KUNCI ESOTERIS
I
Prinsip Universal
Prinsip Universal
Penulis : Dante R Kosasih Proof : Dunia Desain Layout : Dunia Desain Cover : Dunia Desain Diterbitkan melalui: Diandra Kreatif
Anggota IKAPI (062/ DIY/ 08)
Jl Kenanga 164, Sambilegi Baru Kidul, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Email: [email protected] Telpon: 0274 4332233, 485222 (fax) www.diandracreative.com
Instagram: diandraredaksi @diadracreative Twitter: @bikinbuku
Facebook: www.facebook.com/diandracreativeredaksi Cetakan 1, Februari 2018
Yogyakarta, Diandra Kreatif 2017 14,8 x 21 cm, viii + 93 Hlm ISBN:
Hak Cipta dilindungi Undang-undang All right reserved
KUNCI ESOTERIS
I
Prinsip Universal
Ditulis oleh :
Dante R Kosasih
PENDAHULUAN
Buku ini merupakan yang pertama dari ketiga seri yang disusun, dituliskan dan dipersembahkan dengan tulus dan penuh rasa syukur bagi mereka para pencari kebenaran dalam titian perjalanan spiritual yang sejati. Sesuai dengan judulnya, buku ini akan membahas pemahaman spiritual inti atau esoteris yang mungkin tidak diketahui dan dipahami oleh kebanyakan orang.
Adapun penyusunan materi buku diambil dari beberapa nara sumber luar biasa yang juga turut memberikan inspirasi dan mendorong penulis untuk mengumpulkan, menyusun dan menyajikan kekayaan kebijaksanaan esoteris dalam tata bahasa yang mudah dipahami dan penjelasan yang sesederhana mungkin. Ditekankan di sini bahwa dalam pengungkapan pemahaman yang akan dijabarkan dalam ketiga seri buku ini, penulis tidak pernah sekalipun mencoba untuk mengarang, mengurangi atau melebih-lebihkan fakta yang didapat. Namun, untuk tujuan memudahkan, beberapa pemahaman akan disederhanakan penulisannya agar lebih mudah dimengerti, berikut juga alur penyajiannya akan diberikan secara berurutan. Dengan demikian penulis berharap gambaran dari pemahaman yang utuh akan didapat secara lengkap pada saat ketiga jilid buku ini selesai dibaca.
Tidak mudah memang merangkum semua ajaran dasar esoteris dalam ketiga jilid buku yang relatif tipis, terlebih dalam hal pengumpulan materi yang terkait dengan berbagai sumber,
berikut juga kendala volume bahan yang bertumpuk dan rumitnya gagasan yang hendak disampaikan, hingga akhirnya penulis memutuskan untuk menyajikannya dalam bentuk seri.
Buku ini ditulis dengan tujuan untuk berbagi dan mem-perkaya wawasan pengetahuan sisi ‘dalam’ dari para pencari dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai instrumen yang menimbulkan konflik dan perdebatan. Semua sudah pernah dituliskan, semua sudah pernah dikatakan, semua sudah pernah dijabarkan, tidak ada hal yang benar-benar baru di Semesta Raya ini, semua hanyalah pengulangan dan penegasan dari masa-masa sebelumnya. Isinya selalu sama, dalam penyajian bentuk dan warna yang mungkin terlihat berbeda. Semoga kita semua dapat selalu menemukan ketunggalan itu dalam tampilan yang penuh dengan kebhinekaan.
“Dipersembahkan untuk istriku yang juga seorang sahabat terdekat,
kekasih dan kembaran tercinta, Vannie Ivonne Sutrisna, yang selalu menjadi inspirasi dan mercu suar di dalam suka duka kehidupan. Semoga sinarmu yang cemerlang tidak akan pernah padam dan dapat
DAFTAR ISI
1. Awal Mula ...1
2. 7 susunan badan manusia ...25
3. Susunan Cakra ...52
BAB I
AWAL MULA
Prolog :
“Dimanakah adanya gerangan Para Pembangun, anak-anak dari fajar Manvantara yang berkilau-kilauan?... Dalam Kegelapan yang tak terjamah dari perwujudan mereka yang tertinggi. Para pencipta dari bentuk yang berakar dari yang tak berbentuk - Akar dari semesta, para Dewa dan malaikat tertinggi telah beristirahat dalam “Bliss” ( kedamaian & kebahagiaan tertinggi ) - HPB - The Secret Doctrine
“Dimanakah keheningan itu? Dimanakah telinga untuk menginderakannya? Tidak. Tidak terdapat kesunyian ataupun suara ; terkecuali tarikan nafas abadi yang tiada henti....” - HPB - The Secret Doctrine
“Sang waktu belum lagi menyambar; sinarnya belum juga dikilatkan ke dalam Benih; Semesta belum juga mengembung.” - HPB The Secret Doctrine
Pemahaman esoteris tertua dari peradaban manusia saat ini yang masih dapat dilacak lewat ceceran tulisan kuno, diperoleh dari sebuah kitab rahasia yang konon usianya lebih tua dari
Veda sekalipun. Kitab tua ini, tidak dapat dimusnahkan oleh api dan dihancurkan oleh air, bahkan debu zamanpun tidak dapat menyentuhnya. Kitab tertua ini dituliskan dalam bahasa Senzar, bahasa sacerdontal yang diturunkan dari mulut ke mulut bagi golongan terinisiasi tertinggi yang sifatnya sangat rahasia (esoteris).
Jejak dari bahasa yang sangat purba ini masih dapat ditemukan tercecer di beberapa kitab tertua yang dimiliki oleh peradaban manusia modern saat ini, salah satunya adalah kitab Deva-Bhasya yang sampai hari ini masih memiliki banyak inskripsi atau tulisan yang tidak dapat diterjemahkan atau dipecahkan, juga dalam jejak kitab peradaban tertua berikutnya yaitu Neter Khari dari bangsa Mesir, dimana tulisan dalam Kitab ini memiliki kesamaan yang tak terbantahkan dengan aksara tertua yang ada yaitu ‘Devanagari’, bahasa misterius ini juga dapat ditemukan di coretan artefak daun-daun lontar sangat tua yang diambil dari pohon kumbum di dataran Tibet, dimana dari lontar-lontar ini kemudian banyak muncul dan dituliskan pemahaman-pemahaman ajaran kearifan esoteris dari tradisi Budhist Tibet, yang salah satunya adalah kitab besar ‘Kalacakra Tantra’ (dimana sebagian isi tulisan bagian ‘dalamnya’ telah hilang tidak berbekas).
Di suatu masa yang sangat misterius, di awal fajar kebangkitan peradaban ras manusia yang sebelumnya, dulunya hanya terdapat satu bahasa universal yang berlaku dan dipahami oleh semua yang ada di muka bumi ini. Bahasa Senzar yang lebih tua dari purba ini, dikatakan memiliki tujuh dialek dan hal ini sebenarnya juga secara gamblang dituliskan dalam Alkitab, yang merupakan sebuah Kumpulan kitab yang masih tergolong sangat muda apabila dibandingkan dengan kitab-kitab lain yang telah disebutkan sebelumnya di atas tadi.
Dari Kejadian 11 ayat 1
“Disebutkan pada awalnya seluruh bumi punya satu bahasa dan logat bahasa. Para manusia pergi ke daerah timur dan menemukan tanah di Sinear, dan tinggal di sana. Kemudian, dibuatlah batu bata dan gala-gala dari tanah liat...”
Keterangan mengenai bahasa universal ini juga banyak dituliskan dan diceritakan kembali di berbagai legenda dunia peradaban manusia saat ini, seperti misalnya Legenda Kuno Yunani, yang mengisahkan bahwa dulunya semua manusia berada di bawah pemerintahan langsung dari para ‘dewa’ dan hanya memiliki satu bahasa. Hal serupa juga diulangi kembali oleh peradaban Kaska, yang merupakan salah satu suku indian tertua di benua amerika utara, ketika menceritakan kembali kisah-kisah legendanya, sang pembaca cerita selalu mengawali narasinya dengan kata-kata “Sebelum banjir besar, semua orang hidup di satu wilayah dan hanya berbicara dengan satu bahasa”. Legenda dari suku Amazonas di Brazil juga mengisahkan bahwa dahulu hanya ada satu suku bangsa manusia dan mereka memiliki bahasa yang sama hingga dimakannya telur dari burung hummingbird, yang menyebabkan perpecahan di antara mereka dan kemudian berpisah meninggalkan tempat asalnya dan menyebar ke seluruh dunia. Demikian juga dengan apa yang diyakini oleh suku Bantu dari wilayah Afrika Timur, yang juga banyak memiliki kisah turun temurun kalau pada awalnya semua manusia memiliki bahasa yang sama. Juga beberapa kelompok orang yang tinggal di kawasan Polinesia, yang terpisah sangat jauh dari tempat yang sebelumnya, juga meyakini hal yang sama bahwa dulunya hanya ada satu bahasa.
Di sini kita dapat melihat bahwa ide yang menyebutkan bahwa manusia dulunya merupakan satu bangsa yang hanya memiliki satu bahasa tunggal yang berlaku secara universal, ternyata tidak hanya diyakini oleh satu kelompok atau satu ras bangsa saja, namun dari seluruh pelosok dunia ini, dari timur sampai ke barat, dari utara hingga selatan, selalu saja terdapat kisah-kisah tua atau legenda dengan unsur yang sama. Hal ini dapat kita pahami sebagai suatu kebenaran universal yang tidak dapat dipungkiri lagi, kalau memang benar adanya bahwa di awal peradaban manusia, semua orang memiliki bahasa sama yang berlaku secara universal.
Dalam bukunya yang berjudul The Secret Doctrine atau Doktrin Rahasia, Madame Blavastky menuliskan kalau isi dari Kitab Purba atau primordial ini, didiktekan langsung oleh tiga makhluk asing misterius pada golongan para Sage (atau orang-orang suci) dari ras Atlantis, yang kemudian mewariskannya pada cikal bakal keturunannya, yaitu bangsa Toltec, sebelum akhirnya diadaptasi kembali oleh peradaban bangsa Aria saat ini, yang kemudian tentu saja menjadi sangat esoteris atau rahasia dengan peristiwa tenggelamnya benua Atlantis pada waktu itu. Pecahan-pecahan ajaran turun temurun purba ini kemudian tercecer dan terbawa ke tujuh pelosok peradaban dunia yang lebih ‘baru’, dimana hingga hari ini, warisannya masih dapat diamati terkubur di sela-sela bayangan aksara Devanagari yang misterius hingga diadaptasikan kembali dalam susunan bahasa-bahasa peradaban yang lebih ‘baru’ seperti aksara latin, sansekerta dan pali. Dari Satu induk bahasa, menjadi berbagai pecahan dan variasi bahasa yang sebenarnya juga masih berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena hubungan yang luar biasa ini, sering kali terdapat kosakata yang secara mengejutkan masih memiliki
artian yang sama, dalam bahasa bangsa-bangsa yang terpisah jarak ribuan kilometer.
Bahasa Senzar ini, adalah sebuah bahasa purba yang sifatnya lebih ke piktograf atau kumpulan ‘aksara simbolis’ ketimbang
fonetik atau sistem bahasa tulisan yang mengedepankan sistem suara dan lafal. Bahasa simbol ini salah satunya dapat kita jumpai di sistem
penulisan karakter bahasa cina dan Hirograf mesir kuno. Bahasa Piktograf merupakan jenis bahasa yang ideografis, yang lebih condong memiliki artian kata ketimbang suara, dan merupakan ekspresi langsung dari sesuatu hal yang ingin disampaikan. Besar kemungkinannya, bahasa Sacerdontal ini merupakan hasil tulisan dari sinyal-sinyal yang ditirukan oleh para Sage peradaban lalu, dari hasil inter-komunikasinya dengan tiga makhluk misterius tadi.
Adapun yang pertama kali terpampang dalam kitab tertua yang tanpa nama ini, adalah gambar sebagai berikut :
Keempat diagram atau simbol di atas tadi, merupakan pemahaman tertua yang masih dapat kita warisi saat ini, dimana keempat simbol di atas berhubungan langsung dengan hikayat asal muasal alam semesta dan juga meliputi peradaban manusia, dari yang pernah ada, hingga saat ini.
Sebelum kita melangkah lebih lanjut mengenai arti dari keempat simbol di atas tadi, ada baiknya apabila kita menyamakan persepsi mengenai pemahaman waktu secara ‘linear’ dan
Pemahaman yang ‘non-linear’.
Di bawah ini merupakan diagram pemahaman khalayak umum mengenai waktu :
Pemahaman waktu yang primitif ini adalah apa yang diyakini oleh sebagian besar manusia atau golongan umum saat ini. Mereka menghubungkan waktu dengan sebuah analogi anak panah yang melesat di ‘depan’. Dalam anggapan ini, waktu akan terbagi menjadi tiga titik, yaitu : 1. Masa lalu yang berada di ekor anak panah, 2. Masa sekarang yang berada di tengah dari anak panah waktu dan 3. Masa depan yang tentu saja berada di kepala dari anak panah itu sendiri. Seiring dengan pemahaman ini, mereka juga kemudian meyakini kalau peradaban di bumi ini, akan secara otomatis berjalan mengikuti kaidah alur waktu yang ‘linear’ ini. Peradaban dimulai dari titik yang terbelakang dan dilanjutkan dengan titik yang berada di tengah dan akan menuju ke titik yang terdepan.
Namun, golongan yang lebih esoteris akan melihat waktu seperti ini :
Pemahaman yang ‘non-linear’.
Di bawah ini merupakan diagram pemahaman khalayak umum mengenai waktu :
Pemahaman waktu yang primitif ini adalah apa yang diyakini oleh sebagian besar manusia atau golongan umum saat ini. Mereka menghubungkan waktu dengan sebuah analogi anak panah yang melesat di ‘depan’. Dalam anggapan ini, waktu akan terbagi menjadi tiga titik, yaitu : 1. Masa lalu yang berada di ekor anak panah, 2. Masa sekarang yang berada di tengah dari anak panah waktu dan 3. Masa depan yang tentu saja berada di kepala dari anak panah itu sendiri. Seiring dengan pemahaman ini, mereka juga kemudian meyakini kalau peradaban di bumi ini, akan secara otomatis berjalan mengikuti kaidah alur waktu yang ‘linear’ ini. Peradaban dimulai dari titik yang terbelakang dan dilanjutkan dengan titik yang berada di tengah dan akan menuju ke titik yang terdepan.
Namun, golongan yang lebih esoteris akan melihat waktu seperti ini :
Artinya :
Tidak ada masa lalu, tidak ada depan, yang ada hanya saat ini. Dimensi wak-tu berbenwak-tuk sphere atau ling-karan ini juga menyiratkan secara eksplisit bahwa titik-titik peradaban yang mung-kin pernah muncul sebelum-nya dan sedang berkembang pada saat ini, sama sekali tidak mewakili tingkat kemajuan dari peradaban lain yang mungkin muncul setelah atau sebelumnya (diilustrasikan dengan titik-titik merah di sisi terluar lingkaran), karena sifatnya yang bulat atau seimbang dan tidak memiliki kai-dah “urutan”.
Dimana apabila kita melihat waktu sebagai garis linear seperti yang ada pada diagram pemahaman waktu yang “primitif” sebelumnya, maka secara otomatis peradaban yang berada di ‘masa lalu’ merupakan peradaban yang tidak lebih tinggi dari peradaban yang ada di ‘masa sekarang’, dan peradaban ‘masa sekarang’ tentu saja tidak akan lebih tinggi dari peradaban di ‘masa depan’. Pemahaman ini menghubungkan perjalanan waktu dengan sebuah teori yang juga sangat purba (yang belakangan ini diklaim secara sepihak sebagai kemajuan Science), yaitu teori evolusi. Dalam pemahaman garis waktu linear, maka evolusi dikaitkan dengan gerakan ‘panah waktu’ yang selalu bergerak ke ‘depan’, meninggalkan bagian yang kurang berkembang di bagian belakang dan yang paling berkembang di kepala panahnya.
Menurut hipotesa dari Science saat ini, diyakini kalau Planet Bumi atau Gaia selesai terbentuk sekitar 4.54 miliar tahun yang lalu, kehidupan kompleks belum berkembang hingga 3.5 miliar tahun yang lalu. Dan menurut Science, spesies manusia saat ini atau Homo Sapiens baru mulai muncul sekitar 790 ribu tahun yang lalu dan baru mulai berkembang pesat di sekitar 11 ribu tahun yang lalu. Anggapan ini mungkin benar apabila kita melihatnya dari sudut pandang munculnya spesies ‘modern’ yang diberi label sebagai ‘homo sapiens’ ini, namun sayangnya sejarah tidak berjalan sesederhana itu.
Di sepanjang perjalanan kehidupan Gaia atau Bumi dari semenjak kemunculannya miliaran tahun yang lalu, pada dasarnya sudah banyak sekali ras dan peradaban yang pernah muncul dan hancur di atas bumi ini dan ras kita saat ini, Homo Sapiens bukannya satu-satunya peradaban besar yang pernah ada dan mendominasi dunia.
Planet Bumi seperti halnya planet-planet lain yang tersebar di tata surya ini bahkan di kumpulan galaksi dan semesta raya, akan mengalami banyak perubahan secara geologis dalam rentang waktu tertentu, gerakan tektonis ini berlangsung selama ber-aeon-aeon lamanya, miliaran tahun, hingga saat ini, gerakan tektonis ini masih juga berjalan dengan sangat lambat. Gerakan alamiah bumi ini mengakibatkan timbul tenggelamnya pulau-pulau lama dan baru, munculnya daerah pesisir dan melahirkan puncak-puncak
gunung tinggi baru yang menjulang tinggi menembus langit. Selama miliaran tahun, wajah bumi senantiasa mengalami banyak perubahan besar dan kecil, hal ini membawa akibat langsung atas semua bentuk kehidupan yang tinggal di atas permukaannya. Benua baru lahir, benua lama tenggelam, ribuan spesies lama musnah dan digantikan oleh jutaan spesies yang baru, dan seterusnya. Dunia selalu berada dalam keselarasan dengan hukum alam yang berlaku universal di semua sudut semesta alam, yaitu Pergerakan yang perpetual. Di mana ada daya kehidupan atau prana, di sana akan timbul pergerakan dan di mana ada pergerakan, di sana secara otomatis proses evolusi akan terjadi dengan sendirinya. Demikian juga yang terjadi dengan planet Bumi. Semuanya berada dalam gerakan yang abadi, yang mungkin tidak tertangkap oleh mata fisik kita yang sangat terbatas ini, namun pergerakan itu tetap merupakan sebuah keniscayaan, tidak ada satu hal pun yang diam, semuanya bergerak, semuanya berevolusi.
Permukaan planet bumi yang anda lihat saat ini, yang mungkin anda kenali dengan fitur-fitur khususnya, yang mungkin menandai tempat-tempat atau garis-garis batas antara negara, tidaklah merupakan suatu hal yang abadi. Ratusan hingga jutaan tahun dari sekarang, permukaan planet bumi akan mengalami perubahan, di tempat yang mungkin dulunya adalah gurun pasir yang tandus, jutaan tahun dari sekarang, mungkin akan berubah menjadi gugusan pulau-pulau tropis. Beberapa gunung yang menjulang tinggi saat ini, suatu hari mungkin akan menjadi ngarai dan lembah-lembah yang sangat dalam. Beberapa benua akan tenggelam dan beberapa benua yang sebelumnya berada di bawah permukaan laut, akan muncul kembali ke permukaan, menandai lahirnya dataran baru, kawasan baru, tanah baru. Hal ini bukanlah merupakan suatu hal yang luar biasa, dan tentu saja merupakan
hal yang pasti akan terjadi dan memang sudah pernah terjadi di masa era peradaban manusia di masa sebelumnya.
Adapun detail mengenai kisah-kisah peradaban ‘manusia’ yang sebelumnya akan dituliskan secara lebih lengkap pada seri kedua dari buku ini dan oleh karena itu tidak akan kita bahas lebih lanjut di sini.
Kembali lagi, semuanya dimulai dari kehadiran simbol lingkaran, seperti yang ada di bawah ini.
FASE PERTAMA Lingkaran Kosong
Ini adalah apa yang dinamakan dengan telur dunia atau mundane egg, atau telur semesta yang mungkin dituliskan dalam berbagai istilah di berbagai literasi esoteris kuno, dengan esensi yang sama. Lingkaran mewakili sebuah kondisi yang kosong, sebuah kondisi yang penuh dengan kegelapan. Perlu diketahui,
kegelapan yang dituliskan di sini bukanlah mewakili kata ‘gelap’
sebagai lawan dari kata ‘terang’.
Kegelapan yang dimaksudkan di sini adalah sama seperti
apa yang dituliskan dalam kitab Kejadian, alkitab, yang selama ini dipahami secara kurang tepat oleh sebagian besar dari pemeluk agama Nasrani.
juga keempat kitab besar yang mengikutinya di dalam perjanjian lama Alkitab, memulai kisah awal penciptaan dengan penggunaan kata-kata ‘kegelapan’, 1. Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi, 2. Bumi belum berbentuk dan kosong dan kegelapan ada di atas permukaan air yang dalam; dan ROH Allah bergerak ke sana kemari di atas permukaan air.
Berikut ini juga beberapa referensi yang diambil dari Veda atas asal muasal dari semuanya “Pada mulanya sama sekali tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer” - Taittiriya Brahmana 2.2.9.1
“Seluruh semesta termasuk bulan, matahari, galaksi dan planet-planet ada di dalam telur. Telur ini dikelilingi oleh sepuluh kualitas dari luar.” -Vayu Purana 4.72-73
“Di akhir dari ribuan tahun, Telur itu dibagi dua oleh Vayu.” -Vayu Purana 24.73 “Dari telur emas, alam material diciptakan.” -Manusmrti 1.13
Mitos dari Quiches, suku Indian di Amerika Selatan, bisa ditemukan di Popol Vuh. Suku Quiches percaya bahwa pada mulanya adalah air dan ular berbulu.
“Kala-Hamsa (angsa hitam), berenang mendekati bunga Lotus, dan mengapung di atas permukaan air yang hidup, Roh Tuhan mengapung di atas permukaan air... “ diambil dari Vishu Purana.
Beberapa cuplikan tulisan kitab-kitab besar di atas, apabila kita jeli melihat, pada dasarnya memiliki kesamaan antara satu dengan yang lainnya. Semuanya berbicara mengenai “air, kegelapan
(hitam) dan telur”.
Semua ekspresi ini merupakan turunan dari simbol lingkaran tadi. Simbol lingkaran ini adalah menyimbolkan telur semesta yang masih kosong namun penuh. Kekosongan di dalam lingkaran
itu, dikaitkan dengan kata gelap, kegelapan, air. Gelap dan kegelapan di sini bukanlah antonim atau lawan kata dari ‘cahaya’. Kata gelap dan kegelapan di dalam lingkaran atau telur tadi mewakili sebuah misteri yang tidak tertembus dari potensialitas, semua hal yang belum mewujud, semua hal yang belum termanifestasi, di mana semua ‘dzat’ ini, berada dalam ke-tunggal-an yang absolut. Tidak ada perbedaan, tidak terdapat ini dan itu, semuanya satu, dalam satu ‘kegelapan’ atau semua ke-potensialitas-annya yang melampaui semua pemahaman makhluk yang terbatas.
“Lautan kegelapan” ini dalam tradisi esoterik tertua dunia peradaban manusia yang lebih baru, yaitu veda, seringkali disebut sebagai Mulaprakriti, atau ‘zat’ mula-mula, yang tunggal, tidak memiliki atribut, tidak terbayangkan, tidak dapat dicerna, melampaui semuanya, tidak berakar, tanpa akhir dan awal, tidak terbatas, abadi, tidak mengenal perubahan dan merupakan sebuah sinonim dengan ‘Parabrahman-nya’ Shankaryacharya, Ain-soph-nya Kabalah dan juga apa yang disebut sebagai Nirguna Brahman dalam kitab Vishishtadvaita. Madam Blavastky seringkali menuliskan hal ini (yang juga bukanlah hal) sebagai ‘ruang abstrak’ yang meliputi semuanya.
Sakyamuni, yang selama ini dikenal luas tidak mendukung teori keabadian dalam notasi atmannya seperti apa yang dipahami oleh golongan eksoteris atau ‘luar’ , ternyata juga pernah membahas mengenai substansi primordial ini, seperti yang ditulis dalam :
Sutta Pitaka, Udana VIII : 3. “Ketahuilah para Bhikkhu,
bahwa ada sesuatu Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak. Apabila tidak ada Yang tidak dilahirkan,
maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi, karena ada Yang tidak dilahirkan.
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”.
Inilah pemahaman esoteris dari simbol-simbol yang tertulis di kitab-kitab besar dunia, yang selama ini sering kali disalah artikan atau di pahami secara tidak tepat dan menjadi rujukan dari suatu pemahaman eksoteris atau luar atau umum yang sifatnya lebih primitif, seperti pandangan kalau Roh sosok Tuhan benar-benar melayang di atas permukaan air secara harfiah (logikanya, kalau sosok ‘Tuhan’ ini belum menciptakan apapun juga, lantas darimana ‘air’ itu ada? apakah air dan kegelapan telah ada sebelum Tuhan menciptakan segala sesuatu?), juga kegelapan yang dimaknai sebagai sebuah kondisi tertentu karena ketiadaan cahaya atau ke-absen-an cahaya, bahkan beberapa orang melihat gambaran Kala-hamsa sebagai salah satu bentuk manifestasi dari dewa Vishnu itu sendiri.
FASE KEDUA
Lingkaran dengan satu titik di tengah
Titik di tengah lingkaran yang muncul atas dorongan kehendak dari yang ‘tidak diketahui’ ini mewakili timbulnya
sebuah kesadaran. Sebuah kesadaran, tidak lebih dan tidak kurang. Kesadaran awal ini tidak perlu diantropomorsikan menjadi suatu figur atau sosok Deva atau Tuhan, namun apabila memang harus diwakilkan ke dalam sebuah bentuk supaya lebih dapat dimengerti, titik kesadaran yang muncul dari kedalaman lautan gelap potensialitas itu dapat kita hubungkan dengan pemahaman Ilahiah yang berbentuk, seperti Allah, Yahwe, Brahma, Aditi dan lain-lain. Semua label-label ‘nama’ fana ini tak lain adalah bentuk ‘pemadatan’ dari kesadaran Ilahiah yang sengaja dibuat demikian agar lebih mudah dipahami oleh golongan manusia kebanyakan dalam pengertian spiritual yang sifatnya eksoterik (luar).
Ini adalah fase atau tahap ‘kedua’ yang mengikuti simbol lingkaran kosong di awal tadi. Di tahap ini, muncul sebuah titik di tengah-tengah lingkaran atau telur semesta. Ini berkaitan dengan sebuah filosofi penciptaan, seperti yang didiktekan oleh ketiga makhluk asing pada sekumpulan Sage di awal fajar peradaban Atlantis, jutaan tahun yang silam.
Pada tahapan ini, titik di tengah merupakan manifestasi pertama dari salah satu aspek potensialitas yang ada (kegelapan itu) sebagai kehendak atau sir dalam bahasa jawa.
Munculnya aspek ‘kehendak’ ini juga menandakan kalau lautan air potensialitas yang gelap itu tadi (karena ke-misterius-annya), kini sudah mengalami proses diferensiasi atau proses pembagian pertamanya. Dari kegelapan itu (ke-potensialitas-an) kini muncul sebuah kehendak sebagai sebuah potensi. Dari kepotensialitasan menjadi sebuah potensi, dari yang belum ada atau chaos, mewujud menjadi ada.
Secara Esoteris, inilah yang dinamakan sebagai ‘Roh’ atau
Soul atau Purusha dalam filosofi hindu dan Logos dalam Theosophy.
(kekacauan) itu tadi, adalah Aspek Kehendak Ilahi. Kehendak untuk apa? kehendak untuk bermanifestasi. Kehendak untuk mengalami. Kehendak untuk menjadi ada.
Di dalam Buddhisme Vajrayana yang sangat esoteris, inilah yang disebut sebagai istilah “Adi Buddha” atau dang-po’i sangs-rgyas, dan Vajradhara dalam Tibetan Buddhist yang artinya adalah Buddha Purba, yang tidak mengacu pada seseorang atau individu tertentu, namun lebih pada kesadaran purba pertama. Adi adalah yang pertama, aspek potensialitas atau kegelapan yang pertama bermanifestasi sebagai ‘kehendak’ atau will (bahasa Inggris) atau sir (bahasa jawa) di tataran alamnya sendiri yang kemudian dipahami sebagai tataran alam Adi.
Aspek kehendak ini tidak memiliki sifat feminim atau maskulin, terbebas dari semua bentuk dan berada dalam tataran alamnya sendiri, yaitu tataran alam Adi, yang tidak terbatas,
omnipotent dan murni. Ini adalah sebuah kondisi pertama dari
manifestasi prima atau awal yang sangat purba dan secara esoteris sering kali dikatakan sebagai ibu-bapa dari semua kehidupan di alam semesta. Ini adalah sebuah diferensiasi pertama yang sifatnya periodikal dan karena telah termanifestasi dalam bentuk kesadaran, maka ia pun kini menjadi sesuatu yang sifatnya tidak abadi, walaupun tetap saja merupakan sebuah puncak kesadaran prima yang melampaui segalanya, sangat tinggi dan omnipotent.
Munculnya kesadaran ini mewakili apa yang disebutkan di kitab-kitab kuno bangsa aria sebagai periode ‘siang’ hari dari sang ‘brahma’. Secara esoteris, terdapat dua tarikan nafas besar dari Sang “brahma”, yaitu masa dimana Nafas Sang ‘Brahma’ dihembuskan ‘keluar’, yang dikenal sebagai periode “siang” atau manifestasi atau ‘kreasi’ yang akan melahirkan alam semesta yang berbentuk dengan semua makhluk yang ada di dalamnya, dan
masa yang dikenal sebagai periode ‘malam’ dari Sang ‘Brahma’ dimana dalam fase ini, tarikan nafas ditarik kembali ke ‘dalam’, menandakan berakhirnya semua kehidupan alam semesta yang termanifestasi dan kembalinya semua hal yang ada dan pernah ada serta mungkin juga yang akan ada, kembali ke dalam pelukan ‘lautan gelap yang tak berdasar’ itu tadi. Peristiwa ini dikenal dengan berbagai istilah, namun istilah yang umum dan mungkin dapat dipahami oleh sebagian besar orang adalah ‘Maha Pralaya’ atau ‘kiamat besar’.
Pada Periode Maha Pralaya ini, semua yang berbentuk dan memiliki bentuk, yang sifatnya tentu saja fana dan terbatas, akan ditarik kembali hingga ke titik awal di dalam bulatan telur dunia atau semesta, yang sama persis kejadiannya ketika periode awal mulanya dulu, ketika titik yang sama baru muncul di tengah lingkaran untuk melahirkan berbagai bentukan atau manifestasi di awal periode “siang” dari sang ‘Brahma”. Bahkan, akan tiba saatnya nanti bagi kesadaran awal yang omnipoten itu tadi, yang mewakili aspek-aspek dari semua Keilahian yang ‘berbentuk’ atau Saguna Brahman, akan juga masuk kembali terserap ke dalam lautan Nirguna yang misterius dan tak terjangkau dasarnya itu.
Inilah yang dimaksudkan tadi bahwa meskipun titik kesadaran awal itu sifatnya omnipoten, tinggi dan tak terbatas, namun tetap tidak abadi atau relatif fana, walau memang berada dalam rentang ‘usia’ yang tak terbatas bagi semua batasan usia makhluk-makhluk lain yang ada di ‘bawah’-nya.
FASE KETIGA
Lingkaran yang terbagi menjadi dua.
Ketika titik kesadaran awal tadi berubah menjadi garis yang memisahkan ruang abstrak dalam telur dunia, kesadaran yang awalnya tidak memiliki sifat apapun dan tunggal, kini kembali mengalami fase diferensiasi kedua, yang sering kali disebut dengan istilah ‘shabavat’ dalam buddhisme esoteris. Dalam tahapan ini, sebuah kondisi baru muncul yang akan mendorong timbulnya keberadaan. Diagram di atas tadi mewakili bentuk feminim dari alam, yang sering kali juga disebut sebagai Bunda Semesta, dimana daripadanya semua fenomena bentukan atau manifestasi akan terlahirkan.
Perlu dipahami di sini, pemahaman esoteris tidak pernah mengimplikasikan sebuah kreasi atau penciptaan, pemahaman esoteris memahami bahwa sejatinya tidak ada sosok pencipta dan yang diciptakan, tidak ada yang di ‘luar’ dan yang ‘di dalam’, tidak ada perbedaan antara ‘Dia’ dan ’kita’, karena esensinya bukanlah mengarah pada sebuah sosok yang aditi atau sosok ’ilahiah’ yang diantromorfosikan seperti apa yang lazimnya dipahami oleh golongan yang lebih eksoteris. Dalam pemahaman esoteris, tidak ada penciptaan, non kreasi, yang ada hanyalah pengembangan kesadaran.
sebenarnya memiliki artian yang lebih esoteris ketimbang ucapan dari sesuatu yang diantromorfosikan sebagai Allah atau Tuhan. Secara esoteris, tulisan “Jadilah terang” ini mengandung artian dimulainya kemunculan dari keberadaan, sebuah manifestasi. Sebuah manifestasi dari ‘kehendak’ Ilahiah itu tadi, yang mengejawantah menjadi sebuah keberadaan yang digambarkan dalam simbol Bunda Semesta di atas itu tadi.
Bunda Semesta yang digambarkan dalam lingkaran yang terbagi dua tadi, bukanlah gambaran langsung sebuah sosok dewi tertentu yang akan mencipta, namun lebih pada sebuah tahapan kesadaran alam, dimana pada saat ini, kesadaran alam itu telah ‘terbelah’ menjadi dua, yaitu : Roh dan Materi. Dalam Tradisi Esoteris bangsa Aria, Roh biasa disebut sebagai Purusha dan Materi disebut sebagai Prakriti, pemahaman yang sama juga dikenal dalam aliran Samkya yang sangat detail mengamati pembagian atau diferensiasi.
Sebagai cikal bakal dari semua keberadaan di alam semesta yang terlihat atau yang termanifestasi, Bunda Semesta mutlak memiliki dua aspek gabungan ini, yaitu aspek Roh dan aspek Materi. Kesadaran memerlukan kedua aspek ini untuk menjadi ‘ada’ dan mewujud. Tanpa Roh, semuanya tidak akan dapat benar-benar ‘hidup’ dan sebaliknya, tanpa Materi, maka tidak akan ada wahana atau kendaraan untuk mengekspresikan dan mempersepsikan kehadiran sebuah ‘keberadaan’, dari sebuah ‘ke-’ada’an’. Bunda Semesta merupakan wadah kesadaran untuk ‘melahirkan’ atau memberi jalan bagi munculnya alam semesta yang termanifetasi.
“Ibu-Bapa merenda sebuah jaring dimana bagian atasnya diikatkan pada Roh - Cahaya dari kegelapan yang tunggal - dan pada bagian bawahnya diperuntukkan bagi ujung yang dipenuhi
bayangan, Materi dan jaring ini adalah Semesta Raya yang direnda dari dua substansi yang dijadikan satu, yakni Svabhavat” Stanza 3-10, SD karangan HPB
“Dan apakah orang-orang... tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…” (Q.S. Al Anbiya [21] :30).
FASE KEEMPAT
Munculnya garis vertikal dari atas ke bawah membelah lingkaran dan kembali ke atas
Semua hal yang bermanifestasi atau menjadi ada dalam bentuknya yang paling kasar saat ini, yaitu bentuk fisik, tidak dapat serta merta berfenomena dalam bentuknya saat ini. Semua hal tetap harus bekerja sesuai dengan kaidah alam. Semenjak fase Svabhavat itu terjadi atau pemisahan kesadaran menjadi Roh dan Materi atau Purusha dan Prakriti, maka perjalanan sucinya ke “bawah” harus segera dimulai.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)
Menurut kitab yang lebih esoteris, yaitu Purana, Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indra) mulai terbentuk secara perlahan semenjak fase shabhavat, hingga ber-aeon-aeon kemudian akan membentuk Pancatanmatra (benih semesta fisik) dan Pancamahabhuta (benih semesta yang lebih halus). Diceritakan kemudian, bagaimana benih dari semesta fisik akan memberikan kelahiran bagi elemen-elemen yang dibutuhkan untuk lahirnya alam jasmaniah atau ‘semesta yang kelihatan’ dan benih semesta yang lebih halus pada gilirannya nanti akan menyusun ketujuh alam yang ada di atas atau alam ‘Svaha’ dan ketujuh alam yang ada di bawah atau ‘Bhur’.
“Pencelupan” keberadaan dari tataran dunia atas, tempat asalnya semua kesadaran yang termanifestasi, berjalan sangat lambat dan rumit. Berbagai elemen semesta masih berada dalam kondisi awal, sebuah kondisi yang dormant atau statis, semua unsurnya tidak berdaya, belum sepenuhnya berfungsi dan membutuhkan banyak campur tangan berbagai makhluk-makhluk mulia dan perkasa yang secara esoteris dikatakan bahwa mereka ini konon ‘didatangkan’ dari kalpa yang sebelumnya, gabungan kesadaran agung kolektif ini dengan tanpa henti mengalirkan vibrasi demi vibrasi, mengatur dan membentuk semua jenis elemental di tataran alam-alam yang lebih halus, agar nantinya dapat turut mempersiapkan jalur-jalur medan evolusi perjalanan suci, bagi benih-benih keberadaan dari tataran alam yang lebih tinggi dan halus lagi, yang sering kali di istilahkan dengan istilah “Anupadaka”, dimana dari sini Bunda Semesta memercikkan percikan-percikan Api Ilahiah, Putra-Putra Api yang esensinya
satu namun juga yang tak terhitung jumlahnya dan ‘mencelupkan’ semuanya ke dalam lapisan demi lapisan alam yang memiliki berbagai jenis kepadatan dan sifat, dari yang paling halus atau arupa (tanpa bentuk) hingga akhirnya setelah berulang kali melewati siklus demi siklus evolusi atau pembangkitan kesadaran, “Para Putra Api” tadi akan dapat sepenuhnya memadat dan berfungsi penuh kesadarannya di era peradaban ras bangsa keempat Bumi ini, yaitu bangsa Atlantis.
Di Era ini, ’manusia’ dikatakan telah sepenuhnya jatuh ke dalam alam materi, yang ditandai dengan pemisahan jenis kelamin, dari ketunggalan, menjadi laki-laki dan wanita. Pada fase ini, yang perjalanannya telah memakan waktu ber-aeon-aeon (satuan waktu yang mewakili rentang pemahaman yang lebih lama dari abad), kesadaran sepenuhnya telah mencapai dasar dari kolam alam materi, sebuah kejatuhan yang sempurna dalam pelukan alam fisik, alam keberadaan dengan fenomena bentukan yang heterogen, hal ini diwakilkan dengan simbol lingkaran dengan garis vertikal yang membelah di tengahnya, dari atas hingga mencapai titik yang paling bawah.
Perjalanan Ziarah suci ini tidak berakhir di dasar kolam materi dari alam semesta yang kelihatan. Titik kesadaran yang terendah ini, yang begitu kental terbungkus oleh materi dan begitu erat terikat oleh jerat Maya, akan mulai tergugah. Menyadari esensi alam fisik yang sifatnya tidak memuaskan, tidak abadi dan selalu berubah-ubah, maka kesadaran yang sebelumnya terpancar ‘keluar’, mulai memiliki kerinduan untuk kembali pada hal-hal yang sifatnya lebih ‘nyata’. Dari titik kuliminasi terendah ini kemudian akan muncul perjalanan ziarah kedua, yaitu perjalanan kembali ke ‘atas’, menuju ke rumahnya yang sejati, menuju ke Diri yang sebenarnya, yang abadi. Kerinduan-kerinduan bathin
untuk kembali mengarahkan ‘matanya’ ke sisi dalam, ke sisi yang lebih spiritual ini melahirkan bibit-bibit spiritual dan daya-daya transformasi untuk kembali menuju ke sebuah keniscayaan yang lebih hakikat.
Dari bentukannya yang sangat halus di tataran dunia tertinggi, perlahan tercelup ke dalam lautan manifestasi, dari satu alam ke alam yang lain, dari satu fenomena bentukan ke bentukan yang lain, hingga mencapai titik terendahnya yang paling kasar atau padat, kini kesadaran akan kembali menjalani proses panjang untuk kembali menjadi halus, menjadi tiada atau manunggaling atau moksha. Inilah yang secara esoteris dipahami sebagai hukum Evolusi. Sebuah evolusi jiwa, dari yang belum menyadari dirinya, menjadi sadar bahwa dirinya bukanlah materi, hingga kesadaran materi itu kemudian kembali padam (dalam Buddhisme dikenal sebagai Nirvana, yaitu padamnya diri) atau manunggaling dengan kesadaran semesta.
Tentu saja hukum evolusi tidak dapat berfungsi dengan baik apabila tidak terdapat kaidah lain yang mengikutinya.
Tiga Kaidah Hukum alam yang saling berhubungan dalam pemahaman esoteris adalah :
1. Evolusi 2. Reinkarnasi 3. Karma
Hukum evolusi dan reinkarnasi merupakan dua fakta yang tidak terbantahkan yang saling berkorespondensi di alam semesta ini. Reinkarnasi adalah sebuah medan atau instrumen bagi kesadaran untuk ber-evolusi. Perjalanan jiwa yang berkesinambungan, dieskpresikan di dalam rangkaian demi rangkaian menitisnya kembali jiwa ke dalam dunia materi atau
ber-re-inkarnasi. Tanpa daya untuk berevolusi, maka reinkarnasi tak lebih dari sekadar pengulangan cerita, tidak ada nilai filosofi dan spiritual apapun di dalamnya. Semua yang kita alami tidak akan menghasilkan kemajuan apapun, semua hanya sebuah mekanisme yang tidak berkesadaran, tidak ada makna yang tersirat di balik semua peristiwa dan kejadian, tidak ada nilai yang dapat dipetik, tidak ada kemajuan, semuanya tidak bermakna, hanya merupakan serentetan peristiwa acak yang sama sekali tidak bernilai. Kesadaran akan diam di tempat dan tidak ada kemajuan apapun yang terjadi. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan hukum lain dalam semesta raya, yaitu gerakan yang abadi, semuanya berubah, tidak ada yang statis. Demikian juga dengan kesadaran. Kesadaran hadir dalam keberadaan untuk mengalami, untuk menyelami dan sekaligus untuk mengamati. Oleh karena itu, kehidupan yang bergerak dan penuh perubahan ini tidak dapat dipungkiri lagi adalah cerminan langsung dari daya untuk berevolusi itu tadi.
Sebaliknya, tanpa reinkarnasi, evolusi jiwa juga tidak akan mungkin dapat terjadi, karena satu masa kehidupan tentu saja sangat tidak mencukupi untuk memfasilitasi berbagai perubahan tingkat kesadaran yang biasanya terjadi dengan sangat lambat atau memakan waktu yang sangat lama. Apalah artinya hidup selama 70 tahun bagi seseorang untuk mengalami sebuah peningkatan kesadaran dalam diri, kalau itu terlalu singkat, bagaimana dengan mereka yang hanya sempat menjalani kehidupan selama 10 tahun saja, atau bahkan beberapa hari saja? apakah kesadaran akan dapat sepenuhnya kembali menyadari esensi dirinya yang sangat esoteris? apakah secepat itu semuanya dapat menjadi ‘murni’ kembali ? Perjalanan spiritual merupakan sebuah ziarah suci yang tidak dapat diwakilkan atau digendong oleh orang lain, kita yang memulai, maka kita yang akan menyelesaikannya. Tidak ada
sosok-sosok, baik guru, nabi, malaikat bahkan dewa sekalipun yang dapat menyelesaikannya bagi kita. Di titik terendah alam materi ini, di dasar kolam materi yang terpadat ini, semuanya berjalan sendiri-sendiri.
Hukum lain yang selalu ‘menarik’ kita kembali ke medan kehidupan dunia fisik ini adalah hukum karma. Hukum karma sejatinya bukanlah mekanisme mengenai apa yang benar dan apa yang salah, hukum karma adalah sebuah instrumen dari keberadaan untuk berevolusi, sebagaimana halnya dengan reinkarnasi. Hukum karma adalah serangkaian pembelajaran yang nantinya akan menimbulkan banyak kualitas-kualitas Ilahiah dalam diri seseorang. Rangkaian pembelajaran ini harus diselesaikan dengan sempurna, selama masih ada bagian yang tidak seimbang, maka pembelajaran itu akan diberikan lagi, dan lagi, mungkin dalam bentuk yang berbeda, namun esensinya tetap sama. Karma membuat segalanya kembali menjadi murni, karma adalah penindas juga penebus kita. Tanpa adanya hukum karma, tidaklah memungkinkan bagi kesadaran untuk dapat ‘ditarik’ kembali atau bereinkarnasi ke dalam medan kehidupan untuk berevolusi. Tanpa Karma, tidak akan timbul daya untuk berevolusi. Sekarang kita semua menyadari benar secara esoteris, hubungan yang berkesinambungan antara Evolusi, Reinkarnasi dan Karma.
Ketiganya merupakan sebuah kesatuan kaidah universal yang tidak terpisahkan, sebuah trinitas, segitiga keberadaan.
BAB II
TUJUH SUSUNAN BADAN MANUSIA
Badan fisik kita merupakan sebuah wahana, sebuah alat atau kendaraan. Satu hal yang perlu diluruskan di sini, bahwa sejatinya kita bukanlah badan fisik yang memiliki jiwa, seperti mungkin apa yang diyakini oleh sebagian besar golongan profane atau kalangan duniawi, pandangan yang lebih benar adalah bahwa setiap dari kita merupakan satu unit jiwa yang memiliki seperangkat tubuh atau lapisan yang mungkin sekilas terlihat memiliki tingkatan densitas dan sifat alami yang berbeda-beda, namun sejatinya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling membutuhkan. Kesadaran tidak dapat berfungsi tanpa materi, kesadaran membutuhkan sebuah wahana agar dapat mengekspresikan dirinya dengan baik.
Semua fenomena yang bermanifestasi ke dalam alam semesta yang kelihatan ini atau alam yang mewujud ini merupakan bentuk representasi terkasar atau terendah dari manifestasi-manifestasi lebih halus yang tidak dapat terdeteksi oleh indera-indera terestial. Apa yang ada, selalu tidak seperti yang terlihat. Apa yang kita namakan dengan badan fisik dengan semua hal yang terkandung di dalamnya, sejatinya hanya merupakan sisi bagian terluar dari lapisan-lapisan lain yang tersembunyi atau yang tidak kasat mata.
pemahaman yang lengkap mengenai alam semesta raya atau the universe, terlebih dahulu kita harus memahami kalau semua hal yang ada, pada dasarnya memiliki dua sifat yang tidak dapat dipisahkan :
1. Diferensiasi.
2. Hierarki (tingkatan).
Seperti apa yang telah kita bahas bersama di bab sebelumnya, semenjak kesadaran mulai terdiferensiasi di alam Adi sebagai sebuah kehendak atau Sir (dalam bahasa jawa), maka secara otomatis, semua tahapan lain yang mengikuti setelahnya, seperti diferensasi-diferensasi selanjutnya, yang dimulai dengan tahapan ‘Svabhavat’ atau pemisahan yang lebih lanjut antara Roh (Purusha) - Materi (Prakriti), tidak berhenti pada tahapan ini dan terus berlanjut hingga ke dalam dimensi alam-alam yang lebih rendah, dimana kemudian diferensiasi demi diferensiasi memberikan jalan bagi munculnya aneka ragam variasi bentuk keberadaan yang tak terhitung jumlahnya dan semakin ke ‘bawah’, maka diferensiasi materi ini akan menjadi semakin beragam hingga tidak dapat dibayangkan lagi kombinasi dan variasinya. Alam Semesta Raya ini memiliki variasi dalam kombinasinya yang tidak terhingga. Tanpa diferensiasi, tidak akan terdapat kemajemukan, ketunggalan tidak dapat mengalami semua pengalaman yang dibutuhkan untuk mencapai kembali sebuah kehomogenan yang absolut. Kaidah hukum diferensiasi ini merupakan hal yang sangat penting dan vital bagi munculnya beraneka kemungkinan untuk berevolusi di medan kehidupan yang telah dipersiapkan olehnya.
Hal lain yang mengikuti kaidah diferensiasi adalah kaidah hukum hierarki, dimana lapisan demi lapisan, tahapan demi tahapan, yang dimulai dari terbentuknya lapisan-lapisan alam
yang memisahkan berbagai kerajaan elemental alam, dimulai dari yang terhalus hingga yang paling kasar, kemudian tataran alam yang mulai terdegradasi ini mulai ’diisi’ dan ‘dihidupi’ oleh berbagai variasi tahapan kesadaran yang disesuaikan dengan wadahnya masing-masing. Timbullah hierarki keberadaan. Di mulai dari keberadaan yang paling tinggi dan mulia, seperti para Dhyani Chohan yang telah arupa atau tanpa bentuk (Ahi - atau nafas
kebijaksanaan semesta) hingga ke tujuh pilar energi primordial yang
dipersonfikasikan dengan tujuh barisan archangel atau Malaikat-Malaikat Besar Agung dalam agama-agama Samawi, para Planetary Spirits (Jiwa-Jiwa Planet), Para Manu atau pemimpin bangsa/ras, para Adepta atau para Master, golongan manusia, roh-roh alam, binatang, tumbuhan, mineral dan kerajaan para elemental.
Energi kehidupan yang mengalir deras dari titik kesadaran kehendak di tataran alam tertinggi, yaitu Alam Adi, daya yang luar biasa besar ini dicurahkan turun lewat saluran-salurannya, yaitu kumpulan hierarki ‘agen-agen’ utama, besar dan kecil, mengalir masuk ke dalam semesta yang termanifestasi. Bisa dikatakan kalau hierarki ini juga berfungsi sebagai penurun ‘voltase tegangan’ daya vital kehidupan yang begitu luar biasa besar dari alam Adi, curahan ini pertama-tama diserap penuh oleh kesadaran Logos (trimukti/tritunggal), kemudian diteruskan ke tujuh saluran purba dalam bentuk personafikasi tujuh Archangel atau Malaikat Agung utama, dimana daya ini diserap oleh mereka, hingga kemudian di turunkan lagi ke hierarki agen-agen keberadaan di bawahnya, diserap kembali, diturunkan kembali, diserap kembali, hingga sampai ke objek-objek celestial besar seperti matahari, bulan, bintang, planet-planet, hingga kemudian pada gilirannya nanti akan mencapai keberadaan makhluk-makhluk di tataran alam yang paling rendah, seperti manusia, roh-roh alam, hewan,
tumbuhan, mineral dan kerajaan-kerajaan elemental. Tanpa adanya keberadaan dari hierarki agen-agen semesta yang sanggup menampung dan mengalirkan daya luar biasa dahsyat itu secara estafet atau bergiliran turun temurun, tentunya akan menimbulkan bencana besar bagi bentuk-bentuk keberadaan yang lebih rendah. Apa yang sekiranya bakal terjadi? tentu saja keberadaan ini tidak akan dapat terjadi, daya kehidupan yang sedemikian dahsyat itu tadi akan malah menjadi sebuah instrumen kehancuran total, sebuah maha pralaya, yang akan mencerai beraikan medan evolusi berikut semua makhluk yang ada di dalamnya. Seperti halnya tegangan listrik yang sangat tinggi, tidak akan dapat langsung masuk ke televisi atau telepon genggam kita tanpa disesuaikan terlebih dahulu dari sumbernya, apa yang ada di atas, adalah cerminan dari semua fenomena yang dapat kita amati di bawah. Inilah yang dinamakan dengan kaidah hirarki dalam pemahaman spiritual yang esoterik. Semua mendapatkan tempatnya masing-masing dalam tangga keberadaan alam semesta, selalu ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, selalu ada yang lebih besar dan kecil, selalu ada yang lebih luas dan lebih sempit, karena memang itu semua adalah bagian dan cerminan langsung dari keberadaan alam semesta, sebagai medan evolusi kesadaran. Hal ini adalah sebuah keniscayaan.
Terdapat tujuh lapisan alam, yang tentu saja berkorespondensi dengan tujuh lapisan badan yang dimiliki oleh setiap manusia, Ketujuh lapisan itu adalah :
Nama Lapisan Alam Lapisan Badan Manusia ADI (tataran alam tertinggi/Ilahiah)
Anupadaka Monad
Atma Budhi Manas
Kausal (Self) Manas rendah Badan Mental
Astral Badan Astral Etherik Lapisan Etheris
Fisik Badan Fisik
Dalam kesempatan kali ini, kita tidak membahas mengenai susunan alam-alam yang ada secara lebih detail, hal ini dikarenakan oleh keterbatasan waktu dan ruang lingkup pembahasan buku ini. Di masa yang akan datang, penulis buku mengharapkan untuk dapat menuliskan dengan lengkap dan komprehensif mengenai susunan ketujuh alam yang ada, para penghuninya dan berikut sifat-sifat yang ada di dalamnya.
Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih memfokuskan pembahasan pada ketujuh lapisan badan manusia yang sifatnya lebih esoteris atau pemahaman yang terbatas.
Kalangan Profane (duniawi) mungkin hanya mengenal pembagian struktur konstitusi badan manusia yang sangat umum dan tidak rinci, seperti badan, jiwa dan roh. Kebanyakan dari mereka ini malah menghubungkan jiwa dengan kondisi
psikologi fisik. Pemahaman ini tidak dapat dibilang salah seratus persen, namun dapat dikatakan kurang tepat dan detail. Penulis tidak menyalahkan kaum profane yang memang tidak pernah mendapatkan pemahaman esoteris mengenai susunan atau konstitusi badan mereka sendiri, dan informasi terbaik yang mereka dapatkan selama ini, sepertinya juga diperoleh secara samar-samar dari konsep-konsep eksoteris (luar) seperti tafsir kitab suci agama, khotbah minggu pagi dan lain-lain.
Ketujuh konstitusi badan manusia ini sebenarnya bukanlah sebuah pemahaman yang baru atau pemahaman ‘new age’, namun telah sangat lama ada, semenjak era zaman yang mungkin juga telah mendahului zaman peradaban bangsa manusia pada saat ini. Pemahaman ini telah didiktekan langsung oleh ketiga makhluk misterius pada golongan yang terinisiasi pada era awal peradaban Atlantis yang lalu dan pengetahuan rahasia ini diturunkan turun temurun hingga kemudian masih bisa ditemukan tercecer pada salah satu kitab tertua dari zaman kita yang masih tersisa dewasa ini, yaitu Taittiriya Upanishad.
Di bawah ini adalah tujuh konstitusi badan manusia dalam pemahaman Esoteris :
1. Badan Fisik
Lapisan terluar dari kesadaran adalah apa yang biasa kita sebut sebagai badan fisik. Badan fisik yang sangat kasat mata ini, dapat dengan mudah terlihat, diamati dan dirasakan dengan indera-indera terluar kita. Badan fisik dengan kelima indera-indera kasarnya berkorelasi langsung dengan habitat keberadaan fisik yang ada di sekelilingnya. Lapisan kulit terluar dari kesadaran individual yang sangat padat ini, memiliki sifat yang sangat terbatas, berubah-ubah dan fana atau tidak abadi. Dalam pemahaman esoteris, kita tidak
pernah mengidentifikasikan diri dengan badan fisik ini. Badan fisik hanyalah sebuah wahana atau kendaraan dari kesadaran kita yang sejati. Badan fisik merupakan sebuah instrumen kesadaran agar dapat ‘mengada’ atau menjadi ada dalam semesta materi ini. Badan ini, dengan semua indera dan organnya, secara esoteris tak lebih dipahami sebagai wadah untuk berevolusi. Badan fisik memiliki trinitasnya sendiri, atau tritunggalnya sendiri, yaitu badan fisik, badan astral dan badan mental rendah (konkret), dalam ilmu esoteris tritunggal yang lebih rendah ini dikenal dengan istilah Personalitas. Personalitas merupakan diri yang tidak abadi, rentan dan terbatas. Dalam rangkaian perjalanan reinkarnasi, kita akan memperoleh beraneka macam varian personalitas, berikut dengan semua lakon atau peran yang harus dijalani. Setiap personalitas yang telah ditinggalkan lewat kematian, akan dilahirkan lagi dalam bentuknya yang berbeda di kehidupan yang berikutnya. Laksana pakaian yang dipakai dan ditanggalkan kembali, begitulah siklus kehidupan reinkarnasi kita dengan berbagai diri personalitas yang beraneka ragam.
2. Lapisan Etherik
Lapisan ini adalah lapisan daya prana atau daya vital kehidupan yang membungkus badan fisik kita. Letaknya sekitar 10-15 cm dari kulit badan terluar kita. Lapisan halus ini sebenarnya masih dapat dikatakan sebagai hal yang sifatnya fisik, namun karena tersusun oleh elemen-elemen yang sifatnya lebih halus dari gas, atau yang biasa dikenali dengan sebutan Zat Ether atau Etherik, maka diperlukan pelatihan tertentu sebelum mata fisik kita dapat melihatnya. Tidak memerlukan kemampuan bathin apapun untuk dapat melihat dan merasakannya, karena hal yang sifatnya fisik, tentu saja berkorelasi dengan indera-indera fisik.
Bahkan, selubung etherik ini juga dapat dilihat dengan bantuan teknologi terbaru yang dikenal dengan metode fotografi Kirlian. Lapisan fisik terhalus yang kasat mata ini juga merupakan medan emanasi zat buangan dari proses pengolahan daya prana tubuh fisik yang disekresikan lewat pori-pori kulit di seluruh badan fisik yang biasa dikenal dengan sebutan ‘aura’. Warna-warna yang terlihat lewat mata fisik yang terlatih berikut juga melalui metode fotografi Kirlian ini, sebenarnya hanyalah merupakan hasil radiasi dari pengolahan daya prana badan fisik yang berkorelasi dengan kesehatan dan hal-hal fisik, namun apa yang terlihat sering kali dipahami secara kurang tepat sebagai radiasi atau pancaran dari badan-badan lain yang lebih halus seperti badan astral dan mental. Radiasi dari badan-badan lebih halus yang sifatnya non-fisik, pastinya tidak akan dapat dideteksi oleh instrumen-instrumen dan indera-indera fisik. Hal-hal yang sifatnya non fisik secara kaidah hanya dapat dirasakan oleh instrumen atau indera yang tentu saja sifatnya juga non fisik. Inilah sebabnya, diperlukan pemahaman esoterik dalam menyikapi fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita, agar tidak kemudian melahirkan konsep-konsep setengah matang yang sifatnya psudo.
Lapisan Etheric ini juga menjadi tempat bercokolnya manifestasi titik-titik pusat energi dalam badan fisik yang biasa disebut sebagai titik-titik Cakra. Anda tidak akan menemukan titik-titik cakra ini terkubur dalam organ bagian dalam anda, namun sentra-sentra energi ini dapat ditemukan di lapisan etherik badan fisik kita. Perlu diingat di sini, kalau yang dapat teramati dari lapisan etheris adalah bagian terluar dari sistem cakra yang berakar di lapisan badan-badan yang lebih halus lainnya, seperti badan astral dan badan mental. Titik-titik cakra ini masih bisa diamati dengan instrumen-instrumen fisik seperti lewat metode
fotografi kirlian ataupun di rasakan dengan indera-indera sentuhan. Adapun titik-titik cakra ini merupakan sebuah pintu masuk dari saluran-saluran halus yang menghubungkan badan fisik kita dengan badan-badan halus lain. Saluran-saluran yang tidak kasat mata ini selalu mengalirkan daya-daya prana yang kita peroleh dari makanan dan sinar matahari, ke lapisan badan-badan halus yang lain.
Dalam spiritualitas Jawa atau kejawen, lapisan etherik ini sering kali disebut sebagai kembaran atau ‘ari-ari’ kita, yang secara eksoteris kemudian dimaknai dengan bentuk ari-ari fisik sebenarnya yang harus diberikan beberapa ritual tertentu sebelum dikuburkan, paska kelahiran. Semua orang terlahir dengan ‘kembaran’ ini, yang kadang dimaknai sebagai ‘cetakan’ dari badan fisik kita, yang muncul bahkan sebelum fase zigot terjadi dalam kandungan.
3. Badan Astral
Lapisan badan astral merupakan sebuah lapisan yang tersusun dari elemen-elemen astral yang sifatnya non fisik. Karena sifatnya yang non fisik, untuk melihatnya diperlukan indera-indera yang sifatnya juga non-fisik. Lapisan astral tidak dapat ditangkap oleh instrumen-instrumen fisik seperti kamera, detektor magnetik atau apapun yang sifatnya fisik. Jadi apabila memang ada diperlihatkan bahwa instrumen-instrumen yang disebutkan sebelumnya tadi menangkap sebuah fenomena aneh tertentu yang mensugestikan adanya kehadiran dari apa yang kaum profane pikir sebagai penampakan ‘roh’ atau ‘hantu’, sejatinya apa yang terlihat itu adalah sebuah fenomena etherik, yang mungkin saja berhubungan atau sama sekali tidak berhubungan dengan jiwa-jiwa mereka yang telah mendahului kita.
Lapisan astral ini tersusun oleh materi-materi astral dari kerajaan elemental yang berasal dari tataran alam astral atau alam
bhur atau alam Barzah. Sebagian besar unsur yang membentuknya
adalah elemental yang berkaitan dengan unsur hasrat atau keinginan. Alam Astral atau yang juga biasa disebut oleh kaum profane sebagai alam supranatural karena posisinya yang mereka pikir terletak di ‘bawah’ alam kita, sebenarnya tidak berhubungan dengan apa yang diasumsikan sebagai neraka. Dimensi astral sebenarnya tidak terletak di ’bawah’ atau di ‘atas’ alam kita, dimensi astral merupakan sebuah ‘tempat’ atau ‘alam’ yang berada di sekitar kita, saling berkaitan dengan dunia fisik dan di beberapa titik tertentu benar-benar dapat dikatakan saling ber-penetrasi dengan dimensi fisik. Dimensi astral dan juga mungkin dimensi-dimensi lain, tidak dapat dipahami sebagai sebuah tempat yang sifatnya tetap. Dimensi astral merupakan sebuah dimensi yang sangat cair dan penuh dengan perubahan, tidak mengenal batasan apapun dan memiliki kaidah hukum ‘waktu’ yang lebih cair juga. Untuk dapat memahami hal ini, mungkin anda dapat membayangkan ketika anda mendengar siaran radio di dalam mobil sewaktu sedang berangkat ke tempat kerja di pagi hari. Ketika anda mendengar suara lagu atau penyiar lewat perangkat radio di mobil anda, mungkin ada sebuah lagu atau sebuah acara talk show yang menggiring anda ‘memasuki’ sebuah ‘tempat’ dalam pikiran anda yang sifatnya tumpang tindih dengan pandangan yang tertera pada kaca depan mobil anda. Anda dapat melihat ramainya lalu lintas yang ada di hadapan anda, namun secara bersamaan anda mungkin dapat membayangkan suasana tertentu atau ingatan tertentu di masa lalu yang berhubungan dengan alunan irama lagu tertentu. Apakah anda tengah memasuki sebuah tempat ? atau apakah yang anda ‘lihat’ itu merupakan hal yang sifatnya
nyata atau tidak nyata? demikian juga apa yang dapat kita pahami dengan dimensi astral. Sifatnya adalah di antara ‘ada’ dan ‘tiada’, di antara sebuah ‘tempat’ atau ‘non-lokalitas’ yang samar. Untuk memudahkan bahasa penyampaian, penulis akan menggunakan kata ‘alam’ atau loka.
Alam atau Astral Loka ini, seperti halnya dimensi fisik, memiliki sifat dan kaidahnya sendiri. Bahkan memiliki habitat dan penghuninya sendiri, namun untuk kesempatan kali ini penulis tidak membahas lebih lanjut mengenai hal ini dan berharap akan mendapatkan kesempatan lain untuk membahasnya di kemudian hari.
Kembali lagi, lapisan astral ini sangat berkaitan dengan unsur-unsur hasrat dan keinginan dalam konstitusi badan manusia. Di lapisan badan ini, terdapat juga titik-titik sentra energi berikut dengan semua jalur meridian yang lebih vivid atau nyata daripada apa yang dipancarkan oleh ‘kembaran’ kita atau badan etherik. Badan Astral juga memancarkan radiasinya sendiri yang dikenal dengan aura Astral. Aura Astral memiliki susunan warna-warna yang jauh lebih jernih dan cerah ketimbang dari apa yang dapat diamati dari badan etherik lewat metode kirlian. Dibutuhkan kemampuan clairsentience (ekstra sensorik yang berhubungan dengan
rasa) yang lebih tinggi untuk dapat mengamati atau lebih tepatnya merasakan warna-warni aura yang terpancar dari lapisan yang
sangat halus ini. Apabila di lapisan etheris, radiasi aura yang terpancar berhubungan dengan kesehatan atau vitalitas seseorang, pada lapisan yang lebih ‘dalam’ ini, emanasi aura yang terpancar memiliki korelasi langsung dengan getaran-getaran halus dari diri
personalitas yang tidak terlihat oleh mata fisik, seperti : mood, niat,
tingkatan kesadaran, perkembangan evolusi spiritual dan lain-lain. Dimensi astral merupakan sebuah ‘loka’ atau ‘alam’ yang
tidak membutuhkan ungkapan atau ekspresi diri yang sifatnya verbal. Sifat komunikasi yang ada di sana adalah non verbal, belum sepenuhnya dapat dikatakan menggunakan metode telepati meskipun sudah mendekati ke arah sana. Metode komunikasi astral adalah dengan menggunakan vibrasi dan pancaran warna. Indera ‘penglihat’ dan sekaligus ‘perasa’ di dalam astral loka adalah cakra solar plexus atau cakra ‘limpa’. Oleh karena itu, banyak ilmu-ilmu kebathinan tradisional yang secara aktif mempergunakan cakra ini untuk dapat masuk dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk yang berdiam di alam astral.
4. Badan Mental
Badan mental adalah lapisan badan terhalus dalam konstitusi susunan badan manusia, karena tersusun oleh elemen-elemen mental yang sangat halus, tidak banyak orang yang memiliki kejernihan ‘mata’ bathin untuk mempersepsikannya. Badan mental sendiri terbagi atas dua, yaitu : 1. Badan mental rendah yang sifatnya lebih konkret, 2. Badan Mental yang lebih tinggi yang memiliki sifat lebih abstrak.
Badan mental rendah sangat berkaitan erat dengan organ berfikir dalam badan fisik manusia, yaitu otak. Beberapa kalangan dalam lingkaran pemahaman esoteris mengatakan kalau lapisan mental rendah bisa dibilang beremanasi sebagai pikiran-pikiran kita yang sifatnya lebih konkret dan materialistis. Tanpa kehadiran dari lapisan ini, otak tidak akan memiliki kemampuan untuk melahirkan berbagai ide dan gagasan dan hanya berfungsi sebagai organ tubuh yang mengontrol gerakan dan fungsi biologis lain, seperti sistem saraf tulang belakang, sedangkan lapisan astral biasanya mengendalikan sistem tubuh yang sifatnya sekretif. Perlu dipahami di sini, otak hanyalah sebuah organ badan biologis yang
dapat kita bandingkan dengan instrumen-instrumen fisik lainnya seperti sebuah kalkulator dan komputer. Memang organ berpikir ini merupakan sebuah organ yang lebih rumit dari jantung atau paru-paru, namun tidak akan dapat berfungsi secara prinsipalitas apabila tidak memiliki lapisan mental yang menyelubunginya. Lapisan tipis yang menyelubunginya ini berfungsi sebagai sebuah katalisator untuk memungkinkan timbulnya proses-proses kinerja otak internal yang dapat melahirkan adanya suatu kesadaran. Tanpa lapisan ini, organ ini hanya akan mampu menjalankan fungsi-fungsinya secara otomatis tanpa ada sesuatu yang dapat ‘mengendalikan’ atau ‘mengarahkan’ fungsi-fungsi kognitif yang ada di dalamnya. Sebuah prosesor di dalam komputer dapat memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memproses semua informasi yang ia terima dengan sangat efisien, namun proses kognitif tidak akan terjadi tanpa hadirnya sebuah kesadaran. Proses tersebut mungkin akan melahirkan perhitungan angka-angka rumit, berbagai kumpulan data dan analisa, namun apa artinya semua hasil itu tanpa ada suatu keberadaan untuk mengamati, menarik kesimpulan dan mengekspresikannya? Inilah yang kemudian kita pahami sebagai Artificial Intelegence atau kecerdasan buatan. Sebuah instrumen yang cerdas dan efisien, namun hollow atau kosong, hanya sebuah benda, tidak lebih dan tidak kurang.
Lapisan mental rendah juga memiliki fungsi sebagai sebuah jembatan penghubung antara prinsipalitas yang sifatnya terestial atau fisik (termasuk di dalamnya sistem motorik, proses pemikiran konkret dll) dengan prinsip-prinsip keilahian yang masih terletak satu tingkatan yang lebih tinggi daripadanya. Tanpa kehadiran lapisan perantara yang menghubungkan aspirasi-aspirasi Ilahiah dengan badan yang memiliki kualitas sifat-sifat hewaniah, maka kita tidak lebihnya sama seperti seekor binatang yang berbudaya.
Tidak akan ada ekspresi-ekspresi dari kesadaran yang lebih tinggi seperti kebaikan, dorongan untuk berevolusi, cinta kasih, pengorbanan, semangat melayani sesama, aspirasi-aspirasi spiritual dan lain-lain, kita hanya akan tunduk pada pikiran rendah badan fisik yang sifatnya instingtif, responsif dan egoistik. Inilah sebabnya dalam pemahaman esoteris, seseorang tidak akan pernah mengindentifikasikan dirinya dengan badan fisiknya, karena ia telah memahami bahwa badan fisik hanyalah sebuah wahana, sebuah instrumen dari prinsipalitas-prinsipalitas lain yang sifatnya lebih halus dan lebih tinggi.
Lapisan badan mental sering kali juga dikatakan memiliki sifat yang dual, atau ganda. Ia dapat menangkap getaran-getaran yang sifatnya badaniah dan getaran-getaran yang sifatnya ilahiah. Di sinilah medan peperangan abadi itu terjadi. Inilah medan peperangan Kurukshetra, dimana dua musuh bebuyutan abadi berhadap-hadapan. Di satu sisi adalah pihak Pandawa yang mewakili prinsipalitas Ilahiah yang sifatnya abadi, luhur dan murni, dan di sisi lain adalah pihak kurawa yang mewakili prinsipalitas fisik yang sifatnya egoistik, sementara (fana) dan rendah. Di sepanjang kehidupan reinkarnasi seseorang yang terwujud dalam diri personalitasnya, ia akan berada di medan peperangan abadi ini. Badan mentalnya akan sepenuhnya terekspose dengan getaran-getaran yang dipancarkan dari ‘bawah’ dan dari ‘atas’. Kaum Profane atau Duniawi mungkin akan melihat kutub dual atau ganda ini sebagai wujud nyata dari pertimbangan moralitas, atau apa yang dilihat sebagai yang ‘baik’ dan yang ‘tidak baik’. Namun, kalangan esoteris melihatnya sebagai dua kutub dorongan yang sebenarnya saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, dan tidak melihat salah satu kutub atau sisi dengan label baik atau tidak baik. Keduanya hanyalah proyeksi
dari dua kekuatan alam, yaitu kekuatan fisik dan kekuatan Roh. Kekuatan fisik memiliki elemen-elemen fisik yang sifatnya kasar, tidak abadi dan tidak murni dan kekuatan Roh memiliki elemen-elemen yang sifatnya sangat halus, abadi dan luhur. Kekuatan fisik adalah dorongan di balik timbulnya semua keberadaan yang sifatnya terlihat atau duniawi dan kekuatan Roh merupakan dorongan untuk berevolusi yang diwarisi oleh setiap makhluk yang sudah memiliki kesadaran individu (baca : manusia). Tanpa adanya kedua kekuatan yang saling ‘berseberangan’ ini, maka alam semesta ini tidak akan mungkin untuk bermanifestasi dan bahkan semua bentukan juga tidak akan dapat bermanifestasi. Keberadaan merupakan hasil langsung dari daya tarik menarik dari kedua kekuatan ini, tidak ada hal yang benar-benar baik atau benar-benar buruk di alam semesta yang relatif ini, semua adalah hal yang relatif. Kita tidak dapat menemukan keabsolutan di alam yang telah terdiferensiasi dan termanifestasi, keabsolutan hanya didapatkan dalam kegelapan ‘air’ sebelum titik kesadaran yang timbul di tataran alam Adi.
Badan mental yang terlalu condong pada tarikan dorongan yang sifatnya materialistik, tidak akan dapat naik melampaui badan mental yang rendah. Selamanya ia akan berada dalam pengaruh kaidah-kaidah yang sifatnya fisik. Karena semua hal fisik memiliki sifat-sifat yang tidak abadi, penuh perubahan dan tidak memuaskan, maka mereka yang materialistik akan lebih dekat dengan penderitaan. Sedangkan badan mental yang sudah mulai memiliki kemampuan untuk tidak selalu tunduk pada dorongan-dorongan yang sifatnya materialistik, naluriah dan sementara, akan mulai dapat ‘melihat’ hal-hal lain yang memiliki aspek-aspek yang lebih abadi, lebih luhur dan lebih permanen, secara perlahan ia akan memiliki pandangan bathin atau insight
yang lebih tajam, dimana lewat mata bathinnya yang perlahan terbuka ini atau lewat mata spiritualnya ini, ia mulai menyadari kalau sebenarnya masih ada hal-hal lain yang sifatnya non fisik, yang selama ini belum ia sadari sepenuhnya, dalam tahapan ini ia akan mulai untuk mendisasosiasikan Diri dengan wujud fisiknya (diri personalitasnya yang ilusif) beserta semua proses-proses pikiran rendahnya dan mulai mengarahkan pandangan matanya ke dalam, jauh dari semua fenomena-fenomena luar diri yang sifatnya ilusif. Kemampuan bathin ini, adalah kemampuan spiritual sebenarnya yang berproses di dalam diri, dalam lapisan badan mental seseorang yang sepenuhnya tersembunyi di balik kulit, tulang dan semua organ-organ badan fisik. Untuk mencapai hal ini, biasanya akan melalui banyak rangkaian reinkarnasi dari satu diri personalitas ke personalitas lain, dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan yang lain.
Jadi kembali lagi, badan mental merupakan sebuah medan, dari dua kekuatan yang saling ‘berseberangan’, yang selalu tumpang tindih dan bergantian mendominasi proses kesadaran jiwa yang dibalut kulit. Kadang dorongan yang lebih mulia ‘menang’ namun tak sering juga dorongan yang sifatnya materialistis akan cenderung untuk lebih mendominasi. Apa yang terjadi di medan peperangan ini, secara langsung akan diproyeksikan ke dalam sosok-sosok diri personalitas kita, yang juga berkorelasi dengan hal-hal yang lebih mudah untuk diamati dari ‘luar’ seperti gaya hidup, pilihan hidup, aspirasi dan kecenderungannya. ‘Pergulatan’ bathin ini berlangsung setiap waktu selama masa kehidupan seseorang di dalam dunia fisik, hingga saatnya nanti akan tiba, dimana sinar matahari kesadaran yang lebih tangguh dan mulia akan terbit dari langit yang sebelumnya kelam, dimana sinar yang cemerlang itu akan terbit di atas diri manusia yang telah memenangkan
pergulatan panjangnya, di mana Diri yang sejati akan bangkit dari sisa-sisa abu kumpulan diri personalitas dari medan peperangan antara tarikan Materi dan Roh. Sosok yang mulia ini dalam esoteris dikenal dengan sosok “Augoeides” yang artinya adalah Manusia Ilahiah yang benar-benar baru dapat disebut sebagai manusia yang sebenarnya.
5. Badan Mental yang lebih tinggi atau Badan Kausal
Badan Kausal adalah Diri yang sebenarnya, dalam pemahaman esoteris dipahami sebagai Diri Individualitas yang sejati. Badan Kausal tersusun dari tiga atom permanen tataran alam yang lebih tinggi, yaitu alam Atma-Buddhi-Manas. Inilah yang secara eksoteris atau pemahaman luar diartikan dengan istilah Jiwa. Perlu dipahami di sini, selama rangkaian kehidupan reinkarnasi, Badan Kausal tidak pernah benar-benar dilahirkan dan mati dalam alam fisik, seperti apa yang mungkin dipahami oleh golongan profane atau duniawi. Badan Kausal tetap berada di alamnya sendiri, dalam tataran alam tinggi menakjubkan yang disebut dengan alam Kausal. Badan Kausal inilah yang juga sering disebut sebagai Sang Ego, “Guru Sejati”, “Ingsun Sejati”, “The
Self atau Diri yang sebenarnya”, Sugma, Jiwa, Jiva dan lain-lain.
Badan kausal merupakan perwujudan langsung dari tritunggal semesta, yaitu Kehendak, Intuisi dan Intelektual. Karena tersusun oleh elemen-elemen tataran alam yang sangat tinggi, badan Kausal memiliki rentang usia yang sangat panjang apabila dibandingkan dengan lapisan badan-badan lain yang lebih rendah. Badan Kausal dapat dilihat sebagai hal yang abadi dalam perspektif diri personalitas yang fana, namun apabila dilihat dari sudut pandang Monad yang berada di lapisan alam yang masih lebih tinggi lagi, badan Kausal merupakan hal yang relatif abadi. Dikatakan sebagai
hal yang relatif abadi karena badan Kausal suatu hari nanti juga akan hancur dan musnah, disebutkan ketika Ketiga aspek ilahiah yang ada di dalam dirinya telah memiliki daya yang cukup untuk mengenali Monadnya, maka kesadaran akan terlepas dari kungkungan badan Kausal yang selama ini memenjarakannya, bagaikan kupu-kupu yang lepas dari kepompongnya dan terbang bebas menuju ke rumahnya di angkasa luas, jiwa yang terbebaskan dari samsara ini dikenal dengan istilah “Jivan Mukti” atau Jiwa yang telah Mukti atau bebas.
Badan Kausal tidak pernah terlahirkan, tidak pernah hancur oleh kematian, semua keberadaannya di alam-alam yang lebih rendah hanyalah merupakan proyeksi yang ia siratkan di atas lautan materi. Dalam pemahaman esoteris, Badan Kausal dan keempat badannya yang lebih rendah dihubungkan dengan sebuah ‘tali’ Ilahiah yang dinamakan dengan Sutratman. Dimana lewat saluran tipis ini, daya-daya dapat dialirkan dari Diri yang sebenarnya, tercurah pada keempat lapisan badan-badan yang tenggelam dalam lautan materi selama periode reinkarnasi. Badan Kausal adalah Diri kita yang sebenarnya, yang sangat menakjubkan dalam tataran alamnya sendiri. Alam Kausal adalah alam Mahatnya Semesta Raya, atau Alam Intelektual dari Semesta, dimana alam ini juga dihuni oleh makhluk-makhluk Ilahiah yang sangat tinggi evolusi dan kesadarannya. Tataran alam ini tentu saja tidak dapat terbayangkan oleh kita, tidak ada lagi halangan ruang dan waktu, tidak ada lagi halangan untuk berkomunikasi, semuanya terjadi secara serentak dan bersama-sama. Karena letaknya yang sangat dekat dengan Alam Monad, maka sifat alam Kausal adalah relatif nyata, sangat lebih nyata apabila dibandingkan dengan tataran alam-alam suram di bawahnya seperti alam mental rendah dan astral, meskipun bagi kita yang