MEMBANGUN PERSEPSI INTEGRASI SAINS DENGAN AGAMA
F. Hakikat Persepsi Pada Manusia
Manusia sebagai makhluk berpikir (rasio), berakal dan memiliki (keyakinan, rasa/ nurani). Potensi-potensi ini merupakan fungsi khusus pada manusia yang membangun kemampuan manusia, seperti cara memandang sesuatu, cara memproyeksi sesuatu, cara menerjemahkan, cara menilai, dan meyakini tentang alam (materi /kebendaan dan nonmateri), sebuah realitas baik secara makro atapun mikro baik yang merupakan bagian dari dirinya maupun di luar dirinya. Potensi-potensi ini merupakan komponen yang membentuk sistem berpikir dan sistem berkeyakinan sebagai latar (yang mendasari) kemampuan seseorang memberikan persepsi terhadap realitas. Terkait dengan potensi ini menyebabkan perubahan minat dan gairah seseorang untuk menambahn informasi, proses penambahan informasi ini dapat meningkatkan kesadaran diri terhadap realitas. Hal ini memengaruhi arah dan tujuan seseorang. Secara singkat persepsi seseorang merupakan potensi diri yang dibangun oleh kemampuan memandang, memproyeksi, menilai, menerjemahkan, meyakini terhadap realitas dan alam sekitar, sehingga arah dan tujuan hidupnya menjadi jelas bagi dirinya.
Persepsi seseorang berkembang mengikuti perkembangan sistem berpikirnya. Perkembangan sistem berpikir terjadi secara alamiah dan dengan rekayasa. Sistem berpikir dan sistem keyakinan akan saling
menguatkan untuk memperkaya persepsi.24 Teori kognitif memandang bahwa interaksi kerja otak terhadap sesuatu baik yang merupakan bagian dari dirinya maupun di luar dirinya secara sadar dikatakan persepsi.
Jadi, persepsi bukan respons yang terjadi secara reflek dari kerja otak, bukan naluri yang terjadi secara spontan semata-mata. Akan tetapi, persepsi melainkan aktivitas berpikir dan berkeyakinan serta kesadaran seseorang terhadap realitas. Tentu saja pikiran, keyakinan, dan kesadaran itu menyertakan data pendukung, seperti logika, pengalaman, daya analisis, daya kreatif, dan pengerahan potensi pemikirannya membuat penilaian terhadap objek, fenomena atau realitas tertentu, sehingga saat seseorang memberikan persepsi terhadap sesuatu, artinya itulah nilai persepsi dia terhadap sesuatu itu.
Seseorang dalam memberikan persepsi dapat dilakukan secara sederhana, dapat pula secara mendalam, sehingga memiliki makna yang bersifat luar biasa. Persepsi seseorang terhadap kejadian atau objek sangat situasional dan boleh jadi setiap orang berbeda. Walaupun demikian, secara umum dapat diambil satu kurva normal, yakni pada umumnya, sehingga dikatakan pandangan umum. Artinya, persepsi orang terhadap satu hal yang relatif sama. Sebagai contoh, bagaimana persepsi orang terhadap perilaku baik? Seseorang dapat memiliki persepsi terhadap kebaikan itu dari sudut pandang sebagai manusia wajar berbuat baik, karena kita ditakdirkan menjadi manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Akan tetapi, dapat saja perilaku baik dilakukan demi mengharap keridaan Pencipta di kemudian hari setelah kematian tiba. Selain itu, perilaku baik dilakukan karena mengharap kebaikan orang lain untuk dirinya, dan sebagainya.
Persepsi yang dapat saja dilakukan berdasarkan kecenderungan orang terhadap salah satu yang ia sukai. Jika ia menyukai satu hal, ia
24 Edwar De Bono memberikan pengalaman sebagai hasil penelitiannya bahwa sistem berpikir yang dapat memperluas persepsi adalam pemikiran bercabang.
Pemikiran bercabang melalui penambahan berbagai dimensi yang benar-benar baru memperkaya mental dan persepsi. Kesadaran untuk menerima persepsi orang lain, membaca situasi, menahan emosi dan opini diri sendiri, memperluas jaringan potensi diri, menemukan mina dan gairah, merupakan bagian memperkaya persepsi diri.
memiliki persepsi positif, tetapi jika ia tidak menyukainya, persepsi ia negatif. Orang seperti ini memiliki pemikiran yang tidak adil bagi dirinya, sifat objektifitas pemikiran dirinya menjadi berkurang. Persepsi yang dimiliki oleh orang yang berkarakter seperti ini, tidak dapat dikelompokkan sebagai sebuah kebenaran yang perlu disepakati. Pada umumnya yang demikian terjadi pada anak usia kanak-kanak dan remaja.
Persepsi dapat dilakukan berdasarkan pemikiran sehat, pemikiran sehat melahirkan pesepsi yang rasional dan luas. Sebaliknya, “pemikiran sakit”25 melahirkan pesepsi yang sempit, kurang logis, dan sentimen.
Persepsi yang kurang sehat menyebabkan terbentuknya komunitas-komunitas manusia tertentu yang kadang dapat merusak kultur yang sudah mapan. Sebagai contoh seseorang yang memiliki persepsi terhadap satu ajaran atau satu keyakinan terntu kemudian mencoba membangun komunitas dengan keyakinannya itu dan akhirnya terbangun sebuah komunitas tertentu, tetapi menurut umumnya mansia disepakati bahwa komunitas itu melanggar ketentuan dan keyakinan, maka terjadilah satu gap yang menyebabkan rusaknya tatanan kultur itu. Bukan sekadar persepsi terhadap keyakinan, tetapi juga terhadap kejadian, fenomena alam, ilmu-ilmu baru, modernisasi, teknologi informasi, bahkan terhadap peradaban baru pada masa modern sekarang. Pertentangan persepsi antarkomunitas dan interkomunitas bahkan antarpersonal pada saat ini terhadap konsep, teori, keyakinan, sikap, perilaku, dan terhadap benda-benda tertentu menyebabkan arus perubahan sosial yang berdampak terhadap ketidakseimbangan komunikasi sosial antarmanusia saat ini.
Sehubungan dengan itu, kemampuan orang untuk melakukan analisis, evaluasi, dan sisntesis terhadap gejala alam, gejala perubahan sosial serta pola pikir manusia pada saat ini, termasuk kecenderungan arah pemikiran saat membuat satu keputusan sangat menentukan mutu hidupnya. Bayangkan, orang secara tiba-tiba dapat menjadi termarjinalkan
25 Sebagian besar manusia jarang merasa dirinya terjangkit penyakit “Pemikiran”.
Padahal “pemikiran sakit” lebih berbahaya dari penyakit jantung. Bahkan penyait jantung relatif hanya merugikan dirinya, sementara penyakit pemikiran dapat berdampak pada pihak luar dan lebih berisiko.
dari komuntasnya, jika ia terlalu mementingkan kepentingan dirinya, terlalu memaksakan kehendak dan tidak memperhatikan nilai-niai kemanusiaan. Sering terjadi sekelompok masyarakat yang memberikan hukuman sosial bahkan mengusirnya pada orang atau sekelompok orang yang terlalu memaksanakn kehendak. Hal ini sebenarnya berangkat dari persepsi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, sosial, ilmu pengetahuan, etika, dan naluri kemanusiaan.
Pemikiran sehat memiliki ciri-ciri yang sederhana, yaitu minimal memiliki kadar objektivitas atau memiliki nilai-nilai kelogisan, mengandung nurani kemanusiaan, berperilaku dan berpandangan dengan mata hatinya, bertindak dengan rasa jiwanya, tampak kesan menghargai lawan bicara, selalu menatap wajah atau bola mata yang menjadi lawan bicara, selalu penuh harap yang berorientasi ke masa depan. Pemikiran sehat tidak melahirkan sentimen, kecurigaan, dan tidak percaya sehingga jarang berdampak pada konflik sosial dalam masyarakat. Adanya konflik sosial baik horizontal maupun vertikal sering terjadi disebabkan karena sebagian masyarakat dalam komunitas itu pemikirannya kurang sehat.
Persepsi pada manusia dapat berubah dengan pengalaman, proses belajar, saling perenungan, penyadaran, pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan, improve skills dan experience (perbaikan diri dan melakukan sendiri/pengalaman pribadi). Begitu pentingnya orang secara terus-menerus memperbaiki persepsi diri, sehingga secara bertahap ia akan dapat meyempurnakan nilai hidupnya. Persepsi mendorong orang mampu melakukan integrasi dalam hidupnya. Karena itu, persepsi mendukung keharmonisan antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Komunikasi antarsesama dapat terjadi secara penuh dengan hati, jika persepsi yang dibangun itu sama antara sesama pembicara dan persepsi tidak sama, komunikasi yang terjadi hanyalah iuaran saja (artinya komunikasi tidak dengan hati). Komunikasi yang dilakukan tanpa persepsi yang sama, maka makna komunikasi sebatas formalitas dan tidak akan berdampak pada terbangunnya nilai-niai kemanusiaan. Teori-teori tentang berpikir dan melatih pemikiran luhur merupakan hal yang dapat mengobati pemikiran kurang sehat.
1. Mindset dan Konsep Kebenaran pada Manusia
Otak manusia bekerja sesuai dengan pola. Pola berpikir pada manusia terjadi sesuai dengan style-nya. Style berpikir setiap orang berbeda-beda setiap ia menghadapi satu permasalahan atau menghadapi realitas kehidupan. Mindset sangat erat dengan kebenaran. Karena itu, dalam konteks kebenaran, kebenaran itu merupakan keyakinan pada diri seseorang. Menurut teori, kebenaran dapat dilihat dari sisi pragmatisme, yang berarti kepercayaan itu benar kalau dan hanya kalau berguna.26 Dalam paradigma Islam, tentu saja konsep kebenaran tidak harus berguna saat itu, tetapi kebenaran adalah segala sesuatu yang datang dari Tuhan, beguna maupun tidak berguna pada saat itu dalam kehidupan praktis. Kebenaran dalam konteks manusia yang utuh adalah merupakan kemampuan berpikir, berkata, dan berbuat secara sejalan.
Kebenaran dalam konteks sains adalah dapat dibuktikan secara ilmiah (kebenaran ilmiah), jika tidak dapat dibuktikan maka hanyalah kebenaran normatif. Oleh karena itu, kebenaran-kebenaran yang diyakini manusia sebenarnya berada pada mindset. Mindset manusia ditentukan oleh asupan yang ia peroleh dari lingkungan, sehingga kebenaran yang akan konsisten dalam segala kondisi jika dan hanya jika menggunakan asupan nilai-nilai agama dari Tuhan. Jadi, kebenaran yang akan membawa kemaslahatan adalah kebenaran yang asupannya bukan hanya hasil kerja otak semata-mata, melainkan dimodifikasi dengan nilai-nilai.
Kepentingan pembahasan mindset dan konsep kebenaran ini, berkaitan dengan persepsi yang bisa muncul pada manusia saat menghadapi satu fenomena, kejadian, objek yang muncul atau bersentuhan dengan manusia. Keyakinan seseorang yang dituangkan dalam bentuk persepsi terhadap objek, ditentukan oleh jenis, jumlah, dan bobot asupan terhadap otak dan jantung seseorang, sehingga membentuk keyakinan diri dan mindset. Memang dalam pandangan Kuntowijoyo (2005) diberikan ruang untuk bebas berpikir terhadap objek (perspsi) asalkah yang sifatnya sekunder. Akan tetapi, urusan-urusan
26 Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu Epistimologi, Metodologi dan Etika. Tiara Wacana. Yogyakarta (hlm. 4).
yang sifatnya primer tetap harus bersandar kepada ketentuan-ketentuan Tuhan, seperti tauhid.
Perbedaan cara pandang terhadap “kebenaran” antara paradigma sains, paradigma agama, dan paradigma pragmatis, seperti dunia (bisnis, politik, dan birokrasi) melahirkan konflik intelektual pada orang yang memerankan “kebenaran”. Dari sudut pandang Islam, jika tejadi demiian, sandarannya adalah QS. Ali Imron (3): 103 yakni “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganah kamu bercerai berai”. Tali agama Allah maksudnya kembali pada Alquran dan hadis sebagai rujukan. Sehubungan dengan itu, menurut Kuntowijoyo (2005) ada tiga model yang dapat dilakukan supaya tidak terjadi konflik intelektual, yaitu (1) model dekodifikasi (penjabaran), (2) islamisasi pengetahuan, dan (3) demistifikasi (peniadaan mistik).
Pikiran seorang muslim yang melahirkan sains Islam telah menerima wahyu sebagai sumber pengetahuan yang tertinggi. Konsep orang Islam tentang wahyu mempunyai konsekuensi penting bagi metodologi sains dalam Islam. Kaum sufi berdasarkan Alquran memformulasikan doktrin “lima tingkatan keberadaan Illahiah” untuk menggambarkan seluruh realitas. Kelima tingkatan keberadaan atau realitas itu adalah tingkatan ke-1 materi, ke-2 subtil, ke-3 malakuti, ke-4 sifat-sifat Illahiah, dan ke-5 esensi Illahiah (dzat) (Osman Bakar, 1995: 32). Dari tingkatan keberadaan ke-1 sampai dengan ke-5 merupakan hierarki, dan hierarki ke-1 merupakan hierarki yang paling bawah dan bersifat kasar. Hierarki keberadaan ke-2 dan seterusnya bersifat halus, dan akhirnya sangat halus, sehingga manusia hanya mungkin menjangkau di bawah cahaya kesadaran dirinya yang paling tinggi, demikianlah doktrin sains Islam tentang tingkatan “keberadaan atau realitas” itu menjadi mungkin.