Munculnya garis vertikal dari atas ke bawah membelah lingkaran dan kembali ke atas
Semua hal yang bermanifestasi atau menjadi ada dalam bentuknya yang paling kasar saat ini, yaitu bentuk fisik, tidak dapat serta merta berfenomena dalam bentuknya saat ini. Semua hal tetap harus bekerja sesuai dengan kaidah alam. Semenjak fase Svabhavat itu terjadi atau pemisahan kesadaran menjadi Roh dan Materi atau Purusha dan Prakriti, maka perjalanan sucinya ke “bawah” harus segera dimulai.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)
Menurut kitab yang lebih esoteris, yaitu Purana, Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indra) mulai terbentuk secara perlahan semenjak fase shabhavat, hingga ber-aeon-aeon kemudian akan membentuk Pancatanmatra (benih semesta fisik) dan Pancamahabhuta (benih semesta yang lebih halus). Diceritakan kemudian, bagaimana benih dari semesta fisik akan memberikan kelahiran bagi elemen-elemen yang dibutuhkan untuk lahirnya alam jasmaniah atau ‘semesta yang kelihatan’ dan benih semesta yang lebih halus pada gilirannya nanti akan menyusun ketujuh alam yang ada di atas atau alam ‘Svaha’ dan ketujuh alam yang ada di bawah atau ‘Bhur’.
“Pencelupan” keberadaan dari tataran dunia atas, tempat asalnya semua kesadaran yang termanifestasi, berjalan sangat lambat dan rumit. Berbagai elemen semesta masih berada dalam kondisi awal, sebuah kondisi yang dormant atau statis, semua unsurnya tidak berdaya, belum sepenuhnya berfungsi dan membutuhkan banyak campur tangan berbagai makhluk-makhluk mulia dan perkasa yang secara esoteris dikatakan bahwa mereka ini konon ‘didatangkan’ dari kalpa yang sebelumnya, gabungan kesadaran agung kolektif ini dengan tanpa henti mengalirkan vibrasi demi vibrasi, mengatur dan membentuk semua jenis elemental di tataran alam-alam yang lebih halus, agar nantinya dapat turut mempersiapkan jalur-jalur medan evolusi perjalanan suci, bagi benih-benih keberadaan dari tataran alam yang lebih tinggi dan halus lagi, yang sering kali di istilahkan dengan istilah “Anupadaka”, dimana dari sini Bunda Semesta memercikkan percikan-percikan Api Ilahiah, Putra-Putra Api yang esensinya
satu namun juga yang tak terhitung jumlahnya dan ‘mencelupkan’ semuanya ke dalam lapisan demi lapisan alam yang memiliki berbagai jenis kepadatan dan sifat, dari yang paling halus atau arupa (tanpa bentuk) hingga akhirnya setelah berulang kali melewati siklus demi siklus evolusi atau pembangkitan kesadaran, “Para Putra Api” tadi akan dapat sepenuhnya memadat dan berfungsi penuh kesadarannya di era peradaban ras bangsa keempat Bumi ini, yaitu bangsa Atlantis.
Di Era ini, ’manusia’ dikatakan telah sepenuhnya jatuh ke dalam alam materi, yang ditandai dengan pemisahan jenis kelamin, dari ketunggalan, menjadi laki-laki dan wanita. Pada fase ini, yang perjalanannya telah memakan waktu ber-aeon-aeon (satuan waktu yang mewakili rentang pemahaman yang lebih lama dari abad), kesadaran sepenuhnya telah mencapai dasar dari kolam alam materi, sebuah kejatuhan yang sempurna dalam pelukan alam fisik, alam keberadaan dengan fenomena bentukan yang heterogen, hal ini diwakilkan dengan simbol lingkaran dengan garis vertikal yang membelah di tengahnya, dari atas hingga mencapai titik yang paling bawah.
Perjalanan Ziarah suci ini tidak berakhir di dasar kolam materi dari alam semesta yang kelihatan. Titik kesadaran yang terendah ini, yang begitu kental terbungkus oleh materi dan begitu erat terikat oleh jerat Maya, akan mulai tergugah. Menyadari esensi alam fisik yang sifatnya tidak memuaskan, tidak abadi dan selalu berubah-ubah, maka kesadaran yang sebelumnya terpancar ‘keluar’, mulai memiliki kerinduan untuk kembali pada hal-hal yang sifatnya lebih ‘nyata’. Dari titik kuliminasi terendah ini kemudian akan muncul perjalanan ziarah kedua, yaitu perjalanan kembali ke ‘atas’, menuju ke rumahnya yang sejati, menuju ke Diri yang sebenarnya, yang abadi. Kerinduan-kerinduan bathin
untuk kembali mengarahkan ‘matanya’ ke sisi dalam, ke sisi yang lebih spiritual ini melahirkan bibit-bibit spiritual dan daya-daya transformasi untuk kembali menuju ke sebuah keniscayaan yang lebih hakikat.
Dari bentukannya yang sangat halus di tataran dunia tertinggi, perlahan tercelup ke dalam lautan manifestasi, dari satu alam ke alam yang lain, dari satu fenomena bentukan ke bentukan yang lain, hingga mencapai titik terendahnya yang paling kasar atau padat, kini kesadaran akan kembali menjalani proses panjang untuk kembali menjadi halus, menjadi tiada atau manunggaling atau moksha. Inilah yang secara esoteris dipahami sebagai hukum Evolusi. Sebuah evolusi jiwa, dari yang belum menyadari dirinya, menjadi sadar bahwa dirinya bukanlah materi, hingga kesadaran materi itu kemudian kembali padam (dalam Buddhisme dikenal sebagai Nirvana, yaitu padamnya diri) atau manunggaling dengan kesadaran semesta.
Tentu saja hukum evolusi tidak dapat berfungsi dengan baik apabila tidak terdapat kaidah lain yang mengikutinya.
Tiga Kaidah Hukum alam yang saling berhubungan dalam pemahaman esoteris adalah :
1. Evolusi 2. Reinkarnasi 3. Karma
Hukum evolusi dan reinkarnasi merupakan dua fakta yang tidak terbantahkan yang saling berkorespondensi di alam semesta ini. Reinkarnasi adalah sebuah medan atau instrumen bagi kesadaran untuk ber-evolusi. Perjalanan jiwa yang berkesinambungan, dieskpresikan di dalam rangkaian demi rangkaian menitisnya kembali jiwa ke dalam dunia materi atau
ber-re-inkarnasi. Tanpa daya untuk berevolusi, maka reinkarnasi tak lebih dari sekadar pengulangan cerita, tidak ada nilai filosofi dan spiritual apapun di dalamnya. Semua yang kita alami tidak akan menghasilkan kemajuan apapun, semua hanya sebuah mekanisme yang tidak berkesadaran, tidak ada makna yang tersirat di balik semua peristiwa dan kejadian, tidak ada nilai yang dapat dipetik, tidak ada kemajuan, semuanya tidak bermakna, hanya merupakan serentetan peristiwa acak yang sama sekali tidak bernilai. Kesadaran akan diam di tempat dan tidak ada kemajuan apapun yang terjadi. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan hukum lain dalam semesta raya, yaitu gerakan yang abadi, semuanya berubah, tidak ada yang statis. Demikian juga dengan kesadaran. Kesadaran hadir dalam keberadaan untuk mengalami, untuk menyelami dan sekaligus untuk mengamati. Oleh karena itu, kehidupan yang bergerak dan penuh perubahan ini tidak dapat dipungkiri lagi adalah cerminan langsung dari daya untuk berevolusi itu tadi.
Sebaliknya, tanpa reinkarnasi, evolusi jiwa juga tidak akan mungkin dapat terjadi, karena satu masa kehidupan tentu saja sangat tidak mencukupi untuk memfasilitasi berbagai perubahan tingkat kesadaran yang biasanya terjadi dengan sangat lambat atau memakan waktu yang sangat lama. Apalah artinya hidup selama 70 tahun bagi seseorang untuk mengalami sebuah peningkatan kesadaran dalam diri, kalau itu terlalu singkat, bagaimana dengan mereka yang hanya sempat menjalani kehidupan selama 10 tahun saja, atau bahkan beberapa hari saja? apakah kesadaran akan dapat sepenuhnya kembali menyadari esensi dirinya yang sangat esoteris? apakah secepat itu semuanya dapat menjadi ‘murni’ kembali ? Perjalanan spiritual merupakan sebuah ziarah suci yang tidak dapat diwakilkan atau digendong oleh orang lain, kita yang memulai, maka kita yang akan menyelesaikannya. Tidak ada
sosok-sosok, baik guru, nabi, malaikat bahkan dewa sekalipun yang dapat menyelesaikannya bagi kita. Di titik terendah alam materi ini, di dasar kolam materi yang terpadat ini, semuanya berjalan sendiri-sendiri.
Hukum lain yang selalu ‘menarik’ kita kembali ke medan kehidupan dunia fisik ini adalah hukum karma. Hukum karma sejatinya bukanlah mekanisme mengenai apa yang benar dan apa yang salah, hukum karma adalah sebuah instrumen dari keberadaan untuk berevolusi, sebagaimana halnya dengan reinkarnasi. Hukum karma adalah serangkaian pembelajaran yang nantinya akan menimbulkan banyak kualitas-kualitas Ilahiah dalam diri seseorang. Rangkaian pembelajaran ini harus diselesaikan dengan sempurna, selama masih ada bagian yang tidak seimbang, maka pembelajaran itu akan diberikan lagi, dan lagi, mungkin dalam bentuk yang berbeda, namun esensinya tetap sama. Karma membuat segalanya kembali menjadi murni, karma adalah penindas juga penebus kita. Tanpa adanya hukum karma, tidaklah memungkinkan bagi kesadaran untuk dapat ‘ditarik’ kembali atau bereinkarnasi ke dalam medan kehidupan untuk berevolusi. Tanpa Karma, tidak akan timbul daya untuk berevolusi. Sekarang kita semua menyadari benar secara esoteris, hubungan yang berkesinambungan antara Evolusi, Reinkarnasi dan Karma.
Ketiganya merupakan sebuah kesatuan kaidah universal yang tidak terpisahkan, sebuah trinitas, segitiga keberadaan.