• Tidak ada hasil yang ditemukan

Badan Mental yang lebih tinggi atau Badan Kausal

Dalam dokumen Kunci Esoteris Satu (Halaman 50-61)

TUJUH SUSUNAN BADAN MANUSIA

5. Badan Mental yang lebih tinggi atau Badan Kausal

Badan Kausal adalah Diri yang sebenarnya, dalam pemahaman esoteris dipahami sebagai Diri Individualitas yang sejati. Badan Kausal tersusun dari tiga atom permanen tataran alam yang lebih tinggi, yaitu alam Atma-Buddhi-Manas. Inilah yang secara eksoteris atau pemahaman luar diartikan dengan istilah Jiwa. Perlu dipahami di sini, selama rangkaian kehidupan reinkarnasi, Badan Kausal tidak pernah benar-benar dilahirkan dan mati dalam alam fisik, seperti apa yang mungkin dipahami oleh golongan profane atau duniawi. Badan Kausal tetap berada di alamnya sendiri, dalam tataran alam tinggi menakjubkan yang disebut dengan alam Kausal. Badan Kausal inilah yang juga sering disebut sebagai Sang Ego, “Guru Sejati”, “Ingsun Sejati”, “The

Self atau Diri yang sebenarnya”, Sugma, Jiwa, Jiva dan lain-lain.

Badan kausal merupakan perwujudan langsung dari tritunggal semesta, yaitu Kehendak, Intuisi dan Intelektual. Karena tersusun oleh elemen-elemen tataran alam yang sangat tinggi, badan Kausal memiliki rentang usia yang sangat panjang apabila dibandingkan dengan lapisan badan-badan lain yang lebih rendah. Badan Kausal dapat dilihat sebagai hal yang abadi dalam perspektif diri personalitas yang fana, namun apabila dilihat dari sudut pandang Monad yang berada di lapisan alam yang masih lebih tinggi lagi, badan Kausal merupakan hal yang relatif abadi. Dikatakan sebagai

hal yang relatif abadi karena badan Kausal suatu hari nanti juga akan hancur dan musnah, disebutkan ketika Ketiga aspek ilahiah yang ada di dalam dirinya telah memiliki daya yang cukup untuk mengenali Monadnya, maka kesadaran akan terlepas dari kungkungan badan Kausal yang selama ini memenjarakannya, bagaikan kupu-kupu yang lepas dari kepompongnya dan terbang bebas menuju ke rumahnya di angkasa luas, jiwa yang terbebaskan dari samsara ini dikenal dengan istilah “Jivan Mukti” atau Jiwa yang telah Mukti atau bebas.

Badan Kausal tidak pernah terlahirkan, tidak pernah hancur oleh kematian, semua keberadaannya di alam-alam yang lebih rendah hanyalah merupakan proyeksi yang ia siratkan di atas lautan materi. Dalam pemahaman esoteris, Badan Kausal dan keempat badannya yang lebih rendah dihubungkan dengan sebuah ‘tali’ Ilahiah yang dinamakan dengan Sutratman. Dimana lewat saluran tipis ini, daya-daya dapat dialirkan dari Diri yang sebenarnya, tercurah pada keempat lapisan badan-badan yang tenggelam dalam lautan materi selama periode reinkarnasi. Badan Kausal adalah Diri kita yang sebenarnya, yang sangat menakjubkan dalam tataran alamnya sendiri. Alam Kausal adalah alam Mahatnya Semesta Raya, atau Alam Intelektual dari Semesta, dimana alam ini juga dihuni oleh makhluk-makhluk Ilahiah yang sangat tinggi evolusi dan kesadarannya. Tataran alam ini tentu saja tidak dapat terbayangkan oleh kita, tidak ada lagi halangan ruang dan waktu, tidak ada lagi halangan untuk berkomunikasi, semuanya terjadi secara serentak dan bersama-sama. Karena letaknya yang sangat dekat dengan Alam Monad, maka sifat alam Kausal adalah relatif nyata, sangat lebih nyata apabila dibandingkan dengan tataran alam-alam suram di bawahnya seperti alam mental rendah dan astral, meskipun bagi kita yang

berada dalam alam fisik, alam astral dan alam mental tentu saja akan terkesan lebih nyata dan lebih intens karena keabsenan badan fisik yang merupakan halangan terbesar untuk dapat menikmati semuanya secara lebih nyata. Selama berada di wahana fisik, kita tidak pernah benar-benar dapat ‘bersentuhan’ atau berhubungan langsung antara satu dengan yang lainnya, semua yang kita rasakan atau kita lihat, selalu dimediasi oleh indera fisik, kesadaran dalam diri tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk berhubungan langsung dengan semua yang dialaminya. Semua pengalaman tersebut akan menjadi sedikit lebih vivid ketika kita berada di alam Astral, dimana lapisan astral memiliki sifat yang lebih halus dan transparan apabila dibandingkan dengan lapisan fisik yang lebih kasar, sehingga dengan demikian kesadaran dapat lebih dimungkinkan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih ‘intens’ dari semua hal yang ditemuinya, dan keintensan ini akan semakin jelas ketika berada di dalam lapisan badan mental yang tersusun oleh materi yang lebih halus lagi ketimbang elemen-elemen astral. Namun, tetap saja semua sensasi itu tidak akan dapat mengalahkan kemegahan dan keindahan yang menakjubkan dari tataran alam Kausal, dimana di sana adalah tempat Diri kita yang sebenarnya tinggal dan bertahta. Sayangnya, sebagian besar badan Kausal manusia yang berada di sana masih belum sepenuhnya berkembang, hal ini diperlihatkan oleh variasi cahaya yang dapat diamati dari satu badan kausal ke badan kausal yang lain. Beberapa badan kausal masih terlihat memiliki semburat warna dan cahaya yang masih sangat temaram, sementara beberapa lain mungkin memiliki tingkat pancaran cahaya yang sedikit lebih cerah, namun kebanyakan dari badan kausal manusia masih berada dalam kondisi dorman atau tertidur.

padat populasinya apabila dibandingkan dengan alam-alam lain. Di alam Kausal, terdapat semua Badan asli dari semua Diri sejati dari manusia-manusia yang pernah ada atau yang telah terindividualisasi. Beberapa kesadaran Kausal mungkin sedang berada di badan fisik atau sedang menjalani kehidupan duniawinya, sementara beberapa lainnya tengah berada di alam Astral, dan mungkin juga berada di tataran alam mental rendah. Sebagian lainnya mungkin sudah kembali ke Dirinya sendiri, sibuk mengumpulkan semua abstraksi pengalaman yang diperoleh dari kehidupan diri personalitasnya yang terakhir, sebelum semua proses internal itu akan dilanjutkan kembali oleh kelahiran kembali atau pencelupan kembali ke dalam kolam materi. Dari kesaksian beberapa orang yang pernah mencapai alam ini dalam meditasi dalamnya, Badan Kausal terlihat seperti bulatan-bulatan cahaya dengan variasi warna-warni di dalamnya dengan tingkat keintensifitasan yang berbeda-beda, tidak ada bentuk wajah di sana, atau perpisahan jenis kelamin duniawi. Semuanya adalah pecahan cahaya-cahaya dalam jumlahnya yang tak terhitung. Bulatan cahaya yang satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh sejenis lapisan film tipis yang terbuat dari bahan materi yang luar biasa indah. Konon dikatakan, setelah pencerahan tercapai, inti jiwa yang terkandung di dalamnya akan memiliki kemampuan yang cukup untuk memecah lapisan badan terhalusnya ini, yang selama ini sudah setia menemani di sepanjang rangkaian reinkarnasinya selama ribuan tahun, menjadi terbebaskan, menjadi Jivan Mukti yang terus terbang ke atas, menyatu dengan Monadnya sendiri. Inilah yang dinamakan dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti dalam ilmu Kejawen atau Berpulang ke Rahim Allah atau Rumah Bapa dalam pemahaman yang mungkin lebih eksoteris.

Jiwa-jiwa besar atau Mahatma, yaitu jiwa-jiwa yang telah terbebaskan, dikenal dengan istilah golongan Adepta atau Master dalam pemahaman esoteris. Mereka ini adalah golongan terpilih dari umat Manusia yang telah menyelesaikan evolusi terestial atau duniawinya. Mereka telah menjadi golongan Manusia Ilahiah atau Augoeides yang sangat perkasa, dimana tidak ada prinsip-prinsip duniawi yang dapat menyentuhnya. Mereka telah mempelajari semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi benar-benar sadar dan terjaga dalam badan Kausalnya masing-masing. Sosok-Sosok Adepta ini tampak sebagai Bola-Bola besar cemerlang yang memiliki radiasi sinar luar biasa dan dapat bergerak bebas di semua tataran alam, termasuk alam Kausal. Mereka adalah kelompok dari badan-badan Kausal yang telah memiliki kesadaran penuh di alamnya sendiri, yang telah terjaga dalam ketiga aspek Ilahiahnya. Manusia-manusia yang sebenarnya, para putra cahaya yang muncul sebagai barisan pemenang yang sebenarnya dari dalam kolam materi yang ‘kotor’ dan ‘berlumpur’. Mereka telah menundukkan ego terestialnya, beserta semua kendaraan-kendaraannya yang lebih rendah, mereka telah sepenuhnya memiliki kendali penuh atas semua rasa dan intelektualnya, mereka telah menjadi tuan atas budak-budaknya, sosok pahlawan medan kurukestra yang telah sepenuhnya menundukkan kaum kurawa. Mereka inilah cikal bakal dari diri kita saat ini, proyeksi masa depan dari semua tahapan evolusi kita saat ini, dimana kaidah-kaidah kolam materi seperti lingkaran kelahiran dan kematian, tidak akan dapat lagi menyentuh telapak kaki kita, dimana kita dapat bangkit dari sisa-sisa abu duka dan penderitaan, bangkit dari kefanaan menuju ke kekekalan dan keluhuran yang mulia.

6. Monad

Di awal buku ini, sebelumnya telah disinggung mengenai keberadaan percikan cahaya Ilahiah yang memiliki jumlah tak terhingga di tataran alam Anupadaka yang luhur. Percikan cahaya Ilahi yang memercik sesaat setelah tahapan pradhana atau pemisahan Roh dan Materi dalam kesadaran tunggal di Alam Adi, dalam tradisi esoteris sering kali disebut sebagai Monad.

Inilah esensi dari Diri kita yang sejati atau The Real Self. Monad adalah suatu hal atau mungkin juga ‘non-hal’, yang saat ini berada di luar jangkauan pemahaman kita. Bahkan golongan para Adepta atau Masters sekalipun, hanya mendapatkan sedikit bayangan mengenai sifat dan keberadaan Monad yang sangat misterius ini. Monad berada di tataran alam yang sangat tinggi, yang dinamakan dengan alam Anupadaka. Alam Anupadaka berada satu tingkatan lebih tinggi dari Alam Kausal dan merupakan sebuah tataran alam yang sifatnya universal. Di tataran ini, Kumpulan Monad konon dikatakan berada dalam kondisi dorman, perlu diingat di sini, walaupun Monad merupakan zat percikan Ilahiah dalam potensialitasnya yang tak terbatas, namun esensi dahsyat ini hanya dapat berfungsi di alamnya sendiri yang luar biasa agung itu, unit Monad dikatakan tidak dapat memasuki tataran alam-alam yang lebih rendah, seperti misalnya alam Kausal dan lain-lain karena sifatnya yang tidak terbatas dan kekal. Di sisi lain, meskipun memiliki potensi Ilahiah yang tak terbatas dan bersifat Omniscience atau Maha Mengetahui, Monad dikatakan belum sepenuhnya menyadari keberadaan dirinya sendiri. Dalam berbagai literatur Perenial primordial, Monad dikatakan berada seperti dalam keadaan ‘tertidur’ di alamnya sendiri. Keberadaan kesadaran yang telah terbungkus oleh Material terhalus yang disebut dengan

lapisan Monad ini, belum memiliki kemampuan untuk menyadari Keilahiannya sendiri. ‘Ketidakmampuan’ yang dimaksudkan di sini adalah bukan mengimplikasikan sebuah kondisi impotensi seperti yang kita pahami di tataran fisik ini dan tidak menyiratkan sebuah cacat kapasitas. Tataran Anupadaka atau alam Omniscience yang juga adalah degradasi atau diferensiasi pertama dari alam Adi atau Ketunggalan adalah sebuah alam yang maha potensi dengan semua kebrilianannya, tidak ada hal yang ‘cacat’ atau impoten di sana, semua hal yang ada di sana merupakan hal-hal yang tak terbayangkan bagi pemahaman otak fisik kita saat ini. Kembali lagi ke kata ‘ketidakmampuan’ itu tadi, dikatakan kalau Monad berada dalam kondisi tertidur atau ‘dorman’ karena monad belum sepenuhnya menyadari keilahian yang ada di dalamnya. Dalam fase awal ini, Monad dapat diibaratkan sebagai benih-benih Ilahiah yang belum berkembang. Benih-benih ini nantinya akan dapat berkecambah dan menghasilkan tunasnya sendiri setelah esensi di dalamnya tergugah atau mulai menyadari Keilahiannya sendiri. Proses untuk menghasilkan ‘tunas’ ini dilakukan lewat satu-satunya cara atau metode yang dipahami oleh Semesta raya, yaitu lewat medan evolusi di tataran alam materi, mulai dari Kausal, Mental, Astral, hingga fisik.

Oleh karena ‘keterbatasannya’ di dimensi-dimensi yang lebih rendah, Monad membutuhkan sebuah kendaraan atau wahana untuk dapat berevolusi di tataran-tataran yang lebih rendah.

Monad memiliki 3 aspek yang identik dengan Aspek Trimurti atau Titik Kesadaran awal yang sifatnya Tritunggal, yaitu :

1. Aspek Kehendak 2. Aspek Kebijaksanaan 3. Aspek Kreativitas.

Ketiga Aspek Monad ini dipantulkan kembali dalam keberadaan Diri triad yang lebih rendah, seperti yang terdapat di badan Kausal atau Sang Ego yang sifatnya relatif abadi, yaitu :

1. Atma - Kehendak (SAT) 2. Budhi - Intuisi (ANANDA) 3. Manas - Penalaran Murni (CHIT)

Dan kemudian, Ketiga aspek Badan Kausal ini juga akan dipantulkan kembali secara kasar atau tidak akurat oleh ‘bayangan’-nya di alam-alam yang lebih rendah dalam diri personalitas yang sifatnya tidak abadi atau fana, yaitu :

1. Badan Mental - Intelek 2. Badan Astral - Emosi

Ketiga aspek dari kesadaran di alam Adi juga dipantulkan kembali oleh semua unsur-unsur elemen yang terdapat di alam fisik atau tataran terendah ini (dasar dari kolam materi) sebagai :

1. Sattva 2. Raja 3. Tamas

Diagram pantulan 3 aspek Jiwa atau Spirit ke dalam unsur-unsur materi

Apa yang ada di ‘bawah’, merupakan cerminan langsung dari apa yang ada di ‘atas’. Inilah yang dinamakan dengan kaidah hierarki semesta, dimana semua hal yang berada di tataran frekuensi yang lebih rendah merupakan representasi atau perwakilan dari hal-hal lebih tinggi lain yang tersembunyi atau occult. Perlu dipahami, dikarenakan oleh keterbatasan dari sifat-sifat alam yang ada, maka sering kali pantulan yang muncul merupakan degradasi atau kemunduran dari hal yang sebenarnya. Triad yang terdapat di Monad, tidak akan mungkin sepenuhnya dipantulkan oleh tataran alam-alam yang lebih rendah dan demikian seterusnya, hingga akhirnya pantulan yang paling kasar dan paling tidak akurat berada di alam fisik yang sangat terbatas ini.

Tidak ada yang benar-benar memahami Monad di luar dari ketiga aspeknya yang masih dapat ditangkap secara samar oleh badan Kausal atau Badan Ego dari golongan para Adepta yang kemudian menceritakan kembali pada kita apa yang dilihatnya di sana. Satu hal yang jelas, Monad memiliki hubungan langsung dengan semua badan-badannya yang lebih rendah seperti Diri individual kita atau badan Kausal, hingga ke semua wujud terendahnya dalam bentuk-bentuk personalitas yang mati dan dilahirkan kembali kedalam dunia fisik. Pada tahapan ini, kita hanya dapat berandai-andai apa yang akan terjadi ketika Monad telah sepenuhnya menyadari esensi yang ada di dalam dirinya sendiri ketika Jivan Mukti atau Jiwa-Jiwa yang terbebaskan kembali menyatu ke dalamnya. Apakah kemudian Monad akan kembali ke titik kesadaran awal di alam Adi, atau ia akan melanjutkan evolusinya ke tangga evolusi universal yang tidak akan mampu kita pahami, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya. Satu hal yang pasti, dari semua kehidupan yang berkesinambungan ini, masih banyak hal-hal yang belum kita ketahui dan tersembunyi

dari pandangan dan penalaran fisik kita. Kehidupan sehari-hari kita hanyalah cerminan dari sebagian kecil proses evolusi kesadaran yang berpusat di tataran alam Anupadaka atau alam Para Monad (kumpulan percikan Ilahiah), yang merupakan Esensi hakikat dari diri kita yang sejati. Begitu banyak susunan alam yang berada di ‘atas’ dan di ‘bawah’ kita, semuanya merupakan proses kinerja medan evolusi alam semesta yang sepenuhnya bekerja di luar kesadaran otak fisik kita yang fana dan terbatas, yang kita bisa lakukan saat ini adalah secara perlahan mendaki jalan evolusi itu, menyibakkan satu demi satu rahasia alam yang akan secara perlahan dibukakan bagi diri kita, bagi orang-orang yang mencari kesejatian, bagi mereka yang dengan tekun melakukan ziarah sakral meniti perjalanan ke dalam diri, untuk menemukan kebenaran tunggal yang universal itu. Saat ini, biarlah apa yang telah dijabarkan akan menjadi dasar dari pemahaman esoteris kita yang mungkin tidak akan pernah dipahami oleh kaum profane atau duniawi, biarlah Ilmu ini akan bersama-sama kita selami lebih mendalam dalam keheningan meditasi kita, yang akan terus meluaskan dan memperlebar pemahaman kita mengenai hal-hal luar biasa yang telah menanti di sudut-sudut semesta yang misterius.

BAB III

Dalam dokumen Kunci Esoteris Satu (Halaman 50-61)

Dokumen terkait