• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Kontrol Infeksi

2.5.3 Sterilisasi Alat dan Bahan

2.5.4.1 Bahan Desinfektan

2.5.4 Desinfeksi

Desinfeksi adalah suatu proses penghancuran mikroorganisme yang bersifat patogen termasuk bakteri, virus, dan jamur, namun tidak membunuh endospora bakteri.34,35 Desinfeksi dalam kedokteran gigi sering dilakukan pada bahan cetak untuk mencegah terjadinya infeksi silang.9 Desinfeksi dapat dilakukan dengan tindakan fisik dan kimia. Tindakan fisik seperti dry heat pada suhu 160o - 180o selama 2 jam dan wet steam pada suhu 121o selama 15 menit (autoclaving) dapat mengakibatkan kenaikan suhu yang dapat menyebabkan kerusakan dalam cetakan.2 Hasil desinfeksi cetakan polivinil siloksan light dan heavy body menggunakan steam konvensional autoclave dan gas etilen oksida diteliti dapat digunakan sebagai model diagnostik ataupun pembuatan prostesis sementara, namun tidak dapat digunakan untuk pembuatan gigi tiruan cekat maupun gigi tiruan sebagian lepasan.37 Oleh karena itu, desinfeksi bahan cetak menggunakan bahan kimiawi sangat dianjurkan.2

2.5.4.1Bahan Desinfektan

Desinfektan adalah bahan yang digunakan pada proses desinfeksi dan dapat membunuh mikroorganisme patogen, khususnya jika diaplikasikan pada objek mati. Beberapa desinfektan dapat juga digunakan pada makhluk hidup atau diaplikasikan pada jaringan untuk membunuh mikroorganisme, namun lebih dikenal dengan sebutan antiseptik.35,38 Kriteria desinfektan yang ideal adalah berspektrum luas, dapat digunakan dalam segala kondisi lingkungan, tidak toksik, tidak mengiritasi, tidak bersifat korosif, dan ekonomis, namun, susah ditemukan desinfektan yang memenuhi semua kriteria desinfektan yang ideal. Oleh karena itu, dalam memilih desinfektan adalah dengan mempertimbangkan segala karakteristik kriteria tersebut dan memilih

yang paling berguna dan efektif.38 Pemakaian desinfektan pada bahan cetak sangat dianjurkan oleh American Dental Association (ADA) untuk menghindari infeksi silang.39

2.5.4.1.1 Sodium Hipoklorit

Sodium hipoklorit merupakan bahan desinfektan yang aman dan banyak digunakan di berbagai rumah sakit, dan bersifat bakterisid. Bahan desinfektan ini mengandung aldehida yang bebas, pottasium peroxomonosulfat, sodium benzoate dan asam tartarik.39 Senyawa utama yang terdapat dalam sodium hipoklorit adalah klorin yang termasuk golongan halogen (intermediate level disinfectant).35,40 Keuntungan dari desinfektan sodium hipoklorit adalah antimikroba berspektrum luas, tidak meninggalkan zat sisa yang toksik, dan terjangkau.40 Kerugiannya antara lain bau yang kurang enak, mengiritasi kulit dan mata serta mengkorosi logam.41

Pang SK (2006) dari surveinya menyatakan bahwa bahan desinfektan yang paling banyak digunakan untuk desinfeksi hasil cetakan adalah sodium hipoklorit.10 Menurut Merchant dkk (2004), menyatakan larutan sodium hipoklorit dengan konsentrasi 0,5% sudah cukup untuk mendesinfeksi bahan cetak.6 Berdasarkan penelitian dari Santosh (2011) penyemprotan dalam waktu 1 menit dengan sodium hipoklorit yang dihitung dengan colony counter pada bakteri jenis S. aureus dan S.

viridans yang terdapat pada cetakan terjadi penurunan jumlah bakteri 100%.2 Selain itu, sodium hipoklorit memiliki efek desinfektan bakterisidal, virusidal dan fungisidal.2

Silva dkk (2004) melakukan penelitian tentang cetakan silikon kondensasi yang direndam dalam larutan sodium hipoklorit 1% selama 10 menit menyatakan tidak terdapat perubahan dimensi yang signifikan, dimana dimensi cetakan yang tidak direndam adalah 25,018 mm dan yang direndam selama 10 menit adalah 25,024 mm.6 Hasil penelitian Oderinu OH (2007) menyimpulkan bahwa penggunaan sodium hipoklorit 1% dengan teknik penyemprotan selama 10 menit pada hasil cetakan alginat tidak terdapat perubahan dimensi yang signifikan pada model, dimana jarak interpreparasi pada model yang tidak disemprot adalah 50,23 mm dan yang dilakukan

penyemprotan selama 10 menit jaraknya 50,21 mm.20 Penelitian Saber FS dkk (2010) menyatakan terjadi perubahan dimensi cetakan silikon yang disemprot larutan sodium hipoklorit 5,25%, namun persentase perubahan dimensi yang terjadi masih kurang dari 0,5% sehingga menurut spesifikasi ADA no 19 masih dalam batasan yang dapat ditolerir.16 Ongko DP (2012) melakukan penelitian tentang cetakan elastomer silikon adisi yang direndam dalam larutan sodium hipoklorit 0,5% dan 2%, menyimpulkan sodium hipoklorit 0,5% dapat menggantikan larutan sodium hipoklorit 2% sebagai desinfektan untuk bahan cetak.23 Ongo TA dkk (2014) menyatakan bahwa penggunaan teknik penyemprotan dengan sodium hipoklorit 0,5% selama 5, 10, dan 15 menit pada bahan cetak elastomer terdapat perbedaan bermakna yang signifikan pada stabilitas dimensi cetakan dimana hasil selisih diameter cetakan antara yang disemprot dan tidak disemprot menunjukkan nilai rata-rata 0,2686 mm dengan waktu 5 menit, 0,3860 mm dengan waktu 10 menit dan 0,2020 mm dengan waktu 15 menit.2

2.5.4.1.2 Daun Sirih

Dewasa ini telah berkembang penggunaan obat tradisional sebagai alternatif dari bahan kimia.11,12 Indonesia mempunyai beraneka ragam jenis tanaman yang digunakan sebagai obat-obat tradisional.8 Obat-obat tradisional Indonesia umumnya menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah didapat dan penggunaannya tidak membutuhkan biaya yang tinggi.11,12 Salah satu obat tradisional yang sering digunakan adalah daun sirih.8

Daun sirih (Piper betle Linn) sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, dan sekarang ini dimanfaatkan oleh masyarakat umum sebagai antiseptik. Penggunaan secara tradisional biasanya dengan merebus daun sirih kemudian air rebusan tersebut digunakan untuk berkumur atau membersihkan bagian tubuh lain, atau daun sirih dilumatkan kemudian ditempelkan pada luka.13 Daun sirih dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit diantaranya obat sakit gigi dan mulut, sariawan, abses rongga mulut, luka bekas cabut gigi, penghilang bau mulut, batuk dan serak, hidung berdarah, keputihan, tetes mata, gangguan lambung, gatal-gatal, kepala pusing, dan jantung berdebar.42

Jenis daun sirih antara lain : 1. Daun sirih jawa

Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya biasanya dimakan dengan cara mengunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Namun mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulut. Sirih digunakan sebagai tanaman obat, sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara adat.43 Daun sirih jawa berwarna hijau tua dan rasanya tidak begitu tajam (Gambar 4).44

Gambar 4. Daun Sirih Jawa43

2. Daun sirih merah

Tanaman sirih merah tumbuh di berbagai daerah di Indonesia. Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya berbentuk jantung dengan bagian ujung meruncing. Panjang daun bisa mencapai 15-20 cm. Warna ujung daun hijau bersaput putih keabu-abuan. Bagian pangkal daun berwarna merah hati. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit, dan beraroma wangi khas sirih. Tanaman ini tergolong langka karena tidak tumbuh di setiap tempat. Bisa tumbuh dengan baik di tempat yang teduh dan tidak terlalu banyak terkena sinar matahari.43

3. Daun sirih banda

Daun sirih banda berdaun besar, berwarna hijau tua dan kuning di beberapa bagian, memiliki rasa dan aroma yang sengak.44

4. Daun sirih cengkeh

Daun sirih cengkeh berdaun kuning, dan rasanya tajam menyerupai rasa cengkeh.44

5. Daun sirih hitam

Daun sirih hitam rasanya sengak, biasanya digunakan untuk campuran obat.44 Jenis sirih yang sering digunakan masyarakat adalah sirih jawa. Kandungan sirih adalah minyak atsiri yang terdiri dari hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan, dan tanin.13,44 Beberapa penelitian ilmiah menyatakan bahwa daun sirih juga mengandung enzim diastase, gula, dan tanin. Biasanya, daun sirih muda mengandung diastase, gula, dan minyak atsiri lebih banyak dari daun sirih tua. Sementara itu, kandungan taninnya relatif sama.Daun sirih terkenal akan khasiatnya sebagai desinfektan karena memiliki kandungan minyak atsiri. Dalam minyak atsiri sepertiganya terdiri dari fenol dan sebagian besar adalah kavikol.44 Kavikol inilah yang memberikan bau khas daun sirih dan mempunyai khasiat bakterisid lima kali lebih kuat daripada fenol (yang tergolong

intermediate level disinfectant).8,35,44 Siswomihardjo (1994) menyebutkan bahwa air sirih 25% yang diolah dengan cara direbus menyebabkan bakteri tidak tumbuh.8

Sebagian besar penelitian tentang tanaman daun sirih telah membuktikan efek antibakterial terhadap Streptococcus mutans. Infusa daun sirih secara tidak langsung menghambat perlekatan dari Streptococcus mutans dengan membuat lingkungan menjadi tidak kondusif bagi Streptococcus mutans untuk melekat.8 Penelitian Vani K dkk (2011) menunjukkan bahwa daun sirih memiliki efek antimikroba dalam mengurangi mikroflora di dalam mulut.14 Soemiati dan Elya (2002) menyatakan bahwa kadar hambat minimum (KHM) daun sirih yang dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans adalah sebesar 25%. Selain itu, infusa sirih juga dapat menghambat pertumbuhan E. Coli, Staphylococcus koagulase positif, Salmonela

typhosa, bahkan Pseudomonas aeruginosa yang kerap kali resisten terhadap

antibiotik.8 PenelitianPraja H A (2009) menunjukkan bahwa perendaman resin akrilik polimerisasi panas dalam rebusan daun sirih 25% selama 5 menit berpengaruh terhadap pertumbuhan Candida albicans.15

Hasil penelitian Affandi A (2009), bahan cetak elastomer pada perendaman dalam larutan desinfektan daun sirih 25% selama 10, 20, 30, 40 dan 50 menit dibandingkan dengan yang tidak dilakukan perendaman terjadi perubahan dimensi hasil cetakan, perbedaan rata-rata diameter hasil pengukuran pada yang tidak direndam sebesar 0,6010, pada yang direndam 10 menit sebesar 0,6110, 20 menit sebesar 0,6130, 30 menit sebesar 0,6110, 40 menit sebesar 0,6130 dan yang 50 menit sebesar 0,6240.24 Sari RDAN dkk (2013) yang melakukan penelitian tentang desinfeksi cetakan alginat menyatakan bahwa cetakan yang disemprot infusa daun sirih 25% selama 10 menit pada model induk replika rahang bawah, diameter silinder (jarak bukolingual) dari A dan D (mewakili gigi molar 1 kanan dan kiri), B dan C (mewakili gigi kaninus kanan dan kiri) serta jarak antar silinder (jarak antara A dan B, B dan C, C dan D, D dan A) dari cetakan terdapat perubahan dimensi yang signifikan. Hasil pengukuran diameter silinder A, B, C dan D tanpa perlakuan adalah 8,8838 mm, 6,3933 mm, 6,3733 mm, dan 8,8981 mm sedangkan dengan penyemprotan adalah 8,8133 mm, 6,3395 mm, 6,3310 mm, dan 8,8077 mm. Jarak antar silinder A dan B, B dan C, C dan D, D dan A tanpa perlakuan adalah 31,1143 mm, 32,5743 mm, 31,0914 mm dan 56,2 mm sedangkan dengan penyemprotan adalah 30,96 mm, 32,5429 mm, 30,9429 mm dan 56,1571 mm.8 Berbeda dengan penelitian Hasanah NY dkk (2014) yang menyatakan penyemprotan larutan daun sirih 80% pada bahan cetak alginat selama 5, 10 dan 15 menit tidak menyebabkan perubahan dimensi yang signifikan jika dibandingkan dengan bahan cetak tanpa penyemprotan selama 5, 10 dan 15 menit, hasil pengukuran diameter rata-rata cetakan alginat tanpa penyemprotan selama 5, 10 dan 15 menit adalah 45,30 mm, 45,40 mm, dan 45,38 mm sedangkan yang disemprot larutan daun sirih 80% selama 5, 10 dan 15 menit adalah 45,35 mm, 45,40 mm dan 45,39 mm.19

Dokumen terkait