POKOK PEMIKIRAN C.S.PEIRCE TENTANG BAHASA ILMIAH
E. Tanda Sebagai Objek Ilmiah
77 Peirce yang dikenal sebagai tokoh utama ilmu tanda atau semiotika Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics), bagi Peirce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat ditetapkan pada segala macam tanda.Tanda bagi Peirce adalah hal yang menggantikan seseorang untuk hal lain dalam beberapa kapasitas. Peirce menegaskan hal tersebut sebagai berikut:”A sign, or representamen, is something which stands to somebody or something in some respect or capacity” (Peirce Volume 2, 1998:135). Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi menurut Peirce dinamakan ground. Relasi dalam tanda selalu berlangsung hubungan yang bersifat triadis, yakni ground, object, and interpretant.
Tanda menurut Peirce adalah “sesuatu yang mewakili sesuatu” dalam proses semiosis. Semiosis mengikuti tiga tahap, yaitu representamen, sesuatu objek, sesuatu di dalam kognisi manusia, dan interpretan sebagai proses penafsiran. Proses semiosis dalam pemikiran Peirce pada dasarnya senantiasa berkembang, interpretan dapat berubah menjadi representamen baru, yang kemudian berproses mengikuti semiosis secara tidak terbatas, dalam proses ini lah representamen berada dalam kognisi, sedangkan kadar penafsiran terus berkembang (Hoed, 2008: 18).
Semiotika dalam pemikiran Peirce merupakan salah satu disiplin ilmu yang membicarakan makna tanda menegaskan tugas utamanya sebagai penentu kriteria yang membedakan antara jenis-jenis tanda dengan jenis pemaknaan lainnya. Peirce memperkenalkan konsep trikotomi berupa ikon, indeks, dan simbol. Ikon yang lebih menekankan pada kemiripan, indeks lebih berorientasi pada hubungan kausalitas, sedangkan simbol lebih bertitik tolak dari konvensi sosial. Sebuah tanda yang sama dapat memainkan bagian yang berbeda pada saat yang bersamaan; misalnya: sebuah gambar dapat menghadirkan sesuatu, mengungkapkan sesuatu, mengacu pada sifat materi tertentu, merupakan sebuah metafora, atau membentuk beberapa jenis tanda secara tak langsung. Semiotika bermaksud menemukan aturan umum yang mencoba untuk menggambarkan fenomena ini sebagai fungsi umum dalam beberapa jenis sistem. Namun semiotika tidak hanya menggambarkan hal kesesuaian dan ketidaksesuaian antara cara-cara pemaknaan yang berbeda, melainkan menempatkan cara-cara yang berbeda itu dalam beberapa sistem permaknaan yang bekerjasama dengan transmisi makna seperti: bahasa lisan, tulisan,
78 isyarat, ekspresi wajah, atau sebagaimana yang terdapat dalam dunia teater dan film, bahkan juga yang berkembang dalam media seperti dalam komputer, internet.
Sowa menyitir pendapat Peirce yang menyatakan bahwa semiotika adalah ilmu yang mempelajari penggunaan tanda melalui kecerdasan ilmiah, yakni kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pengalaman. Berdasarkan kriteria Peircean, maka teknik komputer untuk memroses dasar dan data dasar pengetahuan dapat dinamakan semiotika komputasional (Sowa, 2000: 2). Danesi menambahkan bahwa upaya menafsirkan sebuah teks dalam komputer itu memerlukan tiga jenis proses. Pertama, disyaratkan adanya kemampuan untuk mengakses kandungan teks pada tingkat penanda (signifier). Artinya, kemampuan untuk menafsirkan kata- kata, citra, dan berbagai tampilan yang ada. Oleh karena itu hanya mereka yang memiliki pengetahuan tentang kode (verbal dan nonverbal) penyatuan teks itulah yang bisa melakukannya dengan baik. Kedua, mensyaratkan adanya pengetahuan tentang bagaimana hubungan A=B itu dapat tersingkap dalam teks tertentu. Artinya bagaimana suatu teks (A) dapat memunculkan artinya (B) melalui serangkaian proses signifikasi internal dan eksternal. Ketiga, adanya berbagai faktor kontekstual yang memasuki seluruh proses untuk memberikan kendala pada interpretant tentang maksud si pengarang (Danesi, 2010: 204).
Penguasaan keterampilan, pemahaman dan pengetahuan yang cukup atas penggunaan ikon pada benda-benda teknologi seperti: Laptop atau komputer menjadikan si pengguna dapat memanfaatkannya secara optimal. Penguasaan keterampilan dan pengetahuan atas penggunaan ikon pada laptop dan komputer ini menunjukkan bahwa sifat-sifat tanda yang berlaku cenderung bersifat logis-universal. Ikon yang dipergunakan pada laptop dan komputer ini mewakili bahasa logis-rasional sebagaimana yang dimaklumatkan para penganut aliran atomisme logis dan positivisme logis (dalam bidang filsafat bahasa atau filsafat analitis), yaitu bahasa standar yang memiliki makna unik dan terbatas yang berlaku secara universal. Bahasa logika yang diwakili dalam bentuk ikon menunjukkan bahwa ketepatan makna dan acuan yang jelas masih sangat dibutuhkan dalam dunia kontemporer. Komputer dan internet dewasa ini sudah merupakan sarana atau jembatan lintas budaya yang membuat jarak antar budaya semakin pendek.
Tanda menurut Peirce adalah “sesuatu yang mewakili sesuatu” dalam proses semiosis. Semiosis mengikuti tiga tahap, yaitu representamen, sesuatu objek, sesuatu di dalam kognisi manusia, dan interpretan sebagai proses penafsiran. Proses semiosis dalam pemikiran Peirce pada dasarnya senantiasa berkembang, interpretan dapat berubah menjadi representamen baru,
79 yang kemudian berproses mengikuti semiosis secara tidak terbatas, dalam proses ini lah representamen berada dalam kognisi, sedangkan kadar penafsiran terus berkembang (Hoed, 2008: 18). Contoh: ketika kata erotisme dan pornografi didiskusikan di kalangan terbatas (seniman, akademisi), tidak ada sesuatu yang terjadi, namun di saat kata tersebut dibicarakan dalam kaitan dengan RUU Pornografi dan Pornoaksi, maka terjadilah polemik yang terus berkembang.
Peirce melihat tanda bukan sebagai sebuah struktur yang tergambar dalam kognisi manusia, melainkan sebagai sebuah proses semiosis, yaitu proses pemaknaan tiga tahap secara kognitif yang bertolak dari sesuatu hal yang dapat dipersepsi secara inderawi atau dapat dipikirkan. Semiotis model Peirce menurut Hoed dinamakan semiotis pragmatis, karena bertitik tolak wujud luar tanda yang dapat diindera manusia, yang dinamakan representamen. Inti pemikiran Peirce yaitu, jagat raya (universe) terdiri atas tanda-tanda (signs), sehingga pandangan Peirce ini bercorak pansemiotis. Manusia memaknai gejala alam, sosial, budaya melalui proses yang terjadi dalam kognisinya yang disebut semiosis (Hoed, 2008: 78).
Teori Peirce tentang tanda merupakan suatu bentuk penalaran dan kesadaran yang menegaskan bahwa seluruh cara berpikir tergantung pada penggunaan tanda dalam kehidupan manusia. Peirce menunjukkan bahwa setiap pemikiran merupakan tanda dan setiap tindakan penalaran mengandung interpretasi atas tanda. Tanda berfungsi sebagai perantara (mediator) antara dunia eksternal objek dan dunia internal gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia. Tanda merupakan kehadiran atau representasi mental dari objek, dan objek itu sendiri dikenal melalui sarana persepsi atas tanda-tanda. Semiosis dalam pemikiran Peirce, merupakan proses yang menghadirkan fungsi objek sebagai tanda, dalam semiosis itu terjadi proses kerja sama antara tanda, objek, dan interpretan sebagai bentuk kehadiran mental. Semiotika sendiri merupakan ilmu tentang tanda yang mempelajari semiosis dan penyelidikan ke dalam kondisi yang diperlukan untuk menghadirkan objek pada fungsinya sebagai tanda. Peirce menggambarkan logika sebagai ilmu tentang aturan tanda, dan membagi logika ke dalam tiga bidang studi: pertama, logika kritis (critical logic) yaitu studi tentang relasi antara tanda dengan objeknya; kedua, gramatika spekulatif (speculative grammar) yaitu studi tentang makna tanda; ketiga, retorika spekulatif (speculative rhetoric) yaitu tentang relasi antara tanda dengan interpretan-nya. Logika sebagai semiotika menurut Peirce, teori tentang kondisi yang menentukan kebenaran tanda dan ilmu normatif, berarti ia juga merupakan sebuah teori tentang
80 jenis penalaran yang harus digunakan agar manusia menemukan kebenaran. (Peirce, 1998: Volume 1: 80; Volume 2: 135).
Kata tanda dapat dipergunakan untuk menunjuk objek yang dapat dipersepsi atau sesuatu yang bisa dibayangkan, bahkan yang belum dapat dibayangkan manusia. Peirce mencontohkan kata fast sebagai tanda yang sulit untuk dibayangkan, karena kata tersebut bukan hanya dapat dituliskan atau diucapkan, namun merupakan sebuah contoh tentang tanda yang bisa berarti rapidly (dengan cepat), dan bisa berarti immovable (tak bergerak), namun bisa pula mengacu pada arti abstinence (berpuasa, menahan nafsu). Jika sesuatu dapat menjadi tanda, maka kata itu harus menghadirkan sesuatu yang lain, yaitu objek, meskipun kondisi tanda tersebut harus menjadi hal lain daripada objeknya yang sifatnya arbitrer, semena-mena (Peirce, 1998, Volume 2: 136). Pemahaman atas konteks atau lingkup di mana kata atau tanda itu digunakan menjadi hal yang sangat penting agar pemaknaan atas kata atau tanda itu lebih mengena pada sasaran yang dimaksud. Hal ini yang akan dikaji lebih lanjut dalam pemikiran Peirce tentang bahasa sebagai sarana ilmiah.