• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III.............................................................................................................. 30

H. Etika Penelitian

I. Kesulitan Penelitian

Terdapat dua kesulitan penelitian yang dilakukan di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere diantaranya adalah:

1. Adanya penjadwalan ulang dalam melakukan wawancara kepada beberapa responden yang disebabakan oleh kesibukan responden ketika akan diwawancarai, sehingga waktu penelitian menjadi lebih lama

2. Adanya pergantian kepala bidang sistem informasi manajemen rumah sakit yang menyebabkan informasi yang diperoleh hanya terbatas pada pengetahuan responden.

Dalam penelitian ini peneliti melakukan tiga tahapan dalam penyelesaian tesis mengenai evaluasi implelemtasi billing system di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere. Tiga tahapan tersebut terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan (pengumpulan data), serta tahap penyusunan laporan. Tahapan-tahapan tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan

Tahap awal dimulai dengan penelusuran literatur dan menyusun rencana penelitian yang dituangkan dalam bentuk proposal penelitian dibawah bimbingan dosen pembimbing sampai proposal disetujui.

Kemudian dilanjutkan dengan penyelesaian perijinan penelitian untuk pengajuan ethical clearance.

Tahap akhir dari proses persiapan ini adalah mempersiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk penelitian serta menyampaikan izin penelitian kepada semua yang akan menjadi informan penelitian sekaligus melakukan kontrak waktu untuk diwawancarai.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan melakukan wawancara mendalam dengan semua responden penelitian yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati, serta melakukan observasi serta studi dokumentasi untuk mendukung data atau informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian. Informan pada penelitian ini adalah 7 orang operator billing system, 3 orang bagian keuangan dan 1 orang staf bagian sistem informasi manajemen rumah sakit.

3. Tahap Akhir

Pada tahap akhir penelitian, peneliti melakukan pengolahan dan analisis data, menyajikan hasil penelitian dan membuat pembahasan, serta laporan penelitian. Terakhir peneliti membuat kesimpulan serta memberikan saran atau rekomendasi berdasarkan temuan dari penelitian yang telah dilaksanakan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas mengenai penganalisaan terhadap data yang diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi tersedia. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif dan metode triangulasi. Analisis kualitatif dalam penelitian ini menggunakan metode analisis PIECES yaitu metode analisis performance, information, economic, control, efficiency, dan service dalam evaluasi billing system di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh narasumber kepada peneliti kemudian dijabarkan mengenai hasil jawabannya, dianalisis triangulasi dan dibahas. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere dengan mengambil sampel pada operator billing system, staf Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), dan bagian keuangan rumah sakit yang merupakan pihak-pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam billing system. Pengumpulan data penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2014, dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi pada RSUD dr. T. C. Hillers Maumere.

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Implementasi Billing System di RSUD dr. T.C.Hillers Maumere

RSUD dr. T.C. Hillers Maumere merupakan rumah sakit umum daerah yang didirikan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1953 dengan nama RS Maumere. Nama RSUD dr. T.C. Hillers baru dipakai sejak tahun 1983 untuk menghargai jasa Kepala RS Maumere, dr. Tjark Corneile Hillers yang bertugas di RS Maumere sejak tahun 1973 sampai 1980.

RSUD dr. T.C. Hillers yang lama, berada di tengah kota, tepatnya di Jalan Kesehatan No. 1, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok, bangunan ini

dikembangkan lagi. RSUD dr. T.C. Hillers kemudian dipindahkan ke lokasi yang baru yaitu di Jalan Wairklau, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, yang terdiri dari 150 tempat tidur dan mulai beroperasi secara bertahap pada bulan Mei 1998. Pada mulanya, luas area rumah sakit 50.300 m2 dengan luas bangunan 11,008 m2, meliputi 37 gedung. Dalam perjalanannya telah dilakukan pembangunan berbagai gedung baru dan perluasan beberapa gedung lama. Jumlah tempat tidur saat ini mencapai 198 bed.

Gambar 8 Lokasi RSUD dr. T.C.Hillers Maumere

Dalam perjalanannya, untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat, RSUD dr. T.C. Hillers Maumere kemudian melakukan implementasi billing system. Penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere pada awalnya dimulai pada tahun 2009.

Pengadaan billing system ini dilakukan melalui sistem proyek yang bekerja sama dengan pihak Aplikasi Perangkat Lunak Yogyakarta (APL). Dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat, RSUD dr.

T.C.Hillers kemudian menerapkan dan mengadopsi billing system demi

tercapainya peningkatan layanan kesehatan kepada masyarakat. Pada awalnya penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere hanya diterapkan pada bagian pendaftaran, billing system ruangan, dan bagian loket pembayaran yang masing-masing berjumlah 8 unit. Menu billing sysem ini berisi tentang data transaksi berupa formulir tindakan tagihan biaya pelayanan kesehatan kepada pasien.

Gambar 9 Tampilan Depan Billing System

Untuk menu transaksi dan tindakan billing system dilengkapi dengan item-item yang terdiri dari nomor transaksi, nomor registrasi, NIP, jaminan, nama pasien, alamat, kota, umur, jenis kelamin, tanggal dan jam transaksi, kelas, layanan, tipe tarif, kode tarif, serta dilengkapi dengan form keterangan yang berisi mengenai layanan yang telah diberikan kepada pasien beserta total atau jumlah biaya yang harus dibayar pasien, selain itu untuk format transaksi tindakan juga dilengkapi dengan kolom yang berisi tentang kode, tindakan medis, tarif, diskon dan sub total.

Format item-item transaksi tindakan dalam billing system dapat dilihat pada gambar 10

Gambar 10 Tindakan Transaksi Billing System

Untuk format transaksi room charge dilengkapi dengan item-item yang terdiri dari kode ruangan, nomor registrasi, tanggal/jam transaksi, batas room charge, tanggal/jam auto room charge, nama pasien, nama bed, tarif, kode tindakan, komponen, tarif, dan subtotal tarif. Format transaksi room charge juga dilengkapi dengan peringatan untuk update auto room charge baru maupun yang lama.

Gambar 11 Tindakan Room Charge Billing System

Untuk format transaksi registrasi keluar, billing system dilengkapi dengan item-item format pengisian formulir syang terdiri dari nomor registrasi, nomor rekam medik, nomor kwitansi, tanggal/jam keluar, nama pasien, alamat, dan kota. Untuk kelengkapan data penagihan item-item registrasi keluar dilengkapi dengan kolom claim/jaminan utama, subsidi/diskon, deposit/uang muka, pembayaran tunai, selain itu juga dilengkapi dengan kolom mengenai total kekurangan biaya yang diidentifikasikan dengan kekurangan biaya pelayanan dan biaya obat-obatan, dan juga kolom total biaya. Selanjutnya juga terdapat kolom yang berisi mengenai tanggal, keterangan, biaya, jumlah, sub total, keterangan, dibayar, dan juga kolom kekurangan.

Gambar 12. Transaksi Registrasi Keluar

Data hasil observasi di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere menunjukan bahwa dalam penerapannya server mempunyai kapasitas penyimpanan sebesar 80 gigabyte. Jaringan yang digunakan dalam pengelolan billing system menggunakan jaringan intranet. Pada awal pengadaannya, rumah sakit mengadakan billing system yang berjumlah 8 unit komputer. Memasuki bulan Februari 2014 RSUD dr. T. C. Hillers

Maternal And Neonatal Health (AIPMNH), bantuan yang diberikan berupa perangkat keras komputer yang berjumlah 37 unit yang masing-masingnya telah dialokasikan pada bagian rawat inap sebanyak 17 unit dan bagian rawat jalan sebanyak 20 unit. Billing system yang sudah diterapkan saat ini di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere belum sepenuhnya menunjukan fungsinya secara utuh, karena masih perlu adanya pengembangan sistem yang disebabkan oleh modul-modul medical record yang belum lengkap, dan inventory pharmacy yang sama sekali belum ada.

2. Persepsi Pengguna Mengenai Billing System di RSUD dr. T. C.

Hillers Maumere

Berikut ini adalah hasil penelitian mengenai implementasi billing system di RSUD dr. T.C.Hillers Maumere dengan menggunakan wawancara mendalam kepada responden untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pemanfaatan billing system.

a. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Performance

Penggunaan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere pada awalnya ditujukan untuk memperlancar proses penagihan biaya pelayanan kesehatan kepada pasien. Aspek kinerja atau performance merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam hal identifikasi manfaat yang diperoleh rumah sakit dalam penerapan billing system di RSUD dr. T. C.

Hillers Maumere.

1. Throughput atau Jumlah Produksi

Jumlah produksi atau troughput merupakan jumlah transaksi ataupun jumlah produksi yang dihasilkan dengan menggunakan billing system. Hasil wawancara kepada operator billing system menyebutkan bahwa penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere sudah memberikan manfaat yang baik untuk petugas atau operator billing system karena dengan adanya billing system mereka dapat melakukan input

tindakan-tindakan yang sudah dilakukan oleh petugas medis sehingga pekerjaaan mereka dapat segera diselesaikan pada saat itu juga.

Bagian Operator billing system mengatakan:

“...Terbantu ya dengan billing system,,mmmm,,ya kan kalau sudah ada tindakan-tindakan yang dilakukan dokter nanti kalau sudah sampai ke kami, kami bisa langsung input...(Responden 5)”.

“...Ya artinya dia sangat membantu karena dengan segala,,, apa jika kita kasih perbandingannya itu antara manual dengan sistem ini mempermudah, yang pertama dia sangat membantu atau mempercepat proses pengerjaan dan segala macam terhadap pasien sehingga waktu yang dibutuhkan itu tidak terlalu berlarut-larut to, kalau manual itu kan kita harus tunggu, datang harus tunggu nomor segala macam, selama ini yang kami alami seperti itu...(Responden 6)”.

Billing system yang diterapkan di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere belum diterapkan pada seluruh aspek dan bagian-bagian rumah sakit karena penerapan billing system baru dilakukan pada bagian rawat inap dan rawat jalan saja jadi belum terintegrasi secara menyeluruh pada setiap bidang dan bagin rumah sakit. Hal ini terungkap dalam hasil wawancara dengan bagian sistem informasi rumah sakit:

Bagian SIMRS mengatakan:

“...Saat ini ni billing system hanya bisa melakukan audit pembayaran pasien terhadap biaya perawatan pasien dan tindakan yang dilakukan saja....(Responden 11)”.

2. Waktu respon

User mengakui bahwa penerapan billing system di RSUD. Dr. T. C.

Hillers Maumere lebih memudahkan, memperlancar, dan mempercepat pekerjaan mereka. Menurut operator billing system, penerapan billing

pekerjaannya dikarenakan informasi yang diolah dalam billing system mengenai transaksi biaya pelayanan di ruangan menjadi lebih cepat dan efektif karena tidak memakan waktu yang cukup lama dalam proses pengolahan transaksi penagihan biaya pelayanan kesehatan kepada pasien.

Hal ini terungkap dalam rekaman hasil wawancara:

Operator Billing System mengatakan:

“...Hmm...seberapa besar billing system membantu begitu, sangat membantu sekali karena prosesnya cepat, langsung begitu, tidak lama sih, pokoknya intinya prosesnya itu cepat...(Responden 3)”.

“...Kalau kami kecepatannya biasanya kayak pasien itu hanya... billingnya hanya berapa detik saja sudah, kalau sistemnya terganggu baru agak lama...(Responden 1)”.

“Ya artinya dia sangat membantu karena dengan segala, jika kita kasih perbandingannya itu antara manual dengan sistem ini mempermudah, yang pertama dia sangat membantu atau memeprcepat proses pengerjaan dan segala macam terhadap pasien, sehingga waktu yang dibutuhkan itu tidak terlalu berlarut-larut to, kalau manual itu kan kita harus tunggu, datang harus tunggu nomor segala macam selama ini yang kami alami seperti itu...(Responden 6)”

Dari segi performance, khususnya dalam aspek waktu respon, penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere juga masih mengalami beberapa kendala dalam proses pengolahan transaksi biaya penagihan pelayanan kesehatan kepada pasien yang disebabkan oleh beberapa gangguan teknis seperti sistem komputer yang lambat, sering mati listrik, dan kendala dalam hal loading atau kecepatan sistem, serta error yang sering terjadi dalam sistem yang kemudian menghambat kecepatan input transaksi penagihan biaya pelayanan kesehatan kepada pasien.

“...Selama ini error sih jarang, kecuali mati lampu, baru harus menunggu to, menunggu dia punya proses, kalo mati lampu tu biasanya langsung, harus menunggu selang waktu biasanya...(Responden 3)”.

“...Kadang masih error, jaringannya, jaringan dari server, kadang mati listrik,kan memperlambat...(Responden 5)”.

“...Kadang masih lambat prosesnya, biasanya loadingnya itu e,,suka lama,,kadang kita lagi kerja mati listrik,itu yang buat lama ...(Responden 6)”.

“...Kecepatannya ya cepat, kalau pagi loadingnya agak cepat, kalau siangkan mulai to, kan semua ruangan pakai, pada akhirnya ya...sedikit menghambat kalau kadang listrik mati ya....ada juga sistem komputernya agak onar, lambat...

karena loadingnya lambat, karena kan banyak yang pakai, semua ruangan...(Responden 7)”.

“...Proses billingnya itu termasuk tidak cepat karena masih sering terjadi error waktu log in karena jaringannya kurang bagus...(Responden 11)”.

Hasil wawancara juga menunjukan bahwa kinerja billing system di RSUD dr. T.C.Hilers Maumere juga masih dirasakan lambat setelah ada penambahan jaringan di bagian poli, hal ini diakui oleh bagian sistem informasi manajemen rumah sakit.

Bagian SIMRS mengatakan:

“...Selama ini billing system berjalan lancar, tapi setelah ada tambahan jaringan di bagian poli tu, proses billing itu rasa agak lambat...(Responden 11)”.

b. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Information

Persepsi pengguna dalam aspek information digunakan untuk mengetahui pendapat para pengguna billing system mengenai manfaat dari penerapan billing system di RSUD dr. T.C.Hillers Maumere, khusunya dalam hal keakuratan data, dan kecepatan informasi yang dihasilkan oleh billing system.

1. Relevansi Data dan Informasi Billing System

Menurut operator billing system, informasi yang dihasilkan oleh billing system sudah baik dan relevan karena semua format item-item pembiayaan yang ada dalam berkas rekam medik sesuai dengan format item-item yang

daerah yang berlaku di kabupaten Sikka. Hal ini terungkap dalam rekaman hasil wawancara:

Operator billing system mengatakan:

“...Yang ada dilembaran ini sudah ada semua dalam billing system...(Responden 4)”.

“...Kan disinikan semuanya sudah dimasukan biaya ini tindakan-tindakan misalnya rawat luka itu berapa semuanya sudah dimasukan dan sudah tertuang di dalam sini...(Responden 5)”.

“...Sudah sesuai, maksudnya sudah dirubah sesuai dengan pungutan biaya, sesuai dengan jaminan, kami punya jaminan askes, maksudnya sudah diprogramkan semua...(Responden 7)”.

“...Informasi billing system selama ini dapat diterima, tindakan-tindakannya dengan semua biayanya itu sudah kasih masuk semua di dalam termasuk BHPnya itu juga sudah terback-up dalam billing itu. Biaya penagihan selama ini sudah kasih masuk sesuai dengan PerDanya jadi kami kasih masuk item biaya penagihannya tu sesuai dengan PerDa yang berlaku sekarang ini...(Responden 11)”.

Namun operator billing system masih mengeluhkan bahwa kinerja informasi yang dihasilkan oleh billing system ini belum sesuai dengan kebutuhan para pengguna, khususnya dalah hal input item-item pembiayaan yang berupa tindakan-tindakan diagnosis yang masih belum di terdaftar di dalam sistem, serta item-item yang tidak dimengerti oleh operator billing system sehingga menghambat pekerjaan para pengguna billing system dalam melakukan proses transaksi biaya penagihan kepada pasien. Hal ini terungkap dari hasil rekaman wawancara:

Operator billing system mengatakan:

“...Belum sih...ada yang kurang,aaa...ada yang kurang, kalau ada di perda tapi tidak ada di situ berarti harus masukan lagi to...(Responden 3)”.

“...Ada yang kurang,biasanya item-item diagnosisnya kadang kalau kita mau input tidak ada dalam daftar billing, jadi kita harus lapor dulu supaya itemnya dimasukan ke billing baru kita bisa input lagi...(Responden 5)”.

“...Tidak juga tidak sampai seratus persen, tidaknya itu karena ya karena...ya ada juga kadang kita sendiri juga kurang mengerti, kurang mengerti dalam arti karena kadang pada saat kita masukan format ada juga yang komplain ini apa, ini apa, itu yang kadang ya tidak sampai seratus persenlah sekitar delapanpuluh persenlah ada juga bidan-bidan mereka juga komplain, kita sendiri juga kadang komplain ini sebenarnya maksudnya apa item-item yang ada di dalam situ...(Responden 7)”.

Operator billing system juga mengeluhkan bahwa adanya ketidaksesuaian kinerja informasi yang ditampilkan oleh billing system, khususnya dalam hal penyimpanan informasi sehingga ada tindakan-tindakan medis atau diagnosa penyakit yang sudah diinput tetapi tidak tersimpan dalam billing system.

Operator billing system mengatakan:

“...Kami kadang sudah input tindakan-tindakan yang sudah ada di rekam medik tapi kadang tidak tersimpan begitu jadi kadang kalau di cek datanya tidak lengkap kita pasti ditegur, karena kan rumah sakit rugi to kalau ada tindakan yang tidak diinput...(Responden 1)”.

“...Karena kadang-kadang itu kan ada juga yang sudah dimasukan ke dalam billing system tiba-tiba pada saat billing system pagi-pagi khususnya kami, seperti kami dirawat jalan ini kan kadang-kadang hilang...(Responden 7)”.

Menurut bagian keuangan data dan informasi yang dihasilkan oleh billing system juga belum sesuai dengan kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh bagian keuangan khusunya dalam hal format pelaporan atau output informasi yang dihasilkan oleh billing system. Hal ini terungkap dalam hasil wawancara:

“...Formatnya beda, kan kami butuhnya tidak seperti yang ada di billing itu formatnya, jadi kami harus rekap ulang lagi datanya, lama karena tidak bisa langsung kan, harus input satu-satu lagi...(Responden 8)”.

“...Kalo disini ya masih pake manual, saya harus input lagi sendiri karena yang dari billing sistem itu laporannya tidak sesuai untuk keuangan ini jadi begitu sudah, harus input manual lagi, kalau misalnya ada softwarenya kan enak tinggal conect saja...(Responden 9)”.

“...Untuk bagian pelaporannya ini harus olah pakai manual karena kan belum terhubung langsung dengan billing system jadi mau tidak mau untuk kepentingan pelaporannya kita harus pakai manual, soalnya berbeda kan informasi pelaporannya...(Responden 10)”.

2. Akurasi Data dan Informasi Billing System

Bagian keuangan juga menyebutkan bahwa informasi yang dihasilkan dari billing system masih belum akurat karena dalam penerapannya informasi mengenai pendapatan rumah sakit yang dihasilkan oleh billing system berbeda dengan hasil rekapan secara manual yang dilakukan oleh staf keuangan sehingga informasi yang sudah di hasilkan oleh billing system menjadi tidak akurat.

Bagian Keuangan mengatakan:

“...Soalnya ini saya baru coba merekap yang... untuk pendapatan berdasarkan billing dengan versi kita manual itu sudah beda, jadi kayak begitu to, jadi kami juga belum bisa....apa pakai yang,,,berdasarkan billing system atau data manual yang kita punya, masih ada perbedaan dan dia belum online ke kami...(Responden 9)”.

“...Soalnya kadang itu data yang kita minta masih berbeda-beda, misalnya kalau kita minta rekapan hari ini, terus besok atau lusa kita minta lagi data hari yang sama, biasanya itu ada perubahan begitu tidak dikonfirmasi ke kami jadi kita juga bingung data yang benar yang mana...(Responden 10)”.

Selain itu bagian keuangan juga mengeluhkan bahwa informasi yang dihasilkan oleh billing system belum akurat karena dalam memberikan informasi mengenai total biaya layanan rumah sakit kepada pasien, informasi mengenai biaya yang dihasilkan belum sesuai dengan hari yang ditanyakan oleh pasien. Hal ini terungkap dalam hasil hasil wawancara Bagian Keuangan mengatakan:

“...Belum.Karena kurang tertibnya petugas billing system menginput tindakan medis dan pemakaian persediaan farmasi sehingga sering terlambat dan tidak sesuai informasi penagihan biaya kepada pasiennya itu...(Responden 8)”.

“...Kendalanya itu karena belum tertibnya menginput di billing itu jadi yang mungkin harusnya aaa...apa ...tindakan itu terjadi di hari ini tapi mungkin baru diinput besoknya atau lusanya, sehingga kan dia apa.. ketunda-ketunda to, jadi kadang pasien mau tanya tagihannya kami sampai hari ini walaupun masih dirawat kan seharusnya bisa to, jadi ketika keluarga si pasien datang mengecek orang tidak tahu karena belum terinput sampai hari yang ditanyakan...

(Responden 10)”.

3. Ketepatan waktu pelaporan data dan informasi sistem

Menurut operator billing system ketepatan waktu pelaporan data dan informasi sistem sudah baik. Operator billing system menyatakan bahwa setelah pasien diijinkan pulang oleh dokter maka informasi mengenai biaya pelayanan kesehatan pasien selama di rumah sakit langsung dapat di minta di loket pembayaran dengan menunjukan nomor register dan pasien dapat melihat rincian biaya pelayanan kesehatan selama pasien di rawat.

Bagian operator billing system mengatakan:

“...Kalau dengan ini kan langsung di....ini sudah diisi semua nomor CM nomor regisnya, terus nanti kalo pasien umumnya, langsung dibayar di loket pembayarannya nanti langsung di printkan dengan dia punya urutan semua tindakannya...(Responden 4)”.

“..Itu juga cepat kalau dari sini sudah di visit doter kalau sudah boleh pulang, dan kalau pasien omong, disini tinggal masukan langsung dicek di loket pembayaran, tinggal kasih

printkan saja...(Responden 5)”.

“...Termasuk cepat, karena kalau sudah input semua ke dalam billing system ini , pasien tinggal ke loket pembayaran saja dan langsung dilayani oleh petugas di loket pembayaran...(Responden 7)”.

Operator billing system juga menyebutkan bahwa ketepatan data dan informasi billing system juga tergantung dari data yang diberikan oleh perawat kepada operator billing system, semakin cepat data diberikan kepada operator billing system data tindakan-tindakan medis dan diagnosis penyakit semakin cepat untuk diproses dalam billing system. Operator billing system juga menyebutkan bahwa keterlambatan input data billing

Operator billing system juga menyebutkan bahwa ketepatan data dan informasi billing system juga tergantung dari data yang diberikan oleh perawat kepada operator billing system, semakin cepat data diberikan kepada operator billing system data tindakan-tindakan medis dan diagnosis penyakit semakin cepat untuk diproses dalam billing system. Operator billing system juga menyebutkan bahwa keterlambatan input data billing

Dokumen terkait