Penelitian untuk pemeliharaan ikan dan pengamatan pemijahan dilakukan di
holding ground ikan hias, Dinas Agribisnis Kota Bogor, di Desa Cipaku Rancamaya
Bogor. Analisa protein gonad dilakukan di Laboratorium Penguji Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Bogor. Analisa hormon estradiol-17β dan 17α -progesteron dilakukan di Laboratorium RIA, Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Penelitian berlangsung mulai Januari sampai dengan April 2004.
Ikan Uji
Penelitian ini menggunakan 72 ekor induk dan 24 pejantan ikan hias mas koki (rasio betina : jantan yaitu 3:1). Ikan mas koki yang digunakan diperoleh dari petani ikan di desa Ciseeng, Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.
Ikan terpilih selanjutnya dipelihara dan dipersiapkan di akuarium-akuariun holding ground ikan hias Dinas Agribisnis Kota, di Desa Cipaku Bogor.
Pakan
Selama tahap persiapan ikan diberi pakan pellet dengan kandungan protein 35%, dan jumlah pakan diberikan sekitar 2-5 % dari berat tubuh ikan, diberikan tiga kali per hari.
Wadah Pemeliharaan
Sebagai wadah pemeliharaan ikan adalah akuarium dengan ukuran l00x 40x35 cm, sebanyak 8 buah dilengkapi dengan aerasi dan disifon setiap hari.
Inhibitor Aromatase (IA) yang digunakan
Inbibitor aromatase (IA) yang akan digunakan adarah Imidazole. Nama lain dari imidazol adalah glyoxaline, iminazole (1,3-Diaza-2,4-cyclopentadience atau 1,3 Glyoxalin) dan rumus kimia C3H4N2, diproduksi oleh Wako Pure Intemational Inc. Untuk pelarut IA digunakan NaCl fisiologis.
59
Metode Penelitian
Penelitian ini dirancang untuk mendapatkan cara merangsang ovulasi ikan mas koki menggunakan kehadiran pejantan dan inhibitor aromatase (IA), kehadiran pejantan dimaksudkan untuk merangsang sekresi LH, fungsi LH diharapkan akan mengaktipkan enzim 20βHSD (hidroksisteroid-dehidrogenase) sehingga terjadi peningkatan produksi 17α,20β-dehidroksiprogesteron., hasilnya akan terjadi proses kematangan oosit. Adapun, kerja LH dalam menghambat enzim aromatase tadi akan digantikan oleh IA atau diperkuat dengan penambahan IA ini, akibatnya akan terjadi efisiensi penggunaan LH dalam proses pematangan oosit yang diikuti dengan ovulasi. Untuk mencapai tujuan didalam penelitian ini dilakukan dua tahap penelitian yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama.
Penelitian pendahuluan
Dosis IA yang dapat menghambat aromatase dan menurunkan estradiol-17β pada ikan koki adalah 2,5 mg IA/kg bt; 7,5 mg IA/kg bt dan 12,5 mg IA/kg bt, tetapi penggunaan dosis tersebut tidak menyebabkan ovulasi. Agar terjadi ovulasi maka diperlukan kehadiran pejantan, penelitian pendahuluan ini dilakukan mencari kombinasi kehadiran pejantan dan IA yang paling efisien. Rasio jantan betina yang digunakan 1:1; 1:2; 1:3; 1:4. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan kehadiran pejantan dengan perbandingan jantan : betina 1:3 dan IA yang memberi hasil yang efisien. Uji selanjutnya waktu penyuntikan IA, yaitu betina disuntik bersamaan pada saat kehadiran pejantan; betina disuntik IA dahulu 6 jam kemudian baru pejantan dihadirkan; dan dihadirkan pejantan dulu baru 6 jam kemudian baru betina disuntik dengan IA. Hasil menunjukkan bahwa pejantan dihadirkan lebih dahulu baru 6 jam kemudian betina disuntik dengan IA yang keberhasilannya paling tinggi. Hasil penelitian pendahuluan ini dipakai sebagai perlakuan dalam penelitian utama yaitu perbandingan jantan: betina 1:3 dan penyuntikan IA diberikan setelah 6 jam pejantan dihadirkan.
60
Penelitian Utama. Persiapan Ikan.
Induk-induk ikan uji yang baru saja memijah dimasukkan kedalam kolam fiber glas ukuran 2,5x1,5x0,5 m3 sebanyak 2 buah yang dilengkapi dengan aerasi untuk mempertahankan oksigen didalam perairan dan filtrasi untuk memelihara kebersihan air, filter dicuci setiap hari. Selama tahap persiapan ikan diberi pakan pelet dengan kandungan protein 35%, dan jumlah pakan diberikan sekitar 2-5 % dari berat tubuh ikan, diberikan tiga kali per hari. Setelah tujuh hari dipelihara secara acak ikan dimasukkan kedalam akuarium dengan ukuran l00x40x35 cm, sebanyak 8 buah dilengkapi dengan aerasi dan disifon setiap hari, sehingga setiap akuarium dipelihara 3 ekor pejantan dan 9 ekor betina.
Dosis Perlakuan
Dosis perlakuan yang diberikan adalah k = kontrol; P1 : 2,5 mg IA/kg b.t; P2 :7,5mg IA/kg b.t dan P3; 12,5 mg IA/kg b.t. Setiap perlakuan disediakan ulangan sebanyak 18 ekor betina.
Parameter yang diamati
Untuk mengetahui proses pematangan oosit, ovulasi dan evaluasi telur ovulasi diperlukan parameter sebagai berikut :
Profil hormon estdradiol-17β dan 17α-progesteron plasma darah
Pengambilan darah ikan untuk mengukur profil hormon estrogen menggunakan syring yang telah diberi EDTA dengan jarum nomor 21, darah diambil dari caudal vasculature sebanyak ± 0,5 ml, diulang tiga kali kemudian ditempatkan pada es sebelum disentrifugasi 3000 rpm selama l0 menit plasma dimasukkan dalam tabung plastik kecil dan disimpan beku pada suhu –20°C.
Pengujian hormon menggunakan KIT hormon estdradiol-17β dan 17∝ -progesteron (DPC/Diagnotstic Product Corp., Los Angeles CA USA).
Kandungan Protein Gonad
Pengamatan perkembangan gonad dilakukan dengan menganalisis kandungan protein didalam gonadnya. Analisis kandungan protein menggunakan metoda
61 Kjeildahl (Slamet et al, 1990). Dengan cara acak ikan dikorbankan untuk diambil gonadnya, mulai dari awal perlakukan kemudian pada 36 jam setelah perlakuan dan telur ovulasi dengan masing-masing tiga kali ulangan.
Waktu Ovulasi
Untuk pengamatan lama waktu ovulasi, daya fertilitas serta daya tetas telur dihitung sejak ikan disuntik sampai terjadi berovulasi. Setelah terlihat mengalami ovulasi ikan diangkat, kemudian distriping. Telur yang dihasilkan ditampung dan ditambahkan spermatozoa.
Daya Ferlitilitas Telur (DFT), merupakan daya ferlitisasi dihitung dengan melihat
banyaknya telur yang dibuahi, fertilitas dapat diamati setelah kurang lebih 7 jam setelah terjadi pemijahan, secara makroskupis telur fertil ditandai dengan tetap bening, sedangkan secara mikroskupis terjadi proses pembentukan embrio, adapun telur yang tidak terbuahi berwama putih kekeruhan. Telur hasil pemijahan diamati 100 butir kemudian dihitung prosentasenya, perhitungan daya fertilisasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Jumlah telur yang dibuahi
Daya fertilitas telur = --- x 100% Jumlah telur keseluruhan
Daya Tetas Telur (DTT), merupakan kelanjutan dari proses pembentukan embrio,
dan embrio yang terbentuk dapat atau tidak dapat menetas. Telur diamati sebanyak 100 butir dihitung prosentase penetasan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Jumlah telur yang menetas
Daya tetas telur = --- x 100% Jumlah telur keseluruhan
Analisis Data
Data level protein gonad, waktu ovulasi, daya ferlitilitas dan daya tetas telur yang diperoleh dianalisis dengan rancangan dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL),
62 dengan program MSUSTAT. Sedangkan data perubahan hormonal dianalisa secara deskriptif