• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHASA ILMIAH YANG KOMUNIKATIF

C. Bahasa Ilmiah Sebagai Bentuk Konsensus

Peirce sendiri memahami simbol sebagai tanda yang secara potensial bersifat umum, namun selalu ada aturan main dalam berbagai simbol yang dipergunakan manusia, baik yang tertulis maupun yang lisan. Simbol memang tidak mengandung kesamaan atau menunjuk sesuatu secara lugas seperti halnya indeks, simbol lebih mengandung pengertian yang relatif. Peirce menegaskan bahwa dalam simbol, relasi ke arah pemahaman tidak perlu diungkapkan dalam definisi bidang logika, karena simbol itu tidak dapat dibatasi, melainkan suatu perbedaan yang dapat dibuat antara konsep-konsep yang diduga tidak mengandung eksistensi suatu objek, kecuali sejauh konsep tersebut secara aktual menghadirkan pemahaman dan simbol eksternal yang masih menyimpan karakter simbol sepanjang konsep itu hanya mampu untuk dimengerti. Peirce membagi secara umum simbol ke dalam tiga bidang. Pertama, simbol yang secara

92 langsung menentukan dasarnya (grounds) atau kualitas yang dihubungkan, dan simbol itu merupakan keseluruhan tanda atau istilah. Kedua, simbol yang bebas menentukan objeknya melalui arti istilah lain, sehingga pengungkapan simbol itu sendiri sah secara objektif , simbol mampu mengungkapkan kebenaran atau kesalahan, yaitu dalam bentuk proposisi. Ketiga, simbol yang bebas menentukan interpretannya, sehingga pikiran yang memunculkan simbol tersebut memiliki alasan yang dapat diakui, berupa argumen (Peirce, 1998, Volume 1: 296-297).

Berger menjelaskan tentang pengertian simbol dalam pemikiran Peirce sebagai

berikut: ”Symbol; for Peirce a sign based on convention. It should be pointed out that for Peirce, a sign can be iconic, indexical, and symbolic, all at the same time (Berger, 1989:190). Simbol bagi Peirce adalah bentuk tanda yang didasarkan pada konvensi. Simbol adalah tanda yang memiliki hubungan dengan objeknya berdasarkan konvensi, kesepakatan, atau aturan. Simbol ditandai dengan kesepakatan seperti halnya bahasa, gerak isyarat, yang untuk memahaminya harus dipelajari. Makna suatu simbol ditentukan oleh suatu persetujuan atau kesepakatan bersama, atau sudah diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran. Contoh: lampu lalu lintas adalah simbol, yakni warna merah artinya berhenti, hijau berarti jalan, warna kuning berarti pengguna jalan harus berhati-hati. Simbol adalah sesuatu yang maknanya diterima sebagai suatu kebenaran melalui konvensi atau aturan dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat yang telah disepakati. Simbol baru dapat dipahami manakala seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya (Sumbo, 2010: 17). Contoh: Burung Garuda bagi bangsa Indonesia merupakan simbol yang sarat makna, mulai dari 8 helai ekornya, 17 helai sayapnya, 45 helai bulu di dadanya merupakan rangkaian hari kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus tahun 1945.

Berbagai negara dan institusi juga meletakkan simbol tertentu sebagai karakteristik, keunikan, jati diri dari negara dan institusi yang bersangkutan. Simbol merupakan tanda yang mewakili sesuatu yang proses penentuannya tidak didasarkan pada aturan tertentu. Makna simbolis dibentuk melalui konvensi sosial, kesepakatan masyarakat penggunanya. Misalnya: tanda V yang dibentuk dengan jari telunjuk dan jari tengah secara simbolis mewakili konsep perdamaian (Danesi, 2010: 48). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin Megawati Sukarno Putri menggunakan simbol jari kelingking, jari tengah, dan jari jempol yang

93 diacungkan sebagai simbol ‘metal’, singkatan dari merah total sebagai cerminan warna latar belakang gambar Banteng milik PDIP.

Peirce sendiri memahami simbol sebagai tanda yang secara potensial bersifat umum, namun selalu ada aturan main dalam berbagai simbol yang dipergunakan manusia, baik yang tertulis maupun yang lisan. Simbol memang tidak mengandung kesamaan atau menunjuk sesuatu secara lugas seperti halnya indeks, simbol lebih mengandung pengertian yang relatif. Peirce menegaskan bahwa dalam simbol, relasi ke arah pemahaman tidak perlu diungkapkan dalam definisi bidang logika, karena simbol itu tidak dapat dibatasi, melainkan suatu perbedaan yang dapat dibuat antara konsep-konsep yang diduga tidak mengandung eksistensi suatu objek, kecuali sejauh konsep tersebut secara aktual menghadirkan pemahaman dan simbol eksternal yang masih menyimpan karakter simbol sepanjang konsep itu hanya mampu untuk dimengerti. Peirce membagi secara umum simbol ke dalam tiga bidang. Pertama, simbol yang secara langsung menentukan dasarnya (grounds) atau kualitas yang dihubungkan, dan simbol itu merupakan keseluruhan tanda atau istilah. Kedua, simbol yang bebas menentukan objeknya melalui arti istilah lain, sehingga pengungkapan simbol itu sendiri sah secara objektif , simbol mampu mengungkapkan kebenaran atau kesalahan, yaitu dalam bentuk proposisi. Ketiga, simbol yang bebas menentukan interpretannya, sehingga pikiran yang memunculkan simbol tersebut memiliki alasan yang dapat diakui, berupa argumen (Peirce, 1998, Volume 1: 296-297).

Kalau bahasa dipandang sebagai simbol, maka ada konvensi di dalam penggunaan bahasa tersebut. Demikian pula halnya dalam bahasa ilmiah, tentu ada kesepakatan di kalangan ilmuwan tentang persyaratan bahasa ilmiah tersebut. Beberapa persyaratan bahasa ilmiah yang sesuai dengan alur pemikiran Peirce meliputi antara lain: Pertama; bahasa ilmiah itu harus didasarkan pada logika, karena melalui logika bahasa ilmiah itu dapat dipahami kadar kelogisannya di kalangan ilmuwan. Kedua; bahasa ilmiah harus mengacu pada sesuatu sebagaimana halnya dengan tanda yang selalu mengacu pada objek tertentu, didasarkan atas pengalaman. Pada hakikatnya bahasa ilmiah itu merupakan sign (tanda) yang mewakili ide pemikiran ilmiah. Ketiga; bahasa ilmiah merupakan bentuk konvensi atau kesepakatan di antara para ilmuwan, minimal di kalangan ilmuwan sejenis. Misal: simbol matematika merupakan tanda yang disepakati para matematikawan. Keempat; bahasa ilmiah merupakan media komunikasi antara ilmuwan yang satu dengan ilmuwan yang lain atau dengan masyarakat, sehingga sifat komunikatif melekat dengan sendirinya.

94 BAB V.

PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pemikiran Peirce tentang logika, semiotika, dan bahasa sebagai sarana ilmiah, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut.

Pertama; logika merupakan bentuk pendasaran ilmiah yang diperlukan untuk memahami cara manusia (ilmuwan) menaik kesimpulan. Dalam hal ini Peirce lebih mendasarkan langkah- langkah logika pada tiga bentuk, yaitu deduksi, induksi, dan abduksi, meskipun abduksi atau hipotesis lebih dominan dalam pemikiran Peirce.

Kedua; semiotika sebagai ilmu tentang tanda dapat dipergunakan sebagai sebuah cara untuk memahami gejala yang ada di luar diri manusia. Artinya pengamatan manusia atas tanda yang terinci dalam bentuk gejala, fenomena, atau phanerons dapat menjadikan ilmuwan memperoleh hasil yang lebih memadai.

Ketiga; konsep bahasa ilmiah sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan pemikiran ilmiah menurut perspektif Peirce terletak pada kemampuan untuk menjadikan sesuatu lebih jelas dan jernih, untuk itu Peirce menghindari pembuktian intuitif, karena dapat menyamarkan gagasan yang jelas (is clear) dengan gagasan yang tampaknya jelas (seems clear).

Keempat, penentuan kategori atas tanda atau objek ilmiah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk menghindarkan ilmuwan dari kesalahpahaman atas objek yang ditelitinya, terutama qualisign, sinsign, atau legisign yang selalu berhubungan dengan objek langsung.

2. Saran

Pertama; ditujukan kepada ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk senantiasa memperhatikan penggunaan bahasa ilmiah melalui pemahaman yang tepat atas gejala yang diamati, sehingga penamaan dan penempatan kategori ilmiah yang disusun benar-benar mempertimbangkan logika ilmiah yang memadai.

Kedua; ditujukan kepada para filsuf atau ahli filsafat untuk mengembangkan pemahaman tentang phanerons atau gejala yang pada umumnya bersifat metafisis, namun tetap mendasarkan diri pada penjelasan yang logis atas gejala yang abstrak, agar tidak terjadi keruwetan dalam

95 mengungkapkan gagasan pemikirannya. Dengan demikian gagasan filosofis dapat dipahami oleh masyarakat ilmiah lainnya.

Ketiga; ditujukan kepada para ahli bahasa ( sintasis, semantis, dan pragmatis) agar penyusunan kaidah bahasa ilmiah di samping memperhatikan aturan main kebahasaan (gramatika), juga membuka celah bagi kreativitas dalam berbahasa, sehingga bahasa ilmiah tidak terkesan kaku (rigorous)

Keempat; ditujukan kepada masyarakat awam untuk memahami gejala berdasarkan akal sehat (common sense), namun tetap bersifat logis, sehingga tidak terjebak ke dalam pemahaman yang bersifat irrasional dan menyesatkan. Contoh:pengetahuan mistik yang cenderung berlawanan dengan common sense.

96 DAFTAR PUSTAKA

Badudu, J.S., 1985, Cakrawala Bahasa Indonesia, Jakarta, Penerbit PT Gramedia. Buchler, Justius (Editor), 1955, Philosophical Writings of Peirce, New York, Dover

Publications.

Chandler, Daniel., 2002, Semiotics: The Basics, London, Routledge & Kegan Paul LTD. Colapietro, Vincent Michael., 1989, Peirce’s Approach to the Self: A Semiotic Perspective on

Human Subjectivity, State University of New York Press.

Deledalle, Gerard ; 2000. Charles Peirce’s Philosophy of Signs : Essays in Comparative Semiotics, Bloomington, Indiana University Press.

Eco, Umberto, 1979, Theory of Semiotics, Indiana University Press, Bloomington.

Hoed, Benny H., 2008, Semiotis dan Dinamika Sosial Budaya, Jakarta, Penerbit Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Honderich, Ted., 1995, The Oxford Companion to Philosophy, Oxford, Oxford University Press. Jacob, Struan, 2006, “Models of Scientific Community: C.S.Peirce to Thomas Kuhn”, dalam

Interdisciplinary Science Reviews, Volume. 31, 2006, No. 2.

Keraf, Gorys, 2009, Diksi dan Gaya Bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Oxford University Press.

Kṏvecses, Zoltan., Language, Mind, and Culture, Oxford.

Littlejohn, Stepen W dan Foss, Karen A., 2008, Theories of Human Communication, Penerjemah: Mohammad Yusuf Hamdan (Teori Komunikasi), Jakarta, Penerbit Salemba Humanika.

Locke, John, 1910, An Essay Concerning Human Understanding, Rendered into HTML by Steve Thomas, eBooks@Adelaide 2004, Last updated Mon Mar 5 11:42:51 2007.

Moore, G.E., 1951, Philosophical Studies, London, Routledge & Kegan Paul LTD.

………., 1953, Some Main Problems of Philosophy, London, George Allen & Unwin Ltd. Peirce, C.S., 1998, Principles of Philosophy, Volume 1, Edited by: Charles Hartshorne and Paul

97 ---., 1998, Elements of Logic, Volume 2, Edited by Charles Hartshorne and Paul Weiss,

Colected Papers of Charles Sanders Peirce, England, Thoemmes Press.

………, 1998, Science and Philosophy, Volume 7, Edited by Arthur W.Burks, Collected Papers of Charles Sanders Peirce, England, Thoemmes Press.

---., 1998, Reviews, Correspondence, and Biblography, Volume 8, Edited by Arthur W. Burks, Colected Papers of Charles Sanders Peirce, England, Thoemmes Press.

……….., 1955, “The Fixation of Belief”, dalam Philosophical Writings of Peirce, Buchler

(editor), New York, Dover Publications.

………….., 1955, “How ToMake Our Ideas Clear”, dalam Philosophical Writings of Peirce, Buchler (editor), New York, Dover Publications.

………….., 1955, “The Scientific Attitude And Fallibilism”, dalam Philosophical Writings of Peirce, Buchler (editor), New York, Dover Publications.

………….., 1955, “Philosophy And The Sciences; A Classification”, dalam Philosophical Writings of Peirce, Buchler (editor), New York, Dover Publications.

Piliang, Yasraf Amir., 2004, Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, Yogyakarta, Jalasutra.

Russell, Bertrand, 1980, An Inquiry Into Meaning and Truth, Reprinted seven times, London, Unwin Paperbacks.

Samovar, Larry A, dkk, 2010, Communication Between Cultures, Penerjemah: Indri Margaretha Sidabalok ((Komunikasi Lintas Budaya), Jakarta, Penerbit Salemba Humanika.

Saussure, Ferdinand de., 1996, Pengantar Linguistik Umum, Penerjemah: Rahayu S. Hidayat, Judul asli: Cours de Linguistique Generale, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press. Semiawan, Conny R., dkk, 2010, Spirit Inovasi Dalam Filsafat Ilmu, Jakarta, Pt. Indeks.

Sobur, Alex., 2009, Semiotika Komunikasi, cetakan keempat, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Sudjiman Panuti dan van Zoest., 1992, Serba-Serbi Semiotika, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

98 Departemen Pendidikan Nasional, 2008, KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA PUSAT