• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian Ke 6 Kejahatan Perang

Dalam dokumen Catatan R KUHP Final (Halaman 114-118)

6.1. Pendahuluan

Istilah kejahatan perang sudah lama dikenal dalam perbincangan hukum internasional, yaitu khususnya dalam hukum humaniter yang sering disebut juga sebagai hukum perang atau hukum konflik bersenjata. Dalam hukum humaniter, istilah kejahatan perang dihubungkan dengan tindakan-tindakan tertentu yang dilakukan oleh para pelaku perang atau pihak yang terlibat dalam perang yang melanggar kaedah hukum humaniter. Tindakan tertentu dapat dikategorikan kedalam pelanggaran berat (Graves breaches) terhadap hukum humaniter dan pelanggaran lainnya (yang bukan dikategorikan berat).

Hal ini secara jelas tercantum pada Konvensi Genewa 1948 dan kemudian dilengkapi dengan 2 optional protokolnya. Meski pada awalnya kejahatan perang selalu ditafsirkan banyak pihak hanya dimaksudkan untuk kejahatan yang dilakukan atas peperangan antar Negara, namun perkembangannya, terlebih dengan adanya Optional Protokol II Konvensi Genewa 1979, pengaturan tentang perang juga meliputi peperangan yang terjadi di dalam Negara (internal conflict). Dalam perkembangannya dengan adanya Pengadilan Pidana International untuk kasus Negara Bekas Yugoslavia dan Rwanda, kejahatan perang semakin mendapat perhatian internasional secara serius.

Perkembangan mutahir dengan adanya Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional, kejahatan perang dinyatakan sebagai kejahatan yang luar biasa (extraordinary crimes) yaitu sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia (human rights gross violations). Hanya saja Statuta ‘o a e asukka ele e eluas da siste atis se agai ele e pe ti g di dala a. Statuta Roma pun mengkategorikan kejahatan perang sebagai; 1) pelanggaran berat sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa yang ditujukan kepada orang dan harta benda; 2) pelanggaran serius lainnya terhadap hukum dan kebiasaan yang diterapkan dalam sengketa bersenjata internasional; 3) Pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa dalam kaitan konflik bukan internasional; 4) Pelanggaran serius lainnya terhadap hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam sengketa bersenjata yang bukan bersifat internasional.

6.2. Pengaturan tentang Kejahatan Perang dalam RKUHP

Secara khusus, Kejahatan Perang atau Konflik Bersenjata dapat ditemukan pengaturannya pada Pasal 402 sampai 406 R KUHP. Ini pengaturan yang sangat minimalis ketimbangan dalam naskah R KUHP sebelumnya. Awalnya R KUHP mengadopsi kategori pengaturan tentang kejahatan perang dalam Statuta Roma, dimana kejahatan perang dibagi dalam empat kategori sebagaimana tertera diatas. R KUHP hanya melingkupi kejahatan perang baik untuk konflik yang bersifat internasional bukan konflik yang bersifat internal seperti yang diatur dalam 405. oleh karena itulah maka tindak pidana hukumk perang dalam R KUHP menimbulkan banyak kelemahan dalam upaya menghukum pelaku kejahatan perang di masa depan dan dalam konteks Indonesia.

Statuta Roma dapat dipakai sebagai acuan tentang pelanggaran HAM Berat, namun seharusnya bukan satu-satunya acuan. Sebab, Statuta Roma memang membatasi yurisdiksinya untuk kejahatan perang tertentu yang disebut sebagai extra ordinary crimes. Padahal, jika mengacu pada Konvensi Jenewa dan Optional Protocolnya, ada kejahatan lain (breaches) yang tidak dikategorikan sebagai pelanggaran berat (grave breaches) namun tetap sebagai larangan (prohibit) yang tidak boleh diabaikan oleh pihak yang bersengketa.

Sebagai Negara yang sudah mengaksesi Konvensi Jenewa maka Indonesia pun perlu memasukkan larangan-larangan lain yang juga dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa. Berhubungan dengan poin di atas, maka R KUHP kemudian menjadi rancu e u uska siapa a g pe lu diti dak dala kejahata pe a g. Istilah setiap o a g e eda dengan konteks Konvensi Jenewa ya g e atasi a de ga pihak-pihak yang terlibat dalam ko flik.

Dalam naskah tahun 2015 bahkan R KUHP menghilangkan seluruh ketentuan tinda pidana dalam masa perang atau damai termasuk Rancangan KUHP menghilangkan seluruh pengaturan pelanggaran berat Konvensi Jenewa dan pelanggaran serius terhadap hukum dan kebiasaan perang, sehingga akan banyak prinsip perlindungan terhadap korban perang diabaikan oleh R KUHP.

Beberapa rumusan dalam RKUHP bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia dan prinsip pertanggungjawaban dalam hukum humaniter. Misalnya, R KUHP tentang kejahatan perang menggunakan hukuman mati hal mana bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia. Bahkan dalam Statuta Roma tidak ada aturan tentang hukuman mati.

Beberapa istilah yang dipakai tidak tepat. Misal a, istilah taha a a g seha us a e ggu aka ta a a ka e a a ta a taha a da ta a a jelas e pu ai pe edaa a ti. De ikia juga istilah ha ta keka aa a g seha us a e ggu aka istilah ha ta e da , istilah kepe lua ilite a g le ih tepat e jadi p i sip kepe ti ga ilite da istilah

kekuasaa pe duduk a g ha us a e jadi pe guasa pe duduka .

6.3. Rekomendasi

Rumusan RKUHP tentang Kejahatan Perang masih sangat lemah. Tindak pidana yang diatur praktis hanya berdasarkan Statuta Roma sedangkan kejahatan perang dalam lingkup pelanggaran berat (graves breaches) dan pelanggaran serius (serious breaches) dan pelanggaran hukum Perang lainnya yang diatur di dalam seluruhan Konvensi Jenewa tidak tercakup. Oleh karena iru maka sudah seharusnya RKUHP juga mengatur pelanggaran lainnya sementara pelanggaran beratnya diatur dalam pengaturan khusus mengingat kejahatan tersebut sangat luar biasa.

Pasal Catatan Rekomendasi Bagian Ketiga

Tindak Pidana dalam Masa Perang atau

Konflik Bersenjata

Banyak perumusan yang tidak dijelaskan secara mendetail, dengan beberapa adopsi terjemahan yang kurang tepat, misalnya RUU KUHP e ggu aka istilah taha a pe a g u tuk e te je ahka p iso e s of a , a g seha u a le ih tepat dise ut se agai istilah ta a a pe a g . “e a , ta a a pe a g u tuk prisoners of war, adalah pihak-pihak yang ditawan oleh pihak penguasa pendudukan, karena berbagai hal, yang antar lain karena ia terlibat dalam pasukan musuh, karena alasan pengamanan atau alasan lainnya. Ta a a dala ko teks p iso e of a i i e iliki hak-hak dan mendapat perlindungan dari penguasa pe duduka . Be eda de ga taha a yang konotasinya adalah orang yang di taha ka e a diduga elakuka sesuatu perbuatan yang melawan hukum.

RUU KUHP hanya meletakkan kejahatan perang sebagai pelanggaran berat dengan kategori extra ordinary crimes. Acuan yang dipakai adalah Statuta Roma yang memang membatasi jurisdiksinya untuk kejahatan perang sebagai pelanggaran berat. Padahal, sebagai negara yang sudah meratifikasi

Konvensi Jenewa, maka

pengaturanpengaturan lain yang melanggar Konvensi pun harus disiapkan perangkat sanksi pidana, yang sayangnya malah tidak terdapat dalam RUU KUHP. Jika mengacu pada Konvensi Jenewa dan Optional Protocol-nya, ada kejahatan lain (breaches) yang tidak dikategorikan sebagai pelanggaran berat (grave breaches) namun tetap sebagai larangan (prohibit) yang tidak boleh diabaikan oleh pihak yang bersengketa. Sebagai Negara yang

Rumusan RKUHP tentang Kejahatan Perang masih sangat lemah. Tindak pidana yang diatur praktis hanya berdasarkan Statuta Roma sedangkan kejahatan perang dalam lingkup pelanggaran berat (graves breaches) dan pelanggaran serius (serious breaches) dan pelanggaran hukum Perang lainnya yang diatur di dalam seluruhan Konvensi Jenewa tidak tercakup. Oleh karena iru maka sudah seharusnya RKUHP juga mengatur pelanggaran lainnya sementara pelanggaran beratnya diatur dalam pengaturan khusus mengingat kejahatan tersebut sangat luar biasa.

sudah mengaksesi Konvensi Jenewa maka Indonesia pun perlu memasukkan laranganlarangan lain yang juga dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa.

Rumusan kejahan perang juga terlihat sama dengan kejahatan ham yang berat lainnya, yaitu tidak ada penjelasan dan penjabaran unsur-unsur dari istilah- istilah yang digunakan oleh RUU KUHP yang sesungguhnya mengambil dari konsep-konsep dan istilah Statuta Roma maupun Konvensi Jenewa. Beberapa istilah te se ut isal a, dae ah a g dide ilite isasi , p i sip kepe ti ga militer (military ne essit , sasa a ilite , ua g li gkup da i se a ga pe duduka o upa , utilasi, da aha a a g esa . Te hadap istilah- istilah ini harus diletakkan unsur-unsur yang jelas yang dilingkupinya.

Bagian ke 7

Kejahatan Genosida Dan Kejahatan Terhadap

Dalam dokumen Catatan R KUHP Final (Halaman 114-118)