BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.6 Bahan Bacaan yang Disukai Responden
Menurut Razak (2004) yang lebih penting dalam mengukur lama membaca seseorang adalah proses yang mendorong kegiatan membaca seseorang dimana kegiatan membaca tersebut didorong oleh keinginan atau motivasi yang keluar dari dirinya, bukan karena dipaksa seperti disuruh oleh guru atau merupakan kewajiban dari sekolah. Jadi bacaannya bisa apa, yang penting bukan buku pelajaran yang menjadi kewajiban sekolah. Bahkan menurut Razak, membaca headline di surat kabar, membaca ringkasan cerita di toko buku ketika memilih buku yang akan dibeli, termasuk membaca. Lebih jauh Razak menyatakan dalam mengukur waktu membaca adalah:
“Waktu yang dicatat hanyalah waktu yang digunakan untuk membaca buku di luar lingkungan sekolah, seperti di rumah, perpustakaan (bukan perpustakaan sekolah), toko buku, pameran buku, rumah teman, atau tempat-tempat lainnya.”
1 Andi Hakim Nasoetion. Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah bagi Remaja. Jakarta: Grasindo, 1992. hal 62.
Untuk mempermudah dalam memperoleh jenis bacaan yang dibaca oleh responden maka penelitian ini mengelompokkan bahan bacaan kedalam empat macam yaitu koran, majalah, buku dan komik. Responden dapat memilih lebih dari satu jenis bahan bacaan. Hasil dari survei ini (lihat tabel 4.1.27) menunjukkan bahwa buku merupakan bahan bacaan paling banyak dibaca (64,42 %) menyusul koran (55,24 %), kemudian majalah (44,43 %) dan terakhir adalah komik (32,59 %).
Tabel 4.1.27 Bahan bacaan yang dibaca oleh responden
Responden Koran Majalah Buku Komik
Mahasiswa 193 160 220 87 Siswa SMU 232 253 261 229 Siswa SMP 206 215 338 265 Siswa SD 138 115 394 228 Ibu Rumah Tangga 89 78 67 18 Pedagang 75 29 32 1 Dosen 73 59 69 4 Petani/Nelayan 45 17 38 1 Peg Swasta 123 88 93 26 PNS 185 117 142 15 Guru 90 56 79 9 TNI/Polri 49 24 18 5 Buruh 19 9 18 7 Jumlah 1517 1220 1769 895 % 55,24 44,43 64,42 32,59
Gambar 4.1.29 Grafik Sebaran Bacaan yang Digemari untuk Dibaca
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden memilih bacaan yang serius atau responden tersebut membaca dalam artian yang sebenarnya yaitu untuk menimba ilmu dari bahan bacaan yang dibacanya. Responden yang memilih buku sebagai bahan bacaan sebagian besar adalah mahasiswa dan siswa (SD, SMP, SMA). Guru dan Dosen yang diperkirakan banyak membaca buku, ternyata lebih banyak membaca koran. Sedangkan profesi yang lain seperti ibu rumah tangga, pedagang, petani, pegawai swasta, pegawai negeri sipil, TNI/Polri dan juga buruh, sudah dapat diduga bahwa mereka akan memilih koran sebagai bacaan yang lebih banyak dibaca, sebab mereka memerlukan informasi mengenai perkembangan bisnis yang menjadi kompetensinya dan juga untuk mendapatkan berita dan hiburan. Membaca seperti itu termasuk kategori hanya ingin tahu sesuatu sehingga terbatas membaca surat kabar saja. Ibu rumah tangga memilih koran dan majalah sebagai bacaan yang lebih disukainya. Hal ini dapat dimengerti karena sebagian besar ibu rumah tangga membaca untuk mendapatkan bacaan hiburan sehingga mereka memilih koran (termasuk tabloit) dan majalah hiburan.
Tabel 4.1.28 Durasi Membaca Koran, Majalah dan Buku 1 – 2 jam per minggu 2 – 3 jam per minggu 3 – 4 jam per minggu < 1 jam per hari 1 – 2 jam per hari 2 – 3 jam per hari > 3 jam per hari Baca Koran 117 41 35 1080 478 79 54 4,26 % 1,49 % 1,27 % 39,33 % 17,41 % 2,88 % 1,97 % Baca Majalah 159 49 41 757 448 102 61 5,79 % 1,78 % 1,49 % 27,57 % 16,31 % 3,71 % 2,22 % Baca Buku 69 40 44 609 840 245 240 2,51 % 1,46 % 1,60 % 22,18 % 30,59 % 8,92 % 8,74 % Gambar 4.1.30 Grafik Sebaran Lama Membaca untuk Beragam Jenis Bacaan
Kegiatan membaca koran dilakukan kurang dari satu jam setiap hari oleh sebagian besar responden (39,33 %), dan antara 1 – 2 jam setiap hari (17,41 %). Namun ada juga yang membaca koran lebih dari 2 jam setiap hari yaitu antara 2 – 3 jam (2,88 %), bahkan lebih dari 3 jam setiap hari (1,97 %). Hal ini tidak lazim dilakukan. Hal yang sama terjadi pada membaca majalah yaitu rata-rata responden membaca majalah antara kurang dari satu jam setiap hari (27,57 %), dan 1 – 2 jam setiap hari (16,31 %). Membaca majalah lebih dari dua atau bahkan lebih dari 3 jam setiap hari tidak biasa dilakukan orang, namun demikian ada responden yang membaca majalah lebih dari 3
jam setiap hari (2,22 %). Sebaliknya, membaca buku biasanya dilakukan lebih lama dibandingkan dengan membaca koran dan majalah. Namun pada kasus ini kelompok responden yang membaca buku lebih dari 1 jam setiap hari ternyata tidak terlalu banyak yaitu hanya sebesar 30,59 % dan yang membaca buku kurang dari 1 jam setiap hari sebesar 22,18 %. Yang agak mengherankan adalah membaca buku antara 1 – 4 jam per minggu yang dilakukan oleh 5,57 % responden merupakan hal yang kurang lazim, karena biasanya membaca buku (untuk mengerti isi buku tersebut) merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus tanpa terputus sampai buku tersebut selesai (tamat) dibaca.
Gambar 4.1.31 Grafik Sebaran Topik Bacaan yang Digemari
Bahan bacaan yang paling populer adalah ilmu pengetahuan yaitu dipilih oleh 50,07 % responden, diikuti dengan bacaan kelompok buku agama yang dipilih oleh 45,81 % responden, kemudian bacaan pengetahuan populer oleh 24,29 % responden, fiksi oleh 20,83 % responden, dan terakhir bacaan lain-lain dipilih oleh 17,99 % responden. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya di lokasi penelitian, tidak begitu menyukai fiksi/sastra. Hal ini memperkuat pernyataan Taufik Ismail yang menyatakan bahwa sejak tahun 1943 sekolah-sekolah SMA di Indonesia tidak pernah mewajibkan siswanya membaca buku-buku sastra. Dikatakan demikian oleh Taufik
Ismail karena di sekolah-sekolah SMA buku sastra (1) tak disebut di kurikulum, (2) dibaca cuma ringkasannya, (3) siswa tak menulis mengenainya, (4) tidak ada di perpustakaan sekolah, dan (5) tidak diujikan2. Jika siswa diberi tugas wajib untuk membaca buku sastra, maka diharapkan hal ini mendorong siswa tersebut untuk membaca karya-karya sastra yang lain.
Untuk membaca buku, sebagian besar responden mengaku membeli (67,6 %), diikuti dengan meminjam dari meminjam dari teman (37,6 %), perpustakaan umum (36,3 %), dan meminjam dari kantor atau pejabat pemerintah (8,5 %).
Tabel 4.1.29 Gambaran Perolehan Buku Responden sebagai Bahan Bacaan Membeli Meminjam dari Teman Meminjam dari Kantor/ Pejabat/aparat pemerintah Meminjam dari perpustakaan umum Jumlah 1783 1154 224 958 % responden 64,93 42,02 8,16 34,89 Gambar 4.1.32 Grafik Sebaran Sumber Perolehan Bahan Bacaan
2 Taufik Ismail (2005). Tragedi Nol Buku Tragedi Kita Bersama. Makalah Rapat Kerja Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia, Hotel Mutiara Merdeka, Pekanbaru, tanggal 31 Mei 2005.
Dari tabel 4.1.29 ini menunjukkan bahwa peran perpustakaan umum belum optimal sebab belum banyak responden yang memanfaatkan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaannya. Malah responden lebih banyak membeli daripada memanfaatkan perpustakaan umum.
Perhatian terhadap penyediaan buku untuk meningkatkan minat baca masyarakat ini sudah diberikan oleh Pemerintah Pusat, salah satunya melalui Departemen Pendidikan Nasional dalam hal ini ditangani oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah yang pada tahun 2007 menyediakan dana sebesar Rp. 90 milyar untuk peningkatan budaya baca masyarakat Indonesia. Dari dana tersebut 60 % diberikan dalam bentuk block grant yang disalurkan berdasarkan proposal ke Pemerintah Daerah melalui Pemerintah Provinsi. Dana tersebut untuk mensubsidi taman bacaan masyarakat yang jumlahnya tidak kurang dari 6.000 unit. Setiap taman bacaan masyarakat mendapatkan subsidi antara Rp. 5 juta sampai Rp. 40 juta untuk pengadaan koleksi taman bacaannya (perpustakaan). Tahun-tahun sebelumnya Pemerintah Pusat juga telah mengucurkan dana bantuan serupa, misalnya pada tahun 2005 sebesar Rp. 8,5 milyar dan pada tahun 2006 naik menjadi Rp. 40 milyar3.