• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Manfaat penelitian

2. Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini diharapkan agar dapat memberikan kontribusi untuk peneliti lain dalam penelitian selanjutnya, khususnya mengenai evaluasi teknologi informasi dalam bidang kesehatan.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai implementasi sistem informasi dalam bidang kesehatan sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti, sehingga penelitian ini merupakan variasi ataupun juga kelanjutan dari penelitian yang sudah pernah ada.

Penelitian sebelumnya yang pernah melakukan penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1

Peneliti Tahun Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Budiyanto 2009 Evaluasi Sistem

Billing Pasien Irwani 2010 Evaluasi Penggunaan

Sistem Informasi

Suratmiarto 2007 Evaluasi Sistem Informasi Manajemen

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Sistem Informasi

Informasi adalah data yang diolah dan dianalisis yang mempunyai makna tertentu yang dapat digunakan oleh orang lain sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan (Burch & Grudnitski, 1986). Menurut Turban et al., (2006) Sistem Informasi adalah kegiatan mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu.

Menurut Simarmata, (2006) ada 3 komponen sistem informasi yaitu komponen perangkat masukan (input device), digunakan untuk pemasukan data yang akan diproses. Perangkat pemroses (processing device) digunakan untuk memproses perangkat data yang telah dimasukan melalui perangkat masukan. Sedangkan perangkat keluaran (output device) digunakan untuk menampilkan hasil pemrosesan yang dikerjakan oleh prosesor.

Pada umumnya ada beberapa kompunen-kompenen sistem informasi yang terdiri dari:

a. Perangkat keras merupakan kumpulan dari peralatan-peralatan yang digunakan dalam pengelolaan informasi.

b. Perangkat lunak adalah serangkaian program atau aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan untuk menjalankan proses data

c. Basis data yaitu kumpulan dari berbagai data yang dapat berupa gambar, tabel, foto, yang dikumpulkan dalam bentuk file

d. Jaringan merupakan sebuah sistem yang didesign dengan tujuan agar dapat mengkoneksikan berbagai komputer dengan menggunakan sistem nircabel

e. Prosedur adalah petunjuk mengenai sistem yang didesign untuk memberikan instruksi kepada pengguna mengenai cara mengabungkan beberapa komonen sehingga informasi dapat diproses.

pengguna yang berfungsi sebagai operator atau orang yang bekerja dengan sistem informasi tersebut.

Berikut ini adalah tingkatan daur hidup pengembangan sistem informasi menurut

a. Tingkatan definisi

Terdiri dari penilaian kelayakan dan analisis informasi b. Tingkatan design fisik

Terdiri dari design sistem, pengembangan program dan pengembangan prosedur

c. Tingkatan implementasi

Terdiri dari konversi, pengoperasian dan pemeliharaan, dan audit kemudian.

Jadi sistem informasi merupakan sebuah rangkain atau kumpulan dari perangkat keras dan perangkat lunak dan terdiri dari beberapa komponen yaitu komponen input, komponen proses dan komponen output yang digunakan untuk menginput, mengolah, menyimpan dan menghasilkan informasi yang berguna untuk tujuan tertentu.

2. Sistem Informasi Manajemen

Menurut Moekijat, (1991) Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah jaringan prosedur pengolahan data yang dikembangkan dalam suatu organisasi dan disatukan apabila dipandang perlu, dengan maksud memberikan data kepada manajemen setiap waktu diperlukan, baik data yang bersifat intern maupun yang bersifat eksteren, untuk dasar pengambilan keputusan. Selain itu Kumorotomo &

Margono, (1994) mendeskripsikan sistem informasi manajemen sebagai suatu sistem yang menyediakan kepada pengelola organisasi, data maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas organisasi. Tujuan utama dari

sistem informasi manajemen adalah agar organisasi memiliki suatu sistem yang dapat diandalkan dalam mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat dalam pembuatan kepututsan manajemen, baik yang menyangkut keputusan-keputusan rutin maupun keputusan-keputusan strategis. Jadi secara umum sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem yang dibangun untuk mengolah data menjadi sebuah informasi yang berguna bagi para pengambil kebijakan sebagai landasan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup sebuah organisasi. Berikut ini adalah gambaran mengenai manajemen informasi menurut (Kozar, 1989)

Gambar 1 Manajemen Informasi

Ada tiga bagian yang sangat penting dalam sebuah manajemen informasi yaitu sistem pendukung operasi, sistem pendukung pengambilan keputusan dan sistem pendukung komunikasi. Dalam aspek operational support system dijelaskan bahwa fungsi dari sistem pendukung operasional ini adalah sebagai pendukung aktifitas dari suatu organisasi yaitu memproses atau melakukan transaksi dan laporan umum mengenai kegiatan-kegiatan dalam suatu organisasi. Sedangkan dalam aspek decicsion support system dijelaskan bahwa dalam sebuah manajemen ada beberapa tingkatan manajemen yaitu manager atas, manager menengah dan manager lini bawah. Dengan adanya tingkatan manager ini maka kebutuhan untuk informasi juga berbeda-beda, sesuai dengan tipe dan jenis pekerjaan serta tangung jawab masing-masing. Communication support system membantu organisasi untuk mengkontrol semua aktifitas yang dilakukan dalam organisasi. Dalam hal

Information Management

Operational Support System

Decision Making Support Systems

Communication Support System

waktunya agar meningkatkan efektifitas kinerjanya untuk meningkatkan kinerja organisasi.

3. Sistem Informasi Rumah Sakit

Sistem informasi manajemen kesehatan merupakan sebuah proses dimana data kesehatan dapat dicatat, disimpan dan diproses untuk pembuatan kebijakan, perencanaan, implementasi dan evaluasi program kesehatan (Nyamtema, 2010).

Dalam penerapan teknologi sistem informasi, sangat penting kebijakan berbasis bukti dan informasi pengambilan keputusan di semua tingkatan manajerial dalam suatu organisasi atau institusi. Menurut Khan, (2010) Hospital Informaton System dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem komputer yang didesign untuk mengintegrasikan semua data yang dibutuhkan dirumah sakit, yang terdiri dari informasi pasien, penagihan atau billing, keuangan dan akuntansi, pegawai dan penjadwalan, permintaan atau pemesanan farmasi, penanganan resep, persediaan, pemeliharaan dan pemesanan managemen, laporan diagnosis dari unit laboratorium, radilogi dan monitoring pasien serta sebagai sistem pendukung keputusan rumah sakit.

Rumah sakit adalah Institusi atau lembaga kesehatan yang terdiri dari kelompok medis dan profesional yang terorganisir dan berorientasi pada pelayanan pengobatan pasien yang meliputi rawat inap medis, keperawatan, dan layanan kesehatan lainnya (Abdelhak, 2001). Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) adalah sistem yang mampu melakukan integrasi dan komunikasi aliran informasi baik dalam maupun diluar rumah sakit. Sistem informasi rumah sakit meliputi sistem informasi rekam medis elektornik, laboratorium, sistem informasi radiologi, sistem informasi farmasi, sistem informasi keperawatan, sistem informasi gizi dll (Kusumadewi et al., 2006).

Dalam jangka panjang sistem pelayanan rumah sakit harus diperhatikan karena semua pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit kepada pasien akan mencerminkan seberapa besar kualitas rumah sakit itu sendiri. Untuk

meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit maka sistem yang harus dibangun adalah peningkatan fasilitas kesehatan, peningkatan fasilitas perawatan, serta peningkatan kepuasan pasien dalam peneriamaan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Menurut Sulastomo, (2007) ada beberapa alasan untuk meningkatakan kemampuan manajemen rumah sakit yaitu:

a. Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang cepat.

b. Demand atau permintaan masyarakat yang semakin meningkat dan meluas.

c. Meningkatnya unsur-unsur penunjang medis.

Menurut Nugroho, (2008) dalam manajemen rumah sakit terdapat dua subsistem informasi medis yaitu:

a. Sub sistem medis dan pelayanan perawatan yang terdiri dari modul pencatatan pasien rawat inap, modul pencatatan pasien rawat jalan, modul index pasien atau diagnosa, modul distributive charge entry, modul order, modul pelaporan hasil kegiatan, modul medical record, modul penjadwalan pasien dan modul pelayanan perawatan.

b. Sub sistem penunjang medis yang terdir dari modul farmasi rumah sakit, modul laboratorium, medul perpetual inventory, modul respriratory therapy, modul therapy, modul radilogy, modul instalasi gizi, dan modul instalasi gawat darurat.

Pembangunan sistem informasi rumah sakit mempunyai tujuan baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek (Nugroho, 2008). Dalam jangka panjang fokus sasaran rumah sakit tergolong menjadi 3 yaitu berdasarkan level manajemen yang meliputi manajemen tingkat atas, manajemen tingkat menegah dan manajemen tingkat bawah. Pada level manajemen tingkat atas diharapkan pengembangan sistem informasi manajemen dapat membantu para manager tingkat atas dalam merencanakan aliansi-aliansi stategis rumah sakit dengan organisasi lain dengan prinsip saling menguntungkan. Selain itu juga diharapkan agar dapat menunjang kebijakan umum yang bersifat jangka panjang,

cabang rumah sakit serta peningkatan dalam persiapan sumber daya manusia dalam jangka panjang. Sedangkan dalam jangka pendek, pengembangan sistem informasi manajemen rumah sakit memiliki sasaran dan prioritas pada pengembangan lebih lanjut dari sistem yang sekarang sudah ada.

4. Billing System

Billing system merupakan sebuah aplikasi yang digunakan dan dimanfaatkan oleh orang maupun organisasi untuk menjalankan proses penagihan biaya pelayanan kesehatan sehingga proses kerja menjadi lebih efisien. Menurut Au & Kauffman, (2001) electronic billing system merupakan sebuah teknologi yang memungkinkan penagih menyajikan tagihan biaya pelayanan kepada konsumen serta memungkinkan konsumen untuk membayar tagihan secara elektronik. Industri kesehatan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi sehingga keberhasilan finansial suatu organisasi tergatung pada keakuratan dan ketepatan waktu penagihan biaya kesehatan (Mitchell, Anderson, & Braun, 2003). Menurut Fan et al. (2013) salah satu faktor yang penting dalam kelancaran sistem penagihan juga terletak pada kelengkapan data administrasi dan ketepatan penentuan kode diagnosis. B. K. Potter et al. (2005) juga menyebutkan bahwa masalah yang sering dihadapi dalam implementasi billing system adalah masalah kualitas data. Berikut ini merupakan langkah-langkah yang tepat untuk menjalankan proses coding dan billing menurut (Steps & Correct, 2010):

1. Kelayakan Pasien a. Arahan

Verivikasi bahwa pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan memiliki jasa asuransi kesehatan.

b. Otorisasi Pembayar

Untuk beberapa pelayanan kesehatan harus memerlukan beberapa persetujuan pra persetujan tes

2. Kunjungan Pasien

Laporan berfungsi sebagai dokumnetasi untuk kunjungan pasien

3. Persyaratan Penagihan atau Billing requirements

a. Klasifikasi internasional mengenai pengendalian penyakit yang valid berdasarkan pada kode ICD-9

b. Kesesuaian dalam prosedur kode terminologi penyakit c. Pengubahan yang tepat

d. Pelaporan yang tepat waktu e. Pengajuan yang tepat waktu

Menurut Kalies et al. (2008), hal-hal yang sangat penting dalam penerapan billing system adalah kesesuaian data penagihan biaya pelayanan kesehatan, selain itu salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam sistem dan kesesuaian pangihan adalah terletak pada identitas pengguna jasa asuransi kesehatan. Salah satu faktor penting yang juga harus diperhatikan dalam efektifitas pelayanan billing system adalah terletak pada keseimbangan dan kesesuaian biaya tagihan pelayanan kesehatan kepada pasien yang tidak memiliki asuransi dengan standar pendapatan yang berbeda-beda, penelitian ini menunjukan bahwa sistem penagihan biaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang tidak memiliki asuransi juga harus ditentukan berdasarkan pada tingkat pendapatan dari pasien (Lynk & Alcain, 2008).

Adapun proses penagihan di rumah sakit menurut Mitchell et al. (2003) adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Proses Penagihan Pengesahan

Diagnosis

Penyampaian perintah layanan, Diagnosis dan

pengobatan, Obat, Laboratorium, Radiologi, Operasi dll

Perintah kode layanan dari biaya utama

Lembar periksa dokter yang merangkum mengenai diagnosis

utama, diagnosis sekunder operasi, Laboratorium,

Tanda-tanda dan gejala

Medical Record, review seluruh medical record, mengekstrak informasi untuk menetapkan kode ICD-9 yang

paling tepat

Medicare intermediary screens claims, medicare code editor,

klasifikasi pengelompokan software DRG

5. Persepsi

Persepsi adalah suatu proses otomatis yang terjadi dengan sangat cepat dan terkadang tidak kita sadari, dimana kita dapat mengenali stimulus yang kita terima (Notoadmojo, 2010). Sedangkan menurut Robin (2003) dalam Notoadmojo, (2010) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses dimana seseorang mengorganisasikan dan menginterperstasikan sensasi yang dirasakan dengan tujuan untuk memberi makna terhadap lingkungannya. Ada dua bagian dalam mempelajari persepsi yaitu sensasi yang menyangkut proses sensoris dan proses persepsi yang menyangkut interprestasi terhadap objek yang dilihat atau didengar ataupun yang dirasakan. Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi.

Faktor penyebab persepsi dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

a. Faktor Eksternal, yang terdiri dari: kontras, perubahan intensitas , pengulangan (repetition) , sesuatu yang baru (novelty) , dan sesuatu yang menjadi perhatian banyak orang.

b. Faktor Internal yang terdiri dari: pengalaman atau pengetahuan, harapan atau expectation, kebutuhan, motivasi , emosi, dan budaya

Persepsi pengguna merupakan suatu pengalaman masa lampau mengenai suatu objek yang telah di alami yang dapat membentuk sebuah pola atau menggambarkan situasi tertentu. Menurut Jogiyanto, (2008) penerimaan individual terhadap sistem teknologi informasi di tentukan oleh kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use).

a. Kegunaan persepsian (perceived usefulnes) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatakan pekerjaannya. Kegunaan persepsian merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan. Dengan demikian jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi kurang berguna maka dia tidak akan menggunakannya.

b. Kemudahaan penggunaan persepsian (perceived ease of use) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa

penggunaan persepsian ini merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan. Jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka dia tidak akan menggunakannya.

Penelitian mengenai persepsi para pengguna teknologi informasi juga pernah diteliti oleh (Granlien & Hertzum, 2012). Dalam penelitian ini dibahas mengenai persepsi pengguna sistem electronic medicated record yang terdiri dari manager tingkat atas, manager tingkat menengah, manager tingkat bawah serta staf klinis mengenai sejauh mana adopsi electronic medicated record, kemungkinan hambatan serta persepsi dari kegunaan dan kemudahan penggunaan sistem.

Hasilnya adalah implementasi electronic medicated record sudah berjalan dengan baik, karena sebagian besar pengguna sistem menunjukan persepsi yang positif mengenai electronic medicated record, namun dalam implementasinya masih ada hambatan-hamabatan yang perlu untuk dikendalikan.

6. Pengguna Sistem Informasi

Menurut Jogiyanto, (2009) penggunaan sistem informasi didasarkan pada tingkatan manajemen. Manajemen membutuhkan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan mereka. Sistem informasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyediakan informasi untuk semua tingkatan manajemen.

Tingkatan manajemen dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu manajemen tingkat bawah (tingkat operasional), manajemen tingkat menengah (tingkat taktik), dan manajemen tingkat atas (tingkat strategik).

Sedangkan menurut Davis, (1984) membagi pemakai sistem informasi manajemen menjadi 4 kriteria yaitu:

a. Petugas administrasi, mengerjakan transaksi, mengolah data, dan menjawab pertanyaan

a. Manajer tingkat bawah, mendapatkan data operasi. Membantu perencanaan panjadwalan, mengetahui situasi yang tak terkendali dan mengambil keputusan

b. Staf ahli, informasi untuk analisis. Membantu dalam analisis perencanaan dan pelaporan

c. Manajemen, laporan tetap. Permintaan informasi khusus, analisis khusus, laporan khusus, membantu mengenali persoalan dan peluang, membantu dalam analisis pengambilan keputusan.

7. Evaluasi Sistem

Evaluasi sistem informasi kesehatan merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh infromasi mengenai manfaat yang diperoleh dan menilai pencapaian tujuan dalam mendukung jasa pelayanana kesehatan kepada pasien (Yusof et al., 2012). Menurut (Jogiyanto, 2008) ada beberapa model evaluasi yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi sistem informasi kesehatan diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Model TAM (Technology Acceptance Model)

Merupakan sebuah model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan oleh pemakai. Model TAM ini dikembangnkan untuk menilai keputusan yang dilakukan oleh individu untuk menerima suatu teknologi sistem informasi. Dalam evaluasi model TAM, ada 2 konstruk utama yang akan dinilai yaitu kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use). Model TAM dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar 3. Technologi Acceptance Model

2. Model Kesuskesan Sistem Informasi DeLone dan McMean

Menurut Mohiddin, (2012) model ini menggambarkan sebuah studi mengenai indentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi dalam kesuksesan sebuah sistem informasi. Penilaian kesuksesan sistem informasi ini dipengaruhi oleh enam aspek yaitu sistem quality yaitu mengenai langkah-langkah proses pengolahan informasi sendiri, information quality menyangkut langkah-langkah atau hasil dari sistem informasi, use penerimaan output dari sistem informasi , user satisfaction menyangkut respon dari pengguna mengenai sistem informasi, individual impact menyangkut effek dari informasi berupa kebiasaan dari pengguna dan organizational impact mengenai efek informasi untuk kinerja organisasi. Model kesuksesan sistem informasi delone dan mcmean dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Kegunaan persepsian (perceived usefulness)

Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease

of use)

Sikap terhadap perilaku

Minat perilaku (behavioral

Intention)

Perilaku (behavior)

Gambar 4. Model DeLone dan McMean 3. Hot-Fit Model

Menurut Nugroho, (2008) model ini menempatkan komponen penting dalam sistem informasi yakni manusia (human), organisasi (organization) dan teknologi (technology) serta kesesuaian hubungan diantaranya. Komponen manusia (human) menilai sistem informasi dari sisi penggunaan sistem (system use) pada frekuensi dan luasnya fungsi dan penyelidikan sistem informasi. System use juga berhubungan dengan siapa yang menggunakan (who use it), tingkat penggunaannya (level of user), pelatihan, pengetahuan, harapan dan sikap menerima (acceptance) atau menolak (resistance) sistem. Komponen organisasi menilai sistem dari aspek struktur organisasi dan lingkungan organisasi. Struktur organisasi terdiri dari tipe, kultur, politik, hierarki, perencanaaan dan pengendalian sistem, strategi, manajemen dan komunikasi. Kepemimpinan, dukungan dari top manajemen dan dukungan staf merupakan bagian yang penting dalam mengukur keberhasilan sistem informasi. Komponen teknologi terdiri dari kualitas sistem (system quality), kualitas informasi (information quality), dan kualitas layanan (service quality). Kualitas sistem dalam sistem informasi khususnya dalam institusi kesehatan menyangkut keterkaitan fitur dalam sistem termasuk performa sistem dan user interface.

System quality

Information quality

Individual impact

Organizational impact Use

User satisfaction

Gambar 5. Model HOT Fit

4. Analisis PIECES

Menurut Al Fatta, (2007) analisis PIECES merupakan sebuah analisis yang dilakukan untuk mengidentifikasi masalah kinerja, informasi, ekonomi, keamanan aplikasi, efisiensi, dan pelayanan pelangaan. Analisis kinerja (performance) terjadi ketika tugas-tugas bisnis yang dijalankan tidak mencapai sasaran. Kinerja diukur dengan jumlah produksi dan waktu tanggap. Analisis Informasi (information) merupakan evaluasi terhadap kemampuan sistem informasi dalam menghasilkan informasi yang bermanfaat hal ini perlu dilakukan untuk menyikapi peluang dan menangani masalah yang muncul. Analisis ekonomi (economic) merupakan analisis mengenai biaya dan keuntungan dari suatu organisasi dalam penerapan sebuah sistem informasi. Analisis kemamanan (control) dilakukan untuk meningkatkan kinerja sistem, mencegah, atau mendeteksi kesalahan sistem, menjamin keamanan data, informasi, dan persyaratan. Analisis efisiensi (efficiency) menyangkut bagaimana menghasilkan output sebanyak-banyaknya dengan input yang sekecil mungkin. Sedangkan analisis pelayanan (service) berkaitan dengan penilaian mengenai output dari sistem informasi berupa peningkatan terhadap pelayanan dalam sebuah organisasi.

Orang (Human)

Organisasi (Organization)

Teknologi (Technology)

8. Analisis PIECES

Metode evaluasi PIECES merupakan metode evaluasi sistem yang terdiri dari enam variabel yaitu performance, information, economic, control, efficiency, service (Whitten et al., 2004). Metode PIECES ini diperkenalkan oleh James Wetherbe yang berguna untuk mengklasifikasikan masalah-masalah.

1. Analisis Kinerja (Performance) yaitu kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki performance atau performa. Analisis performance dapat dilakukan dengan menilai produksi dan waktu respon. Produksi yaitu jumlah kerja selama periode waktu tertentu. Waktu respon merupakan penundaan rata-rata antara transaksi atau permintaan dengan respon ke transaksi atau permintaan tersebut.

2. Analisis information yaitu kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki information atau informasi (data). Dalam analisis informasi, identifikasi masalah dapat dilakukan dengan menilai informasi dengan keakuratan, relevan dan ketepatan waktu informasi atau data yang disajikan.

3. Analisis economic adalah kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki economi, mengendalikan biaya, atau meningkatkan keuntungan. Analisis ekonomi dilakukan dengan menilai kapasitas pelayanan yang memadai untuk mengurangi biaya bisnis dan meningkatkan keuntungan bisnis. Jadi dalam penilaian aspek ekonomi dilakukan dengan menilai biaya dan manfaat yang diperoleh dari penerapan sebuah sistem.

4. Analisis control yaitu kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki control atau keamanan. Dalam menilai control suatu sistem maka dapat dilakukan dengan menilai sistem keamanan untuk mengatasi penipuan dan penggelapan untuk menjamin keakuratan dan keamanan data dan informasi.

5. Analisis efficiency adalah kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki efisiensi orang dan proses. Efisiensi merupakan sebuah penilaian mengenai penggunaan sumber daya secara maksimum baik orang, waktu, aliran form, meminimalkan penundaan proses dan sebagainya.

layanan kepada pelanggan, pemasok, rekan kerja, karyawan dan lain-lain.

Penilaian dalam analisis service merupakan sebuah penilaian mengenai layanan yang diinginkan dan andal pada siapa saja yang menginginkannya, dan apakah sistem tersebut dapat fleksibel untuk dikembangakan. Jadi penilaian analisis service dapat diidentifikasi dengan hasil atau output dari sistem, kemudahan penggunaan dan fleksibelitas pengembangan sistem tersebut.

Adapun penelitian yang membahas mengenai analisis PIECES adalah penelitian yang dilakukan oleh Rodriguez & Hufana, (2013) membahas mengenai sistem informasi penelitian yang menggunakan sistem manual. Penelitian ini menganalisis mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam penggunaan sistem informasi penelitian yang dilakukan secara manual menggunakan analisis performance, information, economic, control, efficiency, dan service. Hasilnya adalah ditinjau dari aspek PIECES penerapan RIMS atau research information and management system masih mengalami kendala-kendala, sehingga perlu dilakukan pengembangan research information and management system berbasis elektronik.

B. Kerangka Teori

Penelitian ini menggunakan teori Metode Siklus Hidup Pengembangan Sistem. Dalam teori yang diperkenalkan oleh Raymond Mc Leod ini disebutkan bahwa ada beberapa fase dalam siklus hidup pengembangan sistem yang terdiri dari fase perencanaan, analisis sistem, design sistem, implementasi sistem, operasi sistem serta evaluasi sistem (Nugroho, 2008). Penelitian ini mengacu pada fase evaluasi sistem dengan menggunakan teori performance, information, economic, control, efficiency, dan service sebagai indikator evaluasi billing system di RSUD dr. T.C Hillers Maumere.

Adapun beberapa penelitian yang mengacu pada teori PIECES yang diperkenalkan oleh (Whitten et al., 2004) adalah sebagai berikut:

Penelitian yang dilakukan oleh (Riana, 2006) mengenai evaluasi sistem informasi manajemen ditinjau dari segi persepsi pengguna dengan menggunakan kerangka teori PIECES dengan menggunakan metode kuantitatif, hasil penelitiannya adalah sebagai berikut, pada aspek performance khususnya bagian pelayanan medis terdapat staf merasa lebih baik bekerja tanpa computer. Sering terdapat kerusakan komputer ketika edit. Aspek Information adalah pengguna bermasalah pada ketidaksesuaian ouput dengan kebutuhan informasi (information overloaded &

Penelitian yang dilakukan oleh (Riana, 2006) mengenai evaluasi sistem informasi manajemen ditinjau dari segi persepsi pengguna dengan menggunakan kerangka teori PIECES dengan menggunakan metode kuantitatif, hasil penelitiannya adalah sebagai berikut, pada aspek performance khususnya bagian pelayanan medis terdapat staf merasa lebih baik bekerja tanpa computer. Sering terdapat kerusakan komputer ketika edit. Aspek Information adalah pengguna bermasalah pada ketidaksesuaian ouput dengan kebutuhan informasi (information overloaded &

Dokumen terkait