• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu-isu Sekitar Kualitas Pendidikan Persekolahan di Indonesia Isu kualitas pendidikan yang rendah bukanlah hal baru. Oleh karena

MERESPONS POLA PENDIDIKAN DI INDONESIA

B. Fenomena

2. Isu-isu Sekitar Kualitas Pendidikan Persekolahan di Indonesia Isu kualitas pendidikan yang rendah bukanlah hal baru. Oleh karena

itu, tidaklah adil jika persoalan ini dibebankan kepada suatu institusi pendidikan saja. Proses pendidikan merupakan suatu kesinambungan yang bermula dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan perlu dilakukan pada seluruh peringkat dalam sistem pendidikan negara. Dalam hubungan ini, khusus peringkat pendidikan persekolahan memerlukan penelitian khusus karena merupakan pondasi bagi perkembangan pendidikan seterusnya.

Sehubungan dengan itu, ada beberapa isu pendidikan di Indonesia, khususnya pada taraf Sekolah Menengah Umum, misalnya pertama, penguasaan konsep siswa terhadap mata pelajaran sains adalah rendah;

kedua, kemampuan menyerap pelajaran adalah rendah; ketiga, kreativitas dan sikap ilmiah siswa rendah; keempat, penggunaan laboratorium tidak optimum, aktivitas laboratorium tidak meningkatkan sikap ilmiah, dan kemahiran berpikir juga tidak diberi penekanan; kelima, kurangnya keberkesanan proses pembelajaran, khususnya pendidikan sains dan matematik; keenam, rendahnya kesadaran terhadap lingkungan, dan ketujuh, rendahnya budaya belajar atau budaya akademik (Muh. Nur 1986; Prabowo 1992; Wartono 1992; Liliasari 1996; Wahidin 1998, Depdiknas 1999, Wahidin 2004).

Dalam kontek isu kualitas pendidikan di Indonesia, ada beberapa hasil penelitian antara lain sebabagi berikut.

Pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa mulai tahun 1984 sampai tahun 1996, hasil ujian nasional menunjukkan peningkatan rata-rata nilai NEM (Nilai EBTANAS Murni) yang sangat rendah untuk mata pelajaran Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika: yaitu 0.25 selama 7 tahun (Liliasari 1996). Seterusnya dari tahun 1996 sampai tahun 1999

rata-rata pencapaian nilai akademik antara: 2.89 sampai 3.17 untuk fisika, 4.02 sampai 4.15 untuk kimia, 3.67 sampai 4.13 untuk biologi, dan 3.03 sampai 3.98 untuk matematika (Depdiknas, 1999). Kesimpulannya selama 15 tahun skor nilai sains dan matematika sangat rendah.

Dari segi nilai, penguasaan konsep-konsep sains dan matematika di Sekolah Menengah Umum memang rendah. Generalisasi ini jelas memiliki dasar yang kuat, karena keputusan penilaian pada tingkat Nasional dapat dijadikan dasar untuk mengukur kualitas pendidikan persekolahan secara umum, membuat peta kualitas pendidikan, menyumbang ke arah pengembangan kurikulum, memungkinkan guru melakukan refleksi dan penilaian diri tentang topik tertentu yang belum dikuasai oleh siswa.

Ujian tingkat nasional juga dapat digunakan untuk membuat peraturan tentang Pendidikan Negara (Depdiknas, 1999 ).

Kedua, siswa seolah-olah mengalami phobia untuk menjawab soal-soal yang sukar dan memerlukan kemahiran berpikir tingkat tinggi, penguasan konsep-konsep abstrak, dan soal-soal yang berkaitan dengan pengiraan dan logika. Proses pembelajaran mereka seolah-olah terhenti, dalam keadaan ini, tentulah sukar bagi siswa untuk mengalami pembelajaran yang bermakna. Para siswa kelihatannya hanya siap dan mau melakukan perkara-perkara yang mudah.3 Bagi guru-guru sains dan matematika, perkara ini sudah menjadi kebiasaan sejak pembelajaran.

Tambahan pula, guru-guru sains memang kurang mampu menggunakan berbagai pendekatan mengajar, sehingga siswa tidak mengamalkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan seterusnya tidak menyedari akan kepentingan belajar (Komala, 2001). Selain itu, temuan di bidang kesadaran siswa terhadap lingkungan juga mengalami hal serupa, hasil pembelajaran menunjukkan kurang menyumbang kepada kesadaran lingkungan (Wahidin, 1998). Meskipun latihan-latihan tentang strategi pengajaran sering dijalankan, guru-guru senantiasa menggunakan cara konvensional dalam pengajaran. Guru seperti ini dikatakan berbudaya rutin dan tidak memiliki kepahaman yang jelas tentang tujuan pendidikan

3 Ini merupakan kesan dari kebiasaan guru, juga sistem penilaian multiple choice di sekolah.

negara. Perkara ini sejalan dengan keadaan di Malaysia, di mana guru-guru sains dan matematika menunjukkan masih mempunyai kelemahan dalam menggunakan pendekatan mengajar (Subahan, 1996).

Ketiga, siswa kurang melakukan kegiatan-kegiatan akademik sebagai suatu kebiasaan (Prabowo, 1992). Akibatnya, sikap, cara berpikir kritis dan kreatif mereka tidak terbina. Kegiatan belajar di laboratorium kurang berkesan terhadap pengembangan pola berpikir siswa. Guru tidak mempunyai inisiatif untuk merancang dan mengembangkan pendekatan pembelajaran yang sesuai melalui eksperimen di laboratorium. Kegiatan laboratorium terbatas pada lembar kerja siswa (LKS) yang disediakan dan lebih berfungsi sebagai cookbook (Subahan, 1993). Seharusnya kerja laboratorium memberikan penjelasan informasi untuk mengembangkan kemahiran berpikir logis, sistematik, dan objektif berdasarkan data empiris yang diperoleh (Yuyun, 1996).

Keempat, hasil penelitian menunjukkan bahwa lulusan Sekolah Menengah Umum yang melanjutkan pelajaran ke universitas lebih rendah jumlahnya dibandingkan dengan yang terjun ke dunia kerja (Kanwil, 1998). Selanjutnya yang lebih menghawatirkan proses pendidikan guru khususnya untuk guru Sekolah Menengah di Indonesia hanya menciptakan manusia-manusia si jago hafal yang belum peka terhadap tingkat pembelajaran bermakna dan berpikir tingkat tinggi (Depdiknas, 2001). Hal ini tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran sains, khususnya kimia di Sekolah Menengah Umum (Depdikbud, 1998). Oleh karena itu, kemahiran guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk pengembangan kemahiran berpikir siswa adalah perlu.

Guru diharapkan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah pendidikan yang bersifat sementara, agar ia tidak berakumulasi menjadi masalah kebangsaan.

Kelima, program-program peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran sains dan matematika bagi Sekolah Menengah Umum telah dilakukan. Program-program peningkatan kualitas guru sains dan matematika, dilakukan melalui latihan berupa pelatihan guru seperti

PKG, SPKG, LKG, MGMP.4 Selanjutnya, seminar dan pelatihan pendidikan guru juga sering dilakukan. Di bidang institusi pendidikan, pembaikan kurikulum fakultas pendidikan di universitas-universitas dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP dulu) terus dijalankan. Akan tetapi, perubahan yang berarti terhadap kebiasaan para guru belum terwujud.

Meskipun ada program-program peningkatan kualitas pendidikan, proses pendidikan di Sekolah Menengah Umum masih kurang berkesan (Liliasari, 1996).

Keenam, hasil penelitian turut menujukkan bahwa banyak guru sains khususnya di Jawa Timur yang mengalami kesukaran untuk mengajar dan mengembangkan kemampuan intelektual siswa (Wartono, 1992).

Sebanyak 89 persen siswa SMP, 73 persen siswa SMA kelas 3, dan 45 persen mahasiswa dan siswa di Jawa Timur belum mencapai tingkat kemahiran berpikir formal (Moh. Nur, 1986). Walaupun kajian ini dijalankan 27 tahun yang lalu, masalah ini hingga kini masih dijumpai oleh guru-guru di sekolah. Oleh sebab itu, berbagai usaha untuk mengurangi masalah-masalah pembelajaran di atas sangat diperlukan.

Ini menuntut para guru yang berkemampuan agar pengembangan dan pembaharuan pengajaran yang berkualitas, dapat dilakukan. Dalam hal ini, soal peningkatan kualitas akademik, sikap dan perilaku pelajar, serta kemahiran berpikir sains pelajar perlu diperioritaskan.

Isu-isu pendidikan terjadi setiap saat, tentu setiap kita berkewajiban terlibat menyelesaikannya. Bidang yang dibicarakan khalayak umum tentang isu strategis pendidikan adalah kurikulum yang belum menjawab tantangan perubahan, buku sekolah yang mahal, akses terhadap pendidikan berkualitas masih sulit bagi masyarakat miskin, pendidikan belum mejawab perbaikan moral dan perilaku sosial, belum terbentuknya budaya pemikiran produktif, pendidikan belum meningkatkan intelektual masyarakat dan literasi masyarakat, masih adanya perilaku-perilaku yang tidak bertanggung jawab bidang pendidikan.

4 PKG (Pemantapan Kerja Guru), SPKG (Sanggar Pemantapan Kerja Guru), LKG (Latihan Kerja Guru), MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

Isu-isu khusus terkait dengan bahan ajar adalah bahwa buku yang ada isi buku tidak memadai (kadang terlalu tinggi kadang terlalu dangkal dan tidak memperhatikan aspek kearifan lokal, potensi daerah), belum mencerminkan pemupukan nasionalisme dan nilai-nilai pancasila serta spiritualitas agama-agama yang ada di Indonesia, kadang ada bagian buku yang melanggar norma agama, etika, dan semangat NKRI, masih jarang yang penyajiannya dilakukan secara Integrasi sebagai wujud upaya mempersatukan NKRI.

Isu-isu tentang pengiriman buku terlambat, kurikulum sudah jalan bukunya belum ada, jika buku diakses secara elektronik lama sekali membukanya khususnya di daerah, pengguna susah melakukan akses buku khsusunya di daerah, buku yang sampai ke daerah kadang kualitasnya tidak sama dengan buku yang diedarkan di kota, tetapi harga tetap mahal, belum sempurnanya regulasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan SDM perbukuan (penulis, editor, penerjemah, illustrator, desainer, ahli grafika), penerbitan, percetakan, pendistribusian, produksi buku (industri buku), kualitas buku, sistem informasi dan teknologi buku, promosi buku, perpustakaan sekolah, perpustakaan pemerintah daerah/

desa, perpustakaan rakyat, standarisasi buku sekolah, program minat baca dan menulis, teknologi informasi buku, sistem pengendalian buku oleh pemerintah.

Isu-isu tentang buku yang dijadikan “komoditas politik” kasus di tempat tertentu. Isi buku perlu memperhatikan nasionalisme, kearifan lokal, anggaran buku rendah terbukti dari sisi jumlah, dan percetakan yang sederhana sehingga tampilan buku kurang menarik (kertas, warna, cover, dsb.), buku hanya satu versi karena terbatas anggaran, penanggung jawab dibebankan kepada Puskurbuk sehingga terlalu berat, Pengaturan kualitas buku berkualitas, tetapi dengan harga murah dan buku dijadikan

“ajang bisnis” oleh sebagian warga bangsa ini.

Isu-isu lain yang menjadi keluhan warga masyarakat terhadap hasil pendidikan yang belum membangun kesadaran diri, pemikiran spiritual, kejujuran, kelembutan, sikap mental dan kemandirian, rasa syukur kepada Allah Swt. Seterusnya kini sudah muncul

gagasan untuk memperbaiki kurikulum menyangkut spiritualitas, pemikiran integratif, pemikiran kreatif dan pemikiran kritis dilakukan di sekolah, kemandirian melalui pendidikan enterprenur dan ekonomi kreatif.