• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PEMANFAATAN BILLING SYSTEM DI RSUD DR. T. C. HILLERS MAUMERE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PEMANFAATAN BILLING SYSTEM DI RSUD DR. T. C. HILLERS MAUMERE"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-2

Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Diajukan Oleh:

Mariana Bare Leba NIM:12/338705/PKU/13194

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2014

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

(3)

LEMBAR PERNYATAAN

(4)

iii

DAFTAR ISI

ANALISIS PEMANFAATAN BILLING SYSTEM DI RSUD DR. T. C. HILLERS

MAUMERE... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

INTISARI ... xi

ABSTRAK ... xii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

1. Tujuan Umum ... 6

2. Tujuan Khusus ... 6

D. Manfaat penelitian ... 7

1. Bagi Rumah Sakit ... 7

2. Bagi Peneliti Lain ... 7

(5)

BAB II ... 9

TINJAUAN PUSTAKA... 9

A. Telaah Pustaka ... 9

1. Sistem Informasi ... 9

2. Sistem Informasi Manajemen ... 10

3. Sistem Informasi Rumah Sakit ... 12

4. Billing System ... 14

5. Persepsi ... 17

6. Pengguna Sistem Informasi ... 18

7. Evaluasi Sistem ... 19

8. Analisis PIECES ... 23

B. Kerangka Teori ... 24

C. Kerangka Konsep ... 27

D. Pertanyaan Penelitian ... 29

BAB III... 30

METODOLOGI PENELITIAN ... 30

A. Jenis penelitian ... 30

B. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 30

C. Subjek Penelitian ... 30

1. Kriterian Iklusi... 31

2. Kriteria Eksklusi ... 31

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 31

E. Instrumen Penelitian ... 32

F. Cara Pengumpulan Data ... 33

(6)

G. Metode Analisis Data ... 33

H. Etika Penelitian ... 35

I. Kesulitan Penelitian... 35

J. Jalannya Penelitian ... 36

BAB IV ... 37

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37

A. Hasil Penelitian... 37

1. Gambaran Implementasi Billing System di RSUD dr. T.C.Hillers Maumere ... 37

2. Persepsi Pengguna Mengenai Billing System di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere ... 42

a. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Performance ... 42

b. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Information ... 45

c. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Economic ... 52

d. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Control ... 56

e. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Efficiency ... 59

f. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Service ... 65

B. Pembahasan ... 69

1. Analisis Performance... 70

2. Analisis Information ... 73

3. Analisis Economi ... 81

4. Analisis Control ... 84

5. Analisis Efficiency ... 88

6. Analisis Service ... 92

BAB V ... 95

(7)

A. Kesimpulan ... 95

1. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Performance ... 95

2. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Information ... 95

3. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Economi ... 96

4. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Control ... 96

5. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Efficiency ... 96

6. Persepsi Pengguna Berdasarkan Aspek Service ... 97

B. Saran ... 97

1. Aspek Performance ... 97

2. Aspek Information ... 97

3. Aspek Economi ... 98

4. Aspek Control ... 98

5. Aspek Efficiency ... 98

6. Aspek Service ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 99

LAMPIRAN ... 107

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Manajemen Informasi ... 11

Gambar 2. Proses Penagihan ... 16

Gambar 3. Technologi Acceptance Model ... 20

Gambar 4. Model DeLone dan McMean ... 21

Gambar 5. Model HOT Fit ... 22

Gambar 6. Kerangka Teori Pengembangan Sistem ... 26

Gambar 7. Kerangka Konsep PIECES ... 28

Gambar 8 Lokasi RSUD dr. T.C.Hillers Maumere ... 38

Gambar 9 Tampilan Depan Billing System ... 39

Gambar 10 Tindakan Transaksi Billing System... 40

Gambar 11 Tindakan Room Charge Billing System ... 40

Gambar 12. Transaksi Registrasi Keluar ... 41

Gambar 13 Log In Petugas Billing System ... 85

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Keaslian Penelitian ... 8 Tabel 2. Instrumen Penelitian ... 32

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara Operator Billing System ... 108

Lampiran 2 Pedoman Wawancara Bagian Keuangan ... 111

Lampiran 3 Pedoman Wawancara Bagian SIMRS ... 113

Lampiran 4 Check List Observasi ... 115

Lampiran 5 Ethical Clereance... 116

Lampiran 6 Surat Izin Penelitian Kesbangpol ... 117

Lampiran 7 Surat Keterangan Penelitian RSUD dr. T.C.Hillers Maumere ... 118

(11)

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan ke Allah Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan berkatNya, sehingga penulisan tesis ini dapat selesai dengan baik.

Penulisan tesis dengan judul “Analisis Pemanfaatan Billing System di RSUD dr. T.C.Hillers Maumere”, penulis mendapatkan banyak bantuan baik secara fisik, materi, dan pemikiran kritis dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin memberikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

1. Dr. Ir. Eko Nugroho, M.Si sebagai pembimbing pertama pada penulisan tesis ini, yang telah memberikan arahan dan petunjuk serta saran sehingga penyusunan tesis ini dapat diselesaikan.

2. Dr. Satibi, M.Si., Apt selaku pembimbing kedua dalam penulisan tesis ini yang sudah memberikan bimbingan dan dukungan selama ini.

3. Keluarga tercinta yang selalu memberikan motivasi, dukungan doa terhadap penulis.

4. Seluruh dosen dan staf di Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, yang selama ini dengan sabar, senang hati serta ikhlas memberikan materi maupun bantuan yang diperlukan selama penulis mengikuti pendidikan.

5. Teman-teman S2 FK UGM minat SIMKES angkatan 2012, Teman-teman S2 FK IKM UGM , dan Teman- teman Kost Sendowo Indah B27 Sendowo yang banyak membantu dalam kebersamaan dan keakraban selama studi.

6. RSUD dr. T.C.Hillers Maumere yang telah mengijinkan penulis dalam melakukan penelitian.

Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas semua jerih payah dan usaha bapak/ibu/sdr/i sekalian dengan melimpahkan rahmat dan berkah Nya, dan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua yang membutuhkannya.

Yogyakarta, 9 November 2014

Penulis

(12)

INTISARI

Latar Belakang: Implementasi billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi rumah sakit dalam peningkatan efektifitas dan efsisiensi pelayanan kesehatan bagi pasien, namun dalam implementasi billing system ini, adapun kendala yang dihadapi adalah masih terjadi keterlambatan pelaporan informasi, ketidakakuratan data serta ketidaklengkapan data yang memicu terjadinya kerugian pada rumah sakit. Untuk mengkaji manfaat implementasi billing system salah satu metode evaluasi yang dapat digunakan adalah evaluasi berdasarkan pada persepsi pengguna.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai manfaat yang diperoleh rumah sakit dari implelemtasi billing system di RSUD dr. T. C.

Hillers Maumere.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan persepsi pengguna mengenai manfaat penerapan billing system bagi RSUD dr. T. C. Hillers Maumere yang digambarkan dengan analisis performace, information, economi, control, efficiency, dan service (PIECES).

Hasil: Aspek performance, pengguna merasakan loading system yang lambat, sering mati listrik serta error yang sering terjadi pada komputer. Aspek information hambatan yang dirasakan oleh pengguna adalah ketidaksesuaian output dengan kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Aspek economic, penerapan billing system belum menghemat biaya pengeluaran rumah sakit karena masih diberlakukan biaya pemeliharaan sistem serta alokasi tenaga kerja. Aspek control permasalahan yang dihadapi adalah masih terjadi tindakan manipulasi data serta ketidaksesuaian penyimpanan data. Aspek efficiency masih kurangnya fasilitas billing system khususnya billing system yang belum terhubung langsung dengan bagian keuangan, serta masih terjadi kesalahan dalam penginputan data. Aspek service pengguna merasakan kemudahan penggunaan namun perlu dilakukan pengembangan modul billing system khususnya modul- modul perawatan medical record dan inentory pharmacy

Kesimpulan: Billling system yang diterapkan di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere sudah dijalankan namun belum memberikan hasil yang optimal kepada rumah sakit. Hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas serta dukungan dari organisasi.

Kata Kunci:Billing System, Analisis PIECES, Persepsi, Evaluasi Sistem Informasi.

(13)

MAUMERE HOSPITAL

Mariana Bare Leba1, Eko Nugroho2, Satibi3

ABSTRAK

Background: Implementation of billing system at dr. T. C. Hillers Hospital Maumere is expected to give positive contribution on the effectiveness and efficiency for health services at the hospital. The main problems facing the hospital in implementing the billing system included delayed information report, data inaccuracy, and lack of data, all of which led to financial loss. One of the evaluation methods for studying the use of billing system is user perception-based evaluation.

Objective: The research aims at figuring out the benefits of billing system implementation at dr. T. C. Hillers Hospital Maumere.

Method: A descriptive study was conducted using qualitative approach to describe the user perception on the benefits of billing system implementation at dr. T. C. Hillers Hospital Maumere, which are described using performance, information, economic, control, efficiency, and service (PIECES) analysis.

Results: In the aspect of performance, the main problems included delayed loading system, frequent electric blackout, and technical error in the computer. In the aspect of information, the main problems included inconsistency between the output and the information required by the user. In the economic aspect, the implementation of billing system could not cut the operational costs of the hospital since the system needs regular maintenance costs and labor costs. In the control aspect, the main problems included data manipulation and data storage inconsistency. In the aspect of efficiency, the problems included lack of billing system facilities, particularly since the system was not directly connected to the financial division of the hospital, and errors in data entry. In the aspect of service, the users perceived that the system was helpful, but the billing system modules needed improvements, particularly medical record and inventry pharmacy modules.

Conclusion: The billing system had been applied at dr. T. C. Hillers Hospital Maumere despite lack of optimum benefits for the hospital. It was attributable to limitation of human resources, facilities, and organizational support.

Keywords: Billing System, PIECES Analysis, Perception, Information System Evaluation

(14)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah Sakit merupakan salah satu media atau sarana pelayanan kesehatan yang dibangun agar dapat memberikan pengobatan kepada masyarakat dengan tujuan agar dapat meningkatkan taraf kesehatan manusia. Menyadari pentingnya implementasi sistem informasi kesehatan berbasis elektronik, rumah sakit juga menerapkan penggunaan teknologi informasi yang dikenal dengan Hospital Information System (HIS). Menurut Yucel et al., (2012) Hospital Information System merupakan suatu sistem informasi terpadu yang dirancang untuk mengelola administratif misalnya sumber daya manusia dan manajemen data, mengelola proses pembiayaan misalnya persediaan, pembelian dan akuntansi, mengelola perawatan pasien misalnya janji penjadwalan, pemeriksaaan, operasi, dan perawatan. Informasi yang dihasilkan dari Hospital Information System digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan baik untuk manager tingkat atas, manager tingkat menengah maupun manager tingkat bawah.

Menurut Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) penggunaan Electronic Health Record (EHR) dapat dibagi menjadi 8 tahap tingkat adopsi, mulai dari tahap 0 hingga tahap 7 yaitu tingkat pengadopsian EHR yang kompleks. Data HIMSS pada bulan Desember 2013 menunjukan bahwa dari 5439 rumah sakit didunia hanya 114 rumah sakit yang sudah benar-benar menggunakan EHR sampai pada tahap 7 atau hanya berkisar 2.1%. Hal ini menunjukan bahwa tingkat penggunaan EHR masih sangat rendah. (Himss, 2013)

Dalam penerapan sistem informasi rumah sakit berbasis elektronik ada berbagai bentuk cakupan subsistem informasi yang dapat menjadi landasan pengembangan sistem informasi berbasis elektronik di rumah sakit diataranya adalah sistem informasi medis dan pelayanan perawatan, sistem informasi penunjang medis dan sistem informasi admisistrasi dan keuangan. Sistem informasi medis terdiri dari beberapa modul-modul yang dikembangakan untuk

(15)

2 pencatatan pasien rawat jalan, modul index pasien atau diagnosa, modul order, modul rekam medik pasien, dan modul pelayanan perawatan. Dalam implementasi sistem pencatatan kesehatan penunjang medis, ada beberapa modul- modul yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem informasi berbasis eletronik yaitu modul farmasi, modul laboratorium, modul radiologi, modul instalasi gizi, dan modul instalasi gawat darurat. Dalam cakupan administrasi keuangan, modul-modul yang perlu dikembangkan dalam sistem informasi berbasis elektronik terdiri dari modul registrasi pasien, modul pembayaran pasien rawat inap dan rawat jalan, modul kepegawaian, modul pendapatan rumah sakit, modul pengeluaran rumah sakit, modul perencanaan keuangan dan modul penganggaran.

Salah satu penerapan Hospital Information System (HIS) adalah Billing system. Billing system merupakan suatu sistem yang sangat penting dalam kehidupan dan pertumbuhan suatu rumah sakit, khususnya dalam hal kelancaran dan stabilisasi keuangan dalam sebuah rumah sakit. Billing system merupakan salah satu sistem penagihan berbasis eletronik yang dikembangkan dengan tujuan agar dapat mempermudah dan mempercepat sistem penagihan biaya perawatan yang telah dilakukan kepada pasien mulai dari pendaftaran, pelayanan kesehatan hingga pasien pulang. Dengan adanya billing sistem ini rumah sakit juga dapat memperoleh informasi mengenai jumlah kunjungan pasien dan jumlah pendapatan yang diperoleh rumah sakit dari pelayanan yang telah dilakukan oleh rumah sakit.

Billing system ini di design sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi dan menghitung biaya yang harus dibayar oleh pasien secara otomatis.

Dalam penelitian (Stead & W., Lin, 2009) mengenai implementasi sistem informasi kesehatan dalam penelitiannya disebutkan bahwa investasi sistem informasi kesehatan merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam meningkatan efektifitas dan efisiensi perawatan kesehatan pada pasien namun dalam penerapannya setengah dari rata-rata dari sektor kesehatan swasta termasuk rumah sakit telah menolak investasi teknologi informasi karena

(16)

dianggap bahwa manfaat yang diperoleh dari implementasi teknologi informasi kesehatan dalam sektor kesehatan itu tidak pasti. Penelitian yang dilakukan oleh Devaraj et al., (2013) mengenai dampak dari implementasi sistem informasi kesehatan yang dilakukan di Amerika Serikat pada kinerja perawatan pasien dan kinerja keuangan, hasilnya menunjukan bahwa dari analisis data 547 rumah sakit, penerapan sistem informasi kesehatan telah memberikan dan meningkatkan kinerja perawatan rumah sakit kepada pasien namun tidak meningkatkan kinerja keuangan rumah sakit.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dalam bidang kesehatan, RSUD dr. T. C. Hillers Maumere juga mengembangkan dan menerapakan sistem informasi rumah sakit yaitu billing system. Pada awalnya kenyataan yang dihadapi dirumah sakit adalah penagihan biaya perawatan yang dilakukan dirumah sakit bersifat manual. Pasien diharuskan untuk meninggalkan klinik perawatan, menuju ke kasir, mengambil tiket antrian, dan kemudian harus dalam antrian panjang dan memakan waktu yang lama mengunggu petugas untuk menghitung semua total biaya pelayanan kesehatan selama pasien di rumah sakit secara manual. Selain itu terjadi ketidaklengkapan data dan keterlambatan pelaporan data dan informasi billing system baik kepada pasien maupun kepada lingkup rumah sakit, khususnya bagian keuangan. Hal ini menunjukan ketidakefektifan pemberian layanan rumah sakit kepada pasien. Sebagai institusi kesehatan pemerintah, RSUD dr. T. C.

Hillers menerapkan penggunaan billing system dengan tujuan agar data dan informasi mengenai pendapatan dan biaya pelayanan rumah sakit kepada pasien dapat diproses secara cepat, tepat dan akurat sehingga dapat memberikan kinerja pelayanan kesehatan yang efektif dan efisisen baik untuk rumah sakit maupun kepada pasien. Namun dalam penerapannya manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh rumah sakit. Pihak rumah sakit mengemukakan bahwa penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere belum efektif dan sesuai dengan tujuan rumah sakit yaitu meningkatkan kualitas layanan karena dalam prakteknya informasi yang dihasilkan oleh sistem ini belum akurat.

Selain itu masih terjadi keterlambatan pelaporan informasi rumah sakit. Masalah

(17)

keterlambatan dalam sistem pelaporan rangkaian data administrasi, keterlambatan pengambilan keputusan oleh petinggi rumah sakit, serta kerugian yang dialami oleh rumah sakit akibat kesalahan dalam claim asuransi. Penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere belum efektif karena baru diterapkan untuk bagian rawat inap dan rawat jalan, jadi billing system yang diterapkan di RSUD dr. T. C. Hillers ini belum terintegrasi dengan semua unit-unit penunjang layanan di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere.

Implementasi billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere diharapkan dapat meningkatkan kinerja pelayanan rumah sakit kepada masyarakat. Memasuki tahun 2014, pemerintah telah mencanangkan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN) dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak (Kementerian-Kesehatan, 2013). Menurut Pannarunothai et al. (2004) penentuan kebijakan jaminan kesehatan adalah sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup bagi masarakat miskin dan untuk memperbaiki akses pelayanan dan perawatan kesehatan yang tidak merata.

Dengan adanya peraturan pemerintah mengenai Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN) ini rumah sakit dituntut untuk menjalankan dan memiliki tantangan yang sangat besar dalam menghadapi era Jaminan Kesehatan Nasional terutama dalam hal pemberian pelayanan asuransi kesehatan yang optimal kepada masyarakat.

Oleh karena itu rumah sakit sangat memerlukan kajian informasi mengenai billing system terutama mengenai penyesuaian program pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang baru dijalankan pada tahun 2014, karena program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) erat kaitannnya dengan sistem pembiayaan asuransi yang merupakan sebagian besar sumber pendapatan rumah sakit dan sangat berkaitan dengan sistem informasi rumah sakit khususnya billing system. Sampai saat ini pihak RSUD dr T. C. Hillers juga telah merencanakan pengembangan billing system rumah sakit yang rencananya akan diselenggarakan pada periode

(18)

tahun 2014. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu adanya kajian mengenai billing system yang sudah diterapkan di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere. Dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan adanya rencana pengembangan sistem informasi rumah sakit ini maka evaluasi mengenai billing system perlu dilakukan agar pihak rumah sakit dapat memperbaiki serta menyesuaikan program pengembangan billing system rumah sakit dalam menghadapai era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini dengan lebih baik.

Menurut Bundschuh et al., (2011) tujuan dari evaluasi sistem adalah untuk mengidentifikasi titik awal dari kegunaan pengembangan sebuah sistem teknologi informasi dan sebagai tindak lanjut dari evaluasi yang lebih rinci untuk pengembangan sistem teknologi informasi dimasa yang akan datang. Pada awal penerapan billing system, hingga saat ini belum pernah dilakukan evaluasi baik secara teknis maupun non teknis mengenai penerapan billing system di RSUD dr.

T. C Hillers Maumere.

Ada berbagai metode dalam evaluasi sistem informasi kesehatan, salah satunya adalah evaluasi berdasarkan pada persepsi pengguna sistem. Menurut Khalifa, (2013) hambatan-hambatan yang terjadi dalam implementasi sistem informasi dinegara berkembang bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor teknis tetapi juga disebabkan oleh faktor manusia yaitu faktor yang berhubungan langsung dengan keyakinan, sikap, dan perilaku seseorang ,serta motivasi dan inisiatif pribadi untuk mengadopsi dan menggunakan sistem untuk untuk menjalankan tugas-tugas dalam bidang kesehatan. Evaluasi berdasarkan pada pengguna sangat penting untuk dilakukan karena pengguna merupakan kunci keberhasilan dalam sebuah implementasi sistem informasi. Menurut Vishwanath et al., (2010) keberhasilan penerapan sistem pencatatan elektronik bergantung pada keyakinan dan sikap dari dokter dan pengguna sistem. Penelitian ini juga menunjukan bahwa dalam pencapaian keberhasilan sistem informasi juga bergantung pada kepercayaan pengguna tentang inovasi baru yang didasarkan pada penilaian kesesuaian antara tugas-tugas pengguna dan kemampuan teknologi inovasi baru untuk melakukan tugas dengan lebih efisien. Selain itu Brender et

(19)

informasi juga dapat diidentifikasi melalui persepsi para pengguna. Pengguna sistem informasi atau end user meliputi operator billing system yang langsung mengoperasiksan sistem dan juga pihak manajemen yang merupakan pengguna dari hasil atau output dari billing system. Menurut Brigl et al., (2005) evaluasi sistem informasi rumah sakit perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kualitas outcome memberikan kontribusi untuk rumah sakit.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: “Bagaimana persepsi pengguna terhadap billing system di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Melakukan evaluasi implementasi billing system di RSUD dr. T. C.

Hillers Maumere dari segi persepsi pengguna.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan apsek kinerja

b. Mengetahui persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek informasi

c. Mengetahui persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek ekonomi

d. Mengetahui persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek keamanan

e. Mengetahui persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek efisiensi

f. Mengetahui persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek pelayanan

(20)

D. Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi Rumah Sakit

a. Penelitian ini diharapkan agar dapat memberikan masukan bagi pihak rumah sakit dalam melakukan implementasi teknologi informasi kesehatan di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere.

b. Sebagai kajian dan masukan bagi Direktur RSUD dr. T. C. Hillers Maumere khususnya mengenai billing system dalam rangka menghadapi era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sedang berlangsung saat ini.

c. Sebagai bahan pertimbangan bagi Direktur RSUD dr. T. C. Hillers Maumere untuk menetapkan kebijakan lanjutan yang berkaitan dengan pengadaan sistem informasi kesehatan rumah sakit dimasa yang akan datang.

2. Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini diharapkan agar dapat memberikan kontribusi untuk peneliti lain dalam penelitian selanjutnya, khususnya mengenai evaluasi teknologi informasi dalam bidang kesehatan.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai implementasi sistem informasi dalam bidang kesehatan sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti, sehingga penelitian ini merupakan variasi ataupun juga kelanjutan dari penelitian yang sudah pernah ada.

Penelitian sebelumnya yang pernah melakukan penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1

(21)

Peneliti Tahun Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Budiyanto 2009 Evaluasi Sistem

Billing Pasien Dalam Rangka Meningkatkan Efektifitas

Operasional Rawat Jalan

(Evaluation of Patient Billing System)

Objek penelitian yaitu sama-sama meneliti tentang implementasi billing system.

Persamaan lainnya adalah jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif dan bersifat evaluasi

Metode

analisis data.

Penelitian ini menggunakan metode perbandingan antara sistem dan prosedur rawat jalan dengan sistem billing rawat jalan.

Rodrigues 2013 DMMMSU-MLUC Research Information and Management System

Metode analisis PIECES

Menganalisis sistem informasi penelitian yang dilakukan secara manual Irwani 2010 Evaluasi Penggunaan

Sistem Informasi Manajemen Obat pada Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota Se- Provinsi Yogyakarta

Penelitian bersifat deskriptif.

Metode

analisis data menggunakan Mix method.

Suratmiarto 2007 Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Badan Penyelenggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) “Jasma Angsana” Kota Singkawang Tahun 2006

Persamaannya adalah

penelitian ini sama-sama menggunakan metode

kualitatif dan bersifat

deskriptif

Variabel penelitian meliputi

variabel input, proses dan output

(22)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Sistem Informasi

Informasi adalah data yang diolah dan dianalisis yang mempunyai makna tertentu yang dapat digunakan oleh orang lain sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan (Burch & Grudnitski, 1986). Menurut Turban et al., (2006) Sistem Informasi adalah kegiatan mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu.

Menurut Simarmata, (2006) ada 3 komponen sistem informasi yaitu komponen perangkat masukan (input device), digunakan untuk pemasukan data yang akan diproses. Perangkat pemroses (processing device) digunakan untuk memproses perangkat data yang telah dimasukan melalui perangkat masukan. Sedangkan perangkat keluaran (output device) digunakan untuk menampilkan hasil pemrosesan yang dikerjakan oleh prosesor.

Pada umumnya ada beberapa kompunen-kompenen sistem informasi yang terdiri dari:

a. Perangkat keras merupakan kumpulan dari peralatan-peralatan yang digunakan dalam pengelolaan informasi.

b. Perangkat lunak adalah serangkaian program atau aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan untuk menjalankan proses data

c. Basis data yaitu kumpulan dari berbagai data yang dapat berupa gambar, tabel, foto, yang dikumpulkan dalam bentuk file

d. Jaringan merupakan sebuah sistem yang didesign dengan tujuan agar dapat mengkoneksikan berbagai komputer dengan menggunakan sistem nircabel

e. Prosedur adalah petunjuk mengenai sistem yang didesign untuk memberikan instruksi kepada pengguna mengenai cara mengabungkan beberapa komonen sehingga informasi dapat diproses.

(23)

pengguna yang berfungsi sebagai operator atau orang yang bekerja dengan sistem informasi tersebut.

Berikut ini adalah tingkatan daur hidup pengembangan sistem informasi menurut

a. Tingkatan definisi

Terdiri dari penilaian kelayakan dan analisis informasi b. Tingkatan design fisik

Terdiri dari design sistem, pengembangan program dan pengembangan prosedur

c. Tingkatan implementasi

Terdiri dari konversi, pengoperasian dan pemeliharaan, dan audit kemudian.

Jadi sistem informasi merupakan sebuah rangkain atau kumpulan dari perangkat keras dan perangkat lunak dan terdiri dari beberapa komponen yaitu komponen input, komponen proses dan komponen output yang digunakan untuk menginput, mengolah, menyimpan dan menghasilkan informasi yang berguna untuk tujuan tertentu.

2. Sistem Informasi Manajemen

Menurut Moekijat, (1991) Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah jaringan prosedur pengolahan data yang dikembangkan dalam suatu organisasi dan disatukan apabila dipandang perlu, dengan maksud memberikan data kepada manajemen setiap waktu diperlukan, baik data yang bersifat intern maupun yang bersifat eksteren, untuk dasar pengambilan keputusan. Selain itu Kumorotomo &

Margono, (1994) mendeskripsikan sistem informasi manajemen sebagai suatu sistem yang menyediakan kepada pengelola organisasi, data maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas organisasi. Tujuan utama dari

(24)

sistem informasi manajemen adalah agar organisasi memiliki suatu sistem yang dapat diandalkan dalam mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat dalam pembuatan kepututsan manajemen, baik yang menyangkut keputusan-keputusan rutin maupun keputusan-keputusan strategis. Jadi secara umum sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem yang dibangun untuk mengolah data menjadi sebuah informasi yang berguna bagi para pengambil kebijakan sebagai landasan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup sebuah organisasi. Berikut ini adalah gambaran mengenai manajemen informasi menurut (Kozar, 1989)

Gambar 1 Manajemen Informasi

Ada tiga bagian yang sangat penting dalam sebuah manajemen informasi yaitu sistem pendukung operasi, sistem pendukung pengambilan keputusan dan sistem pendukung komunikasi. Dalam aspek operational support system dijelaskan bahwa fungsi dari sistem pendukung operasional ini adalah sebagai pendukung aktifitas dari suatu organisasi yaitu memproses atau melakukan transaksi dan laporan umum mengenai kegiatan-kegiatan dalam suatu organisasi. Sedangkan dalam aspek decicsion support system dijelaskan bahwa dalam sebuah manajemen ada beberapa tingkatan manajemen yaitu manager atas, manager menengah dan manager lini bawah. Dengan adanya tingkatan manager ini maka kebutuhan untuk informasi juga berbeda-beda, sesuai dengan tipe dan jenis pekerjaan serta tangung jawab masing-masing. Communication support system membantu organisasi untuk mengkontrol semua aktifitas yang dilakukan dalam organisasi. Dalam hal

Information Management

Operational Support System

Decision Making Support Systems

Communication Support System

(25)

waktunya agar meningkatkan efektifitas kinerjanya untuk meningkatkan kinerja organisasi.

3. Sistem Informasi Rumah Sakit

Sistem informasi manajemen kesehatan merupakan sebuah proses dimana data kesehatan dapat dicatat, disimpan dan diproses untuk pembuatan kebijakan, perencanaan, implementasi dan evaluasi program kesehatan (Nyamtema, 2010).

Dalam penerapan teknologi sistem informasi, sangat penting kebijakan berbasis bukti dan informasi pengambilan keputusan di semua tingkatan manajerial dalam suatu organisasi atau institusi. Menurut Khan, (2010) Hospital Informaton System dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem komputer yang didesign untuk mengintegrasikan semua data yang dibutuhkan dirumah sakit, yang terdiri dari informasi pasien, penagihan atau billing, keuangan dan akuntansi, pegawai dan penjadwalan, permintaan atau pemesanan farmasi, penanganan resep, persediaan, pemeliharaan dan pemesanan managemen, laporan diagnosis dari unit laboratorium, radilogi dan monitoring pasien serta sebagai sistem pendukung keputusan rumah sakit.

Rumah sakit adalah Institusi atau lembaga kesehatan yang terdiri dari kelompok medis dan profesional yang terorganisir dan berorientasi pada pelayanan pengobatan pasien yang meliputi rawat inap medis, keperawatan, dan layanan kesehatan lainnya (Abdelhak, 2001). Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) adalah sistem yang mampu melakukan integrasi dan komunikasi aliran informasi baik dalam maupun diluar rumah sakit. Sistem informasi rumah sakit meliputi sistem informasi rekam medis elektornik, laboratorium, sistem informasi radiologi, sistem informasi farmasi, sistem informasi keperawatan, sistem informasi gizi dll (Kusumadewi et al., 2006).

Dalam jangka panjang sistem pelayanan rumah sakit harus diperhatikan karena semua pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit kepada pasien akan mencerminkan seberapa besar kualitas rumah sakit itu sendiri. Untuk

(26)

meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit maka sistem yang harus dibangun adalah peningkatan fasilitas kesehatan, peningkatan fasilitas perawatan, serta peningkatan kepuasan pasien dalam peneriamaan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Menurut Sulastomo, (2007) ada beberapa alasan untuk meningkatakan kemampuan manajemen rumah sakit yaitu:

a. Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang cepat.

b. Demand atau permintaan masyarakat yang semakin meningkat dan meluas.

c. Meningkatnya unsur-unsur penunjang medis.

Menurut Nugroho, (2008) dalam manajemen rumah sakit terdapat dua subsistem informasi medis yaitu:

a. Sub sistem medis dan pelayanan perawatan yang terdiri dari modul pencatatan pasien rawat inap, modul pencatatan pasien rawat jalan, modul index pasien atau diagnosa, modul distributive charge entry, modul order, modul pelaporan hasil kegiatan, modul medical record, modul penjadwalan pasien dan modul pelayanan perawatan.

b. Sub sistem penunjang medis yang terdir dari modul farmasi rumah sakit, modul laboratorium, medul perpetual inventory, modul respriratory therapy, modul therapy, modul radilogy, modul instalasi gizi, dan modul instalasi gawat darurat.

Pembangunan sistem informasi rumah sakit mempunyai tujuan baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek (Nugroho, 2008). Dalam jangka panjang fokus sasaran rumah sakit tergolong menjadi 3 yaitu berdasarkan level manajemen yang meliputi manajemen tingkat atas, manajemen tingkat menegah dan manajemen tingkat bawah. Pada level manajemen tingkat atas diharapkan pengembangan sistem informasi manajemen dapat membantu para manager tingkat atas dalam merencanakan aliansi-aliansi stategis rumah sakit dengan organisasi lain dengan prinsip saling menguntungkan. Selain itu juga diharapkan agar dapat menunjang kebijakan umum yang bersifat jangka panjang,

(27)

cabang rumah sakit serta peningkatan dalam persiapan sumber daya manusia dalam jangka panjang. Sedangkan dalam jangka pendek, pengembangan sistem informasi manajemen rumah sakit memiliki sasaran dan prioritas pada pengembangan lebih lanjut dari sistem yang sekarang sudah ada.

4. Billing System

Billing system merupakan sebuah aplikasi yang digunakan dan dimanfaatkan oleh orang maupun organisasi untuk menjalankan proses penagihan biaya pelayanan kesehatan sehingga proses kerja menjadi lebih efisien. Menurut Au & Kauffman, (2001) electronic billing system merupakan sebuah teknologi yang memungkinkan penagih menyajikan tagihan biaya pelayanan kepada konsumen serta memungkinkan konsumen untuk membayar tagihan secara elektronik. Industri kesehatan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi sehingga keberhasilan finansial suatu organisasi tergatung pada keakuratan dan ketepatan waktu penagihan biaya kesehatan (Mitchell, Anderson, & Braun, 2003). Menurut Fan et al. (2013) salah satu faktor yang penting dalam kelancaran sistem penagihan juga terletak pada kelengkapan data administrasi dan ketepatan penentuan kode diagnosis. B. K. Potter et al. (2005) juga menyebutkan bahwa masalah yang sering dihadapi dalam implementasi billing system adalah masalah kualitas data. Berikut ini merupakan langkah-langkah yang tepat untuk menjalankan proses coding dan billing menurut (Steps & Correct, 2010):

1. Kelayakan Pasien a. Arahan

Verivikasi bahwa pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan memiliki jasa asuransi kesehatan.

b. Otorisasi Pembayar

Untuk beberapa pelayanan kesehatan harus memerlukan beberapa persetujuan pra persetujan tes

2. Kunjungan Pasien

Laporan berfungsi sebagai dokumnetasi untuk kunjungan pasien

(28)

3. Persyaratan Penagihan atau Billing requirements

a. Klasifikasi internasional mengenai pengendalian penyakit yang valid berdasarkan pada kode ICD-9

b. Kesesuaian dalam prosedur kode terminologi penyakit c. Pengubahan yang tepat

d. Pelaporan yang tepat waktu e. Pengajuan yang tepat waktu

Menurut Kalies et al. (2008), hal-hal yang sangat penting dalam penerapan billing system adalah kesesuaian data penagihan biaya pelayanan kesehatan, selain itu salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam sistem dan kesesuaian pangihan adalah terletak pada identitas pengguna jasa asuransi kesehatan. Salah satu faktor penting yang juga harus diperhatikan dalam efektifitas pelayanan billing system adalah terletak pada keseimbangan dan kesesuaian biaya tagihan pelayanan kesehatan kepada pasien yang tidak memiliki asuransi dengan standar pendapatan yang berbeda-beda, penelitian ini menunjukan bahwa sistem penagihan biaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang tidak memiliki asuransi juga harus ditentukan berdasarkan pada tingkat pendapatan dari pasien (Lynk & Alcain, 2008).

Adapun proses penagihan di rumah sakit menurut Mitchell et al. (2003) adalah sebagai berikut:

(29)

Gambar 2. Proses Penagihan Pengesahan

Diagnosis

Penyampaian perintah layanan, Diagnosis dan

pengobatan, Obat, Laboratorium, Radiologi, Operasi dll

Perintah kode layanan dari biaya utama

Lembar periksa dokter yang merangkum mengenai diagnosis

utama, diagnosis sekunder operasi, Laboratorium, Tanda-

tanda dan gejala

Medical Record, review seluruh medical record, mengekstrak informasi untuk menetapkan kode ICD-9 yang

paling tepat

Medicare intermediary screens claims, medicare code editor,

klasifikasi pengelompokan software DRG

(30)

5. Persepsi

Persepsi adalah suatu proses otomatis yang terjadi dengan sangat cepat dan terkadang tidak kita sadari, dimana kita dapat mengenali stimulus yang kita terima (Notoadmojo, 2010). Sedangkan menurut Robin (2003) dalam Notoadmojo, (2010) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses dimana seseorang mengorganisasikan dan menginterperstasikan sensasi yang dirasakan dengan tujuan untuk memberi makna terhadap lingkungannya. Ada dua bagian dalam mempelajari persepsi yaitu sensasi yang menyangkut proses sensoris dan proses persepsi yang menyangkut interprestasi terhadap objek yang dilihat atau didengar ataupun yang dirasakan. Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi.

Faktor penyebab persepsi dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

a. Faktor Eksternal, yang terdiri dari: kontras, perubahan intensitas , pengulangan (repetition) , sesuatu yang baru (novelty) , dan sesuatu yang menjadi perhatian banyak orang.

b. Faktor Internal yang terdiri dari: pengalaman atau pengetahuan, harapan atau expectation, kebutuhan, motivasi , emosi, dan budaya

Persepsi pengguna merupakan suatu pengalaman masa lampau mengenai suatu objek yang telah di alami yang dapat membentuk sebuah pola atau menggambarkan situasi tertentu. Menurut Jogiyanto, (2008) penerimaan individual terhadap sistem teknologi informasi di tentukan oleh kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use).

a. Kegunaan persepsian (perceived usefulnes) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatakan pekerjaannya. Kegunaan persepsian merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan. Dengan demikian jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi kurang berguna maka dia tidak akan menggunakannya.

b. Kemudahaan penggunaan persepsian (perceived ease of use) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa

(31)

penggunaan persepsian ini merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan. Jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka dia tidak akan menggunakannya.

Penelitian mengenai persepsi para pengguna teknologi informasi juga pernah diteliti oleh (Granlien & Hertzum, 2012). Dalam penelitian ini dibahas mengenai persepsi pengguna sistem electronic medicated record yang terdiri dari manager tingkat atas, manager tingkat menengah, manager tingkat bawah serta staf klinis mengenai sejauh mana adopsi electronic medicated record, kemungkinan hambatan serta persepsi dari kegunaan dan kemudahan penggunaan sistem.

Hasilnya adalah implementasi electronic medicated record sudah berjalan dengan baik, karena sebagian besar pengguna sistem menunjukan persepsi yang positif mengenai electronic medicated record, namun dalam implementasinya masih ada hambatan-hamabatan yang perlu untuk dikendalikan.

6. Pengguna Sistem Informasi

Menurut Jogiyanto, (2009) penggunaan sistem informasi didasarkan pada tingkatan manajemen. Manajemen membutuhkan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan mereka. Sistem informasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyediakan informasi untuk semua tingkatan manajemen.

Tingkatan manajemen dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu manajemen tingkat bawah (tingkat operasional), manajemen tingkat menengah (tingkat taktik), dan manajemen tingkat atas (tingkat strategik).

Sedangkan menurut Davis, (1984) membagi pemakai sistem informasi manajemen menjadi 4 kriteria yaitu:

a. Petugas administrasi, mengerjakan transaksi, mengolah data, dan menjawab pertanyaan

(32)

a. Manajer tingkat bawah, mendapatkan data operasi. Membantu perencanaan panjadwalan, mengetahui situasi yang tak terkendali dan mengambil keputusan

b. Staf ahli, informasi untuk analisis. Membantu dalam analisis perencanaan dan pelaporan

c. Manajemen, laporan tetap. Permintaan informasi khusus, analisis khusus, laporan khusus, membantu mengenali persoalan dan peluang, membantu dalam analisis pengambilan keputusan.

7. Evaluasi Sistem

Evaluasi sistem informasi kesehatan merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh infromasi mengenai manfaat yang diperoleh dan menilai pencapaian tujuan dalam mendukung jasa pelayanana kesehatan kepada pasien (Yusof et al., 2012). Menurut (Jogiyanto, 2008) ada beberapa model evaluasi yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi sistem informasi kesehatan diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Model TAM (Technology Acceptance Model)

Merupakan sebuah model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan oleh pemakai. Model TAM ini dikembangnkan untuk menilai keputusan yang dilakukan oleh individu untuk menerima suatu teknologi sistem informasi. Dalam evaluasi model TAM, ada 2 konstruk utama yang akan dinilai yaitu kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use). Model TAM dapat dilihat dari gambar berikut:

(33)

Gambar 3. Technologi Acceptance Model

2. Model Kesuskesan Sistem Informasi DeLone dan McMean

Menurut Mohiddin, (2012) model ini menggambarkan sebuah studi mengenai indentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi dalam kesuksesan sebuah sistem informasi. Penilaian kesuksesan sistem informasi ini dipengaruhi oleh enam aspek yaitu sistem quality yaitu mengenai langkah-langkah proses pengolahan informasi sendiri, information quality menyangkut langkah-langkah atau hasil dari sistem informasi, use penerimaan output dari sistem informasi , user satisfaction menyangkut respon dari pengguna mengenai sistem informasi, individual impact menyangkut effek dari informasi berupa kebiasaan dari pengguna dan organizational impact mengenai efek informasi untuk kinerja organisasi. Model kesuksesan sistem informasi delone dan mcmean dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Kegunaan persepsian (perceived usefulness)

Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease

of use)

Sikap terhadap perilaku

Minat perilaku (behavioral

Intention)

Perilaku (behavior)

(34)

Gambar 4. Model DeLone dan McMean 3. Hot-Fit Model

Menurut Nugroho, (2008) model ini menempatkan komponen penting dalam sistem informasi yakni manusia (human), organisasi (organization) dan teknologi (technology) serta kesesuaian hubungan diantaranya. Komponen manusia (human) menilai sistem informasi dari sisi penggunaan sistem (system use) pada frekuensi dan luasnya fungsi dan penyelidikan sistem informasi. System use juga berhubungan dengan siapa yang menggunakan (who use it), tingkat penggunaannya (level of user), pelatihan, pengetahuan, harapan dan sikap menerima (acceptance) atau menolak (resistance) sistem. Komponen organisasi menilai sistem dari aspek struktur organisasi dan lingkungan organisasi. Struktur organisasi terdiri dari tipe, kultur, politik, hierarki, perencanaaan dan pengendalian sistem, strategi, manajemen dan komunikasi. Kepemimpinan, dukungan dari top manajemen dan dukungan staf merupakan bagian yang penting dalam mengukur keberhasilan sistem informasi. Komponen teknologi terdiri dari kualitas sistem (system quality), kualitas informasi (information quality), dan kualitas layanan (service quality). Kualitas sistem dalam sistem informasi khususnya dalam institusi kesehatan menyangkut keterkaitan fitur dalam sistem termasuk performa sistem dan user interface.

System quality

Information quality

Individual impact

Organizational impact Use

User satisfaction

(35)

Gambar 5. Model HOT Fit

4. Analisis PIECES

Menurut Al Fatta, (2007) analisis PIECES merupakan sebuah analisis yang dilakukan untuk mengidentifikasi masalah kinerja, informasi, ekonomi, keamanan aplikasi, efisiensi, dan pelayanan pelangaan. Analisis kinerja (performance) terjadi ketika tugas-tugas bisnis yang dijalankan tidak mencapai sasaran. Kinerja diukur dengan jumlah produksi dan waktu tanggap. Analisis Informasi (information) merupakan evaluasi terhadap kemampuan sistem informasi dalam menghasilkan informasi yang bermanfaat hal ini perlu dilakukan untuk menyikapi peluang dan menangani masalah yang muncul. Analisis ekonomi (economic) merupakan analisis mengenai biaya dan keuntungan dari suatu organisasi dalam penerapan sebuah sistem informasi. Analisis kemamanan (control) dilakukan untuk meningkatkan kinerja sistem, mencegah, atau mendeteksi kesalahan sistem, menjamin keamanan data, informasi, dan persyaratan. Analisis efisiensi (efficiency) menyangkut bagaimana menghasilkan output sebanyak-banyaknya dengan input yang sekecil mungkin. Sedangkan analisis pelayanan (service) berkaitan dengan penilaian mengenai output dari sistem informasi berupa peningkatan terhadap pelayanan dalam sebuah organisasi.

Orang (Human)

Organisasi (Organization)

Teknologi (Technology)

(36)

8. Analisis PIECES

Metode evaluasi PIECES merupakan metode evaluasi sistem yang terdiri dari enam variabel yaitu performance, information, economic, control, efficiency, service (Whitten et al., 2004). Metode PIECES ini diperkenalkan oleh James Wetherbe yang berguna untuk mengklasifikasikan masalah-masalah.

1. Analisis Kinerja (Performance) yaitu kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki performance atau performa. Analisis performance dapat dilakukan dengan menilai produksi dan waktu respon. Produksi yaitu jumlah kerja selama periode waktu tertentu. Waktu respon merupakan penundaan rata-rata antara transaksi atau permintaan dengan respon ke transaksi atau permintaan tersebut.

2. Analisis information yaitu kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki information atau informasi (data). Dalam analisis informasi, identifikasi masalah dapat dilakukan dengan menilai informasi dengan keakuratan, relevan dan ketepatan waktu informasi atau data yang disajikan.

3. Analisis economic adalah kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki economi, mengendalikan biaya, atau meningkatkan keuntungan. Analisis ekonomi dilakukan dengan menilai kapasitas pelayanan yang memadai untuk mengurangi biaya bisnis dan meningkatkan keuntungan bisnis. Jadi dalam penilaian aspek ekonomi dilakukan dengan menilai biaya dan manfaat yang diperoleh dari penerapan sebuah sistem.

4. Analisis control yaitu kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki control atau keamanan. Dalam menilai control suatu sistem maka dapat dilakukan dengan menilai sistem keamanan untuk mengatasi penipuan dan penggelapan untuk menjamin keakuratan dan keamanan data dan informasi.

5. Analisis efficiency adalah kebutuhan untuk mengoreksi atau memperbaiki efisiensi orang dan proses. Efisiensi merupakan sebuah penilaian mengenai penggunaan sumber daya secara maksimum baik orang, waktu, aliran form, meminimalkan penundaan proses dan sebagainya.

(37)

layanan kepada pelanggan, pemasok, rekan kerja, karyawan dan lain-lain.

Penilaian dalam analisis service merupakan sebuah penilaian mengenai layanan yang diinginkan dan andal pada siapa saja yang menginginkannya, dan apakah sistem tersebut dapat fleksibel untuk dikembangakan. Jadi penilaian analisis service dapat diidentifikasi dengan hasil atau output dari sistem, kemudahan penggunaan dan fleksibelitas pengembangan sistem tersebut.

Adapun penelitian yang membahas mengenai analisis PIECES adalah penelitian yang dilakukan oleh Rodriguez & Hufana, (2013) membahas mengenai sistem informasi penelitian yang menggunakan sistem manual. Penelitian ini menganalisis mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam penggunaan sistem informasi penelitian yang dilakukan secara manual menggunakan analisis performance, information, economic, control, efficiency, dan service. Hasilnya adalah ditinjau dari aspek PIECES penerapan RIMS atau research information and management system masih mengalami kendala-kendala, sehingga perlu dilakukan pengembangan research information and management system berbasis elektronik.

B. Kerangka Teori

Penelitian ini menggunakan teori Metode Siklus Hidup Pengembangan Sistem. Dalam teori yang diperkenalkan oleh Raymond Mc Leod ini disebutkan bahwa ada beberapa fase dalam siklus hidup pengembangan sistem yang terdiri dari fase perencanaan, analisis sistem, design sistem, implementasi sistem, operasi sistem serta evaluasi sistem (Nugroho, 2008). Penelitian ini mengacu pada fase evaluasi sistem dengan menggunakan teori performance, information, economic, control, efficiency, dan service sebagai indikator evaluasi billing system di RSUD dr. T.C Hillers Maumere.

Adapun beberapa penelitian yang mengacu pada teori PIECES yang diperkenalkan oleh (Whitten et al., 2004) adalah sebagai berikut:

(38)

Penelitian yang dilakukan oleh (Riana, 2006) mengenai evaluasi sistem informasi manajemen ditinjau dari segi persepsi pengguna dengan menggunakan kerangka teori PIECES dengan menggunakan metode kuantitatif, hasil penelitiannya adalah sebagai berikut, pada aspek performance khususnya bagian pelayanan medis terdapat staf merasa lebih baik bekerja tanpa computer. Sering terdapat kerusakan komputer ketika edit. Aspek Information adalah pengguna bermasalah pada ketidaksesuaian ouput dengan kebutuhan informasi (information overloaded &

information that isn’t in useful format) dan ketidaksesuaian penyimpanan data (data isn’t captured, data captured redundantly) atau dikenal dengan data patah.

Aspek Economic pengguna merasa banyak sumber daya yang akan dibutuhkan untuk pengembangan program. Tidak ada masalah pada aspek Control. Aspek Efficiency adalah adanya masalah dalam ketidakefisienan waktu (people, machine or computers waste time) dan masalah dalam ketidakefisienan sumber daya (people, machine or computers waste materials and supplier). Aspek Service adalah masih merasakan kesulitan dalam input data karena jumlah digit tidak sesuai dengan kebutuhan.

Penelitian yang dilakukan oleh (Respati, 2008) meneliti mengenai persepsi pengguna terhadap sistem informasi perpustakaan dengan menggunakan kerangka teori PIECES hasilnya adalah dari keseluruhan output evaluasi PIECES menunjukan bahwa penerapan sistem online public accsess catalog di perpustakaan sudah memberikan manfaat yang baik kepada organisasi, namun perlu pembenahan pada aspek service dan control

(39)

Gambar 6. Kerangka Teori Pengembangan Sistem Perencanaan

Analisis

Desain

Implementasi

Operasi

Penyempurnaan

Evaluasi

PIECES

Performance Control Information Efficiency

Economic Service

(40)

C. Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian mengenai evaluasi billing system di RSUD dr.

T. C. Hillers Maumere maka penulis mengadopsi kerangka teori analisis PIECES.

Metode evaluasi PIECES merupakan metode evaluasi sistem yang terdiri dari enam variabel yaitu performance, information, economic, control, efficiency, service (Whitten et al., 2004) Kerangka konsep performance, information, economic, control, efficiency, service dapat dilihat pada gambar 7

(41)

Gambar 7. Kerangka Konsep PIECES yang diperkenalkan oleh James Watherbe dalam (Whitten et al., 2004)

Performance - Produksi yang diselesaikan

dengan billing system - Waktu respon penyelesaian

transaksi dengan billing system

Information - Relevansi data dan informasi - Akurasi data dan informasi

billing system

- Ketepatan waktu pelaporan data dan informasi billing system -

Economic - Kapasitas Pelayanan dengan

billing system

- Biaya implementasi billing system

Control - Pengawasan pengeloalan

billing system

- Keamanan data dan informasi billing system

Efficiency - Penggunaan Sumber Daya

dalam impelentasi billing system

- Efektifitas proses kerja dgn menggunakan billing system

Service

- Keandalan bagi pengguna billing system

- Kemudahan penggunaan billing system bagi pengguna - Fleksibel billing system untuk

kondisi saat ini

Kinerja Billing

System

(42)

D. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek performance di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere?

2. Bagaimana persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek information di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere?

3. Bagaimana persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek economic di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere?

4. Bagaimana persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek control di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere?

5. Bagaimana persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek efficiency di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere?

6. Bagaimana persepsi pengguna mengenai billing system berdasarkan aspek service di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere?

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif bersifat deskriptif Penggunaan metode ini diharapkan agar dapat mengkaji secara mendalam pemanfaatan billing system di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere. Menurut Moleong, (2007), penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan digambarkan dengan cara deskripsi dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian ini bersifat evaluasi yang hasilnya diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pengambil kebijakan dalam hal perbaikan dan peningkatan sistem informasi kesehatan di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere. Menurut Kaplan

& Maxwell, (1994) salah satu alasan penggunaan metode kualitatif dalam penelitian evaluasi sistem informasi adalah untuk memahami bagaimana pemakai mempersepsikan sistem dan mengevaluasi sistem, serta mengetahui makna sistem bagi para pemakai.

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian mengenai billing system ini dilaksanakan di RSUD dr. T. C.Hillers Maumere pada bulan Juni-Juli 2014. Alasan memilih lokasi penelitian ini adalah karena semenjak penerapan billing system di RSUD dr. T.C. Hillers Maumere belum pernah dilakukan evaluasi mengenai pemanfaatan billing system bagi rumah sakit.

C. Subjek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini berjumlah 30 orang yang terdiri dari operator billing system 20 orang, bagian keuangan 8 orang dan juga bagian sistem informasi manajemen rumah sakit 2 orang. Pemilihan subjek penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan

(44)

pada tujuan atau maksud tertentu (Patton, 2006). Subjek dalam penelitian ini adalah para pelaku billing system yang terdiri dari bagian sistem informasi manajemen rumah sakit 1 orang, bagian keuangan rumah sakit 3 orang, dan petugas atau operator billing system ruangan 7 orang, semuanya berjumlah 11 orang. Peneliti hanya mengambil 11 orang sebagai responden dalam penelitian ini karena data yang terkumpul sudah sampai pada titik jenuh atau sebagian besar jawaban responden adalah sama.

1. Kriterian Iklusi

a. Operator billing system

b. Staf bagian Keuangan rumah sakit

c. Staf bagian sistem informasi manajemen rumah sakit

d. Pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere 2. Kriteria Eksklusi

a. Operator billing system, staf bagian keuangan rumah sakit, staf sistem informasi manajemen rumah sakit, maupun pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere yang sakit dan tidak bersedia di wawancarai selama diadakan penelitian.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Billing system adalah sistem yang berfungsi mengatur dan memproses semua tagihan yang berkaitan dengan item atau jasa layanan rumah sakit.

2. Pengguna sistem adalah orang-orang atau sumber daya manusia yang langsung terlibat dalam penerapan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere yang terdiri dari bagian sistem informasi manajemen rumah sakit, bagian keuangan rumah sakit, dan petugas atau operator billing system.

3. Persepsi Performance yaitu interprestasi dan gambaran pengguna mengenai kinerja billing system yang diidentifikasi dengan throughput atau jumlah produksi dan waktu respon.

(45)

hasil atau output dari billing system yang berupa informasi yang diidentifikasi dengan keakuratan, ketepatan waktu dan kecepatan pendistribusian informasi.

5. Persepsi Economic yaitu interprestasi dan gambaran pengguna mengenai biaya dan manfaat dari sistem dididentifikasi dengan jumlah biaya yang dikeluarkan dengan pemenuhan kebutuhan melalui penerapan blling system.

6. Persepsi Control merupakan interprestasi dan gambaran pengguna mengenai tingkat keamanan dan pengawasan dalam implementasi billing system

7. Persepsi Efficiency yaitu interprestasi dan gambaran pengguna mengenai jumlah sumber daya yang digunakan dalam pemanfaatan billing system untuk menghasilkan informasi

8. Persepsi Service yaitu interprestasi dan gambaran pengguna mengenai dampak dari implementasi billing system berupa pelayanan yang berkualitas, pemenuhan kebutuhan pekerjaan bagi pengguna serta fleksibilitas pengembangan billing system.

E. Instrumen Penelitian

1. Pedoman wawancara mendalam (indepth interview) berisi daftar pertanyaan mengenai penerapan dan kinerja billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere. Menurut James Wetherbe dalam (Whitten et al., 2004) metode analisis performance, information, economi, control, efficiency, service dapat dikalsifikasikan seperti pada tabel 2

Tabel 2. Instrumen Penelitian

Indikator Keterangan

Performance Menggambarkan kinerja billing system yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang diidentifikasi melalui throughput dan waktu respon

Information Menggambarkan informasi yang dihasilkan dari billing system yang penting bagi pengguna dalam konteks relevan, akurat, dan tepat waktu

Economi Mengambarkan tingkat dan kapasitas pelayanan billing system yang memadai yang diidentifikasi dengan kapasitas pelayanan dan biaya

(46)

Control Menggambarkan lingkungan dimana billing system beroperasi, tipe dan tingkatan keamanan disediakan. Untuk mengatasi penipuan, penggelapan serta menjamin keakuratan dan keamanan data serta informasi. Hal ini dapat diidentifikasi dengan pengawasan dan keamanan billing system

Efficiency Menggambarkan perlunya billing system untuk menghasilkan output dengan tingkatan keefisienan, yang dapat diidentifikasi dengan penggunaan sumber daya dan efektifitas proses

Service Mendeskripsikan pemberian pelayanan dari billing system yang dapat diidentifikasi melalui, keandalan bagi pengguna, kemudahan, dan fleksibel

2. Check list berisi data observasi untuk pengamatan penerapan dan implementasi billing system rumah sakit

3. Recorder, kamera, catatan lapangan dan dokumentasi 4. Perangkat komputer atau laptop

F. Cara Pengumpulan Data

1. Observasi dilakukan dengan mengamati bagaimana jalannnya pelaksanaan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere

2. Wawancara mendalam dilakukan kepada para pengguna billing system untuk mengumpulkan data tentang penerapan dan pemanfaatan billing system di RSUD dr. T. C. Hillers Maumere. Dalam penelitian ini pedoman wawancara dilakukan menggunakan pedoman wawancara terstruktur dan bersifat terbuka.

3. Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data mengenai penerapan dan pelaksanaan billing system di RSUD dr. T. C Hillers Maumere.

G. Metode Analisis Data

1. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (Moleong, 2007), analisis data untuk wawancara dilakukan dengan:

a. Reduksi data yang dilakukan dengan jalan abstraksi b. Menyusun dalam satuan-satuan

c. Koding

d. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data

Gambar

Gambar 1 Manajemen Informasi
Gambar 2. Proses Penagihan Pengesahan
Gambar 3. Technologi Acceptance Model
Gambar 4. Model DeLone dan McMean  3.  Hot-Fit Model
+7

Referensi

Dokumen terkait

sesuai dengan jumlah biaya pengobatan pasien). Penagihan biaya obat dilakukan oleh bagian keuangan pelayanan farmasi. IGD dengan mengarsipkan kuitansi, copy resep dan surat resmi

Untuk memberikan informasi mengenai Hubungan Pengetahuan pasien dan Praktik Petugas Pasien BPJS dengan Waktu Diloket Pelayanan Rawat Jalan di RSUD DrF. Adhyatma,

Penelitian yang dilakukan peneliti sama-sama analisis biaya namun peneliti pada pasien rawat jalan, metode yang digunakan oleh peneliti adalah concurrent untuk

Di bagian TPPRI secara keseluruhan terdapat 6 loket pelayanan, dengan rincian 4 loket untuk bagian pendaftaran pasien IGD dan rawat inap dan 2 loket sebagai pusat

Berdasarkan tabel 1.4 dapat dilihat dalam tiga tahun terakhir berdasarkan jumlah keseluruhan pasien rawat jalan dan pasien rawat inap yaitu

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kesesuaian biaya riil dengan tarif INA-CBG’s pada pasien JKN rawat inap, dan pola pengobatan pasien infeksi saluran

Salah satu unit di bagian rekam medis yang memiliki peranan penting dalam pengelolaan pelayanan pasien adalah unit pendaftaran rawat inap atau yang disebut TPPRI Tempat Pendaftaran

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kesesuaian biaya riil dengan tarif INA-CBG’s pada pasien JKN rawat inap, dan pola pengobatan pasien infeksi saluran kemih, serta faktor