MERESPONS POLA PENDIDIKAN DI INDONESIA
B. Fenomena
3. Bahan Renungan bagi Para Guru dan Dosen
gagasan untuk memperbaiki kurikulum menyangkut spiritualitas, pemikiran integratif, pemikiran kreatif dan pemikiran kritis dilakukan di sekolah, kemandirian melalui pendidikan enterprenur dan ekonomi kreatif.
untuk mempelajari teknik tersebut, tetapi turut bersedia untuk menggunakannya ketika mengajar. Mereka menyatakan bahwa peta konsep dan peta vee merupakan suatu teknik pembelajaran yang bermakna dan berupaya mengurangi tahap kebingungan siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang sukar.
Sehubungan dengan itu, peta konsep yang dintegrasikan dengan peta vee dapat meningkatkan pemahaman siswa. Gladys et al. (1995) menemukan bahwa peta konsep dan peta vee memberikan kesan positif terhadap pemahaman siswa dalam mata kuliah ekologi dan genetika. Justru mereka merencanakan tiga strategi pembelajaran, yaitu pembelajaran kooperatif, kooperatif–kompetitif, dan strategi individu.
Mereka menyimpulkan bahwa kelompok eksperimen dengan tiga strategi tersebut berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Dalam hal ini, pemahaman pada hakikatnya merupakan proses berpikir. Hal ini sejalan dengan pandangan Beyer (1988), Frankel (1980), dan Mayer (1977) dalam Som (2000) yang menganggap berpikir melibatkan aktivitas penyusunan informasi ke dalam bentuk tertentu yang melibatkan pengelolaan operasi mental tertentu yang terjadi dalam otak atau system/struktur kognitif seseorang. Berpikir juga perlu dalam membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Ini terjadi karena berpikir adalah kemampuan manusia untuk membentuk konsep (Beyer 1988), membentuk ide, dan menyusun kembali pengalaman dan informasi (Frankel 1980).
Sementara itu, Mansoor Niaz (1995) telah melakukan penelitian tentang peningkatan keterampilan bepikir siswa untuk memberikan penilaian kritis terhadap filsafat sains. Penelitian dilaksanakan melalui pendekatan domain spesifik (pengetahuan deklaratif), domain general strategy (pengetahuan prosedural), dan deductive-hypothetic (prosedur berpikir), yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir sains pelajar (Novak, 1977). Pengajaran dan pembelajaran dilakukan dalam bentuk soal sebab akibat, kerja kelompok observasi, dan melalui eksperimen. Tegasnya, pengajaran dengan pendekatan pengetahuan
deklaratif yang sejalan dengan teori pembelajaran Gagne dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa.
Liliasari (1996) turut mengkaji penggunaan peta konsep. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa alat peta konsep dapat membuka perkembangan pola berpikir siswa Sekolah Menengah. Melalui peta konsep yang dibuat siswa ketika latihan, tugas, dan tes dalam kelas, kemahiran berpikir pelajar dapat dianalisis lantas dapat dipastikan sejauh mana mereka memiliki kemampuan mengeluarkan ide dan merancang pemikirannya. Strategi pengajaran dan pembelajaran menggunakan alat peta konsep dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan kemahiran proses sains (Komala, 2001).
Penelitian di atas menggunakan tiga kelompok siswa sebagai subjek kajiannya yang dikembangkan berdasarkan kemampuan intelektual.
Para siswa dikelompokkan menjadi kelompok berkemampuan tinggi, sederhana, dan rendah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kemahiran berpikir kreatif siswa meningkat untuk kelompok berkemampuan sederhana jika waktu yang diberikan untuk belajar lebih lama. Kemahiran berpikir kritis, kreatif, dan berpikir rasional meningkat secara serentak bagi kelompok siswa berkemampuan tinggi, walaupun pengajaran yang diberikan berbeda untuk setiap individu. Sementara itu, kelompok siswa yang berkemampuan rendah memerlukan bimbingan guru untuk merangsang peningkatan kemahiran berpikir. Tegasnya, bahwa hasil kajian ini menunjukkan bahwa aktivitas pengajaran dan pembelajaran menggunakan alat peta konsep dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemahiran berpikir. Ini berarti siswa berupaya menemukan transformasi dan analogi, serta induksi logis antara kelompok konsep kimia yang dipelajari. Melalui peta konsep yang dibuat dalam latihan dan ujian pada setiap pokok bahasan, memungkinkan siswa memperoleh tahap kemahiran berpikir yang lebih tinggi.
Hasil kajian juga menunjukkan bahwa peta vee dapat meningkatkan kemahiran berpikir, kreativitas, dan meningkatkan kemahiran metakognisi.
Selain itu, peta vee juga dapat digunakan sebagai alat penilaian program dan penelitian. Penelitian tentang penggunaan peta vee telah dijalankan
oleh Marino (2000). Hasil kajiannya menunjukkan bahwa alat peta vee yang diperoleh dari internet sebagai alat belajar metakognisi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menjelaskan konsep-konsep, menilai dokumen-dokumen, dan sebagai alat untuk merancang penelitian. Guru dan siswa yang menggunakan internet tidak hanya meningkatkan kemampuan dalam mengakses informasi, tapi mereka juga dapat meningkatkan kreativitas, mengembangkan pemikiran, dan kemampuan membuat laporan.
Di samping itu, vee diagram5 dapat dijadikan sebagai mediator yang interaktif. Dalam hal ini, Marino (2000: 4) menyatakan bahwa
“gambar vee interaktif yang dipadukan di internet dapat memfasilitasi siswa sebagai alat metakognitif, jenis ini dapat membekali siswa melakukan pembelajaran fakta yang ideal terjadi dengan bermakna melalui pemikiran reflektif”. Proses komunikasi yang interaktif sebagai hasil berpikir tentang ide-ide yang dilakukan secara kolaboratif dengan vee diagram ini, sangat membantu siswa dan guru dalam meningkatkan pefahaman terhadap konsep-konsep.
Di samping Marino (2000), Maria Araceli et al. (2001) turut melakukan penelitian tentang peta konsep. Mereka membandingkan teknik penggunaan peta yang disediakan guru dengan peta konsep yang dibuat dan dilengkapi sendiri oleh siswa. Dalam peta konsep yang telah disediakan siswa hanya mengisi lingkaran-lingkaran kosong di atas peta konsep, dan mengisi garis di bawah peta konsep sebagai kata penghubung. Bagi cara berikutnya, pelajar membuat sendiri konstruk peta konsep, kemudian mengisinya. Penelitian ini dikenali sebagai one high-directed, fill–in-the-map dan one low-directed, construct-a-map-from-scratch. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tentang struktur pengetahuan pelajar yang menggunakan strategi pengisian peta konsep secara langsung dengan yang membuat sendiri konstruk peta konsep kemudian mengisinya.
Merujuk kepada hasil kajian di atas, jelaslah bahwa pengajaran dan pembelajaran menggunakan peta konsep dan peta vee dapat
5 Dalam beberapa kasus peta vee disebut juga sebagai vee diagram.
meningkatkan kemampuan kognitif dan kemahiran berpikir siswa.
Kemampuan kognitif bermakna bahwa alat-alat tersebut dapat meningkatkan kemampuan penguasaan dan pemahaman konsep-konsep. Peningkatan kemahiran berpikir juga termasuk kemampuan kognitif, yaitu kemampuan meningkatkan proses kerja otak dengan penuh kesadaran diri dalam membuat keputusan dan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui proses metakognisi.
Di samping itu, Taylor dan Coll (2000) telah mengadakan penelitian di Fiji. Mereka menggunakan peta konsep sebagai alat untuk guru dalam membimbing siswa belajar sains. Di Fiji, guru biasanya memberikan ujian sumatif itu dalam bentuk soal-soal dengan tingkat kesukaran yang rendah.
Dengan memberikan latihan dan bimbingan siswa dicoba dengan gaya pengujian peta konsep. Hasilnya menunjukkan bahwa para siswa yang menerima pengujian dengan peta konsep mengalami peningkatan dalam pengembangan konsep dan pengajaran sains dengan lebih berkesan. Di samping itu, Roth dan Roychoudhury (1993) melakukan kajian di Canada.
Mereka menemukan penggunaan peta konsep dapat menolong guru-guru sekolah dasar dalam membina diri dan meningkatkan kemahiran saintifik.
Selain itu, peta konsep juga mampu mengembangkan sikap senang belajar sains dan lebih bermakna dirasakan oleh para siswa. Penelitian ini dijalankan di kalangan guru sains sekolah dasar sebelum menjadi pegawai negeri dan setelah menjadi pegawai negeri. Sejajar dengan itu, Pendlington et al. (1993) juga telah merencanakan penggunaan peta konsep di University of Kingdom dalam bentuk latihan guru dalam jabatan khususnya bagi guru-guru sekolah dasar dan hasilnya sangat memuaskan.
Sehubungan dengan itu, Adamcyk dan Willson (1996) melaporkan hasil kajiannya bahwa peta konsep merupakan sesuatu yang sangat berharga. Pertama, peta konsep dapat menjadi pengajaran alternatif, yaitu pengajaran dan pembelajaran alternatif dalam mata pelajaran fisika. Kedua, peta konsep dapat menilai penguasaan pengetahuan dan pemahaman guru-guru sains dalam aspek-aspek fisika.
Dalam konteks kajian tentang penggunaan peta vee, kajian di Negara Barat pun sangat memang masih terbata terbatas. Olugbemiro et al.
(1990) umpamanya membandingkan kaidah pengajaran menggunakan peta konsep dengan kaidah konvensional, sementara Okebukola (1990) menggunakan peta konsep dalam mengajarkan pokok bahasan genetik dan ekologi kepada pelajar yang akan menamatkan sekolah menengah dalam bidang biologi. Di samping itu, Okebukola (1992) juga telah menggunakan peta konsep dan peta vee dalam pengajaran sains. Dalam kajian-kajian tersebut, mereka menggunakan peta konsep sebagai alat pembelajaran siswa. Penelitian tersebut dijalankan menggunakan kelompok eksperimen dan kontrol dalam pelajaran sains. Setelah dibandingkan, kelompok eksperimen menunjukkan hasil ujian yang lebih baik. Olugbemiro et al. (1990) telah melaporkan bahwa penggunaan peta konsep telah dapat mengurangi kegelisahan siswa dalam pembelajaran sains. Okebukola (1990) melaporkan pula bahwa pelajar yang belajar kelompok menggunakan peta konsep menghasilkan pembelajaran bermakna yang lebih baik jika dibandingkan cara pembelajaran secara individual.
Sikap terhadap mata pelajaran sains dipengaruhi oleh cara penyampaian mata pelajaran. Kyle et al. (1988) telah mengkaji perbandingan sikap pelajar terhadap sains antara kelompok yang diajarkan dengan pendekatan proses sains dengan pendekatan konvensional. Kajian menunjukkan pengajaran sains yang menggunakan pendekatan inkuiri dan proses sains meningkatkan sikap positif pelajar terhadap sains berbanding dengan pendekatan konvensional yang bertumpu hanya pada buku teks. Selain itu, kajian ini juga menunjukkan pendekatan inkuiri meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran sains, dan rasa ingin tahu pelajar.
Kesimpulannya, semua kajian tentang penggunaan peta konsep dan peta vee yang telah dikaji, berkaitan dengan pencapaian hasil belajar seperti kemahiran berpikir, penguasaan konsep, sikap, dan kesukaran belajar. Oleh karena itu, hasil kajian lepas ini mengukuhkan latar belakang teori dalam kajian ini, dan diharapkan memperoleh hasil kajian yang lebih komprehensif.
Bagaimanapun, menyesuaiakan kaidah pengajaran kemahiran berpikir secara empiris dengan kaidah normatif, sebaiknya diintegrasikan dengan
perspektif Islam, dalam konteks ini umat Islam perlu berpikir menggunakan panduan Alquran. Maksudnya, dalam proses berpikir itu perlu melibatkan hati, rasa, dan jiwa supaya keputusan memberikan manfaat dunia dan akhirat. Berpikir secara betul merupakan asas bagi sains. Alquran dengan jelas mempelawa manusia supaya mau berpikir secara mendalam. Kitab suci umat Islam ini menolak sama sekali teori-teori yang salah, hipotesis, dan dukungan yang membuta tuli, dan berhujah yang berdasarkan sistem alam saja. Kemahiran berpikir semacam itu hanya akan menyusahkan umat. Oleh sebab itu, pembinaan kemampuan berpikir saintifik perl sejajar dengan apa yang dianjurkan oleh Islam.
4. Pandangan Beberapa Ahli Pendidikan terhadap Pendidikan