MEMBANGUN PERSEPSI INTEGRASI SAINS DENGAN AGAMA
G. Berpikir pada Manusia
yang sifatnya primer tetap harus bersandar kepada ketentuan-ketentuan Tuhan, seperti tauhid.
Perbedaan cara pandang terhadap “kebenaran” antara paradigma sains, paradigma agama, dan paradigma pragmatis, seperti dunia (bisnis, politik, dan birokrasi) melahirkan konflik intelektual pada orang yang memerankan “kebenaran”. Dari sudut pandang Islam, jika tejadi demiian, sandarannya adalah QS. Ali Imron (3): 103 yakni “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganah kamu bercerai berai”. Tali agama Allah maksudnya kembali pada Alquran dan hadis sebagai rujukan. Sehubungan dengan itu, menurut Kuntowijoyo (2005) ada tiga model yang dapat dilakukan supaya tidak terjadi konflik intelektual, yaitu (1) model dekodifikasi (penjabaran), (2) islamisasi pengetahuan, dan (3) demistifikasi (peniadaan mistik).
Pikiran seorang muslim yang melahirkan sains Islam telah menerima wahyu sebagai sumber pengetahuan yang tertinggi. Konsep orang Islam tentang wahyu mempunyai konsekuensi penting bagi metodologi sains dalam Islam. Kaum sufi berdasarkan Alquran memformulasikan doktrin “lima tingkatan keberadaan Illahiah” untuk menggambarkan seluruh realitas. Kelima tingkatan keberadaan atau realitas itu adalah tingkatan ke-1 materi, ke-2 subtil, ke-3 malakuti, ke-4 sifat-sifat Illahiah, dan ke-5 esensi Illahiah (dzat) (Osman Bakar, 1995: 32). Dari tingkatan keberadaan ke-1 sampai dengan ke-5 merupakan hierarki, dan hierarki ke-1 merupakan hierarki yang paling bawah dan bersifat kasar. Hierarki keberadaan ke-2 dan seterusnya bersifat halus, dan akhirnya sangat halus, sehingga manusia hanya mungkin menjangkau di bawah cahaya kesadaran dirinya yang paling tinggi, demikianlah doktrin sains Islam tentang tingkatan “keberadaan atau realitas” itu menjadi mungkin.
pula berpikir adalah satu percobaan bagi individu untuk menguji dan menilai informasi berdasarkan kriteria tertentu. Dewey mengatakan pula bahwa berpikir merupakan operasi menggunakan fakta-fakta secara alamiah dengan fakta-fakta lain supaya fakta yang baru dapat dipercaya berdasarkan fakta sebelumnya. Later dan Dewey (1933) mengungkapkan istilah berpikir reflektif. Berpikir reflektif memerlukan keaktifan, terus-menerus, dan pertimbangan yang berhati-hati atas keyakinan yang ada atau andaian dalam membuat keputusan.
Tiga abad yang lampau, Edward M. Glaser (1941) membuat definisi berpikir kritis, yaitu sikap seseorang untuk mempertimbangkan dalam menyelesaikan masalah-masalah antara subjek yang dihadapinya dalam satu realitas kehidupan. Orang yang berpikir kritis menurut Glaser, senantiasa berupaya untuk menguji keyakinan dan andaiannya dengan pengetahuan dan fakta yang ia miliki.
Ennis (1962) mengatakan bahwa konsep keterampilan berpikir merupakan pembetulan diri dan pada ramalan pernyataan (ststement).
Manakala menurut McPeck (1981) mengatakan bahwa berpikir kritis adalah kesesuaian menggunakan refleksi scepticm dalam mempertimbangkan suatu masalah. McPeck menyakinkan bahwa membangun berpikir adalah kemampuan dan kecenderungan untuk menggunakan “aktiviti reflective reflective skepticism”, dan berpikir kritis menuntut kemampuan mengembangkan dan menekankan pengetahuan domain spesifik.
Beyer (1984) mendefinisikan berpikir sebagai kebolehan manusia untuk membentuk konsep, memberi sebab atau membuat keputusan.
Kemudian pada tahun 1988 ia membedakan bahwa berpikir dibagi menjadi berpikir secara sederhana yang sesuai dengan taksonomi Bloom, seperti berpikir logis dan berpikir filosofis (induktif, deduktif, dan keputusan analogi). Kemudian satu jenis lagi yaitu strategi berpikir tingkat tinggi seperti pemecahan masalah dan membuat keputusan yang memerlukan penggunaan kognitif yang lebih kompleks.
Frankel (1980) mendefinisikan berpikir merupakan penentuan ide, pembentukan pengalaman dan penyusunan informasi dalam
bentuk tertentu. Pemikiran itu merupakan interpolation yang mengisi kekosongan informasi extrapolation melampaui informasi yang diberi dan reinterpretation yang menyusun semua informasi (Bartlet, 1958).
Selanjutnya, orang yang berpikir itu adalah sesuatu yang luar biasa digunakan untuk membuat keputusan atau menyelesaikan masalah (Whaffer, 1988) dalam (Wahidin, 2004). Pemikiran adalah sesuatu proses yang rumit dan multifaceted, pemikiran berfungsi untuk menghasilkan dan mengenal tingkah laku yang nyata (Bourne, 1971).
Pemikiran adalah pembentukan ide-ide, mengorganisasi pengalaman dan mengorganisasikan informasi dalam satu pola tertentu (Frankel, 1980).
Pemikiran melibatkan empat komponen utama, 1) pemikiran memerlukan informasi atau pengetahuan, 2) pemikiran melibatkan proses mental dan memerlukan keterampilan tertentu, 3) pemikiran adalah aktif, bertujuan, dan 4) pemikiran menghasilkan sesuatu tingkah laku dan sikap, dan pemikiran adalah suatu koleksi keterampilan atau operasi mental yang digunakan oleh individu (Nickerson, 1985 dalam Wahidin, 2004).
Wahidin (2004) mendefinisikan berpikir sebagai proses mental yang kompleks yang melibatkan otak (pikiran), hati/jatung (kebenaran) dan rasa untuk membentuk satu keputusan. Definisi menurut Wahidin, berbeda dengan definisi-definisi berpikir sebelumnya. Pada definisi ini melibatkan rasa yang tidak dipisahkan dari kata hati (jantung). Mengapa?
Kata hati (jantung) itu mendalam maknanya karena mengandung unsur
“kebenaran”. Di mana “kebenaran” itu ada yang menyangkut kebenaran ilmiah (terukur oleh pancaindra manusia), ada juga yang menyangkut kebenaran yang hak. Kebenaran yang hak itu adalah kebenaran yang berasal dari Allah Swt. Berpikir dalam konteks ini dicontohkan secara ekstrim oleh Nabi Muhammad saw., beliau berpikir untuk membuat satu atau banyak keputusan dalam menyelesaikan masalah kehidupan itu menggunakan komponen “kebenaran” yang hak.
Bagaimana hubungan persepsi dengan berpikir pada manusia?
Tentu saja persepsi merupakan bagian dari atau sebuah produk dari proses berpikir. Persepsi yang timbul pada seseorang yang dihasilkan dari proses berpikir yang benar akan menghasilkan persepsi yang benar.
Ibarat bayangan suatu benda, jika bendanya bengkok, bayangannya juga akan bengkok. Walaupun ada benda yang lurus, tampak bayangannya bengkok, hal itu terjadi jika pada benda itu terjadi pembiasan. Pikiran-pikiran yang dibangun oleh kerja otak yang normal, kerja jantung dan rasa ikhlas tidak dibuat-buat, tidak mengingkari hakikat manusia, dan selalu berharap rida Allah Swt. akan melahirkan persepsi yang benar. Persepsi yang benar juga adalah persepsi yang dihasilkan dari cara berpikir dan bernalar yang sesuai dengan kaedah-kaedah hukum alam dan hukum Allah Swt. Persepsi yang benar adalah persepsi yang tidak mengalami
“pembiasan”. Persepsi yang demikian tentu tidak mengelirukan dan tidak mencelakakan dirinya dan orang lain.
Hasil penelitian bidang pendidikan menunjukkan bahwa cara berpikir seseorang ditentukan oleh keyakinan, latar belakang pendidikan, kebiasaan, pergaulan, dan bahan bacaan, dan lingkungan. Oleh sebab itu, setiap orang memiliki pola berpikir yang khas. Pola berpikir ini sederhananya disebut mindset. Mindset inilah yang akan memformulasi persepsi seseorang. Jadi, mindset berkorelasi dengan persepsi seseorang.
Implikasinya dalam pendidikan dan kehidupan, bahwa seseorang yang memiliki persepsi yang salah terhadap sesuatu yang “benar”, maka sebenarnya “cara berpikir ia adalah salah”. Konsep ini penting dipahami untuk dilaksanakan karena dapat menyebabkan risiko bagi dirinya dan juga bagi orang lain. Sebagai contoh begitu banyak korban disebabkan karena pemimpin keliru dalam memberikan persepsi terhadap satu permasalahan. Tidak sedikit orang keliru berpikir, akibatnya keliru dalam mengambil keputusan, akhirnya berdampak pada kekeliruan berikutnya yakni keliru dalam memberikan persepsi terhadap realitas kehidupan. Jika seseorang keliru dalam memberikan Persepsi pada realitas kehidupan, ia bisa berdampak fatal dan berisiko tinggi dalam kehidupan. Sebagai contoh akibat dari kekeliruan persepsi misalnya membenarkan sesuatu yang salah, melambatkan sesuatu yang seharusnya cepat, menyulitkan hal yang mudah, memberi yang seharusnya tidak memberi, meminta yang seharusnya memberi dan sebagainya.
Persepsi pada seseorang seperti halnya berpikir, dapat dilatih, dipelajari oleh siapa pun supaya menjadi satu kebiasaan. Kebiasaan
memberikan persepsi yang benar sama halnya kita melatih keterampilan berpikir yang benar. Menurut pandangan psikologi berpikir, khususnya berpikir luhur, hambatan berpikir dan berpersepsi yang ikhlas atau benar yaitu penyakit mental, penyakit rohani, dan penyakit syirik serta penyakit jasad. Keempat penyakit bisa meruntuhkan tampilan persepsi seseorang terhadap objeknya. Peyakit yang belum ada fakultas kedokterannya adalah penyakit rohani dan penyakit syirik.
H. Pengalaman Intelektual dan Pengalaman Spiritual