• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahasa, Keberpihakan, dan Hilangnya Intensi Pribadi

BAB IV INDIVIDU MODERN SEBAGAI HASIL PROYEK PEMBERADABAN

A.2. Bahasa, Keberpihakan, dan Hilangnya Intensi Pribadi

Semua orang (dalam konteks tulisan Said, intelektual) lahir dari, ke, dan dalam bahasa. Bahasa menjadi medium aktivitas intelektualnya.120 Intelektual umumnya menggunakan bahasa nasionalnya untuk mengemukakan pikirannya demi kenyamanan, keakraban, serta ekspresi suara dan perspektif yang sangat khas dirinya. Masalahnya, bahasa nasional yang ada berfungsi untuk, salah satunya, melanggengkan status quo dan menjaga agar tidak ada yang berubah atau dipertanyakan.121 Mengantisipasi tendensi itu, Said menganjurkan agar perlu ada

120 Ibid., hal. 27.

121 Ibid., hal. 27. Said juga menambahkan bahwa bahasa nasional punya rasa makna khusus untuk kata/konsep ‘kita’/’kami’ (dalam tulisan versi bahasa Inggris, ‘we’ dan ‘us’) yang sangat spesifik dalam

115

kesadaran bahwa bahasa nasional tidak bisa serta-merta dipakai mentah-mentah, melainkan harus diapropriasi.122

Mengapa bahasa nasional ini jadi bahasan penting dalam representasi intelektual yang dibicarakan Said? Ia merujuk pada argumen Matthew Arnold tentang identitas nasional atau diri dan sepakat bahwa salah satu tugas intelektual adalah membuat warga bangsa makin merasakan identitas bersama. Said menengarai bahwa argumen Arnold tersebut berlandaskan sebuah kekhawatiran bahwa semakin demokratis suatu masyarakat, makin susah mereka diatur. Maka, intelektual perlu membantu masyarakat untuk meredam gesekan dan menunjukkan cara hidup berbangsa yang semestinya. Hal ini sejalan dengan gagasan Said bahwa tugas lain yang mesti diemban intelektual adalah ‘menguniversalisasi krisis’. Secara sederhana, ia mencoba mengangkat lagi konsep tentang intelektual ‘universal’ yang pernah dibicarakan Foucault. Apa yang direpresentasikan intelektual semestinya bertaut langsung dengan kepentingan umum yang lebih luas, agar jadi perhatian bersama yang lebih besar.123

Persoalan ini merupakan salah satu topik yang berulang-ulang disentil Said dalam sekujur tulisannya: keberpihakan. Ia percaya bahwa intelektual mestinya mewakili, berbicara, dan menyampaikan suara masyarakat, utamanya yang termarginalkan. Demi melakukan ini, intelektual perlu kritis terhadap norma mapan yang ada yang kerap kali sangat kental berpihak pada kelas dominan dan bersifat

kaitannya dengan memelihara konsepsi bersama tentang itu. Kosakata ini siap pakai dan amat populer. Sementara, bagi Said, intelektual semestinya menunjukkan bahwa identitas kolektif/nasional bukanlah sesuatu yang terberi, melainkan dikonstruksi sedemikian rupa dan memiliki sejarah perjuangan tersendiri di baliknya (lih. ibid., hal. 32).

122 Ibid., hal. 33. 123 Ibid., hal. 44.

116

selalu ingin menang, berkuasa, serta menuntut kesetiaan dan kepatuhan (pada negara/bangsa, pen.).124

Saya akan coba letakkan tekanan kedua ini dalam konteks narasi buku cerita anak yang saya teliti. Di bab sebelumnya, saya memaparkan bahwa dalam sepuluh buku cerita tersebut terkandung wacana yang relatif kalah dominan jika dibandingkan dengan wacana modernitas, yakni negara dan nasionalisme. Negara hadir lewat serangkaian regulasi yang perlu dipatuhi oleh semua pelaku profesi yang diceritakan, baik mereka yang bekerja di institusi formal milik negara (ilmuwan, jaksa, pengacara, tentara, presiden, astronaut) maupun di ragam institusi lainnya (dokter gigi, perawat, sutradara, akuntan). Izin operasional dan setumpuk prosedur juga jadi bagian tak terpisahkan dalam praktik kerja sektor formal tersebut. Secara faktual, sebagian dari regulasi itu memang ditujukan untuk melindungi hak individu maupun kolektif pekerja. Di sisi lain, hal ini juga menyuratkan tuntutan untuk patuh dan tidak melangkahi sistem yang berlaku.

Dalam narasi beberapa profesi tertentu, kelangsungan negara bahkan bisa hadir sebagai visi besar yang ingin dicapai dalam melakukan pekerjaan, misalnya sebagaimana kita lihat dalam kisah Presiden dan Tentara. Dalam dua profesi ini, tokoh utama dalam cerita meletakkan kepentingan negara mendahului kepentingan pribadi mereka. Situasi serupa juga tergambarkan dalam tiga kisah profesi lainnya, yakni Pengacara, Jaksa, dan Ilmuwan. Ketiganya secara rutin juga bersinggungan dengan institusi negara (pengadilan dan badan konservasi lingkungan). Meski demikian, artikulasi visi mereka dalam pekerjaan tidak semata-mata berorientasi pada kelangsungan negara. Justru dalam aspek tertentu, tiga tokoh pelaku profesi ini

117

berhasil menautkan intensi pribadinya dengan visi yang lebih luas dan melibatkan kemaslahatan publik sebagaimana yang diharapkan Said.

Di penghujung kisah Pengacara dan Jaksa, keduanya mengutarakan niat pribadi untuk terus bekerja keras menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Sebagai orang yang terlibat langsung dalam praktik peradilan negara, keduanya digambarkan mampu memosisikan diri sebagai individu yang memiliki kesadaran akan keadilan, dan bukan semata-mata menjalankan tugas proseduralnya. Bu Silvi sang tokoh ilmuwan pun demikian. Pekerjaannya dipersepsinya sebagai cara untuk memberi sumbangsih pada kehidupan masyarakat yang lebih baik. Ia terus melakukan penelitian dan mendorong sikap dan kebijakan yang menaruh perhatian lebih pada kelestarian alam dan signifikansinya pada kelangsungan hidup masyarakat Indonesia.

Meski demikian, narasi ketiga profesi itu mengasumsikan penyelenggaraan negara yang ideal sehingga dalam proses menyelesaikan tugas demi keadilan dan mencapai situasi hidup yang lebih layak tidak melibatkan gesekan apa pun dengan regulasi negara. Tokoh jaksa misalnya, tidak mempersoalkan sistem korup yang memungkinkan terjadinya kasus penggelapan dana bantuan untuk masyarakat miskin yang ditanganinya itu. Terdakwa diposisikan sebagai oknum terpisah yang seakan-akan bekerja sendiri, atas niat buruknya sendiri, melanggar aturan hukum yang berlaku. Tokoh ilmuwan juga tidak memproblematisasi situasi pembukaan lahan besar-besaran yang juga dieksekusi atas izin pemerintah (baik untuk kepentingan industri perkebunan, maupun agenda pembangunan lainnya). Fenomena pembalakan hutan dikisahkan sebagai praktik pelanggaran hukum yang dilakukan oleh masyarakat awam yang seakan-akan bebas dari campur tangan pemerintah.

118

Dalam pemahaman saya, persisnya persoalan inilah yang membahasakan kekhawatiran Said tentang risiko yang ditimbulkan oleh bahasa yang sebenarnya telah dikooptasi untuk kepentingan status quo, atau dalam hal ini penguasa dominan. Berkurangnya kemampuan intelektual dalam mengenali bahasa tersebut dan mengapropriasinya untuk mengartikulasikan kepentingan masyarakat luas membuatnya kurang kritis terhadap regulasi mapan kelas dominan.

Sementara itu, karakteristik profesionalisme yang digambarkan dalam sepuluh buku cerita anak ini juga menampakkan paradoks. Di bab 3 dan sub-bab sebelumnya tentang spesialisasi pekerjaan, salah satu karakteristik yang muncul ke permukaan adalah individualisasi. Tiap-tiap orang terasa makin terpisah dari sesama rekan kerjanya dan mengupayakan keberhasilan tunggal untuk dirinya. Tetapi, di saat yang bersamaan, aktivitas kerja seakan-akan menyamaratakan visi tiap orang dan hampir meniadakan tujuan pribadi tiap individu. Ada tujuan tunggal yang dipasang sebagai sasaran pencapaian itu, entah itu kelangsungan negara, profit, dan lain sebagainya. Dalam situasi demikian, tokoh pelaku profesi terasa jadi hambar sebab seperti tidak punya semangat individual yang mendorongnya bertahan melakukan pekerjaan itu.

Deskripsi mengenai detail-detail pekerjaan yang dikategorikan dalam dua kutub, modern dan tradisional, juga tampak membangun preferensi tertentu. Buku cerita anak “seri profesi idamanku” memotret situasi kerja yang relatif aman dan tanpa tantangan besar, kecuali mungkin dalam kisah Tentara. Kestabilan dan ketiadaan kendala yang berarti ditempatkan sebagai kewajaran dalam dunia kerja sektor formal. Sementara di lain pihak, kisah Petani, Nelayan, dan Peternak menampilkan kerja-kerja fisik yang diasumsikan lebih keras, kotor, dan secara umum tidak mengenakkan. Tiap karakter anak yang menghabiskan hari bersama

119

ketiga pekerja tradisional ini, di akhir cerita, dinasihati untuk selalu menghargai kerja keras tersebut. Penghargaan ini diberikan sebagai sesuatu yang menjaga mereka agar tetap terpisah dari realitas kerja tradisional. Secara tak langsung, petani, nelayan, dan peternak ini diletakkan di posisi yang lebih rendah. Biar bagaimanapun, anak-anak yang datang dari kota ini semacamnya dikisahkan tetap ingin jadi bagian dari kelas sosial mereka dengan imajinasi cita-cita yang cenderung sejalan dengan buku cerita seri profesi idaman.

Apa yang sebenarnya dibawa oleh kecenderungan profesionalisme ini? Selain beberapa problem yang saya pilih untuk soroti pada bagian ini, beberapa elemen yang kentara muncul dalam deskripsi cita-cita idaman di buku cerita anak ini mengisyaratkan persoalan lain yang lebih luas. Pada bagian selanjutnya, saya akan coba memeriksa lapis berikutnya dari fenomena ini untuk mencari tahu imajinasi umum apa yang sesungguhnya menaungi tendensi profesionalisme ini.