• Tidak ada hasil yang ditemukan

Badan Mental

Dalam dokumen Kunci Esoteris Satu (Halaman 45-50)

TUJUH SUSUNAN BADAN MANUSIA

4. Badan Mental

Badan mental adalah lapisan badan terhalus dalam konstitusi susunan badan manusia, karena tersusun oleh elemen-elemen mental yang sangat halus, tidak banyak orang yang memiliki kejernihan ‘mata’ bathin untuk mempersepsikannya. Badan mental sendiri terbagi atas dua, yaitu : 1. Badan mental rendah yang sifatnya lebih konkret, 2. Badan Mental yang lebih tinggi yang memiliki sifat lebih abstrak.

Badan mental rendah sangat berkaitan erat dengan organ berfikir dalam badan fisik manusia, yaitu otak. Beberapa kalangan dalam lingkaran pemahaman esoteris mengatakan kalau lapisan mental rendah bisa dibilang beremanasi sebagai pikiran-pikiran kita yang sifatnya lebih konkret dan materialistis. Tanpa kehadiran dari lapisan ini, otak tidak akan memiliki kemampuan untuk melahirkan berbagai ide dan gagasan dan hanya berfungsi sebagai organ tubuh yang mengontrol gerakan dan fungsi biologis lain, seperti sistem saraf tulang belakang, sedangkan lapisan astral biasanya mengendalikan sistem tubuh yang sifatnya sekretif. Perlu dipahami di sini, otak hanyalah sebuah organ badan biologis yang

dapat kita bandingkan dengan instrumen-instrumen fisik lainnya seperti sebuah kalkulator dan komputer. Memang organ berpikir ini merupakan sebuah organ yang lebih rumit dari jantung atau paru-paru, namun tidak akan dapat berfungsi secara prinsipalitas apabila tidak memiliki lapisan mental yang menyelubunginya. Lapisan tipis yang menyelubunginya ini berfungsi sebagai sebuah katalisator untuk memungkinkan timbulnya proses-proses kinerja otak internal yang dapat melahirkan adanya suatu kesadaran. Tanpa lapisan ini, organ ini hanya akan mampu menjalankan fungsi-fungsinya secara otomatis tanpa ada sesuatu yang dapat ‘mengendalikan’ atau ‘mengarahkan’ fungsi-fungsi kognitif yang ada di dalamnya. Sebuah prosesor di dalam komputer dapat memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memproses semua informasi yang ia terima dengan sangat efisien, namun proses kognitif tidak akan terjadi tanpa hadirnya sebuah kesadaran. Proses tersebut mungkin akan melahirkan perhitungan angka-angka rumit, berbagai kumpulan data dan analisa, namun apa artinya semua hasil itu tanpa ada suatu keberadaan untuk mengamati, menarik kesimpulan dan mengekspresikannya? Inilah yang kemudian kita pahami sebagai Artificial Intelegence atau kecerdasan buatan. Sebuah instrumen yang cerdas dan efisien, namun hollow atau kosong, hanya sebuah benda, tidak lebih dan tidak kurang.

Lapisan mental rendah juga memiliki fungsi sebagai sebuah jembatan penghubung antara prinsipalitas yang sifatnya terestial atau fisik (termasuk di dalamnya sistem motorik, proses pemikiran konkret dll) dengan prinsip-prinsip keilahian yang masih terletak satu tingkatan yang lebih tinggi daripadanya. Tanpa kehadiran lapisan perantara yang menghubungkan aspirasi-aspirasi Ilahiah dengan badan yang memiliki kualitas sifat-sifat hewaniah, maka kita tidak lebihnya sama seperti seekor binatang yang berbudaya.

Tidak akan ada ekspresi-ekspresi dari kesadaran yang lebih tinggi seperti kebaikan, dorongan untuk berevolusi, cinta kasih, pengorbanan, semangat melayani sesama, aspirasi-aspirasi spiritual dan lain-lain, kita hanya akan tunduk pada pikiran rendah badan fisik yang sifatnya instingtif, responsif dan egoistik. Inilah sebabnya dalam pemahaman esoteris, seseorang tidak akan pernah mengindentifikasikan dirinya dengan badan fisiknya, karena ia telah memahami bahwa badan fisik hanyalah sebuah wahana, sebuah instrumen dari prinsipalitas-prinsipalitas lain yang sifatnya lebih halus dan lebih tinggi.

Lapisan badan mental sering kali juga dikatakan memiliki sifat yang dual, atau ganda. Ia dapat menangkap getaran-getaran yang sifatnya badaniah dan getaran-getaran yang sifatnya ilahiah. Di sinilah medan peperangan abadi itu terjadi. Inilah medan peperangan Kurukshetra, dimana dua musuh bebuyutan abadi berhadap-hadapan. Di satu sisi adalah pihak Pandawa yang mewakili prinsipalitas Ilahiah yang sifatnya abadi, luhur dan murni, dan di sisi lain adalah pihak kurawa yang mewakili prinsipalitas fisik yang sifatnya egoistik, sementara (fana) dan rendah. Di sepanjang kehidupan reinkarnasi seseorang yang terwujud dalam diri personalitasnya, ia akan berada di medan peperangan abadi ini. Badan mentalnya akan sepenuhnya terekspose dengan getaran-getaran yang dipancarkan dari ‘bawah’ dan dari ‘atas’. Kaum Profane atau Duniawi mungkin akan melihat kutub dual atau ganda ini sebagai wujud nyata dari pertimbangan moralitas, atau apa yang dilihat sebagai yang ‘baik’ dan yang ‘tidak baik’. Namun, kalangan esoteris melihatnya sebagai dua kutub dorongan yang sebenarnya saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, dan tidak melihat salah satu kutub atau sisi dengan label baik atau tidak baik. Keduanya hanyalah proyeksi

dari dua kekuatan alam, yaitu kekuatan fisik dan kekuatan Roh. Kekuatan fisik memiliki elemen-elemen fisik yang sifatnya kasar, tidak abadi dan tidak murni dan kekuatan Roh memiliki elemen-elemen yang sifatnya sangat halus, abadi dan luhur. Kekuatan fisik adalah dorongan di balik timbulnya semua keberadaan yang sifatnya terlihat atau duniawi dan kekuatan Roh merupakan dorongan untuk berevolusi yang diwarisi oleh setiap makhluk yang sudah memiliki kesadaran individu (baca : manusia). Tanpa adanya kedua kekuatan yang saling ‘berseberangan’ ini, maka alam semesta ini tidak akan mungkin untuk bermanifestasi dan bahkan semua bentukan juga tidak akan dapat bermanifestasi. Keberadaan merupakan hasil langsung dari daya tarik menarik dari kedua kekuatan ini, tidak ada hal yang benar-benar baik atau benar-benar buruk di alam semesta yang relatif ini, semua adalah hal yang relatif. Kita tidak dapat menemukan keabsolutan di alam yang telah terdiferensiasi dan termanifestasi, keabsolutan hanya didapatkan dalam kegelapan ‘air’ sebelum titik kesadaran yang timbul di tataran alam Adi.

Badan mental yang terlalu condong pada tarikan dorongan yang sifatnya materialistik, tidak akan dapat naik melampaui badan mental yang rendah. Selamanya ia akan berada dalam pengaruh kaidah-kaidah yang sifatnya fisik. Karena semua hal fisik memiliki sifat-sifat yang tidak abadi, penuh perubahan dan tidak memuaskan, maka mereka yang materialistik akan lebih dekat dengan penderitaan. Sedangkan badan mental yang sudah mulai memiliki kemampuan untuk tidak selalu tunduk pada dorongan-dorongan yang sifatnya materialistik, naluriah dan sementara, akan mulai dapat ‘melihat’ hal-hal lain yang memiliki aspek-aspek yang lebih abadi, lebih luhur dan lebih permanen, secara perlahan ia akan memiliki pandangan bathin atau insight

yang lebih tajam, dimana lewat mata bathinnya yang perlahan terbuka ini atau lewat mata spiritualnya ini, ia mulai menyadari kalau sebenarnya masih ada hal-hal lain yang sifatnya non fisik, yang selama ini belum ia sadari sepenuhnya, dalam tahapan ini ia akan mulai untuk mendisasosiasikan Diri dengan wujud fisiknya (diri personalitasnya yang ilusif) beserta semua proses-proses pikiran rendahnya dan mulai mengarahkan pandangan matanya ke dalam, jauh dari semua fenomena-fenomena luar diri yang sifatnya ilusif. Kemampuan bathin ini, adalah kemampuan spiritual sebenarnya yang berproses di dalam diri, dalam lapisan badan mental seseorang yang sepenuhnya tersembunyi di balik kulit, tulang dan semua organ-organ badan fisik. Untuk mencapai hal ini, biasanya akan melalui banyak rangkaian reinkarnasi dari satu diri personalitas ke personalitas lain, dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan yang lain.

Jadi kembali lagi, badan mental merupakan sebuah medan, dari dua kekuatan yang saling ‘berseberangan’, yang selalu tumpang tindih dan bergantian mendominasi proses kesadaran jiwa yang dibalut kulit. Kadang dorongan yang lebih mulia ‘menang’ namun tak sering juga dorongan yang sifatnya materialistis akan cenderung untuk lebih mendominasi. Apa yang terjadi di medan peperangan ini, secara langsung akan diproyeksikan ke dalam sosok-sosok diri personalitas kita, yang juga berkorelasi dengan hal-hal yang lebih mudah untuk diamati dari ‘luar’ seperti gaya hidup, pilihan hidup, aspirasi dan kecenderungannya. ‘Pergulatan’ bathin ini berlangsung setiap waktu selama masa kehidupan seseorang di dalam dunia fisik, hingga saatnya nanti akan tiba, dimana sinar matahari kesadaran yang lebih tangguh dan mulia akan terbit dari langit yang sebelumnya kelam, dimana sinar yang cemerlang itu akan terbit di atas diri manusia yang telah memenangkan

pergulatan panjangnya, di mana Diri yang sejati akan bangkit dari sisa-sisa abu kumpulan diri personalitas dari medan peperangan antara tarikan Materi dan Roh. Sosok yang mulia ini dalam esoteris dikenal dengan sosok “Augoeides” yang artinya adalah Manusia Ilahiah yang benar-benar baru dapat disebut sebagai manusia yang sebenarnya.

Dalam dokumen Kunci Esoteris Satu (Halaman 45-50)

Dokumen terkait