x Allahu Allahumma Sholli Ala Muhammad 2x Wa Ala Alihi Wa Ala Alihi Wa Sohbihi Wa Salim Ya Robbi Salim Ya Robbi Sallim Mitna Ala Diinil Islam

Pada teks penyebutan nama Ahmad Agus Rifa’i, belum dapat dipastikan apakah nama tersebut adalah nama pendiri tarekat Rifa’iyah apakah kesalahan pelafalan masyarakat dalam menyebutkan nama Sultan Abul Ma’ali Ahmad, nama putra mahkota Sultan Abul Mafakhir yang duluan wafat daripada Sultan Abul Mafakhir.

Sultan Banten Allah Ridho Allah Ridho Hei Ahmad Agus Rifa’i Syae’un Lillah

Ataqaballahu Minaa 2x Amin Amin Wa Minkum

97 Ya Karim He Rasulullah Hei Ya Rasullullah

Hei Allah Hei Allah Wa Rahmatullah Muhammad Laelatul Istnaen Ya Dzal Jalal Wal Ikram Mitna Ala Diinil Islam 2 x

Menurut Ahyadi pada kata ya dzal jalal wal ikram juga ada sebenarnya kata ya dzal jalali wal qur’an, karena teks zikiran menceritakan perintah membaca Qur’an.

Berikut ini tabel yang menggambarkan perubahan dalam bacaan zikiran tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8. Perubahan Bacaan Zikiran 2 Abdul Qodir Masakina Masya’ikhina yang berarti guru

kami 3 Abdul Qodir Masakina Abul Mafakhir

Abdulkadir

98

99 2. Ritual Pelaksanaan Zikiran

Menurut Yadi Ahyadi, bahwa shalawatan Kenari itu, begitu ia menyebutnya, sesungguhnya adalah sebuah rangkaian acara dalam rangka menyambut malam Nuzulul Qur’an yang sengaja diadakan oleh Sultan pada masa Sultan Abul Mafakhir atau Sultan Kenari. Di mana acara itu dibagi tiga sesi, sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua dan sepuluh hari ketiga. Dalam sesi itu diyakininya ada perbedaannya dalam pelafalannya.4

Menurut Ahyadi, ritual prosesi zikiran ini adalah sebuah tafsir atas perintah dari surat balasan Syarif Mekkah untuk Sultan Abul Mafakhir sekaligus atas penobatan gelar Sultan berikut dengan tiga buah hadiah yang dianggap keramat seperti sebuah kain kain bendera Nabi Ibrahim, Kiswah Mekkah, dan Tirai Makam Nabi Muhammad Nabi.

Perintah tersebut adalah perintah memperbanyak sholat lima waktu, memperbanyak baca Al-Qur’an serta memperbanyak sedekah dan ikhlas lalu disambut gembira oleh masyarakat Banten pada saat itu.

Perintah itu dan kain tersebut agar diarak ketika bulan mulud namun kemudian perintah tersebut ditafsiri oleh kesultanan melalui zikiran tersebut ketika tengah bulan puasa.5

Tradisi zikiran sultan ini dimungkinkan telah terjadi perkembangan atau perubahan sesuai dari masa ke masa kekuasaan Sultan, dan dikenal begitu menonjol pada masa kekuasaan Sultan Abul Mafakhir atau Sultan Kenari, oleh sebab itu di Serang Banten, zikiran atau tradisi ini lebih dikenal dengan Shalawatan Kenari.

Adapun bila merunut sejarahnya tradisi ini adalah sebuah rangkaian acara untuk menyambut malam Nuzulul Qur’an dalam waktu pelaksanaan yang sesungguhnya adalah harus diamalkan pada malam hari menjelang pelaksanaan sholat Isya’ dengan taraweh, dilanjutkan dzikiran, setelah zikiran usai barulah dilanjut dengan pengamalan wiridan masing-masing tarekat. Karena tradisi zikiran ini

4 Wawancara pribadi dengan Yadi Ahyadi, Serang, 05 Oktober 2017.

5 Wawancara pribadi dengan Yadi Ahyadi, Serang, 05 Oktober 2017.

100

merupakan himpunan dari beberapa tarekat yang menonjol seperti Tarekat Syatariyyah, Tarekat Awaliyyah, Tarekat Syadziliyah, Tarekat Sanusiyah, Tarekat Samaniyyah dan Tarekat Rifa’iyyah.

Tradisi ini juga terdapat fase dalam pelaksanaannya dimana fase dari malam tanggal 1-10 bulan Ramadhan, fase dari tanggal malam ke 11-20, dan fase dari malam ke 21 sampai 30, dan pada fase-fase itu berbeda penyebutan lafal dzikirannya.6

3. Jumlah Anggota dan Tingkat Popularitas

Untuk jumlah anggota yang melantunkan langgam dzikrian tersebut semestinya sesuai dengan jumlah anggota jama’ah sholat taraweh di mushola yang terdiri lima buah mushola dan satu buah masjid, itupun hanya jama’ah di kampung Selatip sedang untuk kampung Lontar tradisi itu kadang-kadang tidak dilaksanakan lagi.

Meskipun jumlah anggota sebanyak anggota jamaah di mushola namun karena sesuatu hal dan sebagainya yang terjadi hanya beberapa orang tua sepuh yang tidak sampai mencapai 10 orang.

Adapun melebihi 10 orang itupun para bocah yang bermain bersenda gurau.

Dalam perkembangannya kini dan sesuai fakta yang ada di sekitaran Tangerang Utara dan Barat, tradisi zikiran ini tidak begitu dikenal dan jarang ditemui kecuali hanya diikuti dan diamalkan oleh beberapa orang tua sepuh di Kampung Selatip, seperti Uwak Rani, Kayi Piyan, Kayi Selamin, tokoh masyarakat yang masih percaya warisan turun temurun yang pernah diwasiatkan, dan lain-lain., seperti Ustad Haji Kaslim, Ustad Zakaria, Haji Hamzah, Uwak Sarkim dan sejumlah orang tua lainnya yang masih hafal di luar kepala. Berikut dengan kadang-kadang diikuti oleh pemuda dan bocah yang ikut-ikutan. Kebanyakan mereka pengamal tradisi zikiran ini bukan anggota salah satu tarekat dan belum pernah merantau jauh baik menuntut ilmu maupun keperluan lainnya.

6 Wawancara dengan Yadi Ahyadi, Serang, 05 Oktober 2017.

101 Adapun penduduk setempat yang walaupun terhitung disebut tokoh masyarakat ataupun disebut ustad dan pemuda-pemuda yang pernah merantau untuk pendidikan maupun pekerjaan hampir tidak ditemukan mengamalkan tradisi zikiran ini, seperti misalnya Ustad Haji Slamet, Ustad Sa’ad beserta para santrinya di pondok, dan masyarakat lainnya yang disibukkan dengan kepentingan lainnya.

Dan tidak ditemukan pula jamaah wanita terlihat mengamalkan tradisi ini.

Melihat pada tabel keberadaan tradisi zikiran sultan di Banten kemungkinan besar tradisi ini sebenarnya sangat dikenal di masyarakat Banten. Namun, karena berbagai faktor yang melatarbelakangi akhirnya begitu banyak perubahan yang terjadi sehingga tingkat kepopuleran tradisi ini menurun di kalangan masyarakat luas.

B. Latar Belakang Perubahan Tradisi Zikiran Sultan

Setiap masyarakat di seluruh dunia akan mengalami perubahan-perubahan yang diketahui jika membandingkan suatu masyarakat di masa tertentu dengan masyarakat di masa lampau.

Sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat pada dasarnya terus menerus mengalami perubahan. Akan tetapi masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama karena terdapat suatu masyarakat dengan perubahan yang lebih cepat dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Tradisi bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah;

tradisi justru diperpadukan dengan berbagai perbuatan/tindakan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya.7 Dalam kehidupan setiap kelompok masyarakat atau suku bangsa di dunia tentunya telah memiliki kebiasaan atau aturan tata hidupnya (adat-istiadat) yang telah berpuluh-puluh tahun dianut yang dikenal sebagai tradisi.

7 Budiono Herusatoto, Mitologi Jawa, (Depok: Oncor, 2012), h. 1-2.

102

Tradisi merupakan bagian dalam kebudayaan yang mewariskan berbagai norma, adat-istiadat dan kaidah-kaidah.

Perubahan sosial menurut Emile Durkheim, dapat terjadi sebagai hasil faktor-faktor ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat oleh solidaritas organistik.8 Berdasarkan pengertian itu perubahan sosial yang terjadi dalam suatu lingkungan sosial yang meliputi berbagai unsur dan menyebabkan terjadinya perubahan pada sistem sosial dalam lingkungan tersebut. Perubahan sosial meliputi perubahan struktur dan fungsi masyarakat, termasuk diantaranya nilai-nilai sosial, norma, dan berbagai pola dalam kehidupan manusia.

Berdasarkan kondisi itulah yang berkembang di masyarakat Selatip pada akhirnya tradisi zikiran sultan ini masih bertahan, karena kampung Selatip terletak dan aksesnya pula jauh dari pusat pemerintahan dan keramaian kota, hal ini berbeda pula dengan daerah yang masih ada tradisi ini tapi sudah mengalami perubahan dari sisi bentuk pelaksanaan dan pelafalannya, seperti yang terjadi di desa Pagedangan Udik Kronjo Tangerang dan Pasir Gelam Pasar Kemis Tangerang,

Perubahan juga terjadi karena adanya modifikasi dari berberapa pola kehidupan. Ada berbagai kondisi yang menyebabkan terjadinya modifikasi tersebut. Kondisi tersebut dapat dijelaskan dengan beberapa Teori Perubahan Sosial, di antaranya oleh Emile Durkheim berpendapat bahwa perubahan karena suatu evolusi mempengaruhi perorganisasian masyarakat, terutama dalam menjalin hubungan kerja.9 Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Yadi Ahyadi bahwa dalam tradisi zikiran ini, ia meyakini ada beberapa kali

8 Abdulsyani, Sosiologi Skematika Teori dan Terapan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 10-36.

9 Soemardjan Selo dan Soeleman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiologi, (Jakarta, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1974). h. 23.

103 modifikasi baik dari sisi pelafalan maupun bentuk rangkaian ritualnya sesuai keinginan Sultan dari masa ke masa.10

Dalam ilmu sosiologi disebutkan pada umumnya ada dua faktor yang menyebabkan adanya perubahan sosial, yakni pertama, faktor internal seperti; bertambah dan berkurangnya penduduk, adanya penemuan-penemuan baru, adanya pertentangan dalam masyarakat dan terjadinya pemberontakan atau revolasui dalam masyarakat., dan kedua, faktor eksternal, seperti; adanya perubahan lingkungan alam/fisik, adanya peperangan dengan negara lain, dan pengaruh kebudayaan atau operubahan yang dialami masyarakat lain. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, umumnya dikarenakan masyarakat tidak puas dengan kehidupan yang lama. Norma-norma dan lembaga-lembaga dianggap tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup yang baru. Oleh karena itu masyarakat menuntut adanya perubahan.

Senada dengan keterangan tersebut, pada umumnya kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi pola perilaku dan pikir masyarakat Tangerang yang metropolitan sehingga hal ini juga akan mempengaruhi keberadaan dari suatu tradisi, terlebih pada tradisi zikiran sultan ini. Oleh sebab itu perubahan yang ada di dalam tradisi zikiran ini titik beratnya lebih kepada respon masyarakat Selatip terhadap eksistensi zikiran sultan ini yang hingga kini masih tetap dilaksanakan, apakah sebagai ritual ibadah ataukah sebatas warisan tradisi leluhur yang harus dipertahankan, karena di tengah-tengah maraknya kemajuan perkembangan zaman yang serba cepat tapi masyarakat Selatip tidak bisa menghindarinya namun tetap memilih tradisi ini dilaksanakan. Kenapa demikian, karena kalau hanya sebatas ritual ibadah saja tentunya tradisi zikiran ini akan lebih familiar di tengah masyarakat Tangerang Utara dan daerah lainnya, dan mungkin bisa saja tradisi ini dianggap sebagai ibadah wajib atau bisa jadi sunnah, terlebih bila dijadikan sebagai wiridan tarekat.

Melihat kondisi tersebut penulis meyakini bahwa selain tradisi zikiran

10 Wawancara pribadi dengan Yadi Ahyadi, Serang, 05 Oktober 2017.

104

sultan tersebut adalah sebagai tradisi warisan leluhur peninggalan masa sultan, akan tetapi juga sangat popular di kalangan masyarakat Banten.

Salah satu penyebab lagi yang menjadikan zikiran Sultan Banten kurang popular di tengah masyarakat perkotaan dan di tengah salah satu penganut tarekat, misalnya Tarekat Qodiriyah, hingga sampai saat ini bisa dipastikan disebabkan oleh berkecamuknya perlawanan ulama dan guru tarekat terhadap penjajahan Belanda dan sehingga ulama dan guru tarekat terfokus pada kasus-kasus pemberontakan di Banten sampai menjelang kemerdekaan Indonesia. Tambahan pula, dengan banyaknya para ulama dan cerdik cendikia yang merantau menuntut ilmu ke berbagai daerah dan pelosok negeri serta merebaknya pemikiran baru disertai pesatnya perkembangan teknologi zaman kekinian menyebabkan tradisi zikiran ini hampir terlupakan dan tidak dikenal sama sekali.

Di bawah ini adalah beberapa faktor umum yang melatarbalakangi terjadinya perubahan dalam tradisi zikiran sultan di masyarakat Kampung Selatip, di antaranya:

1. Latar Belakang Ekonomi

Salah satu faktor yang memperngaruhi adanya perubahan sosial adalah karena faktor ekonomi, mata pencaharian masyarakat di kampung Selatip yang dulu banyak mengandalkan kekayaan laut dan pertanian, kini dengan adanya pembangunan PLTU Lontar 3 sebagian masyarakat berbondong-bondong beralih profesi menjadi karyawan buruh PLTU, ditambah lagi dulu hingga kini masyarakat tergiur menjadi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, dan dikarenakan memang masih banyak tanah-tanah milik pemerintahan di pinggiran sungai Cimanceuri sebagian lagi masyarakat berprofesi menjadi peternak ayam potong serta membangun rumah di pinggiran sungai.

105 Keadaan demikian itulah yang menjadi penyebab kesibukan sebagian masyarakat dan bahkan apatis terhadap tradisi lainnya, seperti tahlilan, majlis ta’lim, sehingga dengan kondisi tersebut masyarakat kurang perhatian akan eksistensi tradisi zikiran sultan ini.

2. Latar Belakang Politik

Pada faktor ini, secara politik untuk melegitimasi kekuasaan kesultanan Banten pada saat itu, menurut Ahyadi, diyakininya bahwa di setiap masa sultan terjadi perubahan pada tradisi zikiran ini karena pada saat itu zikiran dijadikan tren sendiri.

Untuk waktu zaman sekarang mungkin tidak begitu mempengaruhi akan eksistensi tradisi zikiran ini. Namun, berdasarkan wawancara penulis dengan Supiyatna Sejarawan Lokal Balaraja, meyakini justru dengan kondisi politik pada saat pemberontakan petani Banten 1888 menjadikan banyak pengikut tarekat tidak bisa leluasa mengamalkan tradisi ini karena disibukkan dengan perlawanan terhadap Belanda pada saat itu. Sehingga menyebabkan keberadaan tradisi ini hingga kini di beberapa sepanjang tempat di kabupaten Tangerang kurang begitu popular bahkan di kalangan penganut atau anggota beberapa tarekat terutama tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah. 11

Dalam pada itu dengan adanya kebijakan penjajahan Belanda yang ketat mengontrol pergerakan para ulama pada zaman dulu kala, dan pada saat menjelang awal kemerdekan Indonesia, menjadi penyebab ulama-ulama tergiring menghuni ke tempat yang jauh dari pusat keramaian kota dan lebih memilih lahan yang sepi dan kosong yang belum dihuni. Ini terbukti adanya tokoh Ki Buyut Latip yang sampai saat ini dijadikan nama kampung yakni Kampung Selatip dan konon kuburannya dan sejarah hidupnya masih menjadi misteri.

11 Wawancara dengan Supiyatna, Tangerang, 20 September 2017

106

3. Latar Belakang Pendidikan

Masyarakat Kampung Selatip yang memiliki gedung pendidikan SLTP 1 buah, SD 4 buah, TK 1 buah, Paud 1 buah, majlis ta’lim 9 buah, dengan jumlah pendidikan terakhir S1 26 orang, Diploma 19 orang, SMA/sederajat 303 orang, SLTP 76 orang dan tidak sekolah 250 orang. Tempat beridabah 4 buah dengan mushola 16 buah.12

Melihat kondisi tingkat pendidikan tersebut, menunjukkan masyarakat Selatip lebih cenderung kepada konservatif dan tradisional dalam perilaku beragamanya, sehingga dengan pola ini juga menjadi salah satu penyebab bertahannya tradisi zikiran sultan ini. Oleh sebab itu, faktor pendidikan lebih mempengaruhi kondisi eksis-nya tradisi ini. Meskipun begitu, masih ada beberapa tokoh masyarakat atau ustad atau pemuda yang penulis jumpai di kampung Selatip yang pernah menuntut ilmu di luar daerah. Beberapa dari mereka karena sesuatu hal dan sebagainya merasa enggan mengamalkan tradisi ini, karena mungkin masih memperdebatkan isi dan pelafalan teks zikiran yang berbeda dari yang biasanya atau ada beberapa keperluan lainnya. Apalagi di daerah selain kampung Selatip yang dikatakan tingkat pendidikannya telah maju hampir sama sekali tidak ditemukan komunitas pengamal tradisi ini kecuali memang di beberapa tempat saja.

Selain itu pula, dengan kondisi tingkat pendidikan masyarakat Selatip yang masih dikatakan rendah, bagi pengamal tradisi zikiran ini apalagi tidak ada bimbingan khusus untuk belajar lantunan zikiran ini sehingga orang yang antusias mengamalkan ini asal pas mengucapkannya saja sehingga pelafalannya tidak sesuai dengan maknanya, hal ini bisa ditemukan beberapa orang tua yang tidak hafal sama sekali namun karena seringnya ikut-ikutan menjadikan ia seolah hafal dan terbiasa. Hal inilah yang kemudian menjadikan adanya perubahan atau kesalahan dari segi teks zikiran tersebut.

12 Dokumen RPJMDes dan RKPDes Lontar 2015-2019, h. 8.

107 Salah satu contoh masyarakat Selatip yang konservatif dan tradisional ini adalah di kampung tersebut masih tetap melaksanakan dua adzan dan khutbah jum’at tanpa menggunakan alat pengeras suara meskipun di situ sebenarnya ada. Selain itu juga di setiap mushola mempunyai alat bedug dan tempat mimbar khutbah khusus untuk pelaksanaan sholat hari raya.

4. Latar Belakang Keamanan

Dari segi faktor keamanan, belum ditemukan yang siginifikan bahwa faktor keamanan akan mempengaruhi keberadaan tradisi ini, meskipun pernah pada tahun 2006-2007 ada satu tragedi di awal pembangunan PLTU di desa Lontar sempat menegangkan di tengah-tengah warga kampung Selatip dan Lontar. Justru yang ditemukan malah apabila tradisi zikiran ini dilantukan ketika di malam bulan puasa menunjukkan kampung tersebut aman dan nyaman serta serasa pada zaman dahulu kala sebagaimana yang dirasakan oleh Haji Kaslim, bahkan menurut Ahyadi hampir dipastikan kalau ada sebuah kampung ada Masjid Kuno-nya serta masih ada adzan khas langgam zaman klasik disitu pula ada teks atau manuskrip kuno. Hal ini juga menurut penulis sesuai yang ada di kampung Selatip seperti ada Masjid Kuno yang disebut Masjid Preman, pernah terdengar adzan langgam yang khas namun untuk teks manuskrip kuno belum ditemukan.

Tambahan lagi, menurut Ustad Zakaria, menceritakan bahwa Ustad Sa’ad yang sudah dianggap kyai yang punya pesantren salafi pernah melarang ke para santrinya dan masyarakat agar tidak melantukan tradisi zikiran itu dikarenakan tidak ada dalilnya dalam kitab dan dianggap mengganggu pada kondisi kenyamanan masyarakat sehingga menurut ustad tersebut lebih baik diisi dengan tadarusan saja.13

13 Wawancara dengan ustad Zakaria, Tangerang, 16 Juni 2017

108

5. Latar Belakang Kebudayaan Lain

Kebudayaan masyarakat yang kini memasuki zaman milineal dengan penemuan-penemuan teknologi canggih hal ini juga merubah pola pikir dan perilaku masyarakat bahkan merambah ke kampung Selatip. Perilaku masyarakat yang awalnya berprofesi nelayan dan membuat jala ikan kini beralih profesi menjadi buruh karyawan PLTU dan pabrik-pabrik, dengan kemajuan teknologi, media sosial dan transportasi melahirkan budaya baru namun minim sumber daya manusia di bidang pendidikan dan pengetahuan, sehingga terjadi lompatan budaya berupa perilaku baru, sehingga dengan kesibukan pola hidup yang baru itu menjadikan sebagian masyarakat kampung Selatip kurang perhatian terhadap keberadaan tradisi zikiran sultan ini, dan sedikit sekali para pemuda setempat mau belajar dan

Kebudayaan masyarakat yang kini memasuki zaman milineal dengan penemuan-penemuan teknologi canggih hal ini juga merubah pola pikir dan perilaku masyarakat bahkan merambah ke kampung Selatip. Perilaku masyarakat yang awalnya berprofesi nelayan dan membuat jala ikan kini beralih profesi menjadi buruh karyawan PLTU dan pabrik-pabrik, dengan kemajuan teknologi, media sosial dan transportasi melahirkan budaya baru namun minim sumber daya manusia di bidang pendidikan dan pengetahuan, sehingga terjadi lompatan budaya berupa perilaku baru, sehingga dengan kesibukan pola hidup yang baru itu menjadikan sebagian masyarakat kampung Selatip kurang perhatian terhadap keberadaan tradisi zikiran sultan ini, dan sedikit sekali para pemuda setempat mau belajar dan